Oleh Kabut
Yang tinggal di kota biasanya mendambakan punya pekarangan. Namun, mereka paham bila harga tanah sangat mahal. Berdirinya rumah saja memerlukan ongkos yang banyak. Maka, tanah yang sempit mendingan digunakan untuk bangunan. Gagasan adanya pekarangan berada dalam imajinasi saja. Pekarangan masih ditemui di kota-kota asal yang punya rumah itu kaya. Ia hidup di tanah yang luas. Rumah dibuat megah. Ada pekarangan yang menjadikan rumah itu bertambah indah oleh tanaman, patung, kolam, dan lain-lain.
Di desa, kita belum terlalu kesulitan menemukan rumah-rumah yang memiliki pekarangan. Sejak mula, pembuatan rumah memang ditentukan keselarasan. Artinya, rumah tidak sekadar rumah. Di sekitar rumah, orang-orang masih bisa memelihara tanaman dan binatang. Pekarangan condong dimengerti orang-orang desa, yang lahan-lahannya belum diserbu oleh para pengusaha mata duitan, yang menganggap kebun atau lahan kosong disulap menjadi perumahan.
Pada masa kekuasaan Soekarno dan Soeharto, pekarangan menjadi tema yang masuk dalam pidato atau terjelaskan melalui para menteri dan pejabat. Para penguasa sangat serius memikirkan nasib rakyat. Kebutuhan papan memang harus diwujudkan agar Indonesia tidak selalu dicap negara miskin. Yang tidak boleh diabaikan adalah kehidupan rakyat yang tidak menghuni rumah sempit dan kumuh. Rakyat berhak hidup di rumah yang ada pekarangannya. Di situ, mereka berusaha menjadi manusia yang berfaedah. Apa yang dimaksud berfaedah?
Kita membaca buku cerita anak yang berjudul Pekarangan Rumahku (1983) yang ditulis oleh Trim Sutidja. Gambar-gambar dibuat oleh Mulaydi W. Buku tipis diterbitkan Bunda Karya, Jakarta. Buku yang menjelaskan pekarangan ketimbang mengisahkan pekarangan. Pada awalnya, yang membaca menganggap itu cerita untuk anak-anak. Pembaca yang teliti dan menjaga kewarasan lekas sadar, yang dibacanya adalah buku penjelasan mirip ensiklopedi.
Buku dijadikan bacaan bagi anak-anak yang masih belajar di SD. Pada masa 1980-an, bacaan itu belum terlalu bermasalah. Indonesia belum sumpek. Bayangan tentang desa masih indah. Kota-kota belum terkutuk. Yang pasti, desa-desa menjadi referensi penting dalam perwujudan impian Indonesia yang sejahtera dan makmur. Namun, yang dimanjakan adalah kota. Pada persaingan peran, kita mengingat pekarangan.
Di halaman-halaman awal, kita seolah membaca cerita. Trim Sutidja menulis: “Rumahku di desa, jauh dari kota. Desa subur, penduduknya pun makmur. Desaku terletak di daerah ngarai. Di sebelahh utara nan jauh di sana, berdiri tegak Gunung Sumbing. Seakan-akan melindungi kami di lembah ini, dari gangguan kejahatan dan angkara murka.” Yang terbaca memang paragraf-paragraf yang niatnya bercerita. Ajakan menyatakan itu cerita ditambah gambar-gambar yang sederhan tapi mengesankan. Menit-menit awal, yang terbaca masih dimengerti cerita.
Yang disajikan adalah keluarga yang menghuni rumah sederhana tapi pekarangannya luas. Di situ, ditulis setengah hektar. Pembaca mulai berimajinasi pekarangan dan rumah, termasuk penghuni rumah (keluarga). Trim Sutidja menampilkan keluarga yang bahagia. Keluarga yang wajib menjadi contoh di Indonesia. Keluarga produktif, bukan keluarga konsumtif. Yang sangat menentukan adalah pekarangan.
Indonesia akan bahagia dan selamat bila memiliki pembuktian atas keluarga yang diceritakan atau dijelaskan Trim Sutidja. Yang terbaca: “Di pekarangan rumahku banyak tumbuh pohon-pohon. Bermacam-macam tumbuhan sengaja ditanam ayah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Kata ayah, di pekarangan rumahku terdapat bank hidup, apotik hidup, warung hidup, dan toko bahan bangunan hidup. Semua itu terdapat di pekarangan rumahku. Sejak halaman itu pembaca tersadarkan sedang membaca buku penuh penjesalan. Anggaplah ensiklopedi yang menyamar. Namun, pekarangan sebagai tema sangat berkebalikan dengan berita-berita buruk di Indonesia mengenai permukiman dan flora-fauna.
