Sunday, June 7, 2026

Drama Satu Babak Anton Chekhov | Agresif Seperti Beruang

Anton Chekhov



Tokoh di dalam drama

YELENA IVANOVNA POPOV (seorang janda pemilik perkebunan berlesung pipi)

GRIGORY STEPANITCH SMIRNOV (usianya separuh baya dan pemilik tanah)

LUKAS (pelayan laki-laki tua NYONYA POPOV)

 

Latarnya berada di ruang tamu rumah NYONYA POPOV.

 

NYONYA POPOV (tampak berkabung sambil menyeka air mata saat menatap sebuah foto) ditemani LUKAS.

 

LUKAS: Jangan begini terus, madam... Nanti kelelahan! Pelayan dan juru masak pergi mencari buah. Mereka yang bernapas dapat menikmati hidup, bahkan kucing sekalipun tahu caranya berbahagia dengan menyusup ke halaman lalu menangkap burung. Tapi Madam mengurung diri di rumah ini dan seolah-olah berada di biara. Ya, benar, kalau dihitung-hitung sebenarnya Madam belum keluar rumah selama satu tahun penuh.

 

NYONYA POPOV: Dan aku tak akan pernah meninggalkannya —Kenapa aku harus keluar? Hidupku sudah berakhir. Suamiku terbaring di kuburnya dan aku mengurung diri di antara dinding persegi empat ini. Kami sudah mati.

 

LUKAS: Mulai lagi! Aku tidak tega mendengarnya! Nikolai Michailovitch sudah meninggal dan itu sudah takdir. Tuhan sudah memberinya kedamaian abadi. Madam berduka karenanya dan seharusnya sudah cukup. Sudah saatnya berhenti. Orang tidak bisa selamanya menangis dan mengenakan pakaian berkabung! Istriku meninggal beberapa tahun yang lalu. Aku pun berduka dan menangisinya selama sebulan penuh, tapi tiga puluh hari itu sudah cukup. Tapi jika aku selalu merasa sedih sepanjang hidupku, itu lebih berharga daripada nilai wanita tua itu. [Mendesah] Madam sudah melupakan tetangga sekitar, tidak keluar dan tidak menerima siapa pun. Menurutku, kita itu seperti laba-laba kalau enggan menatap sinar matahari. Tikus-tikus telah melahap pakaianku.... Ini bukan berarti Madam tidak memiliki orang-orang baik di sekitarmu: distrik ini dipenuhi bangsawan.... Resimen militer ada di Riblov, dan banyak tentara yang enak dipandang serta segar seperti buah plum! Setiap hari Jumat ada pesta dan band musiknya bermain setiap hari…. Alamak! Madam sayang, kau itu masih muda, cantik, mekar seperti mawar—yang kau butuhkan hanyalah menikmati hidup…. Kecantikan akan memudar karena sepuluh tahun kemudian kau tidak akan secantik burung merak yang akan menarik hati petugas militer itu, tapi kalau murung seperti ini sepertinya tidak akan terjadi.

 

NYONYA POPOV [dengan tegas]: Tolong jangan membahas itu lagi! Kau kan tahu, sejak kematian Michailovitch, hidupku tidak ada artinya. Aku memang terlihat hidup, tapi sebenarnya tidak! Aku bersumpah untuk tidak memandang dunia luar dan akan terus berduka…. Paham? Semoga bayangannya dapat melihat betapa aku sangat mencintainya! Tentu, kau sudah tahu semuanya: ia memang sering kasar dan tidak adil terhadapku…. dan kadangkala tidak jujur; tapi aku akan setia sampai akhir hayat dan menunjukkan rasa cintaku kepadanya. Di sudut kuburan lain itu ia akan melihatku sama seperti dulu, sebelum ia wafat….

 

LUKAS: Daripada membicarakan hal itu, lebih baik kau pergi jalan-jalan di kebun atau meminta Tobby atau si Giant menyiapkan delman untuk mengunjungi tetangga-tetanggamu?

 

NYONYA POPOV: Aduh! [tersedu sedan]

 

LUKAS: Madam! Ada apa, Madam, sayang? Yesus bersamamu!

 

NYONYA POPOV: Ia menyukai Tobby! Ia selalu mengantar suamiku ke Kortchagins atau Vlassovs. Ia pengemudi yang andal! Betapa tangguhnya ia mengayuh pedati dengan sekuat tenaga! Kau ingat? Tobby, Toby! Katakan kepada mereka agar memberinya segalon gandum tambahan hari ini.

 

LUKAS: Baik, madam.

 

[bel berdering keras]

 

NYONYA POPOV: Siapa? Katakan padanya bahwa aku tidak ada di rumah.

