Resensi Kabut
Penguasa mengadakan panen raya. Yang dipanen adalah padi, nanti menjadi beras, berakhir disantap sebagai nasi. Maka, yang dipikirkan duluan adalah sebutan dan wujud. Tempat untuk pertunjukkan akbar adalah sawah. Di situ, terlihat hamparan tanaman padi. Mata yang melihat mengartikan Indonesia (bakal) makmur bila sering diselenggarakan panen raya. Sawah-sawah yang subur. Beras yang dihasilkan melimpah. Kita kepikiran yang membahagiakan.
Namun, suasana yang tidak alamiah dalam tontonan itu disempurnakan oleh ucapan penguasa mengenai beras. Ada yang bingung menyimak pernyataan penguasa mengenai beras, harga mahal, menanam padi, dan lain-lain. Yang mudah teringat tentu Indonesia yang berjanji selalu swasembada beras. Konon, penguasa yang berhasil adalah Soeharto pada masa 1980-an. Kita tentu tidak lupa politik-beras yang pernah terjadi pada masa revolusi. Indonesia menyumbang beras pada India. Kebijakan yang berpengaruh dalam politik-global.
Indonesia sering bermasalah beras. Ingatan tentang tragedi kelaparan itu bikin sedih. Beras yang harganya mahal membuat ibu-ibu lesu. Kebijakan impor beras kadang menimbulkan curiga. Beras sebagai sumber korupsi biasa terjadi. Politik-merayu demi kemenangan dalam rebutan kekuasaan biasa menggunakan bingkisan beras. Pokoknya, seribu cerita beras di Indonesia berulang, belun tentu menimbulkan kebaikan.
Di novel berjudul Bulir Emas di Negeri Seberang yang digubah Dou Mbojo, anak-anak yang membacanya diajak berpikir Indonesia dan beras. Buku yang dihiasi gambar Ipe Ma’ruf itu terbitan Rora Karya, 1977. Latar cerita di suatu desa, yang berada di NTB. Buku yang sengaja diedarkan di ribuan perpustakaan, berharap dibaca ribuan anak. Namun, kita menduga buku itu bukan bacaan yang memikat bagi anak-anak masa lalu.
Tokoh-tokoh yang dimunculkan di halaman-halaman awal adalah anak-anak. Mereka masih belajar di SD. Pengarang mengisahkan mereka bukan saat berada di sekolah. Yang terjadi adalah kemarau ganas. Warga desa menderita tapi susah menemukan jawaban dalam menyelamatkan hidup. Tahun-tahun yang buruk dan berat akibat kemarau. Pada saat turun hujan, mereka pun sedih dengan adanya banjir. Artinya, mereka berada di desa yang “mustahil” makmur dan bahagia. Mengapa mereka masih bertahan di desa saat harapan terus menipis?
Yang dilakukan anak-anak setiap hari adalah berjalan dan mencari makanan. Mereka tidak mau mati akibat kelaparan. Pengarang bercerita: “Ketiga anak itu tengah mencari umbi gadung. Sebagai makanan, pengganti nasi yang sudah lama tak dirasakan. Sejak musim kemarau tiga bulan mulai berlangsung. Sekarang bulan keempat. Bahan makanan telah habis dari persediaan.” Lapar adalah petaka. Yang mencari makanan sering tidak menemukan.
Anak-anak ikut bertanggung jawab agar tersedia makanan di rumah. Konsekuensinya, hari-hari mereka habis dalam perjalanan dan pencarian yang melelahkan. Musim kemarau berarti musim tidak belajar di sekolah. Kejadian yang dimaklumi: “Tetapi, ketiga anak itu telah lama meninggalkan bangku sekolah. Bukan hanya mereka. Seluruh murid sudah tidak ada yang bersekolah lagi. Sejak musim paceklik menyerang. Ini sudah menjadi kebiasaan setiap tahun.” Makanan lebih penting ketimbang pelajaran-pelajaran di kelas. Perut yang kelaparan tidak bisa belajar.
