Showing posts with label Dakwah. Show all posts
Showing posts with label Dakwah. Show all posts

Friday, February 27, 2026

Dakwah | Keutamaan & Hikmah Puasa Ramadhan

Oleh  Tsaqib Arsalan, S.Pd.



Bulan Ramadhan adalah bulan yang diberkahi dan bulan yang dimana diturunkannya Al-Qur’an. Begitu juga di bulan ini ada salah satu perkara yang diwajibkan oleh syariat kita yang suci ini yaitu berpuasa. 


Sebagaimana Firman Allah ﷻ  di dalam surah Al Baqarah ayat 183 :  


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Al Baqarah : 183)

Dan juga di surat yang sama di ayat yang ke 185 : 

 ...فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ ...


"... Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu ...." (Al Baqarah : 185)


Dan juga ditekankan oleh sabda Nabi Muhammad ﷺ bahwa Puasa Ramadhan termasuk salah satu rukun dari lima rukun Islam. 


Disebutkan didalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma:


عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ


"Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 'Islam dibangun di atas lima (tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, haji, dan puasa Ramadhan'.” (HR Bukhari)


Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga semata, tetapi juga banyak keutamaan dan hikmah yang didapatkan bagi kaum muslimin yang melaksanakannya. Karena tidaklah syari’at mewajibkan sesuatu kecuali di dalamnya ada maslahat, keutamaan (faadhilah), begitu juga hikmah dibalik kewajiban tersebut. 

Berikut diantara beberapa keutaman puasa Ramadhan :

Menghapus kesalahan-kesalahan kita

Didalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:


عن أبي هُريرةَ رَضِيَ اللهُ عنه أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال : الصَّلَواتُ الخَمسُ، والجُمُعةُ إلى الجُمُعةِ، ورمضانُ  إلى رَمَضانَ؛ مُكَفِّراتٌ ما بينهُنَّ إذا اجتَنَبَ الكبائِرَ  .


"Salat 5 waktu, dari Jumat ke Jumat berikutnya, dan dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya merupakan penghapus dosa-dosa yang dilakukan di antara keduanya apabila dosa-dosa besar dijauhi." (HR Muslim)

Sebab diampunkannya dosa

Rasulullah ﷺ bersabda di dalam hadits yang juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu :


عن أبي هُريرةَ رَضِيَ اللهُ عنه أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال: مَن صامَ رمضانَ إيمانًا واحتسابًا، غُفِرَ له ما تقدَّمَ مِن ذَنبِه 


“Barangsiapa yang berpuasa penuh dengan keimanan dan pengharapan akan pahala, maka diampuni dosa dia yang telah lalu. 
(HR Bukhari & Muslim).


Menjadi sebabnya kita masuk surga


Disebutkan dalam satur riwayat yang diriwayatkan oleh Jabir Radiyallahu ‘anhu: 


عن جابرٍ رَضِيَ اللهُ عنه : أنَّ رَجُلًا سأل رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فقال: يا رَسولَ اللهِ، أرأيتَ إذا صَلَّيتُ المكتوباتِ، وصُمْتُ رمضانَ، وأحلَلْتُ الحلالَ، وحَرَّمْتُ الحرامَ، ولم أزِدْ على ذلك شيئًا، أأدخُلُ الجَنَّةَ؟ فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: نَعَم .


“Dari Jabir Radiyallahu ‘anhu : Bahwasannya seorang pria bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan mengatakan: ‘Kabarkan kepadaku Wahai Rasulullah, kalau saya sudah shalat yang wajib, sudah berpuasa pada bulan  Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, dan saya tidak menambah sedikit pun diatas itu, apakah saya akan masuk surga?’ Maka Rasulullah ﷺ menjawab: ‘Iya'.” (HR Muslim)


Mendapatkan pahala tanpa hisab (tak terhitung)


Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh kesabaran. Karena di dalamnya kaum muslimin diperintah untuk berpuasa dengan menahan diri dari apa yang sebetulnya halal dilakukan, seperti makan dan minum. Dan Allah ﷻ menjajikan pahala tanpa hisab bagi orang-orang yang bersabar. Allah ﷻ berfirman: 


...إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ 


“...Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az Zumar : 10)


Di balik keutamaan yang kita sebutkan di atas, puasa juga memiliki banyak hikmah yang didapatkan bagi kaum muslimin yang melakasanakannya, baik dari segi jiwa dan juga kesehatan. Imam Ibnu Katsir rahimahullah di dalam tafsir surah Al-Baqarah ayat 183 mengatakan bahwa di antara hikmah puasa yaitu mensucikan jiwa, membersihkan jiwa, dan juga membersihkannya dari hawa nafsu dan akhlak buruk. Dan dari segi kesehatan banyak juga hikmah yang didapatkan, seperti yang disebutkan di laman alodokter.com yang ditinjau oleh dr. Gracia fensynthia bahwa puasa memiliki hikmah atau manfaat bagi kesehatan di antaranya : 


- menurunkan berat badan,

- menjaga kesehatan jantung,

- mengurangi risiko diabetes,

- mengurangi risiko munculnya kanker,

- menjaga kesehatan mental,

- memperbaiki metabolisme tubuh.


