Kamis, 30 September 2021

Esai Bahasa Panji Pratama | Pribumi

 Esai Panji Pratama



Suatu hari sepulang kerja, saat saya hendak membuka pagar rumah—kebetulan rumah saya dekat dengan areal pesawahan sehingga banyak sanak-anak kampung yang bermain layang-layang—tiba-tiba, seorang anak berkaus merah putih berteriak kepada temannya, "Tong dilawan, eta mah budak pribumi. Musuh urang mah nu hareup."



Saya langsung menafsirkan sendiri, "Jangan melawan (layang-layang itu), itu millik anak pribumi. Musuh kita itu (layang-layang) yang di depan."


Saya menoleh dan tersenyum. Saya masuk ke dalam rumah dan terngiang-ngiang perkataan bocah itu.


Saya teringat sebuah peristiwa, saat para sosiolog, antropolog, ahli genetika, bahkan pengamat politik membicarakan sebuah kata yang sedang viral saat itu, yakni pribumi. Kalau tidak salah, saking panjangnya diskursus tentang pribumi, beberapa orang di negeri ini harus rela memilih satu di antara dua kubu. Entah siapa yang dimaksud dengan pribumi—yang saya tahu kedua kubu mengklaim hal yang sama.


Saya memutuskan masuk ke dalam rumah, melempar tas kerja, dan langsung menyusuri lemari buku saya. Entah apa yang ada di benak saya waktu itu. Kata pribumi membuat saya haus penjelasan. Lebih haus daripada kerongkongan saya yang baru lepas dari panasnya cuaca pancaroba. Apalagi saat saya menyadari bahwa saya adalah seseorang yang tidak dilahirkan dan dibesarkan dari kampung ini, tetapi saya sudah hampir delapan tahun tinggal di tempat yang cukup menyenangkan ini.


Beberapa buku saya jajarkan. Dari catatan pertama, saya menemukan sejarah kata pribumi yang berkenaan dengan sebutan Pemerintahan Kolonial Belanda terhadap penduduk Hindia Belanda atau disebut juga inlander. Dalam tulisan karya Profesor Ahmad Mansyur Suryanagara tersebut, kata pribumi, pada zaman penjajahan digunakan untuk memisahkan golongan masyarakat asli dengan masyarakat asing.


Dalam catatan selanjutnya, kata pribumi menjadi lebih luas maknanya sehingga sampai harus dihilangkan dalam kegiatan penyelenggaraan pemerintahan pada dua dekade. Dengan demikian, saya berpikir bahwa mungkin setelah dikeluarkannya keputusan ini, lema pribumi akan hilang juga di dalam KBBI. Akan tetapi ketika saya melirik KBBI terbaru, ternyata saya masih bisa menemukan kata pribumi dengan beberapa arti, yakni 'penghuni asli', yang berasal dari tempat yang bersangkutan: inlander.


Sebetulnya arti kata pribumi berbeda dengan frasa kelas sosial. Saya lebih berpendapat kata pribumi tersebut dipakai orang Indonesia untuk membawa pesan kebangsaan. Bisa jadi, nanti akan ada lema prilangit sebagai antonim dari pribumi, berkait dengan sifat bahasa yang manasuka dan dinamis. Nyatanya sampai sekarang bahasa Indonesia masih dipercaya sebagai bahasa dengan gramatikanya yang tidak pandang kasta. Bahasa Indonesia dipercaya lebih demokratis dibandingkan dengan bahasa lain.


Dari pemikiran ini, saya percaya kata-kata seorang bahasawan UPI Bandung, Chye Retty Isnendes, bahwa bahasa merupakan lambang yang mengandung tanda (semiotik), yang hidup secara linguistik kognitif pada setiap individu, sekaligus juga kolektif. Bahasa selain menjadi model, juga jadi komponen, pemancar, dan bahkan jadi pemancar bagi tanda yang lain sehingga tanda akan berhubungan dengan arti (semantik) yang bersifat manasuka sekaligus kolektif sosial.


Bahasa Indonesia sudah tercipta sebelum negara ini terbentuk. Sayangnya, perebutan makna terkadang terjadi pada wilayah tutur dari massa yang berbicara. Kecenderungan massa inilah yang mengartikan tanda itu menjadi bias.


Mungkin kata pribumi cocok dipakai di daerah pedesaan seperti di lingkungan saya. Karena memang, di ruang-ruang publik kota besar, orang lebih senang meng-Inggris. Maka dari itu, ketika orang mendengar kata pribumi diucapkan di kota besar, berasa lebih asing.


Sambil menenteng segelas air putih untuk melegakan kerongkongan, saya kembali ke beranda depan untuk melihat anak-anak yang sedari tadi bermain layang-layang. Anak berkaus merah putih berjalan lusuh sambil memberesi benang layangannya. Lalu, saya bertanya, "Ke mana layang-layangmu?"


"Disasar ku budak pribumi keneh? (Diserang tiba-tiba dari belakang oleh anak pribumi)," jawabnya loyo.





____

Penulis


Panji Pratama, S.S., M.Pd., lulusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran, pemerhati dan praktisi bahasa.





Kirim naskahmu ke

redaksingewiyak@gmail.com