Showing posts with label Rubrik Bahasa. Show all posts
Showing posts with label Rubrik Bahasa. Show all posts

Thursday, November 4, 2021

Esai Bahasa Husnol Akib | Khusnul Khotimah

Esai Husnol Akib



Beberapa hari yang lalu teman saya memberi kabar di grup WA bahwa salah satu keluarganya meninggal dunia. Kami pun berbelasungkawa dengan versi masing-masing. Ada yang mengucapkan "innaalillaahi wa innaa ilaihi roojiuun, semoga di ampuni segala dosa-dosanya dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran", ada yang hanya sekadar "turut berbelasungkawa ya", ada yang menuliskan "innaalillaahi wa innaa ilaihi roojiuun semoga husnul khotimah", dan salah satunya ada yang mengucapkan "semoga khusnul khotimah". 


Lalu ada yang bertanya, sebenarnya mana tulisan yang benar, kusnul khatimah atau khusnul khotimah? Dua kalimat inilah yang menjadi perdebatan besar kami sehingga grup menjadi ramai dan sengit layaknya pertandingan derbi El Clasico, derbi Milano, atau derbi Manchester.


Ada yang mengatakan husnul khatimah yang benar. Ada juga yang mengatakan khusnul khotimah yang benar karena mengacu pada ejaan lama, seperti tj dibaca c,  dibaca y, dj dibaca j, sementara kh dibaca h. Lalu, ada pula yang bertanya-tanya kepada Mbah Google sehingga perbincangan ini menjadi sangat serius dan tegang, lupa pada inti persoalan pertama tentang kematian si mbahnya teman kami.


Teman yang mencari jawaban di Google melemparkan pernyataan bahwa selama ini kalau kita mendoakan dengan kata khusnul ternyata artinya bukan 'baik'. Setelah baca-baca dari referensi yang benar itu husnul. Namun, ia masih menyelipkan kata "mungkin", seolah-olah tidak yakin dengan jawaban yang ia temukan di Google.


Saya pun berpendapat jika merujuk pada bahasa Arab, kalimat ini berarti 'semoga mendapatkan tempat yang terbaik'. Kata husnul artinya 'kebaikan' tanpa k atau c di depannya berarti diawali dengan huruf ح , tapi jika dia menggunakan kh atau ch berarti tulisan arabnya خ artinya akan berbeda dan bahkan tak mempunyai arti apa-apa. Jika kita merujuk pada ejaan yang tidak baku berarti kita tak menggunakan kalimat yang benar, bukankah begitu? 


Di tengah perdebatan itu, tak disangka ada yang mengajukan pertanyaan. 


"Kalo ها pake "h atau pake "hh"?"


Pertanyaan ini pun tak ada yang menjawab. Jika dijawab, pembahasan akan lebih panjang dan sengit layaknya pertarungan Nurmagedov dan Connor di dalam ring.


Ada salah satu yang menyatakan bahwa kalau mengacu KBBI, yang benar adalah husnulkhatimah, bukan khusnul khotimah atau chusnul chotimah, apalagi husnol seperti nama saya. Tapi, teman saya yang membenarkan itu lupa memberi jarak spasi pada tulisannya sehingga tulisannya pun belum bisa dibenarkan.


Saya pikir sudah selesai sampai di situ. Ternyata ada yang nyeletuk pada hal yang lebih spesifik.


"Kalau mengacu pada tujuan komunikasi, tulisan menjadi tidak penting, yang penting pesan tersampaikan". 


Nah!


Lalu seorang teman yang merasa dirinya ustaz pun menjawab. 


"Setahuku huruf kha dalam bahasa Arab kalau ditulis bahasa Indonesia itu dengan huruf h (dengan satu titik di bawah). Seperti hasan, kalau ditulis bahasa Arab pake kha (gimana nulisnya, HP-ku nggak bisa nulis Arab), tapi ejaan itu pun berubah-ubah. Jadi, mengikuti update terbaru. Kadang nggak banyak berubah juga, kadang cuma satu dua huruf yang berubah."


Nah, saya pun tambah bingung. Tiba-tiba ada lagi yang mengajukan pertanyaan.


"Ini yang benar yang mana, Insya Allah atau Insha Allah?"


