Showing posts with label Redaksi. Show all posts
Showing posts with label Redaksi. Show all posts

Sunday, July 12, 2026

Esai Nurhadi | Hidup Ini Kurang Asyik Tanpa Mistisisme

Esai Nurhadi 

 


Harusnya saya sudah di rumah sore itu melanjutkan series Renegade Immortal, Tales Of Herding Gods, dan Tomb Of Fallen Gods S3. Tapi seakan tarikan gravitasi sangat kuat di rumah teman saya itu. Atau mungkin itu kodam penunggu yang menarik pantat saya dari bawah karena kebetulan kami sedang menyinggung mereka. Konon katanya kalau mereka sering disebut akan semakin mendekat.


Saya sendiri termasuk orang yang kurang percaya kalau ngomongin hal mistis, tapi juga bukan yang skeptis. Saya nyaman-nyaman saja kalau ngobrolin soal gaib. Dan memang begitulah obrolan sore itu berjalan. Dari yang tadinya cuma basa-basi soal keseharian, perlahan geser ke topik yang lebih mistis.


Teman saya mulai cerita soal pengalaman, katanya dia pernah ditembak jin saat menyaksikan orang kesurupan saat menyetel musik lengser wengi. Bayangkan bagaimana rasanya ditembak jin. Katanya seperti ditekan organ dalamnya dan menjadi sesak. Mungkin pengalaman teman saya itu kalau diceritakan kepada orang lain bakal dikira dia habis makan kecubung. Tapi entah mengapa, di ruang sepetak itu cerita-ceritanya kedengaran masuk akal. Atau minimal masuk ke rasa penasaran saya yang bertanya-tanya tentang dunia gaib itu sendiri.


Kemudian teman saya juga pernah diberi batu oleh tetangganya. Batu bukan sembarang batu—mungkin begitu pikirnya. Setibanya di rumah  dia penasaran sesosok apa penjaga atau kodam batu tersebut. Lantas menantangnya. Dan sesuai harapan. Katanya sesosok kakek tua tiba-tiba duduk di di belakangnya dengan kondisi tubuh yang sangat kurus dan perangainya menyeramkan.


Masih banyak lagi cerita mistis lainnya yang saya dengar dari obrolan sore itu. Tapi setelah dipikir-pikir hidup ini sebenarnya kurang asyik, apalagi era modern ini kalau cuma rasional-rasional saja. Makanya waktu obrolan soal kodam, soal energi yang mendekat kalau dibahas, atau soal firasat yang ternyata beneran kejadian—ada semacam kelegaan. Kelegaan karena dunia ini tidak se-flat itu.


Justru itu alasan kenapa saya—mungkin kebanyakan orang lainnya juga—menyukai atau sekadar penasaran, seperti cerita-cerita pada kultivasi Wang Lin dalam series Renegade Immortal tadi. Tapi minimal lewat cerita itu—atau obrolan sore kami yang mistisisme—saya masih diberi ruang untuk berpikir bahwa hidup ini ternyata misterius; ada kebenaran yang tak dapat dijelaskan oleh bahasa dan angka.


Jadi pada sore itu sementara series-series saya harus tertunda. Bukan karena enggan menonton, tapi mungkin karena saya lagi menyaksikan series dalam versi nyata. Dan entah mengapa hal itu terasa lebih hidup dan menyenangkan. Bagi saya cerita itu sebagai pengingat kecil bahwa hidup ini memang kurang asyik kalau dijalani serba logis. Sesekali, biarkan diri kita merebahkan pada obrolan yang hangat dan ringan. Toh, kalau ternyata itu cuma perasaan akan adanya jin, kodam, dan hantu-hantu lainnya, minimal jadi bahan obrolan seru buat sore-sore berikutnya.


________


Penulis


Nurhadi
 atau biasa dipanggil Albert. Sekarang masih pura-pura belajar di #Komentar. Karyanya pernah dimuat di koran harian Kabar Banten dan Majalah Sastra Kandaga Provinsi Banten. Selebihnya insyallah.

 


Sunday, June 28, 2026

Esai Ma’rifat Bayhaki | Kepengrajinan dalam Novel "Yuki": Ketika Pesan Berusaha Mengalahkan Cerita

Esai Ma'rifat Bayhaki



Kemahiran berbahasa adalah satu dari sekian modal yang mesti dimiliki oleh pengarang. Kendati penting, justru ia kerap diabaikan. Banyak pengarang lebih terobsesi pada persoalan pesan yang ingin disampaikan, alih-alih memperhatikan konstruksi—bentuk cerita yang akan disajikan. Sebuah cerita tidak dikenang semata karena suaranya, melainkan bagaimana cara ia menyuarakannya. Saya tentu tidak ingin menyaksikan sebuah naskah yang penuh dengan pesan moral, tetapi kehilangan daya estetiknya bernasib tragis di tangan pembaca kritis.

Barangkali kepekaan semacam ini mesti dijadikan pijakan ketika membaca novel Yuki karya Sukron yang diterbitkan Penerbit #Komentar, Juni 2026. Pada halaman awal kita disodorkan dengan kegelisahan yang nyata. Narator ingin berbicara tentang manusia modern yang terjebak dalam rutinitas, ketakutan, dan keterbatasan. Dari hal itu ia menawarkan gagasan sederhana, manusia harus “naik kelas”. Tentunya frasa ini lebih dari perpindahan status sosial di permukaan, ia juga menyimpan pergulatan dan pendalaman batin yang berlapis—kokoh.

Namun, sayangnya sang narator dalam cerita Yuki tampak terjebak untuk memastikan gagasan “naik kelas” ini bersarang di benak pembaca. Hasrat tersebut demikian dominan sehingga hampir setiap bab lebih berfungsi sebagai medium penyampaian pesan daripada ruang berbagi cerita untuk tumbuh secara organik. Akibatnya, pembaca lebih sering dihadapkan pada penegasan ide dibandingkan dengam pengalaman estetik yang lahir dari perkembangan cerita.

Jumlah tokoh yang relatif sedikit sesungguhnya bisa diolah sedemikian rupa untuk membangun karakter yang utuh dan dinamis. Alih-alih melakukan itu, tokoh Yuki  lebih sering hadir sebagai corong gagasan pengarang daripada menjadi manusia fiksional yang hidup, memiliki kehendak, konflik, dan perkembangan psikologisnya sendiri. Yuki lebih sering tampil sebagai figur yang telah mengetahui jawaban atas persoalannya ketimbang menjadi manusia yang sedang berproses.

Hal itu juga berlaku pada tokoh lain dalam novel ini. Misalnya tokoh Pak Arif—mentor Yuki yang perannya sentral dalam cerita ini. Lagi-lagi narator berperan terlalu dominan sehingga tokoh Pak Arif menjadi terkesan ajaib. Ia bisa tiba-tiba hadir di momen penting hidup Yuki bahkan mampu mengetahui segala hal dan permasalahan yang dialami Yuki. Hal itu tampak jelas saat Pak Arif mengetahui jika Danu memberikan kunci berkarat kepada Yuki, bahkan dengan hafalnya ia menjabarkan manfaat dari kunci berkarat itu pada Yuki, kendati Pak Arif tidak benar-benar hadir dalam peristiwa itu. Pada persoalan ini sepertinya sang narator harus berhati-hati.

Pergulatan batin yang seharusnya menjadi jantung sebuah novel justru berlangsung singkat. Proses sebab akibat yang diharapkan cair, luwes, dinamis, dramatis, dan memukau menjadi terkesan ajaib. Pemaknaan setiap tokoh luput dari pandangan sang narator. Saya kehilangan jejak dalam usaha menggali sebab Yuki memaknai lorong tempat kerjanya mengerikan, pemaknaan kunci berkarat dari masing-masing tokoh, bahkan tokoh Pak Arif terkesan sangat bijaksana tanpa celah. Barangkali hal ini mesti dijelaskan, tidak digantung begitu saja.

Beralih pada persoalan alur. Novel Yuki bergerak dengan tempo yang terlampau tergesa-gesa. Perpindahan antar-ruang berlangsung begitu cepat sehingga setiap tempat kehilangan kesempatan untuk meninggalkan jejak dalam ingatan pembaca. Adegan demi adegan silih berganti, tetapi tidak memberi cukup waktu bagi suasana untuk mengendap ataupun bagi konflik untuk memperoleh bobot emosional. Alur akhirnya lebih menyerupai rangkaian perpindahan peristiwa daripada perjalanan batin yang tumbuh secara perlahan.

Barangkali, apabila diolah dengan kepengrajinan yang lebih tekun, ruang dalam Yuki tidak hanya berfungsi sebagai latar tempat peristiwa berlangsung. Ruang memiliki kemungkinan estetik yang jauh lebih luas. Ia dapat menjadi penanda zaman, penyimpan ingatan, bahkan menghadirkan gema batin para tokohnya. Dalam karya sastra yang matang, ruang tidak pernah benar-benar diam. Ia ikut mengarahkan suasana, membangun ketegangan, dan sesekali berbicara melalui kesunyian yang diciptakannya.

Kita dapat belajar dari cerpen Robohnya Surau Kami karya AA Navis. Ceritanya tidak semata-mata berkisah tentang sebuah surau, melainkan menjadikan surau sebagai pusat kesadaran cerita. Bangunan itu bukan lagi sekadar lokasi, tetapi sebuah simbol yang memanggul sejarah, keyakinan, kegelisahan, sekaligus ironi manusia. Surau memperoleh “suara” karena pengarang berhasil menanamkan pengalaman batin ke dalam ruang tersebut. Pembaca tidak hanya melihat sebuah bangunan, melainkan merasakan denyut kehidupan yang bersemayam di dalamnya.

Kemungkinan semacam itu sesungguhnya juga terbuka bagi Yuki. Sayangnya, ruang-ruang yang dihadirkan masih cenderung bersifat fungsional. Kantor, rumah, jalan, atau tempat-tempat yang disinggahi tokoh lebih sering menjadi wadah berlangsungnya peristiwa daripada turut membentuk kesadaran tokoh dan menghidupkan atmosfer cerita. Padahal, apabila ruang diberi kedalaman simbolik dan psikologis, ia akan menjadi unsur naratif yang bekerja secara diam-diam, memperkaya makna tanpa perlu dijelaskan secara panjang lebar oleh narator. Di situlah sastra menunjukkan kekuatannya, bukan melalui banyaknya penjelasan, melainkan melalui kemampuan membuat benda-benda yang bisu menjadi fasih berbicara.

Pada bagian lain narator memilih mendeskripsikan tindakan-tindakan Yuki alih-alih membiarkan pembaca menyaksikan tindakan itu berlangsung di hadapan mereka. Kecenderungan ini muncul berulang kali dalam beberapa bab sehingga perlahan mengikis daya hidup cerita. Alih-alih menghadirkan pengalaman, narator justru menyajikan kesimpulan. Pembaca diberi tahu apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dilakukan Yuki, tetapi jarang diberi kesempatan untuk menemukan semua itu melalui peristiwa yang berkembang secara organik.

Bagi saya, pilihan semacam ini merupakan salah satu kelemahan paling mendasar dalam novel ini. Sebab, hakikat fiksi bukanlah menyampaikan gagasan secara langsung, melainkan membiarkan gagasan itu lahir dari benturan antartokoh, dari gestur yang sederhana, dari dialog yang ritmis, bahkan dari kesunyian yang sengaja dibiarkan bekerja. Seperti yang dikatakan Ernest Hemingway mengenai show don't tell. Seorang pengarang tidak dituntut menjelaskan segala sesuatu kepada pembaca, melainkan menghadirkan dunia yang memungkinkan pembaca sampai pada kesimpulannya sendiri.

