Sunday, April 19, 2026

Puisi-Puisi Andi Wirambara

Puisi Andi Wirambara




Romansa dari Pabrik


sembari menyerok bahan baku 

ke corong mesin, 

benaknya tersenyum

tiga jam ke depan ia gajian

metode harian, dirapel dua mingguan

upah tak sampai minimum, tak apa

ia hanya ingin mampir ke warung bakso

dua porsi, dibungkus bersama kasak-kusuk

percakapan tukang parkir dan pensiunan

kuli angkut borongan

tentang kenaikan pajak, yang mungkin

menaikkan harga sebutir bakso

lima ratus perak, atau mencari cara

bagaimana memainkan aci

seperti plastisin, dibentuk bulat-bulat

lantas tenar sebagai dukun yang mampu 

menggandakan tabung-tabung gas

yang mulai membuat persembunyian.


ia tak mau ikut pusing dulu

baginya, dua porsi bakso jauhlah

lebih realistis untuk ia tukar dengan pelukan

sebagai kado pernikahan, bagi istrinya

yang betah menciumi sisa keringat

di lekat cambang rambutnya yang memutih

oleh debu-debu dan pengkhianatan usia

pun dua porsi bakso lebih wangi

dari buket bunga tagihan kredit

yang dihadiahkan padanya pada tahun-tahun

sepanjang napasnya menyeka

patutan telunjuk mandornya

sejak pagi hingga kerongkongan

mulai menguning.


ini serokan terakhir, 

aroma bakso mulai menguar memenuhi khayal,

wajah istrinya mulai tersenyum di gerigi-gerigi mesin,

dan patutan telunjuk mandor juga 

mulai layu seperti gelincir sore

yang telah ia nanti seolah-olah gemetar lapar

tak akan pernah hadir sebagai bagian

dari serokan urat-urat di lengan

dan garis-garis telapak yang kasar.


(2025) 



Tentang Sebuah Makalah


sampulnya hanya halaman kosong

ada judul yang samar dan mengembun

lalu musim menghapusnya hingga habis


ada namaku dalam kata pengantar

terapit di antara kalimat terima kasih

dan penutup berupa tanda tanya


pada lembar latar belakang

kujumpai hikayat tentang kecemasan

diuraikan begitu panjang  

hingga halaman-halaman berikutnya

tercetak tetes-tetes air mata


penulis memilih diam

pada bagian pembahasan

mungkinkan ketiadaan

dibiarkan menjadi jawaban?


kelamaan aku tidak mengerti

bagaimana bacaan ini terlampau tebal

tanpa satupun kalimat atau penanda

sebuah kesimpulan


(2026)



Kau yang Menjadi Zamrud


setelah memberiku sebingkis senyum paling sempurna, 

kaupikir aku bisa melewatkanmu?


genang bayangmu gelisah di bibir penghujan

dan aku menawar harga selembar daun pinus

berayun di sisi keriput pelataran rumput yang dingin

menguncup dalam mata, kemudian terpejam

menyapa senyummu di tangkai subuh


sejauh angin meniupkan wangi musim, rindu selalu 

tumbuh di ujung ranting, mendauni pohon-pohon

diramaikan oleh ingatan-ingatan tentang gerai rambutmu 

yang hulunya menggulung tangkai buah jambu 

menyapu rindu di kerutan dahan


dan aku berpejam, mendengarkan yoasobi

menyaru lubang seruling, memainkan nada-nada 

yang terlampau manis untuk mengering di dasar

tongkat kembang api, meletuskan banyak bulu mata

terhambur dan membeku di udara


serpih menjadi kristal, mengubah kedip matamu

sebagai zamrud dengan kilau-kilau hijau

pada malam tanpa menyediakan

waktu yang panjang


setelah memberiku sebingkis senyum paling sempurna, 

kaupikir bagaimana caraku berpayung

selain dengan perjumpaan

yang meneduhku dengan kecemasan?


