Puisi Rosul Jaya Raya
Perdamaian Perdamaian
Dia menjorokkanmu ke kolam penuh ikan-ikan tertawa, kamu basah oleh gelembung-gelembung tawa yang meletus
Dia menjemur tubuhmu sampai kering di sinar matahari.
Sebelum kamu keluar menyerang dari Kuda Troya, dia tahu kamu ada di dalam, "cilukba!" kamu terkejut sampai kencing di celana
Dia mengirim lindu ke dadamu dan dada Kuda Troyamu.
Betapa bahagianya ketika kamu dan dia menautkan jari kelingking; seribu matanya lenyap—mata yang mengintipmu ketika tengah tidur, makan, sampai berak—
Dia tetap menjorokkanmu ke kolam itu; bedanya kini kamu, dia, dan ikan-ikan tertawa sama-sama, kamu dan dia basah dan menjemur diri sama-sama
Kamu dan dia berada dalam Kuda Troya yang sama, menandatangani lindu yang akan dikirim sama-sama
Sama-sama mengasah pisau untuk menusuk seribu mata jahil yang nanti mengintipmu dan dia.
Juni 2026
Apa Iya Kita Adalah Tai?
Kamu yakin Tuhan menjahit hujan dan tanah sambil minum kopi. Prok prok prok simsalabim. Jadilah kamu.
Selalu ada kemungkinan lain bukan?
Mungkin saja Tuhan sedang buang hajat sehabis makan (maha) tahu pedas. Abrakadabra ngeden dikit. Keluarlah kamu.
Boleh jadi bukan? Dadamu bercerobong, memuntahkan asap polusi. “Tai kau!” hardikmu.
Kamu tak setuju imajinasiku. Kamu hanya setuju kemungkinan aku memang tai.
Bukankah hidup kita seperti tai di sungai hayat? Terombang-ambing ikut arus. Setiap ruang. Setiap waktu. Setiap Tuhan mengolah kita jadi pupuk.
Apa iya kita adalah tai?
Juni 2026
Tiada Mampus yang Lebih Indah Selain Mampus di Pelukanmu
Aku akan mencintaimu sampai mampus
Tak ada anjir di antara kami
Tak ada anjay untuk selain kamu
Rindu adalah bestie-ku
Puisi cinta emakku tercinta
Dana ngedate bapakku tersayang
Cincin kawin mimpi basahku
Banting badan pahlawanku kepagian
Gapapa saat-saatku goblok
Sampai aku mampus di pelukanmu
Juni 2026
Komedi
Di kantor pemerintahan, politisi menulis materi komedi tanpa terganggu kisruh-rusuh di luar.
Teriak orang-orang pakai toa masuk telinganya; keluar lewat pantat bersama kentut.
Kepalanya ngos-ngosan mencari punch line.
Komedi berangkat dari keresahan bukan? Sang politisi resah akan kursi yang ia duduki kakinya hampir patah. Ia ingin menaikkan pajak orang-orang yang teriak-teriak di luar untuk beli kursi baru.
Demi Negara! Akhirnya selesai juga.
Sang politisi stand up comedy di depan orang-orang. Ia melempar bit, tidak lucu. Melempar bit berkali-kali, tetap tidak lucu.
Orang-orang ngantuk.
Sampai sang politisi meleleh di atas panggung. Orang-orang tertawa sangat nyaring.
Juni 2026
Kenapa Kamu Nulis Puisi?
Lebih baik fokus jualan gorengan
kecuali puisi dibuat bungkus gorengan
Ini bukan soal keuntungan komersial
ini soal istana jiwa (kataku dengan
suara gelora sambil menahan bunyi
perut dan dompet)
Kenapa Kamu Nulis Puisi?
Puisi bisa menyeretmu diborgol polisi
puisi tak bisa dijadikan alat sogok
Yang penting kata-kata bangkit dari kubur
menghantui polisi (kataku bermuka masam di balik jeruji; aku kangen
kontrakan bobrok dan senyum pacar)
Kenapa Kamu Nulis Puisi?
Pacarmu lamat-lamat menjauhimu
puisi tak bisa ditukar dimsum mentai
Demi kebudayaan dan kemanusiaan
cinta nomor sekian (kataku sambil
meringkuk dan menangis di pojokan)
Kenapa Kamu Nulis Puisi?
Padahal puisimu jelek dan empuk
dilahap hulubalang-hulubalang sastra itu
Aku menulis puisi sambil minum kopi
untuk diri sendiri (kataku sambil
mengutuk makhluk-makhluk
rambut gondrong dan bau badan itu)
Kenapa Kamu Nulis Puisi?
Tanyaku pada diri sendiri
(tak ada habis-habisnya sampai
lupa aku belum mandi dan cukur rambut
sebelum menjual puisi yang tak laku-laku)
Juni 2026
______
Penulis
Rosul Jaya Raya, penulis kelahiran Bekasi 2002, berdarah Madura, kini berdomisili di Surabaya. Masuk daftar 10 Emerging Writers Ubud Writers and Readers Festival 2025. Beberapa cerpennya memenangkan lomba kepenulisan cerpen. Bisa dihubungi di Instagram @rosuljayaraya24.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!