Saturday, January 31, 2026

Resensi Kabut | Ubi: Panen dan Memasak

Oleh Kabut



Indonesia tidak hanya padi. Indonesia pun bukan cuma jagung. Di tanah Indonesia yang subur, orang-orang menanam dan memanen ubi. Sejak ratusan tahun lalu, penduduk di Nusantara memiliki beragam olahan dengan bahan baku ubi. Penamaan makanan macam-macam memberi khazanah kuliner yang punya banyak cerita. Jadi, Indonesia pun ubi.


Pada zaman berlimpah (jenis) makanan, yang berdatangan dari Barat, ubi sering diremehkan. Konon, ubi adalah makanan kelas bawah. Ada yang mengecap ubi itu “desa” atau “kampungan”. Artinya, ubi sangat sulit bersaing dengan makanan-makanan baru atau modern. Namun, ubi adalah tanaman yang mudah berkembang di Indonesia, yang hasilnya melimpah. Pada masa lalu, biografi dan sejarah memuat ubi dalam hal-hal yang penting dan sepele. 


Di hadapan anak-anak, ubi mungkin sulit berarti. Mereka telanjur mendapat godaan-godaan kemodernan, yang mengajarkan selera baru. Mereka menyantap makanan-makanan yang tampilannya melampaui sajian tradisional. Mereka dibuat percaya dengan nama-nama asing, yang menjadikan makanan naik martabatnya. 


Pada masa Orde Baru, ubi biasa berada di tingkat bawah. Anak-anak mengetahuinya tapi belum tentu menggemari dan mau menyantapnya. Di pelbagai desa, segala olahan ubi adalah santapan kaum tua. Olahan-olahan ubi menjadi nostalgia atau kenangan, yang perlahan terpinggirkan.


Namun, ada usaha agar anak-anak di Indonesia tidak melupakan ubi. Yang dilakukan adalah mengarang cerita untuk anak. Soedharma KD menggubah cerita berjudul Hantjurnja Ketjurangan. Buku yang tipis diterbitkan oleh Pustaka Jaya, 1972. Judulnya tidak menggunakan diksi ubi tapi pembaca disuguhi cerita dan penjelasan mengenai ubi. Yang agak membantu imajinasi adalah gambar di sampul depan yang dibuat oleh Ipe Ma’aruf.


Buku itu masuk babak awal dari keseriusan Pustaka Jaya menerbitkan buku cerit anak. Banyak judul yang terbit tapi mengalami kesulitan dalam pemasaran. Pada masa 1970-an, kita mencatat bahwa Pustaka Jaya berhasil “membujuk” pemerintah melakukan pembelian buku cerita anak ribuan eksemplar, yang dibagikan ke banyak perpustakaan. Kerja atas nama buku kelak dikenal sebagai “Inpres”. Proyek buku Inpres memicu ratusan pengarang menghasilkan banyak cerita anak yang berstempel “milik negara” atau “tidak diperdagangkan”. Artinya, pemerintah membeli buku dari penerbit-penerbit, yang disediakan untuk anak-anak dan kaum remaja agar gemar membaca.


Novel tipis berjudul Hantjurnja Ketjurangan membuktikan selera Pustaka Jaya. Novel yang mengandung nasihat dan keilmuan. Yang dimaksud keilmuan adalah biologi atau pertanian. Pengarang memiliki pemahaman mengenai ubi, yang disampaikannya kepada anak-anak melalui cerita, bukan makalah ilmiah. 


Yang menjadi tokoh dalam cerita atau murid-murid di SD, yang beralamat di desa. Pembaca diminta meresmikan bahwa ubi itu khas desa. Shoedarma bercerita kegembiraan anak-anak, berangkat dari sekolah menuju sawah untuk panen ubi. 


Peristiwa yang seru: “Sepandjang djalan mereka selalu menjanji. Diselingi dengan bertepuk tangan dan bersorak-sorai. Bahkan kelakar terdengar djuga, bertjampur dengan gelak tertawa. Mereka bukan semua tjalon pradjurit. Tetapi mereka panda djuga berbaris tertib.” Pasukan itu mau merayakan sukacita: panen ubi. Sekolah menjadi pihak yang memberi pelajaran dan membimbing murid-muridnya paham ubi.


