Cerpen Kayla Herbiyani
Naraya adalah sahabat dekat Vino. Mereka bersahabat sejak kecil. Nama lengkap Naraya adalah Naraya Alaska Baskara, sedangkan Vino bernama Narendra Vino Alex Saputra.
“Iya, Nay. Aku harus ikut ayah dan ibuku,” kata Vino.
“Berapa lama, Vin? Kamu akan ke sini lagi, kan? Aku akan jadi sahabatmu selamanya, kan, Vin?” rentetan pertanyaan keluar dari mulut Naraya.
“Enggak tahu, Nay. Ayah sama ibu enggak ngasih tahu aku. Iya, Nay, kamu akan jadi sahabatku selamanya,” ucap Vino sambil menatap Naraya yang sedang menangis.
Lalu Vino berdiri dan berkata, “Aku harus pergi sekarang, Nay. Jaga kesehatan kamu, ya. Tunggu aku pulang ke sini lagi.”
Naraya hanya menundukkan kepalanya.
***
Pukul 00.00 menunjukkan pergantian tahun telah dimulai. Ketika orang lain sedang merayakan malam tahun baru dengan cara membakar makanan dan berkumpul bersama keluarga, berbeda dengan Naraya. Ia sedang menangis di kamarnya karena merindukan sahabatnya, Vino.
“Vin, kamu kapan ke sini lagi? Aku kangen sama kamu, Vin,” kata Naraya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Suara itu mengagetkan Naraya yang sedang melamun.
“Tuk... tuk... tuk...”
Naraya pun beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju pintu kamarnya. Lalu ia membuka pintu dan terkejut saat melihat seorang lelaki tinggi dan tampan. Bukan ayahnya, bukan adiknya, melainkan sosok yang sangat ia kenali, yaitu Narendra Vino Alex Saputra, sahabat dekatnya.
“Vino!” teriak Naraya sambil berlari ke arahnya. “Aku kangen banget sama kamu, Vin!”
“Iya, Nay. Aku juga kangen banget sama kamu,” ucap Vino sambil memeluk Naraya.
Setelah itu, mereka berdua menangis melepaskan rindu yang sudah sekian lama mereka pendam. Keluarga Naraya menyaksikan betapa berharganya Vino di mata Naraya hingga mereka menganggap Vino sebagai anak mereka sendiri.
“Nay, ikut aku dulu sebentar,” kata Vino.
“Mau ke mana, Vin?” tanya Naraya yang kebingungan dengan sikap Vino.
“Bentar.”
Vino berhenti sejenak, lalu menutup mata Naraya dengan sehelai kain yang sudah ia siapkan. Entah apa yang ingin ia lakukan.
“Kenapa, Vin? Kok mata aku ditutup sih?” Naraya semakin bingung.
“Enggak apa-apa, Nay. Nah, sudah. Yuk lanjut jalan, bentar lagi sampai,” ucap Vino.
“Aku mau dibawa ke mana sebenarnya, Vin? Jangan buat aku penasaran.”
“Nanti juga kamu tahu, Nay,” jawab Vino.
Akhirnya, Vino dan Naraya sampai di tempat tujuan. Di sana sudah ada ayah, ibu, kakak, dan adik Naraya. Vino pun membuka kain yang menutupi mata Naraya.
“Tadaa... Happy Birthday, Naraya Alaska Baskara! Semoga kamu sehat selalu, bahagia selalu, dan semoga kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Doa terbaik untukmu, Nay,” ucap Vino bersama keluarga Naraya.
Naraya pun terharu dengan kejutan yang telah dibuat oleh keluarganya dan sahabatnya.
“Makasih, Ayah, Ibu, Kakak, Adik, dan juga Vino,” ucap Naraya sambil mengusap air matanya.
“Iya, Nay. Sama-sama,” jawab Vino.
Keesokan harinya, Vino mendapat kabar bahwa ayahnya jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit Asan Medical Center. Vino pun pergi bersama keluarga Naraya ke rumah sakit tempat ayahnya dirawat.
Namun sayangnya, Vino tidak sempat melihat ayahnya untuk terakhir kali. Ia sangat terpukul dengan kenyataan itu.
Setelah pemakaman selesai dan para warga satu per satu meninggalkan lokasi, yang tersisa hanya Vino dan keluarga Naraya.