Sastra kehilangan daya estetiknya ketika terlalu bernafsu menjelaskan. Setiap penjelasan yang berlebihan sesungguhnya adalah bentuk ketidakpercayaan pengarang terhadap kekuatan cerita yang sedang dibangunnya. Padahal, cerita yang baik selalu memiliki keberanian untuk menyembunyikan sebagian maknanya, sebab sastra tidak bekerja dengan cara menggurui, melainkan dengan cara menggerakkan pengalaman batin pembacanya. Ia tidak berkhotbah dari atas mimbar, tetapi mengajak pembaca berjalan perlahan memasuki ruang-ruang makna yang sengaja tidak seluruhnya diterangi. Justru dalam ruang yang remang-remang itulah sastra menemukan daya pikatnya.

Kausalitas yang berupaya dibangun narator belum sepenuhnya memperoleh kedalaman dramatik. Penjelajahan Yuki terhadap krisis eksistensialnya berlangsung terlalu tergesa-gesa sehingga perkembangan psikologis tokoh terasa lebih sebagai pernyataan daripada pengalaman. Pembaca diberi tahu bahwa Yuki hidup dalam ketakutan dan merasa tidak bahagia, tetapi cerita tidak menyediakan rangkaian peristiwa yang cukup untuk membenarkan perasaan tersebut.

Sepanjang novel, Yuki justru tampil sebagai pribadi yang relatif utuh. Ia mampu menjalankan pekerjaannya dengan baik, berani mengemukakan pendapat di hadapan kolega, bahkan beberapa kali menjadi sosok yang menawarkan solusi bagi orang lain. Kegagalan yang dialaminya pun tidak pernah benar-benar menjelma menjadi titik balik yang mengguncang kesadarannya. Setiap hambatan segera dilewati tanpa meninggalkan bekas psikologis yang berarti. Akibatnya, jarak antara apa yang dikatakan narator mengenai Yuki dan apa yang benar-benar diperlihatkan cerita menjadi semakin lebar.

Pada akhirnya, persoalan Yuki terasa lebih banyak hidup di dalam bahasa narator daripada di dalam dunia yang sedang dibangun novel ini. Kecemasan itu disebutkan berulang kali, tetapi jarang memperoleh bentuk konkret melalui tindakan, konflik, atau pengalaman traumatik yang mampu mengendap dalam ingatan pembaca. Padahal, luka batin dalam sastra tidak selalu harus hadir sebagai tragedi besar. Rutinitas yang berulang, ruang kerja yang menyesakkan, relasi sosial yang dingin, atau kegagalan-kegagalan kecil yang terus menumpuk pun dapat berubah menjadi teror eksistensial apabila diolah dengan kesabaran estetik.

Di sinilah kelemahan paling mencolok novel Yuki. Rutinitas yang semestinya menjadi sumber kecemasan manusia modern tidak pernah benar-benar menjelma sebagai ancaman yang menghimpit kehidupan Yuki. Ia hanya hadir sebagai gagasan yang diucapkan narator, bukan sebagai pengalaman yang dialami pembaca. Ketika rasa takut lebih banyak dikatakan daripada dihadirkan, konflik kehilangan bobot dramatiknya, dan perjalanan eksistensial Yuki pun berakhir sebagai konsep yang menarik, tetapi belum sepenuhnya meyakinkan secara artistik.

Kendati demikian, Yuki tetap layak diapresiasi sebagai karya perdana yang berhasil diselesaikan oleh Sukron. Bukankah, naskah yang baik adalah naskah yang selesai ditulis? Penyelesaian sebuah karya bukanlah akhir dari proses kreatif, melainkan awal bagi pengarang untuk mengasah kepengrajinan estetiknya. Pada percobaan berikutnya, tentu kelonggaran semacam ini tidak berlaku.

Salah satu hal yang paling menarik dari novel ini ialah keberanian Sukron sebagai pengarang bereksperimen dengan bahasa yang puitis, liris, dan berirama. Kalimat seperti, “Rambut hitamnya bergelombang, menebar bayang-bayang gelap di atas bahu, sementara mata cokelatnya menahan kilau api kecil yang tak pernah padam,” memperlihatkan ikhtiar pengarang menghadirkan keindahan melalui pilihan kata yang imajinatif. Cara bertutur semacam ini menjadi strategi yang efektif untuk membangun suasana sekaligus memperhalus pengalaman emosional pembaca sehingga narasi tidak sekadar menyampaikan peristiwa, melainkan juga menghadirkan rasa

Namun, bahasa puitis selalu menuntut kedisiplinan estetik. Keindahan tidak lahir semata-mata dari limpahan metafora atau rangkaian kata-kata yang indah, melainkan dari ketepatan memilih diksi dan kecermatan menempatkannya dalam konteks. Demikian pula dengan penggunaan tanda baca yang bukan sekadar perangkat gramatikal yang mengatur jeda. Ia merupakan bagian dari estetika yang membentuk ritme, mengatur tempo, memberi tekanan, bahkan mengarahkan emosi pembaca. Perpaduan antara diksi yang cermat akan melahirkan kalimat yang tidak hanya enak dibaca, tetapi juga memiliki daya pukau yang bertahan lebih lama dalam ingatan.

Pada beberapa bagian, Yuki berhasil memperlihatkan potensi tersebut. Meskipun belum sepenuhnya konsisten, tampak bahwa Sukron memiliki kepekaan terhadap musikalitas bahasa dan keberanian untuk tidak sekadar bercerita, melainkan juga menciptakan pengalaman membaca yang estetis. Potensi inilah yang, apabila terus diasah melalui pembacaan yang luas dan latihan menulis yang tekun, dapat menjadi kekuatan utama pengarang pada karya-karya berikutnya. Tabik.

Tanara, 28 Juni 2026

 _______

Penulis

Ma'rifat Bayhaki, redaktur pelaksana NGEWIYAK.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

 

Saturday, December 13, 2025

Resensi Kabut | Mangga dan Kedaulatan

Oleh Kabut




Desember itu sejarah. Yang biasa kita ingat, Desember adalah nama bulan yang terakhir. Ada yang mengartikan Desember adalah duka. Ia mengingat bencana-bencana di Indonesia sering terjadi saat Desember. Namun, yang sedang kita ingat adalah sejarah. Apa yang terjadi di Indonesia masa lalu? Desember ikut dalam lembaran-lembaran sejarah Indonesia.


“Hari ini ternyata tanggal 27 Desember 1949, hari pengakuan kedaulatan kepada Republik Indonesia,” kalimat yang terdapat dalam novel berjudul Senja Itu Langit Merekah gubahan Surtiningsih WT. Buku tipis yang diterbitkan Gaya Favorit Press, 1981. Judulnya tidak mengesankan sejarah tapi yang membaca akan masuk dalam sejarah.  


Yang diceritakan adalah gadis cilik bernama Menik. Mengapa ia hadir dalam lembaran sejarah? Menik mengisahkan diri, keluarga, pasukan Belanda, kaum gerilyawan, anjing, dan lain-lain. Maka, cerita-ceritanya mengajak kita hadir dalam sejarah yang berlatar tahun-tahun setelah proklamasi. Menik bercerita, tidak bertugas menjelaskan sejarah. Namun, tokoh yang dibuat Surtiningsih itu menjadi sosok yang menghubungkan penggalan-penggalan cerita menjelang pengakuan kedaulatan Indonesia. Jadi, pembaca dilonggarkan memikirkan dan berimajinasi sejarah Indonesia (1945-1949).


Aneh, penulisan cerita untuk anak mengusung sejarah. Padahal, murid-murid di SD dan SMP sudah bosan dengan pelajaran sejarah. Dulu, ada beberapa penyebutan mata pelajaran yang membawakan sejarah. Yang pernah belajar PMP bakal sampai sejarah. Murid yang pernah dicekoki PSPB pasti kenyang sejarah. Pokoknya, sejarah keseringan diajarkan tapi menjemukan, ditambah pidato kepala sekolah saat upacara. 


Apakah novel membuat anak terpanggil belajar sejarah tanpa beban berupa ujian? Di Indonesia, kita jarang menemukan novel untuk anak yang mengusung sejarah memberi kesan-kesan mendalam. Yang terjadi adalah novel-novel kebanyakan pesan dan biasa dijadikan “propaganda” dalam kepentingan penguasa “membentuk” sejarah sekaligus melaksanakan pembangunan nasional.


Surtiningsih tampak kurang gereget dalam membawakan sejarah kepada para pembacanya. Novel itu seperti menjadikan sejarah cuma latar. Yang jelas pengisahannya lancar, tidak membikin anak-anak pusing. Cerita yang mudah membuat terharu tapi kadang menimbulkan kebingungan bila ada usaha mencocokkan dengan materi-materi dalam buku-buku pelajaran.


Warga menyelamatkan diri dari serbuan pasukan Belanda. Pasukan yang membawa persenjataan modern, yang tidak menolak Indonesia merdeka. Belanda berpikiran Indonesia masih miliknya meski sudah ada proklamasi: 17 Agustus 1945. Belanda murka dan angkuh, melanjutkan babak kolonialisme yang terlalu lama.


Pengarang menunjuk peristiwa yang menyedihkan saat pertempuran: “Malam pun turun. Pengungsi-pengungsi meninggalkan kuburan itu melanjutkan perjalanan mencari tempat yang aman untuk berlindung dari keangkaramurkaan musuh. Dan aku, betapa pun berat membawa bungkusan baju-baju, lagi-lagi teringat kepada anjingku, dan khawatir akan nasib tentara muda yang tadi terlihat.” Menik menyadari Indonesia diobrak-abrik Belanda. Mengungsi itu menyelamatkan diri. Perlawanan dilakukan oleh para lelaki yang menjadi kaum gerilyawan. Menik berada dalam hari-hari yang menegangkan. Artinya, ia menjadi saksi sejarah. 


Di situasi yang menyedihkan, Menik sempat mendengar perkataan bapaknya setelah pertemuan para pengungsi: “Tadi datang utusan memberitahu bahwa perang ini akan berlangsung lama. Kita harus menyediakan diri, bersiap-siap untuk menderita lama. Belanda sudah menduduki kota kita. Sebaiknya kita kembali ke rumah masing-masing dan mendoakan agar pemuda-pemuda kita dapat mengembalikan tanah air kita kembali kepada bangsa kita. Pemuda-pemuda akan bergerilya.” 


Kalimat yang terbaca mudah tapi pembaca menemukan ada yang berlebihan. Apakah kata-kata itu terucap runtut dan rapi oleh orang yang sedang dirundung sedih dan takut? Pengarang sengaja ingin membebani kalimat itu dengan pesan-pesan agar para pembacanya memuliakan tanah air. Pada suatu riset, novel gubahan Surtiningsih bisa menjadi referensi yang memasalahkan (sejarah) Indonesia dalam klise-klise yang lemah dalam argumentasi.


Menik yang masih kecil cepat memiliki kesadaran atas kemerdekaan. Ia tidak ingin Indonesia dijajah lagi. Menik yang didewasakan suasana perang dan mengikuti keinginan pengarang. Anak-anak yang membaca novel akan bangga dan memuji sikap Menik. Kita membayangkan peristiwa yang dialami Menik berlatar 1949: “Dari sebuah truk, seorang tentara melemparkan sekaleng makanan kira-kira dua meter di depanku. Kulirik mukanya yang tersenyum padaku. Tentu saja aku ingin makanan enak. Tapi tidak dari tentara Belanda yang biasa memamerkan kekayaannya dengan melempar-lemparkan rangsum mereka agar dipungut oleh anak-anak dan dapat menimbulkan pikiran bahwa kalau kita diperintah Belanda maka kita dapat makan enak.” Bocah yang terlalu cerdas dan kritis. Yakin saja sikap itu terjadi dalam sejarah.


Menik yang berani bersikap, yang sebenarnya mengerti risikonya. Namun, pengarang ingin menampilkan Menik ambil peran dalam sejarah: “Rasanya dengan begitu aku mau menunjukkan kepada mereka, bahkan anak kecil pun tak sudi menerima penghinaan. Aku berjalan dengan hati puas.” Menik, bukan bocah yang biasa. Ia tidak diceritakan sebagai penakut, selalu meratap dan menyusahkan selama perang. 


