Sunday, June 7, 2026

Cerpen Sapta Arif | Bertamu ke Rumah Budi

Cerpen Sapta Arif

 


Rambut Imam Safitra masai, keringat basah di dahi dan pelipisnya. Berulang kali ia membasuh keringat dan melirik ke pintu rumah sahabatnya yang tak kunjung keluar. Apes benar nasibnya pagi ini, sedan Corolla tua tahun 90-an yang ia namai dengan Simbah mogok kehabisan bensin. Terpaksa ia memesan ojek online, meninggalkan mobil tua itu di sudut pintu gerbang kampus.

Pagi sebelum Imam Safitra sampai di rumah sahabatnya, ia berdiri seorang diri di depan gerbang kampus. Pandang matanya yang silau oleh pancaran matahari pagi melihat sekeliling. Berulangkali ia berpapasan dengan mahasiswa yang asik menikmati hari Minggu. Hampir Imam Safitra nekat meminjam uang pada salah mahasiswa. Namun urung, mengingat utangnya yang sudah menggunung. Dari balik warung bubur ayam seberang gerbang kampus, ojek pesanannya datang. Imam Safitra terkejut mendapati Agus, mahasiswa yang dekat dengannya, tersenyum dari balik helm INK berkaca pelangi.


“Silakan Pak Imam,” ucap Agus tersenyum.


Sependek ingatan Imam Safitra, ia masih punya utang pada Agus. Entah satu atau dua juta. Karena begitu banyak mahasiswa yang ia mintai utang, hingga Imam Safitra tidak ingat secara detail masing-masing nominalnya. Imam Safitra merasa sebal, sepanjang perjalanan ia didiamkan oleh mahasiswanya itu. Berbeda dengan pengojek online kebanyakan yang berbasa-basi dengan penumpangnya, Agus nampak dongkol juga karena utangnya tak kunjung dibayar.


Kini mereka teronggok di teras rumah Budi. Menunggu teman dosennya keluar seperti menunggu ajal. Imam Safitra tidak mungkin berkata pada mahasiswanya kalau ongkos ojek online akan ia bayar nanti. Kantong dompetnya kering, menyisakan tiga lembar lima ribuan. Imam Safitra meminta agar Agus mau menunggu karena akan memesannya lagi untuk mengantar balik ke kampus.


Sejak semalam, Imam Safitra resah oleh berbagai hal. Mobil Imam Safitra dipinjam Ustadz Wafa untuk mengantar istrinya periksa ke dokter kandungan. Imam Safitra masih berutang uang pada imam masjid di kompleks perumahannya itu. Jika bukan karena utang yang belum dibayar, tak mungkin Imam Safitra serahkan mobil tuanya.


Hujan deras tumpah merata ke sudut-sudut kota. Istri Imam Safitra mendadak diserang diare akibat makan mie gacoan level enam. Terlebih, cuaca dingin yang menusuk memperparah keadaan. Istrinya merengek minta diantar periksa ke dokter. Dengan wajah bodoh dan sudut mata kanan berkedut, Imam Safitra menjawab: Simbah sedang dipinjam Ustadz Wafa.


Tanpa menjawab, sambil memegang perut yang perih serasa dipelintir oleh makhluk tak kasat mata, istrinya meninggalkan Imam Safitra melongo di teras rumah. Ia memesan taksi online dan menolak diantar oleh suaminya. Hingga jam 10 malam, istrinya tak kunjung pulang. Setengah jam kemudian, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Sayup-sayup Imam Safitra mendengar istrinya mengucapkan terima kasih.


Imam Safitra paham betul suara lelaki yang mengantar istrinya itu. Ia bergeming pura-pura tidur di sofa ruang tamu. Ketika pintu ruang tamu dibuka karena sengaja tidak dikunci, istrinya berlalu begitu saja masuk ke kamar. Meninggalkan seonggok manusia tak berdaya yang tercerabut harga dirinya.


Imam Safitra satu dari sekian banyak kepala rumah tangga yang tergabung dalam komunitas ikatan suami takut istri. Gajinya sebagai dosen tetap di salah satu perguruan tinggi swasta di kota P memang kalah dengan istrinya yang menjadi teller Bank BRI. Namun, sebenarnya itu tak jadi soal. Sebelum masalah pinjamanan online meledak di tahun pertama pernikahan mereka dan nyaris membuat istrinya menggugat cerai.


Imam Safitra gemar mengadu nasib ke arena judi online hingga menguras habis rekening istrinya sampai hampir 30 juta. Tidak sampai di situ, beberapa kali ia nekat meminjam uang di layanan pinjaman online. Tak mampu bayar hingga lewat tenggat dan menabung bunga hingga utangnya meledak sampai nominal 80 juta.


Waktu itu, istrinya ketus mengatai dirinya brengsek dan laki-laki mokondo! (Pembaca yang budiman, Mokondo singkatan dari, maaf, modal kontol doang!)


“Eh Kang, sudah dari tadi Kang?” tiba-tiba lelaki berkaos lusuh dan bercelana pendek keluar.


“Oh engga Bud, baru juga sepuluh menit,” Imam Safitra melirik wajah Agus yang masam.


