Esai Sulaiman Djaya
Sebagai Muslim, saya sebenarnya merasa malu ketika menonton film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Bagaimana tidak. Di film itu, aktor utama perampasan lahan, perusakan ekologi, aktor utama dan otak intelektual pengusiran dan penindasan terhadap masyarakat adat adalah seorang "haji".
Padahal, Muhammad Rasulullah sendiri adalah tokoh dan simbol suci yang "memerangi" perampasan, penghisapan atas nama dagang dan ekonomi, "memerangi" penindasan segelintir elite Quraisy, hingga menghapus perbudakan dan rasialisme yang memberhalakan bahwa Arab lebih mulia ketimbang Ajam.
Salib Merah yang menjadi simbol resistensi dalam film itu adalah perlawanan terhadap seorang "haji". Di sana seorang "Muslim" menjadi penindas dan zalim, laku yang justru bertentangan dengan esensi monoteisme Islam yang melarang penindasan dan perampasan. Seorang "haji" yang menjadi pelaku kolonialisme dengan dukungan negara atau rezim yang berkolusi dengan swasta (korporasi) yang dibekingi militer (aparatus kekerasan negara) atas nama transisi energi dan ketahanan pangan.
Masalahnya adalah: kenapa klaim-klaim dan jargon-jargon transisi energi, ketahanan pangan dan hilirisasi itu malah menyingkirkan ruang hidup dan kehidupan banyak masyarakat adat, merusak dan menghancurkan ekologi hingga bahkan tak berdampak pada kesejahteraan rakyat Indonesia.
Di sinilah timbul pertanyaan: pembangunan untuk siapa? Pertumbuhan ekonomi untuk siapa? Ketika rakyat tetap saja miskin di saat kegiatan dan aktivitas ekonomi ekstraktif yang menguras dan mengeksploitasi sumber daya alam dan menghancurkan hutan itu sedemikian banyak.
Kekerasan dan penindasan oleh kekuatan modal yang melihat hutan hanya sebagai komoditas, bukannya kehidupan dan ruang hidup, secara sosial-budaya, pun tak kalah mengerikan.
Sudah tentu, ketika buldoser dan ribuan ekskavator menggusur hutan adat, yang digusur dan dihancurkan tak cuma pepohonan atau hutan itu sendiri, tapi juga memori kolektif dan sistem pengetahuan sosial-ekologis tradisional masyarakat adat Papua, yang sebelumnya mereka jaga dan mereka wariskan secara turun temurun.
Selain tentu saja kehidupan itu sendiri yang dihancurkan, sebab hutan adalah ruang dan ekosistem kehidupan yang di dalamnya hidup beragam makhluk, hingga penyedia bagi keberlangsungan kesehatan pernapasan hidup kita.
Keserakahan memang tidak beragama sekaligus bisa menjangkiti siapa saja yang mendaku beragama. Sebab keserakahan hanya mengenal uang dan kekuasaan.
Film dokumenter Pesta Babi sesungguhnya tak sekadar kritik sosial-politik, tapi juga keprihatinan ekologis hingga menyingkap tabir kesesatan paradigma rasionalitas modern yang memandang alam sebagai objek semata.
Meski judul film itu sendiri diambil dari praktik ritual sakral masyarakat adat di Papua, namun secara semantik dan metaforis bisa dibaca sebagai pesta para elit yang menjelma para babi. Para elite yang kerap mengumbar klaim atas nama rakyat dan pembangunan nasional, namun sesungguhnya demi memenuhi ketamakan dan keserakahan seglintir pemilik modal.
Rakyat dan masyarakat adat digusur dan disingkirkan dengan menggunakan jargon-jargon pembangunan proyek "ekstraktif" strategis nasional, pertumbuhan ekonomi dan yang sejenisnya, tapi pada saat yang sama kemiskinan tidak pernah berkurang.
Praktik ritual sakral Pesta Babi itu sendiri bagi masyarakat adat di Papua merupakan simbol relasi atau hubungan manusia dengan alam lingkungan (ekologi) yang khidmat, lambang solidaritas komunal, dan terutama penghormatan terhadap kehidupan.
Sementara dalam film dokumenter Pesta Babi kita akan menyimpulkan bahwa judul film itu adalah metafora kolonialisme modern, yang ironisnya dilakukan elite yang kerapkali bicara atas nama rakyat. Elite yang berkolaborasi dengan korporasi dan menggunakan militer untuk mengintimidasi rakyat dan masyarakat adat yang melakukan perjuangan dan perlawanan untuk mempertahankan hak-hak mereka.
Kalau kita telisik lebih dalam, film Pesta Babi sebenarnya tanpa sadar menyingkap inti krisis hubungan manusia modern dengan alam lingkungannya. Tak sekadar soal konflik agraria atau kolonialisme yang dilakukan elite korporasi yang serakah.
Film itu juga menggambarkan bagaimana manusia modern yang arah pikirannya digerakkan rasionalitas instrumental menjadi makhluk yang destruktif bagi alam dan kehidupan karena memandang alam tak lebih sebagai objek dan komoditas yang bisa dieksploitasi untuk mendapatkan keuntungan.
Contohnya dapat kita lihat pada aktivitas dan proyek ekstraktif atas nama Proyek Strategis Nasional (PSN), yang sesungguhnya proyek segelintir elite korporasi (swasta).
Di mata keserakahan manusia-manusia modern yang berparadigma rasionalitas instrumental itu, hutan Papua dianggap tak berpenghuni dan kosong. Padahal di sana ada masyarakat adat, ada keanekaragaman hayati, ada flora fauna, ada kehidupan, yang eksistensi dan keberadaannya atau kelestariannya juga akan menentukan kelestarian hidup kita di masa depan.
Yang menjadi ironi adalah ketika rezim atau negara menjadi pemberi stempel atau kolaborator keserakahan segelintir elit korporasi itu, negara malah menjadi monster bagi pemilik sejati kedaulatan itu sendiri, yaitu rakyat dan masyarakat.
Itulah dosa ekologis dan politis negara, ketika negara menjadi alat kepentingan bagi keserakahan segelintir elite korporasi yang justru menggusur dan menyingkirkan rakyat dan masyarakat sebagai pemilik sejati kedaulatan.
Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita menyodorkan fakta tak terbantahkan kepada kita, adanya relasi atau kongkalikong antara kekuasaan negara (rezim), militer (aparatus kekerasan negara), dan korporasi, dalam ambisi ekstraktif gila-gilaan yang bernama Proyek Strategis Nasional (PSN) –yang dilaksanakan dan dijalankan dengan menggunakan moncong senjata (kekerasan dan paksaan), bukan atas dasar persetujuan dan kepercayaan masyarakat (rakyat).
Sekali lagi, saya merasa prihatin dan malu ketika menonton film dokumenter Pesta Babi besutan Dandhy Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale itu, ketika mayoritas "kolonialis mutakhir" itu adalah mereka yang mendaku sebagai Muslim, padahal Islam menentang perampasan sepihak dan penindasan.
____________
Penulis
Sulaiman Djaya, penyair dan salah satu pegiat Sekolah Rumi.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Mantap.... sukses selalu.
ReplyDelete