Sunday, June 14, 2026

Puisi-Puisi Cahaya Daffa Fuadzen

Puisi Cahaya Daffa Fuadzen



Seporsi Kematian

 

Dari konten Youtube penjajah tersiar;

bahwa seporsi kematian terdapat

siasat menu ayam wagyu menjelma

À la carte berusaha tampil lezat.

 

*

 

Tampak ibunda datang tanpa wajah

membawa pulang seporsi kematian

dari dapur lahan basah

milik penjajah bau limbah.

 

“Apa lauknya?” tanyaku.

“Gaji guru yang dipangkas

serta dana pendidikan yang

disunat tuntas,” jawabnya.

 

Segera kulahap hidangan itu

dengan sayur rasa tanah tandus

seperti zombi mengunyah

biji sawit sedang belajar tumbuh,

 

pabila menolaknya, sepatu laras panjang

menginjak tengkuk leher yang tak berselera.

 

Kuhabiskan seporsi kematian itu

penuh kelu hingga sisa pantulan

wajahku di ompreng baja terpancar

maut sedang merenggut masa depanku.

 

(2026)

 

 

Kecerdasan Seperti Kematian

 

Gelar tinggi di atas pagina

tertimbun oleh

rimbun debu dosa.

 

Dua puluh tujuh tahun silam

kau tempuh seluruh tenaga

kini hanyalah angka sial yang

menjagal nalar belaka,

 

sebab hukum masa kini

adalah pedang hakim yang

dihunus guna memenggal

kepala Themis demi terputus

timbangan keadilan,

 

lantaran kecerdasan seperti

ancaman menjelma kematian;

meliputi hantu-hantu

bagi mata yang buntu

pada kebenaran.

 

Karena itulah,

mengubur nurani serupa

cheat BRINGITON

untuk kau sang tawanan lekas

menjadi tahanan rawat jalan.

 

(2026)

 

 

 

Pasar Kematian

 

Ketika pasar kematian

mengunjungiku,

saat itu juga ia segera

membunuhku.

 

"Inikah yang rayap saldo sebut

wujud dari pasar kematian?” kataku.

“Di saat rupiah bukan lagi

alat tukar, melainkan

orderan fiktif menjalar

ke notif jantungku?" pungkasku

penuh teka-teki yang mengganggu.

 

Tidak ada platform lain

untuk aku kabur dari

pasar kematian,

 

sebab tiada tuhan selain

insentif yang tak sanggup

kudapatkan pabila rupiah

terjangkit inflasi maupun deflasi,

 

sedang pasar kematian serupa

rayap saldo berwajah makar,

dan aku hanyalah

driver Go Food yang

lelah bekerja, mati terkapar.

 

(2026)

 

 

______

Penulis

 

Cahaya Daffa Fuadzen kelahiran Samarinda, 4 Juni 2002. Bergiat di Komune TerAksara Indonesia. Puisinya termaktub dalam antologi bersama Cermin Lain di Balik Pintu Lamin (Ruang Sastra Kaltim, 2023). Alumnus Majelis Sastra Asia Tenggara 2025 Kategori Puisi.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


 


Terimakasih telah berkomentar!