Cerpen Sucipte Jamuhur
Sudah menjadi impian Tar sejak dulu. Berada di
tengah-tengah sanak famili. Sebagai keluarga yang tak pernah utuh, mungkin hal
inilah yang dibutuhkan. Sangat harus di lakukan, manakala semua anggota pulang
kampung dari rantau. Kebetulan pula tidak ada aral melintang. Nah, di sanalah semua
anggota keluarga bertemu, entah karena hari raya idul fitri atau memang takdir malang
yang mempertemukan mereka_saat pemakaman Amaq.
“Kamu tau hewan apa yang terkuat?” Tanya Tar ke
istrinya.
“Pastilah gajah.” Jawab Iwet cepat.
“Salah! Gajah tidak mampu mengangkat beban
sepuluh kali lipat dari badannya.”
“Menyesal kujawab.” Iwet kesal sembari menerawang
jawaban sebenarnya, sampai ia bosan memeras isi kepalanya untuk berpikir.
Perempuan memang malas menggunakan otaknya. Lebih
suka menggunakan perasaan, pikir Tar. Pertanyaan tiba-tiba itu membuat mereka
bertengkar kecil. Tidak biasanya ia membangun obrolan dengan cara seprti itu.
Ia biasanya mengeluhkan beberapa hal yang tidak ia suka ke istrinya. Seperti
biasa, dengan tangkas istrinya malah menyalahkan Tar. Istrinya sejak dulu
sering mengulang-ulang sabdanya: leleki cerewet, semua serba dikerjakan, diurusi,
dibenahi, diluruskan, ditanggapi, dan lainnya. Laki-laki tidak boleh banyak
bicara, yang berbicara itu tindakannya.
“Yang banyak bicara itu perempuan. Di rapat
keluarga nanti, kamu harus sering menge-rem. Semua berhak berbicara.” Lanjut
Iwet tak mau kalah.
“Lebih baik kamu diam, kumbang tahi!” Cegat Tar.
“Astaga! Jadi menurutmu, aku ini kumbang tahi?” Iwet
keberatan dan tak sabar buat bertengkar.
“Iya, itu jawabannya. Hewan terkuat itu kamu.
Kamu mampu mengangkat beban sepuluh kali berat badanmu.”
“Maumu apa sebenarnya?”
“Aku bangga punya istri kuat, sayang.” Goda Tar.
Perasaan Iwet campur aduk antara tersanjung atau
hendak melepaskan marah yang tertahan. Ia lalu memalingkan wajah dan serta
merta terlihat tegang. Sehingga Tar menjawil lembut pipi Iwet yang kembali
cerah menahan senyum.
Mobil mereka hampir sampai di batas desa. Kedua
anaknya, Bagas dan Feri masih tertidur sebab kelelahan bermain. Sedari
berangkat kemarin banyak makan dan bermain. Mereka sudah tidak sabar bermain
lumpur di sawah Papuq.
Tahun kemarin, mereka membantu Kakek-nya menanam
padi. Bermain di sawah adalah pengalaman yang tidak pernah mereka dapatkan di
kota besar. Terlebih sudah ada sepupunya yang juga sesama laki-laki seumuran
dan tinggal di rumah Papuq. Mereka semakin antusias. Karena ada teman mereka
bermain layangan atau berkubang lumpur di sawah.
Tar juga senang, ada yang bisa mengelola sawah
sepeninggal Amaq. Ang kakaknya ada sudah hampir satu tahun lebih menemani Amaq
dan Inaq. Ang memutuskan tinggal di kampung setelah lama merantau di Jawa.
Bangkrut parah memaksanya menjalani hidup di kampung.
Semenjak menikah delapan tahun lalu, Ang tidak
pernah sekalipun pulang. Hanya berkabar melalui telpon. Tar juga senang bisa
mempertemukan Bagas dan Feri dengan anak-anak Ang. Juga anak-anak dari kedua adiknya Isne dan Nurme.
Meski tinggal di Kota yang hanya sejarak satu jam
perjalanan. Kedua adik perempuan Tar juga tak berat pulang kampung. Berikut
suami dan anak-anaknya. Untuk itulah, Tar merasa harus ikut serta pulang kampung
memenuhi impian Amaq semasa hidup, menggelar rapat keluarga. Ia ingin seperti
orang lain dalam bersaudara: mengobrol banyak, bertukar pikiran, tertawa-tawa,
berbagi cerita, makan bersama. Seperti keluarga besar pada umumnya.
Jika saja Amaq tidak meninggal sembilan puluh
sembilan hari lalu. Mereka tidak akan bisa bersua. Titah Amaq semasa hidup agar
urun rembuk dalam satu suasana, tidak pernah terlaksana.
