Cerpen Sapta Arif
Pagi sebelum Imam Safitra
sampai di rumah sahabatnya, ia berdiri seorang diri di depan gerbang kampus. Pandang
matanya yang silau oleh pancaran matahari pagi melihat sekeliling. Berulangkali
ia berpapasan dengan mahasiswa yang asik menikmati hari Minggu. Hampir Imam
Safitra nekat meminjam uang pada salah mahasiswa. Namun urung, mengingat utangnya
yang sudah menggunung. Dari balik warung bubur ayam seberang gerbang kampus, ojek
pesanannya datang. Imam Safitra terkejut mendapati Agus, mahasiswa yang dekat
dengannya, tersenyum dari balik helm INK berkaca pelangi.
“Silakan Pak Imam,” ucap
Agus tersenyum.
Sependek ingatan Imam
Safitra, ia masih punya utang pada Agus. Entah satu atau dua juta. Karena begitu
banyak mahasiswa yang ia mintai utang, hingga Imam Safitra tidak ingat secara
detail masing-masing nominalnya. Imam Safitra merasa sebal, sepanjang
perjalanan ia didiamkan oleh mahasiswanya itu. Berbeda dengan pengojek online
kebanyakan yang berbasa-basi dengan penumpangnya, Agus nampak dongkol juga
karena utangnya tak kunjung dibayar.
Kini mereka teronggok di
teras rumah Budi. Menunggu teman dosennya keluar seperti menunggu ajal. Imam
Safitra tidak mungkin berkata pada mahasiswanya kalau ongkos ojek online
akan ia bayar nanti. Kantong dompetnya kering, menyisakan tiga lembar lima
ribuan. Imam Safitra meminta agar Agus mau menunggu karena akan memesannya lagi
untuk mengantar balik ke kampus.
Sejak semalam, Imam
Safitra resah oleh berbagai hal. Mobil Imam Safitra dipinjam Ustadz Wafa untuk
mengantar istrinya periksa ke dokter kandungan. Imam Safitra masih berutang
uang pada imam masjid di kompleks perumahannya itu. Jika bukan karena utang
yang belum dibayar, tak mungkin Imam Safitra serahkan mobil tuanya.
Hujan deras tumpah merata
ke sudut-sudut kota. Istri Imam Safitra mendadak diserang diare akibat makan mie
gacoan level enam. Terlebih, cuaca dingin yang menusuk memperparah keadaan.
Istrinya merengek minta diantar periksa ke dokter. Dengan wajah bodoh dan sudut
mata kanan berkedut, Imam Safitra menjawab: Simbah sedang dipinjam Ustadz
Wafa.
Tanpa menjawab, sambil
memegang perut yang perih serasa dipelintir oleh makhluk tak kasat mata,
istrinya meninggalkan Imam Safitra melongo di teras rumah. Ia memesan taksi online
dan menolak diantar oleh suaminya. Hingga jam 10 malam, istrinya tak
kunjung pulang. Setengah jam kemudian, terdengar suara mobil berhenti di depan
rumah. Sayup-sayup Imam Safitra mendengar istrinya mengucapkan terima kasih.
Imam Safitra paham betul
suara lelaki yang mengantar istrinya itu. Ia bergeming pura-pura tidur di sofa
ruang tamu. Ketika pintu ruang tamu dibuka karena sengaja tidak dikunci, istrinya
berlalu begitu saja masuk ke kamar. Meninggalkan seonggok manusia tak berdaya
yang tercerabut harga dirinya.
Imam Safitra satu dari
sekian banyak kepala rumah tangga yang tergabung dalam komunitas ikatan suami
takut istri. Gajinya sebagai dosen tetap di salah satu perguruan tinggi swasta
di kota P memang kalah dengan istrinya yang menjadi teller Bank BRI. Namun,
sebenarnya itu tak jadi soal. Sebelum masalah pinjamanan online meledak
di tahun pertama pernikahan mereka dan nyaris membuat istrinya menggugat cerai.
Imam Safitra gemar mengadu
nasib ke arena judi online hingga menguras habis rekening istrinya
sampai hampir 30 juta. Tidak sampai di situ, beberapa kali ia nekat meminjam
uang di layanan pinjaman online. Tak mampu bayar hingga lewat tenggat
dan menabung bunga hingga utangnya meledak sampai nominal 80 juta.
Waktu itu, istrinya ketus
mengatai dirinya brengsek dan laki-laki mokondo! (Pembaca yang budiman, Mokondo
singkatan dari, maaf, modal kontol doang!)
“Eh Kang, sudah dari tadi
Kang?” tiba-tiba lelaki berkaos lusuh dan bercelana pendek keluar.
“Oh engga Bud, baru juga sepuluh menit,” Imam Safitra
melirik wajah Agus yang masam.
“Ayo, masuk Kang. Saya
buatkan kopi,”
“Ngga usah Bud, di sini
saja. Sambil ngerokok.” ucap Imam Safitra lalu membakar rokok. Ia menoleh
pada Agus yang masih nangkring di motor. “Duduklah dulu, Gus. Sambil merokok,”
Agus menyambut baik, ia
turun dari motor, duduk, lalu mencomot sebatang rokok dari bungkusnya.
