Cerpen Serayu Gendis Ruhani
Aku pergi ke Jepang
berkat harta gono-gini selepas perceraian kami satu bulan yang lalu.
Kemungkinan besar dia masih mencintaiku sewaktu ia mengantarku ke bandara,
ciuman perpisahan itu mendarat di pipiku dan aku hanya membalasnya dengan
senyuman. Aku memutuskan untuk pergi ke kuil, menjalankan misi, satu pekan
sebelum aku mati. Tentu saja aku tidak mengatakan niatku yang sesungguhnya,
ketika ia bertanya, mengapa aku harus pergi ke Jepang, aku bilang, “aku akan
menghabiskan uangmu dengan caraku sendiri.”
Jadi, mari kita pikirkan
bagaimana cara terbaik untuk mengakhiri hidup. Aku berencana membicarakannya dengan
pendeta kuil hari ini. Opsi pertama yang ada di kepalaku adalah, aku akan
menulis ribuan papan doa selama satu pekan penuh, dan dengan sedikit katalis,
aku akan mati kelelahan.
Sembilan puluh jam
perjalanan dari Nagoya menuju Prefektur Mie, aku belum lelah sama sekali, ketika
aku tiba di depan Torii, pria dengan hakama biru gelap sampai dengan mata kaki
itu sedang menyapu tanah, entah dari apa karena daun belum ingin gugur. Aku
tidak yakin dia lancar berbahasa Inggris, atau aku yang tidak percaya diri
dengan kemampuanku dalam berbahasa Jepang, jadi, aku melewatinya begitu saja.
“Permisi.”
Aku tersenyum getir, ia
berdiri tepat di hadapanku, tampak dari mataku giginya berjajar rapi semacam
pagar yang sudah kekuningan, kepalanya botak dan berkacamata. Tidak kusadari
kapan tepatnya angin menerbangkan jubah putihnya. Dia membawaku masuk ke dalam
kuil seperti sudah mengetahui kedatanganku jauh-jauh hari. Dan saat aku masuk,
kerap pula kupikirkan kemungkinan bahwa aku akan diusir, ternyata tidak. Dia
menyuguhkan aku secangkir teh, dan memintaku duduk. Dia pikir aku seperti turis
lainnya, bagaimana jika dia tahu aku kesini untuk mati.
Kendati aku sudah
menunggu selama lima belas menit, teh dalam porselen itu tidak kunjung
dituangkan. Aku sudah merasa kesemutan ketika aku menoleh dan mendapati pria
penyapu halaman itu sudah duduk di belakangku. Tidak ada yang mulai bicara, aku
merasa keheningan benar-benar besar serupa raksasa.
Jadi, aku berinisiatif
memperkenalkan namaku, asal negaraku dan tujuanku kemari dengan bahasa Jepang
yang gagap. Mendengar itu, pendeta mengangguk-angguk seperti burung perkutut.
Lantas ia mulai menuangkan teh sampai cangkir itu penuh. Aku akan menganggap
ini sebagai sebuah tanda bahwa aku telah diterima
“Sial, pahit sekali!”
Rupanya mereka sudah
menduga bahwa aku akan memuntahkannya. Aku masih merasakan langit-langit
mulutku meninggalkan rasa sepat yang tidak terkira. “Kau belum siap mati,”
katanya. Sesungguhnya, aku tidak sedang dirasuki perasaan-perasaan muram.
Perceraianku sama sekali tidak memerangiku, hanya saja untuk tetap hidup, harus
kujelaskan arti kekalahan ini, dan aku belum menemukannya.
Suatu Rabu di bulan
sembilan, kenanganku tentang siang itu adalah yang paling getir dan terasa
lebih lengkap ketika ia pulang ke apartemen pada hari yang mendung. Dengan
penampilan paling berantakan ia bilang, “Aku ingin kita bercerai.”
Awalnya aku mengira ia
bercanda dan memberinya secangkir kopi. “Daripada itu, kau lebih perlu mandi
dibandingkan dengan perceraian.” Dia menggeleng serius, “bagaimana dengan
pizza? Mau? Keju? Dia menggeleng untuk sekian banyak opsi yang biasa aku
tawarkan ketika kami tengah bertengkar.
“Aku serius.”
Seperti pasangan
kebanyakan, aku bertanya soal apa yang membuat ia begitu murka. Dia bilang,
tidak ada yang salah dengan diriku. Ini aneh, jika kesalahan manusia dianggap
seperti sebuah gigi berlubang yang mengerogotimu dari dalam, barangkali seperti
itulah kenyataan yang ingin dia ungkapkan padaku. Setelah beberapa lama aku
lelah dengan pertanyaanku sendiri. Aku mulai curiga bahwa ia menghukumku tanpa
berpikir panjang.
Jadi kami sepakat bercerai.
Keesokan harinya,
kepalaku masih pusing dan tidak mendapati seseorang untuk dicium di pagi hari.
Aku hampir lupa apa yang kami obrolkan, tapi aku ingat dia membawa koper untuk
kembali ke rumah orang tuanya. Saat aku membuka jendela untuk meredakan mabuk,
aku merasa angin benar-benar menamparku. Bagus, itu membuatku sadar.
Sepanjang proses
perceraian kami, aku merasa dia mulai menyukai perangaiku yang putus asa.
Kendati aku menatapnya dengan gemetar, ia sama sekali tidak mengizinkan aku
untuk membawanya pulang. “Sudah, cukup. Aku benar-benar tidak bisa bersamamu
lagi.” Kalimat itu seperti menarikku ke masa-masa awal pernikahan kami. Saat
aku merasa tidak ada perbedaan yang menghalangi dua manusia untuk jatuh cinta.
