Esai Uwais Qorni
Sebenarnya ilmu membuat judul esai itu dapat ditemui banyak di internet dan di buku. Kita juga bisa mendapatkannya dengan berdiskusi dengan ChatGPT. Tapi, kesannya akan lain kalau kita mikirin judul tulisan itu sendirian dibandingkan dengan, misalnya, dibantu oleh AI. AI tidak mengajak kita berpikir. AI malah menghambat kita berpikir secara mandiri.
Seringnya pengetahuan yang disampaikan melalui esai mudah untuk kita mencernanya. Di dalam esai berisi subjektivitas penulisnya. Lewat esai, penulis bisa mengutarakan apa pun yang ada di otak dan di hatinya. Bahasan yang pemantiknya berupa quotes jika diniatkan untuk diesaikan itu bisa panjang.
Tidak mustahil esai bentuknya itu pengalaman-pengalaman penulis dengan penyampaian yang terkesan bercandaan, gak niat, bahkan blak-blakan tanpa khawatir dicemooh pembacanya nanti. Dimungkinkan juga bentuk esai begitu kaku semacamnya ketikan robot. Gampangnya, esai merupakan bacotan penulis.
Esai gak melulu menaruh solusi di dalamnya. Kadang ada esai yang ngajak mikir.
Saya suka menulis esai baru-baru ini. Sebab saya merasa gagal latihan menulis cerpen, saya fokuskan saja kepenulisan saya dalam bentuk esai dan puisi. Saya juga merasa gagal dalam menulis judul apa pun genre tulisannya itu. Tapi, saya merasa tidak perlu memusingkan itu.
Selama masa-masa setoran cerpen di grup latihan menulis asuhan Kang Encep "Klinik Menulis", saya sangat terganggu dengan pembuatan judul. Berkali-kali revisi karya. Tetap yang paling bikin overthinking adalah kenapa judulnya tidak meningkat ke arah yang lebih bagus. Sudahlah tulisan saya sedengan dan di bawah standar, ditambah pula dengan judulnya yang jelek.
Kalau mikirin seperti ini terus mungkin saya pensiun dari kegiatan menulis. Menulis dengan perasaan gembira baru sekarang tumbuhnya. Ini malah mau disusahkan lagi dengan masalah pemilihan judul. Jika saya gak bahagia lewat menulis, lalu buat apa saya betah-betahan menulis? Kayak gak ada kerjaan saja yang lebih menggiurkan, misalnya nyari duit.
Tapi, tidak sampai di sini. Saya menulis biar ngebacot aja. Ngebacot yang dikit-dikit berbobot. Daripada ngebacot tapi ngerecokin urusan orang lain. Daripada ngebacot malah menambah down mental lebih baik saya nulis begini.
Menulis itu butuh modal. Ini saya minim modal sebenarnya. Materi kepenulisan saya dikit banget. Banyak yang belum saya kuasai. Menghafalkan nama-nama sastrawan, saya gak mau. Soalnya saya bisa dibilang gak nyaman kalau bahas sejarah macam itu. Bukan artinya saya buta total terhadap sejarah. Saya hanya gak suka menghafalkan nama-nama dan penanggalannya itu. Untuk ngedengerin sejarah, asalkan seru dan gak ngebosin, oke saja buat saya.
Saya nyaris minder menulis sok-sokan seperti ini. Denger-denger di dunia literasi itu ada perpolitikannya. Bodo amatlah saya masalah itu. Asalkan saya mampu menuntaskan satu tulisan itu sudah lebih dari cukup. Daripada ngomong doang pengen nulis ini pengen nulis itu, tapi gak pernah dikerjain. Lebih baik senyap, tapi gerak maju.
Omong-omong, gak ada motivasi saya menulis itu lewat support orang-orang terdekat saya. Jadi merupakan pencapaian jika saya masih bertahan menulis sampai sekarang. Ditarik tali benangnya adalah rasa penasaran saya tinggi. Mimpi saya ini, andaikan saya berada di lingkungan yang kutu buku niscaya saya ajak semuanya itu untuk mendiskusikan buku-buku.
Omong-omong lagi, beberapa tahun yang lalu saya bermukim di asrama yang tepat. Saya mondok di pesantren yang tepat. Di sana gak ada istilahnya senioritas. Semua belajar. Semua saling mendukung untuk jadi lebih pintar lagi. Ada kebiasaan saya di sana yang pengen banget sekarang ini saya hidupkan kembali di rumah, yaitu kebiasaan berdiskusi.