Masyaa Allah, di dalam keutamaan dan hikmah yang banyak ini sungguh sangat merugi bagi kaum muslimin yang meninggalkan salah satu perkara wajib di dalam syari’at ini. Di balik dia mendapatkan dosa besar, dia juga banyak sekali meningggalkan keutamaan, hikmah, dan manfaat lainnya yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang menunaikan kewajiban ini yaitu berpuasa.


Maka dari itu, marilah kita mengikhlaskan ibadah puasa kita karena Allah ﷻ, karena tidaklah kita mendapatkan keutaman-keutaman di atas kecuali dengan rasa ikhlas kita kepada Allah ﷻ. Menujukan semua ibadah kita hanya karena-Nya.


Barakallahu fiikum. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

__________


Penulis

Tsaqib Arsalan, S.Pd., alumnus Ma’had Aly Imam Syafi’i Cilacap.



redaksingewiyak@gmail.com




Friday, February 20, 2026

Dakwah | Puasa Ramadhan: Jalan Menuju Cinta Allah

Oleh Ust. Izzatullah Abduh, M.Pd.



Bismillah walhamdulillah washsholatu wassalamu la rasulillah.


Ibadah puasa adalah jargonnya amalan di bulan Ramadhan. Ia bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan ibadah paling prioritas yang wajib kita beri perhatian besar.


Tidak ada puasa yang Allah wajibkan atas umat ini selain puasa di bulan Ramadhan. Bahkan Allah menjadikannya sebagai salah satu rukun, pondasi utama bangunan Islam.

Perintah Puasa dalam Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ۝ أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Yaitu) beberapa hari yang tertentu (hari-hari Ramadhan).” (QS. Al-Baqarah: 183–184)


Dan Allah tegaskan lagi:


شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan batil). Maka barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, hendaklah ia berpuasa.” (QS. Al-Baqarah: 185)


Bahkan Rasulullah ﷺ menegaskan kedudukannya sebagai rukun Islam:


بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Karena itu, jamaah sekalian, jadikanlah puasa kita sebagai ibadah yang berkualitas. Bukan hanya menghasilkan pahala besar, tetapi juga mendatangkan cinta Allah.


Dalam hadits qudsi Allah berfirman:


وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya.” (HR. Bukhari)


Bayangkan… ketika kita berpuasa kurang lebih 12 jam setiap hari, kita sedang mengerjakan ibadah yang paling Allah cintai—karena ia adalah kewajiban.


Artinya, selama itu pula kita berada dalam suasana ibadah, dalam limpahan rahmat dan dicintai Allah.


Lebih dahsyat lagi, bahwa jika Allah telah mencintai seorang hamba, cinta itu diumumkan di langit.


Rasulullah ﷺ bersabda:


إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِني أحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ

“Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, Allah memanggil Jibril: ‘Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Maka Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril menyeru kepada penduduk langit: ‘Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian diletakkanlah baginya penerimaan di bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Subhanallah… berita cinta Allah itu menjadi “headline” di langit.


Kemudian secara normal, Ramadhan berlangsung 29 atau 30 hari. Jika kita berpuasa penuh, maka kita mendapatkan pahala sebanyak hari yang kita jalani.


Namun ternyata, ada orang-orang yang “menang banyak” — yaitu mereka yang dermawan, yang berbagi buka puasa.


Rasulullah ﷺ bersabda:


مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barangsiapa memberi makan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)


Bayangkan jika seseorang memberi makan 10 orang setiap hari, maka 30 hari ... betapa berlipat-lipat pahala puasanya.


Benarlah dahulu para sahabat berkata:


يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ وَالدَّرَجَاتِ الْعُلَى

“Wahai Rasulullah, orang-orang yang memiliki harta telah pergi dengan membawa pahala dan derajat yang tinggi.” (HR. Muslim)


Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:


ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ

“Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.” (HR. Muslim)


Artinya karunia Allah itu tidak bisa digugat oleh makhluq. Allah berikan sesuai kehendak-Nya kepada siapa yang Dia mau. Dan Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. 


Jika belum mampu berbagi, maka jangan berkecil hati. Niatkanlah. Perbanyaklah niat kebaikan di bulan Ramadhan. Karena sungguh Allah Maha Pemurah. Niat baik itu dicatat dan dinilai sebagai suatu ibadah yang berpahala kebaikan.