 

LUKAS: Baik, madam. [ia keluar]

 

NYONYA POPOV [menatap foto]: Kau akan melihat, Nikolas, bagaimana aku bisa mencintai dan memaafkan…. Cintaku akan mati ketika jantungku berhenti berdetak [ia tersenyum sambil meneteskan air mata]. Memangnya kau tidak malu? Aku sudah menjadi istri yang baik dan tulus. Aku sudah mengunci diri dan akan setia hingga ke liang lahat, sedangkan kau … memangnya kau tidak malu, pipi tembam? Kamu membohongiku, membuat keributan, dan meninggalkanku selama berminggu-minggu....

 

[LUKAS masuk dan tampak bingung.]

 

LUKAS: Madam, ada orang yang ingin berjumpa denganmu.

 

NYONYA POPOV: Memangnya kau tidak memberi tahu padanya bahwa sejak kematian suamiku aku tidak menerima tamu?

 

LUKA: Sudah, tapi ia tetap keukeuh. Ia bilang ada hal yang mendesak.

 

NYONYA POPOV: Aku tidak mau menerima siapa pun!

 

LUKA: Aku sudah memberitahunya begitu, tapi … ia memang setan betul. Ia bersumpah akan memaksa masuk ke ruangan … sekarang ia berada di ruang makan.

 

NYONYA POPOV [dengan perasaan kesal]: Oh, baiklah. Suruh ia masuk. Kurang ajar sekali!

 

[LUKA keluar.]

 

NYONYA POPOV: Betapa menjengkelkan orang-orang semacam ini! Apa yang mereka inginkan dariku? Mengapa mereka harus mengusik kedamaianku? [menghela napas]. Sepertinya aku harus benar-benar pergi ke biara… [Merenung] Ya, biara...

 

[SMIRVOV masuk dan LUKAS mengikutinya.)

 

SMIRNOV [selagi masuk, ia berkata kepada LUKA]: Dasar bodoh, jangan banyak cakap kau! Kampret! [Melihat NYONYA POPOV, dengan bermartabat] Madam, perkenalkan, nama saya Grigory Stepanitch Smirnov, pemilik tanah dan pensiunan letnan artileri. Saya terpaksa menyusahkan Anda karena masalah ini sangat penting.

 

NYONYA POPOV [tanpa mengulurkan tangannya] Apa yang kau inginkan?

 

SMIRNOV: Almarhum suami Anda, yang saya kenal baik, berutang seribu dua ratus rubel dan ia melakukannya sebanyak dua kali. Karena besok saya harus membayar bunga ke bank tanah, saya harus meminta Anda mengembalikan uang itu hari ini juga.

 

NYONYA POPOV: Seribu dua ratus! Memangnya suamiku berutang apa?

 

SMIRNOV: Ia membeli gandum daripadaku.

 

NYONYA POPOV [menghela napas, berkata kepada LUKA]: Jangan lupa, Luka, suruh mereka memberi Toby satu galon gandum tambahan [LUKA keluar. Berkata kepada SMIRNOV] Jika Nikolay Mihailitch berutang uang kepadamu, tentu saja saya akan membayarnya, tapi maaf—hari ini saya tidak punya uang tunai. Lusa staf saya akan kembali dari kota, dan saya akan memberitahukannya untuk membayar utang, tapi untuk saat ini saya tidak bisa berbuat apa-apa.... Lagi pula, hari ini tepat tujuh bulan sejak suamiku meninggal. Kondisi pikiran saya tidak karuan. Saya tidak perlu mengurus keuangan.

 

SMIRNOV: Sama. Kondisi pikiran saya juga tidak karuan, dan jika tidak bisa membayar bunga, saya bisa mati. Mereka akan mengambil tanahku.

 

NYONYA POPOV: Kau akan menerima uangnya lusa.

 

SMIRNOV: Saya butuh hari ini, bukan lusa.

 

NYONYA POPOV: Maaf. Hari ini saya tidak bisa membayar.

 

SMIRNOV: Saya tidak bisa menunggu hingga lusa.

 

NYONYA POPOV: Tapi apa yang bisa saya lakukan jika tidak ada uang?

 

SMIRNOV: Anda tidak bisa membayar?

 

NYONYA POPOV: Iya.

 

SMIRNOV: Waduh! Apa ini beneran?

 

NYONYA POPOV: Iya.

 

SMIRNOV: Beneran? Benar-benar tidak ada?

 

NYONYA POPOV: Tentu.

 

SMIRNOV: Saya sangat berterima kasih kepada Anda. Saya akan mencatatnya [mengangkat bahu]. Dan saya diharapkan tetap tenang! Saya baru saja bertemu petugas cukai di jalan, dan ia bertanya, “Kenapa kamu marah, Grigory Stepanitch?” Aku berkata pada diri sendiri, bagaimana aku bisa menahan amarah? Saya sangat membutuhkan uang. Kemarin pagi saya berangkat lebih awal. Saya berkeliling menemui semua orang yang berutang kepada saya, dan tidak seorang pun yang membayar! Saya lelah seperti anjing. Entahlah, di mana aku bermalam—di kedai minuman orang Yahudi yang kumuh, di samping tong vodka.... Akhirnya aku tiba di sini, jauhnya lebih dari lima puluh mil dari rumah, berharap mendapatkan bayaran dari uangku, tapi yang kudapatkan adalah diminta untuk tenang! Bagaimana bisa aku mengendalikan emosi?

