Puisi Cahaya Daffa Fuadzen
Seporsi
Kematian
Dari konten
Youtube penjajah tersiar;
bahwa seporsi
kematian terdapat
siasat menu
ayam wagyu menjelma
À la carte
berusaha tampil lezat.
*
Tampak ibunda
datang tanpa wajah
membawa pulang
seporsi kematian
dari dapur
lahan basah
milik penjajah
bau limbah.
“Apa lauknya?”
tanyaku.
“Gaji guru yang
dipangkas
serta dana
pendidikan yang
disunat
tuntas,” jawabnya.
Segera kulahap
hidangan itu
dengan sayur
rasa tanah tandus
seperti zombi
mengunyah
biji sawit
sedang belajar tumbuh,
pabila
menolaknya, sepatu laras panjang
menginjak
tengkuk leher yang tak berselera.
Kuhabiskan
seporsi kematian itu
penuh kelu
hingga sisa pantulan
wajahku di
ompreng baja terpancar
maut sedang
merenggut masa depanku.
(2026)
Kecerdasan
Seperti Kematian
Gelar tinggi di
atas pagina
tertimbun oleh
rimbun debu
dosa.
Dua puluh tujuh
tahun silam
kau tempuh
seluruh tenaga
kini hanyalah
angka sial yang
menjagal nalar
belaka,
sebab hukum
masa kini
adalah pedang
hakim yang
dihunus guna
memenggal
kepala Themis
demi terputus
timbangan
keadilan,
lantaran
kecerdasan seperti
ancaman
menjelma kematian;
meliputi
hantu-hantu
bagi mata yang
buntu
pada kebenaran.
Karena itulah,
mengubur nurani
serupa
cheat BRINGITON
untuk kau sang
tawanan lekas
menjadi tahanan
rawat jalan.
(2026)
Pasar Kematian
Ketika pasar
kematian
mengunjungiku,
saat itu juga
ia segera
membunuhku.
"Inikah
yang rayap saldo sebut
wujud dari
pasar kematian?” kataku.
“Di saat rupiah
bukan lagi
alat tukar,
melainkan
orderan fiktif
menjalar
ke notif
jantungku?" pungkasku
penuh teka-teki
yang mengganggu.
Tidak ada
platform lain
untuk aku kabur
dari
pasar kematian,
sebab tiada
tuhan selain
insentif yang
tak sanggup
kudapatkan
pabila rupiah
terjangkit
inflasi maupun deflasi,
sedang pasar
kematian serupa
rayap saldo
berwajah makar,
dan aku
hanyalah
driver Go Food
yang
lelah bekerja,
mati terkapar.
(2026)
______
Penulis
Cahaya
Daffa Fuadzen kelahiran Samarinda, 4 Juni 2002.
Bergiat di Komune TerAksara Indonesia. Puisinya termaktub dalam antologi
bersama Cermin Lain di Balik Pintu Lamin (Ruang Sastra Kaltim, 2023).
Alumnus Majelis Sastra Asia Tenggara 2025 Kategori Puisi.

Terimakasih telah berkomentar!