Esai Afrian Rahardyaning Pangestu
Pada zaman dulu, banyak orang bertanya kepada orang tua, guru, ulama, atau membaca buku sebelum mereka mengambil kesimpulan. Hari ini? Banyak orang cukup membuka media sosial. Apa yang viral dianggap benar. Apa yang sering muncul dianggap fakta. Apa yang diucapkan influencer dianggap hukum kehidupan. Seolah-olah algoritma telah naik pangkat menjadi nabi, dan halaman "For You Page" berubah menjadi kitab suci baru.
Yang lebih menyedihkan, banyak orang tidak lagi bertanya,
"Apakah ini benar?" Mereka hanya bertanya, "Berapa juta
views-nya?" Padahal lalat itu datang berbondong-bondong ke tempat sampah
dan banyaknya lalat yang datang ke tempat sampah, tidak pernah menjadi bukti
bahwa tempat itu bersih.
Media sosial memang luar biasa. Media sosial bisa menjadi
ladang ilmu, dakwah, bisnis, bahkan silaturahmi. Tetapi, ketika manusia
menyerahkan cara berpikirnya kepada algoritma media sosial, maka saat itulah
masalah dimulai. Algoritma tidak peduli mana yang benar. Algoritma hanya peduli mana yang membuat orang berhenti menggulir layar. Oleh
sebab itu, kemarahan lebih laku daripada ketenangan. Sindiran lebih laris
daripada nasihat. Gosip lebih disukai daripada fakta. Pamer lebih ramai
daripada kesederhanaan. Lama-kelamaan, standar hidup manusia pun ikut berubah.
A. Ketika Pernikahan Diukur dengan
Isi Rekening
Salah satu contoh yang paling nyata adalah cara sebagian
orang memandang laki-laki. Di media sosial, tidak sulit menemukan konten yang
menghina laki-laki bergaji UMR. Ada yang berkata, "Gajinya cuma setara
biaya makan dan grooming anjing." Ada yang terang-terangan
mengatakan guru honorer atau laki-laki bergaji kecil tidak pantas menikah.
Standar yang dibangun semakin aneh. Katanya laki-laki
baru layak menikah kalau sudah bergaji dua digit, punya mobil, rumah sendiri,
bisnis yang sukses, investasi saham bluechip, properti, bahkan mampu
mengajak istri liburan ke luar negeri. Kalau belum punya semua itu, ya jangan
menikah. Seolah-olah akad nikah adalah proses rekruitmen CEO perusahaan
multinasional.
Padahal pernikahan adalah ibadah, bukan pameran aset.
Yang lebih ironis, ada persepsi bahwa menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) itu
tidak masalah selama pengantinnya kaya, punya rumah, mobil, bisnis besar, atau
pekerjaan bergaji tinggi. Namun, kalau menikah di KUA karena kondisi ekonomi
sederhana, sebagian orang justru memandang rendah.
Betapa kacaunya cara berpikir seperti itu. KUA bukan
simbol kemiskinan. KUA adalah tempat akad yang sah, sederhana, dan penuh keberkahan.
Yang membuat pernikahan mulia bukan gedungnya, tetapi akadnya. Bukan
dekorasinya, tetapi niatnya.
Ironisnya, sebagian laki-laki yang sedang berjuang
membangun karier justru diberi cap "mokondo" hanya karena belum mapan
menurut standar media sosial. Padahal tidak semua laki-laki yang sedang
merintis adalah pemalas atau ingin bergantung pada perempuan. Banyak di antara
mereka sedang bekerja keras, menabung, belajar, dan memperbaiki diri agar kelak
mampu menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab. Media sosial sering kali
menghapus proses, lalu hanya memuja hasil. Padahal setiap rumah besar yang
berdiri hari ini pernah dimulai dari sebidang tanah kosong.
B. Kenapa Sih Menilai Manusia
Seperti Menilai Barang?