Duh!




___

Penulis


Husnol Akib, pernah belajar di Kelas Esai Bahasa.







Kirim tulisanmu ke

redaksingewiyak@gmail.com


Thursday, October 28, 2021

Esai Bahasa Panji Pratama | Penjabat

  Esai Panji Pratama



Teman saya gerah. Dia ASN dan punya hak pilih. Dia tidak enak duduk saat tahu kabar bahwa kalau ASN sengaja mendukung salah satu calon kepala daerah secara terang-terangan akan dikenai sanksi. Dia makin tidak enak badan, jabatannya bisa hilang kalau saja jagoan calon kepala daerahnya tidak menang. Naik ke kepala; tidak enak kepala alias pusing, memikirkan nasib jadi pemegang jabatan yang kehilangan jabatan. Pesan moralnya: jabatan ternyata sementara.


Nah, yang saya tahu selama ini di Indonesia, jabatan itu melekat selamanya. Saya tahu karena saya buka Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dalam KBBI, jabatan itu berasal dari kata dasar jabat, yang artinya 'pegang'. Belum puas saya dengan arti 'pegang', saya telusuri lagi artinya. Arti pegang ya 'memegang'. Saya bedah lagi arti memegang, yang ternyata artinya 'menguasai'; 'mengurus atau memimpin'. Jadi, saya simpulkan, menjabat itu adalah 'menguasai'.


Kalau sudah bertemu dengan kata menguasai, manusia cenderung memiliki kemampuan atau kesanggupan untuk berbuat sesuatu. Menguasai seringkali berhubungan dengan kekuatan. Maka, tidak aneh kalau orang yang berkuasa akan melakukan apa saja untuk melanggenggengkan kekuasaannya. Masalahnya, menjadi kepala daerah itu ada masanya. Karena dibatasi itulah, terkadang jabatan jadi masalah.


Nah, yang bikin saya geleng-geleng adalah kata yang saat ini dipakai lumrah oleh seseorang yang memegang kekuasaan secara sementara itu adalah pejabat. Mengapa harus pejabat? Mengapa pejabat untuk mewakili seseorang yang berprofesi seperti itu?


Maksud saya bukan karena saya tidak menyukai orang tersebut, tetapi jika ditelisik dari kebahasaan, bukankah kata pejabat ini berasal dari kata berjabat? Begini, saya pakai kata lain sebagai pembanding, misalnya bertinju yang berarti 'berpukul-pukulan dengan tinju'. Karena asal katanya bertinju, kita punya padanan kata petinju sebagai profesi. Sebaliknya, jika berasal dari kata meninju yang sifatnya sekali-kali saja, tidak selamanya, kita akan menemukan kata peninju sebagai seseorang yang yang meninju.


Nah, dari satu perbandingan tersebut, seharusnya orang-orang yang memegang kekuasaan secara sementara itu digelari penjabat. Artinya, orang tersebut berprofesi sebagai seseorang yang menjabat kekuasaan (secara sementara). Nah, jika kita menggelari mereka pejabat, jangan salahkan mereka jika orang-orang yang identik dengan politik itu mau selama-lamanya memegang kekuasaan.




___

Penulis

Panji Pratama, S.S., M.Pd., lulusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran. Bergiat di Komunitas Pustaka Inspirasiku Sukabumi.




Kirim naskahmu ke

redaksingewiyak@gmail.com

Thursday, October 14, 2021

Esai Bahasa Tari Sn | Pemahaman Bahasa dengan Standar TOEFL dan UKBI

 Oleh Tari Sn



Seberapa baik kamu berbahasa Indonesia dibandingankan dengan berbahasa Inggris?


Saya mengenal seorang mahasiswa yang mengambil tes TOEFL dan mendapat nilai setara B2 yang artinya, dengan hasil tersebut, seseorang mempunyai kemampuan untuk memahami gagasan yang rumit hingga berinteraksi dengan fasih dan spontan dalam mengutarakan opini. Pada tahun yang sama, orang tersebut mengambil tes UKBI dan hasilnya justru lebih rendah jika disetarakan dengan nilai TOEFL yang dia dapat. 