Perang bukan sekadar air mata, makian, kematian, luka, dan lain-lain. Pengarang tetap menghadirkan jagatnya anak-anak yang sejenak mengelak dari kenyataan perang. Pada suatu hari, Menik tidak terlalu memikirkan perang. Ia berada dalam pengalaman yang wajar. Para pembaca justru mudah menerima peristiwa Menik: “Di sebelah kanan rumahku tinggal Pak Hardjowinoto, seorang kepala sekolah. Rumah yang anggun itu halamannya biasa tertutup. Tak seorang pun anak tetangga yang berani bermain-main di halaman itu. Di sudut halaman tumbuh pokok mangga manalagi. Kadang-kadang buahnya yang masak di pohon jatuh ke luar halaman dan aku biasa berlari-lari untuk memungutnya.” Perang masih memungkinkan adanya halaman anak makan mangga manalagi.  


Sejak halaman awal sampai akhir, pengarang memang menceritakan cerita tentang perang. Tokohnya adalah anak. Namun, masalah-masalah yang menguasai cerita terlalu besar dan ruwet bagi anak-anak. Pengarang tetap saja dapat memberikan peristiwa yang menarik saat Menik memasalahkan mangga. Yang menarik itu sedikit.


Kalimat terakhir dalam novel terbaca tidak menarik bila kita ingin menghormati hak-hak anak atas cerita. Pengarang menulis berlatar 27 Desember 1949: “Indonesia benar-benar telah merdeka! Merdeka!” Kalimat memang meninggikan derajat memuliakan Indonesia tapi kurang cocok dalam pengisahan untuk anak-anak, yang memerlukan imajinasi Indonesia tanpa sesak slogan dan pekik.


________


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Sunday, November 30, 2025

Esai Encep Abdullah | Ngalor-Ngidul tentang Novel "Andra"

Oleh Encep Abdullah




Pada 7 Oktober 2025, Mang Qizink menghubungi saya lewat WA dan berencana mencetak novel terbarunya berjudul Andra (Bulan Sabit dan Rosario). Pada hari itu juga, ia mengirim manuskrip novelnya. Katanya, tidak usah dicetak banyak—rencananya di bawah 100 eksemplar. Mang Qizink bilang, buku ini hanya untuk hadiah bagi peserta bila suatu saat ia menjadi pemateri atau narasumber kegiatan. Jadi, Anda yang hadir dalam pertemuan hari ini [diskusi di Rumah Dunia] mungkin termasuk orang-orang yang akan mendapatkan hadiah itu. Silakan tagih janji si penulis!


Sebelum buku ini dicetak, Mang Qizink sempat bilang belum ada fulus. Namun tidak lama kemudian, pada 13 Oktober 2025, ada pengumuman bahwa cerpennya menjadi Juara 1 Lomba Menulis Cerpen pada Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Provinsi Banten dan tentu dapat duit banyak. Harusnya dicetak banyak, nih. Katanya, untuk biaya UKT anaknya.


Saya daftarkan ISBN untuk novel tersebut. Kurang lebih sebulan kemudian, tepatnya 7 November 2025 ISBN keluar. Saya juga mengirim foto iseng kepada Mang Qizink: buku itu sedang dipegang oleh Pak Gubernur Andra Soni yang saya edit pakai Gemini. Mang Qizink tertawa. Buku cetakan pertama (tanpa edit) berjumlah 50 eksemplar pun selesai dicetak.


Tidak lama setelah buku Andra sampai di kediaman Mang Qizink, ia menelepon bahwa Pak Gubernur Banten memesan sejumlah 200 eksemplar. Mang Qizink pun mengirim sebuah foto: bukunya (yang edisi cetakan awal) benar-benar sedang dipegang Pak Andra, bahkan Pak Andra mempromosikannya di suatu tempat, saat beliau sedang memberi sambutan. Berarti memang benar, Pak Gubernur memang memesan buku tersebut. Saya bilang dalam hati, padahal foto saat saya kirim itu cuma bercanda. Malah jadi kenyataan. Dari sini saya sadar, jangan sepelekan candaan, bisa jadi itu memang doa.


Dugaan saya, mengapa Pak Andra tertarik dengan buku Mang Qizink, selain karena judulnya, mungkin karena ada satu bagian halaman yang menurut saya cukup “ger”. Saya kutip dari awal bab "Spanduk dan Sketsa" (hlm. 39):



Di sepanjang 2016, mahasiswa mencatat ada belasan kasus korupsi yang ditangani aparat penegak hukum. Pelakunya mulai dari tingkat kepala desa, pengusaha, eksekutif, hingga anggota dewan. Di sisi lain, sejumlah kerabat pejabat akan ikut kontestasi pemilihan kepala daerah. Mereka menambah daftar panjang jaringan dinasti politik di Banten.


“Bersihkan Banten dari para koruptor!” teriak Andra.


Andra tampil gagah berorasi. Suaranya lantang, kata-katanya tajam, dan langkahnya tegak penuh percaya diri. Ia tak hanya bersuara, tapi juga membawa keyakinan bahwa perubahan bukan hanya impian. Hampir lima belas menit, Andra bersuara. Menyampaikan pendapat sekaligus membakar semangat. Tubuhnya yang dibungkus kaus hitam polos telah basah oleh keringat.



Seolah-olah kutipan tersebut adalah kata-kata Andra Soni. Bagi saya, ini satu hal yang menarik terkait peluang dan nasib ke mana buku ini akan berlabuh. Entah penulis sengaja atau hanya kebetulan. Namun, ini bisa Anda tiru. Misalnya, menulis buku berjudul Gibran atau Prabowo. Siapa tahu mereka tertarik memborong buku Anda. Kalau saya, belum kepikiran.


Untuk cetakan 200 eksemplar yang dipesan Pak Gubernur, tentu buku Andra saya baca ulang untuk meminimalkan kesalahan typo atau bagian yang kurang pas. Jadi, kalau Anda membaca buku ini dan di dalamnya banyak typo, berarti Anda memegang cetakan awal. Kalau rapi dan minim kesalahan, berarti Anda membaca cetakan  yang sudah disunting. Saran saya, sebelum menerbitkan buku—baik sedikit atau banyak—usahakan baca sendiri dulu sampai benar-benar selesai. Jangan setengah-setengah. Kalau bisa, berikan kepada editor, baik untuk edit ringan maupun berat. Supaya buku dapat dinikmati pembaca.


Coba bayangkan, buku Anda dipesan Pak Gibran, tetapi banyak typo di dalamnya. Yang malu bukan hanya penulis, tetapi juga penerbit, bahkan Pak Gibran-nya. Jadi, jangan buru-buru kalau menulis buku ya, Dek!


Terkait novel Andra, setelah saya baca ulang dengan agak serius, saya cukup menikmati permainan bahasa dan deskripsi penulis. Jujur, saya sudah jarang membaca novel sampai selesai. Terakhir saya baca (ulang) Layla Majnun karya Nizami Ganjavi, itu pun tinggal satu atau dua bab lagi. Juga The Stranger (Orang Asing) karya Albert Camus, dan itu pun tidak selesai. Membaca bila tidak ada kepentingan memang terasa berat. Saya menghabiskan buku Andra karena ada kepentingan: menyunting ulang bukunya dan membedahnya dalam acara di Rumah Dunia. Mau tidak mau harus dibaca, sekaligus "dicoret-coreti". Kurang afdal rasanya diskusi buku tanpa tulisan/ulasan selebaran yang dibagikan kepada peserta diskusi. Budaya seperti ini harus terus dilestarikan.


Jadi, kalau Anda ingin serius membaca buku, harus ada kepentingan, apa pun itu. Jangan hanya iseng belaka karena bisa jadi mubazir. Mungkin kita malas karena kurang paham, padahal bisa jadi itu tantangan. Cobalah becermin pada filsuf Muslim, Ibn Sina. Ia tidak akan membaca halaman berikutnya sebelum memahami halaman sebelumnya. Gila memang. Untungnya, novel Andra tidak serumit itu. Anda bisa membacanya sambil ngupil.


Walaupun tidak rumit, Anda harus fokus. Jika tidak, Anda tidak akan menikmati setiap detail deskripsi yang penulis hadirkan. Saya sampai geleng-geleng: kok bisa Mang Qizink bernapas begitu panjang mendeskripsikan sesuatu dalam novel Andra, bahkan sampai berhalaman-halaman. Mari baca pada bab "Janji Menguak Luka" (hlm. 44):



Andra melewati pintu depan rumah, Tienz mengikuti di belakang. Ruang tamu Andra juga tampak sederhana dengan cat serupa dengan bagian depan. Hanya ada sofa kecil dengan meja kayu yang dihiasi pot bunga mini. Di sisi sofa ada kipas angin berdiri. Di dinding terlihat foto Andra saat masih kecil bersama kedua orang tuanya.


Di sisi kiri terlihat deretan dua pintu kamar tidur, sementara di ujung lorong terlihat cermin besar memantulkan suasana bagian belakang rumah yang difungsikan sebagai dapur dan ruang makan. Lampu neon di langit-langit menyala memberikan pencahayaan yang hangat pada ruang berlantai keramik putih tersebut.


Meja dapur di bagian belakang tertata rapi dengan sebuah penutup saji berhias kain motif bunga. Berbagai peralatan masak tergantung di dinding, tepat di atas kompor gas dan rak piring. Warna perabot yang beragam memberi kesan hidup pada ruang ini, sementara pintu terbuka mengarah ke luar rumah, memberikan pandangan ke area belakang rumah yang diterangi sinar matahari.


Andra duduk di sisi kanan meja makan, lalu mempersilakan Tienz duduk di sampingnya. Emak Andra duduk berhadapan dengan Andra dan Tienz. Andra membuka tutup saji. Di atas meja tampak dua sate bandeng utuh, sepiring sayur kulit melinjo merah, opor ayam, dan sambal goreng.



Deskripsi macam itu bertebaran di banyak halaman. Ini mengingatkan saya pada cerpen Kritikus Adinan karya Budi Darma. Setiap detail kalimatnya menuntut fokus agar tidak kehilangan momen imajinasi, seolah film di kepala kita. Bila Anda lengah sedikit saja, kenikmatan itu hilang.


Atau coba Anda baca novel puitis Cala Ibi karya Nukila Amal, novel “mumet” Don Quixote karya Miguel de Cervantes, atau A Portrait of the Artist as a Young Man karya James Joyce. Novel Andra juga puitis, tetapi renyah dan tidak berbelit-belit. Saya kebangetan sekali ya, membandingkan Mang Qizink dengan para maestro dunia itu. Tapi siapa tahu suatu hari nanti karya Mang Qizink bisa sekelas mereka. Bisa mendunia.


Untuk menceritakan lebih-lebihnya dalam buku ini, saya sampaikan secara langsung dalam diskusi, tidak dalam tulisan ini. Tapi, intinya buku ini mengajak pembaca untuk merefleksikan tiga hal. Kalau saya kutip dari buku psikologis Konflik-Konflik Batin karya Karen Horney, saat terjadi konflik, kita bisa memilih (1) bergerak mendekati [kepada orang atau objek yang membuatnya merasa dilindungi], (2) bergerak menentang [secara sadar/tidak sadar ingin bertarung sebagai bentuk melindungi diri/balas dendam, (3) bergerak menjauh [tidak ingin menjadi bagian atau terlibat karena beda visi dan lebih memilih membangun dunianya sendiri]. 


