Selain membedah karya sastra, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi dan temu kangen para pengurus serta anggota Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa yang telah lama tidak berkumpul dan berdiskusi bersama.
Ketua #Komentar, Sul Ikhsan, mengaku bersyukur karena kegiatan diskusi akhirnya dapat kembali digelar setelah cukup lama vakum.
"Saya sangat senang, setelah sekian lama rumah yang bernama #Komentar ini hidup kembali dan mengadakan kegiatan diskusi. Namun yang paling penting, kita masih terus membaca dan menulis meskipun lama tidak berkumpul," ujarnya.
Sementara itu, pendiri sekaligus pengasuh #Komentar, Encep Abdullah, menyambut baik terbitnya novel Yuki. Menurutnya, Sukron menjadi salah satu penulis baru asal Pontang-Tirtayasa yang patut diapresiasi karyanya oleh kawan-kawan komunitas.
"Budaya diskusi sastra di Pontang-Tirtayasa harus kembali digalakkan, harus tetap ada, meskipun untuk saat ini agak susah dilakukan rutin tiap pekan. Namun, kehadiran Sukron dengan novel "Yuki"-nya, menjadi satu jembatan ruang diskusi ini hadir kembali. Semoga kegiatan ini bisa mengecas kembali motivasi kawan-kawan komunitas yang barangkali sudah lama tidak menulis," ujar Encep.
Novel Yuki mengisahkan perjalanan seorang perempuan muda yang berjuang melepaskan diri dari tekanan hidup, rasa takut, dan belenggu rutinitas. Di tengah tuntutan dunia kerja, pendidikan, dan lingkungan sosial, Yuki berusaha berdamai dengan masa lalunya serta menemukan keberanian menentukan arah hidupnya.
Pemantik diskusi, Ma'rifat Bayhaki, menilai novel ini memiliki bahasa yang puitis dan emosional, namun konflik psikologis Yuki belum tergambar kuat karena lebih banyak diceritakan daripada dihadirkan melalui pengalaman tokohnya.
"Kendati demikian, Yuki tetap layak diapresiasi sebagai karya perdana yang berhasil diselesaikan. Bukankah, naskah yang baik adalah naskah yang selesai ditulis? Meskipun penyelesaian sebuah karya bukanlah akhir dari proses kreatif, melainkan awal bagi pengarang untuk mengasah kepengrajinan estetiknya," tegas Bayhaki.
Tidak hanya berdiskusi tentang isi buku, isu penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia kepenulisan pun tak luput dibahas. Narasumber dan peserta terlibat perdebatan hangat mengenai kebolehan, kemakruhan, hingga keharaman penggunaan AI dalam proses kreatif menulis.
Penulis novel, Sukron, sebenarnya dijadwalkan hadir dalam bedah buku tersebut. Namun, ia berhalangan datang karena agenda kampus yang mendadak. Ketidakhadirannya sempat menimbulkan kekecewaan di kalangan peserta, meski situasi tersebut berada di luar kendali penulis. Meski demikian, diskusi tetap berlangsung hangat, interaktif, dan berakhir dengan lancar hingga selesai.
Melalui kegiatan ini, Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa berharap tradisi membaca, menulis, dan berdiskusi sastra terus tumbuh sehingga mampu melahirkan semakin banyak penulis dan karya sastra dari wilayah Pontang-Tirtayasa.
(Redaksi)




Terimakasih telah berkomentar!