Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

Thursday, July 30, 2026

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu | Industri Majelis Taklim: Ketika Agama Menjadi Lahan Bisnis yang Manis

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu



A. Ketika Ajaran Tuhan Dijual dalam Paket Premium dan VIP

Para pembaca yang baik hati.

Penulis mohon maaf jika judulnya terkesan tajam.

Penulis hanya ingin menyampaikan bahwa banyak fenomena yang patut membuat kita gelisah tentang wajah masyarakat hari ini. Pengajian tumbuh di mana-mana, majelis taklim semakin ramai, ceramah agama memenuhi media sosial nyaris tanpa jeda, tetapi dalam waktu yang sama, masyarakat justru tampak semakin rapuh menghadapi godaan zaman. Korupsi tetap merajalela, judi online menghancurkan keluarga, pinjaman berbunga mencekik rakyat kecil, budaya konsumtif makin liar, dan generasi muda semakin mudah kehilangan arah hidup.

Saat ini, kita hidup di tengah ledakan simbol agama, tapi kita malah mengalami krisis kedalaman iman. Di titik itulah muncul pertanyaan yang tidak nyaman, tapi penting diajukan, yaitu: jangan-jangan sebagian dakwah kita hari ini lebih sibuk memproduksi suasana religius daripada membangun keteguhan akidah dan akhlak umat.

Kita ketahui bersama bahwa majelis taklim yang dahulu identik dengan kesederhanaan, kemudian perlahan berubah menjadi industri spiritual modern.

Pengajian tidak hanya digelar di masjid atau musala, tapi pengajian dipindahkan ke ballroom hotel, aula pusat perbelanjaan, gedung mewah, atau kafe estetik dengan tata cahaya dramatis, musik lembut, kamera profesional, dan promosi media sosial yang sangat rapi. Sang ustaz, gus, atau habib tampil layaknya figur publik yang disambut gegap gempita. Jamaah berebut mengabadikan momen, panitia sibuk membangun citra acara, sementara isi dakwah sering kali dikalahkan oleh suasana emosional dan sensasional yang diciptakan oleh sang tokoh agama.

Yang paling mengkhawatirkan bukan soal tempat atau teknologinya, tetapi arah dakwah yang perlahan bergeser mengikuti keinginan pasar. Anak muda yang sedang patah hati, kehilangan arah hidup, mengalami masalah rumah tangga, atau sedang rapuh secara mental, semua itu menjadi sasaran empuk bagi industri majelis taklim ini.

Mereka datang mencari ketenangan, lalu disuguhi ceramah yang lembut, menyentuh, dan penuh kata-kata motivasi tentang hijrah, move on, asmara, jodoh, atau luka batin. Jamaah dibuat menangis bersama, merasa damai sesaat, lalu pulang dengan perasaan lega sementara. Minggu depan mereka datang lagi untuk mencari sensasi spiritual yang sama.

Agama akhirnya diperlakukan seperti obat penenang emosional, yang dikonsumsi untuk meredakan kegelisahan sesaat, bukan untuk membangun keteguhan hidup berdasarkan ilmu dan iman.


B. Dari Majelis Ilmu, Berubah Menjadi Panggung Euforia Keagamaan

Para pembaca yang baik hati.

Fenomena ini menjadi semakin problematis ketika ukuran keberhasilan dakwah mulai bergeser dari kualitas ilmu menuju popularitas. Sebagian ustaz, gus, habib lebih dikenal karena gaya bicara yang soft spoken, wajah teduh bahkan ganteng, penampilan good looking, atau potongan ceramah yang viral di medsos dan YouTube, dibanding kedalaman pemahaman agamanya.

Pengajian berubah menjadi atraksi pencitraan tokoh agama. Ada tokoh agama yang ceramah di hotel mewah dengan jenis-jenis tiket yang berjenjang mulai dari tiket reguler, tiket premium, hingga tiket VIP dan VVIP. Ada yang bicara tentang kesederhanaan sambil menikmati gemerlap cahaya popularitas yang sangat menguntungkan sekaligus menyilaukan.

Ada pula jamaah yang lebih sibuk mengejar foto bersama tokoh agama dibanding memahami dalil dan makna pengajian yang disampaikan. Ada pula tokoh agama yang “kejar setoran” dengan berfokus pada banyak-banyakan jamaah demi mendapatkan endorsement atau jadi brand ambassador suatu produk.

Di titik ini, budaya pengidolaan tokoh agama tumbuh sangat subur. Gelar “habib”, “gus”, atau “ustaz muda” sering kali membuat seseorang diperlakukan seolah tidak boleh dikritik. Padahal dalam Islam, ukuran kebenaran bukanlah popularitas, garis keturunan, jumlah pengikut di media sosial, dan jumlah subscriber YouTube, tetapi berlandaskan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Tidak ada manusia yang maksum selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tapi sayangnya, masyarakat kita terlalu mudah silau oleh simbol kesalehan. Bahasa Arab dianggap sudah pasti alim. Tangisan di panggung dianggap sudah pasti tulus. Popularitas dianggap tanda keberkahan. Padahal semua itu belum tentu benar.

Akibatnya, dakwah menjadi kehilangan kekuatan ilmiah yang sehat. Jamaah tidak lagi didorong untuk memahami agama secara mendalam, tetapi cukup dibuat terharu dan dibuat seolah-olah merasa dekat dengan Tuhan. Padahal agama bukan soal suasana hati.

Dalam Islam, ibadah dan seluruh praktik keagamaan harus berdiri di atas petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah. Semangat beragama saja tidak cukup. Sebab sebesar apa pun antusiasme seseorang dalam beribadah, jika tidak sesuai tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka amal itu tertolak. Inilah yang mulai terlupakan ketika agama terlalu sibuk dipertontonkan sebagai hiburan emosional dan sensasional.


C. Dakwah yang Sibuk Mengurus Soal Asmara, tetapi Bungkam terhadap Akidah, Riba, dan Judi Online

Ironi terbesar dari sebagian majelis taklim modern adalah semangat banget membahas tema-tema ringan yang mudah viral, tetapi gugup dan gagap menyentuh persoalan mendasar yang sedang menghancurkan masyarakat. Ceramah tentang jodoh, move on, atau percintaan bisa dipenuhi ribuan anak muda dan pasangan muda. Tetapi, kajian tentang bahaya syirik, bahaya tahayul, bahaya riba, haramnya judi online, kerusakan moral akibat pinjaman online, fikih muamalah, atau pentingnya membangun ekonomi syariah, justru sangat sepi peminat dan minim publikasi.

Padahal kerusakan bangsa hari ini tidak lahir dari kurangnya seminar motivasi, tapi dari lemahnya aqidah dan rapuhnya tauhid. Korupsi tumbuh karena manusia tidak takut kepada Allah. Riba dinormalisasi karena masyarakat lebih percaya pada sistem ekonomi berbasis utang daripada keberkahan rezeki halal. Judi online merajalela karena manusia ingin kaya secara instan tanpa kerja keras. Pinjaman online menghancurkan keluarga karena budaya hidup konsumtif dibiarkan tumbuh tanpa kontrol iman.

