Sunday, September 6, 2026

Cerpen Serayu Gendis Ruhani | Satu Pekan Sebelum Kau Mati

Cerpen Serayu Gendis Ruhani

 


 Apakah di surga nanti, pekarangannya akan dilimpahi bunga kamelia dan penjaga-penjaga gagah semacam pohon cedar dengan jalur kerikil ke sepanjang aula doa? Ah, aku lupa, orang-orang di surga tidak peru repot berdoa. Tidak seperti aku. Amat tidak tahu diri bagi seseorang yang lupa caranya berdoa untuk bicara soal surga.

 

Aku pergi ke Jepang berkat harta gono-gini selepas perceraian kami satu bulan yang lalu. Kemungkinan besar dia masih mencintaiku sewaktu ia mengantarku ke bandara, ciuman perpisahan itu mendarat di pipiku dan aku hanya membalasnya dengan senyuman. Aku memutuskan untuk pergi ke kuil, menjalankan misi, satu pekan sebelum aku mati. Tentu saja aku tidak mengatakan niatku yang sesungguhnya, ketika ia bertanya, mengapa aku harus pergi ke Jepang, aku bilang, “aku akan menghabiskan uangmu dengan caraku sendiri.”

 

Jadi, mari kita pikirkan bagaimana cara terbaik untuk mengakhiri hidup. Aku berencana membicarakannya dengan pendeta kuil hari ini. Opsi pertama yang ada di kepalaku adalah, aku akan menulis ribuan papan doa selama satu pekan penuh, dan dengan sedikit katalis, aku akan mati kelelahan.

 

Sembilan puluh jam perjalanan dari Nagoya menuju Prefektur Mie, aku belum lelah sama sekali, ketika aku tiba di depan Torii, pria dengan hakama biru gelap sampai dengan mata kaki itu sedang menyapu tanah, entah dari apa karena daun belum ingin gugur. Aku tidak yakin dia lancar berbahasa Inggris, atau aku yang tidak percaya diri dengan kemampuanku dalam berbahasa Jepang, jadi, aku melewatinya begitu saja.

 

“Permisi.”

 

Aku tersenyum getir, ia berdiri tepat di hadapanku, tampak dari mataku giginya berjajar rapi semacam pagar yang sudah kekuningan, kepalanya botak dan berkacamata. Tidak kusadari kapan tepatnya angin menerbangkan jubah putihnya. Dia membawaku masuk ke dalam kuil seperti sudah mengetahui kedatanganku jauh-jauh hari. Dan saat aku masuk, kerap pula kupikirkan kemungkinan bahwa aku akan diusir, ternyata tidak. Dia menyuguhkan aku secangkir teh, dan memintaku duduk. Dia pikir aku seperti turis lainnya, bagaimana jika dia tahu aku kesini untuk mati.

 

Kendati aku sudah menunggu selama lima belas menit, teh dalam porselen itu tidak kunjung dituangkan. Aku sudah merasa kesemutan ketika aku menoleh dan mendapati pria penyapu halaman itu sudah duduk di belakangku. Tidak ada yang mulai bicara, aku merasa keheningan benar-benar besar serupa raksasa.

 

Jadi, aku berinisiatif memperkenalkan namaku, asal negaraku dan tujuanku kemari dengan bahasa Jepang yang gagap. Mendengar itu, pendeta mengangguk-angguk seperti burung perkutut. Lantas ia mulai menuangkan teh sampai cangkir itu penuh. Aku akan menganggap ini sebagai sebuah tanda bahwa aku telah diterima

 

“Sial, pahit sekali!”

 

Rupanya mereka sudah menduga bahwa aku akan memuntahkannya. Aku masih merasakan langit-langit mulutku meninggalkan rasa sepat yang tidak terkira. “Kau belum siap mati,” katanya. Sesungguhnya, aku tidak sedang dirasuki perasaan-perasaan muram. Perceraianku sama sekali tidak memerangiku, hanya saja untuk tetap hidup, harus kujelaskan arti kekalahan ini, dan aku belum menemukannya.