Naraya berusaha menenangkan Vino dan mengajaknya pulang karena cuaca sudah mulai gelap. Sesampainya di rumah Vino, mereka melihat bahwa Vino kini tinggal sendirian. Akhirnya, Naraya dan keluarganya berencana menginap di rumah Vino sampai ia benar-benar mengikhlaskan kepergian ayahnya.
Sejak kepergian ayahnya, Vino menjadi suka menyendiri dan tidak pernah tertawa lagi seperti dulu. Naraya yang menyadari perubahan sikap sahabatnya langsung mencari cara untuk membuat Vino kembali ceria dengan menceritakan hal-hal lucu.
“Aku tahu kamu sedih ditinggal Om Niko, tapi kamu jangan berlarut-larut dalam kesedihan itu, Vin. Ini bukan Vino yang aku kenal dulu,” kata Naraya yang berusaha menguatkan hati Vino.
Om Niko adalah ayah Vino.
Akhirnya, Vino menyadari bahwa ia tidak boleh terus terjebak dalam kesedihan tanpa akhir. Ia kembali ceria seperti dulu dan mulai membuka diri lagi.
Pagi harinya, Vino kembali masuk kampus, begitu juga dengan Naraya. Kampus mereka berbeda. Naraya berkuliah di Fakultas Kedokteran, sedangkan Vino berkuliah di Akademi TNI.
Keduanya lulus dengan nilai terbaik dan berhasil meraih cita-cita mereka.
“Vin, besok boleh ketemu sebentar? Ada yang mau aku omongin sama kamu,” kata Naraya melalui telepon.
“Boleh kok, Nay. Nanti kamu kirim lokasi saja tempatnya,” jawab Vino.
Keesokan harinya, Vino berangkat ke tempat yang telah dikirimkan Naraya. Sesampainya di sana, ia melihat Naraya sedang duduk di tepi danau.
“Maaf, Nay. Aku telat,” kata Vino.
“Iya, enggak apa-apa, Vin,” jawab Naraya.
Vino lalu duduk di sebelah Naraya. Ia kebingungan karena Naraya sejak tadi hanya diam.
Naraya kemudian mulai bercerita tentang masalah yang selama ini ia hadapi. Vino terkejut dengan apa yang dialami sahabatnya. Ternyata di balik keceriaannya, Naraya menyimpan begitu banyak beban yang bahkan sulit dibayangkan oleh Vino.
Vino tidak marah, tetapi ia sedikit kecewa karena Naraya belum sepenuhnya terbuka kepadanya. Namun, Vino mengerti bahwa setiap orang berhak menyimpan sebagian hal tentang dirinya sendiri. Ia memahami bahwa Naraya juga membutuhkan privasi.
Setelah Naraya menceritakan semua keluh kesahnya, tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat dan hari mulai gelap.
“Nay, sebaiknya kita pulang dulu. Hari sudah mulai gelap. Takutnya mamah kamu mencari,” kata Vino.
“Baiklah, Vin. Aku juga sudah lelah,” jawab Naraya.
Sesampainya di rumah, mereka disambut oleh ibu Naraya yang sudah menunggu di teras. Naraya masuk lebih dahulu, sedangkan Vino diajak berbicara oleh ibunya.
Vino mendapat beberapa pertanyaan yang cukup mengejutkan.
Setelah kejadian itu, Vino tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Naraya. Namun, ia tetap mendapatkan kabar tentang Naraya melalui kakaknya. Vino harus bertugas di luar provinsi sehingga ia dan Naraya harus berpisah lagi.
Naraya yang tidak mengetahui bahwa Vino bertugas di luar provinsi kembali merasakan kesedihan yang pernah ia alami dulu.
Suatu hari, saat Naraya sedang bertugas di salah satu rumah sakit di luar provinsi, ia tidak menyangka bahwa tempat kerjanya adalah tempat Vino bekerja sekarang.
Mereka dipertemukan kembali dan bertugas di tempat yang sama.
Setelah kembali dari tempat kerjanya, Vino memutuskan untuk melamar Naraya ke rumahnya. Sesampainya di sana, Vino memberanikan diri meminta Naraya menjadi istrinya.
Akhirnya, Vino mendapatkan restu dari kedua orang tua Naraya.
Tanggal pernikahan pun ditetapkan, dan hari yang telah lama ditunggu-tunggu oleh Vino dan Naraya akhirnya tiba.
Mereka pun hidup penuh kebahagiaan dan keharmonisan.
______
Penulis
Kayla Herbiyani, siswa kelas X-3 Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 34 Lebak, Banten.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!