Sunday, July 5, 2026

Cerpen Sucipte Jamuhur | Rapat Keluarga

Cerpen Sucipte Jamuhur 


Sudah menjadi impian Tar sejak dulu. Berada di tengah-tengah sanak famili. Sebagai keluarga yang tak pernah utuh, mungkin hal inilah yang dibutuhkan. Sangat harus di lakukan, manakala semua anggota pulang kampung dari rantau. Kebetulan pula tidak ada aral melintang. Nah, di sanalah semua anggota keluarga bertemu, entah karena hari raya idul fitri atau memang takdir malang yang mempertemukan mereka_saat pemakaman Amaq.

“Kamu tau hewan apa yang terkuat?” Tanya Tar ke istrinya.

“Pastilah gajah.” Jawab Iwet cepat.

“Salah! Gajah tidak mampu mengangkat beban sepuluh kali lipat dari badannya.”

“Menyesal kujawab.” Iwet kesal sembari menerawang jawaban sebenarnya, sampai ia bosan memeras isi kepalanya untuk berpikir.

Perempuan memang malas menggunakan otaknya. Lebih suka menggunakan perasaan, pikir Tar. Pertanyaan tiba-tiba itu membuat mereka bertengkar kecil. Tidak biasanya ia membangun obrolan dengan cara seprti itu. Ia biasanya mengeluhkan beberapa hal yang tidak ia suka ke istrinya. Seperti biasa, dengan tangkas istrinya malah menyalahkan Tar. Istrinya sejak dulu sering mengulang-ulang sabdanya: leleki cerewet, semua serba dikerjakan, diurusi, dibenahi, diluruskan, ditanggapi, dan lainnya. Laki-laki tidak boleh banyak bicara, yang berbicara itu tindakannya.

“Yang banyak bicara itu perempuan. Di rapat keluarga nanti, kamu harus sering menge-rem. Semua berhak berbicara.” Lanjut Iwet tak mau kalah.

“Lebih baik kamu diam, kumbang tahi!” Cegat Tar.

“Astaga! Jadi menurutmu, aku ini kumbang tahi?” Iwet keberatan dan tak sabar buat bertengkar.

“Iya, itu jawabannya. Hewan terkuat itu kamu. Kamu mampu mengangkat beban sepuluh kali berat badanmu.”

“Maumu apa sebenarnya?”

“Aku bangga punya istri kuat, sayang.” Goda Tar.

Perasaan Iwet campur aduk antara tersanjung atau hendak melepaskan marah yang tertahan. Ia lalu memalingkan wajah dan serta merta terlihat tegang. Sehingga Tar menjawil lembut pipi Iwet yang kembali cerah menahan senyum.

Mobil mereka hampir sampai di batas desa. Kedua anaknya, Bagas dan Feri masih tertidur sebab kelelahan bermain. Sedari berangkat kemarin banyak makan dan bermain. Mereka sudah tidak sabar bermain lumpur di sawah Papuq.

Tahun kemarin, mereka membantu Kakek-nya menanam padi. Bermain di sawah adalah pengalaman yang tidak pernah mereka dapatkan di kota besar. Terlebih sudah ada sepupunya yang juga sesama laki-laki seumuran dan tinggal di rumah Papuq. Mereka semakin antusias. Karena ada teman mereka bermain layangan atau berkubang lumpur di sawah.

Tar juga senang, ada yang bisa mengelola sawah sepeninggal Amaq. Ang kakaknya ada sudah hampir satu tahun lebih menemani Amaq dan Inaq. Ang memutuskan tinggal di kampung setelah lama merantau di Jawa. Bangkrut parah memaksanya menjalani hidup di kampung.

Semenjak menikah delapan tahun lalu, Ang tidak pernah sekalipun pulang. Hanya berkabar melalui telpon. Tar juga senang bisa mempertemukan Bagas dan Feri dengan anak-anak Ang. Juga anak-anak dari kedua adiknya Isne dan Nurme.

Meski tinggal di Kota yang hanya sejarak satu jam perjalanan. Kedua adik perempuan Tar juga tak berat pulang kampung. Berikut suami dan anak-anaknya. Untuk itulah, Tar merasa harus ikut serta pulang kampung memenuhi impian Amaq semasa hidup, menggelar rapat keluarga. Ia ingin seperti orang lain dalam bersaudara: mengobrol banyak, bertukar pikiran, tertawa-tawa, berbagi cerita, makan bersama. Seperti keluarga besar pada umumnya.

Jika saja Amaq tidak meninggal sembilan puluh sembilan hari lalu. Mereka tidak akan bisa bersua. Titah Amaq semasa hidup agar urun rembuk dalam satu suasana, tidak pernah terlaksana.