Dakwah seharusnya hadir untuk membangun manusia yang kuat secara akidah dan akhlak. Umat perlu diajarkan bahwa tauhid bukan sekadar ucapan, tapi fondasi kehidupan. Orang yang benar imannya, maka dia tidak akan mudah korupsi meski punya kesempatan. Orang yang takut kepada Allah, maka dia tidak akan memakan riba walaupun terlihat menguntungkan. Orang yang memahami agama dengan benar, maka dia tidak akan mempertaruhkan keluarganya demi judi online serta gaya hidup palsu.

Sayangnya, sebagian pengajian hari ini justru lebih sibuk membangun suasana haru dan suasana nangis-nangisan daripada keberanian moral dan keteguhan iman. Jama’ah dibuat menangis, tetapi tidak diajak berpikir. Jamaah hafal kutipan ceramah viral, tapi tidak memahami prinsip dasar akidah. Jamaah rajin hadir kajian, tetapi tetap mudah tertipu oleh investasi bodong, tetap boros, tetap malas membaca, dan tetap lemah menghadapi tekanan hidup.

D. Mengembalikan Majelis Taklim kepada Pembahasan Akidah, Tauhid, dan Perbaikan Umat

Para pembaca yang baik hati.

Mungkin ini sudah saatnya majelis taklim kembali kepada fungsi utamanya, yaitu membangun umat yang berilmu, berakidah yang lurus, dan siap menghadapi perubahan zaman. Pengajian tidak boleh hanya menjadi ruang pelarian emosional bagi masyarakat perkotaan yang sedang lelah hidup. Dakwah harus kembali menguatkan fondasi akidah, mengajarkan pentingnya mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta membentuk manusia yang jujur, disiplin, serta bertanggung jawab.

Masjid dan majelis taklim harus lebih berani membahas persoalan nyata umat, yaitu bahaya syirik, bahaya tahayul, bahaya bidah, bahaya riba, bahaya zina, bahaya pacaran, bahaya judi online, pentingnya menutup aurat, kehancuran moral akibat pinjaman online, pentingnya ekonomi syariah, kesehatan masyarakat, pendidikan keluarga, etika bisnis secara Islam, hingga pentingnya membangun generasi yang kuat jasmani serta rohani. Anak muda perlu diajarkan bahwa hijrah bukan sekadar perubahan penampilan atau suasana hati, tetapi perubahan cara berpikir dan cara hidup sesuai syariat.

Masyarakat juga harus berhenti mengidolakan tokoh agama secara berlebihan. Ustaz harus dihormati karena ilmunya, bukan dipuja seperti selebritis. Dakwah yang sehat adalah dakwah yang menghidupkan ilmu, bukan menghidupkan fanatisme buta. Sebab, ketika agama terlalu sibuk mengejar popularitas, maka yang lahir hanyalah keramaian spiritual yang mudah viral, namun rontok dalam menghadapi ujian kehidupan.

Pada akhirnya, agama bukan sekedar merasa damai di dalam ruangan ber-AC sambil mendengarkan ceramah percintaan dan nangis-nangis manja. Agama adalah petunjuk hidup yang berisi ilmu, ketaatan, keberanian moral, dan keteguhan iman. Jika majelis taklim gagal membangun semua itu, maka yang tersisa hanyalah industri yang memperdagangkan kesalehan, yang terlihat ramai di permukaan, tapi miskin ilmu untuk mendidik umat.


______ 

Penulis

Afrian Rahardyaning Pangestu adalah guru Matematika dan Bahasa Inggris di sebuah pesantren. Pernah menjadi guru IPA dan IPS juga. Hobi membaca, menulis, menggambar, dan fotografi.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com




Thursday, July 16, 2026

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu | Kurs Dolar Naik, Tapi Kenapa Harga Kejujuran Malah Turun?

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu

 


Yang Diperdagangkan Dunia Bukan Cuma Dolar

Para pembaca yang baik hati. Setiap kali rupiah melemah terhadap dolar Amerika, kita selalu mengulang kebiasaan yang sama. Kita menyalahkan The Fed, perang dagang, konflik geopolitik, harga minyak, atau kebijakan pemerintah. Semua penjelasan itu benar. Namun, karena terlalu sering diulang, kita lupa bertanya tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar: apa sebenarnya yang diperdagangkan dunia? Apakah benar dunia hanya memperjualbelikan mata uang, atau sesungguhnya yang diperdagangkan adalah sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang itu sendiri?

Ekonom akan mengatakan bahwa nilai tukar dipengaruhi inflasi, suku bunga, produktivitas, neraca perdagangan, dan arus modal. Tidak ada yang salah dengan penjelasan itu. Tetapi ada satu hal yang sering luput dari pembicaraan: mengapa modal memilih datang ke suatu negara, lalu meninggalkan negara yang lain? Mengapa investor bersedia menyimpan miliaran dolar di satu tempat, tetapi ragu menaruh sejuta dolar di tempat lain? Jawabannya tidak berhenti pada angka. Jawabannya berakhir pada satu kata yang tidak bisa dicetak oleh bank sentral: kepercayaan.

Bank Indonesia Mencetak Rupiah, Tetapi Tidak Bisa Mencetak Kepercayaan

Ada kesalahpahaman yang selama ini kita warisi. Kita mengira Bank Indonesia mencetak nilai rupiah. Sesungguhnya tidak. Bank Indonesia mencetak uangnya, tetapi tidak bisa mencetak nilainya. Nilai rupiah lahir dari keyakinan bahwa masyarakat yang menggunakannya memiliki sistem yang dapat dipercaya, di mana hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, perjanjian dihormati, pejabat tidak menjual kebijakan yang merugikan rakyat, data negara tidak direkayasa, dan korupsi bukan budaya. Ingat, mesin percetakan uang mampu menghasilkan miliaran lembar rupiah, tetapi tidak ada satu pun mesin di dunia yang mampu mencetak kepercayaan.

Di sinilah letak ironi yang sering kita abaikan. Kita sibuk menghitung cadangan devisa, tetapi lupa menghitung cadangan integritas. Kita bangga ketika investasi masuk, tetapi diam ketika kejujuran keluar dari kehidupan sehari-hari. Padahal investasi datang mengikuti kepercayaan, dan kepercayaan mengikuti karakter.

Investor Tidak Pernah Membeli Rupiah

Kita sering berkata bahwa investor membeli rupiah, membeli saham Indonesia, membeli obligasi negara, atau membeli proyek-proyek strategis. Kalimat itu sebenarnya belum lengkap. Yang pertama kali mereka beli bukanlah aset, tetapi keyakinan bahwa aset tersebut berada di tangan masyarakat yang dapat dipercaya.

Mereka tidak bertanya berapa banyak rumah ibadah yang berdiri di negeri ini. Mereka bertanya apakah kontrak akan ditepati. Mereka tidak menghitung berapa banyak ceramah agama yang disiarkan setiap hari. Mereka menghitung apakah pengadilan dapat menghadirkan kepastian hukum. Mereka tidak melihat seberapa panjang doa kita. Mereka melihat seberapa pendek jalan menuju suap.

