Oleh Kabut
Pada hari yang tidak ada janjian, seorang menteri “terpaksa” menjawab dengan cepat dan singkat. Jawaban yang terekam kamera. Maka, tayangan yang beredar membuat orang-orang memiliki alasan mencipta guyonan yang mengandung ejekan. Yang dibahas adalah buku dan pengarang (Barat). Menteri itu menganjurkan agar anak-anak membaca buku-buku yang digarap oleh para pengarang Barat. Ia justru kebablasan menilai buku garapan orang Indonesia. Menteri yang seolah memihak bacaan-bacaan dari Barat.
Hari-hari yang ramai dengan celotehan para pengarang, pembaca, dan pengamat buku anak sejenak menjadi hiburan yang (tidak) bermutu. Polemik buku muncul tanpa tulisan-tulisan panjang, tak ada seminar, dan omongan tandingan yang serius. Jadi, kita memang ditakdirkan hanya mengikuti “gegeran” perbukuan tak melebihi selusin hari.
Kita tidak mau ikut-ikutan bikin ruwet meski masih berhak membahas bacaan anak. Yang dilakukan adalah membaca buku anak, yang terbitan awalnya seratusan tahun yang lalu. Menteri dan para pemberi tanggapan mungkin belum pernah mengetahui atau membacanya. Kita sedang berusaha mengingat dan memuliakan bacaan lama, yang diniatkan sebagai bacaan anak di Nusantara, akhir abad XIX.
Buku yang terkenang berjudul Sobat Anak-Anak gubahan Lie Kim Hok. Namanya tidak mengesankan sebagai pengarang dari Barat atau Eropa. Dulu, buku itu penting untuk bacaan sedikit anak di Nusantara yang sudah berkemampuan membaca dalam aksara Latin. Anak-anak yang sudah mendapatkan dampak sekolahan atau mendapat didikan istimewa agar melek-baca. Buku lawas diterbitkan lagi oleh Buku Katta, 2026. Kita membutuhkan waktu penantian yang panjang saat perdebatan mutu buku anak di Indonesia tidak pernah selesai. Buku yang diterbitkan Zending Press pada 1884 itu berbahasa Melayu, yang memberi kita bujukan-bujukan sejarah, tidak selalu harus berpikiran bacaan mutakhir, abad XXI. Keberanian menerbitkan ulang seperti “tantangan” agar kita tidak meremehkan yang lama.
Lie Kim Hok, pengarang yang banyak terpengaruh dari buku-buku Barat, tak melupa memiliki rujukan kuat untuk segala cerita dari Tiongkok. Ia pun mengerti arus cerita yang mengakar dan bertumbuh di Nusantara. Yang paling kentara, ia memiliki perhatian yang besar atas kesusastraan di Barat. Maka, ia mengolah pengaruh-pengaruh melalui garapan tulisan dan kepentingan menerbitkan buku-buku. Sosok yang memiliki peran ganda: pengarang dan penerbit. Ia pun sibuk dalam terbitan surat kabar, yang memungkinkan beredarnya beragam pengaruh. Pada akhir abad XIX, ia meyakini bahwa surat kabar dan buku mengesahkan modernitas di Nusantara.
Ia moncer dalam kesusastraan yang digerakkan kaum peranakan Tionghoa. Novel-novel ditulis untuk santapan kaum dewasa. Namun, Lie Kim Hok pun serius dan rela dalam mengadakan bacaan untuk anak-anak. Peran yang sebenarnya berpengaruh besar dalam sejarah dan perkembangan bacaan anak di Indonesia, dari masa ke masa. Maka, Buku Katta yang menerbitkan ulang sengaja memberi tanda seru agar kita tidak kelamaan menanggapi ocehan menteri tentang buku anak dan Barat.
Buku berjudul Sobat Anak-Anak berisi puisi dan cerita (pendek). Lie Kim Hok memberi persembahan pada anak-anak yang sudah mengalami perubahan nasib dalam laju keaksaraan. Mereka menjadi pembaca yang istimewa.