Rasulullah ﷺ bersabda:


مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً

“Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun belum melakukannya, maka Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Maka jangan pernah meremehkan niat baik. 


Ahirnya... Ramadhan bukanlah sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah momentum meraih cinta Allah.


Puasa adalah ibadah wajib — dan kewajiban adalah amalan yang paling Allah cintai.


Maka mari kita jalani Ramadhan dengan:

- Puasa yang berkualitas

- Hati yang penuh niat baik

- Semangat berbagi sesuai kemampuan

- Harapan besar untuk dicintai Allah


Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang dicintai-Nya, yang namanya disebut di langit, dan diterima di bumi. Aamiin.


Barakallahu fikum.


________


Penulis


Izzatullah Abduh, M.Pd.,  Kepsek Imam Nawawi Islamic School & Mudir TAFISA Boardingschool Pondok Cabe Tangerang Selatan.



redaksingewiyak@gmail.com 


Friday, January 16, 2026

Dakwah | Seputar Isrā’-Mi‘rāj

Oleh Ust. Drs. Abu Bakar



Isrā’ dan Mi‘rāj merupakan peristiwa luar biasa dalam sejarah kenabian yang tidak dapat dijangkau oleh nalar akal manusia yang sangat terbatas. Peristiwa ini menempuh jarak yang amat jauh dalam waktu yang sangat singkat. Jarak antara Masjidil Haram di Makkah dan Masjidil Aqsha di Palestina kurang lebih 1.000 kilometer. Sementara perjalanan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntahā, melewati tujuh lapis langit, berada pada jarak yang tidak terbayangkan oleh perhitungan manusia.


Ilmu astronomi modern baru mampu mengukur jarak antara bumi dan matahari, yakni sekitar 149.578.000 kilometer. Itupun seluruh benda langit tersebut masih berada di bawah langit pertama. Oleh karena itu, peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj hanya dapat diterima dengan pendekatan iman yang kokoh. Apabila Allah Swt. menghendaki sesuatu, maka tidak berlaku hukum alam bagi-Nya. Semua menjadi mudah dan tunduk kepada kehendak-Nya.


Menurut para sejarawan, peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj terjadi pada tahun ke-11 atau ke-12 sejak Nabi Muhammad ﷺ diangkat menjadi Rasul, bertepatan dengan tanggal 27 Rajab, sekitar tahun 621 Masehi. Setahun setelah peristiwa tersebut, Nabi ﷺ berhijrah ke Madinah.


Isrā’ secara bahasa berarti memperjalankan. Secara istilah tarikh, Isrā’ adalah diperjalankannya Nabi Muhammad ﷺ pada malam hari dari suatu tempat ke tempat yang lain, yaitu dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina.


Peristiwa Isrā’ ini diabadikan oleh Allah Ta‘ālā dalam Al-Qur’an Surah Al-Isrā’ ayat 1:


سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ


Artinya:
"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."


Mi‘rāj secara bahasa berarti naik atau tangga untuk naik. Secara istilah, Mi‘rāj adalah naiknya Nabi Muhammad ﷺ ke langit, menembus tujuh lapis langit hingga sampai ke Sidratul Muntahā di kawasan pusat kerajaan Allah ‘Azza wa Jalla. Setiap lapisan langit dijaga oleh para malaikat, dan jarak antar-lapisan tersebut berada di luar jangkauan perhitungan manusia.


Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah Isrā’–Mi‘rāj terjadi dengan ruh saja atau dengan ruh dan jasad. Sebagian kecil ulama berpendapat bahwa peristiwa tersebut terjadi dengan ruh saja. Namun, jumhur ulama berpendapat bahwa Nabi Muhammad ﷺ diisrā’ dan dimi‘rājkan dengan ruh dan jasad sekaligus, dalam keadaan terjaga, bukan dalam mimpi.


Pendapat jumhur ini didasarkan pada firman Allah dalam Surah Al-Isrā’ ayat 1, khususnya pada dua kata kunci penting, yaitu سُبْحَانَ dan بِعَبْدِهِ. Kata سُبْحَانَ menunjukkan peristiwa yang sangat agung dan luar biasa. Jika peristiwa tersebut hanya berupa mimpi atau perjalanan ruh semata, maka tidaklah layak diawali dengan pengagungan sebesar itu.


Adapun kata بِعَبْدِهِ menunjukkan satu kesatuan antara ruh dan jasad. Dalam banyak ayat Al-Qur’an, kata ‘abd selalu merujuk pada manusia secara utuh, bukan ruh semata. Di antaranya:


أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ

Artinya:

“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika ia mengerjakan shalat?” (QS. Al-‘Alaq: 10)


Dan firman Allah Swt.:


وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا


Artinya:

“Dan sesungguhnya ketika hamba Allah berdiri menyembah-Nya, hampir saja mereka berdesak-desakan mengerumuninya.” (QS. Al-Jinn: 19)


Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa istilah ‘abd mencakup ruh dan jasad secara utuh. Oleh karena itu, pendapat jumhur ulama bahwa Isrā’–Mi‘rāj terjadi dengan ruh dan jasad adalah pendapat yang paling kuat dan didukung oleh dalil Al-Qur’an, hadis, serta kajian tafsir dan sirah.