Pada saat menderita dalam mencari makanan, anak-anak sempat berbagi omongan dan pengetahuan. Yang sudah kelas 6 berusaha memberi penjelasan mengenai kutukan yang menimpa desa. Tokoh yang ingin sadar: “Kau tahu bahwa di daerah kita ini dulunya adalah daerah yang subur.” Ia mendapat penjelasan dari orang-orang yang sudah tua. Namun, kenyataan cepat berubah: “Orang-orang telah menebangi hutan dan pohon-pohon semaunya. Tanpa memperhitungkan akibatnya… Mereka membuat perladangan liar, menebangi pohon untuk keperluan rumah, kayu api, dan sebagainya.” Yang terjadi adalah perusakan. Desa yang menderita itu tidak sedang dikutuk Tuhan. Penyebab petaka adalah salah manusia yang tidak memuliakan alam, yang mencintai hidup dengan kesederhanaan.
Desa itu terselamatkan. Yang berusaha menanggulangi lapar adalah pemerintah. Maka, berdatangan pihak-pihak yang mewakili beberapa lembaga. Mereka datang membawa bantuan beras. Kita mulai paham bahwa buku cerita anak yang diterbitkan menggunakan anggaran pemerintah wajib mengabarkan kebaikan-kebaikan Orde Baru. Warga desa menerima beras, merayakan hidup setelah hari-hari yang menyiksa. Pemerintah dianggap berjasa.
Pada pembagian berasa, pihak pemerintah berkepentingan memberi pengumuman dan rayuan. Warga dikumpulkan agar mengetahui kebijakan pemerintah. Beras itu menjadi “tanda bujukan”. Pemerintah menginginkan warga melakukan transmigrasi. Jadi, novel yang dibaca anak-anak masa 1970-an berisi propaganda pemerintah. Novel ikut menyukseskan program rezim Orde Baru.
Sebagian besar warga mengikuti anjuran, meninggalkan desa atau tanah kelahiran. Yang dipikirkan adalah hidup, bukan derita-derita bila tetap berada di desa. Pergi ke tempat lain bukan perkara yang mudah. Mereka ingin mengubah nasib. Pemerintah mengaku bertanggung jawab. Warga pun ditantang mampu membenahi hidup di tanah yang baru.
Yang disampaikan pihak pemerintah: “Mari kita sama-sama membangun daerah ini. Karena merupakan sebagian dari tanah air kita. Kami yakin atas kedatangan saudara-saudara akan membawa kebaikan. Untuk saudara-saudara, untuk daerah, bangsa, dan tanah air Indonesia.” Kita membayangkan pilihan diksi para pejabat bertujuan membuat warga patuh, percaya, dan bertanggung jawab. Kita belum perlu membandingkan penggunaan bahasa oleh pemerintah masa Orde Baru dengan masa sekarang.
Warga mudah terpengaruh. Yang ikut transmigrasi berpendapat: “Tanah air Indonesia terbentang dari Sabang hingga Merauke. Masih luas yang belum tergarap. Menanti tangan-tangan emas yang menjamahnya, guna kepentingan pembangunan.” Novel untuk bacaan anak memastikan bahwa transmigrasi adalah progam unggulan Soeharto.
Hari-hari berganti di tanah baru. Mereka mengolah tanah. Mereka mengikuti petunjuk-petunjuk pemerintah. Transmigrasi itu mengubah nasib. Akhirnya, mereka membuktikan: “Buah padi semakin lama semakin tua. Bulirnya yang berwarna kuning emas, kini sedikit demi sedikit berubah menjadi coklat tua. Daun-daunnya sudah banyak yang mengering. Maka ketika sampai pada umur tujuh puluh hari, batang-batangnya banyak yang miring merebah.” Mereka menikmati kerja keras. Panen padi menimbulkan kebahagiaan. Beras bakal tersedia. Mereka makan nasi tanpa takut kelaparan dan siksa kemarau. Novel pun berhasil meyakinkan anak-anak bahwa makanan pokok rakyat Indonesia adalah beras.
_______
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
.jpg)
Terimakasih telah berkomentar!