“Ayo, masuk Kang. Saya buatkan kopi,”


“Ngga usah Bud, di sini saja. Sambil ngerokok.” ucap Imam Safitra lalu membakar rokok. Ia menoleh pada Agus yang masih nangkring di motor. “Duduklah dulu, Gus. Sambil merokok,”


Agus menyambut baik, ia turun dari motor, duduk, lalu mencomot sebatang rokok dari bungkusnya.


“Oalah, kamu tho Gus,” ucap Budi.
Agus balas tersenyum sambil mengangguk.


Tidak lama kemudian, Budi datang meletakkan nampan dengan tiga cangkir kopi panas. Disautnya bungkus rokok Imam Safitra. “Diminum kopinya. Lama sekali, kau tak pernah main ke sini lagi, Kang.” ucap Budi setelah mengembuskan asap rokok.


Imam Safitra menerawang ke langit pagi yang menyilaukan. Ia menyipitkan mata, meraba sesuatu yang berkarat di ingatannya. “Iya, lama sekali ya… Kamu terlalu sibuk juga, Bud. Kalau keluar kota, ajak-ajaklah sahabatmu ini. Jelek-jelek gini aku bisa nyupir, Bud,”


“Kau yang terlalu sibuk, Kang. Urusan kampus banyak kau pegang. Apa kau tak dengar, teman-teman dosen sampai kasih julukan Lord Luhut-nya kampus?” ucap Budi berseloroh.


Budi menyeruput kopinya, “lagi pula, apa mau Kang Imam nerima uang receh hasil ngamen dariku?” ucap Budi sambil terkekeh getir.


“Kalau recehnya dolar, siapa yang nolak, Bud. Iya kan Gus,” mereka tertawa.


Budi memang dikenal sering keluar kota. Selain menjadi dosen, ia juga kerap diundang menjadi pembicara di berbagai daerah. Belum lagi, Budi juga menjadi asesor akreditasi untuk berbagai program studi bahasa. Sesuai dengan fokus keilmuannya. Ngamen yang dimaksud Budi ya ini, mencari pendapatan di luar gaji sebagai dosen.


Lama mereka saling diam merenung dalam pikiran masing-masing. Si Agus tidak berharap banyak. Cukup biaya ojek online dibayar, baginya sudah cukup. Di pikirannya sudah hampir mustahil dosennya ini membayar utang yang sudah kelewat setahun. Sedangkan di pikiran Imam Safitra masih sama. Ia berupaya mencari topik dan momen yang tepat untuk meminjam uang lagi pada Budi. Meski Imam Safitra pun sadar, utangnya pada Budi beberapa waktu lalu belum lunas.


Beberapa kali Budi melirik pada Imam Safitra. Batinnya khawatir betul jika lelaki ini mau utang lagi.


“Begini Bud,” suara Imam Safitra melirih dan terdengar serak layaknya suara dari gua yang kering.


Budi menoleh. Agus pun demikian.


Tidak lama berselang, mobil Honda Jazz berwarna putih datang. Berhenti di halaman rumah Budi. Gegas ia berdiri dan berjalan tergesa. Dari dalam mobil, istri Budi keluar menenteng dua plastik besar belanjaan. Ia berlalu lewat pintu samping rumah, sambil melirik sinis pada tamu suaminya.


“Istri Pak Budi, agak galak Gus,” bisik Imam Safitra seolah ingin mencairkan suasana. Bukan menenangkan, batin Agus justru semakin pesimis ongkos ojeknya akan dibayar. Ia sudah curiga dari awal, kedatangan dosennya ini ingin pinjam uang.


Lumayan lama Budi di dalam rumah. Tiba-tiba terdengar suara benda dibanting keras. “Masa mau pinjam lagi?” ucapan itu jelas terdengar. Imam Safitra melirik pada Agus yang tertunduk pasrah. Agus paham, ini pertanda buruk baginya.


Budi muncul dengan wajah kusut saat Imam Safitra meloloskan batang rokok keduanya. Tetapi, Budi seperti berusaha tetap tersenyum ramah. “Gimana Kang, tadi?”


Jeda sejenak. Imam Safitra membakar rokok, lalu mengisap dalam-dalam. Asap dihempas dengan lenguhan halus, tapi terdengar berat. Imam Safitra menoleh pada Agus yang wajahnya terlihat jengah.


“Ngga jadi, Bud. Kayaknya, saya mau undur diri juga. Ayo, Gus dihabiskan dulu kopinya.”


Sepanjang perjalanan ke kampus, batin Agus merasa amat dongkol. Bukan karena perlakuan Budi, apalagi istrinya. Melainkan, seseorang yang duduk di boncengannya.


Sesampainya di depan gerbang kampus, mereka terdiam sejenak. Agak kikuk kali ini Agus akan menagih ongkos ojeknya. Wajah Imam Safitra terlihat lesu. Dengan suara lemah dan terdengar memelas, ia berkata: Gus, bolehlah pinjam seratus? Saya janji, akan kuganti minggu depan beserta sisa utangku. Oh ya, dan ongkos ojeknya juga.


Ponorogo, April 2025


______

 

Penulis

 

Sapta Arif, mengampu mata kuliah Apresiasi Prosa di STKIP PGRI Ponorogo. Peserta Residensi Literatutur Gresik yang diselenggarakan oleh Yayasan Gang Sebelah bekerja sama dengan Kemendikbud RI. Kenali lebih hangat melalui IG:@saptaarif.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!