Dalam novel Andra semua ada. Tokoh Arfan, bergerak mendekati karena merasa dilindungi oleh uang dan kekuasaan. Tokoh Andra dan Tienz, bergerak menentang dengan cara bertarung atau memperjuangkan diri akan cinta bahkan berupaya mendekonstruksi dogma atau keyakinan. Tokoh orang tua Tienz, bergerak menjauh karena mereka sangat traumatis terhadap masa lalu sehingga mereka lebih memilih untuk tidak terlibat dalam hal-hal yang membuat mereka diserang terus-menerus secara batin. Barangkali semua itu adalah representasi dari kehidupan manusia, terlepas apa pun masalahnya.


Selain itu, yang unik dalam novel Andra, penulis menghadirkan tokoh-tokoh yang abu-abu, munafik, dan paradoks. Misalnya tokoh Andra. Ia adalah sosok yang rajin salat, tidak mau patuh pada dogma, bahkan menolak untuk ikut demo penistaan agama. Di halaman 27, Andra dinarasikan bahwa dalam pandangannya, orang yang beragama tapi tak melaksanakan ajaran agamanya secara utuh adalah penista agama sesungguhnya. Bagi Andra, koruptor adalah penista agama. Koruptor adalah orang-orang yang sangat jelas melanggar ajaran agama dan merugikan rakyat. 


Anehnya, di luar sana Andra jalan berdua terus dengan Tienz, bahkan sempat berpelukan. Anda tahu dalam ajaran agama, itu tidak diperbolehkan. Ini satu paradoks yang dihadirkan penulis. Juga tokoh lain seperti Arfan, yang religius, tapi munafik, segala yang dia sampaikan itu tidak sesuai dengan hati nuraninya. Namun, ini mennunjukkan bahwa manusia ideal itu langka. Manusia yang sangat dan superideal menurut saya adalah ia yang alim, arif, dan taat. Tokoh dalam cerita Andra, tidak. Ada yang alim, arif, tapi tidak taat. Ada yang taat dan arif, tapi munafik. Mungkin di sekitar kita Ada juga yang tidak alim, tidak arif, juga tidak taat. Nauzubillah. Minimal kalau tidak menjadi tiga-tiganya, kita ada di salah satunya atau salah duanya. Dan, kita terus berproses agar memenuhi ketiganya.


Sebenarnya saya ingin menulis banyak tentang Andra, tapi karena kesibukan saya yang luar biasa di sekolah, waktu saya juga mepet-mepet, bahkan tulisan ini saya paksa bikin pukul 11.30 dan selesai pukul 12.45 sebelum acara diskusi buku dimulai.


Wabillahi taufik walhidayah. Wassalamualaikum wr. wb.



Catatan:

Tulisan ini disampaikan dalam acara Panggung Sastra Rumah Dunia: Bedah Novel Andra karya Qizink La Aziva di Cafe Rendez-vous Rumah Dunia pukul 13.30 s.d. selesai.




_______


Penulis


Encep Abdullah, tukang ngecaprak.



Sunday, September 15, 2024

Esai Sul Ikhsan | Saya Adalah Seorang Pemilih!

Esai Sul Ikhsan



Setiap menjelang pemilihan umum, saya kerap gelisah. Salah satu alasan utama saya adalah karena saya menganggap momen yang disebut banyak orang sebagai pesta demokrasi ini berdampak pada banyak hal, minimal bagi saya dan orang-orang terdekat.


Sejak pertama kali saya sah sebagai manusia yang diizinkan untuk ikut mencoblos di TPS, sejak itu pula kekecewaan demi kekecewaan menelisik masuk ke diri saya. Kekecewaan itu bukan berasal dari kekalahan pilihan saya, atau tak kebagian amplop serangan fajar, melainkan ada banyak hal yang saya anggap tak beres dalam sistem ini dan dampak yang ditimbulkannya. 


Saya yakin Anda akan bisa menyebutkan puluhan contoh kasusnya. Tetapi satu pertanyaan yang selalu membuat saya gelisah, mengapa kita tak pernah bisa hanya menjadi seorang pemilih alih-alih pendukung? Fanatik pula. Bagi saya, ketidakmampuan kita memosisikan diri hanya sebagai seorang pemilih inilah faktor utama saya meyakini bahwa sistem demokrasi–dalam hal ini turunannya adalah pemilu–belum cocok di negara kita. 


Bayangkan saja, pemilu membuat suara seorang lulusan SD yang, maaf, memiliki pengetahuan di bawah seorang profesor dianggap sama. Secara konsep, sistem ini bagus karena memungkinkan setiap orang memiliki hak yang sama dalam menentukan siapa pemimpinnya. Namun praktiknya, sistem ini menimbulkan banyak celah. Apa artinya memiliki hak yang sama dalam hal menentukan pemimpin, namun gagal dalam mendapat hak yang sama dalam menerima kebijakannya? Di titik ini saya tak setuju demokrasi. Apa saya ini seorang komunis? Sosialis? Atau seorang Khilafah? Entahlah! Saya tak cukup yakin.


Yang jelas, makin ke sini saya makin pesimis lantaran sistem demikian tak menjadi pintu masuk bagi pemimpin-pemimpin yang kelak memperjuangkan kepentingan rakyat. Malah sebaliknya, sistem pemilu memungkinkan setiap calon pemimpin menggunakan cara curang dengan kadar kesanggupannya masing-masing yang bertujuan hanya untuk menang. Rakyat? Ya urus sendiri masing-masing, apalagi yang terverifikasi tak memilih sang pemenang.


Coba bayangkan lagi, hasil yang dituju ialah menang. Semua masyarakat memiliki hak suara yang sama, tak peduli apa latar belakangnya. Setiap calon tentu akan berjibaku menggunakan berbagai cara untuk merengkuh suara itu. Mereka akan mencari formula yang memungkinkan dirinya dipilih mayoritas. Jika mayoritas suara hanya cukup dengan dua lembar ratusan ribu untuk memenangkan seorang calon, untuk apa menggunakan cara lain? Jika mayoritas suara menginginkan hanya cukup menjadi populer, ganteng, cantik, dan, berpakaian islami untuk menang, untuk apa menggunakan cara dialog pengetahuan yang melelahkan? Wong intinya menang. 


Dalam hal ini saya kemudian menyadari bahwa mayoritas suara inilah yang mesti di rukiah, bukan sistemnya. Saya tak berani menyebut masyarakat kita bodoh karena mereka tak berusaha untuk pintar dan mengerti. Tetapi saya meyakini bahwa masyarakat dibuat begitu, dibuat bodoh dan tak mengerti sehingga konsep yang bagus dari sistem demokrasi dimanfaatkan oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Merekalah yang menciptakan lingkaran setan ini: kondisi masyarakat bodoh dan tak mengerti -->  calon pemimpin memanipulasi hak suara --> pemimpin yang tak membawa kepentingan rakyat terpilih --> sang pemimpin membuat kebijakan yang tak berpihak pada rakyat --> pemimpin mempertahankan kondisi masyarakat yang bodoh --> calon pemimpin memanipulasi hak suara --> pemimpin yang tak membawa kepentingan rakyat terpilih. Begitu seterusnya. Maafkan saya. Diakui atau tidak, itulah kenyataannya. 


Rukiah demi rukiah telah diupayakan oleh banyak elemen yang berniat baik, seperti memberikan pendidikan politik, membuat jargon, jingle, dan tarian-tarian yang akrab dengan akar rumput. Tetapi, nahas, sistem pemilu makin hari makin mengenaskan dan tak ada artinya–setidaknya menurut saya. 


Berpolitik dalam alam demokrasi ya begini. Ketertarikan mayoritas menjadi penentu seseorang meraih kekuasaan. Machiavelli pernah bilang begitu, dan teori inilah yang sedang dipakai atau setidaknya ditiru. Katanya, untuk mempertahankan kekuasaan, seorang penguasa diperbolehkan menerapkan dan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya. Jika ketertarikan mayoritas adalah uang, ya calon penguasa akan menggunakan uang sebagai tangga menuju kekuasaan itu. Ketika katakanlah dengan cara curang kekuasaan bisa dicapai dan sebagian besar masyarakat memilih mereka yang menggunakan cara itu, kemenangan tetap sah. Sebanyak kemenangan itulah masyarakat menginginkannya.


Memang sangat kompleks untuk mengurai masalah ini. Tapi, bukan berarti tak ada jalan. Setelah saya mengalami patah hati politik dalam pemilu raya mahasiswa di kampus, saya menarik diri dari perhelatan “sok memberikan hak suara yang sama” yang bernama pemilu itu. Setiap diajak gabung untuk ikut terlibat sebagai apa pun, saya selalu menghindarinya. Saya berpikir bahwa semua sistem pemilu, di mana pun letak dan jenjangnya, sama. Sekalipun di tengah orang-orang yang bisa membaca dan menghitung hukum kekekalan energi. Apakah mereka bodoh? Rasanya tidak mungkin. Oh iya, hanya pemilu tingkat SMP saja yang masih bersih.


Saya akhirnya sampai pada keputusan bahwa dalam kontes politik tingkat mana pun saya hanya akan jadi seorang pemilih. Saya akan berusaha sekuat tenaga memilih calon yang tersedia dengan kemampuan yang saya miliki tanpa intervensi dari siapa pun. Menelusuri rekam jejaknya, menganalisis sosoknya, menimbang apa yang perlu ditimbang, dan menentukan pilihan dengan sadar. Apakah ada kemungkinan salah pilih? Tentu saja ada.  Kalaulah tak ada calon yang menurut saya layak setelah upaya saya menyelami itu, ya saya golput. Ngapain saya harus membuang waktu libur satu hari saya untuk memilih setan-setan itu? 


Itulah upaya saya. Saya tak mau memilih berdasar popularitas, ia berada di partai mana, ia anak siapa, atau ia zodiaknya apa. Saya akan memutuskan untuk memilih ketika saya merasa apa yang saya butuhkan cukup. Bukankah ini sesuai dengan 11 prinsip penyelenggaraan pemilu dan jargonnya yang luber jurdil itu?


Menjadi pemilih artinya mempertahankan integritas individu di atas “hak yang sama” yang dicita-citakan sistem ini. Tanpa menerima iming-iming apa-apa, bergantung pada sang calon, menjadi fanatik yang membela, menjilat, mengampanyekan habis-habisan si calon akan memberikan keleluasaan mereka untuk memanipulasi hak suara kita yang pada gilirannya menyeret orang lain untuk ikut bersama kita. Bahkan, setelah si calon terpilih kita merasa segan untuk mengkritik dan mengontrol kebijakan mereka karena kita telah masuk dalam pusaran: saya pendukung mereka.  


Apakah menjadi pendukung, timses, masuk partai, ikut andil dalam pesta, itu salah? Tentu saja tidak. Bukan itu titik simpulnya. Ketidakmampuan kita menarik diri dan menjaga jarak dari “sang penguasa” yang kita dukung itulah yang jadi masalah. Kita tak selesai hanya sebagai pendukung. Kita terus melanjutkan sebagai pembela, penjilat, dan bahkan, mohon maaf, penyembah. Dalam hal ini menurut saya, kebodohan bukan sebab utamanya, hanya saja ia salah satunya. Kepentingan pribadi dan kelompok, kehausan akan kekuasaan menjadi faktor lain yang ikut menjadi penyebab. Apakah wajar? Silakan. Berarti bersiaplah dengan segala kerusakannya.


Akhirnya, kekecewaan adalah harga mahal yang harus saya bayar dari sikap politik sebagai seorang pemilih.  Tetapi saya bangga. Saya yakin banyak orang di luar sana yang punya pandangan sama seperti saya dengan beragam konsepnya yang lebih mapan. Maka, saya menginginkan setiap orang punya sikap yang sama seperti saya yang akan menjadi integritas sebagai seorang pemilih. Bukan pendukung, penjilat atau apa pun istilahnya. Kita tak seharusnya mati-matian membela seseorang yang bahkan pada gilirannya akan menelantarkan kita. Bertabayun, memilih, mengawasi, dan mengkritik. Begitulah seharusnya pemilu di alam demokrasi dirayakan. Mungkin ada banyak cara lain, tetapi bagi saya ini adalah pukulan sekaligus pertahanan  terakhir yang bisa saya lakukan. Seperti apa kata idola saya, Tan Malaka, pada pukulan terakhir yang menentukan, kita hanya bisa mendapatkan kemenangan jika kita juga berinisiatif bertahan agar pukulan terakhir yang menentukan itu bisa mewujudkan kemenangan.  


