Saturday, May 2, 2026

Resensi Yuditeha | Luka-Luka yang Dihasilkan

 

Judul Buku : Silsilah Luka Perempuan

Penulis : Yulita Putri

Penerbit : Press Mesin

Cetakan : November 2025

Halaman : VI+102 hlm, 12x18 cm

ISBN : 978-623-693-780-8

 

Tragedi perempuan bukan pada satu peristiwa dramatis, melainkan pada kebiasaan. Pada rutinitas yang dianggap biasa. Pada kalimat-kalimat kecil yang diucapkan tanpa rasa bersalah. Pada keputusan-keputusan yang tampak masuk akal, padahal sedang menanam bom.

 

Kumpulan cerpen Silsilah Luka Perempuan karya Yulita Putri (diterbitkan oleh Press Mesin, November 2025) seperti membuka album yang tak pernah dipajang di meja tamu. Sebelas cerpen di dalamnya bukan sekadar cerita perempuan tersakiti, melainkan tentang bagaimana luka dihasilkan, dirawat, diwariskan, dan dibenarkan. Buku ini memang tidak menawarkan reaksi yang membuat dada pembaca sesak, atau mata berkaca-kaca. Ia membuat kita terdiam, lalu pelan-pelan merasa bersalah.

 

Dalam "Dipermainkan Takdir", kita tidak sedang diajak menghakimi seorang ibu yang hilang kendali, tapi lebih melanjangi kesepian mental perempuan lelah, yang tidak pernah diberi ruang untuk mengaku ringkih. Di sana, depresi tidak dianggap penting. Ia hanya dikomentari kurang bersyukur atau ibu lain biasa saja. Kalimat-kalimat yang akrab di telinga masyarakat. Cerpen ini memberi kejut, betapa mudahnya kita memuja ibu simbol pengorbanan, tapi enggan mengakui bahwa ibu juga bisa remuk.

 

Keremukan itu tidak berhenti di satu tempat. Dalam "Anak-Anak dari Rumah Retak", kekerasan hadir seperti warisan. Seorang anak lelaki menganggap kekerasan kepada teman perempuannya sebagai permainan, karena sejak kecil menyaksikan ayah memukul ibu. Kekerasan adalah tontonan sehari-hari. Cerpen ini terasa dakwaan sosial yang sulit disangkal. Ada sesuatu mengendap di sana, jika seorang anak bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa menyakiti perempuan adalah wajar, maka ada sistem nilai tertentu  di sana, rumah menjadi sekolah pertama patriarki.

 

Cerpen "Sebelum Segalanya Jadi Penyesalan", bergerak di antara kertas dan keberanian jujur. Surat Ningsing adalah usaha menolong adiknya, tetapi juga bermakna sebagai sarana membuka luka rumah tangganya. Penderitaan, pengkhianatan, dan poligami yang lama disembunyikan. Surat menjadi saksi pahit. Ketika selesai, yang tertinggal bukan sekadar harapan agar sejarah tak terulang, melainkan getir bahwa kejujuran lahir saat penyesalan sudah mengintip.

 

Dalam cerpen "Warisan Api dari Tangan Ibu", luka yang muncul jelas dari tindakan, sebuah rahasia, manipulasi, dan moral ganda. Ia bukan sekadar warisan, tetapi hasil dari pilihan yang disembunyikan. Ketika kebenaran terbongkar, rupanya yang muncul adalah kesadaran bahwa luka itu dibuat, dipelihara, dan diturunkan.

 

Yulita tidak berhenti pada relasi suami-istri atau orangtua-anak. Ia juga menyusup ke wilayah lebih intim dan tabu. "Malam, Biarkan Sekali Saja Aku Bernapas", memperlihatkan bagaimana perkawinan dapat menjadi ruang legitimasi pemaksaan. Tidak ada adegan sensasional. Justru karena itu terasa nyata. Di banyak rumah, tubuh perempuan masih dianggap fasilitas. Persetujuan sering kali tidak sungguh-sungguh ditanyakan. Hanya ada kewajiban. Cerpen itu terasa bisikan getir di tengah wacana terkait kekerasan seksual. Yulita menulis hal itu diibaratkan kejadian biasa, bahkan mungkin rutinitas. Dan rutinitas jauh lebih menakutkan daripada ledakan.

