Esai Uwais Korni
Saya ingin menjalani kehidupan yang enak-enaknya saja. Saya saat mikir, mikirnya itu realistis. To the point saya ingin apa kemudian ambil jalan termudahnya. Risiko dan ketidaknyamanan pasti ada. Tapi, saya terus mengusahakan bagaimana sekiranya dampak yang bermanfaat lebih banyak dibandingkan resikonya itu. Saya pikir siapa pun itu enggan mengharapkan kehidupan yang dipenuhi kesusahan dalam segi apa pun. Mereka yang memilih jalan sengsara dengan sengaja adalah orang-orang gila. Hidup sederhana adalah pilihan. Sangat berseberangan dengan kehidupan yang hedon maupun yang superirit.
Jelas ini bukan maksud saya menjadi pemalas. Kemalasan saya itu terstruktur. Jika saya bergerak karena keterpaksaan, bagi saya lebih baik bermalas-malasan di depan HP atau baca buku daripada ngeladenin omongan orang-orang yang tak sejalan dengan tujuan saya. Mau dibilang saya antisosial, terserah penilainya. Mau dibilang sombong juga terserah penilainya. Pribadi saya datar.
Seperti pada umumnya, setiap orang akan merasa penilaiannya paling bijak sendiri di dalam menghendaki sesuatu dan mengatur-atur kehidupan orang lain. Itu sudah wajarnya menjadi manusia yang penuh ekspektasi atas jalan tempuh kehidupan orang lain dan mudah berprasangka buruk. Maklumi saja atas hal tersebut sebab manusia adalah makhluk yang egois dan penuh instrik.
Manusia tampak keegoisan dan kerakusannya saat ia punya kekuasaan, harta melimpah, ilmu banyak yang disalahgunakan, dan umur tua. Jika manusia nirempati memiliki satu saja dari keempat ini, maka kasihan orang-orang di sekitarnya itu. Soalnya manusia modelan kayak gini merasa dirinya selayaknya orang tua yang seenaknya menyetting kehidupan anak-anaknya, merasa dirinya selayaknya raja yang berhak memperbudak siapa-siapa, merasa dirinya selayaknya guru yang orang lain dipaksa untuk mengikutinya dan berada di belakang langkahnya itu.
Bertambah kesetanannya itu jika ia bodoh dan tidak merasa kalau dirinya bodoh. Dinasihati tak mau. Menasihati orang selalu. Matanya membelalak menusuk-nusuk hati. Kupingnya disumbat ego dengan sengaja. Berusaha menjadi baik tidak pernah dicoba. Ia menjelma wabah bagi siapa pun di sampingnya. Nalar sudah mati. Ilusi kebenaran mendominasi.
Saya pribadi sudah melepas diri dari segala bentuk keegoisan yang merugikan orang lain. Keegoisan saya yaitu saya cuman ingin menulis saja. Barangkali saya menutup diri merupakan bentuk keegoisan yang disengaja itu. Namun konsekuensi tetap saya pertimbangkan. Saya menerima segala bentuk penolakan.
Satu bentuk keegoisan saya yang lain adalah bisa-bisanya saya tidak patuh di lingkungan di mana kepatuhan adalah suatu hal yang dianggap sakral. Gelar "ustaz" saya, saya copot paksa meskipun tetap saja saya masih menggendong gelar "gus" itu. Ih, sungguh suatu hal yang diada-adakan. Kegiatan keagamaan yang jamaah, saya milih-milih. Jika saya ingin, saya lakukan. Jika orang lain yang ingin saya melakukannya, saya pertimbangkan dulu secara matang. Sering kali saya bersembunyi dari semua itu. Takut-takut saya disuruh jadi imam, misalnya, akhirnya saya telat dan memilih jadi makmum saja. Takut-takut saya disuruh mengajar lagi, misalnya, akhirnya saya jadi kekanak-kanakan karakteristiknya saja.
Keegoisan saya tidak bisa dinego. Saya mau apa, ya sudah biarin saja saya melakukannya dengan senang hati. Lagi pula apa sih yang saya impikan itu? Tak lain sebatas ingin meraih kedamaian hidup di dunia dan di akhirat. Dengan finansial yang matang, bertempat tinggal di remang-remang, tak mentereng dikecup tangan saya oleh penghormatan semu. Penghormatan yang bukan disebabkan ilmunya melainkan jelas disebabkan kasta yang mengakar di desa-desa.
Hal ini menjadi dasar saya saat menjadi egois yang produktif. Saat menulis saya menyaksikan kok aturan menulis banyak sekali. Hampir saya mematuhi semua aturan itu. Jika saya patuhi semua itu, hilanglah keegoisan saya. Ruh hidup saya adalah keegoisan. Jika saya tidak egois dan melempem ikut-ikut suruhannya penulis ini dan penulis itu. Maka, sungguh sulit sekali bagi saya untuk menggapai mimpi. Satu contoh jika putra sulung ibu hanya mengiyakan semua yang diinginkan ibu, kemudian apa yang dicita-citakannya tak pernah diusahakannya, maka penyesalan itu akan selalu menetap di dada. Saya dilarang sama ibu untuk menjadi penulis karena menjadi penulis tidak menguntungkan secara keuangan. Tapi, apakah saya berhenti menulis? Tidak. Saya akan "lawan!".
Dalam kepenulisan ini saya melawan bukan hanya kepada ibu. Bahkan kepada semua apa pun itu yang menyesakkan dada dalam konteks kepenulisan, saya akan "lawan!". Misalnya penulis harus memberikan "amanah" di dalam tulisan-tulisannya. Penulis harus mengikuti aturan ini-itu saat menulis. Penulis sebaiknya saat menulis perlu mempertimbangkan paragraf pertama sampai beberapa paragraf berikutnya itu urut. Pembuka dulu baru isi. Setelah isi adalah penutupnya. Dan, itu harus berurutan. Tidak. Saya akan "lawan!".
Artinya "lawan" ya tidak terpaku. Seperti di paragraf-paragraf awal. Saya pribadi yang datar. Suka-suka saya mau menulis apa. Suka-suka saya apakah tulisannya taik atau baik. Suka-suka saya kapan mulainya kapan berhentinya. Capek ya saya akan berhenti. Lagian sudah susah-susah mikir, kenapa dilanjut ke susah-susah nulis? Stoplah. Ubah ke mudah-mudah nulis. Dan memberontaklah!
______
Penulis
Uwais Korni lahir di kawasan YPPRN dengan nama panggilan Mas Didin. Mulai latihan menulis sejak 2014 sampai seterusnya.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!