Peristiwa Mi‘rāj dijelaskan dalam banyak hadis, baik yang sahih, hasan, maupun yang lemah. Hadis yang paling sahih diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik r.a. Rasulullah ﷺ bersabda:


أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ، وَهُوَ دَابَّةٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ...

(Hadis panjang)

Artinya:
"Aku didatangkan seekor Buraq, hewan yang lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal. Setiap langkahnya sejauh pandangan mata. Aku menungganginya hingga sampai ke Baitul Maqdis, lalu aku menambatkannya pada tempat para nabi biasa menambatkan kendaraan mereka. Kemudian aku masuk ke Masjid Baitul Maqdis dan melaksanakan shalat dua rakaat di dalamnya…"


Inti dari peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj adalah diturunkannya perintah shalat lima waktu. Pada awalnya, Allah Swt. mewajibkan shalat sebanyak lima puluh waktu dalam sehari semalam. Atas saran Nabi Musa a.s., Nabi Muhammad ﷺ berulang kali kembali menghadap Allah Swt. untuk meminta keringanan, hingga akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu.


Namun demikian, Allah Swt. memberikan jaminan bahwa shalat lima waktu tersebut tetap bernilai pahala lima puluh waktu. Hal ini karena setiap satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat.


Dengan demikian, peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj merupakan peristiwa akidah yang harus diyakini dengan keimanan yang teguh. Peristiwa ini terjadi dengan ruh dan jasad Nabi Muhammad ﷺ dalam keadaan terjaga, dan menjadi dasar diwajibkannya shalat lima waktu sebagai tiang agama Islam.

Semoga kajian ini bermanfaat dan menambah keteguhan iman kita.


Bārakallāhu fīkum.


Sumber Bacaan

  1. Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 3, hlm. 1.611 dan seterusnya.

  2. Tafsir Fathul Qadīr, Asy-Syaukani, Jilid 3, hlm. 285 dan seterusnya.

  3. Tafsir Kementerian Agama RI.

  4. Nūrul Yaqīn, Muhammad Hudari Bik, hlm. 69 dan seterusnya.

  5. Kapita Selekta Pengetahuan Agama Islam, Departemen Agama RI, dan sumber lainnya.



______

Penulis


Ust. Drs. Abu Bakar, Ketua MUI Kec. Pontang.



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com 

Friday, October 31, 2025

Dakwah | Bahaya Sihir, Perdukunan, dan Ramalan dalam Menjaga Keimanan

Ust. Drs. Abu Bakar



Dalam kehidupan seorang muslim, iman adalah fondasi paling berharga. Ia bukan sekadar pengakuan di lisan, tetapi cahaya yang hidup di hati dan diwujudkan dalam amal perbuatan. Karena itu, menjaga keimanan merupakan tugas seumur hidup yang menuntut kewaspadaan dan keteguhan.


Dalam ilmu tauhid dikenal istilah Nawaaqidlul Iimaan (نواقض الإيمان), yaitu hal-hal yang dapat membatalkan iman seseorang setelah ia memasukinya. Para ulama mendefinisikan istilah ini dengan kalimat:


مَا يُذْهِبُهُ بَعْدَ الدُّخُوْلِ فِيْهِ

Mā yudzhibuhu ba‘dad-dukhuuli fīhi

“Sesuatu yang dapat menghilangkan keimanan setelah seseorang memasukinya.”


Artinya, iman bisa hilang apabila seseorang terjerumus dalam perkara-perkara yang membatalkannya. Karena itu, seorang mukmin harus berhati-hati agar keyakinan dan keteguhan imannya tidak ternodai oleh hal-hal yang merusak, baik melalui pikiran, keyakinan, maupun perbuatan. Wal‘iyādzu billāh — semoga Allah melindungi kita dari kebinasaan iman.


Dalam pembahasan mengenai pembatal keimanan, para ulama menjelaskan beberapa hal besar yang termasuk di dalamnya, seperti mengingkari rububiyah Allah, sombong enggan beribadah, berbuat syirik, menentang ketetapan Allah, mendustakan Rasul, serta meyakini bahwa petunjuk Rasulullah ﷺ tidak sempurna. Termasuk pula: tidak mengkafirkan orang musyrik yang nyata kekafirannya, memperolok agama, membantu musuh Islam, berpaling dari ajaran Allah, serta membenci sesuatu yang dibawa Rasul meskipun masih mengamalkannya.