(2025)



Yang Menghadiahkan Kesepian Kepadamu

  

kau sempat berjanji tak lagi membiarkan asap menguar

melewati celah-celah barisan kumismu sendiri

hingga lubang di kacamata mengingkari segalanya

tiket-tiket kereta yang mengguncang perjalanan

merobek tanggal-tanggal di kalendermu

dan lebur pada pucat kopi yang kausesap

sendirian pada gersang sawah yang memaksa tumbuh

pada retakan meja tempat kau menyalakan api

menyulut kelingkingmu yang rapuh


pada malam dan percakapan maskulin, kau mulai

menghitung betapa panjang perjalanan ke kantor

melangkah tiga tahun ke belakang

sebelum tiba di depan gerbang yang bergeser

dalam gerak lambat untuk menghabiskan

wujud punggung yang kaukenal


kemudian menyadari

beberapa situasi terkadang diciptakan 

dan hadir hanya untuk dibenci.


mungkin angin telah menjadi kian angkuh 

setelah mampu meniru dingin pelukan 

yang kauingat

yang telah menghabiskan taruhanmu

sejak bidak-bidak catur menelan mimpi

satu persatu, menyisakan kau sebagai rindu 

yang gemetar berdiri


barangkali yang kauingat memilih untuk 

memberi sepi dan menghadiahkan kesepian 

kepadamu yang senantiasa tersenyum 

menghempas kesepianmu, sebagai debu-debu

yang kau sapulidikan di kasurmu sendiri.


(2025)



Mempersiapkan Kebohongan


kita biasa menyiapkan mantel, atau payung

jika pemandangan di balik kaca menayangkan mendung


namun pernahkah kau penasaran,

apakah aku telah mempersiapkan kepergianku?


rindu membuat aku hanya memikirkan diri sendiri

tidak dirimu, tidak pula menyoal kepergianmu


kekhawatiran adalah kebohongan dari rindu

dengan perjalanan mundur yang terlalu jauh

seperti saat-saat kita menyempatkan diri

mencari lengang untuk saling menangkap mata


aku hanya mempersiapkan kepergianku

tanpa tergesa-gesa, berbincang dengan suara pelan

denganmu, di mana saja, terpenting kita bisa duduk

lalu menyiapkan kebohongan untuk saling merindukan


karena pada dasarnya, tak pernah tersedia tempat 

untuk membicarakan kesunyian, dan kadang,

kebohongan-kebohongan begitu taat pada senyumanmu.


(2025)



Argumentum Ad Verecundiam


apa yang kita perdebatkan

sebaiknya hanya untuk kita

tidak untuk orang lewat

dan mencuri dengar

berjinjit, berpetak umpet


kita tak perlu penengah

sebab kita paling paham

materi yang kita lantun

dan menjadi lagu terseru

yang pernah kita putar bersama


kabar perdebatan begitu cepat

bergerak dari satu tembok

hingga ke tembok terjauh

kita seolah-olah terawasi

oleh gembok pagar sendiri


kemudian rombongan ahli

yang merasa abai pada etika

datang memberikan nasihat 

yang sia-sia, namun tersisa

menjadi kosong hikayat


kita tetap saja berdebat

sambil menertawakan mereka

yang keliru mengartikan

canda kita sebagai sengketa.



Sebab Luka


sebab yang dihitung dari detik

adalah detak,

bukan retak

sebab yang dihitung dari masa

adalah asa,

bukan nelangsa


maka dapatkah kita mulai menjadikan cinta

sebagai pelajaran memijak batu-batu

yang retak dengan bijak?

maka dapatkah kita mulai menata senyuman

dan menuntun gundah yang gaduh

pergi menuju makamnya?


kemudian biarkanlah rindu tumbuh

dan membuat pejam mata lupa

bagaimana cara menghitamkan dedauan


sebab luka untuk disembuh,

bukan disembah.


______


Penulis


Andi Wirambara, lahir 24 September di Ambon dan berdomisili di Malang. Praktisi hukum yang menyenangi sastra. Karya-karyanya telah dimuat di sejumlah media nasional dan lokal baik cetak maupun daring. Karyanya juga terhimpun pada sejumlah buku antologi bersama. Buku tunggalnya yang telah terbit: kumpulan puisi Harmonika Lelaki Sepi (2010), kumpulan cerpen Sekeping Tanda (2011), kumpulan puisi Lengkung (2012), dan kumpulan cerpen Tentang Pertemuan (2014).


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!