Yang paling menyakitkan adalah ketika harga seorang
laki-laki ditentukan oleh angka di rekeningnya. Bukan lagi akhlaknya. Bukan
lagi agamanya. Bukan lagi tanggung jawabnya. Yang dihitung hanya saldo. Kalau
rekening tebal, semua kekurangan seolah menghilang. Kalau rekening tipis, semua
kebaikan dianggap tidak ada. Padahal manusia bukan barang di etalase mal yang
ditempeli label harga. Kalau kekayaan menjadi satu-satunya ukuran, berarti kita
sedang membangun pasar, bukan keluarga.
Dalam Islam memang tidak salah jika seorang perempuan
menginginkan calon suami yang mampu secara finansial. Itu adalah hak si
perempuan. Kemampuan memberi nafkah merupakan salah satu aspek penting dalam
rumah tangga. Namun, hak itu jangan berubah menjadi kesombongan. Sebelum
perempuan bertanya, "Apakah dia kaya?", ada baiknya bertanya kepada
diri sendiri, "Apakah aku juga sedang memantaskan diri?"
Kalau menginginkan pasangan berkualitas, maka jadilah
pribadi yang berkualitas. Kalau menginginkan pasangan yang saleh, maka
perbaikilah diri. Kalau menginginkan pasangan yang bertanggung jawab,
belajarlah menjadi pribadi yang juga bertanggung jawab. Pernikahan bukan hanya
soal mencari orang terbaik. Pernikahan juga tentang menjadi orang yang layak
bagi pasangan yang diharapkan.
Ingat, cermin adalah benda yang tidak
pernah berbohong. Kalau kita hanya sibuk menuntut kualitas orang lain, tapi
kita lupa memperbaiki kualitas diri kita, itu sama saja seperti ingin membeli
pesawat, tapi ditukar pakai beras ketan. Keinginan boleh tinggi, tetapi harus
diiringi usaha untuk memantaskan diri.
C. Uang Bisa Dicari Bersama Kok
Banyak pasangan sukses hari ini memulai hidup dari nol.
Ada yang tinggal di kontrakan kecil, mengendarai motor bekas, tidur di kasur
yang biasa saja, makan tahu tempe bihun ginseng jawa. Namun, mereka bertahan
karena saling percaya serta saling menguatkan satu sama lain. Uang bisa dicari
bersama. Bisnis bisa dibangun bersama. Rumah bisa dicicil bersama. Mobil bisa
dibeli nanti. Liburan ke luar negeri bisa direncanakan kemudian. Tetapi akhlak
yang baik? Kejujuran? Tanggung jawab? Rasa takut kepada Allah? Semua itu
bukanlah barang yang bisa dibeli ketika rekening sudah penuh.
Orang miskin bisa saja belajar bisnis dan berhasil
membangun bisnis yang sukses. Tapi, orang yang terbiasa berdusta akan sulit menjadi
jujur hanya karena hartanya bertambah. Orang yang kasar tidak otomatis menjadi
lembut ketika membeli mobil baru. Orang yang tidak bertanggung jawab tidak
berubah menjadi suami yang baik hanya karena gajinya naik. Kita harus pahami
bahwa akhlak adalah fondasi dan uang hanyalah bangunan. Ketika kita membangun
rumah megah di atas pondasi yang rapuh, maka kita sedang menunggu waktu untuk
runtuh.
D. Ketika Algoritma Menggantikan
Agama
Sebenarnya masalah terbesar media sosial bukan sekadar
membuat orang kecanduan. Masalah yang sebenarnya adalah ketika media sosial
mulai menentukan standar benar dan salah. Kalau banyak yang bilang laki-laki
miskin tidak pantas menikah, kemudian orang ikut percaya. Kalau banyak yang
bilang harga diri perempuan ditentukan banyaknya perhiasan dan pesta mewah, maka
orang ikut percaya. Kalau banyak yang bilang laki-laki wajib kaya sebelum
menikah, lalu orang ikut mengamini tanpa bertanya apakah ukuran itu sesuai
dengan nilai agama atau hanya tren sesaat.