Apa yang saya ingin menangkan? Semua orang yang ikut merayakan pesta demokrasi ini menjadi seorang pemilih!


Tabik.


_______

Penulis


Sul Ikhsan, Pemimpin Redaksi NGEWIYAK.


Sunday, September 8, 2024

Esai Sul Ikhsan | Jadi Pejabat Memang Harus Korupsi

Esai Sul Ikhsan 



Ketika rumah saya didatangi oleh beberapa pemuda ramah senyum yang memperkenalkan diri mereka sebagai petugas TPS, itu artinya ritual akbar demokrasi yang syarat dengan kesakralan akan segera dimulai kembali. Setelah berjibaku menyelesaikan pesta pemilihan umum tingkat presiden dan legislatif, kini masyarakat akan kembali menyambut drama kolosal bertajuk pemilihan kepala daerah yang tak kalah seru dari acara sebelumnya.


Semerbak keseruan itu bahkan sudah dimulai sejak petugas KPPS di Pilpres kemarin baru saja menyelesaikan tugasnya. Puncaknya, akhir Agustus kemarin. Putusan MK dan intrik-intrik politik yang terjadi membuat saya yakin bahwa Pilkada kali ini akan diwarnai keseruan yang tiada tanding. Tentu saja sebagai masyarakat, saya begitu menanti pagelaran megah ini dengan suka cita yang amat mendalam. Antusias sekali saya ini. Sumpah. 


Euforianya sudah dekat menyentuh kulit. Buktinya, panitia utusan KPU sudah berjibaku mempersiapkan dan memastikan seluruh proses di hari pelaksanaan nanti lancar, tertib, jujur, adil, dan hikmat. Genderang perang media sudah mulai ramai membicarakan calon di daerah masing-masing. Lembaga survei berbondong-bondong menayangkan elektabilitas si calon dengan segala embel-embel isunya. Juga, yang paling mengharukan, beberapa orang asing banyak yang datang ke desa-desa dengan membawa “pesan suci” yang wajib bagi siapa pun untuk menerima mereka dengan penuh rasa syukur.


Ada baiknya, momentum ini terus kita rayakan dengan semangat penuh cinta sebagai bentuk cinta NKRI harga mati kita. Cinta tanah air kita. Indonesia merdeka. 


Contoh kampung saya. Kami mulai mempersiapkan diri untuk hikmat merayakannya. Beberapa calon kepala daerah tingkat kabupaten/kota dan provinsi yang terdaftar sudah mulai memajang wajahnya di pinggir-pinggir jalan, di pohon-pohon, dan di beberapa titik keramaian. Yang menarik, di beberapa warung kopi juga sudah banyak pembicaraan dan debat politik ala orang kampung yang ngotot, penuh energi, dan menarik. 


Seperti biasa, selalu ada cerita menarik di momentum lima tahunan ini. Orang-orang kecil seperti kami mendadak menjadi pengamat politik yang lihai menilai, menganalisis, menjelaskan kekurangan dan kelebihan masing-masing calon sembari menanti siapa calon yang loyal memberi kami rokok dan kopi gratisan. 


Malam itu, warga berdebat cukup sengit. Warung kopi yang kebetulan tepat di depan rumah saya riuh membicarakan politik. Topik tim nasional Indonesia yang menahan imbang Saudi Arabia menjadi terdengar membosankan. Entah bagaimana ceritanya, tiga kubu sudah terbentuk. Beberapa warga sudah tak sembunyi-sembunyi lagi menyebut dirinya sebagai tim sukses. Dua warga menyatakan dirinya sebagai “orang suruhan” Airin dan Ade. Tiga warga lainnya mengaku sebagai timses Andra dan Soni. Keduanya nama-nama cagub dan cawagub yang akan bertarung di Provinsi Banten. Sisanya yang berjumlah lebih banyak menjadi penentang kedua kubu. Mereka menyebut diri sebagai: “Kita netral aja. Lagi pula, siapa pun yang menang, paling juga anggarannya dikorupsi.”


Perkataan seorang warga yang mengaku tak mendukung siapa-siapa itulah yang jadi bahan gunjing malam itu. Bara api semakin menyala ketika sebagian besar warga menyetujuinya. Saya yang mulanya hanya menonton, ikut menyetujui pendapat kawan saya itu. Pendapat itu bagi saya terdengar seksi. Meski sebenarnya klise, tetapi ia keluar dari mulut orang yang selama ini tak pernah tertarik dengan pemilu dan perpolitikan bangsa ini. Saya pun ikut menyampaikan pendapat saya mengenai mengapa seorang pejabat yang menang pemilu memang seharusnya korupsi. Saya coba rangkum di bawah ini.

   

Pejabat yang menang pemilu memang harus korupsi. Sebelum saya membeberkan alasan logisnya, saya ingin menjabarkan data dari KPK pada tahun 2015. KPK mencatat ada 64 kasus korupsi yang menyeret kepala daerah se-Indonesia. Ini cuma kasusnya, bukan orang yang terjerat kasusnya. Lalu, ICW mencatat sepanjang tahun 2010 hingga Juni 2018 tak kurang dari 253 kepala daerah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi. Dua ratus lima puluh tiga. Catat! 


Mengapa bisa sebanyak itu? Jawabannya cukup sederhana bagi saya. Mereka sedang berusaha mengembalikan ongkos politik yang sudah dikeluarkan. Meskipun kita bisa menjatuhi stigma bahwa perilaku korupsi berhubungan dengan moral pelaku, alasan ongkos politik bagi saya jauh lebih masuk akal dan tentu saja bisa dihitung secara matematis. 


Menurut kajian Litbang Kemendagri tahun 2015, yang ini sempat ramai disinggung Prof. Mahfud, untuk mencalonkan diri sebagai bupati/wali kota hingga gubernur membutuhkan biaya sekitar 20--100 miliar, sedangkan pendapatan rata-rata gaji mereka di angka 5 miliar per periode. Coba bayangkan, defisit berapa banyak jika mereka duduk di kursi pemerintahan dengan hati dan prilaku jujur, rendah hati, dan ceria? 


Secara hitung-hitungan politik, jika si bakal calon atau calon berniat mencalonkan diri dengan mengusung jargon tolak politic money, tanpa ongkos sepeser pun misalnya, dipastikan ia akan kalah, bahkan sebelum pelaksanaan pemungutan suara dimulai. Kalau tidak percaya, silahkan dicoba. Jangan yang tinggi-tinggi dulu deh, minimal coba mencalonkan diri sebagai kepala desa sana!


Lah dipikir saja, setingkat Pilkades, jagoan saya kemarin ludes kurang lebih 300 juta untuk biaya pendaftaran, wara-wiri dari pertama kali punya niat sampai final, cetak baliho, meramaikan khazanah posko pemenangan, menyambut tamu, yasinan tujuh hari tujuh malam, konsolidasi politik, bayar dukun, dan serangan fajar. 


Dari tiga calon yang siap memajukan desa saya, calon jagoan saya yang keluar ongkos 300 juta ini berada di urutan terakhir. Di kemudian hari, saya mendapat informasi bahwa calon jagoan saya memiliki modal paling sedikit dibandingkan dengan dua calon lainnya. Ia hanya memberi serangan fajar puluhan ribu ke warga. Nilai ini kalah telak dibanding dua calon lain yang berbaik hati memberikan ratusan ribu kepada warga. Tahu yang menang siapa? Jelas pemilik modal terbanyak, dong! Calon yang menang memberi 300 ribu/kepala, calon kedua 200 ribu/kepala, calon ketiga 35 ribu/kepala. Dipikir saja dengan akal sehat, 35 ribu, mana cukup untuk beli anggur merah cap Orang Tua? 


Sekarang saya tanya, apakah dengan kasus di atas, kepala desa terpilih akan bersungguh-sungguh membangun desa jika menghitung biaya politiknya yang ratusan juta, sedangkan gajinya hanya puluhan juta saja? Mau memajukan desa saya sampai ke mana? 


Omong-omong soal ongkos politik, nominal yang dipaparkan Litbang Kemendagri tersebut kalau dirinci memuat keperluan berikut ini: mahar politik (nomination buying) ke partai pengusung sebelum dicalonkan, jual beli suara (vote buying), ongkos politik kampanye, biaya setelah resmi menang, dan biaya-biaya tak terduga lainnya. 


Kalau misalnya Anda adalah sosok yang miskin tapi kharismatik, agamis, populis, dan dicintai banyak rakyat, jangan khawatir. Ada mekanisme mahar investor yang siap membiayai pencalonan diri Anda dengan syarat jika menang, Anda harus mempersiapkan proyek untuk sang investor. Bagaimana, Anda tertarik? 


Ironisnya, meskipun si calon sudah merogoh kocek sangat fantastis, belum cukup memuluskan jalan untuk bisa petangtang-petengteng di kursi pemerintahan. Calon yang ingin mengubah daerahnya tak cuma Anda, loh! Biasanya ada dua atau lebih calon yang bertarung. Di sini, mereka akan sikut-menyikut menggunakan berbagai macam cara. Jika kurang populer, uang bisa meriasnya, minimal untuk membayar mantan aktivis mahasiswa untuk mengkampanyekan ketidakpopuleran si calon supaya menjadi populer. Jika kurang populer dan kurang uang, gunakan kampanye merah. Serang dengan fitnah, framing, dan survei gadungan, misalnya. 


Jika Anda populer, Anda tetap perlu uang untuk mengafirmasi kepopuleran Anda. Jika Anda cuma punya cara licik, Anda juga butuh uang untuk membiayai cara licik Anda. Beli suara butuh uang, memfitnah juga butuh media dan kepercayaan publik, itu juga butuh uang. Bikin survei gadungan, butuh uang juga. Agar mantan aktivis mahasiswa mau ikut gerbong Anda juga, ya butuh uang. Mana mau mereka dibayar dengan jargon perubahan, kesejahteraan, kesederhanaan, adil, dan makmur? Kalau aktivis mahasiswa kurang, gaet sastrawan yang banyak omong kosong itu. Di Banten banyak, kok! 


Jadi, saya amat sangat memaklumi mengapa para pejabat kita pada tukang korupsi. Bukan berarti saya setuju dan menormalisasi dengan tindak pidana maling ini. Maling ya tetap maling, apa pun alasannya. Lihat saja provinsi Banten. Sudah jatuh malah ketiban durian, sudah diduduki dinasti, eh ketiban korupsi triliunan. Cakep!


Lagipula, korupsi itu puncak pohon. Akarnya menurut saya sistem pemilunya. Masalah utamanya yakni akar yang menopang pohon berdiri. Pesta demokrasi ini agaknya membuka lebar-lebar kasus korupsi. Untuk menang, mereka harus mengeluarkan banyak ongkos politik alih-alih menyusun kebijakan hebat untuk memajukan daerah mereka.

Dari tingkat desa hingga pusat, sama-sama bobroknya. Pemilu di kampus yang berisi orang-orang intelektual juga sama ambyarnya.  Tak ada harapan. Benar-benar miniatur negara. 

Persoalan korupsi ini juga kompleks. Beberapa kasus memang terungkap, itu pun kadang kasus pesanan, tetapi lebih banyak lagi kasus yang tersimpan di laci meja yang hanya diketahui oleh diri mereka, antek-antek mereka, dan tentu saja Allah swt.