Namun, di antara semua itu, ada satu hal yang tak kalah berbahaya: sihir (السحر). Sihir merupakan dosa besar yang dapat menghapus keimanan, sebagaimana dijelaskan dalam Muqorror Tauhid karya Syaikh Shalih bin Fauzan. Sihir bukan sekadar tipu daya, tetapi bentuk kerja sama dengan setan dan penentangan terhadap kekuasaan Allah. Ia tidak hanya merusak akidah pelakunya, tetapi juga dapat menghancurkan kehidupan orang lain dan tatanan masyarakat.


Dalam praktiknya, sihir sering muncul dalam berbagai bentuk: ash-shorfu (mengubah keadaan seseorang), al-‘athfu (menimbulkan simpati atau cinta secara tidak wajar), dan ar-ridha (menimbulkan rasa senang secara batil). Semua bentuk tersebut merupakan tipu daya yang menyalahi fitrah dan mengandung unsur kekufuran.


Allah Ta‘ala berfirman:


وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَـٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ...


“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Padahal Sulaiman tidak kafir, hanya setan-setan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia…”

(QS. Al-Baqarah: 102)


Ayat ini turun untuk membantah tuduhan kaum Yahudi yang menuduh Nabi Sulaiman sebagai tukang sihir. Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa dua malaikat, Harut dan Marut, sebenarnya diutus untuk menguji manusia. Setiap kali seseorang datang untuk belajar sihir, keduanya memperingatkan: “Innamā naḥnu fitnah, falā takfur”: Sesungguhnya kami hanyalah cobaan bagimu, maka janganlah kamu kafir.”


Imam Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir menegaskan bahwa peringatan tersebut merupakan larangan keras agar manusia menjauhi sihir, sebab mempelajarinya termasuk perbuatan kufur. Dengan demikian, mempelajari atau mempraktikkan sihir, sekalipun dengan alasan “menguji” atau “membela diri”, tetap termasuk kekufuran karena berpaling dari tawakal kepada Allah dan menempuh jalan setan.


Dalam kelanjutan pembahasan para ulama, termasuk Muqorror Tauhid dan Syarah Kitabut Tauhid, dijelaskan pula bahwa bentuk kekufuran serupa juga terdapat dalam kahanah (perdukunan) dan ‘arafah (ramalan). Para dukun dan peramal sering kali menampilkan diri sebagai “orang pintar” atau “penyembuh spiritual”. Mereka meminta hewan sembelihan sebagai persembahan bukan karena Allah, melainkan untuk jin atau setan tertentu. Mereka juga menulis ṭalāsim syirkiyyah, azimat, rajah, atau jimat yang diyakini dapat memberi perlindungan, padahal itu semua adalah bentuk kesyirikan.


Sebagian lainnya mengaku mampu mengetahui perkara gaib — menunjukkan barang hilang, membaca pikiran, atau menebak nasib seseorang. Padahal mereka hanya mendapat sebagian kabar dari setan yang mencuri dengar berita langit, lalu mencampurnya dengan kebohongan. Bahkan ada yang menipu dengan menunjukkan atraksi ekstrem seperti kebal senjata atau tidak terbakar api, padahal itu hanyalah tipu daya setan yang disebut oleh para ulama sebagai umūrun takhayyuliyyatun — hal-hal khayalan yang menipu pandangan manusia, sebagaimana tukang sihir Fir‘aun memperdaya mata orang-orang dahulu.


Larangan terhadap sihir, perdukunan, dan ramalan ditegaskan dalam banyak dalil. Rasulullah ﷺ bersabda:


اِجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ

“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan.” 

Para sahabat bertanya, “Apakah itu wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “(Yaitu) mempersekutukan Allah dan melakukan sihir…”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis ini menunjukkan bahwa sihir sejajar dengan syirik, sebab keduanya sama-sama menghancurkan fondasi iman.


Allah juga berfirman dalam Surah Asy-Syu‘arā’ (221–223):


هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَن تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ ۝ تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ ۝ يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ


“Apakah akan Aku beritakan kepadamu kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta lagi banyak dosa. Mereka menyampaikan sebagian yang mereka dengar, padahal kebanyakan mereka adalah pendusta.”


Ayat ini menjelaskan bahwa setan hanya menurunkan bisikan kepada pendusta, yaitu para dukun dan tukang ramal yang mengaku mengetahui hal gaib.


Rasulullah ﷺ juga bersabda:


مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ


“Barang siapa mendatangi dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.”

