Cerpen Resti
Segalanya bermula dari seorang gadis belia yang tumbuh di antara reruntuhan harapan. Dunia menempanya terlalu dini; memaksanya menelan getir sebelum sempat mengecap manis kehidupan. Namanya Chyla, seorang remaja yang terbiasa berjalan di atas pecahan luka demi mempertahankan kehormatan keluarganya yang kerap dijadikan permainan oleh manusia-manusia berhati jelaga.
Mereka adalah para perapal dusta yang gemar menjadikan keluarganya boneka tanpa nyawa. Seenaknya menusukkan hinaan tanpa pernah peduli seberapa dalam robekan yang tertinggal. Tatapan merendahkan telah menjadi santapan hariannya. Lebih menyakitkan lagi ketika racun itu justru menetes dari bibir orang-orang yang memiliki darah serupa dengannya.
Pada suatu pagi yang pucat, Chyla terjaga oleh seberkas cahaya yang menyelinap melalui celah jendela reyot kamarnya. Cahaya itu jatuh tepat di wajahnya, seolah langit sedang mengirimkan jawaban atas doa-doa panjang yang selama ini ia sematkan di setiap sujud malam.
Dalam diam, Chyla bertanya kepada semesta, mungkinkah Tuhan baru saja mengirim seorang malaikat untuk menuntunnya keluar dari lorong kelam ini? Namun, pikirannya tak sempat lama mengembara. Ada satu hal yang terus memburu dadanya: membawa keluarganya pergi sejauh mungkin dari para penyihir kehidupan yang menjadikan kemiskinan sebagai bahan tertawaan. Mimpinya melesat jauh ke angkasa.
Bertengger di sisi gugusan bintang yang tak pernah letih menjaga malam. Akan tetapi, Chyla tidak ingin menjadi bintang. Ia ingin menjadi bulan, tetap bercahaya meski dikelilingi gelap paling pekat. Sebab baginya, bulan tidak pernah meminta langit untuk berhenti malam demi tetap bersinar.
Dan siapa yang mampu meredupkan bulan? Bahkan bintang-bintang pun tak pernah benar-benar mampu mengalahkan cahayanya.
“Itulah aku nanti,” bisiknya lirih pada pantulan cermin tua yang mulai keropos dimakan usia.
Baginya, rumah tetaplah tempat paling teduh di muka bumi selama ibunya masih berada di dalamnya. Tidak penting seberapa rapuh dindingnya atau seberapa hina mata manusia memandangnya. Sebab, di tempat itulah mimpinya tumbuh, mengepakkan sayap di atas lembaran-lembaran kertas lusuh yang selalu ia tulisi dengan harapan.
Malam menjadi waktu paling kejam bagi pikirannya. Di saat dunia terlelap, ribuan pertanyaan datang mengetuk kepalanya tanpa ampun. Tentang masa depan. Tentang ibunya. Tentang dirinya sendiri yang merasa hanya akan menjadi batu tambahan di pundak perempuan paling berjasa dalam hidupnya itu.
Ibunya tidak pernah menganggapnya beban. Namun, Chyla pada masa itu memandang dirinya berbeda. Ia merasa keberadaannya hanyalah penghabis tenaga dan air mata. Sampai akhirnya hujan di bulan Juni membawa langkahnya pergi. Bukan untuk menjadi buruh nasib, melainkan kembali menjadi seorang pelajar, seorang gadis penuh ambisi yang memikul mimpi setinggi langit, meski diam-diam masih takut pada gelap yang mungkin menelannya kapan saja.
Malam keberangkatan itu terasa dingin hingga menusuk tulang. Angin menampar lembut wajahnya yang sedari tadi diam memandangi jalanan dari balik kaca mobil yang terbuka sedikit. Perlahan, kota kelahirannya tertinggal di belakang. Pedih sekali rasanya. Hatinya ingin menetap, tetapi takdir justru menarik langkahnya pergi jauh meninggalkan rumah. Dan manusia mana yang rela berpisah dari orang yang paling dicintainya?
Kenangan di sepanjang jalan berputar di kepalanya seperti lagu lama yang enggan berhenti diputar semesta. Ia yakin, ibunya pun sama hancurnya. Begitulah hidup bekerja, ketika kecil manusia sibuk ingin segera dewasa, tetapi setelah dewasa justru masa kecil menjadi tempat pulang yang paling dirindukan.