Omong-omong korupsi, saya malah punya keyakinan bahwa setiap manusia punya potensi korupsi di dalam darah dagingnya. Kita yang lantang bicara anti korupsi ini bisa jadi belum punya kesempatan untuk melakukannya. Toh, dalam beberapa hal lain, kita sudah sering melakukan tindak pidana korupsi kecil-kecilan setiap harinya di tempat yang juga kecil. Bisa jadi. Ini mungkin bisa saya sampaikan di kesempatan lain.  


Balik lagi ke soal pemilu. Masyarakat sudah kepalang mendarah daging dengan uang panas lima tahunan ini. Istilah kerennya, mereka rela menukar suara mereka dengan uang ratusan ribu rupiah dengan korupsi triliunan rupiah. Lalu, kenapa mereka marah ketika melakukan korupsi? Wajar, dong? Iya, kan? 


Mengapa budaya serangan fajar ini tak bisa lenyap meski sejak kecil baliho antikorupsi menghias di sekolah kita? Ada satu pandangan menarik yang pernah saya dengar soal ini. Saya pernah bertanya kepada seorang warga yang pernah menerima serangan fajar. Katanya, tak ada yang menjamin bahwa mereka yang tak memberikan serangan fajar bakal tidak korupsi. Sebagian besar masyarakat sudah meyakini bahwa kebanyakan pejabat pasti korupsi, baik yang memberikan serangan fajar atau yang tidak. Untuk berjaga-jaga supaya tidak mengalami kerugian di awal, lebih baik memilih mereka yang memberikan modal banyak di awal. Toh, mereka yang tidak menerima sepeser pun juga akan mendapat kerugian yang sama setelah sang calon duduk di kursi pemerintahan. Kehidupan tak banyak berubah, kebijakan aneh, dan korupsi tetap merajalela. Dipikir-pikir alasan itu masuk akal juga. 


Meski begitu, saya tetap meyakini bahwa asal muasal korupsi di pemerintahan ini salah satu faktornya ya karena ada upaya balik modal ongkos politik ini. Perbaiki dulu sistem pemilu ini sembari pelan-pelan memberikan pendidikan politik ke masyarakat. Itu pun kalau mau. Kan bahaya kalau masyarakatnya pinter. Kalau dengan modal uang bisa mendapat dukungan, mengapa harus repot-repot mendidik warga!?


Debat panas itu pun mau tak mau terpaksa diakhiri lantaran waktu semakin menuju subuh. Seperti biasa, ada yang merasa tersinggung, ada yang masih belum puas akan argumen-argumen liar, ada juga yang ketawa-ketiwi masa bodo. Saya ikut ketawa setelah ingat pernah membaca kalimat lucu yang dijadikan tema organisasi mahasiswa daerah yang pernah mengadakan acara seminar. Bunyinya begini: STOP POLITIK MONEY DI PILKADA 2024. Lucu, kan, tema ini?


________

Penulis 


Sul Ikhsan, Pemred NGEWIYAK.


Sunday, September 17, 2023

Esai Encep Abdullah | Tradisi NU Itu Candu

Oleh Encep Abdullah



Ini lucu. Lebih tepatnya menarik. Saya orang Muhammadiyah—dibesarkan di lingkungan dan keluarga Muhammadiyah, apalagi Bapak saya tokoh Muhammadiyah dan mantan Pimpinan Cabang Muhammadiyah—, tapi kebagian jatah membahas tokoh besar NU, guru bangsa, Hadratusyekh K.H. M. Hasyim Asy’ari dalam kajian Mingguan Komunitas Menulis Pontang Tirtayasa (13 Sept 2023). Jujur, sudah lama saya ingin baca biografi beliau. Namun, belum kesampaian. Barangkali Tuhan memberikan jalan lewat kajian ini yang menurut saya waktunya pas dengan kondisi saya saat ini yang juga sedang gandrung ber-NU di kompleks perumahan. Saya tidak tahu banyak tentang sejarah dan asal-usul organisasi besar ini, juga pendirinya. Namun, ritual-ritual gerakan Islam Tradisional sebagiannya sudah sering saya jalankan. Mau tidak mau. Dan, ternyata tradisi Islam konservatif ini bikin candu. Saya harus hati-hati. Nanti ketagihan. 


Membaca buku tipis K.H. Hasyim Asy’ari Biografi Singkat 1871-1947 karya M. Rifai (Garasi, 2009) setebal 148 halaman ini membuka jalan pikiran saya yang ”terbayang-bayang” apa sih sebenarnya yang NU mau. Kenapa sih harus tetap berpegang teguh berpegang prinsip umat Muslim harus tetap berziarah, tahlil, haul, dsb. Selama ini saya hanya mendengar dari para alim ulama saja, kurang begitu tahu secara detail tertulis kenapa Sang Kiai—saya sebut ini saja berikutnya seperti dalam filmnya—bertahan dengan pikirannya.


Muasal dari semua itu sebenarnya adalah keruntuhan Islam di Timur Tengah, tergulingnya Khalifah Utsmaniyah. Lalu, Arab Saudi mencanangkan diadakannya Muktamar Khilafah agar Negara Arab menjadi Khalifah Islamiyah tunggal yang berisi paham gerakan pembaharuan Islam yang dikenal dengan Wahhabi, diambil dari pendirinya, Muhammad ibn Abdul Wahhab. Gerakan antisyirik, anti-khurafat dan anti-bid’ah. Melarang ziarah kubur, baca kitab barzanji, juga meminggirkan mazhab empat, menggusur berbagai petilasan sejarah Islam. Kebanyakan umat Islam, terutama di Indonesia, kebanyakan sedang mengalami “mabuk” dengan apa yang disebut pembaruan Islam tersebut. 


Dalam rapat di Surabaya yang dihadiri para tokoh kaum tradisional, diputuskan untuk mengutus K.H. Wahab Hasbullah dan Syekh Ghonaim (warga negara Mesir sebagai penasihat) ke Arab Saudi. Delegasi itu berangkat ke Hijaz dengan membawa surat keberatan apa yang sudah dilayangkan oleh Raja Arab Saudi kala itu, Abdul Aziz bin Saud. Delegasi ini bernama “Jam’iyah Nahdhatul Ulama” yang didirikan pada 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926. Pemerintah Arab Saudi membalas surat keberatan “Jam’iyah Nahdhatul Ulama” tentang gerakan Islam Modern tersebut. Berikut balasannya.


...


"Adapun kebebasan seseorang dalam mengikuti mazhabnya, maka bagi Allah segala puji dan anugerahnya, memang umat Islam bebas merdeka dalam segala urusan, kecuali dalam hal-hal yang terang diharamkan oleh Allah dan tidak ditemui pada seseorang satu dalil pun yang menghalalkan amalannya, tidak terdapat dalam Al-Quran, tidak terdapat dalam al-Sunnah, tidak terdapat dalam mazhab orang-orang salaf yang shaleh dan tidak terdapat pula pada fatwa para imam mazhab yang empat. Apa saja yang sesuai dengan semua itu, kami mengamalkannya, melaksanakannya dan membantu pelaksanaannya. Sedang apa saja yang bertentangan dengan hal-hal tersebut, maka tidak wajib taat kepada makhluk yang bermaksiat kepada Allah. 


Dan pada hakikatnya apa yang kami laksanakan hanyalah ajakan untuk kembali kepada Al-Quran, al-Sunnah dan ini pula agama yang diturunkan Allah. Dan kami, berkat kemurahan Allah, tetap berjalan di atas jalan orang kuno yang shaleh, yang permulaan mereka adalah para sahabat Nabi Muhammad Saw. Sedang pada penutupnya adalah para imam yang empat."



Dari sinilah organisasi NU bermula meskipun pada awal-awal Sang Kiai tidak langsung memutuskan resmi berdiri karena banyak pertimbangan, salah satunya adalah timbul perpecahan umat. Namun, beliau istikharah dan memohon arahan juga dari Kiai Khalil Bangkalan. Lalu, resmilah NU menjadi organisasi Islam.


Pemahaman kaum modernis yang mengusung kembali (langsung) ke Al-Quran dan As-Sunah sangat bertentangan dengan paham Sang Kiai. Dalam kalangan NU, pintu ijtihad tertutup. Bagi kalangan modernis pintu ijtihad masih terbuka. Tentu perkara urusan ijtihad ini bukan perkara main-main, aturannya sangat ketat. Menurut Rifai, Sang Kiai tegasnya, untuk mempelajari ajaran Islam, tidak langsung mengambil dari sumber aslinya, Al-Quran dan Hadis, melainkan mencari dahulu beberapa pendapat ulama termasyhur dari abad pertengahan yang terkodifikasi dalam kitab kuning. Kemudian dicocokkan dengan sumber aslinya, yaitu Al-Quran dan Hadis. Tujuannya adalah untuk menjaga agar jangan sampai umat Islam salah dalam menafsirkan kedua sumber ajaran Islam itu. Apa yang hendak dipesankan beliau dengan tata cara pemahaman keagamaan demikian tidak lain adalah untuk menjaga sikap kesombongan kita dengan menganggap gampang dalam memahami dan menafsirkan Al-Quran dan Hadis. Sang Kiai dan Muslim tradisionalis yang lain mengakui taklid sebagai salah satu metode untuk mencari jawaban permasalahan hukum. Hal ini karena ijtihad tidak dapat diterima jika hanya berdasarkan pertimbangan pikiran.


Rifai juga menambahkan bahwa Sang Kiai juga dalam hal ini lebih memilih model dakwah yang dicontohkan oleh Wali Songo. Toleransi religius, misalnya, telah mengakomodasi proses pertukaran dan pembaruan yang menciptakan keunikan warna Islam dalam kehidupan masyarakat Jawa. Saling pengertian dalam beragama ini telah membawa suatu harmoni sebagai elemen penting dalam kehidupan religius santri, yakni ajaran Sunni yang telah dimodifikasi, yang tidak menghambat adat setempat. Oleh, sebab itu biar bagaimana pun memang tidak akan pernah bisa menyatu dari segi ideologi yang diusung modernis dan tradisionalis karena beda pandangan. Namun Sang Kiai, menyadari itu, perbedaan adalah rahmat. Sikap toleransi harus dijaga. Beliau akan marah bila paham tradisionalis ini dihalangi. Namun, beliau punya sikap toleransi yang tinggi. Intinya, selagi tidak mengganggu, jalan masing-masing, maka kaum tradisonal tidak akan menyingsingkan baju. Pesan Sang Kiai: ”Berjuanglah demi Islam dan lawanlah mereka yang mengotori ajaran-ajaran Al-Qur‘an dan sifat-sifat Tuhan, lawanlah mereka yang mencari ilmu pengetahuan yang tidak memiliki landasan serta merusak iman. Jihad untuk membawa mereka kembali ke jalan yang benar dalam hal ini merupakan kewajiban. Mengapa kamu sekalian tidak menyibukkan diri untuk mengetahui tugas tersebut? Wahai kamu sekalian! Orang-orang yang tidak beriman tengah merajalela di seluruh negeri ini. Maka siapa di antara kamu yang akan tampil melawan mereka dan membimbing mereka ke jalan yang baik.”


