Sunday, June 28, 2026

Esai Ma’rifat Bayhaki | Kepengrajinan dalam Novel "Yuki": Ketika Pesan Berusaha Mengalahan Cerita

Esai Ma'rifat Bayhaki



Kemahiran berbahasa adalah satu dari sekian modal yang mesti dimiliki oleh pengarang. Kendati penting, justru ia kerap diabaikan. Banyak pengarang lebih terobsesi pada persoalan pesan yang ingin disampaikan, alih-alih memperhatikan konstruksi—bentuk cerita yang akan disajikan. Sebuah cerita tidak dikenang semata karena suaranya, melainkan bagaimana cara ia menyuarakannya. Saya tentu tidak ingin menyaksikan sebuah naskah yang penuh dengan pesan moral, tetapi kehilangan daya estetiknya bernasib tragis di tangan pembaca kritis.

Barangkali kepekaan semacam ini mesti dijadikan pijakan ketika membaca novel YUKI. Pada halaman awal kita disodorkan dengan kegelisahan yang nyata. Narator ingin berbicara tentang manusia modern yang terjebak dalam rutinitas, ketakutan, dan keterbatasan. Dari hal itu ia menawarkan gagasan sederhana, manusia harus “naik kelas”. Tentunya frasa ini lebih dari perpindahan status sosial di permukaan, ia juga menyimpan pergulatan dan pendalaman batin yang berlapis—kokoh.

Namun, sayangnya sang narator dalam cerita “Yuki” tampak terjebak untuk memastikan gagasan “naik kelas” ini bersarang di benak pembaca. Hasrat tersebut demikian dominan sehingga hampir setiap bab lebih berhungsi sebagai medium penyampaian pesan daripada ruang bagi cerita untuk tumbuh secara organik. Akibatnya, pembaca lebih sering dihadapkan pada penegasan ide dibanding pengalaman estetik yang lahir dari perkembangan cerita.

Jumlah tokoh yang relatif sedikit sesungguhnya bisa diolah sedemikian rupa untuk membangun karakter yang utuh dan dinamis . Alih-alih melakukan itu, tokoh Yuki  lebih sering hadir sebagai corong gagasan pengarang daripada menjadi manusia fiksional yang hidup, memiliki kehendak, konflik, dan perkembangan psikologisnya sendiri. Yuki lebih sering tampil sebagai figur yang telah mengetahui jawaban atas persoalannya ketimbang menjadi manusia yang sedang berproses.

Hal itu juga berlaku pada tokoh lain dalam novel ini. Misalnya tokoh Pak Arif—mentor Yuki yang perannya sentral dalam cerita ini. Lagi-lagi narator berperan terlalu dominan. Sehingga tokoh Pak Arif menjadi terkesan ajaib. Ia bisa tiba-tiba hadir di momen penting hidup Yuki bahkan mampu mengetahui segala hal dan permasalahan yang dialami Yuki. Hal itu nampak jelas saat Pak Arif mengetahui jika Danu memberikan kunci berkarat pada Yuki. Bahkan dengan hafalnya ia menjabarkan manfaat dari kunci berkarat itu pada Yuki, kendati Pak Arif tidak benar-benar hadir dalam peristiwa itu. Pada persoalan ini sepertinya sang naraotor harus berhati-hati.

Pergulatan batin yang seharusnya menjadi jantung sebuah novel justru berlangsung singkat. Proses sebab akibat yang diharapkan cair, luwes, dinamis, dramatis, dan memukau menjadi terkesan ajaib. Pemaknaan setiap tokoh luput dari pandangan sang narator. Saya kehilangan jejak dalam usaha menggali sebab Yuki memaknai lorong tempat kerjanya mengerikan, pemaknaan kunci berkarat dari masing-masing tokoh. Bahkan tokoh Pak Arif terkesan sangat bijaksana tanpa celah. Barangkali hal ini mesti dijelaskan, tidak digantung begitu saja.

Beralih pada persoalan alur, novel ini bergerak dengan tempo yang terlampau tergesa-gesa. Perpindahan antarruang berlangsung begitu cepat sehingga setiap tempat kehilangan kesempatan untuk meninggalkan jejak dalam ingatan pembaca. Adegan demi adegan silih berganti, tetapi tidak memberi cukup waktu bagi suasana untuk mengendap ataupun bagi konflik untuk memperoleh bobot emosional. Alur akhirnya lebih menyerupai rangkaian perpindahan peristiwa daripada perjalanan batin yang tumbuh secara perlahan.