Pembaca belajar tentang beragam sebutan. Bank hidup adalah bermacam tanaman yang menghasilkan bahan perdagangan. Apotik hidup adalah tanaman-tanaman yang bisa digunakan untuk obat atau kepentingan kesehatan. Warung hidup berarti tanaman-tanaman digunakan untuk keperluan dapur sehari-hari. Selanjutnya, toko bahan bangunan hidup. Pohon-pohon di pekarangan bisa digunakan untuk membangun atau memperbaiki rumah. Keluarga itu diceritakan berhasil mengelola pekarangan. Sosok yang terpenting adalah ayah. Pekarangan menggagalkan mereka menjadi konsumtif. Soeharto bila mengetahuinya pasti bangga, yang akibatnya memberikan penghargaan agar dicontoh ribuan keluarga di seantero Indonesia.
Apakah pembaca cuma mendapat istilah dan pengertian? Halaman-halaman buku tidak lagi bercerita. Yang terbaca adalah nama-nama tanaman atau pohon. Di situ, ada manfaat yang bermacam-macam. Pekarangan adalah jawaban semua kebutuhan. Keluarga tidak memiliki ketergantungan terhadap pasar dan toko. Pekarangan memberikan banya: tanaman dan binatang.
Maka, halaman-halaman mulai berisi penjelasan, yang membuat pembaca kehilangan semangat gara-gara semula mengiranya cerita. Trim Sutedja menulis: “Di belakang rumahku, sebelah kamar mandi, tumbuh pohon belimbing. Buahnya besar-besar, berwarna kuning. Ayah menanam mangga golek dan manalagi. Buah mangga golek besar-besar. Bentuknya agak panjang, hampir menyerupai buah pepaya. Untuk membuat rujak, buah mangga mentah manalagi lebih enak.” Pembaca diajak belajar lagi nama-nama tanaman, yang berbeda-beda manfaatnya. Mulailah terbukti yang dibaca adalah sejenis ensiklopedi tumbuhan atau pohon, yang dilengkapi masalah binatang.
Trim Sutidja merasa tidak bersalah bila tidak bercerita. Ia meyakini yang ditulisnya sangat penting dalam kepentingan menyelamatkan Indonesia, yang mulai kehilangan pekarangan. Pada awalnya, pekarangan itu tumbuhan. Lantas, Tri Sutidja menulis: “Aku juga memelihara ayam. Induknya tiga ekor, yang jantan seekor, dan anaknya ada dua belas ekor.” Apakah cukup ayam? Selanjutnya: “Kami juga memelihara kerbau. Tetapi, kerbau kami pelihara bukan untuk dipotong. Melainkan untuk membantu ayah mengerjakan sawah.” Apa lagi? Yang membaca mengetahui keluarga itu memiliki kolam dengan beragam ikan.
Keluarga yang teladan. Bapak, ibu, dan anak memiliki banyak kesibukan setiap hari. Pemicunya adalah pekarangan. Yang mengherankan adalah kesaktian bapak dan caranya membagi waktu. Ia masih mengurusi sawah. Pekarangan berisi macam-macam tanaman dan hewan peliharaan. Yang berimajinasi malah kelelahan mengetahui kehidupan sehari-hari. Pekarangan itu pasti membutuhkan perawatan, yang menyita waktu dan tenaga. Pembaca jangan berpikiran itu mustahil.
Di halaman terakhir buku, pembaca yang hidup di kota, menghuni rumah sempit tanpa pekarangan dipastikan iri. Yang ditulis Trim Sutidja: “Itulah pekarangan rumahku. Segala kebutuhan keluargaku hampir semuanya terdapat di situ. Tempat yang sangat teduh karena penuh ditumbuhi dengan pepohonan…. Aku sangat mencintai rumah dan pekarangan. Karena di situ aku dilahirkan dan dibesarkan oleh kedua orang tuaku…” Anak itu mendapat banyak pelajaran di pekarangan, yang tidak semuanya diajarkan di sekolah.
____
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!