Barangkali persoalan-persoalan itu di zaman sekarang sudah meredam. Untuk apa terus menerus ribut. Dan, orang-orang yang meributkan itu biasanya orang awam atau orang yang baru belajar. Itu pun terjadi pada saya. Saya tidak mempermasalahkan bagaimana praktik ibadah dan tradisi yang berjalan di masyarakat sekitar perumahan saya. Namun, kadang, ada sebagian dari mereka yang tidak memahami latar belakang saya dan psikologis saya. Tapi, saya tidak menganggap mereka memusuhi saya begitu juga sebaliknya. Pelan-pelan saya bilang bahwa saya orang Muhammadiyah agar mereka juga bisa memahami latar belakang saya. Lamat-lamat, sejak hidup di kompleks perumahan, saya juga sambil belajar dan memahami hakikat ber-NU. Bahkan, ada yang sering berbisik mengajak saya ikut Dlailan, Ziarah, Zikir Manakib. Duh, bukannya menolak. Jiwa saya masih bergejolak untuk ikut semua tradisi NU. Saya masih menjaga marwah Muhammadiyah saya. Karena saya tahu, tradisi NU itu bikin candu. Selama saya hidup di perumahan, saya bisa hafal sedikit demi sedikit Surah Yasin, Marhaban(an), dan belajar doa yang agak panjang, tentu saja makanan dan jamuan yang berlimpah. Dan, yang membuat saya berterima kasih adalah, saya jadi lebih dekat dengan nama Syekh Abdul Qadir al-Jaelani, Syekh Nawawi al-Bantani, serta beberapa ulama NU dan ulama sufi lainnya yang pada akhirnya saya ikut berziarah, lebih tepatnya menziarahi pemikiran mereka lewat buku dan kajian diskusi. 


Hal itu juga yang dikritik dalam buku Rifai, jangan sampai warga NU hanya gemar tabur bunga, menziarahi kuburan, melainkan juga menziarahi pemikiran para tokohnya—juga ulama pada umumnya. Dari sini juga, saya terketuk menziarahi pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari. Oleh sebab itu, membaca kembali tentang siapa beliau, bagaimana perjuangan dan pemikirannya, merupakan sesuatu yang sangat perlu kiranya. Dengan itu, yang menurut Rifai, kita bisa menghormati jasa pahlawan bukan sekadar seremoni, upacara, dan tabur bunga, melainkan mendialektikakan pemikirannya dan mengontekstualisasikannya dengan kondisi sekarang, di mana persoalan rasa kebangsaan dan persatuan malah semakin terus diuji dan semakin berat. Di satu sisi, globalisasi membanjiri kita dari luar dan di sisi lain, persoalan keadilan dan kesejahteraan masih menjadi persoalan mendasar bangsa ini. 


Dari segala pemikiran Sang Kiai terkait pendidikan, tasawuf, fikih-hadis, dan jiwa nasionalis, saya kepincut dengan jiwa pendidikan dan nasionalis beliau. Beliau sangat cinta sekali kepada ilmu. Beliau juga menulis banyak kitab, salah satu bukunya yang terkenal Adabul Alim Walmutaalim. Berisi tentang keutamaan ilmu dan ulama dan keutamaan belajar ilmu dan mengajarkan ilmu, akhlak seorang murid, akhlak seorang pelajar terhadap gurunya, akhlak pelajar terhadap pelajarannya, akhlak seorang guru, akhlak guru ketika mengajar, akhlak guru terhadap murid, akhlak pelajar dengan buku-buku sebagai alat ilmu dan yang berhubungan dengan cara memperolehnya. Yang paling menarik adalah pada bab yang terakhir itu, salah satunya saya baca “Jika seorang pelajar tidak berkeberatan, dianjurkan untuk meminjamkan bukunya kepada temannya yang dianggap tidak akan mencederai akad pinjaman.” Pesan ini kadang berkebalikannya di dunia saya saat ini, banyak peminjam buku yang malah tidak mengembalikannya, malah mencederai buku tersebut hingga rusak. Sudah rusak, tidak dikembalikan pula.


Sesuatu yang tak kalah penting dari segala jasa beliau untuk bangsa ini ada maklumat ”Resolusi Jihad” yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945—yang kini menjadi Hari Santri. Hal ini juga untuk menjawabi pertanyaan Soekarno saat itu terkait bagaimana ”hukum membela tanah air”. Fatwa beliau yang mengatakan bahwa Indonesia yang diproklamasikan Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945 berdasarkan Pancasila secara fikih sah hukumnya. Oleh karena itu, beliau memerintahkan umatnya untuk membela Indonesia, karena membela Indonesia berarti membela Islam. Hal itu memiliki momentum ketika Belanda bersama sekutunya datang kembali ke Indonesia hendak menjajah kembali. ”Resolusi Jihad ” menjadi pemantik perjuangan arek-arek Suroboyo dan sekitarnya dengan panglimanya Bung Tomo untuk melakukan perlawanan atas penjajah yang berada di Surabaya. Ketika itu, banyak santri -santri dan umat K.H. Hasyim Asy’ari yang turut serta dan gugur menjadi syuhada. Peristiwa ini ditandai kemudian hari sebagai Hari Pahlawan, yaitu pada 10 November 1945, sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa para pahlawan.


Lalu, apa bentuk jihad kita hari ini? 


Persoalan-persoalan khilafiyah hanya persoalan sepersekian persen dari persoalan besar lainnya yang jauh lebih penting. Persoalan besar itu berupa kesehatan, kemiskinan, pendidikan, generasi umat yang harus cerdas dan melek ilmu pengetahuan. Semua itu jalan jihad. Dalam kitab Adabul Alim Walmutaallim, K.H. Hasyim mengutip riwayat Muadz Bin Jabal yang berkata “Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya adalah suatu kebajikan, mencarinya adalah suatu ibadah, mendiskusikannya adalah tasbih, membahasnya adalah jihad, menyerahkannya adalah upaya pendekatan diri kepada Allah Swt. dan mengajarkannya kepada orang yang tidak berilmu adalah shadaqah.” 


Apa yang sedang saya dan teman-teman komunitas saya lakukan, menulis dan membaca, juga bagian dari jihad: JIHAD LITERASI. Dan ingat, ada yang jauh lebih berat. Dalam hadits dikatakan bahwa jihad paling berat adalah perang melawan hawa nafsu. Inilah jihad yang paling besar dalam pandangan Islam. Pikiran hawa nafsu dan setan itu digambarkan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jaelani seperti kecintaan pada makanan dan minuman, kecintaan pada keluarga dan kerabat, kecintaan pada hewan-hewan seperti kuda dan lain sebagainya. Juga termasuk di dalamnya ialah riya' (pamer), sum'ah (senang pujian) dan syuhrah (popularitas). Juga dikatakan oleh Haedar mengutip penyair besar Jalaluddin Rumi yang mengatakan bahwa “hawa nafsu merupakan induk dari segala berhala.” Mari berjihad! Takbir!


13 September 2023



________


Penulis 

Encep Abdullah, Redaksi NGEWIYAK.


redaksingewiyak@gmail.com


Sunday, September 3, 2023

Esai Sul Ikhsan | Dunia Simulasi dan Jual Beli Simbol

Esai Sul Ikhsan



Belum lama ini, saya hijrah ke Jakarta, menjadi guru di sekolah Islam lumayan elite. Ada cerita menarik—terutama bagi saya—saat pertama kali menginjakkan kaki di pintu gerbang sekolah itu. Seorang satpam laki-laki mencegat saya dan katanya tidak menerima bentuk penawaran produk apa pun yang bakal saya jual. Mulanya saya bingung. Namun, setelah melirik dandanan saya waktu itu—kemeja biru polos, celana bahan, dan sepatu pantofel yang kebesaran—saya jadi sadar. Alih-alih dipandang sebagai seorang guru, saya agaknya lebih mirip sales yang menjual barang-barang sekolahan. Saat saya menyebutkan maksud, barulah ia meminta maaf dan bercerita bahwa belakangan ini sering datang sales yang dandannya tak jauh beda dengan saya memaksa menawarkan perabotan sekolah.


Aktivitas simpul-menyimpul itu ternyata lumrah kita temui di banyak hal setiap hari. Laki-laki dianggap gagah kalau ia merokok. Remaja dikira gaul kalau memakai baju bermerek. Perempuan dicap bengal kalau berpakaian kurang bahan. Atau orang menganggap saleh orang lain yang berpiama, berpeci, berjanggut panjang, bercelana cingkrang, berjidat hitam, bercadar, berkerudung hingga mata kaki, dan status WA penuh selebaran Islami. 


Oleh karena persoalan itu, kebanyakan manusia kini berbondong-bondong mencitrakan diri menjadi sesuatu yang telah didefinisikan masyarakat. Bodo amat hati semulia apa, kepala secerdas apa, karakter sebijak apa, iman sekuat apa, ibadah serajin apa. Selama ini berjalan-jalan di muka bumi ini dengan jubah dan kopiah dengan sedikit ceramah di media sosial mereka, ia tak sulit untuk dijuluki sebagai orang-orang bertakwa. Lebay sih, tapi begitulah kenyataanya bukan?


Sialnya, fenomena di atas kadang kala dianggap sebagai sesuatu yang lazim, sesuatu yang memang begitulah seharusnya, begitulah kenyataannya. Kalau kita tak mau disebut urakan, berdandanlah yang rapi. Kalau kita mau ganteng, putihkanlah wajah kita dan pakailah garnier! Kalaulah kita punya waktu untuk menelisik secara saksama, kondisi demikian pada akhirnya melahirkan dunia yang melampaui kenyataan, jauh dari apa yang terjadi sebenarnya, meminjam istilah Jean Bouldiard, hiperreality.


Hiperreality oleh Bouldiard katanya disebabkan oleh produksi terus-menerus pikiran imajiner terhadap sebuah realitas tanpa menghadirkan realitas itu sendiri secara esensial. Sederhananya, kalau kita pakai permisalan orang saleh ini, ia akan dianggap begitu karena pakaian yang dikenakan mengarah pada definisi kesalehan, bukan menyoal hal yang esensial, yakni keimanan dan ketakwaannya yang asli. Orang yang tak memakai pakaian saleh itu, tak masuk kategori saleh meskipun ibadahnya ulet, sedekahnya rajin, lisannya baik, pikirannya bersih, hatinya mulia. Yang esensial-esensial itu lama-lama disingkirkan ke pinggir dan diangkatlah ke permukaan sebentuk simbol-simbol imajiner. Itulah yang oleh Bouldiard disebut sebagai "simulakra" alias dunia simulasi.


Dalam dunia simulasi terkandung tiga komponen yang kemudian membentuk dunia yang melampaui kenyataan itu. Tiga komponen itu ialah tanda, penanda, dan petanda. Tanda ialah sesuatu yang membentuk dan mengandung makna, penanda yakni media, dan petanda merupakan makna itu sendiri. Untuk membentuk tanda saleh, kita menggunakan kopiah, jubah, dan semodelnya sebagai penanda. Maka, jika kita mengenakan penanda-penanda itu dalam keseharian kita, kita tak dipelak dijuluki sebagai orang saleh sebagai petandanya. Dalam kasus ini, terdapat manipulasi tanda di mana pakaian-pakaian sebagai penanda kesalehan dipelintir sebagai petanda, makna saleh itu sendiri.


Akhirnya, pertanyaan pentingnya, mengapa Bouldiard kemudian mempermasalahkan itu? Bukankah bagi kita hal semacam itu ialah biasa, sesuatu yang seharusnya memang begitu?


Di titik itu masalahnya. Simulasi tanda kemudian membawa masyarakat pada ketidaksadaran akan adanya simulasi dan kontrol makna. "Simulakra" mengontrol kita dengan cara menjebak kita untuk percaya bahwa simulasi itu nyata. Yang terjadi, kita kemudian terus-menerus mengonsumsi simbol yang semula ditujukkan bagi sesuatu yang esensial, kebutuhan hidup, menjadi gaya hidup. Kita membeli simbol untuk bisa ikut dalam definisi masyarakat lantaran masyarakat lebih fokus pada konsumsi simbol ketimbang penggunaanya.


Masyarakat lebih memilih produk bermerek untuk disebut gaul ketimbang kegunaannya. Memilih bekerja jadi PNS untuk disebut terhormat ketimbang esensi pekerjaannya. Membeli banyak hal untuk dianggap “sesuatu yang menakjubkan” alih-alih kebermanfaatannya. 


Oleh kapitalisme, fenomena ini kemudian difasilitasi dengan kehadiran drugstore alias pasar bebas yang buka 24 jam, dengan seperangkat kemudahannya, dengan gegap-gempitanya, yang terus-menerus menarik kita pada konsumerisme. Menggenjot kita untuk terus membeli, membeli, membeli, check out tanpa berpikir lebih jauh untuk apa kita membeli barang itu.