Bukankah hal tersebut mengejutkan? Setelah saya telisik lebih lanjut, di lingkungan saya, ternyata beberapa masyarakat yang sejatinya berkewarganegaraan Indonesia justru lebih fasih berbahasa asing. Mengamati fenomena sosial ini, saya melakukan hipotesis dan menemukan beberapa hal menarik.


Masyarakat, khususnya kalangan siswa, merasa lebih penting memahami bahasa Inggris mulai dari menambah jumlah kosakata hingga memahami tatabahasanya secara keseluruhan. Hal ini juga diperburuk dengan tekanan dari sistem pendidikan seperti persyarakan masuk universitas dengan nilai TOEFL minimal dan tanpa pernah melakukan tes UKBI, yang dampaknya peserta didik lebih berfokus pada pengembangan bahasa Inggris. Adakah universitas yang melakukannya sebaliknya, memasukkan nilai minimal UKBI sebagai persyaratan masuk?


Pencampuran bahasa Inggris dan bahasa Indonesia faktor lainnya. Penggunaan dua bahasa dalam satu kalimat sudah menjamur dalam keseharian. Alih-alih mengatakan, “Seharusnya kita lebih sadar akan penggunaaan bahasa kita”. Sebagian orang justru lebih nyaman mencampurkan satu-dua kata berbahasa Inggris, “Well, kita harusnya lebih aware dengan bahasa kita”. 

Ada banyak sekali konteks percakapan yang seperti ini bahkan untuk acara resmi seperti pidato dalam forum terbuka. Pembicara kerap kali mencampurkan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dalam kalimat yang harusnya sederhana. Seolah teknik pencampuran bahasa ini membuat bobot pembicaraan lebih bermutu.

Jika kamu ingin membuat hipotesis sendiri, perhatikan ketika temanmu bicara, hitung jumlah bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang digunakannya dalam kalimat. Jika dia menggunakan lebih banyak kata berbahasa Inggris, selamat datang di era krisis identitas untuk mengutamakan bahasa Indonesia. Ada banyak kasus lain yang menarik dikaji sebenanarnya, misalnya nama toko yang kelihatan lebih bergengsi dengan penggunanan bahasa Inggris, menu makanan yang juga dialihbahasakan, hingga hegemoni yang melekat kalau pencampuran bahasa itu keren.

Apakah saya menolak pemakaian bahasa Inggris? Jelas tidak. Kita tidak bisa menolak arus globalisasi yang memaksa kita berkembang dan mempelajari bahasa baru. Tapi, tanyakan pada diri sendiri, seberapa bangga kamu memakai bahasa Indonesia dalam percakapan secara keseluruhan? Jangan-jangan, kita masih termasuk tipe, “Ah, well, gak ada salahnya mencampurkan penggunaan bahasa. Not a problem at all”. Maka, tidak mengherankan nilai TOEFL masyarakat melejit tinggi dibandingkan dengan nilai UKBI. Atau, jangan-jangan kamu juga baru mengetahui UKBI itu apa? Ah, well, baiknya kita berdalih saja, nilai tidak mencerminkan apa pun.




____

Penulis


Tari Sn, penulis lepas, pernah belajar di Grup WA Kelas Bahasa Indonesia.






Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

Thursday, September 30, 2021

Esai Bahasa Panji Pratama | Pribumi

 Esai Panji Pratama



Suatu hari sepulang kerja, saat saya hendak membuka pagar rumah—kebetulan rumah saya dekat dengan areal pesawahan sehingga banyak sanak-anak kampung yang bermain layang-layang—tiba-tiba, seorang anak berkaus merah putih berteriak kepada temannya, "Tong dilawan, eta mah budak pribumi. Musuh urang mah nu hareup."



Saya langsung menafsirkan sendiri, "Jangan melawan (layang-layang itu), itu millik anak pribumi. Musuh kita itu (layang-layang) yang di depan."


Saya menoleh dan tersenyum. Saya masuk ke dalam rumah dan terngiang-ngiang perkataan bocah itu.


Saya teringat sebuah peristiwa, saat para sosiolog, antropolog, ahli genetika, bahkan pengamat politik membicarakan sebuah kata yang sedang viral saat itu, yakni pribumi. Kalau tidak salah, saking panjangnya diskursus tentang pribumi, beberapa orang di negeri ini harus rela memilih satu di antara dua kubu. Entah siapa yang dimaksud dengan pribumi—yang saya tahu kedua kubu mengklaim hal yang sama.