Chyla menatap wajah lelah ibunya dalam remang cahaya kendaraan. Di sanalah alasannya berada. Tak ada paksaan. Semua ini adalah pilihannya sendiri. Biarlah orang-orang menertawakan langkahnya. Sebab, jika suatu hari ia berhasil, tak satu pun dari mereka akan ikut menikmati hasil perjuangannya. Kalimat ibunya selalu tinggal di kepalanya:
“Biarkan manusia berbicara sesuka hati. Selama kita tidak merugikan siapa pun, hidup akan tetap berjalan.”
Tepat pukul 20.49, kendaraan itu berhenti di hadapan sebuah gerbang besar berwarna keemasan. Orang-orang menyebutnya gerbang kematian. Megah. Sunyi. Menegangkan. Chyla menelan ludah saat memasuki bangunan bertingkat itu. Di dalamnya, ia hanya melihat wajah-wajah asing yang sibuk tenggelam dalam layar gawai masing-masing. Katanya, mereka adalah calon pembimbing dan guru bagi para penghuni baru tempat itu.
Salah seorang lelaki menghampiri mereka. Usianya mungkin sekitar dua puluh lima tahun. Pembawaannya teduh seperti langit selepas hujan. Sorot matanya hangat dan tutur katanya begitu santun hingga berhasil menenangkan hati ibunya.
“Selamat beristirahat, Bu. Jika belum mengantuk, boleh bergabung menonton di lantai bawah.”
Chyla nyaris tidak mampu mencerna percakapan itu. Pikirannya telah melayang jauh membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa ibu di sisinya. Dan benar saja. Hari-hari pertama terasa seperti neraka kecil yang dipenuhi sesak dan air mata.
Tangisan menjadi pemandangan biasa di tempat itu. Ada yang menangis diam-diam saat malam, ada yang meraung meminta pulang ketika pagi, bahkan ada yang memilih keluar masuk ruang kesehatan karena tak sanggup menanggung rindunya sendiri.
Namun, Chyla tidak pernah benar-benar berpikir untuk menyerah. Menurutnya, hanya orang paling bodoh yang menyia-nyiakan kesempatan berharga seperti ini. Meski begitu, ia tetaplah gadis seusianya, rapuh dan belum pandai mengendalikan badai di dalam kepala. Ia kerap merasa dirinya hanyalah seekor berudu kecil di tengah katak-katak yang telah pandai melompat jauh.
Saat apel pagi berlangsung, matanya sering diam-diam menatap bulan yang perlahan tenggelam bersama datangnya fajar. Bukan karena ia mengagumi bulan, melainkan karena ia sedang berjuang menahan air mata agar tidak jatuh ke bumi. Ia takut kesedihannya membuat rerumputan ikut layu.
Orang-orang mengenalnya sebagai gadis ceria. Padahal, keceriaan itu bukan sesuatu yang sengaja ia ciptakan. Itu hanyalah topeng agar tak seorang pun tahu betapa kacau isi kepalanya. Ia mencoba keluar dari cangkang, membuka diri pada banyak manusia. Namun, justru di situlah petaka kecil datang menghampirinya.
Seseorang yang ia anggap tempat pulang ternyata hanya singgah untuk mengetahui titik lemahnya. Pengakuan yang seharusnya tak pernah terucap justru menjadi jarak di antara mereka. Dan sejak hari itu, perempuan yang dulu ia kagumi perlahan berubah menjadi sosok asing yang menakutkan.
Barangkali beginilah cara Tuhan membuka mata manusia. Ia tidak pernah datang sambil berkata bahwa seseorang itu buruk. Ia hanya memperlihatkan wajah aslinya sedikit demi sedikit sampai akhirnya kenyataan sendiri yang berbicara.
Waktu berjalan. Asrama tetap sama, dindingnya, lorongnya, aroma pagi, dan dinginnya malam. Yang berubah hanyalah cara pandang Chyla terhadap hidup.
Kini ia mulai berdamai dengan takdir. Pada tempat yang dulu terasa seperti penjara, perlahan ia menemukan dirinya sendiri. Harapan yang sempat mati kini tumbuh kembali seperti bunga liar setelah hujan panjang.
Dan akhirnya Chyla mengerti, barangkali musuh paling menakutkan selama ini bukanlah manusia lain. Melainkan pikiran-pikiran gelap yang terus memburunya di tengah sunyi.
______
Penulis
Resti, siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 34 Lebak, Banten.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!