 

NYONYA POPOV: Saya yakin. Saya sudah mengatakan bahwa manajer saya akan kembali dari kota. Setelah itu, kau akan mendapatkan uangmu kembali.

 

SMIRNOV: Saya ke sini bukan untuk mendatangi manajer. Memangnya saya peduli apa dengan manajer Anda?

 

NYONYA POPOV: Maaf, Pak, saya tidak terbiasa dengan ekspresi dan nada yang aneh seperti itu. Saya tidak akan mendengarkanmu [buru-buru keluar].

 

SMIRNOV: Sumpah atas jiwaku! Pikiran yang tak karuan! … Sudah tujuh bulan sejak suaminya meninggal.... Tapi apakah saya harus membayar bunganya atau tidak? Saya ingin bertanya kepada Anda apakah saya harus membayar bunga atau tidak? Yang jelas, suami Anda sudah meninggal, pikiran Anda tidak karuan, dan segala tetek-bengek lainnya. Manajer saya pergi ke suatu tempat—iblislah yang membawanya! Terus saya harus bagaimana? Terbang dengan balon untuk menjauhi para kreditor saya? Atau lari lalu menghantamkan tengkorakku ke dinding? Saya pergi ke Gruzdyov bukan untuk pulang ke rumah, melainkan untuk menagih. Yaroshevitch bersembunyi. Dengan Kuritsin aku bertengkar hebat dan hampir melemparkannya keluar jendela. Mazutov mendapat serangan empedu, dan yang ini punya pikiran! Tak seorang pun dari mereka membayarku! Dan semua itu karena saya terlalu baik kepada mereka—karena saya dianggap bakmi, kain lap, dan wanita tua! Aku terlalu lembut terhadap mereka. Tapi tunggu sebentar! Saya akan menunjukkan kepada Anda apa yang bisa saya lakukan. Saya tidak akan membiarkan mereka membodohiku. Catat itu! Saya akan tinggal dan bertahan di sini sampai dia membayar. Huh! Hari ini memang menjengkelkan! Saya sangat marah sampai-sampai tubuhku bergetar dan saya sulit bernapas.... Huh! Tunggu dulu, aku beneran sakit! [Teriak] Halo!

 

[LUKAS masuk.]

 

LUKAS: Apa yang Anda inginkan?

 

SMIRNOV: Saya butuh minuman kvass atau air putih.

 

[LUKAS keluar.]

 

SMIRNOV. Ya, masuk akal! Seorang laki-laki sangat membutuhkan uang—kalau tidak dapat, ya tidak ada cara lain selain gantung diri—dan istrinya tidak mau membayar karena, jika Anda berkenan, ia tidak mampu mengurus keuangan! … Logika pengguna rok yang khas! Itu sebabnya aku tidak pernah suka dan ogah banget berbicara dengan perempuan. Aku lebih suka duduk di atas tong mesiu daripada berbicara dengan seorang perempuan! Huh! Aku seperti daging ayam—makhluk feminin itu sudah membuatku sangat marah! Aku hanya perlu melihat makhluk puitis seperti itu di kejauhan hingga kakiku mulai bergerak-gerak karena marah. Aku ingin berteriak, “Tolong!”

 

[LUKAS masuk dan membawakannya air.]

 

LUKAS: Majikan saya sedang tidak enak badan dan tidak mau menerima tamu.

 

SMIRNOV: Enyahlah!

 

[LUKAS keluar.]

 

SMIRNOV: Tidak sehat dan tidak ingin bertemu! Bagus sekali, Anda tidak perlu.... Saya akan tetap di sini dan duduk sampai Anda membayar saya. Jika Anda sakit selama seminggu, saya akan tinggal di sini selama seminggu. Jika Anda sakit selama setahun, saya akan menunggu selama satu tahun.... Saya harus mendapatkan hakku, wahai perempuan terhormat! Anda tidak akan menyentuhku dengan duka dan lesung pipi Anda. Kita semua tahu tentang lesung pipi itu! [Berteriak ke luar jendela] Semyon! Masukkan kudanya. Kita tidak boleh langsung pergi. Saya tinggal di sini. Suruh mereka memberi pakan gandum di kandang. Kau membiarkan kuda pelacak kiri mengambil alih kendali lagi. Itu tidak sopan! [Meniru] Ba—ba—baiklah. Saya akan menunjukkan kepada Anda apakah semuanya baik-baik saja! [menjauhi jendela]. Cara pengamata yang buruk! Panasnya sudah tak tertahankan lagi; tidak ada yang mau membayar. Saya mengalami malam yang buruk, dan sekarang perempuan yang berduka ini memenuhi pikiranku! … Aku sakit kepala… Haruskah aku minum vodka? Sepertinya begitu. [Berteriak] Hai yang di dalam sana!