Kalimat tersebut mungkin terdengar sinis, tetapi pasar memang tidak mengenal basa-basi. Pasar hanya mengenal risiko. Dan risiko terbesar dalam ekonomi bukanlah inflasi. Risiko terbesar adalah hilangnya kepercayaan.

Kita adalah Bangsa Religius, Tetapi Kenapa Kepercayaan Masih Mahal?

Para pembaca yang baik hati. Ini adalah paradoks yang semestinya membuat kita gelisah. Indonesia adalah salah satu bangsa paling religius di dunia. Rumah ibadah berdiri megah. Pengajian, kebaktian, dharma, dan berbagai kegiatan keagamaan berlangsung hampir setiap hari. Namun, pada saat yang sama, indeks persepsi korupsi masih menjadi pekerjaan rumah, praktik suap belum benar-benar hilang, manipulasi data masih terjadi, dan kebohongan sering kali dianggap sekadar kecerdikan.

Kita jangan mengatakan bahwa agama gagal mencetak orang-orang menjadi baik.

Justru yang  jauh lebih menyakitkan adalah mengapa ajaran tentang amanah cuma sebatas berhenti di mimbar, tetapi tidak sampai ke ruang kerja?

Sebab agama yang hanya hidup dalam ritual akan menghasilkan masyarakat yang rajin beribadah. Tetapi, agama yang hidup dalam akhlak akan menghasilkan masyarakat yang dapat dipercaya. Dan dalam ekonomi modern, kepercayaan adalah mata uang yang nilainya bahkan lebih tinggi daripada dolar.

Korupsi Tidak Mencuri Uang Negara

Kita sering mengatakan bahwa korupsi merugikan keuangan negara. Hal itu memang benar. Tetapi, kerugian terbesar bukanlah angka yang hilang dari kas negara. Korupsi mencuri sesuatu yang jauh lebih mahal, yaitu: reputasi.

Sekali sebuah negara dikenal sebagai tempat yang mudah disuap, sulit dipercaya, atau lemah penegakan hukumnya, maka biaya ekonomi langsung meningkat. Semua kontrak bisnis membutuhkan pengamanan. Semua investasi meminta jaminan tambahan. Semua orang mulai saling curiga. Biaya ketidakpercayaan membengkak, dan pada akhirnya seluruh rakyatlah yang membayarnya melalui harga kebutuhan yang lebih mahal, lapangan kerja yang lebih sedikit, dan pertumbuhan ekonomi yang semakin lambat.

Korupsi bukan sekadar kejahatan hukum. Korupsi adalah metode tercepat untuk membombardir masa depan suatu bangsa dan negara.

Harga Kejujuran Sedang Turun

Para pembaca yang baik hati. Barangkali ini adalah masalah yang sesungguhnya. Kita tidak lagi merasa terganggu oleh kebohongan-kebohongan kecil. Suap berubah nama menjadi uang terima kasih. Pungutan liar menjadi uang peduli. Manipulasi laporan dianggap sebagai kreativitas administrasi. Menyontek menjadi kerja sama antarpelajar. Janji politik yang diingkari dianggap sebagai hal yang lumrah. Kita mengubah istilah agar hati tidak merasa bersalah.

Padahal setiap kali kebohongan dinormalisasi, maka harga kejujuran turun sedikit demi sedikit. Dan ketika harga kejujuran turun, maka biaya untuk membangun kepercayaan menjadi naik sedikit demi sedikit.

Lalu tanpa kita sadari, ekonomi ikut membayar tagihannya.

Rupiah Mengikuti Sesuatu yang Tidak Pernah Masuk Neraca

Para pembaca yang baik hati. Saya tidak sedang mengatakan bahwa nilai tukar rupiah ditentukan semata-mata oleh moral masyarakat. Ekonomi jauh lebih rumit daripada itu. Ada kebijakan moneter, perdagangan internasional, produktivitas, dan dinamika global yang tidak bisa diabaikan.

Namun ada satu kenyataan yang sering terlupakan. Semua faktor itu hanya bisa bekerja optimal apabila ditopang oleh kepercayaan. Dan kepercayaan tidak lahir dari pidato. Kepercayaan lahir dari akhlak, dari amanah yang dijaga ketika tidak ada yang melihat, dari kejujuran yang tetap dipilih meski ada kesempatan untuk berbuat curang, dan dari rasa malu yang masih hidup ketika seseorang tergoda mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Mungkin karena itu, setiap kali kita melihat angka dolar naik terhadap rupiah, maka kita jangan cuma bertanya apa yang sedang terjadi di Washington. Tanyakan juga apa yang sedang terjadi di dalam diri kita. Sebab sejarah mengajarkan kita tentang satu hal yang sering terlupakan, yaitu bangsa-bangsa yang dulunya besar, mereka tidak runtuh ketika mereka kehabisan uang. Mereka runtuh ketika mereka kehabisan orang-orang yang dapat dipercaya.

Kita semua harus menyadari bahwa ketika kepercayaan kehilangan harga, maka yang terjadi adalah nilai mata uang pun ikut kehilangan nilainya.

______
Penulis

Afrian Rahardyaning Pangestu, guru Matematika, IPA, dan IPS untuk murid SMP serta SMA.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Thursday, July 9, 2026

Esai Sulaiman Djaya | Kuasa dan Media

Esai Sulaiman Djaya



Di zaman mutakhir kita saat ini adalah sangat penting untuk memahami sejumlah praktik media yang tak dapat dilepaskan dari interest kekuasaan, politik, dan korporasi, utamanya media-media yang dimiliki dan dikendalikan kaum multinasionalis-imperialis saat ini. 


Media dan opini yang melayani suatu kepentingan dan kekuasaan, pada akhirnya akan melakukan diskriminasi dan penyingkiran atau eksclusi terhadap hal-hal yang tidak menjadi kepentingannya.


Sebagai contoh, ketika suatu kekuasaan dan imperium hendak membentuk suatu citra publik, seketika itu pula, mereka akan mengerahkan media-media yang dimilikinya untuk membentuk ‘keberpihakan’ publik untuk mereka (para elite global). 


Era kita sekarang adalah suatu abad atau sebuah zaman, bila meminjam istilahnya Jacques Derrida saat berbincang dengan Giovanna Borradori, di mana publik yang tidak kritis dan malas berpikir akan sangat rentan dimanipulasi dan dihasut oleh media-media yang mengabdi pada kekuasaan dan tirani demi suatu tujuan strategis dan politis, utamanya dalam kancah politik global.


Jaringan media yang kebetulan dikuasai dan dimiliki suatu kelompok tertentu atau suatu rezim bersama yang bekerja berdasarkan kepentingan yang sama akan tak sungkan-sungkan menjadikan media sebagai instrumen ‘penaklukkan’, di mana opini, keberpihakan, atau sikap massa (publik) digiring sesuai dengan kehendak para pemilik media, entah para pemilik media itu adalah suatu korporasi, kekuasaan, aliansi, atau suatu rezim kekuasaan dan politik.


