Thursday, July 30, 2026

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu | Industri Majelis Taklim: Ketika Agama Menjadi Lahan Bisnis yang Manis

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu



A. Ketika Ajaran Tuhan Dijual dalam Paket Premium dan VIP

Para pembaca yang baik hati.

Penulis mohon maaf jika judulnya terkesan tajam.

Penulis hanya ingin menyampaikan bahwa banyak fenomena yang patut membuat kita gelisah tentang wajah masyarakat hari ini. Pengajian tumbuh di mana-mana, majelis taklim semakin ramai, ceramah agama memenuhi media sosial nyaris tanpa jeda, tetapi dalam waktu yang sama, masyarakat justru tampak semakin rapuh menghadapi godaan zaman. Korupsi tetap merajalela, judi online menghancurkan keluarga, pinjaman berbunga mencekik rakyat kecil, budaya konsumtif makin liar, dan generasi muda semakin mudah kehilangan arah hidup.

Saat ini, kita hidup di tengah ledakan simbol agama, tapi kita malah mengalami krisis kedalaman iman. Di titik itulah muncul pertanyaan yang tidak nyaman, tapi penting diajukan, yaitu: jangan-jangan sebagian dakwah kita hari ini lebih sibuk memproduksi suasana religius daripada membangun keteguhan akidah dan akhlak umat.

Kita ketahui bersama bahwa majelis taklim yang dahulu identik dengan kesederhanaan, kemudian perlahan berubah menjadi industri spiritual modern.

Pengajian tidak hanya digelar di masjid atau musala, tapi pengajian dipindahkan ke ballroom hotel, aula pusat perbelanjaan, gedung mewah, atau kafe estetik dengan tata cahaya dramatis, musik lembut, kamera profesional, dan promosi media sosial yang sangat rapi. Sang ustaz, gus, atau habib tampil layaknya figur publik yang disambut gegap gempita. Jamaah berebut mengabadikan momen, panitia sibuk membangun citra acara, sementara isi dakwah sering kali dikalahkan oleh suasana emosional dan sensasional yang diciptakan oleh sang tokoh agama.

Yang paling mengkhawatirkan bukan soal tempat atau teknologinya, tetapi arah dakwah yang perlahan bergeser mengikuti keinginan pasar. Anak muda yang sedang patah hati, kehilangan arah hidup, mengalami masalah rumah tangga, atau sedang rapuh secara mental, semua itu menjadi sasaran empuk bagi industri majelis taklim ini.

Mereka datang mencari ketenangan, lalu disuguhi ceramah yang lembut, menyentuh, dan penuh kata-kata motivasi tentang hijrah, move on, asmara, jodoh, atau luka batin. Jamaah dibuat menangis bersama, merasa damai sesaat, lalu pulang dengan perasaan lega sementara. Minggu depan mereka datang lagi untuk mencari sensasi spiritual yang sama.

Agama akhirnya diperlakukan seperti obat penenang emosional, yang dikonsumsi untuk meredakan kegelisahan sesaat, bukan untuk membangun keteguhan hidup berdasarkan ilmu dan iman.


B. Dari Majelis Ilmu, Berubah Menjadi Panggung Euforia Keagamaan

Para pembaca yang baik hati.

Fenomena ini menjadi semakin problematis ketika ukuran keberhasilan dakwah mulai bergeser dari kualitas ilmu menuju popularitas. Sebagian ustaz, gus, habib lebih dikenal karena gaya bicara yang soft spoken, wajah teduh bahkan ganteng, penampilan good looking, atau potongan ceramah yang viral di medsos dan YouTube, dibanding kedalaman pemahaman agamanya.

Pengajian berubah menjadi atraksi pencitraan tokoh agama. Ada tokoh agama yang ceramah di hotel mewah dengan jenis-jenis tiket yang berjenjang mulai dari tiket reguler, tiket premium, hingga tiket VIP dan VVIP. Ada yang bicara tentang kesederhanaan sambil menikmati gemerlap cahaya popularitas yang sangat menguntungkan sekaligus menyilaukan.

Ada pula jamaah yang lebih sibuk mengejar foto bersama tokoh agama dibanding memahami dalil dan makna pengajian yang disampaikan. Ada pula tokoh agama yang “kejar setoran” dengan berfokus pada banyak-banyakan jamaah demi mendapatkan endorsement atau jadi brand ambassador suatu produk.

Di titik ini, budaya pengidolaan tokoh agama tumbuh sangat subur. Gelar “habib”, “gus”, atau “ustaz muda” sering kali membuat seseorang diperlakukan seolah tidak boleh dikritik. Padahal dalam Islam, ukuran kebenaran bukanlah popularitas, garis keturunan, jumlah pengikut di media sosial, dan jumlah subscriber YouTube, tetapi berlandaskan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Tidak ada manusia yang maksum selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tapi sayangnya, masyarakat kita terlalu mudah silau oleh simbol kesalehan. Bahasa Arab dianggap sudah pasti alim. Tangisan di panggung dianggap sudah pasti tulus. Popularitas dianggap tanda keberkahan. Padahal semua itu belum tentu benar.

Akibatnya, dakwah menjadi kehilangan kekuatan ilmiah yang sehat. Jamaah tidak lagi didorong untuk memahami agama secara mendalam, tetapi cukup dibuat terharu dan dibuat seolah-olah merasa dekat dengan Tuhan. Padahal agama bukan soal suasana hati.