Suatu Rabu di bulan sembilan, kenanganku tentang siang itu adalah yang paling getir dan terasa lebih lengkap ketika ia pulang ke apartemen pada hari yang mendung. Dengan penampilan paling berantakan ia bilang, “Aku ingin kita bercerai.”

 

Awalnya aku mengira ia bercanda dan memberinya secangkir kopi. “Daripada itu, kau lebih perlu mandi dibandingkan dengan perceraian.” Dia menggeleng serius, “bagaimana dengan pizza? Mau? Keju? Dia menggeleng untuk sekian banyak opsi yang biasa aku tawarkan ketika kami tengah bertengkar.

 

“Aku serius.”

 

Seperti pasangan kebanyakan, aku bertanya soal apa yang membuat ia begitu murka. Dia bilang, tidak ada yang salah dengan diriku. Ini aneh, jika kesalahan manusia dianggap seperti sebuah gigi berlubang yang mengerogotimu dari dalam, barangkali seperti itulah kenyataan yang ingin dia ungkapkan padaku. Setelah beberapa lama aku lelah dengan pertanyaanku sendiri. Aku mulai curiga bahwa ia menghukumku tanpa berpikir panjang.

 

Jadi kami sepakat bercerai.

 

Keesokan harinya, kepalaku masih pusing dan tidak mendapati seseorang untuk dicium di pagi hari. Aku hampir lupa apa yang kami obrolkan, tapi aku ingat dia membawa koper untuk kembali ke rumah orang tuanya. Saat aku membuka jendela untuk meredakan mabuk, aku merasa angin benar-benar menamparku. Bagus, itu membuatku sadar.

 

Sepanjang proses perceraian kami, aku merasa dia mulai menyukai perangaiku yang putus asa. Kendati aku menatapnya dengan gemetar, ia sama sekali tidak mengizinkan aku untuk membawanya pulang. “Sudah, cukup. Aku benar-benar tidak bisa bersamamu lagi.” Kalimat itu seperti menarikku ke masa-masa awal pernikahan kami. Saat aku merasa tidak ada perbedaan yang menghalangi dua manusia untuk jatuh cinta. Memilikinya sebagai pasangan seperti sebuah persyaratan hidup bagiku, atau ia adalah hidup itu sendiri, hidup yang begitu memuaskan.

 

“Semoga kau bahagia,” imbuhnya sembari memberikan akta cerai.

 

Aku kembali menyesap teh yang semula kumuntahkan. Entah karena haus sebab sudah bercerita panjang lebar dengan susah payah, atau karena aku sudah siap mati, rasa sepatnya tidak terlalu menusuk lidah seperti pertama kali aku mencicipinya.

 

“Sekarang tidak terlalu pahit, apa aku sudah boleh mati?”

 

Pendeta lagi-lagi mengangguk. Ia mengisyaratkan pria penyapu halaman dengan menaikan satu tangan lewat jubah putihnya. Aku celingukan karena tidak tahu hal apa yang selanjutnya akan terjadi, tetapi aku berusaha untuk menurut. Mereka memberikan aku Miko untuk dikenakan. Sebuah hakama merah dengan atasan seputih tulang.

 

“Bawa ia berkeliling.”

 

Kami menjaga jarak hampir setengah meter, aku membiarkan dia untuk berjalan di depan. Pria penyapu halaman itu mengenalkan dirinya dengan nama Tsurukawa. Aku mengangguk, dia sudah tahu namanku. “Jadi sebenarnya, apa yang membuatmu ingin mati? Apakah kematian akan memuaskan hasratmu?”


“Barangkali begitu.”

