Thursday, August 20, 2026

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu | Ketika Media Sosial Menjadi Kitab Suci Manusia

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu


Pada zaman dulu, banyak orang bertanya kepada orang tua, guru, ulama, atau membaca buku sebelum mereka mengambil kesimpulan. Hari ini? Banyak orang cukup membuka media sosial. Apa yang viral dianggap benar. Apa yang sering muncul dianggap fakta. Apa yang diucapkan influencer dianggap hukum kehidupan. Seolah-olah algoritma telah naik pangkat menjadi nabi, dan halaman "For You Page" berubah menjadi kitab suci baru.

Yang lebih menyedihkan, banyak orang tidak lagi bertanya, "Apakah ini benar?" Mereka hanya bertanya, "Berapa juta views-nya?" Padahal lalat itu datang berbondong-bondong ke tempat sampah dan banyaknya lalat yang datang ke tempat sampah, tidak pernah menjadi bukti bahwa tempat itu bersih.

Media sosial memang luar biasa. Media sosial bisa menjadi ladang ilmu, dakwah, bisnis, bahkan silaturahmi. Tetapi, ketika manusia menyerahkan cara berpikirnya kepada algoritma media sosial, maka saat itulah masalah dimulai. Algoritma tidak peduli mana yang benar. Algoritma hanya peduli mana yang membuat orang berhenti menggulir layar. Oleh sebab itu, kemarahan lebih laku daripada ketenangan. Sindiran lebih laris daripada nasihat. Gosip lebih disukai daripada fakta. Pamer lebih ramai daripada kesederhanaan. Lama-kelamaan, standar hidup manusia pun ikut berubah.

A. Ketika Pernikahan Diukur dengan Isi Rekening

Salah satu contoh yang paling nyata adalah cara sebagian orang memandang laki-laki. Di media sosial, tidak sulit menemukan konten yang menghina laki-laki bergaji UMR. Ada yang berkata, "Gajinya cuma setara biaya makan dan grooming anjing." Ada yang terang-terangan mengatakan guru honorer atau laki-laki bergaji kecil tidak pantas menikah.          

Standar yang dibangun semakin aneh. Katanya laki-laki baru layak menikah kalau sudah bergaji dua digit, punya mobil, rumah sendiri, bisnis yang sukses, investasi saham bluechip, properti, bahkan mampu mengajak istri liburan ke luar negeri. Kalau belum punya semua itu, ya jangan menikah. Seolah-olah akad nikah adalah proses rekruitmen CEO perusahaan multinasional.

Padahal pernikahan adalah ibadah, bukan pameran aset. Yang lebih ironis, ada persepsi bahwa menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) itu tidak masalah selama pengantinnya kaya, punya rumah, mobil, bisnis besar, atau pekerjaan bergaji tinggi. Namun, kalau menikah di KUA karena kondisi ekonomi sederhana, sebagian orang justru memandang rendah.

Betapa kacaunya cara berpikir seperti itu. KUA bukan simbol kemiskinan. KUA adalah tempat akad yang sah, sederhana, dan penuh keberkahan. Yang membuat pernikahan mulia bukan gedungnya, tetapi akadnya. Bukan dekorasinya, tetapi niatnya.

Ironisnya, sebagian laki-laki yang sedang berjuang membangun karier justru diberi cap "mokondo" hanya karena belum mapan menurut standar media sosial. Padahal tidak semua laki-laki yang sedang merintis adalah pemalas atau ingin bergantung pada perempuan. Banyak di antara mereka sedang bekerja keras, menabung, belajar, dan memperbaiki diri agar kelak mampu menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab. Media sosial sering kali menghapus proses, lalu hanya memuja hasil. Padahal setiap rumah besar yang berdiri hari ini pernah dimulai dari sebidang tanah kosong.

B. Kenapa Sih Menilai Manusia Seperti Menilai Barang?

Yang paling menyakitkan adalah ketika harga seorang laki-laki ditentukan oleh angka di rekeningnya. Bukan lagi akhlaknya. Bukan lagi agamanya. Bukan lagi tanggung jawabnya. Yang dihitung hanya saldo. Kalau rekening tebal, semua kekurangan seolah menghilang. Kalau rekening tipis, semua kebaikan dianggap tidak ada. Padahal manusia bukan barang di etalase mal yang ditempeli label harga. Kalau kekayaan menjadi satu-satunya ukuran, berarti kita sedang membangun pasar, bukan keluarga.

Dalam Islam memang tidak salah jika seorang perempuan menginginkan calon suami yang mampu secara finansial. Itu adalah hak si perempuan. Kemampuan memberi nafkah merupakan salah satu aspek penting dalam rumah tangga. Namun, hak itu jangan berubah menjadi kesombongan. Sebelum perempuan bertanya, "Apakah dia kaya?", ada baiknya bertanya kepada diri sendiri, "Apakah aku juga sedang memantaskan diri?"

Kalau menginginkan pasangan berkualitas, maka jadilah pribadi yang berkualitas. Kalau menginginkan pasangan yang saleh, maka perbaikilah diri. Kalau menginginkan pasangan yang bertanggung jawab, belajarlah menjadi pribadi yang juga bertanggung jawab. Pernikahan bukan hanya soal mencari orang terbaik. Pernikahan juga tentang menjadi orang yang layak bagi pasangan yang diharapkan.

Ingat, cermin adalah benda yang tidak pernah berbohong. Kalau kita hanya sibuk menuntut kualitas orang lain, tapi kita lupa memperbaiki kualitas diri kita, itu sama saja seperti ingin membeli pesawat, tapi ditukar pakai beras ketan. Keinginan boleh tinggi, tetapi harus diiringi usaha untuk memantaskan diri.