Kita dapat memberikan contoh kasusnya adalah ketika media-media sosial seperti YouTube, Instagram, Facebook dan lain-lainnya mengangkat (dan atau meng-create) citra publik (simpati bersama) bagi insiden Paris beberapa waktu yang silam, namun pada saat bersamaan mereka ‘tidak mengangkat’ atau meng-create citra publik (simpati bersama) bagi tragedi-tragedi yang lebih parah, semisal agressi terhadap Yaman, Suriah dan apartheid serta kekejian Israel di Palestina.


Salah-satu pemikir kontemporer yang konsen dengan soal ini adalah Noam Chomsky. Dalam salah-satu analisisnya, di antara strategi yang mengabdi pada kekuasaan dan korporasi adalah dengan memasifkan opini atau pun diskursus untuk menyembunyikan ‘masalah’ yang sesungguhnya. 


Noam Chomsky juga menegaskan bahwa media memiliki arti yang sangat penting dalam proses politik, di mana dalam artian negatifnya adalah dalam rangka ‘menguasai’ opini dan sikap publik (massa).


Kita bisa memberikan contoh untuk apa yang dikemukakan Noam Chomsky tersebut, yaitu ketika rezim dan aliansi Zionisme Internasional atau Zion Global (Amerika, Israel dkk) yang kebetulan menguasai lembaga-lembaga penyiaran dan hiburan banyak memasukkan muatan-muatan dan unsur-unsur ideologis yang menjadi kepentingan strategis dan politis mereka melalui media-media yang mereka miliki dan yang mereka siarkan ke seluruh dunia.


Pada tingkatan yang lebih rumit (canggih), media juga sering mereka gunakan sebagai elemen utama dari kontrol sosial yang salah-satu strateginya adalah strategi gangguan, dalam rangka untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu yang justru penting, yang mana dalam bahasa Noam Chomsky sendiri dicontohkan ketika media “mempertahankan perhatian publik yang dialihkan jauh dari masalah sosial yang nyata yang lebih penting, sehingga terpikat oleh hal-hal yang sebenarnya tidak penting.” 


Apa yang dikemukakan Noam Chomsky tersebut yang menjadi salah satu unsur terpenting dari kontrol sosial yaitu strategi penebaran gangguan yang bertujuan untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu penting.


Strategi penebaran gangguan ini memang dilakukan tirani atau rezim kekuasaan untuk menjaga agar masyarakat lebih berfokus pada isu-isu “kacangan” (demi pengalihan isu) sehingga melupakan isu-isu krusial yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan mereka, yang justru lebih riil dan lebih mendesak bagi kehidupan sehari-hari mereka.


Strategi yang lainnya adalah Strategi Buat Masalah, Kemudian Tawarkan Solusi atau Manajemen Konflik. Metode ini juga disebut “masalah-reaksi-solusi.” Strategi dan metode ini tak lain adalah menciptakan masalah, “sebuah situasi” yang disebut menyebabkan beberapa reaksi pada penonton. 


Contoh dari praktik rezim atau kekuasaan itu adalah: Mengintensifkan kekerasan di perkotaan atau dalam masyarakat urban, atau mengatur serangan berdarah agar masyarakat menjadi para pemohon hukum keamanan dan kebijakan yang merugikan kebebasan. 


Sebenarnya, menciptakan masalah yang dapat menyebabkan rakyat “mengemis” dan memohon pertolongan pada pemerintah sudah tidak menjadi hal baru, karena hampir semua pemerintahan di dunia melakukan hal seperti ini, yang mana dengan strategi dan metode ini, pemerintah menjadi “sinterklas” bagi masalah yang dibuatnya sendiri.


Strategi selanjutnya yang lain adalah Strategi Bertahap, yaitu sebentuk ‘pemaksaan’ penerimaan pada tingkatan yang tidak dapat ‘diterima’, hanya dengan menerapkannya secara bertahap, yang dilakukan secara simultan selama bertahun-tahun dan berturut-turut. 


Kita bisa menyebutkan contohnya yaitu ketika mereka (para elite global) memberlakukan kondisi sosial ekonomi baru (neoliberalisme), sepanjang era 1980-an dan 1990-an, yaitu dengan ‘memaksakan’ penerimaan bagi konsep negara minimal, privatisasi, kerawanan, fleksibilitas, pengangguran besar-besaran, upah, dan tidak menjamin pendapatan yang layak, sehingga tampak begitu banyak perubahan yang telah membawa revolusi jika mereka telah diterapkan sekaligus.


Yang juga acapkali dimainkan adalah teknik dan metode Strategi Menunda atau cara lain untuk dapat menerima keputusan yang tidak populer, agar mendapatkan penerimaan atau persetujuan publik (massa), pada saat penerapannya di masa depan (sesuai dengan target waktu yang mereka rencanakan).


Sementara itu, bila kita lebih jauh mencermati permainan reklame, iklan, dan yang sejenisnya, sebagian besar iklan untuk masyarakat umum menggunakan pidato, argumen, orang dan khususnya intonasi anak-anak, yang seringkali dekat dengan ‘kelemahan’, seakan-akan penonton (publik atau pemirsa) adalah anak kecil atau cacat mental. 


Anak-anak adalah simbol pihak yang lemah, rentan disakiti dan senantiasa menjadi korban. Strategi seperti inilah yang sangat sering diterapkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai contohnya, ketika menjadi presiden, dalam rangka mencari simpati rakyat, di mana ia seringkali muncul dan mencitrakan diri seakan-akan sebagai figur lemah dan teraniaya, padahal yang sesungguhnya yang sedang dia (SBY) lakukan adalah menjalankan program peningkatan citra dan simpati rakyat. 


Strategi lain yang sebenarnya klasik tapi masih sering digunakan adalah teknik dan strategi emosional dengan memanfaatkan aspek emosional publik.


Demikian sejumlah contoh strategi ‘manipulasi’, sebagaimana didadar Noam Chomsky dan para analis dan pengkaji media, yang acapkali dimainkan media-media yang menjalankan kepentingan suatu korporasi, rezim kekuasaan dan politik, aliansi, dan yang sejenisnya. 


Mudah-mudahan media yang mendedikasikan dirinya bagi pendidikan dan pencerahan publik lebih setia bekerja sebagai pemberi informasi yang sehat dan sahih, ketimbang sebagai ‘mesin propaganda’ yang menyesatkan dan membodohi rakyat atau masyarakat.


_______


Penulis


Sulaiman Djaya, Peminat Kajian Kebudayaan.



Kirim naskah ke redaksingewiyak@gmail.com


Esai Mela Sri Ayuni | POV Gen Z: Kerja Sambil Cari Kerja

Esai Mela Sri Ayuni




Dewasa ini, waktu membawa anak kelahiran 1997 sampai 2012 menginjak usia produktif. Di mana, kami sudah melalui seuprit perjalanan hidup yang kata mereka, baca: orang kaya, menyenangkan. Ya, menyenangkan. Saking menyenangkannya saya sampai pening, kenapa dari banyak pilihan saya pilih jawab “iya” pada saat malaikat bertanya 77x sebelum saya lahir ke dunia riuh dengan huruf tanpa jiwa. Selang beberapa fase kehidupan, waktu membawa saya untuk bertanggung jawab atas jawaban tersebut. Saya sadar, mungkin ini yang disebut “menyenangkan” kata mereka.