Saya memutuskan masuk ke dalam rumah, melempar tas kerja, dan langsung menyusuri lemari buku saya. Entah apa yang ada di benak saya waktu itu. Kata pribumi membuat saya haus penjelasan. Lebih haus daripada kerongkongan saya yang baru lepas dari panasnya cuaca pancaroba. Apalagi saat saya menyadari bahwa saya adalah seseorang yang tidak dilahirkan dan dibesarkan dari kampung ini, tetapi saya sudah hampir delapan tahun tinggal di tempat yang cukup menyenangkan ini.


Beberapa buku saya jajarkan. Dari catatan pertama, saya menemukan sejarah kata pribumi yang berkenaan dengan sebutan Pemerintahan Kolonial Belanda terhadap penduduk Hindia Belanda atau disebut juga inlander. Dalam tulisan karya Profesor Ahmad Mansyur Suryanagara tersebut, kata pribumi, pada zaman penjajahan digunakan untuk memisahkan golongan masyarakat asli dengan masyarakat asing.


Dalam catatan selanjutnya, kata pribumi menjadi lebih luas maknanya sehingga sampai harus dihilangkan dalam kegiatan penyelenggaraan pemerintahan pada dua dekade. Dengan demikian, saya berpikir bahwa mungkin setelah dikeluarkannya keputusan ini, lema pribumi akan hilang juga di dalam KBBI. Akan tetapi ketika saya melirik KBBI terbaru, ternyata saya masih bisa menemukan kata pribumi dengan beberapa arti, yakni 'penghuni asli', yang berasal dari tempat yang bersangkutan: inlander.


Sebetulnya arti kata pribumi berbeda dengan frasa kelas sosial. Saya lebih berpendapat kata pribumi tersebut dipakai orang Indonesia untuk membawa pesan kebangsaan. Bisa jadi, nanti akan ada lema prilangit sebagai antonim dari pribumi, berkait dengan sifat bahasa yang manasuka dan dinamis. Nyatanya sampai sekarang bahasa Indonesia masih dipercaya sebagai bahasa dengan gramatikanya yang tidak pandang kasta. Bahasa Indonesia dipercaya lebih demokratis dibandingkan dengan bahasa lain.


Dari pemikiran ini, saya percaya kata-kata seorang bahasawan UPI Bandung, Chye Retty Isnendes, bahwa bahasa merupakan lambang yang mengandung tanda (semiotik), yang hidup secara linguistik kognitif pada setiap individu, sekaligus juga kolektif. Bahasa selain menjadi model, juga jadi komponen, pemancar, dan bahkan jadi pemancar bagi tanda yang lain sehingga tanda akan berhubungan dengan arti (semantik) yang bersifat manasuka sekaligus kolektif sosial.


Bahasa Indonesia sudah tercipta sebelum negara ini terbentuk. Sayangnya, perebutan makna terkadang terjadi pada wilayah tutur dari massa yang berbicara. Kecenderungan massa inilah yang mengartikan tanda itu menjadi bias.


Mungkin kata pribumi cocok dipakai di daerah pedesaan seperti di lingkungan saya. Karena memang, di ruang-ruang publik kota besar, orang lebih senang meng-Inggris. Maka dari itu, ketika orang mendengar kata pribumi diucapkan di kota besar, berasa lebih asing.


Sambil menenteng segelas air putih untuk melegakan kerongkongan, saya kembali ke beranda depan untuk melihat anak-anak yang sedari tadi bermain layang-layang. Anak berkaus merah putih berjalan lusuh sambil memberesi benang layangannya. Lalu, saya bertanya, "Ke mana layang-layangmu?"


"Disasar ku budak pribumi keneh? (Diserang tiba-tiba dari belakang oleh anak pribumi)," jawabnya loyo.





____

Penulis


Panji Pratama, S.S., M.Pd., lulusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran, pemerhati dan praktisi bahasa.