Memilikinya sebagai pasangan seperti sebuah persyaratan hidup bagiku, atau ia
adalah hidup itu sendiri, hidup yang begitu memuaskan.
“Semoga kau bahagia,”
imbuhnya sembari memberikan akta cerai.
Aku kembali menyesap teh
yang semula kumuntahkan. Entah karena haus sebab sudah bercerita panjang lebar
dengan susah payah, atau karena aku sudah siap mati, rasa sepatnya tidak
terlalu menusuk lidah seperti pertama kali aku mencicipinya.
“Sekarang tidak terlalu
pahit, apa aku sudah boleh mati?”
Pendeta lagi-lagi
mengangguk. Ia mengisyaratkan pria penyapu halaman dengan menaikan satu tangan
lewat jubah putihnya. Aku celingukan karena tidak tahu hal apa yang selanjutnya
akan terjadi, tetapi aku berusaha untuk menurut. Mereka memberikan aku Miko untuk
dikenakan. Sebuah hakama merah dengan atasan seputih tulang.
“Bawa ia berkeliling.”
Kami menjaga jarak hampir
setengah meter, aku membiarkan dia untuk berjalan di depan. Pria penyapu
halaman itu mengenalkan dirinya dengan nama Tsurukawa. Aku mengangguk, dia
sudah tahu namanku. “Jadi sebenarnya, apa yang membuatmu ingin mati? Apakah
kematian akan memuaskan hasratmu?”
“Barangkali begitu.”
Aku tidak memiliki
jawaban yang memusakan, oleh karena itu aku berada di sini. Berharap beberapa
ceramah dari pendeta akan membuatku lebih rela menuju kematian.
Sekonyong-konyong aku memperlihatkan kepasrahanku. Kami bersandar pada terali
di bagian belakang kuil. Di depannya ada kolam yang memantulkan wajah bulan.
Dan Tsurukawa mulai membaca sutra yang tidak aku mengerti artinya.
Perasaan kecewa mau tidak
mau menghampiriku. Hari ini, aku masih hidup, dan bukan itu tujuanku. Sambil
menatap atap-atap yang kosong, aku memikirkan rencana bunuh diri. Pilihan
pertama untuk gantung diri sudah harus gugur melihat sama sekali tidak ada penyangga
apa pun di sini, aku tidak bisa membuat simpul. Dapur? Pisau? Bagaimana dengan
memotong nadi?
Jadi, aku beregas ke
dapur dengan jalan yang Tsurukawa beri tahu kemarin. Aku mendapatinya sedang
menanak bubur dengan peluh menetes dari dahi. “Selamat pagi, kau sudah lapar?”
Aku menggeleng malu. Dari balik punggung Tsurukawa aku mencuri pandang ke sekitar
dapur, hampir tidak ada benda tajam. “Ada yang bisa aku bantu?” kataku, karena
tidak mendapat apapun.
Aku memergokinya
menatapku terlalu lama ketika kami sarapan di pelataran aula. Ia memberikan aku
semangkuk bubur hambar yang tidak enak sehingga mungkin saja Tsurukawa akan
marah kepadaku karena cara makanku yang tidak berselera. Tsurukawa punya mata
gelap yang mengintimidasi dengan rambut yang dipangkas pendek. Tubuhnya bersih
dan putih seperti hampir tidak pernah tersengat matahari. Aku mencoba tersenyum
ketika lagi-lagi mata kami bertemu, saat aku mencoba menelan bubur masakannya.
“Aku selalu menyukai
seseorang ketika sedang makan. Kau tau, manusia tidak bisa berbohong jika di
depan makanan,” kataku sambil mensejajarkan langkahnya.
“Benarkah? Kalau begitu,
aku menyukai cara makanmu, kau terlihat jujur ketika memakan buburku yang
hambar.” Tsurukawa tertawa. Mendengar kalimatnya, jantungku seperti tertusuk
sebilah pisau, yang langsung berdarah saat itu juga.
“Ada apa?” Tanyanya.
“Jawabanmu, sama persis
seperti apa yang pernah Isabela katakan padaku.”
“Isabela?”
“Mantan istriku.”
Tsurukawa terlihat
terkejut, aku tahu, itu bukan kesalahannya. Butuh keberanian bagiku mengatakan
bahwa aku adalah seorang lesbian. Sepanjang perjalanan aku mengenal diriku
sendiri, aku tidak pernah bisa tertarik dengan laki-laki. Sesaat setelah
Isabela meninggalkanku karena ia berhasil ‘sembuh’ dan jatuh cinta dengan
laki-laki, aku merasa kalah. Kekalahan yang tidak bisa aku terima hingga aku
ingin mati.
“Tsurukawa dengar, kau
harus membantuku untuk mati hari ini juga.”
Kali pertama aku menatap laki-laki dengan jarak yang begitu dekat. Bau badan Tsurukawa yang sangit seperti menyatu dengan wangi kuil yang lantas menenggelamkan aku lebih dalam pada keputusasaan.
“Izinkan aku mati dalam satu pekan.”
______
Penulis
Serayu G. Ruhani, dua puluh enam tahun yang
lalu lahir di Depok. Saat ini tidak memiliki kesibukan lain selain menjadi Ibu
rumah tangga. Beberapa kali sering
membunuh waktu dengan menulis. Beberapa
tulisan bosannya dapat ditemukan di akun instagram pribadinya @lynxamandaa. Saat
ini ia aktif tergabung di komunitas Area Penjelajah Sastra.
Email : veniaamanda25@gmail.com
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!