Amaq sebagaimana orang tua lainnya, selalu berbesar harapan, sekiranya ia bisa melihat anak-anaknya berkumpul dalam satu pandang. Ah, waktu memang perkasa memisahkan kelurga. Anak-anak adalah hasil karya yang menjadi penyejuk pandangan. Namun, harapan meliht merek dalam wujud dewasa tak pernah kabul, impian itu di bawanya ke alam tidur abadi. Semasa hidup ia sering menegur masing-masing mereka saat menelpon (sesekali) agar menyempatkan diri pulang dan berkumpul. Meski hanya sekali.

“Mumpung Amaq masih hidup, nak. Meleng mayit-ku (mayat dengan mata terbelalak), kalau permintaan sederhana Amaq ini, tak sanggup kalian penuhi.” Hal itu telah benar-benar terjadi saat beliau nazak dan ruhnya telah pergi, seakan beliau tahu betul ayat maut dalam laku hidup manusia.

Barangkali ucapan yang acap kali Amaq perdengarkan itu menjadi buah penyesalan. Tidak pada Tar saja, juga pada Isne dan Nurme. Terlebih Ang sebagai anak lelaki tertua. Buah bibir itu terbayar kontan. Konon, perbuatan dan perkataan orang yang sudah tua telah dibisikkan malaikat maut. Terlebih seratus hari sebelum meninggalnya.

Istri Ang seperti orang panik dengan persiapan acara doa seratus hari Amaq. Ia tahu Ibu mertuanya tak banyak membantu selain duduk dan berkomentar ini-itu. Meski Inaq telah pikun dan banyak lupa, istri Ang tetap melempar obrolan dan menanggapi arahan Inaq saat masak. Sehingga beberapa orang tetangga berduyun-duyun datang membantunya memasak di halaman samping rumah.

Sedari pagi ia cekatan meracik bumbu dapur dan rela memasak banyak sate pusut kesukaan adik iparnya Tar. Ia tak pedulikan asap kayu bakar memengapkan badannya. Matanya berkali-kali kelilipan abu dan asap tak ia pedulikan. Demi memenuhi harapan Amaq mertua (semasa hidup) dan menjamu keluarga jauh saat rapat keluarga nanti.

Tar dan istrinya begitu menikmati sate pusut buatan iparnya. Sampai-sampai ia tak sadar tusuk sate banyak bereserakan di atas nampan. Acara doa seratus hari telah selesai, beberapa orang tentangga yang hadir telah pulang dan beberapa orang masih duduk mengobrol di berugaq depan.

Disuguhkan banyak makanan membuat Tar lega dan lelahnya selama di perjalanan terbayarkan. Ia merasa layak dijamu seperti itu, meski tak seperti yang ia harapkan. Sejak sampai, ia selalu tertawa oleh tingkah Inaq. Tar cukup terhibur dengan kepikunannya. Ibunya masih percaya_bahkan bersikeras kalau Tar adalah teman kecilnya di Sekolah Dasar dulu.

Tawa yang lama kelamaan menjadi kepedihan. Inaq beberapa kali menyangkal kematian Amaq. Terkadang ia menunjuk Ang sebagai sosok suami. Ang lebih banyak menutup mulut. Mengobrol dengan tamu atau bereramah tamah dengan keluarga yang lain sudah diwakili oleh Tar. Adiknya memang selalu menjadi tumpuan keluarga. Sementara Ang sibuk melakukan banyak hal remeh sejak Tar tiba. Bukan sifatnya yang banyak bicara dan suka mengobrol seperti adiknya.

Sesekali Inaq menangis, sebab Tar terlalu serius menerangkan kejadian sebenarnya. Tar juga sungguh-sungguh menjelaskan bahwa ia adalah anaknya. Juga perihal Amaq-nya (suami kedua Inaq) telah meninggal seratus hari lalu.  Inaq berkilah tak kalah bersikeras, bahwa sosok suaminya masih hidup dan sedang membantu tetangga cuci piring. Di arahkan telunjuknya ke Ang.

Raut muka Tar berubah kesal dan putus asa. Diserahkan Inaq ke istrinya Ang untuk ditemani. Tar lalu beranjak, mengajak beberapa orang yang masih ada di tempat itu, untuk memulai acara inti: rapat keluarga.

“Langsung saja.” Ucap Tar memecah kesunyian.

“Terima kasih telah hadir Ustadz Saepul. Kak Juhari Sarjana Hukum, Tuaq Geli sebagai Kadus, serta adik-adikku : Isne dan Nurme. Juga tak kalah penting Ang, saudara tiri kami.” Ang menunduk tegang dan berkeringat dingin. Bak pesakitan, kedua tangan Ang tersimpul di kempit kedua dengkulnya.