Cerita sengaja menghendaki memberi ajaran baik kepada para pembaca. Kita yang membacanya menyadari adanya propaganda: “Kira-kira enam bulan jang lalu oleh Lembaga Sosial Desa, SD Sukaredja mendapat pindjaman sawah kira-kira seperempat hektar luasnja. Separo dari sawah itu ditanami padi, sedang separo lagi dibuat ladang. Musim ini mereka panen ubi pohon. Sebentar lagi mereka akan panen padi.” Kita kagum mengetahui pihak sekolah tidak sekadar melelahkan anak-anak dengan beragam mata pelajaran. Pada hari-hari tertentu, anak-anak diajak dalam pelajaran dan pengalaman bertani. Ingat, mereka adalah murid-murid kelas 4 dan 5. 


Kerja bersama menjadikan panen ubi penuh kegembiraan. Anak-anak lelah tapi senang. Mereka membuktikan kerja yang membutuhkan kesungguhan dan kesabaran. Yang ditanam adalah ubi “mukibat”. Penjelasan disampaikan pengarang: “Adapun ibu mukibat ialah hasil okulasi ubi karet dan ubi biasa, hasil pertjobaan Pak Mukibat. Ubi biasa sebagai pokok batang jang nantinja menghasilkan ubi, sedangkan ubi karet sebagai batang dan tjabang-tjabang jang bertugas memasak makanan dengan daun-daun jang lebat.” Pelajaran penting agar anak-anak menghargai ilmu pertanian dan tokoh di Indonesia.


Mereka beruntung dan bahagia: “Adapun hasil panen mereka kira-kira empat kwintal. Dua kwintal dimasak dan dua kwintal lagi dilelangkan. Hasilnja untuk mentjukupi kebutuhan alat-alat sekolah. Sedangkan ketela hasil okulasi itu dibagi-bagikan kepada pak lurah, pak penilik sekolah, pak ketua lembaga sosial desa, djuga kepada pak mantri kesehatan dan pak mantri pertanian. Sisanja dilelang.” Cerita yang terlalu apik. Guru dan murid dalam keberhasilan. Para pembaca geleng-geleng kepala: kagum dan sulit percaya. 


Cerita yang akhirnya kekurangan pikat. Keberhasilan kadang kurang memberi gejolak bagi pembaca. Pengarang malah menambahi “keberhasilan” dengan pidato saat upacara di sekolah: “Keistimewaan negeri merdeka. Kita harus pandai bekerdja. Supaja apabila kalian sudah besar kelak, kalian dapat bekerdja sendiri. Kita harus selalu bekerdja dan selalu membangun.” Kalimat-kalimat biasa diproduksi oleh pemerintah. Jadi, novel itu menginginkan anak-anak mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah, yang saat itu dipimpin Soeharto.


Hasil panen membuat anak-anak kerja bakti lagi untuk memasak. Mereka memberi kontribusi macam-macam. Sekolah menjadi tempat terindah, bukan hanya untuk membuka buku pelajaran dan mengerjakan tugas di buku tulis. Kita mengikuti nasihat dalam upacara: “Untuk memasak ubi sadja dibutuhkan kerukunan jang erat. Ada jang mempunjai sebutir kelapa, tetapi ada djuga jang tidak mempunjai apa-apa. Ada jang mempunjai lima gandu gula djawa, tetapi ada jang hanja mempunjai selembar daun pisang. Semuanja dikumpulkan untuk mentjiptakan suatu masakan jang lezat. Dan, kita sama-sama telah merasakan masakan itu.”


Sekali lagi, pengarang hendak mencipta cerita yang sempurna. SD di desa menjadi contoh kebahagiaan bukan gara-gara pelajaran saja tapi mengikutkan bekerja di pertanian. Kesempurnaan itu makin kentara dengan memasak bersama dan menikmati beragam makanan berbahan ubi. Jadi, novel bisa dijadikan referensi agar murid-murid di seantero Indonesia memuliakan ubi.


Apakah sekolah seperti itu masih bisa ditemukan di abad XXI? Kita malah bingung dengan kebijakan-kebijakan pemerintah, yang membuat sekolah menjadi tempat yang banyak perintah atau tanda seru. Sekolah mendapat beragam petunjuk agar menyukseskan segala program buatan pemerintah. Rekayasa terjadi menimbulkan kekonyolan. Kita mendingan tersesat dalam novel gubahan Soedharma ketimbang memikirkan pemerintah dan sekolah masa sekarang.


______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com