Generasi Z saat ini sedang merajai pasar kerja. Hampir di semua sektor kerja Gen Z berkontribusi di dalamnya. Mulai dari sektor hiburan, perdagangan, instansi pemerintahan, sampai ada yang jadi anggota DPR, contohnya Annisa Mahesa. 


Anak kepala dua ini sedang eksis di dunia kerja. Laman cerita WhatsApp saya pun banjir dengan pemandangan di tempat kerja masing-masing. Yang paling nyentrik status video di depan komputer sembari ditemani minuman dan camilan kesukaan dengan backsound, “Akh, hari yang mantap”. Ada juga yang pakai tulisan “Hasil berangkat jam 7 pulang jam 9 malam”. Namun, ada satu postingan yang membuat saya tertarik untuk menuliskan topik ini, yaitu dengan caption “Udah kerja kerjaannya cari kerja”.


Sebenarnya apa pun yang kamu unggah ke media sosial ini merupakan sepotong dari ceritamu yang kamu izinkan untuk diketahui orang lain. Artinya, sudah hasil sortir sendiri. Tapi tidak bisa berbohong juga, tulisan-tulisan seperti itu menggambarkan kalau dunia kerja sudah menyita waktu Gen Z untuk terus bekerja.


Fenomena Gen Z kerja sambil cari kerja ternyata bukan hal yang baru. Ternyata ini sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Banyak dari mereka yang sudah memiliki pekerjaan tetapi di HP-nya memiliki aplikasi pencari kerja seperti LinkedIn, Glints, Jobstreet, dan lainnya. Tidak berhenti sampai di situ, sosial media yang Gen Z miliki tetap follow akun informasi lowongan kerja. Agar tidak tertinggal unggahan terbaru pekerjaan yang sedang dibuka. Tetap apply secara online.


Sesuai pengalaman saya pada tahun lalu, saya sudah memiliki pekerjaan. Namun di belakang itu saya terus saja lamar di beberapa tempat kerja lain. Sering ada panggilan wawancara langsung. Pada satu waktu di daerah Tangerang, saya mendapatkan panggilan kerja. Dikarenakan saya datang sendiri, saya memberanikan diri untuk berkenalan dengan pelamar lain, sesama Gen Z. Sambil menunggu panggilan masuk ruangan tes, kami sedikit mengobrol lebih jauh. Dua orang tersebut perempuan dari daerah berbeda. Setelah diketahui, ternyata mereka berstatus karyawan di tempat lain. 

(1) Perempuan bekerja di pabrik makanan. 

(2) Sedang bekerja di minimarket.


Pada saat itu, saya tidak memberi tahu latar belakang saya. Saya cukup menyimak sedikit dari mereka, sesekali saya melemparkan pertanyaan di sela obrolan, “Kamu udah kerja. Kenapa cari kerja?” Dia menjawab, 

(1) “Pekerjaanku yang sekarang capek. Berangkat pagi buta pulang malam.” 

“Oh, iya ya. Gak bisa lihat matahari terbit atau tenggelam.” 

“Kalo kamu?” 

(2) “Gue mau dipindahin ke cabang baru di Bali. Gue gak mau jauh sama ibu.”


Tidak sedikit manusia seperti perempuan-perempuan di atas. Terkadang kebutuhan menjadi alasan terbesar untuk bertahan. Walau sambil berbohong izin tidak masuk kerja karena sakit atau ada keperluan keluarga. Padahal mau interviu kerja di belakang. Karena Gen Z cukup percaya diri dengan kemampuannya. Dan berpikir kalau Gen Z bisa mendapatkan yang lebih baik dari ini. Keluar dari kebijakan perusahaan yang tidak masuk akal, atasan yang tidak manusiawi yang bikin gak betah berlama-lama. Lalu mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik. Ini hanya sampel, saya yakin masih banyak karyawan-karyawan lainnya di luar sana yang merasakan seperti kejadian tersebut. Gen Z mah simpel, kalau tidak bisa mengubah dari dalam, maka kita yang keluar “Jalan-jalan”. Hidup Gen Z!


Budaya kerja menentukan sejauh mana karyawan bertahan dalam pekerjaan. Maka dari itu, banyak dari Gen Z mencari side job. Mereka bekerja paruh waktu. Dari pagi sampai sore di pekerjaan utama, sore sampai malam menjadi pekerja part time. Ini antisipasi untuk pekerjaan utama. Apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti pemutusan hubungan kerja, PHK secara sepihak. Dari situ, Gen Z butuh cadangan pekerjaan untuk tetap stabil dalam mengurus keuangan.


Kalau berbicara tentang mencari kerja walau sudah memiliki pekerjaan, saya jadi teringat kalam dari Gus Baha, seorang ulama dari kalangan Islam tradisional. Beliau berkata, “Sebanyak apa pun gaji yang kalian miliki, tak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupmu. Karena yang akan mencukupi kebutuhanmu itu hanya rahmat Allah.” Tentu, saya sepakat dengan pernyataan tersebut. Sebanting tulang apa pun kita mencari uang, tetap yang akan mencukupi kebutuhan kita itu rahmat Allah. Misalnya saya, seorang fasilitator anak. Kata teman saya gaji saya tidak cukup untuk mencukupi hidup sebulan. Tapi yang sebenarnya terjadi, dia pun sering meminjam uang kepada saya. Dalam hati saya bergumam, “Katanya gaji gue kecil, gak cukup buat hidup sebulan. Tapi lu tetap minjem duit ke gue.” Justru di sini ada peran Allah di dalamnya. Yang membuat tidak mungkin di mata manusia, sehingga mungkin di mata Allah.


Dari kejadian di atas, hal yang bisa kita pelajari yaitu: Gen Z selain mengejar uang, ia juga fokus kepada kenyamanan lingkungan kerja dan kehidupan pribadi. Sesuai dengan slogan kerja Gen Z yang berbunyi “Work life balance”. Di samping membutuhkan uang buat ngopi, Gen Z juga butuh menjaga kesehatan mental agar tetap waras. Datang di tempat kerja sebelum waktunya dan pulang tepat waktu. Tenggo: jarum panjang ke angka dua belas pas, teng langsung go, pulang. 


Buat orang-orang yang gak pulang tenggo jangan tanya “Kenapa pulang awal?” Ya jelas. Gen Z capek. Mau pulang. Istirahat. Lagian kerjaan Gen Z sudah selesai. Gak kayak Anda, jam kerja malah dipake makan. Jam kerja malah dipake ngobrol. Giliran jam pulang dipake kerja. Biar apa? Biar keliatan kerja, hah? Dasar Anda kolot!


________


Penulis


Mela Sri Ayuni, penulis lepas.



redaksingewiyak@gmail.com 

Esai Uwais Korni | Fans Karbit Ronaldo

Esai Uwais Korni



Nasi sudah menjadi bubur. Biar enak bubur itu ditambah tempe goreng dipotong kecil-kecil sama tahu bumbu Bali. Saya benar-benar menikmati kedukaan tersebut dengan bentuk ketololan saya yang impulsif.