Kita membaca puisi berjudul “Si Piin dan Si Praja”. Bacaan mengandung percakapan, yang menguak masalah pelajaran dan permainan bagi anak-anak. Yang disampaikan Piin pada Praja: Selamanya belajar saja/ Selamanya duduk bekerja/ Apa begitu mestinya orang?/ Jangan bodoh kau, Praja!/ Tinggal itu buku di meja/ Kita main sekarang. Pada akhir abad XIX, benda bernama buku dan peristiwa orang belajar ilmu-ilmu kadang dianggap aneh. Mereka dituduh “menghabiskan” waktu. Yang membaca buku, yang kehilangan dunia senang-senang.
Jawaban yang diberikan: Selamanya saja bermain/ Selamanya tak kerja lain/ Apa patut orang begitu?/ Jangan bodoh kau, In!/ Kerjaan kita mesti berjalan/ Simpan kaleci itu. Yang tidak boleh terlupa adalah paduan selaras: belajar dan bekerja. Orang yang ingin maju tentu “bernafsu” belajar dan memiliki ketekunan dalam bekerja. Ia tidak mau dikutuk bodoh. Ia melawan godaan kemalasan. Piin ingin mencipta hidup yang seru tapi Parja selalu menganggap bermain itu kesenangan tiada tanding.
Penentu dari “dunia lama” dan “dunia baru” dalam puisi gubaha Lie Kim Hok adalah buku. Anak-anak pada abad XIX yang membaca puisi itu menjadi saksi atas perubahan besar yang terjadi di Nusantara. Mereka diakrabkan dengan buku-buku. Mereka memiliki peran terhormat sebagai pembaca buku. Di tangan, ada buku. Di atas meja, ada buku. Kaum buku berkembang di Nusantara, yang membedakan mereka dengan keriuhan “kaum lisan”. Jadi puisi mengenai buku itu cocok untuk anak-anak yang perlahan gandrung buku menjelang pergantian abad. Yang menjadi bukti dan indah adalah akhir puisi: Si Piin lantas simpan kalecinya/ Ke dalam saku bajunya/ Sembari tertawa/ Ia lantas ambil bukunya/ Terus duduk dekat sobatnya/ membaca buku berdua. Peristiwa mereka, peristiwa yang menakjubkan, yang membuat Nusantara berubah dalam beragam pengaruh, terutama pengaruh dari Barat. Dua anak yang beruntung saat Nusantara ingin berpindah dari gelap menuju terang.
Kita berganti membaca cerita yang berjudul “Tenu Kain”. Tokoh yang diceritakan adalah anak perempuan bernama Saeni. Cerita yang khas Nusantara berlatar abad XIX. Lie Kim Hok bertugas merekam zaman, menghadirkan manusia-manusia dalam cerita yang sederhana tapi “menerangkan” lakon hidup yang berpijak semangat. Kita yang membaca cerita tanpa mengetahui nama pengarang mungkin menyangka ada kecondongan dalam masalah agama dan gender.
Yang ditulis Lie Kim Hok: “Anak perempuan dari Haji Usman ada satu anak yang suka sekali sama pelajaran. Si Saeni namanya anak itu. Ibu bapaknya sayang sekali sama dia karena saban hari si Saeni itu suka bekerja, suka belajar ini dan itu. Kalau ibunya kata apa-apa, selamanya ia menurut, tidak sekali ia tahu bantahan. Baik sekali si Saeni itu, sobatku orang lain juga sayang sama dia. Tempo si Saeni sudah besar sedikit, ibunya panggilin dia satu perempuan yang bisa sekali menenun kain. Perempuan itu mesti menjadi gurunya si Saeni. Ia ajarin si Saeni tenun kain.” Anak-anak yang membaca buku garapan Lie Kim Hok merasa mendapat contoh atau panuta. Saeni yang suka belajar dan bekerja makin terpuji gara-gara kepatuhan dan sifat-sifat baik. Yang pasti Saeni berhasil melawan malas. Ia berada dalam takdir keberuntungan setelah rajin belajar dan bersungguh-sungguh dalam kerja.
Buku lama yang terbit lagi belum tentu segera mendapat perhatian dan pembahasan orang-orang di Indonesia, yang setiap hari terbujuk ribut-ribut. Kita semestinya berani mengajukan buku berjudul Sobat Anak-Anak dalam adu pemahaman mengenai buku, anak, modernitas, kolonialisme, dan keindonesiaan. Buku itu referensi yang menakjubkan saat kita mau menepi sebentar dari kehebohan politik dan kelinglungan kebijakan perbukuan di Indonesia.
_______

Terimakasih telah berkomentar!