Sunday, June 7, 2026

Puisi-Puisi Rully Ferdiansyah

Puisi Rully Ferdiansyah\




Kisah Ibukota


waktu saya lahir, pak presiden sedang berencana

memindahkan ibukota dan para investor mendadak kabur.


saat itu ibukota yang lama terancam tenggelam

dan sistem drainase air hujannya tidak sempurna.


“bahaya juga ini hujan,” pak presiden berkata, “sementara

duit negara kurang buat bangun yang baru, dari swasta juga nihil.”

pada situasi memalukan itu satu ide pun dieksekusi.

bantuan keuangan bos mafia berdatangan dari berbagai penjuru,

narasi “kemajuan” dan “tak membebani negara” bermunculan pula,

dan pak presiden melihat semua itu asyik adanya.


keluar dari situasi memalukan pak presiden memberi imbalan

dan kampung nelayan kami mendadak hilang.

daerah perairan tempat mencari ikan dipasang pagar bambu.

semuanya milik perusahaan.



Rajungan Kecil


saya dibesarkan oleh rajungan kecil yang bercak putih dan

kurus walau kadang menyebalkan

karena berbau amis. ia mengajari saya

menjadi penyabar sehingga saya tahu

bahwa sumber keberhasilan hidup adalah kerelaan;

bahwa bekerja mengupas rajungan berawal dari kecakapan;

bahwa semua itu dilakukan demi saya;

bahwa penghasilan ibuku dipakai untuk uang saku

di sekolah;

bahwa ibu saya tak pernah menikmati penghasilannya;

bahwa rajungan yang dikupas ibu saya

disukai konsumen di amerika serikat;

bahwa selain rajungan;

ibu saya juga punya banyak teman lainnya di

tempat kerja;

bahwa kakaknya yang baru bercerai, dengan status

single mother, ikut bekerja di tempat rajungan;

bahwa saya menyelesaikan seluruh pendidikan dasar,

dari uang rajungan;

bahwa sekarang tempat itu sudah tak ada lagi.


rajungan kecilku yang bertubuh ramping kini marah

membawaku ke sebuah peristiwa yang membuat

rajungan menghilang dari desaku.

keluarga kami diminta penyidik untuk melepas

tanah yang sudah puluhan tahun kami tempati,

di mana tanah kami dibilang bermasalah dan semua

warga mengalami hal yang sama,

ketika kami ngotot mempertahankan tanah, ibu saya

ditangkap lima puluh polisi pada malam hari.

desa sekonyong terisolasi.

segala penghidupan desa hancur dalam kuasa otoritas.

ketika akhirnya rahasia terkuak, ada perusahaan yang menginginkan

tanah kami yang

diberi kuasa negara

berwenang menguasai atas nama proyek nasional.



Salahkan Hujan


sudah jam delapan pagi

dan jalan menuju kebunnya masih berlumpur

ia bersiul melagukan lagu masa kecilnya

semata demi sepi tak cepat mati.


pagi adalah rutinitas kerja membawa bencana.

matahari telah diganti awan mendung.

penebangan meluas di puncak gunung.

hutan alam didesak tanaman sawit.

ia lihat pohon raksasa ditebangi di taman nasional.

ia mendesah menggelengkan kepala dari

gubuk peristirahatannya.

selamat pagi, para penghuni hutan. apakah di tengah

penggundulan ini

kalian masih punya rumah?


raungan harimau dari kejauhan menjawab,

malah berkata:

penggundulan merusak tatanan

dan kalian akan kehilangan juga.

kamu dan bapak menteri di ibukota

sama-sama tanggungjawab.


untuk penggundulan yang merusak, ia ikhlas

menjadi korban perizinan; ia ikhlas melupakan kerugiannya.

malam merayap, longsor dan banjir akhirnya tiba.

di pelataran rumah ia lihat keluarganya tertimbun lumpur.



Kerbau Joni


ada banyak joni di provinsi tak berhukum ini

dan salah seorang joni menghadiahi saya seekor kerbau

yang joni temukan di pinggir sungai.


kerbau itu saya ikat di halaman belakang rumah.

tanduknya sangat menyeramkan walau di sekelilingnya penuh

dengan ayam yang kerap naik di atas punggungnya.

setiap orang yang lewat di depannya

akan dipanggilnya dengan nama-nama atau

iming-iming joni.


kepada tukang mebel yang baru selesai membuat kusen

dan tampak lelah, kerbau saya

berseru, “mendekatlah padaku, hai joni yang bervisi jauh

dan segudang ilmu perkayuan, aku akan melindungimu

dan mewujudkan semua vismu akan kedaulatan.”


kepada ibu yang letih lesu dan langkahnya gontai,

kerbau saya berkata, “mendekatlah padaku,

hai ibu yang membesarkan joni, kau akan beroleh

kebanggaan. maka air matamu akan larut oleh

keperkasaanku.”


malam ini seekor anjing gunung duduk diam di sebelah kerbau.

mungkin ia sedang mengagumi bayang-bayang bulan atau

sedang merenungi nasib seorang joni yang

terancam pidana, lantaran terbukti memakai ijazah palsu,

waktu menjadi kepala negara.

mungkin ia sedang waswas. “nasib dinastimu, lho mas!”



Pacar Baru


tidak mudah menyadarkanmu dalam hubungan ini.

bahkan saat bercinta pun belum tentu kau ada.


maka aku pergi menemuimu di

sebuah pesan tersembunyi, yang

terlihat oleh mata cemburu.

kau memandangku dengan gentar

mungkin kau mengira aku akan menanyakan

nafkahku.

atau kau menduga aku akan

mengancammu: “bukan kau yang

menafkahi, melainkan aku yang

bekerja, untuk anak-anak!”


pelan-pelan aku menndekat,

mendekati takutmu: “ini kartu keluarga,

bukan kartu bantuan sosial. di kartu ini, cinta kita adalah

kesetiaan pengabdian tanpa syarat, mendampingi pasangan

kapan pun.”

kau berikan sepucuk surat untuk padaku;

kubaca cermat tulisanmu terkait posisimu yang

memberi talak padaku.


siapa pacar gelapmu? jawabmu adalah

wanita yang lebih mapan

ketika lelaki menganggur.



Teman Petinggi


saya duduk di depan jendela

ditemani teman yang sedang mencalonkan diri

sebagai bupati:

di seberang jendela terdapat pemandangan

hijau perbukitan.


“aku ingin membuka lahan di sini, kakak,” kata

teman saya, “para sponsor meminta konsesi begitu saya terpilih.”


saya ambil beberapa ranting kayu di

halaman rumah dan ia segera beranjak menuruni

sebatang jalan yang ujungnya tak kelihatan.


ia mengamati sawah-sawah warga,

tengok sana tengok sini.

diam-diam muncullah saya dari

balik pohon besar,

mau memotret teman saya itu.


saya hapus jepretan foto saya.

“sembunyi di mana teman wartawan kita,

kakak?”

saya kehilangan narasi saat teman saya

tiba-tiba memeluk saya dari belakang.


(Serang, Banten, 2025)


______

Penulis


Rully Ferdiansyah lahir di Serang-Banten, 30 Agustus 1985. Dia sudah menghasilkan dua novel. Pernah dipercaya menjadi pengurus komite sastra di Dewan Kesenian Banten selama periode 2017-2018. Alamatnya: Kampung Sumur Bor, RT07/RW03, Susukan, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten. E-mail ke: Glinseng00@gmail.com


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!