Jemari tiba-tiba membuat SW tanpa setting privasi terlebih dahulu. Keluarga tahu. Teman tahu. Semua tahu. Saya mendeklarasikan diri bahwa saya sedang berduka atas kekalahan CR7 di laga akbar Piala Dunia terakhirnya melawan Spanyol.


Janji sudah tertulis jelas. Laki-laki dipegang janjinya. Mulai detik ini sampai sebulan kemudian saya tidak boleh buat SW dan PS-an. Itu janji saya.


Pertanda manusia berzakar kemungkinan besar sudah coplok telurnya adalah saat apa yang diucapkannya sebatas tong kosong nyaring bunyinya. Omong kosong tersebut dielu-elukannya. Dia bingung atas jalan pembicaraannya sendiri. Tidak jelas. Mencla-mencle.


Sudah maklum ini tanda kemunafikan. Di mana saat berbicara dia akan penuh dengan tipu muslihat. Dia pembohong. Dia seperti koruptor yang awalnya manis lisan namun akhir-akhirnya seringnya blunder.


Dia penipu. Dia mengkhianati janjinya sendiri. Dia pupuskan harapan orang lain. Amanah sudah menjadi akar yang berpisah dari buminya. Memang pantaslah orang-orang seperti ini diinjak-injak di neraka.


Membaca SW saya sendiri yang blunder itu, saya jadi parno sama bagaimana nanti pandangan teman WA saya terhadap saya. Apalagi ini tentang kejujuran seseorang.


Apakah saya akan membohongi diri sendiri dan orang lain?


Apakah saya akan mengerdilkan janji yang agung itu?


Apakah saya akan mengkhianati amanah tersebut?


Saya sudah pendosa sejak kecil, bahkan mungkin sampai tua nanti. Namun saya sadar diri. Pola pikir bertumbuh, saya rawat semaksimal mungkin. Sampai pada satu kesimpulan, saya tidak akan pernah mengecewakan diri saya sendiri dengan mempunyai tiga sifat kemunafikan di atas.


Saya anti dengan kebohongan. Jika berjanji, betul-betul akan saya laksanakan. Dan amanah yang dibebankan kepada saya, tidak akan saya berkhianat kepada siapa pun itu.


Hasilnya, dalam konteks ini saya akan puasa buat SW selama sebulan. Saya juga puasa main PS selama sebulan.


FOMO atas berita-berita yang saya lihat di reels FB, akhirnya saya putuskan untuk berduka lewat esai singkat ini. Di sana terpajang Neymar kalah melawan Norwegia. Erling Haaland melaju pesat menuju puncaknya. Neymar menangis tersedu-sedu dibuatnya.


Luca Modric tersungkur dijegal Portugal, sedangkan Ronaldo kalah melawan Lamine Yamal.


Dan masih banyak lagi pemain bintang lainnya yang diadu, seperti Messi, Vozinha, Mbappe, dll.


Saya FOMO sebab informasi semua ini bersifat seketika. Saya tidak kenal semua pemain itu secara detail. Saya memainkannya di PS bukan sebab menjadi pendukung fanatik klub. Saya hanya main-main saja. Main terus tahunya.


Saat saya lihat sepak bola di televisi, saya mendukung tim yang lebih dominan. Atau lebih tertarik kepada tim yang banyak pemain bintangnya. Saya fans karbit. Tidak mengenal semua itu secara berlebihan. Hanya suka menonton pertandingan secara keseluruhan, bukan sedetail-detailnya.


Tapi kali ini berbeda.


Ronaldo yang sekarang jauh berbeda dengan Ronaldo yang dulu. Di zaman saya ngerental PS, sudut pandang saya terhadap Ronaldo adalah sosok pemain yang gesit lagi tajam tembakannya. Dia dimainkan. Bukan dicari tahu siapa dia.


Saya fans karbit kagum akhir-akhir ini. Sungguh telat dalam mengidolakannya. Benar-benar telat.


Saya tidak tahu perjalanan karirnya di dalam sepak bola seperti apa. Susahnya dia menghadapi pemain-pemain liga Inggris yang ganas itu, yang seakan-akan berambisi untuk mematahkan kedua kakinya itu.


Di klub yang lain juga sama.


Saya tidak mengikuti satu-satu pertandingannya. Saya, sekali lagi, fans yang FOMO hanya karena Ronaldo sering nongol di beranda reels FB yang menampilkan keteguhan hatinya menerima kekalahan yang tipis itu saat melawan Spanyol di piala dunia tahun ini.


Setidaknya saya tidak akan pernah kecewa atas janji saya tersebut. Janji yang dadakan berjanji. Janji yang benar-benar harus ditepati. Itu disebabkan pura-pura gila di dalam mengidolakan sosok CR7.


Saya sungguhan stop buat SW lagi sebulan penuh. Saya dilarang main PS sebulan penuh. Sekali lagi, laki-laki memang harus diperhatikan betul-betul atas apa yang telah dan akan diucapkannya itu. Saya blunder parah.


Namun meskipun begitu, saya tidak akan merasa kecewa mengidolakannya sekalipun baru-baru ini juga saya mengidolakannya. Mengidolakan seseorang, apakah harus memang dari awal perjuangan?


Ada hikmah di balik itu semua. Adakalanya hal-hal normal di masa kecil akan terasa agung saat kita sudah dewasa. Seperti Ronaldo ini, adalah hal yang biasa-biasa saja di rental PS bagi anak kecil. Namun akan jauh berbeda saat dilihat dari sudut pandang penggemarnya yang dewasa.


Seperti ini pula, hikmahnya adalah jika Portugal memenangkan melawan Spanyol, apakah akan ada esai ini?


Mungkin ini yang dimaksud bahwa apa pun itu pasti ada hikmahnya. Tinggal kita sendiri mau mencari tahu atau mau tidur berselimut tahi. Ah, sudahlah. Fans karbit tak perlu banyak bicara. Nanti blunder lagi.


_______


Penulis


Uwais Korni lahir di kawasan YPPRN dengan nama panggilan Mas Didin. Mulai latihan menulis sejak 2014 sampai seterusnya.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

Thursday, June 25, 2026

Esai Uwais Korni | Lulus Bukan Lolos

Esai Uwais Korni



Cara saya duduk saat memaksakan diri melepas kemalasan menulis yaitu dengan duduk senyaman mungkin. Tidur-tiduran saat menulis adalah yang sering saya lakukan. Kadang juga sampai tidur beneran.


Menulis di HP seperti saya sekarang ini menurut saya masih belum bisa dianggap sebagai kepenulisan yang serius. Menulis seperti ini bentuk dari ketidakseriusan penulis untuk menulis apa. Menulis yang main-main. Menulis yang iseng-iseng. Dengan begitu, tidak ada salahnya jika saya mencap saya sendiri sebagai penulis yang gagal. Pesimis saya jika saya bermimpi yang tinggi banget di bidang ini. Takut-takut ketinggian, jatuh nanti.


Dari sini dapat dimaklumi jika tulisan saya apa adanya. Sebisanya menulis. Seadanya ilmu saya. Semau saya. Lagi pula saya telah menyangka bahwa kegagalan-kegagalan macam ini yang menjadi wasilah saya tumbuh. Bertumbuh sehabisnya diinjak-injak ego itu, dikebiri keakuan itu, dicemooh merasa pintarnya itu, dan selalu menggoblok-goblokkan diri sendiri yang kok gak jadi apa-apa di zaman semaju ini internetnya.


