Puisi Rully Ferdiansyah\
Kisah Ibukota
waktu saya lahir, pak presiden sedang berencana
memindahkan ibukota dan para investor mendadak kabur.
saat itu ibukota yang lama terancam tenggelam
dan sistem drainase air hujannya tidak sempurna.
“bahaya juga ini hujan,” pak presiden berkata, “sementara
duit negara kurang buat bangun yang baru, dari swasta juga nihil.”
pada situasi memalukan itu satu ide pun dieksekusi.
bantuan keuangan bos mafia berdatangan dari berbagai penjuru,
narasi “kemajuan” dan “tak membebani negara” bermunculan pula,
dan pak presiden melihat semua itu asyik adanya.
keluar dari situasi memalukan pak presiden memberi imbalan
dan kampung nelayan kami mendadak hilang.
daerah perairan tempat mencari ikan dipasang pagar bambu.
semuanya milik perusahaan.
Rajungan Kecil
saya dibesarkan oleh rajungan kecil yang bercak putih dan
kurus walau kadang menyebalkan
karena berbau amis. ia mengajari saya
menjadi penyabar sehingga saya tahu
bahwa sumber keberhasilan hidup adalah kerelaan;
bahwa bekerja mengupas rajungan berawal dari kecakapan;
bahwa semua itu dilakukan demi saya;
bahwa penghasilan ibuku dipakai untuk uang saku
di sekolah;
bahwa ibu saya tak pernah menikmati penghasilannya;
bahwa rajungan yang dikupas ibu saya
disukai konsumen di amerika serikat;
bahwa selain rajungan;
ibu saya juga punya banyak teman lainnya di
tempat kerja;
bahwa kakaknya yang baru bercerai, dengan status
single mother, ikut bekerja di tempat rajungan;
bahwa saya menyelesaikan seluruh pendidikan dasar,
dari uang rajungan;
bahwa sekarang tempat itu sudah tak ada lagi.
rajungan kecilku yang bertubuh ramping kini marah
membawaku ke sebuah peristiwa yang membuat
rajungan menghilang dari desaku.
keluarga kami diminta penyidik untuk melepas
tanah yang sudah puluhan tahun kami tempati,
di mana tanah kami dibilang bermasalah dan semua
warga mengalami hal yang sama,
ketika kami ngotot mempertahankan tanah, ibu saya
ditangkap lima puluh polisi pada malam hari.
desa sekonyong terisolasi.
segala penghidupan desa hancur dalam kuasa otoritas.
ketika akhirnya rahasia terkuak, ada perusahaan yang menginginkan
tanah kami yang
diberi kuasa negara
berwenang menguasai atas nama proyek nasional.
Salahkan Hujan
sudah jam delapan pagi
dan jalan menuju kebunnya masih berlumpur
ia bersiul melagukan lagu masa kecilnya
semata demi sepi tak cepat mati.
pagi adalah rutinitas kerja membawa bencana.
matahari telah diganti awan mendung.
penebangan meluas di puncak gunung.
hutan alam didesak tanaman sawit.
ia lihat pohon raksasa ditebangi di taman nasional.
ia mendesah menggelengkan kepala dari
gubuk peristirahatannya.
selamat pagi, para penghuni hutan. apakah di tengah
penggundulan ini
kalian masih punya rumah?
raungan harimau dari kejauhan menjawab,
malah berkata:
penggundulan merusak tatanan
dan kalian akan kehilangan juga.
kamu dan bapak menteri di ibukota
sama-sama tanggungjawab.
untuk penggundulan yang merusak, ia ikhlas
menjadi korban perizinan; ia ikhlas melupakan kerugiannya.
malam merayap, longsor dan banjir akhirnya tiba.
di pelataran rumah ia lihat keluarganya tertimbun lumpur.
Kerbau Joni
ada banyak joni di provinsi tak berhukum ini
dan salah seorang joni menghadiahi saya seekor kerbau
yang joni temukan di pinggir sungai.
kerbau itu saya ikat di halaman belakang rumah.
tanduknya sangat menyeramkan walau di sekelilingnya penuh
dengan ayam yang kerap naik di atas punggungnya.
setiap orang yang lewat di depannya
akan dipanggilnya dengan nama-nama atau
iming-iming joni.
kepada tukang mebel yang baru selesai membuat kusen
dan tampak lelah, kerbau saya
berseru, “mendekatlah padaku, hai joni yang bervisi jauh
dan segudang ilmu perkayuan, aku akan melindungimu
dan mewujudkan semua vismu akan kedaulatan.”
kepada ibu yang letih lesu dan langkahnya gontai,
kerbau saya berkata, “mendekatlah padaku,
hai ibu yang membesarkan joni, kau akan beroleh
kebanggaan. maka air matamu akan larut oleh
keperkasaanku.”
malam ini seekor anjing gunung duduk diam di sebelah kerbau.
mungkin ia sedang mengagumi bayang-bayang bulan atau
sedang merenungi nasib seorang joni yang
terancam pidana, lantaran terbukti memakai ijazah palsu,
waktu menjadi kepala negara.
mungkin ia sedang waswas. “nasib dinastimu, lho mas!”
Pacar Baru
tidak mudah menyadarkanmu dalam hubungan ini.
bahkan saat bercinta pun belum tentu kau ada.
maka aku pergi menemuimu di
sebuah pesan tersembunyi, yang
terlihat oleh mata cemburu.
kau memandangku dengan gentar
mungkin kau mengira aku akan menanyakan
nafkahku.
atau kau menduga aku akan
mengancammu: “bukan kau yang
menafkahi, melainkan aku yang
bekerja, untuk anak-anak!”
pelan-pelan aku menndekat,
mendekati takutmu: “ini kartu keluarga,
bukan kartu bantuan sosial. di kartu ini, cinta kita adalah
kesetiaan pengabdian tanpa syarat, mendampingi pasangan
kapan pun.”
kau berikan sepucuk surat untuk padaku;
kubaca cermat tulisanmu terkait posisimu yang
memberi talak padaku.
siapa pacar gelapmu? jawabmu adalah
wanita yang lebih mapan
ketika lelaki menganggur.
Teman Petinggi
saya duduk di depan jendela
ditemani teman yang sedang mencalonkan diri
sebagai bupati:
di seberang jendela terdapat pemandangan
hijau perbukitan.
“aku ingin membuka lahan di sini, kakak,” kata
teman saya, “para sponsor meminta konsesi begitu saya terpilih.”
saya ambil beberapa ranting kayu di
halaman rumah dan ia segera beranjak menuruni
sebatang jalan yang ujungnya tak kelihatan.
ia mengamati sawah-sawah warga,
tengok sana tengok sini.
diam-diam muncullah saya dari
balik pohon besar,
mau memotret teman saya itu.
saya hapus jepretan foto saya.
“sembunyi di mana teman wartawan kita,
kakak?”
saya kehilangan narasi saat teman saya
tiba-tiba memeluk saya dari belakang.
(Serang, Banten, 2025)
______
Penulis
Rully Ferdiansyah lahir di Serang-Banten, 30 Agustus 1985. Dia sudah menghasilkan dua novel. Pernah dipercaya menjadi pengurus komite sastra di Dewan Kesenian Banten selama periode 2017-2018. Alamatnya: Kampung Sumur Bor, RT07/RW03, Susukan, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten. E-mail ke: Glinseng00@gmail.com
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!