 

[LUKAS masuk.]

 

LUKAS: Ada apa?

 

SMIRNOV. Bawakan aku segelas vodka. [LUKA keluar]. Aduh! [duduk dan memeriksa diri]. Harus saya katakan kalau saya terlihat mencolok! Dipenuhi debu, sepatu bot berlumpur, buluk, tidak disisir, dan topi jeramiku tercantol di pinggang! Perempuan itu mengira kalau saya perampok, menurut saya [menguap]…. Itu tidak sopan sudah masuk ke ruang tamu dengan penampilan seperti ini—tapi kan itu bisa dimaklumi. Saya bukan pengunjung—saya seorang kreditur dan tidak ada peraturan yang mengatur kreditur.

sds

[Masuklah LUKAS.]

 

LUKAS [memberi SMIRNOV vodka]: Jangan sungkan, pak.

 

SMIRNOV [dengan marah]: Apa?

 

LUKAS: Tidak apa-apa. Sa-sa-saya hanya….

 

SMIRNOV: Kau bicara sama siapa? Diam!

 

LUKAS: [berbicara kepada audiens] Nah, inilah sebuah penderitaan! Angin buruk membawanya. [keluar].

 

SMIRNOV: Ah, saya murka! Rasa-rasanya ingin menghancurkan dunia ini menjadi debu…. Aku merasa sangat murka…. [Teriak] Halo!

 

[NYONYA POPOV datang dengan menunduk].

 

NYONYA POPOV: Pak, dalam kesendirian ini, saya sudah tidak terbiasa dengan suara manusia dan tidak tahan mendengar teriakan. Saya mohon dengan sangat agar tidak mengganggu kedamaian saya.

 

SMIRNOV: Kembalikan uangnya dan saya akan pergi.

 

NYONYA POPOV: Saya sudah mengatakan dalam bahasa Rusia yang sederhana bahwa saat ini saya tidak punya uang. Tunggu sampai lusa.

 

SMIRNOV: Saya juga mendapat kehormatan untuk memberi tahu Anda, dalam bahasa Rusia yang sederhana, bahwa saya membutuhkan uang itu hari ini, bukan lusa. Jika Anda tidak membayarkannya, bisa-bisa saya gantung diri besok.

 

NYONYA POPOV: Tapi kalau saya tidak punya uang bagaimana? Aneh!

 

SMIRNOV: Terus Anda tidak mau membayar?

 

NYONYA POPOV: Ya mau bagaimana lagi...

 

SMIRNOV: Kalau begitu, saya akan tinggal di sini dan terus tinggal di sini sampai saya mendapatkan uang itu [duduk]. Anda akan membayarkannya lusa! Bagus! Saya akan duduk di sini sampai lusa. Saya akan duduk di sini seperti ini… [melompat]. Saya ingin bertanya kepada Anda apakah saya harus membayar bunga saya besok atau tidak? Memangnya saya bercanda?

 

NYONYA POPOV: Pak, saya mohon jangan teriak! Tidak sabar betul.

 

SMIRNOV: Saya tidak meminta Anda untuk bersabar. Saya ingin bertanya apakah saya harus membayar bunga saya besok atau tidak?

NYONYA POPOV: Sepertinya Anda tidak tahu bagaimana harus bersikap terhadap seorang perempuan.

SMIRNOV: Tentu saja punya.

NYONYA POPOV: Tidak! Anda orang yang kasar dan tidak sopan. Orang baik tidak berbicara seperti itu kepada wanita.

SMIRNOV: Oh, luar biasa! Memangnya saya harus menggunakan bahasa apa? Bahasa Prancis atau apa? [Menjadi marah dan berbicara dengan cadel] Madame, je vous prie, betapa bahagianya saya karena Anda tidak membayar utang. Ah, maaf sudah merepotkanmu! Hari ini indah, bukan? Dan duka ini betapa cocoknya untuk Anda! [membuat tanda salib].

NYONYA POPOV: Tidak lucu dan kasar!