“Sebagai orang beragama, kita tidak bisa menolak keputusan Tuhan. Sebaiknya kita dalam hal ini sepakat dengan hukum agama.” Jelas Tar dan semua terdiam tanda setuju.

“Kita sudah sama tahu, bahwa amaq sudah meninggal seratus hari yang lalu dan ini kewajiban kita membagi warisan. Untuk itu ada rapat keluarga ini. Kita juga tahu bersama bahwa harta benda: sawah dan halaman rumah ini harus di bagi. Kepada siapa? Ya tentu saja kepada kita bereempat: Ang, saya, Isne dan Nurme. Namun, sayangnya. Ang adalah anak tiri dari Bapak kami bertiga, meski kami satu ibu.” Lagi Tar meminta persetujuan dan semuanya terdiam.

“Sebagai saudara tiri, meski paling tua di antara kami. Tapi tindakannya melampaui batas dengan menggadaikan sertifikat sawah dan rumah untuk membayar hutang-hutangnya. Tanpa sepengetahuan saudara yang lain. Ini kejahatan!”. Tar berteriak di kalimat terakhir, semua makin terdiam terutama Ang.

“Harta orang tua kita memang di hasilkan oleh Inaq di luar negeri bertahun-tahun. Tapi ingat. Ini harta gono-gini dari pernikahan Inaq dengan Amaq kami. Bukan dari bapakmu, Ang! Bukan! Meski orang tua setuju kamu cairkan sertifikat hartanya, tapi kamu melupakan kami bertiga. Bukan kamu saja anaknya. Tindakan jahat ini melanggar hukum, terlebih hukum agama, Ang!” Tar membius keadaan dan membuat dirinya satu-satunya yang berbicara.

“Biar kita semua ingat. Bukan kamu saja yang butuh uang, dan berhutang. Aku juga sangat butuh dan harus mengambil warisan bagianku, untuk bayar hutang. Kujelaskan sekali lagi. Harta benda milik orang tua kita, dalam hal ini Inaq. Adalah harta yang beliau dapatkan setelah menikah dengan Amaq kami bertiga : Aku, Isne dan Nurme. Bukan harta yang dihasilkan dari pernikahan Inaq dengan Bapakmu, Ang. Inaq tidak membawa harta apa-apa selain seorang anak. Secara hukum, jatah warisku paling banyak, Isne dan Nurme sedikit karena perempuan.” Semua tetap senyap sebagai tanda pembenaran atas semua perkataan Tar.

“Kamu tau hewan apa yang terkuat?” Tanya Tar tiba-tiba ke istrinya.

Dengan mata basah, dan raut muka ketakutan Iwet menjawab ragu, “kumbang tahi.”

“Salah!” teriak Tar menggebrak meja, Iwet dan beberapa orang terkejut dan semakin menunduk.

“Tar… tardigrada. Itu hewan terkuat di bumi. Dia sanggup tidak makan-minum berbulan-bulan, itupun makannya cuma lumut! Lumut! Hebatnya dia bahkan sanggup hidup di luar angkasa.” Tegas Tar. Beberapa orang bertanya-tanya maksudnya. Kemampuan otak takkan mampu mencerna. Hanya hati dan ingatan yang sanggup memahami maksudnya.

Selama ini Tar merantau di kota besar, bekerja keras agar cekikan lapar bisa mereka tepis. Tar rela kelaparan, hanya makan sayur yang berjatuhan dan terbuang di pasar demi agar kedua orang tuanya, Ang dan kedua adiknya bisa hidup layak di kampung.

Perjalanan pahit itu berlangsung lama, Tar telah membantu keluarganya mengatasi kemiskinan. Setidaknya sebelum Inaq bekerja di luar negeri. Pada akhirnya hidup mereka sedikit lebih baik dan semua bisa menikah. Dengannya Tar mendapat tempat kehormatan, menjadi seseorang yang paling disegani dan perpengaruh dalam keluarga.

Jeda rapat keluarga. Di balik tembok, sembari memegang pundak Ang, Ustadz Saepul mencoba memberikan pandangan supaya Tar diberitahu saja. Sebab inilah waktu yang tepat bagi Tar. Bahwa tidak selayaknya ia menentukan warisan. Sebab anak hasil hubungan tanpa nikah, secara hukum agama tidak berhak menerima warisan sedikitpun.

Bima, Nisyfu Sya’ban 1447 H

_______

Penulis

Sucipte Jamuhur, kelahiran Lombok Tengah dan menetap di Kabupaten Bima sekitar tambak garam teluk Bima. Aktif di organisasi dan komunitas literasi dan konservasi lingkungan hidup disamping mengajar di salah satu SMP, ia juga berbisnis kedai kopi dan membangun entitas dan ruang kreativitas bersama pemuda-pemudi di kedai kopi tersebut.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Terimakasih telah berkomentar!