Dalam Islam, ibadah dan seluruh praktik keagamaan harus berdiri di atas petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah. Semangat beragama saja tidak cukup. Sebab sebesar apa pun antusiasme seseorang dalam beribadah, jika tidak sesuai tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka amal itu tertolak. Inilah yang mulai terlupakan ketika agama terlalu sibuk dipertontonkan sebagai hiburan emosional dan sensasional.


C. Dakwah yang Sibuk Mengurus Soal Asmara, tetapi Bungkam terhadap Akidah, Riba, dan Judi Online

Ironi terbesar dari sebagian majelis taklim modern adalah semangat banget membahas tema-tema ringan yang mudah viral, tetapi gugup dan gagap menyentuh persoalan mendasar yang sedang menghancurkan masyarakat. Ceramah tentang jodoh, move on, atau percintaan bisa dipenuhi ribuan anak muda dan pasangan muda. Tetapi, kajian tentang bahaya syirik, bahaya tahayul, bahaya riba, haramnya judi online, kerusakan moral akibat pinjaman online, fikih muamalah, atau pentingnya membangun ekonomi syariah, justru sangat sepi peminat dan minim publikasi.

Padahal kerusakan bangsa hari ini tidak lahir dari kurangnya seminar motivasi, tapi dari lemahnya aqidah dan rapuhnya tauhid. Korupsi tumbuh karena manusia tidak takut kepada Allah. Riba dinormalisasi karena masyarakat lebih percaya pada sistem ekonomi berbasis utang daripada keberkahan rezeki halal. Judi online merajalela karena manusia ingin kaya secara instan tanpa kerja keras. Pinjaman online menghancurkan keluarga karena budaya hidup konsumtif dibiarkan tumbuh tanpa kontrol iman.

Dakwah seharusnya hadir untuk membangun manusia yang kuat secara akidah dan akhlak. Umat perlu diajarkan bahwa tauhid bukan sekadar ucapan, tapi fondasi kehidupan. Orang yang benar imannya, maka dia tidak akan mudah korupsi meski punya kesempatan. Orang yang takut kepada Allah, maka dia tidak akan memakan riba walaupun terlihat menguntungkan. Orang yang memahami agama dengan benar, maka dia tidak akan mempertaruhkan keluarganya demi judi online serta gaya hidup palsu.

Sayangnya, sebagian pengajian hari ini justru lebih sibuk membangun suasana haru dan suasana nangis-nangisan daripada keberanian moral dan keteguhan iman. Jama’ah dibuat menangis, tetapi tidak diajak berpikir. Jamaah hafal kutipan ceramah viral, tapi tidak memahami prinsip dasar akidah. Jamaah rajin hadir kajian, tetapi tetap mudah tertipu oleh investasi bodong, tetap boros, tetap malas membaca, dan tetap lemah menghadapi tekanan hidup.

D. Mengembalikan Majelis Taklim kepada Pembahasan Akidah, Tauhid, dan Perbaikan Umat

Para pembaca yang baik hati.

Mungkin ini sudah saatnya majelis taklim kembali kepada fungsi utamanya, yaitu membangun umat yang berilmu, berakidah yang lurus, dan siap menghadapi perubahan zaman. Pengajian tidak boleh hanya menjadi ruang pelarian emosional bagi masyarakat perkotaan yang sedang lelah hidup. Dakwah harus kembali menguatkan fondasi akidah, mengajarkan pentingnya mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta membentuk manusia yang jujur, disiplin, serta bertanggung jawab.

Masjid dan majelis taklim harus lebih berani membahas persoalan nyata umat, yaitu bahaya syirik, bahaya tahayul, bahaya bidah, bahaya riba, bahaya zina, bahaya pacaran, bahaya judi online, pentingnya menutup aurat, kehancuran moral akibat pinjaman online, pentingnya ekonomi syariah, kesehatan masyarakat, pendidikan keluarga, etika bisnis secara Islam, hingga pentingnya membangun generasi yang kuat jasmani serta rohani. Anak muda perlu diajarkan bahwa hijrah bukan sekadar perubahan penampilan atau suasana hati, tetapi perubahan cara berpikir dan cara hidup sesuai syariat.

Masyarakat juga harus berhenti mengidolakan tokoh agama secara berlebihan. Ustaz harus dihormati karena ilmunya, bukan dipuja seperti selebritis. Dakwah yang sehat adalah dakwah yang menghidupkan ilmu, bukan menghidupkan fanatisme buta. Sebab, ketika agama terlalu sibuk mengejar popularitas, maka yang lahir hanyalah keramaian spiritual yang mudah viral, namun rontok dalam menghadapi ujian kehidupan.

Pada akhirnya, agama bukan sekedar merasa damai di dalam ruangan ber-AC sambil mendengarkan ceramah percintaan dan nangis-nangis manja. Agama adalah petunjuk hidup yang berisi ilmu, ketaatan, keberanian moral, dan keteguhan iman. Jika majelis taklim gagal membangun semua itu, maka yang tersisa hanyalah industri yang memperdagangkan kesalehan, yang terlihat ramai di permukaan, tapi miskin ilmu untuk mendidik umat.


______ 

Penulis

Afrian Rahardyaning Pangestu adalah guru Matematika dan Bahasa Inggris di sebuah pesantren. Pernah menjadi guru IPA dan IPS juga. Hobi membaca, menulis, menggambar, dan fotografi.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com




This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!