SMIRNOV [meniru NYONYA POPOV]: Kasar dan bodoh! Saya tidak tahu harus bersikap seperti apa dengan perempuan! Madam, dibandingkan jumlah burung pipit yang Anda lihat, sepanjang hidup ini saya sudah sering melihat banyak perempuan. Saya sudah pernah bertarung tiga kali untuk memperebutkan perempuan. Saya pernah meninggalkan dua belas perempuan dan sembilan kali saya ditinggalkan. Ya! Ada suatu masa ketika saya berpura-pura bodoh—saat itu saya dipenuhi rasa sentimen dan sayang, bersikap sopan, semua membungkuk dan mencakar.... Saya mencintai sekaligus menderita, mendesah pada bulan, dipenuh sensasi juga kegembiraan.... Cinta saya penuh gairah, sekaligus kalut, dan membuat saya bingung!—berceloteh seperti burung murai tentang hak-hak perempuan, menghabiskan separuh kekayaan untuk gairah yang lembut; tapi sekarang—tidak, terima kasih! Anda tidak akan bisa mendekati saya. Saya sudah cukup. Mata hitam, mata penuh cinta, bibir merah tua, lesung pipi, bersinar seperti bulan, bisikan, napas malu-malu—saya tidak akan memberikan uang sepeser pun untuk semua itu, Madam! Tentu saja, semua perempuan, tua dan muda, tidak termasuk dalam kelompok yang ada saat ini, mereka terpengaruh, suka berbasa-basi, suka bergosip, pendendam, pembohong sampai ke sumsum tulangnya, berbuat sepele, picik, tidak kenal belas kasihan; logika mereka paling menjijikkan, dan mengenai jawatan ini [menampar dahi dirinya sendiri]— maaf atas keterusterangan saya—seekor burung gereja dapat memberikan poin kepada filsuf mana pun yang mengenakan rok dalam! Kita melihat makhluk puitis, semuanya dalam balutan kain muslin: makhluk halus, dewi, sejuta pesona. Tapi jika kita mengintip ke dalam jiwanya, ia adalah buaya pada umumnya! [memegang sandaran kursi; kursinya retak dan pecah]. Namun, yang paling menjijikkan adalah buaya ini; entah kenapa, membayangkan bahwa chef-d’Å“uvre-nya, monopoli, dan hak istimewanya hanyalah hasrat yang rapuh! Tapi, sialnya, bawalah saya, Anda boleh menggantungku di paku ini, dengan kepala tertunduk, jika seorang wanita mampu mencintai siapa pun kecuali seekor anjing manja! Dalam cinta, yang bisa ia lakukan hanyalah terus merengek. Sementara seorang laki-laki menderita dan berkorban, semua cintanya diekspresikan dengan mengikuti roknya dan berusaha memeluk laki-laki itu erat-erat. Anda bernasib sial menjadi seorang perempuan, sehingga Anda mengetahui sifat wanita dari pengalaman Anda sendiri. Katakan sejujurnya, pernahkah Anda melihat wanita yang tulus, jujur, dan teguh? Tentu saja belum! Tak ada seorang pun yang jujur, kecuali seorang perempuan yang benar-benar merasa demikian. Lebih mudah menemukan kucing bertanduk atau burung berkik putih daripada perempuan yang diterus dipenuhi cinta!

NYONYA POPOV: Izinkan saya bertanya. Menurutmu, siapakah yang sejati dan konstan dalam cinta? Tentu saja bukan laki-laki!

SMIRNOV: Ya. Tentu saja laki-laki.

NYONYA POPOV: Laki-laki! [tertawa]. Laki-laki itu sejati dan setia dalam cinta! Harus saya akui bahwa itu adalah hal baru. [Meradang] Apa hakmu untuk berkata seperti itu? Laki-laki itu sejati dan setia dalam cinta! Jika itu yang terjadi, aku akan memberitahumu bahwa dari semua laki-laki yang kukenal, atau yang pernah kukenal, yang terbaik adalah mendiang suamiku.... Aku mencintainya dengan sepenuh hati, dengan segenap keberadaanku, yang tidak dapat dicintai oleh siapa pun kecuali seorang perempuan muda yang berpikiran spiritual; aku memberinya masa mudaku, hidupku, kebahagiaanku, dan kekayaanku. Ia adalah napas atas keberadaanku, berhala yang kusembah seperti orang kafir, dan—tapi di setiap langkahnya orang-orang kelas atas itu menipuku dengan cara yang paling tidak tahu malu! Setelah kematiannya, saya menemukan surat cinta yang memenuhi laci mejanya, dan ketika ia masih hidup—sangat sedih untuk mengingatnya!—ia meninggalkan saya sendirian selama berminggu-minggu. Di depan mataku ia bercinta dengan wanita lain dan menipuku, menyia-nyiakan uangku, mengejek perasaanku.... Dan terlepas dari semua itu, aku mencintainya dan setia padanya.... Tidak hanya itu, aku masih mencintainya dan setia kepadanya. Aku telah mengubur diriku di dalam kamar untuk selamanya, dan aku tidak akan menanggalkan duka ini selama hidupku.

 

SMIRNOV [tertawa menghina]. Duka! Saya tidak mengerti mengapa Anda menerima saya. Sepertinya saya tidak paham mengapa Anda mengenakan pakaian serba hitam dan mengurung diri di kamar! Menurutku begitu! Ini sangat misterius sekaligus romantis! Jika ada letnan muda atau penyair yang belum berpengalaman melewati tanah Anda ini, ia akan menengok ke jendela dan berpikir, “Di sinilah hidup Tamara yang misterius; saking cintanya kepada suaminya, ia mengurung diri di ruang ini.” Saya tahu semua trik seperti itu.

