Sunday, July 26, 2026

Cerpen Dian Alia Ananta | Nyanyi Sunyi Kampung Tua

Cerpen Dian Alia Ananta



Angin sore berembus pelan menyisir rumah-rumah panggung di kampung P yang sunyi. Banyak pintu tertutup, halaman ditumbuhi rumput liar. Atap condong, dan warna dinding papan kehilangan warna asli. 


Dulu, kampung ini ramai. Seluruh rumah diisi pemiliknya. Riuh oleh tawa anak-anak dan suara orang yang bergotong royong. Kini, hanya ditempati beberapa orang tua yang masih setia.


Di beranda rumah panggung tua, seorang pemuda duduk bersama kakeknya. Ditemani secangkir kopi dari ladang sendiri. Dari sana, keduanya dapat melihat ke jalan tanah penuh lubang yang sering dipakai warga berlalu lalang.


“Kek, sekarang kampung kita mulai sepi. Sudah jarang kulihat anak-anak bermain di lapangan. Banyak pula rumah panggung reyot dan hampir roboh,’’ ujar Ari.


Mata tua kakek yang semula terpejam, kini terbuka perlahan. Matanya yang sayu menatap lurus ke depan seolah menerawang sesuatu.


“Di desa seperti ini, anak muda mana yang ingin tinggal, Ri?’’ balas kakeknya itu.


Memang, kampung ini bisa dibilang tertinggal dibanding beberapa kampung di wilayah Lampung lainnya. Banyak warga di sini yang memilih merantau bahkan pindah ke kota. Kembali ke kampung ini para perantau itu tak ada niatan menjaga dan membangun kampung kelahirannya. Kampung semakin sepi, banyak rumah yang kini kosong. Bahkan sebagian rumah nyaris roboh.

 

Tak jarang sebenarnya penguasa berkunjung ke kampung ini, namun kampung ini tetap saja mudah dilupakan. Andai di setiap diri masyarakat terpatri piil pesenggiri, masih mampukah mereka meninggalkan tempat mereka dilahirkan? Ari tak lagi berharap banyak dari kampung ini, kakeknya semakin renta, rezeki pun jarang didapat. Mau tak mau ia juga harus meninggalkan kampungnya.


Di hadapan kakek yang duduk di kursi tua, ia berlutut mengharap restu. Dengan sendu sang kakek menatap cucunya.


“Jangan pernah lupa tempat kamu lahir, Ri. Ingat untuk pulang, jangan seperti mereka yang kini rumahnya terbengkalai.’’


“Tentu Kek, suatu saat pasti Ari pulang dan siap membangun kampung kelahiranku ini.’’


Di beranda, sang kakek berdiri, menatap mobil yang membawa cucunya pergi. Dirinya hanya dapat berdoa agar cucunya tak seperti pemilik rumah kosong di ujung jalan sana.


Tahun berlalu begitu cepat, Terhitung sudah hampir 10 tahun sejak hari itu. Banyak yang sudah berubah, delapan tahun lalu ia dikabari bahwa sang kakek wafat. Namun, dia tak dapat pulang sekadar menatap jasadnya untuk terakhir kali. Dan kini, setelah sekian lama ia kembali membawa misi.


Berdiri di depan rumah panggung milik kakeknya, tangga kayu berderit seperti orang tua yang mengeluh. Di belakang rumah, makam kakeknya tepat berada di bawah pohon kamboja. Ari berlutut di sana.


“Aku pulang, Kek,’’ katanya pelan. Angin hanya menjawab sunyi.


Malam pertama di kampung, hanya terlihat beberapa rumah yang lampunya menyala. Terdengar ketok suara pintu, rupanya Pak Abu, salah satu tetua kampung datang berkunjung. Ari menjamu dengan segelas kopi. Terlihat tak ada yang berubah darinya kecuali keriput tua yang semakin rapat memenuhi wajahnya.


“Jadi kamu akhirnya pulang Ri?’’ Pak Abu bertanya tepat saat Ari sudah duduk. 


“Iya, Pak,’’ ia menjawab dengan senyum canggung.


Pak Abu menatap wajahnya lama, seolah mencari sesuatu di sana. 


“Kau pulang karena rindu, atau ada yang lain?’’


Ari terdiam. Menimang apakah harus diberikan sekarang. Ia menggapai tas yang berada di sampingnya dan sebuah map coklat keluar dari sana. Menyerahkannya langsung pada pria tua itu. Tak perlu lama menatap, pak Abu mengerti isinya. Wajahnya mengeras.


“Perusahaan?”


Ari mengangguk pelan.