Padahal kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah
"like". Kalau seluruh dunia sepakat mengatakan matahari terbit dari
barat, maka faktanya matahari tetap terbit dari timur. Kebenaran tidak berubah
hanya karena mayoritas orang melakukan atau mengikuti sesuatu.
E. Kita Harus Kembali Menjadi
Manusia yang Berpikir
Jika media sosial sudah terlalu berisik, maka kita jangan
ikut berteriak. Belajarlah kembali mendengar suara hati dan petunjuk agama. Ada
beberapa langkah yang bisa kita dilakukan.
Pertama, jadikan agama sebagai standar utama daripada
kita menjadikan media sosial sebagai referensi hidup. Tidak semua yang viral di
media sosial itu layak ditiru.
Kedua, berhenti menilai manusia hanya dari
penghasilannya. Lihat juga akhlak, tanggung jawab, etos kerja, serta
kesungguhannya dalam memperbaiki diri.
Ketiga, bagi laki-laki, jangan menjadikan kritik di media
sosial sebagai alasan untuk berhenti berjuang. Terus tingkatkan ilmu,
keterampilan, penghasilan, dan kemampuan memberi nafkah. Ikhtiar memperbaiki
kondisi ekonomi adalah bagian dari tanggung jawab.
Keempat, bagi perempuan, memiliki standar dalam memilih
pasangan adalah hak kalian. Tapi, bangunlah standar yang adil dan realistis.
Jika kalian para perempuan menginginkan pasangan yang berkualitas, maka
teruslah meningkatkan kualitas diri dalam ilmu, akhlak, kedewasaan, dan
tanggung jawab.
Kelima, hentikan budaya mempermalukan orang yang sedang
merintis kehidupan. Hari ini seseorang mungkin masih bergaji UMR, tetapi lima
tahun lagi bisa menjadi pemimpin perusahaan. Sebaliknya, orang yang hari ini
bergelimang harta, maka bisa jadi dia akan kehilangan semua hartanya. Roda
kehidupan terus berputar, sedangkan karakter dan amalan ibadah seringkali
menetap.
Keenam, bangun rumah tangga dengan pola pikir
"bertumbuh bersama", bukan "menikmati hasil jadi". Okelah
kita bisa menikah dengan orang sudah siap mental, fisik, ilmu, bahkan
pengalaman. Tapi, yang namanya pernikahan itu bukan kontrak untuk mencari
investor, melainkan perjanjian untuk saling membantu menuju kehidupan yang
lebih baik, walau kita menikah dengan orang yang sudah punya ilmu dan
pengalaman.
Kita semua harus sadar dan paham bahwa media sosial
hanyalah cermin yang memantulkan apa yang sering kita lihat. Masalahnya, banyak
orang lupa bahwa cermin tidak pernah menentukan siapa diri kita. Yang
menentukan adalah nilai yang kita pegang. Kita jangan biarkan algoritma lebih
dipercaya daripada agama. Kita jangan biarkan isi rekening lebih dihormati
daripada akhlak. Jangan biarkan pesta pernikahan lebih dimuliakan daripada
akadnya.
Sebab, ketika media sosial telah menjadi kitab suci
manusia, maka manusia tidak lagi mencari kebenaran. Mereka hanya mencari
validasi. Dan ketika validasi menjadi tujuan hidup, maka yang terjadi adalah
orang miskin akan terus merasa hina, sedangkan orang kaya akan terus merasa
kurang sehingga akhirnya menindas yang lemah, dan yang paling berbahaya adalah manusia
yang perlahan lupa bahwa di hadapan Allah, yang paling mulia bukanlah yang
paling banyak hartanya, melainkan yang paling bertakwa.
______
Penulis
Afrian Rahardyaning Pangestu, guru Matematika dan Bahasa Inggris. Pernah menjadi guru IPA dan IPS juga.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!