 

Dalam "Perempuan yang Dilahirkan Luka dan Janji Lela", pilihan menjadi pekerja seks tidak ditempatkan sebagai jatuhnya moral, melainkan simpul dari banyak kebuntuan. Ekonomi minim, keluarga retak, janji dan utang menumpuk, semuanya membawa ke lorong gelap hingga mendorong perempuan mengambil keputusan yang sebelumnya ia kutuk. Yulita tidak mendramatisir, ia hanya menunjukkan bahwa dalam ketimpangan sistem, tubuh perempuan sering menjadi mata uang terakhir. Sementara itu, masyarakat gemar menghakimi perempuan yang menjual tubuhnya, tapi jarang bertanya siapa pembelinya.

 

Cerpen "Mengapa Tuhan Tak Menjadi Mama" terasa lembut di permukaan, namun menyimpan kritik tajam. Seorang anak kecil baru mengalami haid pertama kali menulis surat kepada Tuhan karena ibunya tak mampu menjawab pertanyaannya. Cerpen ini sederhana, polos, dan hampir lugu. Tetapi di situlah letak gugatnya. Mengapa pendidikan tentang tubuh perempuan masih dibungkus rapi? Mengapa darah dianggap aib? Dan mengapa perempuan kecil harus belajar sendirian tentang sesuatu yang akan ia alami seumur hidup? Yulita seolah ingin mengatakan, luka tidak selalu lahir dari hal besar. Ia bisa muncul dari ketidaktahuan yang diturunkan.

 

Ada pula "Poetri Mardika". Menghadirkan sosok seniman perempuan cerdas dan progresif. Ia bicara tentang empati, kekerasan seksual, dan kesenjangan sosial. Namun ia juga mengakui bahwa banyak karyanya meminjam pengalaman orang lain. Cerpen sindiran terhadap dunia intelektual dan kesenian yang kerap menjadikan luka sebagai bahan estetika. Apakah empati cukup, atau kita sedang mengarsipkan derita demi reputasi?

 

Di bagian akhir, Menghapus Masa Lalu, membawa pembaca pada wilayah yang nyaris surealis. Sosok peri menawarkan jasa menghapus ingatan paling menyakitkan. Ketika tokoh ingin menghapus peristiwa pelecehan oleh figur berkuasa di kampus, kita tiba-tiba sadar bahwa masalahnya bukan sekadar ingatan. Menghapus masa lalu mungkin mengurangi beban korban, tetapi tidak menghapus pelaku dan sistem yang melindunginya. Cerpen ini menyentuh denyut zaman, ketika banyak korban mulai bersuara, apakah keadilan berarti melupakan, atau justru mengingat dengan keras kepala?

 

Keterkaitan dari kesebelas cerpen ini terasa jelas. Luka perempuan di dalamnya bukan insiden tunggal. Ia berlapis, berulang, dan sering disamarkan oleh kata-kata seperti sabar, ikhlas, atau kewajiban. Buku ini memperlihatkan bagaimana keluarga bisa menjadi ruang perlindungan sekaligus ruang produksi trauma. Bagaimana ibu bisa menjadi penyelamat sekaligus bagian dari skema reproduksi. Bagaimana cinta bisa bercampur dengan batasan, dan bagaimana agama, moral, serta tradisi kerap dipakai untuk merapikan ketimpangan.

 

Tidak ada usulan pahlawan. Tidak ada tokoh yang benar-benar menang. Bahkan ketika ada perlawanan, ia diiringi rasa salah dan bingung. Seakan perlawanan perempuan tetap harus membayar harga emosional. Buku ini tidak menawarkan harapan, Yulita hanya mengajak pembaca duduk lebih lama bersama ketidaknyamanan.


Dan setelah kita menutup halaman terakhir, mungkin bisa jadi sadar bahwa silsilah luka bukan hanya milik tokoh. Ia milik kita. Luka itu tidak jatuh dari langit. Ia lahir dari keputusan-keputusan kecil yang dianggap normal. Luka-luka itu dihasilkan.

 

________

Penulis

 

Yuditeha,

Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.

 

Kirim naskah ke redaksingewiyak@gmail.com

  

This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!