Dulu sukanya saya mendiskusikan ilmu nahwu atau sintaksis Arab. Yang sering saya ajak berdebat itu adik kelas, soalnya biar saya tahu seberapa bodohnya sih saya ini kok bisa sampai "kalah" berdebat dengan adik kelas? Sedangkan bersama sekumpulan kakak kelas di forum seringnya saya oleh mereka didorong untuk menjadi moderator. Sebab semua itu bobot omongan saya meningkat. Hasilnya saya sekarang gak suka basa-basi.
Tepat setahun sebelum kelulusan, saya boyong. Hijrah lagi ke dua tempat yang berbeda dalam hitungan waktu dua tahunan di luar sebelum akhirnya saya menetap di kampung halaman. Dan sekarang saya sudah ada di rumah.
Kenyataan pahit menimpa saya. Apa yang saya impikan tidak terpenuhi. Saya jadi pengangguran di sini. Di sini saya gak jadi apa-apa. Jadi guru, saya merasa bukan pakarnya. Dan saya tidak lulus di pondok mana pun. Saya yakin kelulusan saya cuma satu, yaitu lulus MI di pondok milik keluarga sendiri.
Kecewa ya kecewa. Soalnya gini, jika saya tahu di lingkungan rumah ilmu debat itu gak penting sebab umur dan posisi seseorang bisa mengangkat dan mengultuskan apa pun ucapannya meskipun gak selalu ada benarnya. Maka, buat apa saya selama itu pura-pura berani ngomong di forum diskusi hanya demi melatih keberanian diri dan memompa kemampuan bernalar?
Lanjutan bahas esainya mana nih?
Yaitu pada kesamaan berdiskusi dengan menulis esai. Bagi saya menulis esai itu mudah sebab saya bisa berdebat. Kalau bisa berdebat seringnya bisa menulis esai. Menulis esai itu ngebacot versi tulisan, sedangkan diskusi itu ngebacot dengan "menjagokan" ilmu-ilmu. Permasalahan timbul ketika saya sadar kalau di forum debat gak ada judul saat memulai debat. Saat saya bertukar pikiran dengan teman-teman, ya sudah jadi debat itu. Itu langsung mulai saja.
Sebelumnya memang tema ditentukan, persiapannya yang matang, juga kudu siap mental menghadapi "lawan" debatnya. Ketika berdiskusi sudah semacamnya, dua ayam jago diadu di tengah-tengah kandang terbuka.Saat itu juga kelihatan siapa yang gaya penyampaiannya masih seperti di awal yang santai dan siapa yang kepanasan dan terpojok. Apa yang dibahas itu jadi seru ketika semuanya sama-sama tahu kalau hal semacam ini menambah ilmu dan bukan menambah musuh. Jika dengan debat malah musuh-musuhan, ya jangan debat sekalian.
Esai, gampangannya ya begitu. Esai itu diskusi versi tulisan. Keduanya sama-sama mengumpulkan gagasan. Keduanya membenturkan perspektif dan menghasilkan kesimpulan akhir yang meskipun gak selalu memuaskan semua pihak, tapi setidaknya ada sudut pandang baru yang dapat ditelaah lebih mendalam. Dan kadang esai dan diskusi itu menyisipkan perasaan pelontarnya, juga sesekali menayangkan pengalamannya dalam berhubungan dengan permasalahan tersebut. Tapi, yang membedakan keduanya adalah judul. Esai punya judul, sedangkan berdebat itu langsung ke isi.
Perihal ilmu membuat judul, saya pernah baca buku dan nonton edukasi di YouTube. Saya tidak mencantumkan referensi di sini. Tinggal cari istilahnya itu "Efek Halo". Persamaannya antara "Efek Halo" dan dalam pembuatan judul esai maupun judul karya lainnya, yaitu sama-sama diarahkan kepada kesan pertama bagi konsumen. Pembaca adalah konsumen tulisan dan apa yang pertama kali dinilainya adalah judul tulisan tersebut.
Ini sebenarnya masalah pelik dan penuh abu-abu. Ada sebagian judul yang menipu. Lewat judulnya saja kesannya itu bagus. Kayak bagian setelahnya itu berupa isi tulisan yang wajib dibaca sekali seumur hidup. Benar-benar pencitraannya itu seratus persen dikerahkannya untuk mengelabui calon pembaca. Padahal cuma judul, bukan fakta. Kenyataannya adalah kita tidak tahu seberapa bagus atau jeleknya sebuah tulisan sebelum kita membacanya sampai selesai. Alhasil, untuk pembuatan judul sendiri mungkin saya pribadi cocoknya dikesampingkan. Menulis selesai dulu baru overthinking tentang judulnya apa. Atau membaca sampai tuntas terlebih dahulu dan jangan menghiraukan bagus atau jelek judulnya.
Referensi:
1. Fahruddin Faiz dalam buku Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika.
2. Pengarahan Diklat Jurnalistik.
3. Beberapa video tentang "Logical Fallacy".