Iri betul saya sama orang-orang yang terdidik itu. Hidupnya disiplin. Lurus terus. Seakan-akan kehidupannya mulai dari pagi sampai malam adalah pembelajaran. Saya wajib meniru mereka. Dalam artian, saya bukan iri terhadap kelebihannya itu yang sifatnya material, melainkan saya penasaran saja sama usahanya itu bagaimana. Usaha meraih kepintaran, kecerdasan, relasi yang selaras dengan tujuan, dan cobaan-cobaan kehidupannya yang mudah dicarikan solusinya.


Kekayaan hidup merupakan plus untuk menjadi orang-orang yang terdidik. Apa itu orang-orang yang terdidik? Adalah mereka yang bukan urak-urakan. Saya sadar saya orang urakan. Ketidakteraturan ini saya curigai sebab saya masih belum kaya saja. Bermimpi dulu. Hal pertama yang akan saya lakukan jika saya kaya raya adalah punya mentoring yang meluruskan kehidupan saya. Saya butuh pembimbing kapan saya belajar, apa yang saya pelajari, bagaimana penerapannya, dan adakah sesuatu di sana yang perlu dimusyawarahkan. Saya butuh pelatih fitnes biar saya sehat dan tidak kerontang macam ini. Biar saya olahraga menyesuaikan kemampuan saya dan yang penting istiqomahnya. Saya butuh teman bercerita biar kegundahan hati ini lega jika semua kotoran-kotoran batin disapunya sampai ke akar-akarnya. Biar jika saya berazam buruk sama seseorang dicegahnya seketika. Dipalingkan ke nge-game saja daripada musuh-musuhan sama tetangga. Saya butuh teman mabar biar tidak jenuh dari aktivitas sehari-hari yang telah terjadwal dengan rapi itu. Biar ada waktunya bersantai mengosongkan semuanya dari kejenuhan menjadi orang yang serius dan lurus.


Soalnya sepengalaman saya, saya lembek kalau tidak disuruh-suruh. Mental saya adalah mental makmum. Imam gerakannya apa, saya ikuti. Kalau saya yang jadi imamnya, jadinya tidak serius jalannya ke mana. Mau khusyuk sukanya saya bercanda. Mau bercanda tidak boleh. Itu larangan. Itu tanda urak-urakan. Tapi memang betul ya yang disampaikan guru saya, orang-orang kita adalah orang-orang yang kelewat batas bercandaannya itu. Disuruh serius tidak mau. Maunya bercanda terus. Disuruh berpikir tidak mau. Maunya refreshing terus. Refreshing terus sampai goblok.


Satu waktu kami mendapatkan guru tersebut sebagai mentor kami. Alhasil, tak satu pun dari kami yang tidak naik kelas kecuali yang memang sudah gak niat belajarnya itu. Langsung di-DO.


Hasil didikannya berpengaruh bagi kehidupan kami, dulu bahkan untuk nanti. Soalnya relate sama kenyataan. Ucapannya halus tapi menusuk. Tindakannya perlu diikuti. Baik-baik semua. Seakan-akan tak ada celah untuk dicela. Bahkan guru-guru lainnya iri sama sang mentor sebab terlalu lurusnya dia dan kakunya dia di dalam menjalani kehidupan.


Dulu HP android masih langka, bahkan mentor saya itu kalah sama teman-teman sesama guru, dan kalah sama murid-muridnya itu. Muridnya punya HP Blackberry, mentor saya tidak punya HP sama sekali. Saat itu lagi booming-nya Blackberry. Yang dipegangnya cuman buku. Ke mana-mana bawa buku. Tempurung kepalanya seakan-akan buku. Apa-apa buku. Bahasannya buku. Selalu buku. Lurus. Kaku. Tapi realistis dan gak mabuk agama, sebab pikirannya terbuka dan menerima pengetahuan-pengetahuan umum lainnya. HP masih dimiliki, tapi saat itu kami bahkan tak tahu bahwa sang mentor punya HP juga. Saking tertutupnya kehidupan pribadinya, mungkin.


Saya mengamati diam-diam apa yang dilakukannya, apa impiannya. Kok sampai sebenci itu terhadap HP? Tak lain, dia membatasi diri untuk terlihat memainkan HP di hadapan murid-muridnya. Yang diperlihatkan kepada murid hanyalah kedisiplinan. Yang tersimpan di belakang adalah keramahan, kesederhanaan, dan biasanya kayak orang-orang pada umumnya. Cuma di kelas saja kesannya beringas, tegas, dan buku terus.


Yang menjadi fokus pembelajarannya kepada murid bukan hanya pelajaran-pelajaran sekolah. Dia membimbing kami untuk tidak bersenang-senang melulu. Skeptisnya kepada murid-murid yang sakit adalah satu contoh. Ia menggambarkan, andaikan orang yang sakit itu diberi kabar kalau di kelas sedang bagi-bagi duit, kira-kira mereka yang sakit itu mampu memaksakan dirinya untuk mengambil jatahnya itu atau enggak sama sekali? Begitulah.


Padahal kalau di luar kelas, pribadinya bukan sebatas kasihan sama orang sakit. Dia royal kepada mereka yang tidak mampu secara finansial. Apalagi kepada mereka yang terkena musibah penyakit dan lain sebagainya itu. Dia suka bersedekah. Suka bertanya-tanya kabarnya murid bagaimana. Pokoknya kayak bapak kepada anaknya sendiri.


Mentoring seperti ini yang saya butuhkan sekarang. Saya masih kekanak-kanakan. Saya masih labil. Saya butuh pelajaran. Saya butuh dididik. Saya butuh guru. Saya masih murid yang gak lulus sama sekali dari pendidikan mana pun kecuali TK dan MI. Memang betul ada ceritanya seperti ini. Murid keburu lulus, sedangkan yang lulus kepengin jadi murid lagi. Anehnya, saya yang gak lulus malah kepengin jadi murid lagi. Terserah di sekolahan apa. Yang terpenting saya masih diterima sebagai anak didiknya.


_______


Penulis


Uwais Korni lahir di kawasan YPPRN dengan nama panggilan Mas Didin. Mulai latihan menulis sejak 2014 sampai seterusnya.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Thursday, June 11, 2026

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu | Bulan Bung Karno: Kenapa Pancasila Saat Ini Menjadi Isapan Jempol Belaka?

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu



Kita Tidak Kekurangan Penghafal Pancasila

 

Setiap bulan Juni, bangsa Indonesia kembali memperingati Bulan Bung Karno. Seminar kebangsaan digelar, diskusi tentang Pancasila diselenggarakan, kutipan-kutipan Bung Karno kembali memenuhi media sosial, dan berbagai pihak berlomba-lomba menunjukkan kecintaannya kepada Pancasila. Namun di tengah kemeriahan tersebut, ada sebuah pertanyaan yang layak diajukan secara jujur: mengapa semakin sering Pancasila dibicarakan, semakin sulit pula menemukan wujudnya dalam kehidupan sehari-hari? Jangan-jangan masalah terbesar bangsa ini bukan karena rakyatnya tidak hafal Pancasila, tapi karena terlalu banyak orang yang hafal Pancasila dan merasa tidak perlu mengamalkannya.