“Mereka ingin membeli tanah di kampung ini. Untuk membuat pabrik.’’


Pak Abu menutup map itu pelan. Menatap mata Ari dalam dan tajam.


“Kakekmu dulu selalu membanggakan cucunya, beliau bilang Ari akan membawa pulang mereka yang pergi dan harapan bagi kampung, tapi kenapa sekarang berubah?’’


“Pak, semua rumah kosong akan dibeli, jalan akan diperbaiki, dengan begitu orang-orang yang telah lama pergi pasti tergiur untuk kembali.”


Raut wajah Pak Abu tampak kecewa, berdiri perlahan. Dengan suara bergetar, ia kembali melempar pertanyaan.


“Tapi ini kampung kita, harga diri masyarakat asli. Kau tak lupa kan?’’


Ari memejamkan mata. Ia ingat itu. Namun, kenyataannya kampung ini hampir kosong. Jika tidak seperti ini ia pun tak mampu mengembalikan keadaan kampung.


“Pak,’’ katanya pelan. “Jka tidak seperti itu, siapa lagi yang akan tinggal? Anak-anak semua sudah pergi. Banyak sawah tidak digarap, sekolah bahkan sudah tutup.’’


Pak Abu menggeleng pelan.  


“Jadi karena orang-orang pergi, kita harus menghapus kampung ini?’’


Ari merasa dadanya sesak.


“Tidak menghapus Pak! Aku hanya ingin, kampung ini kembali hidup, meski dengan cara yang berbeda,’’ katanya lirih.


Pak Abu tertawa pahit. 


“Hidup? Kalau pabrik berdiri, kampung ini tak akan hidup lagi, Ri! Namun hanya berubah menjadi kenangan yang dikubur rapat.’’


Malam itu, ketika rembulan begitu terang, Ari berjalan menuju masjid. Bangunan itu tampak tua dan sepi, hanya terisi oleh Pak Abu serta segelintir warga.


“Kau tahu,’’ lirih Pak Abu. ”Meski kampung ini sepi sudah lama, tapi setidaknya dulu tujuh saf masjid ini selalu terisi penuh.’’


Ari menatap lantai masjid. Dia ingat masa itu.


“Kenapa kau bawa mereka ke sini?’’ Pak Abu Kembali membuka suara.


Ari menelan ludah.


“Karena kalau tidak, dalam lima tahun dari sekarang mungkin kampung ini sudah menjadi hutan belantara.’’


“Dan menurutmu pabrik adalah cara menyelamatkannya?’’ 


Ari terdiam tak mampu menjawab. Hatinya bimbang.


Selepas dari masjid, Ari berdiri di belakang rumah. Di depan makam kakeknya ia terduduk. Dipandangnya kampung, banyak rumah kosong, jalanan sepi, dan sekolah yang jendelanya pecah. Semua ditinggalkan pemiliknya. 


Dadanya sesak, orang-orang tak hanya meninggalkan kampung ini, mereka juga meninggalkan tanggung jawab menjaganya. Dan sekarang, tanggung jawab itu jatuh padanya. Namun, caranya mungkin akan menghapus kampung ini selamanya. 


Angin berembus pelan. Untuk pertama kalinya ia merasa mengerti arti kehilangan. Bukan ketika seseorang pergi, melainkan saat tempat yang penuh kehidupan perlahan berubah menjadi kenangan.


“Tak heran kampung ini semakin sepi dan tertinggal, jauh dari pembangunan,” gumam Ari seraya menjauh dari nisan kakeknya. “Mereka kunjungi kampung ini saat pemilihan kepala daerah, karena dianggap bertuah bagi perjalanan kariernya. Setelah memimpin, kampung ini dilupakan….”


Ia kini yakin untuk membenarkan apa yang pernah dikatakan kakeknya semasa hidup. Orang datang atau berkunjung ke kampung ini, tak lain sebabnya mencari simpati. Bagaimana pun warga asli dari sini, menyebar di seluruh kota dan daerah lain.


_______


Penulis


Dian Alia Ananta, yang akrab disapa Dian, adalah penulis cerpen pemula asal Lampung Tengah, Provinsi Lampung.  Pelajar SMA Al Ma’rif 05 Padang Ratu, Lampung Tengah ini salah satu dari 20 peserta Kemah Sastra 2026 atas manfaat dana Indonesiana Kemenbud RI kepada Fitri Angraini, S.S., M.Pd.  Karya cerpennya , “Lesung Pipi” juara I Lomba Cipta Cerpen Festival Lomba Seni Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tingkat Kabupaten Lampung Tengah. Selain itu cerpennya terpublikasi di media online Lampung, Pesawaran Inside.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!