Kirim naskahmu ke

redaksingewiyak@gmail.com


Thursday, September 9, 2021

Esai Bahasa Neneng Hendriyani | Aku Bukan Orang Endonesia

 Esai Neneng Hendriyani



Saya gregetan sekali saat mendengar Ira Kusno mengatakan "Endonesia Raya" dalam acara debat capres dan cawapres tempo itu. Sontak saya terpikir, apa kita ini memang orang Endonesia bukan Indonesia? Padahal jelas sekali ditulis bahwa negara kita adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seharusnya presenter atau siapa pun harus mengucapkan Indonesia, bukan Endonesia. Mengapa demikian? Karena presenter merupakan salah satu orang yang memiliki peran penting dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bila ia salah, maka dapat dibayangkan berapa banyak pemirsa yang akan mengikuti jejaknya dan ikut latah mengucapkan kata "Endonesia".


Di lain kesempatan saya pun sering mendengar orang berkomentar, 


"Maklum Endonesia gitu loh." 


Tiap kali kita diskusi tentang berbagai hal yang sedang hangat di masyarakat, misalnya, tema korupsi gencar dilakukan para pemimpin daerah baru-baru ini. Lawan bicara kita senantiasa melontarkan kalimat seperti itu untuk meyakinkan bahwa pendapatnya benar dan sahih. Coba saja amati kalimat yang sering ditemui di warung-warung kopi anak muda zaman sekarang. 


"Ya elah, begitu aja repot. Endonesia gitu loh. Kalau enggak begini, bukan Endonesia."


Pengucapan Endonesia sambil disertai tawa di warung-warung kopi itu menimbulkan makna yang berbeda. Seolah-olah di negara yang bernama Endonesia, hal seperti itu adalah  wajar dan lazim terjadi. Apa iya begitu?


Pada kesempatan yang berbeda, saat masih menjadi anggota paduan suara wisudawan pun, salah seorang kawan melafalkan kata Indonesia dengan Endonesia, tanpa ragu. Kebetulan ia berposisi sebagai penyanyi sopran. Alhasil lengkingan suaranya terdengar sangat jelas sehingga kami berhasil membuat rektor dan tamu undangan melirik ke arah kami. Awalnya kami bangga sekaligus bahagia dilirik sedemikian rupa. Ternyata kami salah. Lirikan yang disertai senyum manis tersebut bukanlah bentuk apresiasi yang kami nantikan. Selesai acara, pelatih memarahi kami habis-habisan lantaran berstatus mahasiswa, tapi masih belum bisa membedakan lafal i dan e.


Belum lagi pengalaman mengajari anak-anak SMK. Selama lima belas tahun, mereka membuat saya bingung. Sering kali mereka cuek saat lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan. Mereka bersikap masa bodoh. Mungkin karena mereka terbiasa membaca kata Indonesia dengan Endonesia sehingga rasa cinta tanah air yang seharusnya melekat di jiwa mereka, luntur, pun lagu tersebut tidak didengarkan dengan baik. Mereka bersikap seolah-olah lagu tersebut bukanlah lagu kebangsaan negara mereka.


Berbagai kejadian yang saya temui di dalam pergaulan sehari-hari tersebut membuat saya malu. Alih-alih ingin mendengarkan acara debat capres dan cawapres, saya justru berlari ke arah tumpukan buku lawas. Rasa penasaran mengusik hati. Saya merasa tidak nyaman mendengar kata Endonesia berulang kali di ruang dengar saya.


Sebagai orang awam yang tidak begitu mendalami bahasa nasional, saya jadi berpikir keras. Benarkah kata "Indonesia" ini dibaca "Endonesia"? Bukankah huruf "i" dibacanya juga "i"? Begitu pula huruf "e" harus dibaca "e"? Kedua huruf yang sama-sama anggota huruf vokal tersebut memilliki bunyi hurufnya sendiri. Bunyi yang jelas dan membedakan dari huruf-huruf yang lain. Bunyi yang tidak boleh ditukar seenaknya sendiri. Apalagi untuk sebuah kata yang memiliki makna luar biasa, seperti Indonesia.


Benar apa yang disampaikan pelatih paduan suara saya sembilan belas tahun lalu. Sungguh memalukan sekali bahwa hingga hari ini ternyata mayoritas penduduk Indonesia masih belum bisa melafalkan kata Indonesia dengan benar. Masih sering salah pengucapan huruf "i" dengan "e". 