Amaq sebagaimana orang tua lainnya, selalu berbesar
harapan, sekiranya ia bisa melihat anak-anaknya berkumpul dalam satu pandang. Ah,
waktu memang perkasa memisahkan kelurga. Anak-anak adalah hasil karya yang
menjadi penyejuk pandangan. Namun, harapan meliht merek dalam wujud dewasa tak
pernah kabul, impian itu di bawanya ke alam tidur abadi. Semasa hidup ia sering
menegur masing-masing mereka saat menelpon (sesekali) agar menyempatkan diri pulang
dan berkumpul. Meski hanya sekali.
“Mumpung Amaq masih hidup, nak. Meleng mayit-ku (mayat dengan mata terbelalak), kalau permintaan sederhana
Amaq ini, tak sanggup kalian penuhi.” Hal itu telah benar-benar terjadi saat
beliau nazak dan ruhnya telah pergi, seakan beliau tahu betul ayat maut dalam
laku hidup manusia.
Barangkali ucapan yang acap kali Amaq perdengarkan
itu menjadi buah penyesalan. Tidak pada Tar saja, juga pada Isne dan Nurme.
Terlebih Ang sebagai anak lelaki tertua. Buah bibir itu terbayar kontan. Konon,
perbuatan dan perkataan orang yang sudah tua telah dibisikkan malaikat maut.
Terlebih seratus hari sebelum meninggalnya.
Istri Ang seperti orang panik dengan persiapan acara
doa seratus hari Amaq. Ia tahu Ibu mertuanya tak banyak membantu selain duduk
dan berkomentar ini-itu. Meski Inaq telah pikun dan banyak lupa, istri Ang
tetap melempar obrolan dan menanggapi arahan Inaq saat masak. Sehingga beberapa
orang tetangga berduyun-duyun datang membantunya memasak di halaman samping
rumah.
Sedari pagi ia cekatan meracik bumbu dapur dan
rela memasak banyak sate pusut kesukaan adik iparnya Tar. Ia tak pedulikan asap
kayu bakar memengapkan badannya. Matanya berkali-kali kelilipan abu dan asap
tak ia pedulikan. Demi memenuhi harapan Amaq mertua (semasa hidup) dan menjamu
keluarga jauh saat rapat keluarga nanti.
Tar dan istrinya begitu menikmati sate pusut
buatan iparnya. Sampai-sampai ia tak sadar tusuk sate banyak bereserakan di
atas nampan. Acara doa seratus hari telah selesai, beberapa orang tentangga
yang hadir telah pulang dan beberapa orang masih duduk mengobrol di berugaq
depan.
Disuguhkan banyak makanan membuat Tar lega dan
lelahnya selama di perjalanan terbayarkan. Ia merasa layak dijamu seperti itu,
meski tak seperti yang ia harapkan. Sejak sampai, ia selalu tertawa oleh
tingkah Inaq. Tar cukup terhibur dengan kepikunannya. Ibunya masih
percaya_bahkan bersikeras kalau Tar adalah teman kecilnya di Sekolah Dasar dulu.
Tawa yang lama kelamaan menjadi kepedihan. Inaq
beberapa kali menyangkal kematian Amaq. Terkadang ia menunjuk Ang sebagai sosok
suami. Ang lebih banyak menutup mulut. Mengobrol dengan tamu atau bereramah
tamah dengan keluarga yang lain sudah diwakili oleh Tar. Adiknya memang selalu
menjadi tumpuan keluarga. Sementara Ang sibuk melakukan banyak hal remeh sejak
Tar tiba. Bukan sifatnya yang banyak bicara dan suka mengobrol seperti adiknya.
Sesekali Inaq menangis, sebab Tar terlalu serius menerangkan
kejadian sebenarnya. Tar juga sungguh-sungguh menjelaskan bahwa ia adalah
anaknya. Juga perihal Amaq-nya (suami kedua Inaq) telah meninggal seratus hari
lalu. Inaq berkilah tak kalah
bersikeras, bahwa sosok suaminya masih hidup dan sedang membantu tetangga cuci
piring. Di arahkan telunjuknya ke Ang.
Raut muka Tar berubah kesal dan putus asa. Diserahkan
Inaq ke istrinya Ang untuk ditemani. Tar lalu beranjak, mengajak beberapa orang
yang masih ada di tempat itu, untuk memulai acara inti: rapat keluarga.
“Langsung saja.” Ucap Tar memecah kesunyian.
“Terima kasih telah hadir Ustadz Saepul. Kak
Juhari Sarjana Hukum, Tuaq Geli sebagai Kadus, serta adik-adikku : Isne dan
Nurme. Juga tak kalah penting Ang, saudara tiri kami.” Ang menunduk tegang dan
berkeringat dingin. Bak pesakitan, kedua tangan Ang tersimpul di kempit kedua
dengkulnya.
“Sebagai orang beragama, kita tidak bisa menolak
keputusan Tuhan. Sebaiknya kita dalam hal ini sepakat dengan hukum agama.”