(HR. Ahmad dan Al-Hakim, disahihkan menurut syarat Bukhari dan Muslim)


Hadis ini menjadi peringatan keras bahwa percaya kepada dukun berarti mengingkari Al-Qur’an dan Sunnah, sebab hanya Allah yang mengetahui perkara gaib. Keyakinan bahwa manusia bisa mengetahui hal gaib tanpa wahyu merupakan bentuk pengingkaran terhadap rububiyah Allah. Oleh karena itu, setiap muslim wajib menutup sekecil apa pun pintu menuju syirik — termasuk mendatangi, mempercayai, atau sekadar menguji tukang sihir dan peramal. Semua itu adalah jebakan setan yang dapat mengikis iman.


Sihir, perdukunan, dan ramalan adalah penyakit akidah yang harus diberantas. Ia tidak hanya menyesatkan pelakunya, tetapi juga merusak keyakinan masyarakat. Maka, memperdalam ilmu tauhid dan memperbarui iman menjadi benteng paling kokoh bagi seorang mukmin.


يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”


Semoga Allah menjaga iman kita dari segala hal yang membatalkannya, mengokohkan hati dalam ketaatan, dan menjauhkan kita dari godaan syirik, sihir, serta segala bentuk kekufuran.


Referensi:

1. Al-Qur’an dan Terjemahnya, Tim Depag RI, hal. 28.

2. Tafsir Ibnu Katsir, Jilid I, hal. 208 dst.

3. Tafsir Fathul Qadir, Jilid I, hal. 242.

4. Asbābun Nuzūl, KH. Qomaruddin Shaleh dkk., hal. 34–35, dan lain-lain.

5. Muqorror Tauhid, Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan, Jilid II, hal. 19.

6. Muqorror Tauhid, Jilid III, hal. 52.

7. Tauhidul ‘Ibadah, hal. 176 dst.

8. Syarah Kitabut Tauhid (Fathul Majid), hal. 293 dst.

9. Al-Jadid: Syarah Kitabut Tauhid, hal. 166 dst.


________

Penulis


Ust. Drs. Abu Bakar, Ketua MUI Kec. Pontang.



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com 

Friday, October 10, 2025

Dakwah | Tathoyyur: Ketika Kesialan Disandarkan pada Makhluk

Oleh Ust. Drs. Abu Bakar




Dalam kehidupan manusia, selalu ada momen di mana hati diliputi keraguan. Kadang, ketika hendak melakukan sesuatu, kita melihat tanda-tanda kecil yang dianggap membawa pertanda buruk: seekor burung melintas ke arah kiri, seseorang melontarkan kata tidak menyenangkan, atau sekadar angka yang tampak “tidak baik”. Dalam hati muncul rasa waswas: apakah ini pertanda sial? Di sinilah lahir keyakinan yang disebut tathoyyur (التَّطَيُّر) — suatu bentuk kepercayaan terhadap kesialan yang bersumber dari sesuatu selain Allah.

Akar Kata dan Makna Tathoyyur

Secara bahasa, tathoyyur berasal dari akar kata طَارَ - يَطِيرُ - طَيْرًا, yang berarti terbang. Kata ini lalu dibentuk dalam wazan تَفَعَّلَ, menjadi تَطَيَّرَ – يَتَطَيَّرُ – تَطَيُّرًا, yang berarti menganggap sial atau merasa celaka.

Makna ini lahir dari kebiasaan bangsa Arab kuno, yang gemar menafsirkan arah terbang burung sebagai tanda nasib. Bila burung itu terbang ke kanan, mereka menganggapnya keberuntungan. Jika ke kiri, mereka mengurungkan niat karena dianggap sial. Maka, “tathoyyur” berarti menyandarkan nasib kepada tanda-tanda selain Allah.

Para ulama tauhid, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Tahdzīb, menyebut tathoyyur sebagai anggapan sial terhadap sesuatu yang dilihat, didengar, atau dialami, yang disandarkan kepada makhluk, bukan kepada Sang Pencipta. Dalam pandangan ini, manusia telah menanggalkan keimanannya pada takdir. Ia mengganti ketundukan kepada Allah dengan keyakinan semu terhadap simbol-simbol dunia.

Tathoyyur dalam Kehidupan Manusia

Praktik tathoyyur ternyata tidak berhenti di zaman jahiliyah. Dalam bentuk yang berbeda, ia masih hidup di antara manusia modern.
Kita mengenal orang yang menolak bepergian di hari tertentu karena dianggap sial. Ada yang takut pada angka 13, hingga hotel-hotel besar di berbagai negara menghapus nomor itu dari daftar kamar mereka. Ada pula yang merasa perjalanan akan gagal hanya karena bertemu burung gagak, atau mendengar ucapan yang terdengar “tidak baik”.