Masih di depan tumpukan buku masa kuliah dulu, pikiran dan ingatan saya berlari ke masa di mana bunyi akhiran -kan acap kali dibaca dengan bunyi "ken" oleh beberapa petinggi negara yang berasal dari Jawa. Apakah ini bentuk dari kesalahan berbahasa seperti kasus untuk kata Indonesia di atas? Menurut saya tidak. Mereka yang mengucapkan kata-kata yang berakhiran -kan dengan bunyi "ken" tersebut secara kebahasaan tidaklah salah seratus persen. Sebab pelafalan ini terjadi di ranah dialek. 


Menurut KBBI V, pelafalan adalah 'cara seseorang atau sekelompok orang dalam suatu masyarakat bahasa mengucapkan bunyi bahasa'. Seperti yang kita ketahui bersama, bangsa Indonesia memiliki lebih dari 666 bahasa daerah dengan segala karakteristiknya. Para pengguna bahasa daerah ini sering kali secara alamiah membawa dialek bahasanya saat bercakap-cakap dalam bahasa nasional sehingga yang muncul persis seperti yang terjadi pada para petinggi negara tersebut. Kita tidak bisa menyalahkan mereka untuk kondisi yang seperti itu. Bila kemudian bunyi "ken" tersebut menjadi budaya di kalangan pejabat itu adalah hal yang berbeda. Ada beragam alasan yang mendorong mereka melakukannya. Alasan ini dipaparkan dalam bahasan code switching (alih kode) dan code mixing (campur kode) di dalam linguistik.


Beberapa guru Bahasa Indonesia di sekitar saya sering kali mempermasalahkan hal ini. Padahal ini beda kasus. Dialek bahasa seseorang adalah ciri khas dari mana ia berasal. Dan hal ini tidak bisa dihilangkan dengan serta merta. Ia bukanlah hal yang patut dinilai salah dan benar dalam penggunaan bahasa Indonesia. Seperti yang terdapat dalam KBBI V, dialek adalah 'variasi bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai (misalnya bahasa dari suatu daerah tertentu, kelompok sosial tertentu, atau kurun waktu tertentu'. Jadi, jelas berbeda sekali dengan kasus di mana huruf "i" dibaca "e".


Dari kasus pelafalan kata Indonesia menjadi Endonesia ini, akhirnya saya berani mengatakan bahwa saya adalah orang Indonesia, bukan Endonesia. Sampai hari ini pun lagu Indonesia Raya diucapkan Indonesia Raya, bukan Endonesia Raya. Bila masih diucapkan Endonesia Raya maka Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak akan pernah maju. Hal ini lantaran antara tulisan dan pengucapan tidak pernah bersatu. Antara pikiran dan tindakan masih belum selaras dan sejalan. Oleh karena itu, marilah kita kembali menjadi orang Indonesia, bukan Endonesia.




Penulis

Neneng Hendriyani, guru Bahasa Inggris SMAN 4 Cibinong.

Tuesday, August 31, 2021

Esai Bahasa Panji Pratama | Mantul

 Esai Panji Pratama




Saya berlari ke sayap kanan. Meskipun tidak berteriak, saya melambai-lambaikan tangan. Teman satu tim saya melihat ke arah saya, lalu langsung mengoper bola dengan cepat. Saya sempat mengedip lambat karena gugup. Entah di mana bolanya, saya tidak kuasa melihat. Pokoknya, dalam pikiran saya, yang terpenting adalah menendang langsung saja. Saya yakin gendang telinga saya mendengar sayup-sayup suara, “Masuk … Pak Eko …!”


Saya belum sempat membuka mata. Namun, tiba-tiba teman saya yang tadi mengoper bola berteriak,


“Mantul!”


Baru mata saya terbuka.


“Loh, kok? Masuk atau mantul?”


Mungkin ucapan teman saya itu didengar oleh tim lawan. Kebetulan, pertandingan futsal ini hanya main-main tanpa wasit.  Kontan saja, salah satu anggota tim lawan yang juga teman saya bilang,


“Mantul, tuh!”