 

NYONYA POPOV [wajahnya memerah padam]: Apa? Beraninya kau berkata seperti itu padaku!

 

SMIRNOV: Anda telah mengubur diri hidup-hidup, tetapi Anda tidak lupa membubuhkan bedak di wajah!

 

NYONYA POPOV: Lancang sekali kau berkata seperti itu padaku!

 

SMIRNOV: Tolong jangan membentak saya—saya bukan pembantu Anda! Biarkan saya bicara blak-blakan. Saya bukan perempuan dan saya terbiasa mengatakan apa yang saya piker itu jelas. Jadi, tolong jangan teriak.

 

NYONYA POPOV: Kok malah saya? Yang teriak itu kau. Pergilah!

SMIRNOV: Saya akan pergi kalau hutang saya dibayar.

NYONYA POPOV: Aku tidak akan memberimu uang.

SMIRNOV: Harus. Anda harus membayarnya!

NONYA POPOV: Meskipun kau kesal, aku tidak akan memberimu sepeser pun! Sebaiknya pergi dari sini baik-baik.

SMIRNOV: Saya tidak bernapsu untuk menikahimu atau berhubungan denganmu. Tolong jangan berisik [duduk]. Saya tidak menyukainya.

NYONYA POPOV [terengah-engah dan marah]: Kenapa kau duduk?

SMIRVON: Tentu saja.

NYONYA POPOV: Aku minta kau enyah dari sini.

SMIRNOV: Bayar hutangnya! [Berbicara kepada penonton] Saya sangat marah!

NYONYA POPOV: Saya tidak mau meladeni orang bejat seperti Anda. Minggat sana! [jeda]. Kau tidak mau pergi?

SMIRNOV: Iya.

NYONYA POPOV: Tidak?

SMIRNOV: Iya.

NYONYA POPOV: Okelah kalau begitu [bel berdering].

[LUKA masuk]

 

NYONYA POPOV: Lukas, usir orang ini.

 

LUKAS [mendekati SMIRNOV]: Pak, pergilah. Kan Madam sudah meminta. Tidak ada gunanya berada di sini—

SMIRNOV [melompat]: Diam! Memangnya kau bicara dengan siapa? Mau jadi daging cincang kau!

LUKAS [sembari memegang dadanya]: Ya Allah! [menjatuhkan diri ke kursi] Oh, sakit-sakit. Sakit sekali. Saya sesak!

NYONYA POPOV: Mana Dascha? Dasha! [teriak] Dasha! Palageya! Dasha! [membunyikan bel]

LUKAS: Ah! Mereka memetik stroberi. Tak ada orang lain di rumah ini. Saya sakit! Air!

NYONYA POPOV: Enyahlah dari sini.

SMIRNOV: Tolong ya sopan sedikit!

NYONYA POPOV [mengepalkan tangan dan menghentakkan kaki]: Dasar kasar! Beruang bengis! Pengganggu! Monster!

SMIRNOV: Apa? Anda bilang apa?

NYONYA POPOV: Aku bilang kau itu beruang—monster!!

SMIRNOV [mendekati NYONYA POPOV]: Maaf. Apa hak Anda menghina saya?

NYONYA POPOV: Iya. Aku memang menghinamu. Memangnya kenapa? Memangnya kau pikir aku takut padamu?

SMIRNOV: Dan apakah karena Anda adalah makhluk puitis, Anda berhak menghina orang lain dan terbebas dari hukum? Memangnya iya? Saya menantang Anda!

 

LUKAS: Ya, Tuhan. Ya, Rob! Air!

 

SMIRNOV: Sediakan bedil!

 

NYONYA POPOV: Kalau tinjumu kuat dan bisa melolong seperti banteng, memangnya aku takut padamu? Pengganggu!

 

SMIRNOV: Saya menantang Anda! Tak ada seorang pun yang boleh menghina saya. Bahkan seorang perempuan sekalipun. Dasar makhluk lemah!

 

NYONYA POPOV [mencemooh]: Dasar beruang! Beruang! Beruang!

 

SMIRNOV: Sudah waktunya untuk meninggalkan prasangka bahwa hanya laki-laki yang harus menanggung akibat penghinaan. Jika harus ada kesetaraan, biarlah terjadi. Persetan semuanya! Saya menantang Anda!

 

NYONYA POPOV: Kau mau duel? Siapa takut!

 

SMIRNOV: Ayo sekarang juga!

 

NYONYA POPOV: Ayo sekarang juga! Suamiku punya bedil.... Aku akan segera mengambilnya [keluar, lalu buru-buru kembali]… Betapa senangnya aku bisa menembakkan peluru ke kepalamu yang kurang ajar itu! Sial kau! [keluar].