 

Faktanya, hampir seluruh rakyat Indonesia mengenal Pancasila. Anak-anak sekolah menghafalnya sejak usia dini. Mahasiswa mempelajarinya di bangku kuliah. Pegawai mengikuti berbagai pelatihan tentang nilai-nilai kebangsaan. Bahkan, banyak orang mampu menjelaskan makna setiap sila dengan cukup baik. Namun persoalannya bukan terletak pada pengetahuan. Persoalannya terletak pada perilaku. Sebab, sebuah bangsa tidak akan menjadi lebih baik hanya karena rakyatnya hafal nilai-nilai yang baik. Sebuah bangsa menjadi lebih baik ketika nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah letak ironi yang sering kita abaikan. Kita hidup di negara yang kaya akan teori tentang Pancasila, tetapi sering kali miskin dalam praktik Pancasila.

 

Pancasila Hebat di Pidato, Lemah di Perilaku

 

Jika kita mau jujur, banyak persoalan bangsa ini justru menunjukkan betapa lebarnya jarak antara apa yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan. Sila pertama berbicara tentang Ketuhanan Yang Maha Esa, tetapi kebohongan, penipuan, dan korupsi masih menjadi masalah yang terus berulang. Sila kedua berbicara tentang kemanusiaan yang adil dan beradab, tetapi penghinaan, perundungan, fitnah, dan ujaran kebencian semakin mudah ditemukan, terutama di media sosial. Sila ketiga berbicara tentang persatuan Indonesia, tetapi masyarakat semakin mudah terpecah hanya karena perbedaan pilihan politik, organisasi, atau kelompok tertentu. Sila keempat mengajarkan musyawarah dan kebijaksanaan, tetapi ruang publik sering kali berubah menjadi arena saling menyerang, di mana setiap orang merasa paling benar dan enggan mendengarkan pendapat orang lain. Sementara sila kelima berbicara tentang keadilan sosial, tetapi masih banyak orang yang lebih sibuk memperjuangkan kepentingan pribadi daripada memikirkan kepentingan bersama.

 

Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah bangsa ini bukan kekurangan teori, melainkan kekurangan keteladanan. Kita terlalu sering berbicara tentang nilai-nilai luhur, tetapi terlalu jarang menunjukkan nilai-nilai luhur itu dalam tindakan nyata. Akibatnya, Pancasila terdengar sangat indah ketika dibacakan dalam upacara, tetapi menghilang ketika berhadapan dengan kepentingan pribadi, jabatan, kekuasaan, atau keuntungan sesaat.

 

Jangan Jadikan Pancasila sebagai Dekorasi Nasional

 

Salah satu kesalahan terbesar yang mungkin sedang terjadi adalah menjadikan Pancasila sekadar simbol. Pancasila cuma dipasang di dinding sekolah, kantor pemerintahan, ruang rapat, dan berbagai tempat lainnya. Pancasila dibacakan dalam upacara dan dijadikan materi ujian. Namun dalam banyak kasus, Pancasila berhenti sebagai tulisan yang menghiasi ruangan tanpa benar-benar menjadi pedoman hidup. Kita seolah-olah puas ketika melihat lambang Garuda terpajang di tembok, tetapi tidak terlalu peduli apakah nilai-nilai yang dibawanya benar-benar hidup di tengah masyarakat.

 

Padahal Bung Karno tidak merumuskan Pancasila untuk dijadikan pajangan. Pancasila lahir sebagai dasar bagi perilaku berbangsa dan bernegara. Pancasila dirancang untuk menjadi kompas moral yang membimbing arah perjalanan Indonesia. Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Kita lebih sibuk menjaga simbol-simbolnya daripada menjaga nilai-nilainya. Kita lebih mudah marah ketika lambang negara dihina daripada marah ketika nilai-nilai Pancasila dilanggar dalam kehidupan sehari-hari.

 

Pancasila Tidak Butuh Pembela, Pancasila Butuh Pelaksana

 

Sudah saatnya bangsa ini berhenti berpikir bahwa solusi dari setiap masalah kebangsaan adalah menambah seminar, sosialisasi, atau pelatihan tentang Pancasila. Bangsa ini tidak kekurangan seminar tentang Pancasila. Yang kurang adalah teladan tentang Pancasila. Anak-anak tidak belajar kejujuran dari poster yang ditempel di dinding sekolah. Mereka belajar kejujuran dari orangtua, guru, dan pemimpin yang jujur. Masyarakat tidak belajar keadilan dari slogan-slogan yang indah. Mereka belajar keadilan ketika melihat hukum ditegakkan secara adil tanpa pandang bulu. Persatuan tidak lahir dari spanduk-spanduk bertuliskan "NKRI Harga Mati". Persatuan lahir ketika masyarakat mampu menghormati perbedaan dan tetap bekerja sama meskipun memiliki pandangan yang berbeda.

 

Oleh karena itu, solusi untuk menghidupkan kembali Pancasila sesungguhnya sangat sederhana meskipun tidak mudah. Mulailah dari diri sendiri. Jadikan kejujuran sebagai kebiasaan. Hargai orang lain meskipun berbeda pendapat. Utamakan musyawarah daripada permusuhan. Pedulilah terhadap lingkungan sekitar. Jangan menuntut orang lain menjalankan Pancasila jika kita sendiri belum berusaha menjalankannya. Pancasila tidak akan hidup karena diperdebatkan. Pancasila akan hidup ketika dipraktekkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

 

Jika Bung Karno Masih Hidup Hari Ini


Jika Bung Karno masih hidup dan melihat kondisi bangsa saat ini, mungkin beliau tidak akan bertanya berapa banyak seminar Pancasila yang telah diselenggarakan. Mungkin beliau tidak akan bertanya berapa banyak orang yang hafal lima sila. Mungkin pertanyaan yang beliau ajukan jauh lebih sederhana dan jauh lebih menohok: "Apakah Pancasila sudah hidup dalam perilaku rakyat Indonesia?"

 

Pertanyaan itu seharusnya membuat kita merenung. Sebab ukuran keberhasilan Pancasila bukanlah seberapa sering diucapkan, tetapi seberapa nyata Pancasila terlihat dalam kehidupan masyarakat. Jika Pancasila hanya hidup dalam buku, pidato, dan upacara, tetapi mati dalam perilaku sehari-hari, maka yang sedang kita rayakan setiap Bulan Bung Karno bukanlah kejayaan Pancasila. Yang sedang kita rayakan adalah kebiasaan bangsa ini memuji sesuatu yang belum sungguh-sungguh dijalankannya. Dan itulah alasan mengapa sebagian orang mulai bertanya : apakah Pancasila masih menjadi pedoman hidup bangsa ini, atau perlahan-lahan telah berubah menjadi isapan jempol belaka?

 

______

 

Penulis

Afrian Rahardyaning Pangestu, guru Matematika, IPA, dan IPS untuk murid SMP serta SMA. 

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com