Saya semakin heran. Kening saya dikerut-kerutkan. Rasanya, saya mencetak gol, tetapi kok agak membuat kesal juga nih sepertinya.


“Mantul bagaimana, bukannya masuk tadi?”


Tiba-tiba pertandingan berhenti. Teman-teman bertanya kenapa saya jadi tiba-tiba emosi. Saya bilang saya pasti emosi, kok teman-teman satu tim bukan membela gol, malah bilang “mantul”. Sejak itulah, dunia benar-benar hening selama dua detik hingga mendadak meledak tawa semua pemain dalam jangka waktu sesingkat-singkatnya.


Saya pun terdiam. Saya minta rehat sejenak untuk membuka kitab paling mutakhir dalam dunia aplikasi android: KBBI. Penasaran saya tidak terjawab karena memang tidak ada pengertian yang sama seperti yang saya duga terhadap kata “mantul”. Adapun kata yang saya duga itu adalah memantul. Berasal dari kata dasar pantul, yang berarti ‘bergerak balik karena membentur sesuatu atau karena refleksi atau menganjal (seperti bola dilemparkan ke dinding)’; ‘mengambul’; ‘melenting’.


Kata ini sering kali disalahgunakan oleh para penggunanya menjadi mantul, dengan alasan menyingkat dari memantul. Tragedi bahasa ini sering terjadi dan senasib dengan verba-verba yang kata dasarnya berawalan [p] dan bertemu imbuhan me- lain, antara lain pagut menjadi magutpajang menjadi mejengpampang menjadi mampang, atau pancar menjadi mancer. Bahkan ada pula beberapa nomina yang ikut-ikutan instan seperti pacul --> memacul  --> macul.


Ada beberapa sebab yang menjadikan perubahan pengucapan kata tersebut. Jika diteliti dari pembentukan bunyi bahasanya, ada tiga faktor utama yang terlibat, yaitu (1) sumber tenaga, (2) alat ucap penghasil getaran, dan (3) rongga pengubah getaran. Nah, dari sinilah, kita mengenal daerah artikulasi, yakni daerah pertemuan antara dua artikulator. Beberapa kata yang dihasilkan dari pertemuan antara bibir atas dan bibir bawah (kedua bibir terkatup) disebut bilabial, misalnya saja kata-kata yang berawalan huruf [p], [b], [m]. Bisa jadi pembentukan kata-kata dalam bahasa Indonesia terpengaruh oleh faktor alamiah ini, misalnya saja pati menjadi mati.


Selanjutnya, faktor pertama pula yang mempengaruhi nasalisasi. Keunikan pembentukan beberapa kata dalam bahasa Indonesia ini bersangkutan dengan bunyi bahasa yang dihasilkan dengan mengeluarkan udara melalui hidung, yaitu m, n, ng, dan ny. Nah, dalam nasalisasi konsonan, kita bisa temukan nasalisasi konsonan yang tidak bersuara (luluh), contohnya konsumsi + me- = mengonsumsi (konsonan /k/ luluh), taat + me- menaati (konsonan /t/ luluh), sapu + me- = menyapu (konsonan /s/ luluh), populer + me- memopulerkan (konsonan /p/ luluh). Sayangnya proses nasal ini sering kali pilih-pilih. Beberapa kata seolah tabu untuk dinasalkan, seperti kata memopulerkan karena terbiasa menggunakan kata mempopulerkan.


Terakhir, sepertinya pengaruh bahasa daerah adalah alasan lain terjadinya pembentukan bahasa dari [p] ke [m] ini. Beberapa kata dalam bahasa Sunda contohnya, biasanya memengaruhi pengguna bahasa Indonesia untuk mengikuti cara pembentukannya. Kata meuli (beli) dan muter (putar) contohnya.


Oke, saya tahu kenapa saya bisa salah persepsi dengan ucapan teman saya sewaktu main futsal tadi. Kata mantul yang diucapkan teman-teman saya bukanlah dari kata memantul. Jadi apa dong? Teman saya, membuka kamus gaulnya dan memperlihatkan padanan kata mantap betul yang diakronimkan menjadi mantul.


Waduh, apa pula ini?



Penulis


Panji Pratama, penulis novel dan pemerhati bahasa.