 

SMIRNOV: Saya akan menembaknya seperti ayam! Saya bukan bocah, juga bukan anak anjing sentimentil—feminin lemah dan tidak ada artinya bagi saya.

 

LUKAS: Tuan yang baik [berlutut], mohon ampun, kasihanilah orang tua ini! Pergilah! Anda membuat saya takut setengah mati dan sekarang Anda akan bertarung!

 

SMIRNOV [tidak mengindahkan]: Bertarung! Itu adalah kesetaraan dan emansipasi! Duel membuat kedua jenis kelamin setara! Saya akan menembaknya berdasarkan prinsip. Tapi perempuan memang luar biasa! [Meniru NYONYA POPOV] “Sialan kau! Menembak kepalamu yang kurang ajar itu!” ... Perempuan yang luar biasa! Pipinya merona, matanya berbinar.... Dia menerima tantangan itu! Terhormat betul. Saya belum pernah melihat orang seperti dia dalam hidup saya! ...

 

LUKAS: Tuan yang baik, pergilah! Saya akan mengingat dan mendoakan Anda!

 

SMIRNOV: Dia bukan seperti perempuan pada umumnya! Saya suka itu! Seorang perempuan sejati! Tidak sentimental, tapi seperti api, bubuk mesiu, dan kembang api! Saya menyesal akan membunuhnya.

 

LUKA [menangis]: Tuan yang baik, pergilah!

 

SMIRNOV: Saya sangat menyukainya. Benar-benar menyukainya! Meski punya lesung pipi, saya menyukainya! Saya bahkan akan memaafkan hutangnya dan semua amarah saya sirna.... Perempuan yang luar biasa!

 

[NYONYA POPOV masuk dengan membawa dua bedil.]

 

NYONYA POPOV: Ini bedilnya…. Tapi sebelum kita mulai duel, tunjukkan padaku cara menembak… Selama hidup, aku tidak pernah memegang bedil.

 

LUKAS: Ya, Gusti, selamatkan dan maafkan kami! Saya akan pergi mencari tukang kebun dan kusir. Kenapa masalah ini menimpa kami? [keluar].

 

SMIRNOV [memeriksa bedil]: Soalnya, ada beberapa jenis bedil.... Ada bedil khusus duel, pola Mortimer, dengan kapsul.... Tapi milik Anda adalah buatan Smith & Wesson, aksi tripel dengan ekstraktor.... Ini bedil yang bagus. Kira-kira harganya sembilan puluh rubel.... Anda harus memegangnya seperti ini. [Berbicara kepada penonton] Matanya luar biasa! Mata apa! Perempuan yang menggairahkan!

 

NYONYA POPOV: Begini?

 

SMIRNOV: Iya, seperti itu…. Lalu Anda angkat kokangnya… membidiknya seperti ini.... Miringkan kepala Anda sedikit ke belakang! … Rentangkan lengan Anda sepanjang-panjangnya—itu saja.... Lalu tekan benda kecil itu dengan jari ini—cukup. Aturannya adalah jangan terlalu bersemangat, tetapi membidik dengan tenang. Kendalikan tangan Anda dan jangan gemetar.

 

NYONYA POPOV: Baiklah. Tidak nyaman duel di dalam ruangan; ayo kita pergi ke taman.

 

SMIRNOV: Ayo. Sebelum duel, saya akan menembak ke udara sebagai aba-aba peringatan.

 

NYONYA POPOV: Ini duel terakhir! Kenapa?

 

SMIRNOV: Karena … karena … itu urusan saya.

 

NYONYA POPOV: Kau menembak, kan? Loh, loh! Tidak, tuan, jangan menggeliang-geliut! Ikuti aku. Aku tidak akan puas sampai berhasil menembak kepalamu—kepala yang sangat kubenci itu! Kau menembak, kan?

 

SMIRNOV: Tentu saja.

 

NYONYA: Bohong. Kenapa kau berhenti melawan?

 

SMIRNOV: Karena … karena … aku menyukaimu.

 

NYONYA POPOV [dengan tawa jahat]: Dia menyukaiku! Berani-beraninya ia mengatakan bahwa ia menyukaiku! [Menunjuk ke pintu] Kamu pergi!

 

SMIRNOV [diam dan meletakkan bedilnya, mengambil topinya lalu pergi; ia berhenti di dekat pintu. Mereka saling memandang dan diam selama setengah menit, lalu berjalan dengan ragu menuju MADAME POPOV]. Apakah kau masih marah? Aku juga sangat marah, tapi tahukah kamu—bagaimana aku harus mengatakannya? Faktanya, kau tahu—bisa dikatakan seperti ini. [Teriak] Ya, bukan salahku kalau aku menyukaimu! [Mencengkeram bagian belakang kursi; kursinya retak dan pecah] Sial, betapa rapuhnya furnitur yang kau punya! Aku menyukaimu. Paham? Aku—sedikit lagi jatuh cinta.