 

Aku tidak memiliki jawaban yang memusakan, oleh karena itu aku berada di sini. Berharap beberapa ceramah dari pendeta akan membuatku lebih rela menuju kematian. Sekonyong-konyong aku memperlihatkan kepasrahanku. Kami bersandar pada terali di bagian belakang kuil. Di depannya ada kolam yang memantulkan wajah bulan. Dan Tsurukawa mulai membaca sutra yang tidak aku mengerti artinya.

 

Perasaan kecewa mau tidak mau menghampiriku. Hari ini, aku masih hidup, dan bukan itu tujuanku. Sambil menatap atap-atap yang kosong, aku memikirkan rencana bunuh diri. Pilihan pertama untuk gantung diri sudah harus gugur melihat sama sekali tidak ada penyangga apa pun di sini, aku tidak bisa membuat simpul. Dapur? Pisau? Bagaimana dengan memotong nadi?

 

Jadi, aku beregas ke dapur dengan jalan yang Tsurukawa beri tahu kemarin. Aku mendapatinya sedang menanak bubur dengan peluh menetes dari dahi. “Selamat pagi, kau sudah lapar?” Aku menggeleng malu. Dari balik punggung Tsurukawa aku mencuri pandang ke sekitar dapur, hampir tidak ada benda tajam. “Ada yang bisa aku bantu?” kataku, karena tidak mendapat apapun.

 

Aku memergokinya menatapku terlalu lama ketika kami sarapan di pelataran aula. Ia memberikan aku semangkuk bubur hambar yang tidak enak sehingga mungkin saja Tsurukawa akan marah kepadaku karena cara makanku yang tidak berselera. Tsurukawa punya mata gelap yang mengintimidasi dengan rambut yang dipangkas pendek. Tubuhnya bersih dan putih seperti hampir tidak pernah tersengat matahari. Aku mencoba tersenyum ketika lagi-lagi mata kami bertemu, saat aku mencoba menelan bubur masakannya.

 

“Aku selalu menyukai seseorang ketika sedang makan. Kau tau, manusia tidak bisa berbohong jika di depan makanan,” kataku sambil mensejajarkan langkahnya.

 

“Benarkah? Kalau begitu, aku menyukai cara makanmu, kau terlihat jujur ketika memakan buburku yang hambar.” Tsurukawa tertawa. Mendengar kalimatnya, jantungku seperti tertusuk sebilah pisau, yang langsung berdarah saat itu juga.

 

“Ada apa?” Tanyanya.

 

“Jawabanmu, sama persis seperti apa yang pernah Isabela katakan padaku.”


“Isabela?”

 

“Mantan istriku.”

 

Tsurukawa terlihat terkejut, aku tahu, itu bukan kesalahannya. Butuh keberanian bagiku mengatakan bahwa aku adalah seorang lesbian. Sepanjang perjalanan aku mengenal diriku sendiri, aku tidak pernah bisa tertarik dengan laki-laki. Sesaat setelah Isabela meninggalkanku karena ia berhasil ‘sembuh’ dan jatuh cinta dengan laki-laki, aku merasa kalah. Kekalahan yang tidak bisa aku terima hingga aku ingin mati.

 

“Tsurukawa dengar, kau harus membantuku untuk mati hari ini juga.”

 

Kali pertama aku menatap laki-laki dengan jarak yang begitu dekat. Bau badan Tsurukawa yang sangit seperti menyatu dengan wangi kuil yang lantas menenggelamkan aku lebih dalam pada keputusasaan.


 “Izinkan aku mati dalam satu pekan.”

 

______

 

Penulis

 

Serayu G. Ruhani, dua puluh enam tahun yang lalu lahir di Depok. Saat ini tidak memiliki kesibukan lain selain menjadi Ibu rumah tangga. Beberapa kali sering membunuh waktu dengan menulis. Beberapa tulisan bosannya dapat ditemukan di akun instagram pribadinya @lynxamandaa. Saat ini ia aktif tergabung di komunitas Area Penjelajah Sastra.

Email : veniaamanda25@gmail.com


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Terimakasih telah berkomentar!