Oleh Kabut
Yang menonton lagu, yang sendu atau terharu. Pada masa tua, Iwan Fals dan Ebiet G Ade berduet, membawakan lagu berjudul “Ibu”. Di situ, kita melihat bapak dan ibu uang usianya tua. Mereka tinggal di rumah dalam kesepian dan penantian. Anaknya yang sudah dewasa pergi. Hari-hari yang tanpa kabar. Bapak merasa bersalah atas sikapnya terhadap anak yang bergitar. Ibu dengan ketabahannya terus mengasihi anaknya. Ibu yang sangat menantikan anaknya pulang atau kembali.
Hari yang dinantikan tiba. Anak itu pulang. Kangen yang ditebus dengan makanan di atas meja. Bapak pun kembali ke rumah. Detik-detik ia bertemu lagi dengan anaknya membuat penonton cengeng. Keluarga itu utuh, setelah hari-hari yang menegangkan dan merindukan. Yang menikmati lagu berjudul “Ibu” mungkin ingin membuat cerita yang lain. Namun, film yang digarap untuk lagu itu membuat kita berpikir serius tentang keluarga.
Yang menyimak berita-berita dari Jogjakarta mengaku marah dan sedih. Kaum balita dalam derita para pengasuh yang memilih keuntungan ketimbang menaburi kasih. Berita itu melukai. Kita tentu tidak hanya berpikiran lembaga dan para pengasuhnya. Yang mesti dipikirkan adalah para ibu, yang semula menitipkan anak-anak di situ. Ibu yang sedih. Ibu yang mungkin berpikiran lagi atas perannya dalam mengasuh anak, tidak diserahkan kepada orang lain dengan cara memberi upah.
Berita yang menyita pikiran atas makna keluarga abad XXI. Konon, orang-orang takut atau enggan menikah. Yang berani menikah memutuskan tidak mau punya momongan. Pasangan yang berjanji sebagai bapak dan ibu hanya ingin memiliki satu anak. Kita yang mengetahui situasi mutakhir mulai ikut goyah dalam pemaknaan keluarga.
Apakah pemerintah boleh turut campur dalam urusan keluarga? Di Indonesia, ada kementerian-kementerian yang menerapkan beragam kewenangan untuk keluarga. Kita tidak mampu membuat rincian dan dampak-dampaknya. Keluarga masih urusan penting bagi negara, yang ingin maju dan terhormat di dunia.
Pada masa lalu, penguasa memiliki kepentingan terhadap keluarga-keluarga di seantero Indonesia. Yang dilakukan adalah menyediakan restu dan anggaran dalam penerbitan buku-buku cerita untuk anak. Tema yang menjadi andalan adalah keluarga. Mengapa penguasa memikirkan keluarga dalam arus keaksaraan di Indonesia? Yang pasti kita mengingat jargon pemerintah yang ingin menciptakan keluarga kecil dan bahagia. Dulu, yang dikehendaki rezim Orde Baru adalah dua anak, bukan memiliki banyak anak yang menjadi beban negara.
Pada 1975, terbit buku yang sangat tipis berjudul Ibu, Lekaslah Pulang yang ditulis oleh Bu Ati. Buku diterbitkan oleh Indrapress, yang mendapat anggaran dari pemerintah. Maka, buku tidak diperdagangkan melainkan dibagi ke ribuan perpustakaan. Apakah buku yang tipis menemukan pembacanya? Apakah buku itu diam selama bertahun-tahun?
Kita membaca (lagi) pada 2026. Yang terbaca adalah cerita yang semestinya dinikmati orang-orang pada masa 1970-an. Bu Ati mengisahkan keluarga (ibu, bapak, dan anak). Yang hadir cuma satu anak, namanya Neni. Keluarga yang berada di desa. Neni diasuh oleh bapak dan ibu, tidak perlu merepotkan pengasuh atau pembantu. Di situ, tidak ada kakek dan neneknya.
Cerita yang inginnya sederhana tapi seleranya tidak kental Indonesia. Yang membaca akan menemukan pengaruh dari sastra dunia. Yang ditulis adalah cerita pengasuhan dan kasih. Apakah pengarang sebelumnya sering membaca sastra dunia dalam mengawali penulisan cerita untuk anak-anak di Indonesia?
Pada suatu hari, ibu berpamitan pergi ke kota. Mengapa ia pergi? Yang dijelaskan pengarang: “Ibu perlu membeli baju, taplak meja, dan keperluan dapur di kota. Kau tunggu rumah dengan bapak.” Pesan yang diberikan kepada Neni. Padahal, Neni ingin ikut, ingin merasakan kenikmatan bepergian dan berbelanja. Ibu sudah memutuskan bahwa Neni di rumah. Yang bertanggung jawab adalah bapak dalam masalah-masalah di rumah.
Bapak menunaikan misi pengasuhan. Peristiwa yang tercipta pada pagi hari: “Neni sudah cantik sekarang. Memakai rok kembang berwarna kuning. Rambutnya diikat menjadi dua. Pitanya berwarna kuning.” Neni diajak bapaknya naik sepeda. Mereka berkeliling desa melihat pemandangan. Neni merasa senang. Kita mendapat bukti awal bahwa bapak mampu bertanggung jawab.
Peristiwa yang dipentingkan oleh pengarang: makan malam. Bapak mengajak Neni untuk makan. Nasi dan lauk sudah tersedia di lemari. Berdua menikmati makanan tanpa kehadiran ibu. Mengapa ibu belum pulang? Yang pasti jarak desa dan kota sangat jauh. Maka, yang terjadi pada anak: “Ia murung dan hilang seleranya. Ia ingat ibu yang sedang pergi. Biasanya makan dengan ibu lebih gembira.” Para pembaca disadarkan bahwa pengaruh ibu lebih besar ketimbang bapak. Yang terpenting bapak sudah membuktikan tanggung jawab bahwa anaknya makan, tidak kelaparan.
Yang harus dibuktikan saat malam adalah menjadikan Neni nyaman dalam tidurnya. Namun, harapan itu susah terwujud. Neni masih kepikiran ibunya. Yang diharapkan, ibu lekas pulang. Susah tidur, Neni malah melihat bintang-bintang di langit. Neni pasti berada di desa yang masih jarang penduduknya. Artinya, pemandangan langit atau alam tidak terhalang oleh banyak bangunan. Neni merasakan ketakjuban. Bintang-bintang yang memberikan keindahaan saat dirinya menanti ibunya. Apa yang dilakukan bapak?
Anjuran agar Neni lekas tidur tidak manjur. Sehingga, bapak harus mencari cara agar malam itu terasa indah, bukan sedih dan penantian. Peran terakhir ayah adalah memberikan cerita atau dongeng. Berhasil! Neni terlena cerita, akhirnya dapat tidur meski telat.
Bu Ati mungkin berpesan bahwa ibu perannya sangat besar. Ibu yang tidak berada di rumah sehari saja dapat menimbulkan kebingungan, kesalahan, keraguan, kerinduan, dan kegagalan. Beruntungnya, bapak yang diceritakan mampu mengganti peran ibu. Kita semestinya meralat: “mengganti”. Apakah yang benar saling melengkapi agar tidak terjadi diskriminasi? Cerita yang ditulis Bu Ati diniatkan menjadi bacaan anak-anak Indonesia. Namun, yang selesai membacanya akan merasakan pengaruh sastra asing atau dunia. Artinya, cerita itu tidak dekat dengan kenyataan-kenyataan di Indonesia
______
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!