C. Uang Bisa Dicari Bersama Kok

Banyak pasangan sukses hari ini memulai hidup dari nol. Ada yang tinggal di kontrakan kecil, mengendarai motor bekas, tidur di kasur yang biasa saja, makan tahu tempe bihun ginseng jawa. Namun, mereka bertahan karena saling percaya serta saling menguatkan satu sama lain. Uang bisa dicari bersama. Bisnis bisa dibangun bersama. Rumah bisa dicicil bersama. Mobil bisa dibeli nanti. Liburan ke luar negeri bisa direncanakan kemudian. Tetapi akhlak yang baik? Kejujuran? Tanggung jawab? Rasa takut kepada Allah? Semua itu bukanlah barang yang bisa dibeli ketika rekening sudah penuh.

Orang miskin bisa saja belajar bisnis dan berhasil membangun bisnis yang sukses. Tapi, orang yang terbiasa berdusta akan sulit menjadi jujur hanya karena hartanya bertambah. Orang yang kasar tidak otomatis menjadi lembut ketika membeli mobil baru. Orang yang tidak bertanggung jawab tidak berubah menjadi suami yang baik hanya karena gajinya naik. Kita harus pahami bahwa akhlak adalah fondasi dan uang hanyalah bangunan. Ketika kita membangun rumah megah di atas pondasi yang rapuh, maka kita sedang menunggu waktu untuk runtuh.

D. Ketika Algoritma Menggantikan Agama

Sebenarnya masalah terbesar media sosial bukan sekadar membuat orang kecanduan. Masalah yang sebenarnya adalah ketika media sosial mulai menentukan standar benar dan salah. Kalau banyak yang bilang laki-laki miskin tidak pantas menikah, kemudian orang ikut percaya. Kalau banyak yang bilang harga diri perempuan ditentukan banyaknya perhiasan dan pesta mewah, maka orang ikut percaya. Kalau banyak yang bilang laki-laki wajib kaya sebelum menikah, lalu orang ikut mengamini tanpa bertanya apakah ukuran itu sesuai dengan nilai agama atau hanya tren sesaat.

Padahal kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah "like". Kalau seluruh dunia sepakat mengatakan matahari terbit dari barat, maka faktanya matahari tetap terbit dari timur. Kebenaran tidak berubah hanya karena mayoritas orang melakukan atau mengikuti sesuatu.

E. Kita Harus Kembali Menjadi Manusia yang Berpikir

Jika media sosial sudah terlalu berisik, maka kita jangan ikut berteriak. Belajarlah kembali mendengar suara hati dan petunjuk agama. Ada beberapa langkah yang bisa kita dilakukan.

Pertama, jadikan agama sebagai standar utama daripada kita menjadikan media sosial sebagai referensi hidup. Tidak semua yang viral di media sosial itu layak ditiru.

Kedua, berhenti menilai manusia hanya dari penghasilannya. Lihat juga akhlak, tanggung jawab, etos kerja, serta kesungguhannya dalam memperbaiki diri.

Ketiga, bagi laki-laki, jangan menjadikan kritik di media sosial sebagai alasan untuk berhenti berjuang. Terus tingkatkan ilmu, keterampilan, penghasilan, dan kemampuan memberi nafkah. Ikhtiar memperbaiki kondisi ekonomi adalah bagian dari tanggung jawab.

Keempat, bagi perempuan, memiliki standar dalam memilih pasangan adalah hak kalian. Tapi, bangunlah standar yang adil dan realistis. Jika kalian para perempuan menginginkan pasangan yang berkualitas, maka teruslah meningkatkan kualitas diri dalam ilmu, akhlak, kedewasaan, dan tanggung jawab.

Kelima, hentikan budaya mempermalukan orang yang sedang merintis kehidupan. Hari ini seseorang mungkin masih bergaji UMR, tetapi lima tahun lagi bisa menjadi pemimpin perusahaan. Sebaliknya, orang yang hari ini bergelimang harta, maka bisa jadi dia akan kehilangan semua hartanya. Roda kehidupan terus berputar, sedangkan karakter dan amalan ibadah seringkali menetap.

Keenam, bangun rumah tangga dengan pola pikir "bertumbuh bersama", bukan "menikmati hasil jadi". Okelah kita bisa menikah dengan orang sudah siap mental, fisik, ilmu, bahkan pengalaman. Tapi, yang namanya pernikahan itu bukan kontrak untuk mencari investor, melainkan perjanjian untuk saling membantu menuju kehidupan yang lebih baik, walau kita menikah dengan orang yang sudah punya ilmu dan pengalaman.

Kita semua harus sadar dan paham bahwa media sosial hanyalah cermin yang memantulkan apa yang sering kita lihat. Masalahnya, banyak orang lupa bahwa cermin tidak pernah menentukan siapa diri kita. Yang menentukan adalah nilai yang kita pegang. Kita jangan biarkan algoritma lebih dipercaya daripada agama. Kita jangan biarkan isi rekening lebih dihormati daripada akhlak. Jangan biarkan pesta pernikahan lebih dimuliakan daripada akadnya.

Sebab, ketika media sosial telah menjadi kitab suci manusia, maka manusia tidak lagi mencari kebenaran. Mereka hanya mencari validasi. Dan ketika validasi menjadi tujuan hidup, maka yang terjadi adalah orang miskin akan terus merasa hina, sedangkan orang kaya akan terus merasa kurang sehingga akhirnya menindas yang lemah, dan yang paling berbahaya adalah manusia yang perlahan lupa bahwa di hadapan Allah, yang paling mulia bukanlah yang paling banyak hartanya, melainkan yang paling bertakwa.


______

Penulis

Afrian Rahardyaning Pangestuguru Matematika dan Bahasa Inggris. Pernah menjadi guru IPA dan IPS juga.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


 


Terimakasih telah berkomentar!