Seperti Tuan Crab yang mencintai Nyonya Puff dalam Spongebob Squarepants episode "Krusty Love". Tuan Crab terus-menerus menyuruh Spongebob untuk membeli barang yang menurutnya dibutuhkan oleh Nyonya Puff. Crab menganggap bahwa barang-barang yang dibelinya itu ialah sebagai sebuah simbol cintanya. Perilaku Tuan Crab dalam episode itu amatlah mirip dengan kita setiap hari. Kita terus membeli untuk membuktikan sesuatu dengan simbol-simbol yang kita beli. 


Akhirnya, berbagai spanduk dan tampilan berkilau yang tak mengedepankan hal-hal esensial itu mendistorsi alam pikiran kita dan yang paling mengerikan, membangun jarak sosial dalam kehidupan masyarakat kita. Kita bakal berbondong-bondong membeli simbol-simbol untuk memenuhi pengakuan masyarakat sebagai kelompok tertentu. Oleh karenanya, mereka yang tak mampu membeli simbol-simbol itu bakal berada di luar definisi, di luar pengakuan masyarakat kita. 


Intinya ialah, sudahkah Anda ngiler dengan sarung BHS di Shopee hari ini?


______

Penulis


Sul Ikhsan, Pemred NGEWIYAK.


Sunday, July 9, 2023

Esai Sul Ikhsan | Bagaimana Nasib Anak Saya pada Tahun 2050, Pak Nadiem?

Esai Sul Ikhsan


Sudah setahun lebih pandemi virus Corona berakhir di negara kita dan dunia. Jika kita mengingat kembali ke belakang, salah satu yang paling terdampak dari pandemi sialan itu adalah dunia pendidikan. Mulai dari pendidikan dasar hingga mereka yang berada di perguruan tinggi. Dunia pendidikan saat itu mengharuskan kita membiasakan diri dengan gadget, beraktivitas daring, jaringan internet yang lemot, dan menghadap aplikasi tatap muka yang membosankan. Bukan saja membosankan dari segi proses pembelajaran, melainkan juga terletak pada proses pengembangan sisi sosial-emosional peserta didik. Setidaknya sementara ini, kita masih meyakini bahwa aktivitas sosial secara dekat dan erat lebih meninggalkan banyak kesan dibanding dengan menghadap kotak bercahaya dengan tubuh yang saling berjauhan.

Sekilas, memindahkan papan tulis dari ruang kelas ke ruang aplikasi tatap muka cukup menyeramkan. Namun, jika kita melihat dari sisi lain, sisi masa depan nun jauh di sana yang sedang melambai ke arah generasi kita, kita sedang disambut untuk masuk ke dalam, meminjam istilah Yuvual Noah Hararri, dunia dengan transformasi dan ketidakpastian radikal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Menganggap bahwa kondisi demikian hanya bersifat sementara dan kini semua kembali seperti semula adalah sebuah jenis keluguan. Dunia kita, wabil khusus dunia pendidikan kita pasca-Corona ini bakal dipaksa, atau jika tak berlebihan, dituntut untuk berubah total atau tetap mempertahankan model lama sebelum Corona dengan konsekuensi tertinggal jauh dari banyak hal.

Bagi saya, pemindahan medium ruang kelas ke ruang maya saat itu bukan saja lantaran alasan satu-satunya adalah mencegah penyebaran virus pada siswa, guru, tukang sapu, atau penjaga kantin. Tetapi, alasan lain yang cukup masuk akal, setidaknya menurut saya, adalah dunia kita yang sedang merangkak maju ke depan yang mengharuskan dunia pendidikan kita segera berbenah secepatnya. Sebab, melihat dunia era abad ke-21 ini, kita sedang berpamitan pada era mesin dan akan memasuki zona anyar—yang sebenarnya sudah lama terjadi—seperti di film-film fiksi ilmiah yaitu era cybrog, Artifisial Intelegensia (AI), in-virtual yang merupakan anak kandung dari perkawinan bioteknologi dan informatika.

Kondisi demikian sangat memungkinkan adanya loncatan besar dan radikal dari sistem pendidikan kita. Tantangan teknologi ke depan diprediksi akan jauh lebih pesat dari yang kita rasakan hari ini. Tetapi tentu saja, kita belum mengetahui banyak hal tentang apa yang terjadi pada sistem politik kita, pasar kerja kita, sistem ekonomi kita, sistem sosial-budaya kita, satu dekade ke depan, dua dekade ke depan, tiga dekade ke depan. Namun yang pasti, hari ini, kita telah mampu berkomunikasi jarak jauh, memindahkan uang dengan waktu kurang dari satu menit, memesan makanan lebih cepat, terbang dengan kecepatan kilat, memantau kehidupan idola kita di seberang nun jauh di sana hanya dengan duduk manis, dan menemukan obat-obatan bagi berbagai macam penyakit. Maka, tidak ada alasan pada satu, dua, tiga dekade ke depan kita akan kembali berburu mamut dan menyalakan api dengan menggosok batu, bukan? Atau kita agaknya tidak mungkin lagi mengucapkan selamat pagi kepada seseorang yang kita cintai melalui perantara merpati.

Dan, pertanyaan paling fundamental yang patut kita renungkan adalah apa yang mesti kita ajarkan kepada bayi kita yang baru lahir tahun ini pada tahun 2050 kelak berusia 27 tahun? Bagaimana kita sebagai orang tua membantu mereka bertahan hidup dan berkembang, sedangkan kita tak lebih banyak tahu daripada mereka? Keterampilan apa yang akan dibutuhkan di dunia pada tahun 2050 untuk memahami apa yang terjadi di sekitar, mencari pekerjaan untuk makan, dan menavigasi labirin kehidupan? Apakah itu kemampuan mencangkul? Membajak sawah? Berburu ubur-ubur? Membuat kaligrafi?

Tentu saja, orang tua yang bijaksana di mana smartphone canggih dalam genggaman tangannya dipenuhi banyak aplikasi cerdas akan berjuang sekuat tenaga untuk tidak membiarkan anak kesayangannya bermain lumpur, kepanasan, menganggur, dan tidak mengerti bahwa di ruang semesta yang luas ini kita dapat memesan makanan lebih cepat tanpa berpanas-panasan, menaiki mobil tanpa sopir (swakemudi), menghitung berat badan dan kalori yang dikeluarkan saat berolahraga, menganalisis selera kita dalam berpakaian, menunjukan jalan, dan yang paling mengerikan, mengambil alih pekerjaan kita.

Untuk tidak berandai-andai ke depan, mari kita lihat hasil pendidikan kita hari ini. Di tengah semakin canggih dan mahalnya smartphone kita, seberapa jauh kemampuan kita dalam memahaminya selain mengirim pesan, memesan baju, dan bermain game? Seberapa banyak keputusan hidup kita, dari hal yang paling terkecil seperti mencari nama-nama hewan berawalan huruf "Y" hingga hal yang paling penting seperti belajar agama, bersandar pada makhluk tak berdaging-berdarah seperti Google dan YouTube—yang dikemudian disebar ulang seolah-olah kita telah benar-benar mengerti.

Apakah saya kurang ajar jika mengatakan bahwa kemampuan kita jauh diungguli oleh Artifisial Intelegensia (AI) yang masih berupa YouTube dan Google? Bukan tidak mungkin, satu- dua-tiga dekade ke depan, ada "makhluk lain" yang tidak hanya dapat menjawab pertanyaan remeh-temeh kita, tetapi bisa jadi, menggantikan pekerjaan kita—atau menjadi Tuhan kita. Jika saya adalah Elon Musk atau Bill Gates, lebih baik saya menggantikan pekerja manusia yang malas, suka mengantuk, doyan mengeluh, banyak menuntut, dan pemarah dengan robot yang teliti, patuh, giat, dan rajin tersenyum. Cukup mengatur algoritmanya, mengurangi risiko kesalahan, tidur nyenyak, dan untung besar menanti kita setiap detik tanpa ada yang meminta kenaikan upah dan berdemonstrasi meminta kesejahteraan. Robot barangkali tak butuh banyak uang.

Mari buka ponsel kita, carilah di search engine google Anda artikel yang membahas mengenai Artifisial Intelegensia (AI). Lihat misalnya penelitan dari Nicholas Ernest, dkk., yang berjudul "Genetic Fuzzy Based Artificial Intelliegence for Unmanned Combat Serial Vehicle Control in Simulated Air Combat Missions" yang membahas mengenai bagaimana AI mengungguli manusia dalam penerbangan dan khususnya pada simulasi penerbangan tempur atau lihat penelitian Wu Youyou, Michal Kosinski, dan David Stillwell yang berjudul "Computers-Based Personality Judgments are More Accurate than Those Made by Humans", AI dapat menyajikan musik selera kita dengan menganalisis data biometrik yang mengalir dari sensor pada dan dalam tubuh kita, menentukan tipe kepribadian kita, mengenali suasana hati kita, dan menghitung dampak emosional yang mungkin dimiliki lagu tertentu, bahkan nada tertentu, kepada kita.

Jika misalnya bosan membaca teks, mari kita berselancar ke dunia visual. Lihatlah film Interstellar, Her, Gravity, Lucy, A.I, The Matrix dan sejumlah film lain bergenre serupa yang secara umum menyuguhkan gambaran masa depan dan kecerdasan buatan. Meski sebagian orang menganggap fiksi tidak patut untuk dipercaya dan ditelan mentah-mentah, kadang kala ia identik dengan realitas. Seperti apa kata Umar Ismail, sinema adalah potret peradaban sebuah bangsa, penanda sejarah yang menggambarkan seperti apa bangsa itu di masa tersebut.

Atau jika bosan menonton film lantaran berdurasi panjang, mari kita sama-sama menebak-nebak masa depan di Channel YouTube Vian Flash. Masih kurang juga? Lihat ke sekeliling kita atau teruslah berselancar dengan ponsel kita. Pijat dan gulir terus layar itu! Nikmatilah. Apa yang kita rasakan? Yups! Selamat, algoritma telah mengalir di tubuh kita!

Akhirnya, dalam prediksi tentang masa depan ini, kita tak hanya dibayang-bayangi oleh gelombang manusia yang mubazir secara ekonomi yang kelak bukan lagi akan mengalami eksploitasi ekonomi tetapi, jauh lebih parah daripada itu, irelevansi. Kita tidak relevan. Kita tidak berguna. Lantaran tak hanya pekerjaan-pekerjaan berbasis otot yang akan digantikan oleh robot dengan mudah, pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan kognisi juga akan ikut tergerus. Itu artinya siapalah kita di hadapan mereka? Bagaimana pendidikan kita merespon itu?

Sebelum menuju ke arah sana, ke arah Armageddon sana, pertanyaan mengenai siapa kita, untuk apa kita berada di sini, dan apa yang sedang terjadi barangkali menjadi pertanyaan yang paling penting hari ini. Sebab, apa yang bisa diharapkan dari sistem pendidikan yang bergaya bangunan beton besar di tengah kota, yang di dalamnya dibagi kamar-kamar, masing-masing kamar dilengkapi dengan deretan meja dan kursi. Lalu saat mendengar bel, kita pergi ke salah satu ruangan itu bersama dengan tiga puluh anak lain yang semuanya lahir di tahun yang sama, di mana setiap jam orang dewasa masuk, dan mulai berbicara. Mereka dibayar untuk melakukannya oleh pemerintah dan memberitahu kita bentuk bumi, masa lalu manusia, memberitahu tubuh manusia, sambil memarahi kita yang lancang bertanya tentang: apakah bumi itu benar-benar bulat dan apakah benar PKI itu tidak bertuhan?

______

Penulis

Sul Ikhsan, Pemred NGEWIYAK.