“Oalah, kamu tho Gus,” ucap Budi. Agus balas tersenyum sambil mengangguk.
Tidak lama kemudian, Budi
datang meletakkan nampan dengan tiga cangkir kopi panas. Disautnya bungkus
rokok Imam Safitra. “Diminum kopinya. Lama sekali, kau tak pernah main ke sini
lagi, Kang.” ucap Budi setelah mengembuskan asap rokok.
Imam Safitra menerawang
ke langit pagi yang menyilaukan. Ia menyipitkan mata, meraba sesuatu yang
berkarat di ingatannya. “Iya, lama sekali ya… Kamu terlalu sibuk juga, Bud.
Kalau keluar kota, ajak-ajaklah sahabatmu ini. Jelek-jelek gini aku bisa
nyupir, Bud,”
“Kau yang terlalu sibuk,
Kang. Urusan kampus banyak kau pegang. Apa kau tak dengar, teman-teman dosen
sampai kasih julukan Lord Luhut-nya kampus?” ucap Budi berseloroh.
Budi menyeruput kopinya, “lagi
pula, apa mau Kang Imam nerima uang receh hasil ngamen dariku?” ucap Budi
sambil terkekeh getir.
“Kalau recehnya dolar,
siapa yang nolak, Bud. Iya kan Gus,” mereka tertawa.
Budi memang dikenal sering
keluar kota. Selain menjadi dosen, ia juga kerap diundang menjadi pembicara di
berbagai daerah. Belum lagi, Budi juga menjadi asesor akreditasi untuk berbagai
program studi bahasa. Sesuai dengan fokus keilmuannya. Ngamen yang
dimaksud Budi ya ini, mencari pendapatan di luar gaji sebagai dosen.
Lama mereka saling diam
merenung dalam pikiran masing-masing. Si Agus tidak berharap banyak. Cukup
biaya ojek online dibayar, baginya sudah cukup. Di pikirannya sudah
hampir mustahil dosennya ini membayar utang yang sudah kelewat setahun. Sedangkan
di pikiran Imam Safitra masih sama. Ia berupaya mencari topik dan momen yang
tepat untuk meminjam uang lagi pada Budi. Meski Imam Safitra pun sadar, utangnya
pada Budi beberapa waktu lalu belum lunas.
Beberapa kali Budi
melirik pada Imam Safitra. Batinnya khawatir betul jika lelaki ini mau utang
lagi.
“Begini Bud,” suara Imam
Safitra melirih dan terdengar serak layaknya suara dari gua yang kering.
Budi menoleh. Agus pun
demikian.
Tidak lama berselang, mobil
Honda Jazz berwarna putih datang. Berhenti di halaman rumah Budi. Gegas ia
berdiri dan berjalan tergesa. Dari dalam mobil, istri Budi keluar menenteng dua
plastik besar belanjaan. Ia berlalu lewat pintu samping rumah, sambil melirik
sinis pada tamu suaminya.
“Istri Pak Budi, agak
galak Gus,” bisik Imam Safitra seolah ingin mencairkan suasana. Bukan
menenangkan, batin Agus justru semakin pesimis ongkos ojeknya akan dibayar. Ia
sudah curiga dari awal, kedatangan dosennya ini ingin pinjam uang.
Lumayan lama Budi di
dalam rumah. Tiba-tiba terdengar suara benda dibanting keras. “Masa mau pinjam
lagi?” ucapan itu jelas terdengar. Imam Safitra melirik pada Agus yang
tertunduk pasrah. Agus paham, ini pertanda buruk baginya.
Budi muncul dengan wajah
kusut saat Imam Safitra meloloskan batang rokok keduanya. Tetapi, Budi seperti
berusaha tetap tersenyum ramah. “Gimana Kang, tadi?”
Jeda sejenak. Imam
Safitra membakar rokok, lalu mengisap dalam-dalam. Asap dihempas dengan
lenguhan halus, tapi terdengar berat. Imam Safitra menoleh pada Agus yang
wajahnya terlihat jengah.
“Ngga jadi, Bud. Kayaknya,
saya mau undur diri juga. Ayo, Gus dihabiskan dulu kopinya.”
Sepanjang perjalanan ke
kampus, batin Agus merasa amat dongkol. Bukan karena perlakuan Budi, apalagi
istrinya. Melainkan, seseorang yang duduk di boncengannya.
Sesampainya di depan
gerbang kampus, mereka terdiam sejenak. Agak kikuk kali ini Agus akan menagih
ongkos ojeknya. Wajah Imam Safitra terlihat lesu. Dengan suara lemah dan
terdengar memelas, ia berkata: Gus, bolehlah pinjam seratus? Saya janji, akan
kuganti minggu depan beserta sisa utangku. Oh ya, dan ongkos ojeknya juga.
Ponorogo, April 2025
______
Penulis
Sapta Arif, mengampu
mata kuliah Apresiasi Prosa di STKIP PGRI Ponorogo. Peserta Residensi Literatutur Gresik yang diselenggarakan oleh Yayasan Gang
Sebelah bekerja sama dengan Kemendikbud RI. Kenali lebih hangat melalui
IG:@saptaarif.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!