Jelas Tar dan semua terdiam tanda setuju.
“Kita sudah sama tahu, bahwa amaq sudah meninggal
seratus hari yang lalu dan ini kewajiban kita membagi warisan. Untuk itu ada
rapat keluarga ini. Kita juga tahu bersama bahwa harta benda: sawah dan halaman
rumah ini harus di bagi. Kepada siapa? Ya tentu saja kepada kita bereempat:
Ang, saya, Isne dan Nurme. Namun, sayangnya. Ang adalah anak tiri dari Bapak
kami bertiga, meski kami satu ibu.” Lagi Tar meminta persetujuan dan semuanya
terdiam.
“Sebagai saudara tiri, meski paling tua di antara
kami. Tapi tindakannya melampaui batas dengan menggadaikan sertifikat sawah dan
rumah untuk membayar hutang-hutangnya. Tanpa sepengetahuan saudara yang lain.
Ini kejahatan!”. Tar berteriak di kalimat terakhir, semua makin terdiam
terutama Ang.
“Harta orang tua kita memang di hasilkan oleh
Inaq di luar negeri bertahun-tahun. Tapi ingat. Ini harta gono-gini dari
pernikahan Inaq dengan Amaq kami. Bukan dari bapakmu, Ang! Bukan! Meski orang
tua setuju kamu cairkan sertifikat hartanya, tapi kamu melupakan kami bertiga.
Bukan kamu saja anaknya. Tindakan jahat ini melanggar hukum, terlebih hukum
agama, Ang!” Tar membius keadaan dan membuat dirinya satu-satunya yang
berbicara.
“Biar kita semua ingat. Bukan kamu saja yang
butuh uang, dan berhutang. Aku juga sangat butuh dan harus mengambil warisan
bagianku, untuk bayar hutang. Kujelaskan sekali lagi. Harta benda milik orang
tua kita, dalam hal ini Inaq. Adalah harta yang beliau dapatkan setelah menikah
dengan Amaq kami bertiga : Aku, Isne dan Nurme. Bukan harta yang dihasilkan
dari pernikahan Inaq dengan Bapakmu, Ang. Inaq tidak membawa harta apa-apa
selain seorang anak. Secara hukum, jatah warisku paling banyak, Isne dan Nurme
sedikit karena perempuan.” Semua tetap senyap sebagai tanda pembenaran atas
semua perkataan Tar.
“Kamu tau hewan apa yang terkuat?” Tanya Tar tiba-tiba
ke istrinya.
Dengan mata basah, dan raut muka ketakutan Iwet
menjawab ragu, “kumbang tahi.”
“Salah!” teriak Tar menggebrak meja, Iwet dan
beberapa orang terkejut dan semakin menunduk.
“Tar… tardigrada. Itu hewan terkuat di bumi. Dia
sanggup tidak makan-minum berbulan-bulan, itupun makannya cuma lumut! Lumut!
Hebatnya dia bahkan sanggup hidup di luar angkasa.” Tegas Tar. Beberapa orang
bertanya-tanya maksudnya. Kemampuan otak takkan mampu mencerna. Hanya hati dan
ingatan yang sanggup memahami maksudnya.
Selama ini Tar merantau di kota besar, bekerja
keras agar cekikan lapar bisa mereka tepis. Tar rela kelaparan, hanya makan
sayur yang berjatuhan dan terbuang di pasar demi agar kedua orang tuanya, Ang
dan kedua adiknya bisa hidup layak di kampung.
Perjalanan pahit itu berlangsung lama, Tar telah membantu
keluarganya mengatasi kemiskinan. Setidaknya sebelum Inaq bekerja di luar
negeri. Pada akhirnya hidup mereka sedikit lebih baik dan semua bisa menikah.
Dengannya Tar mendapat tempat kehormatan, menjadi seseorang yang paling
disegani dan perpengaruh dalam keluarga.
Jeda rapat keluarga. Di balik tembok, sembari
memegang pundak Ang, Ustadz Saepul mencoba memberikan pandangan supaya Tar
diberitahu saja. Sebab inilah waktu yang tepat bagi Tar. Bahwa tidak selayaknya
ia menentukan warisan. Sebab anak hasil hubungan tanpa nikah, secara hukum
agama tidak berhak menerima warisan sedikitpun.
Bima, Nisyfu Sya’ban
1447 H
_______
Penulis
Sucipte
Jamuhur, kelahiran Lombok Tengah dan menetap di
Kabupaten Bima sekitar tambak garam teluk Bima. Aktif di organisasi dan
komunitas literasi dan konservasi lingkungan hidup disamping mengajar di salah
satu SMP, ia juga berbisnis kedai kopi dan membangun entitas dan ruang
kreativitas bersama pemuda-pemudi di kedai kopi tersebut.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!