 

NYONYA POPOV: Enyahlah. Aku benci kau!

 

SMIRNOV: Wah, luar biasa perempuan ini! Aku tidak pernah melihat perempuan seperti dia. Aku tersesat! Aku sudah selesai! Aku seperti tikus yang terperangkap!

 

NYONYA POPOV: Enyahlah atau aku tembak.

 

SMIRNOV: Tembak saja! Kau tak dapat membayangkan betapa nikmatnya mati di depan mata yang indah itu—tertembak oleh bedil yang dipegang oleh tangan kecil yang lembut itu! … Aku sudah gila! Pikirkan dan putuskan segera, karena jika aku pergi dari sini, kita tidak akan pernah bertemu lagi. Putuskan! … Aku berasal dari keluarga baik-baik, aku laki-laki terhormat, dan memiliki sepuluh ribu rubel dalam setahun… Aku mampu menembak koin setengah sen yang dilempar ke udara… Aku memiliki kuda kelas satu. … Maukah kau menjadi istriku?

 

NYONYA POPOV: [marah, mengacungkan bedil]. Duel! Ayo bertarung!

 

SMIRNOV: Aku sudah gila. Aku tidak mengerti. [Berteriak] Hai! Air!

 

MADAME POPOV [berteriak]: Aku menantangmu!

 

SMIRNOV: Aku sudah gila. Aku seperti remaja yang jatuh cinta—seperti orang bodoh! [Merebut tangan NYONYA POPOV; NYONYA POPOV menjerit kesakitan] Aku cinta kau! [Berlutut] Aku mencintaimu seperti aku belum pernah mencintai! Aku sudah mencampakkan dua belas perempuan, sembilan sudah mencampakkanku, tapi aku tidak pernah mencintai satu pun di antara mereka seperti aku mencintaimu.... Aku menjadi cengeng; seluruh tubuhku terasa lemas. Aku menjadi bubur! Di sini aku berlutut seperti orang bodoh dan mengulurkan tanganku kepadamu! … Sayang sekali, memalukan! Aku belum jatuh cinta selama lima tahun belakangan ini. Aku bersumpah tidak akan melakukan kesalahan, karena aku benar-benar terpesona padamu! Aku mengulurkan tanganku padamu. Ya atau tidak? Apakah kamu tidak akan memilikinya? Baiklah, tidak perlu! [bangkit dan segera pergi ke pintu]

 

NYONYA POPOV: Berhenti!

 

SMIRNOV [Berhenti]: Bagaimana?

 

NYONYA POPOV. Tidak—pergilah! Tapi tetaplah di sini—tidak, pergi, enyahlah! Aku membencimu! Oh, tidak—jangan pergi! Oh, andai kau tahu betapa marahnya aku! [Melempar bedil revolver ke atas meja] Jariku mati rasa karena benda mengerikan itu. [Merobek saputangannya dengan marah] Kenapa kau masih berdiri di sana? Pergilah!

 

SMIRNOV: Selamat tinggal!

 

NYONYA POPOV: Ya, ya, pergilah! [Teriak.] Mau ke mana kau? Tinggallah—tapi kau boleh pergi. Oh, betapa murkanya perasaanku! Jangan mendekat padaku! Jauh-jauhlah!

 

SMIRNOV [Mendekati NYONYA POPOV]: Aku kesal sendiri! Aku jatuh cinta seperti remaja. Aku berlutut—aku merasa kedinginan.... [Kasar] Aku mencintaimu! Sepertinya aku jatuh cinta padamu! Besok aku harus membayar bungaku. Pembuatan jerami sudah dimulai, dan sekarang kaulah yang mengatasi semuanya.... [Meletakkan lengannya di pinggang NYONYA POPOV] Masalah ini aku tidak akan pernah memaafkan diriku!

 

NYONYA POPOV: Pergilah. Singkirkan tanganmu! Aku benci kau! Aku menan—menantangmu! [Ciuman panjang.]

 

[LUKAS masuk dengan membawa kapak, tukang kebun dengan garunya, kusir dengan garpunya, dan buruh dengan galahnya.]

 

LUKAS [melihat pasangan itu saling memeluk.] Ya, Gusti!

 

[Jeda.]

 

MADAME POPOV [menundukkan mata]. Luka, beri tahu mereka untuk tidak memberi Toby gandum hari ini.

 

TIRAI.

 

______

Penulis


Anton Pavlovich Chekhov adalah penulis drama dan cerpen Rusia. Drama di atas diterjemahkan oleh Eka Ugi Sutikno dari versi Inggris oleh Constance Garnett, dari buku Five Comic One-Act Plays karya Anton Chekhov.

 


Terimakasih telah berkomentar!