Barangkali, apabila diolah dengan kepengrajinan yang lebih tekun, ruang dalam YUKI tidak hanya berfungsi sebagai latar tempat peristiwa berlangsung. Ruang memiliki kemungkinan estetik yang jauh lebih luas. Ia dapat menjadi penanda zaman, penyimpan ingatan, bahkan menghadirkan gema batin para tokohnya. Dalam karya sastra yang matang, ruang tidak pernah benar-benar diam. Ia ikut mengarahkan suasana, membangun ketegangan, dan sesekali berbicara melalui kesunyian yang diciptakannya.

Kita dapat belajar dari Robohnya Surau Kami. Cerpen itu tidak semata-mata berkisah tentang sebuah surau, melainkan menjadikan surau sebagai pusat kesadaran cerita. Bangunan itu bukan lagi sekadar lokasi, tetapi sebuah simbol yang memanggul sejarah, keyakinan, kegelisahan, sekaligus ironi manusia. Surau memperoleh “suara” karena pengarang berhasil menanamkan pengalaman batin ke dalam ruang tersebut. Pembaca tidak hanya melihat sebuah bangunan, melainkan merasakan denyut kehidupan yang bersemayam di dalamnya.

Kemungkinan semacam itu sesungguhnya juga terbuka bagi YUKI. Sayangnya, ruang-ruang yang dihadirkan masih cenderung bersifat fungsional. Kantor, rumah, jalan, atau tempat-tempat yang disinggahi tokoh lebih sering menjadi wadah berlangsungnya peristiwa daripada turut membentuk kesadaran tokoh dan menghidupkan atmosfer cerita. Padahal, apabila ruang diberi kedalaman simbolik dan psikologis, ia akan menjadi unsur naratif yang bekerja secara diam-diam, memperkaya makna tanpa perlu dijelaskan secara panjang lebar oleh narator. Di situlah sastra menunjukkan kekuatannya, bukan melalui banyaknya penjelasan, melainkan melalui kemampuan membuat benda-benda yang bisu menjadi fasih berbicara.

Pada bagian lain narator memilih mendeskripsikan tindakan-tindakan Yuki alih-alih membiarkan pembaca menyaksikan tindakan itu berlangsung di hadapan mereka. Kecenderungan ini muncul berulang kali dalam beberapa bab sehingga perlahan mengikis daya hidup cerita. Alih-alih menghadirkan pengalaman, narator justru menyajikan kesimpulan. Pembaca diberi tahu apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dilakukan Yuki, tetapi jarang diberi kesempatan untuk menemukan semua itu melalui peristiwa yang berkembang secara organik.

Bagi saya, pilihan semacam ini merupakan salah satu kelemahan paling mendasar dalam novel ini. Sebab, hakikat fiksi bukanlah menyampaikan gagasan secara langsung, melainkan membiarkan gagasan itu lahir dari benturan antartokoh, dari gestur yang sederhana, dari dialog yang ritmis, bahkan dari kesunyian yang sengaja dibiarkan bekerja. Seperti yang dikatakan Ernest Hemingway mengenai show, don't tell. Seorang pengarang tidak dituntut menjelaskan segala sesuatu kepada pembaca, melainkan menghadirkan dunia yang memungkinkan pembaca sampai pada kesimpulannya sendiri.

Sastra kehilangan daya estetiknya ketika terlalu bernafsu menjelaskan. Setiap penjelasan yang berlebihan sesungguhnya adalah bentuk ketidakpercayaan pengarang terhadap kekuatan cerita yang sedang dibangunnya. Padahal, cerita yang baik selalu memiliki keberanian untuk menyembunyikan sebagian maknanya, sebab sastra tidak bekerja dengan

cara menggurui, melainkan dengan cara menggerakkan pengalaman batin pembacanya. Ia tidak berkhotbah dari atas mimbar, tetapi mengajak pembaca berjalan perlahan memasuki ruang-ruang makna yang sengaja tidak seluruhnya diterangi. Justru dalam ruang yang remang-remang itulah sastra menemukan daya pikatnya.

Kausalitas yang berupaya dibangun narator belum sepenuhnya memperoleh kedalaman dramatik. Penjelajahan Yuki terhadap krisis eksistensialnya berlangsung terlalu tergesa-gesa sehingga perkembangan psikologis tokoh terasa lebih sebagai pernyataan daripada pengalaman. Pembaca diberi tahu bahwa Yuki hidup dalam ketakutan dan merasa tidak bahagia, tetapi cerita tidak menyediakan rangkaian peristiwa yang cukup untuk membenarkan perasaan tersebut.

