Puisi Andi Wirambara
Romansa dari Pabrik
sembari menyerok bahan baku
ke corong mesin,
benaknya tersenyum
tiga jam ke depan ia gajian
metode harian, dirapel dua mingguan
upah tak sampai minimum, tak apa
ia hanya ingin mampir ke warung bakso
dua porsi, dibungkus bersama kasak-kusuk
percakapan tukang parkir dan pensiunan
kuli angkut borongan
tentang kenaikan pajak, yang mungkin
menaikkan harga sebutir bakso
lima ratus perak, atau mencari cara
bagaimana memainkan aci
seperti plastisin, dibentuk bulat-bulat
lantas tenar sebagai dukun yang mampu
menggandakan tabung-tabung gas
yang mulai membuat persembunyian.
ia tak mau ikut pusing dulu
baginya, dua porsi bakso jauhlah
lebih realistis untuk ia tukar dengan pelukan
sebagai kado pernikahan, bagi istrinya
yang betah menciumi sisa keringat
di lekat cambang rambutnya yang memutih
oleh debu-debu dan pengkhianatan usia
pun dua porsi bakso lebih wangi
dari buket bunga tagihan kredit
yang dihadiahkan padanya pada tahun-tahun
sepanjang napasnya menyeka
patutan telunjuk mandornya
sejak pagi hingga kerongkongan
mulai menguning.
ini serokan terakhir,
aroma bakso mulai menguar memenuhi khayal,
wajah istrinya mulai tersenyum di gerigi-gerigi mesin,
dan patutan telunjuk mandor juga
mulai layu seperti gelincir sore
yang telah ia nanti seolah-olah gemetar lapar
tak akan pernah hadir sebagai bagian
dari serokan urat-urat di lengan
dan garis-garis telapak yang kasar.
(2025)
Tentang Sebuah Makalah
sampulnya hanya halaman kosong
ada judul yang samar dan mengembun
lalu musim menghapusnya hingga habis
ada namaku dalam kata pengantar
terapit di antara kalimat terima kasih
dan penutup berupa tanda tanya
pada lembar latar belakang
kujumpai hikayat tentang kecemasan
diuraikan begitu panjang
hingga halaman-halaman berikutnya
tercetak tetes-tetes air mata
penulis memilih diam
pada bagian pembahasan
mungkinkan ketiadaan
dibiarkan menjadi jawaban?
kelamaan aku tidak mengerti
bagaimana bacaan ini terlampau tebal
tanpa satupun kalimat atau penanda
sebuah kesimpulan
(2026)
Kau yang Menjadi Zamrud
setelah memberiku sebingkis senyum paling sempurna,
kaupikir aku bisa melewatkanmu?
genang bayangmu gelisah di bibir penghujan
dan aku menawar harga selembar daun pinus
berayun di sisi keriput pelataran rumput yang dingin
menguncup dalam mata, kemudian terpejam
menyapa senyummu di tangkai subuh
sejauh angin meniupkan wangi musim, rindu selalu
tumbuh di ujung ranting, mendauni pohon-pohon
diramaikan oleh ingatan-ingatan tentang gerai rambutmu
yang hulunya menggulung tangkai buah jambu
menyapu rindu di kerutan dahan
dan aku berpejam, mendengarkan yoasobi
menyaru lubang seruling, memainkan nada-nada
yang terlampau manis untuk mengering di dasar
tongkat kembang api, meletuskan banyak bulu mata
terhambur dan membeku di udara
serpih menjadi kristal, mengubah kedip matamu
sebagai zamrud dengan kilau-kilau hijau
pada malam tanpa menyediakan
waktu yang panjang
setelah memberiku sebingkis senyum paling sempurna,
kaupikir bagaimana caraku berpayung
selain dengan perjumpaan
yang meneduhku dengan kecemasan?
