Kamis, 14 Oktober 2021

Esai Bahasa Tari Sn | Pemahaman Bahasa dengan Standar TOEFL dan UKBI

 Oleh Tari Sn



Seberapa baik kamu berbahasa Indonesia dibandingankan dengan berbahasa Inggris?


Saya mengenal seorang mahasiswa yang mengambil tes TOEFL dan mendapat nilai setara B2 yang artinya, dengan hasil tersebut, seseorang mempunyai kemampuan untuk memahami gagasan yang rumit hingga berinteraksi dengan fasih dan spontan dalam mengutarakan opini. Pada tahun yang sama, orang tersebut mengambil tes UKBI dan hasilnya justru lebih rendah jika disetarakan dengan nilai TOEFL yang dia dapat. 

Bukankah hal tersebut mengejutkan? Setelah saya telisik lebih lanjut, di lingkungan saya, ternyata beberapa masyarakat yang sejatinya berkewarganegaraan Indonesia justru lebih fasih berbahasa asing. Mengamati fenomena sosial ini, saya melakukan hipotesis dan menemukan beberapa hal menarik.


Masyarakat, khususnya kalangan siswa, merasa lebih penting memahami bahasa Inggris mulai dari menambah jumlah kosakata hingga memahami tatabahasanya secara keseluruhan. Hal ini juga diperburuk dengan tekanan dari sistem pendidikan seperti persyarakan masuk universitas dengan nilai TOEFL minimal dan tanpa pernah melakukan tes UKBI, yang dampaknya peserta didik lebih berfokus pada pengembangan bahasa Inggris. Adakah universitas yang melakukannya sebaliknya, memasukkan nilai minimal UKBI sebagai persyaratan masuk?


Pencampuran bahasa Inggris dan bahasa Indonesia faktor lainnya. Penggunaan dua bahasa dalam satu kalimat sudah menjamur dalam keseharian. Alih-alih mengatakan, “Seharusnya kita lebih sadar akan penggunaaan bahasa kita”. Sebagian orang justru lebih nyaman mencampurkan satu-dua kata berbahasa Inggris, “Well, kita harusnya lebih aware dengan bahasa kita”. 

Ada banyak sekali konteks percakapan yang seperti ini bahkan untuk acara resmi seperti pidato dalam forum terbuka. Pembicara kerap kali mencampurkan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dalam kalimat yang harusnya sederhana. Seolah teknik pencampuran bahasa ini membuat bobot pembicaraan lebih bermutu.

Jika kamu ingin membuat hipotesis sendiri, perhatikan ketika temanmu bicara, hitung jumlah bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang digunakannya dalam kalimat. Jika dia menggunakan lebih banyak kata berbahasa Inggris, selamat datang di era krisis identitas untuk mengutamakan bahasa Indonesia. Ada banyak kasus lain yang menarik dikaji sebenanarnya, misalnya nama toko yang kelihatan lebih bergengsi dengan penggunanan bahasa Inggris, menu makanan yang juga dialihbahasakan, hingga hegemoni yang melekat kalau pencampuran bahasa itu keren.

Apakah saya menolak pemakaian bahasa Inggris? Jelas tidak. Kita tidak bisa menolak arus globalisasi yang memaksa kita berkembang dan mempelajari bahasa baru. Tapi, tanyakan pada diri sendiri, seberapa bangga kamu memakai bahasa Indonesia dalam percakapan secara keseluruhan? Jangan-jangan, kita masih termasuk tipe, “Ah, well, gak ada salahnya mencampurkan penggunaan bahasa. Not a problem at all”. Maka, tidak mengherankan nilai TOEFL masyarakat melejit tinggi dibandingkan dengan nilai UKBI. Atau, jangan-jangan kamu juga baru mengetahui UKBI itu apa? Ah, well, baiknya kita berdalih saja, nilai tidak mencerminkan apa pun.




____

Penulis


Tari Sn, penulis lepas, pernah belajar di Grup WA Kelas Bahasa Indonesia.






Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com