Sepanjang novel, Yuki justru tampil sebagai pribadi yang relatif utuh. Ia mampu menjalankan pekerjaannya dengan baik, berani mengemukakan pendapat di hadapan kolega, bahkan beberapa kali menjadi sosok yang menawarkan solusi bagi orang lain. Kegagalan yang dialaminya pun tidak pernah benar-benar menjelma menjadi titik balik yang mengguncang kesadarannya. Setiap hambatan segera dilewati tanpa meninggalkan bekas psikologis yang berarti. Akibatnya, jarak antara apa yang dikatakan narator mengenai Yuki dan apa yang benar-benar diperlihatkan cerita menjadi semakin lebar.

Pada akhirnya, persoalan Yuki terasa lebih banyak hidup di dalam bahasa narator daripada di dalam dunia yang sedang dibangun novel ini. Kecemasan itu disebutkan berulang kali, tetapi jarang memperoleh bentuk konkret melalui tindakan, konflik, atau pengalaman traumatik yang mampu mengendap dalam ingatan pembaca. Padahal, luka batin dalam sastra tidak selalu harus hadir sebagai tragedi besar. Rutinitas yang berulang, ruang kerja yang menyesakkan, relasi sosial yang dingin, atau kegagalan-kegagalan kecil yang terus menumpuk pun dapat berubah menjadi teror eksistensial apabila diolah dengan kesabaran estetik.

Di sinilah kelemahan paling mencolok novel ini. Rutinitas yang semestinya menjadi sumber kecemasan manusia modern tidak pernah benar-benar menjelma sebagai ancaman yang menghimpit kehidupan Yuki. Ia hanya hadir sebagai gagasan yang diucapkan narator, bukan sebagai pengalaman yang dialami pembaca. Ketika rasa takut lebih banyak dikatakan daripada dihadirkan, konflik kehilangan bobot dramatiknya, dan perjalanan eksistensial Yuki pun berakhir sebagai konsep yang menarik, tetapi belum sepenuhnya meyakinkan secara artistik.

Kendati demikian, YUKI tetap layak diapresiasi sebagai karya perdana yang berhasil diselesaikan. Bukankah, naskah yang baik adalah naskah yang selesai ditulis. Mekipun penyelesaian sebuah karya bukanlah akhir dari proses kreatif, melainkan awal bagi pengarang untuk mengasah kepengrajinan estetiknya. Pada percobaan berikutnya, tentu kelonggaran semacam ini tidak berlaku.

Salah satu hal yang paling menarik dari novel ini ialah keberanian pengarang bereksperimen dengan bahasa yang puitis, liris, dan berirama. Kalimat seperti, “Rambut hitamnya bergelombang, menebar bayang-bayang gelap di atas bahu, sementara mata cokelatnya menahan kilau api kecil yang tak pernah padam,” memperlihatkan ikhtiar pengarang menghadirkan keindahan melalui pilihan kata yang imajinatif. Cara bertutur semacam ini menjadi strategi yang efektif untuk membangun suasana sekaligus memperhalus pengalaman emosional pembaca sehingga narasi tidak sekadar menyampaikan peristiwa, melainkan juga menghadirkan rasa

Namun, bahasa puitis selalu menuntut kedisiplinan estetik. Keindahan tidak lahir semata-mata dari limpahan metafora atau rangkaian kata-kata yang indah, melainkan dari ketepatan memilih diksi dan kecermatan menempatkannya dalam konteks. Demikian pula dengan penggunaan tanda baca yang bukan sekadar perangkat gramatikal yang mengatur jeda. Ia merupakan bagian dari estetika yang membentuk ritme, mengatur tempo, memberi tekanan, bahkan mengarahkan emosi pembaca. Perpaduan antara diksi yang cermat akan melahirkan kalimat yang tidak hanya enak dibaca, tetapi juga memiliki daya pukau yang bertahan lebih lama dalam ingatan.

Pada beberapa bagian, YUKI berhasil memperlihatkan potensi tersebut. Meskipun belum sepenuhnya konsisten, tampak bahwa narator memiliki kepekaan terhadap musikalitas bahasa dan keberanian untuk tidak sekadar bercerita, melainkan juga menciptakan pengalaman membaca yang estetis. Potensi inilah yang, apabila terus diasah melalui pembacaan yang luas dan latihan menulis yang tekun, dapat menjadi kekuatan utama pengarang pada karya-karya berikutnya. Tabik.

Tanara, 28 Juni 2026

 _______

Penulis

Ma'rifat Bayhaki, redaktur pelaksana NGEWIYAK.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

 

This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!