(2025)
Yang Menghadiahkan Kesepian Kepadamu
kau sempat berjanji tak lagi membiarkan asap menguar
melewati celah-celah barisan kumismu sendiri
hingga lubang di kacamata mengingkari segalanya
tiket-tiket kereta yang mengguncang perjalanan
merobek tanggal-tanggal di kalendermu
dan lebur pada pucat kopi yang kausesap
sendirian pada gersang sawah yang memaksa tumbuh
pada retakan meja tempat kau menyalakan api
menyulut kelingkingmu yang rapuh
pada malam dan percakapan maskulin, kau mulai
menghitung betapa panjang perjalanan ke kantor
melangkah tiga tahun ke belakang
sebelum tiba di depan gerbang yang bergeser
dalam gerak lambat untuk menghabiskan
wujud punggung yang kaukenal
kemudian menyadari
beberapa situasi terkadang diciptakan
dan hadir hanya untuk dibenci.
mungkin angin telah menjadi kian angkuh
setelah mampu meniru dingin pelukan
yang kauingat
yang telah menghabiskan taruhanmu
sejak bidak-bidak catur menelan mimpi
satu persatu, menyisakan kau sebagai rindu
yang gemetar berdiri
barangkali yang kauingat memilih untuk
memberi sepi dan menghadiahkan kesepian
kepadamu yang senantiasa tersenyum
menghempas kesepianmu, sebagai debu-debu
yang kau sapulidikan di kasurmu sendiri.
(2025)
Mempersiapkan Kebohongan
kita biasa menyiapkan mantel, atau payung
jika pemandangan di balik kaca menayangkan mendung
namun pernahkah kau penasaran,
apakah aku telah mempersiapkan kepergianku?
rindu membuat aku hanya memikirkan diri sendiri
tidak dirimu, tidak pula menyoal kepergianmu
kekhawatiran adalah kebohongan dari rindu
dengan perjalanan mundur yang terlalu jauh
seperti saat-saat kita menyempatkan diri
mencari lengang untuk saling menangkap mata
aku hanya mempersiapkan kepergianku
tanpa tergesa-gesa, berbincang dengan suara pelan
denganmu, di mana saja, terpenting kita bisa duduk
lalu menyiapkan kebohongan untuk saling merindukan
karena pada dasarnya, tak pernah tersedia tempat
untuk membicarakan kesunyian, dan kadang,
kebohongan-kebohongan begitu taat pada senyumanmu.
(2025)
Argumentum Ad Verecundiam
apa yang kita perdebatkan
sebaiknya hanya untuk kita
tidak untuk orang lewat
dan mencuri dengar
berjinjit, berpetak umpet
kita tak perlu penengah
sebab kita paling paham
materi yang kita lantun
dan menjadi lagu terseru
yang pernah kita putar bersama
kabar perdebatan begitu cepat
bergerak dari satu tembok
hingga ke tembok terjauh
kita seolah-olah terawasi
oleh gembok pagar sendiri
kemudian rombongan ahli
yang merasa abai pada etika
datang memberikan nasihat
yang sia-sia, namun tersisa
menjadi kosong hikayat
kita tetap saja berdebat
sambil menertawakan mereka
yang keliru mengartikan
canda kita sebagai sengketa.
Sebab Luka
sebab yang dihitung dari detik
adalah detak,
bukan retak
sebab yang dihitung dari masa
adalah asa,
bukan nelangsa
maka dapatkah kita mulai menjadikan cinta
sebagai pelajaran memijak batu-batu
yang retak dengan bijak?
maka dapatkah kita mulai menata senyuman
dan menuntun gundah yang gaduh
pergi menuju makamnya?
kemudian biarkanlah rindu tumbuh
dan membuat pejam mata lupa
bagaimana cara menghitamkan dedauan
sebab luka untuk disembuh,
bukan disembah.
______
Penulis
Andi Wirambara, lahir 24 September di Ambon dan berdomisili di Malang. Praktisi hukum yang menyenangi sastra. Karya-karyanya telah dimuat di sejumlah media nasional dan lokal baik cetak maupun daring. Karyanya juga terhimpun pada sejumlah buku antologi bersama. Buku tunggalnya yang telah terbit: kumpulan puisi Harmonika Lelaki Sepi (2010), kumpulan cerpen Sekeping Tanda (2011), kumpulan puisi Lengkung (2012), dan kumpulan cerpen Tentang Pertemuan (2014).
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!