Padahal, setiap bentuk keyakinan seperti itu bertentangan dengan tauhid. Rasulullah ﷺ menegaskan dalam sabdanya:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
At-thiyarah (tathoyyur), yakni anggapan sial yang disandarkan kepada makhluk, adalah syirik.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Syirik di sini tergolong syirik ashghar (syirik kecil) — namun tetap merupakan dosa besar, karena merusak kemurnian tauhid. Orang yang meyakini adanya “sial” pada makhluk sesungguhnya telah memberi peran ketuhanan pada sesuatu selain Allah.

Dalil-dalil yang Menolak Anggapan Kesialan

Al-Qur’an telah menjelaskan dengan tegas bahwa segala kebaikan dan keburukan datang hanya dari Allah. Dalam Surah Al-A‘rāf ayat 131 disebutkan:

أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِندَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

Ayat ini menjelaskan bahwa tak ada yang disebut “sial” kecuali apa yang telah Allah tetapkan. Bahkan, dalam Surah Yāsīn ayat 19, Allah menegur kaum yang menolak dakwah para rasul karena menganggapnya membawa kesialan:

قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ...
“Kemalangan kalian itu karena kalian sendiri.”

Kesialan tidak datang dari luar diri, tetapi dari kedurhakaan dan sikap berpaling dari kebenaran.

Antara Kesialan dan Pertanda Baik

Menariknya, Rasulullah ﷺ melarang tathoyyur, tetapi beliau justru menganjurkan al-fa’l (الفأل), yaitu mencari pertanda baik. Dalam sebuah hadis beliau bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الْحَسَنُ
Para sahabat bertanya: “Apakah al-fa’l itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab:
الْكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ
“Kata-kata baik yang didengar oleh salah seorang di antara kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perbedaan antara tathoyyur dan al-fa’l sangat halus, namun mendasar. Tathoyyur lahir dari pesimisme yang menghapus harapan kepada Allah, sementara al-fa’l tumbuh dari optimisme yang memperkuat keyakinan pada kasih sayang-Nya. Maka seorang mukmin tidak seharusnya takut pada simbol-simbol sial, tetapi justru mencari semangat dari kalimat dan peristiwa yang mengingatkannya kepada kebaikan.

Doa Penolak Kesialan dan Pelebur Syirik

Islam tidak hanya melarang tathoyyur, tetapi juga mengajarkan doa untuk menjaga hati agar tidak terjerumus padanya. Ketika melihat atau mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan, Rasulullah ﷺ mengajarkan doa berikut:

اَللّٰهُمَّ لَا يَأْتِي بِالْحَسَنَاتِ إِلَّا أَنْتَ، وَلَا يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلَّا أَنْتَ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِكَ

“Ya Allah, tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, tidak ada yang dapat menolak keburukan kecuali Engkau, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu.” (HR. Abu Dawud)

Dan untuk melebur dosa syirik tathoyyur, Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang ringkas namun penuh makna:

اَللّٰهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ، وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ، وَلَا إِلٰهَ غَيْرُكَ

“Ya Allah, tidak ada kebaikan selain kebaikan dari-Mu, tidak ada kesialan selain (sesuai dengan takdir)-Mu, dan tidak ada Tuhan selain Engkau.” (HR. Ahmad)

Tathoyyur bukan sekadar kesalahan kecil dalam keyakinan, tetapi bentuk halus dari kemusyrikan yang menodai tauhid. Ia muncul ketika manusia lupa bahwa seluruh takdir—baik maupun buruk—bersumber dari Allah.
Kita diajarkan bukan untuk menolak tanda-tanda di sekitar kita, melainkan menempatkannya sebagai pengingat, bukan penentu.

Maka, ketika langkah kita diiringi oleh ketakutan terhadap angka, hari, atau burung yang melintas, ingatlah bahwa semua itu hanyalah makhluk. Kesialan dan keberuntungan hanyalah milik Allah. Dan hati yang bertawakal kepada-Nya tidak akan pernah gentar pada apa pun selain Dia.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Semoga Allah menjaga tauhid kita dari noda-noda kecil kesyirikan, dan menuntun hati untuk selalu husnuzan kepada takdir-Nya.


Sumber Bacaan:

1. Kitab Tahdzīb – ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Azīz al-Jabārīn, hlm. 158–160.

2. Syarah Kitab Tauhid: Fatḥul Majīd, hlm. 311–323.

3. ‘Aqīdah al-Mu’min – Abu Bakar al-Jazairī, dan lain-lain.


________

Penulis


Ust. Drs. Abu Bakar, Ketua MUI Kec. Pontang.



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com 

Friday, April 4, 2025

Dakwah | Urgensi Niat dalam Beribadah | Tsaqib Arsalan

Oleh Tsaqib Arsalan, S.Pd.




Perlu kita ketahui ada satu hal atau perkara penting yang harus kita perhatikan ketika kita ingin melakukan suatu amalan atau ketika kita ingin melakukan suatu ibadah. Apa hal yang terpenting itu? Yakni NIAT. Niat merupakan hal terpenting ketika kita ingin melakukan suatu amalan atau ibadah.


Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan 

 

وَأَمّا النِيّةُ فَهِيَ رَأْسُ الأَمْرِ, وعَمُوْدُهُ, وأَسَاسُهُ , وأَصْلُهُ, الذِي عَلَيْه يَنْبَنِي


“Dan adapun niat maka ia adalah kuncinya suatu perkara, dan tiangnya, dan asasnya, dan fondasinya, yang di mana di atasnya dibangun sebuah perkara itu.”


Maka dari itu, niat merupakan fondasi utama dan begitu penting untuk diperhatikan bagi seorang hamba ketika ingin melakukan suatu amalan atau ibadah karena niat merupakan sebuah fondasi bagi sebuah amalan. Dan kita bayangkan/analogikan bahwa rumah itu amalan dan fondasinya itu adalah niat dan jika fondasi dari rumah itu tidak kokoh atau dibangun dengan asal-asalan maka rumah yang dibangun di atasnya pun otomatis akan tidak kokoh bahkan bisa roboh. Begitu juga dengan suatu amalan jika di bawahnya atau fondasinya, yaitu niatnya tidak kokoh maka suatu amalan itu pun akan roboh atau akan rusak.


Secara bahasa, niat berarti العَزْمُ و القَصْدُ , yaitu tekad atau menuju akan sesuatu. Sedangkan secara istilah atau secara syar’an, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin memberikan pengertian bahwa niat adalah 


 العَزمُ عَلَى فِعْلَ العِبَادَة للهِ عز وجل, ومَحَلُّها القَلبُ, وهِيَ عَمَلُ قَلبِي لاَ تَعَلُّق لِلجَوَارِح بِها


“Mengazamkan diri ketika melakukan ibadah hanya untuk Allah ‘azza wa jalla semata,  tempatnya niat adalah hati, dan niat merupakan amalan hati yang tidak berkaitan dengan anggota badan lainnya.”


Syaikh Utsaimin mengatakan bahwa niat merupakan amalan hati dan tempatnya adalah hati, dan sebagaimana yang kita ketahui bahwa hati merupakan rajanya dari seluruh anggota badan, seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:


ألاَ إنَّ في الجَسَدِ مُضْغَةً، إذا صَلَحَتْ، صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وإذا فَسَدَتْ، فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، ألا وهي القَلْبُ.


“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ini ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka baik pula jasadnya, dan jika segumpal daging itu rusak maka rusak pula jasadnya, dan segumpal daging itu hati." (HR Bukhari & Muslim)


Niat merupakan ibadah hati, dan hati merupakan rajanya dari seluruh anggota badan. Seperti niat fondasinya suatu amal maka hati juga pondasinya bagi seluruh jasad ini. Seyogiyanya bagi seorang hamba dan Muslim yang baik untuk memperhatikan niatnya ketika ia ingin beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.


Dan di hadits lain yang sangat masyhur, Rasulullah shallahu ‘alalahi wa sallam bersabda: 


إنَّمَا الأَعمَالُ بِالنّيَاتِ وإِنّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى


“Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya, dan dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan ...”


Dari segi bahasa arab Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengomentari kata “إنما” di dalam hadits tersebut menunjukkan “يُفِيدُ الْحَصْر” yaitu adanya pembatasan.  Maka dari itu menunjukkan bahwa kalimat “إنما الاعمال بالنيات” bermakna “لاَ عَمَلَ إلّا بِالنية” (tidak ada amalan kecuali dengan niat). Maka suatu amalan itu tidak akan ada nilainya atau hanya sia-sia jika tidak dibersamai dengan niat yang benar. 


Syaikh Abdurrahman bin nashir As Sa’di di dalam Mandzumah Qowaid Fiqhiyyah mengatakan 

 

والنية شرط لسائر العمل   -    بها الصلاح والفساد للعمل


“Dan niat sarat untuk seluruh amalan – dengan niat akan baik atau rusaknya suatu amalan.”


Oleh karenanya, niat merupakan poin penting ketika seseorang ingin melakukan suatu ibadah. Jika ingin diterima amal ibadahnya maka kita harus mengikhlaskan diri, mengikhlaskan niat kita hanya ditujukan untuk Allah Subhanahu wa ta’ala.


Ada beberapa hikmah d ibalik disyariatkannya kita untuk melakukan niat, di antara hikmah tersebut:


- تمييز العبادات عن العادات (Membedakan antara ibadah dengan adat/kebiasaan)


Banyak kaum muslimin di jaman sekarang mereka beribadah hanya karena ikut-ikutan saja atau karena suatu adat/kebiasaan di tempat tersebut tanpa membedakan bahwa ibadah harus diniatkan hanya kepada Allah ‘azza wa jalla.


- تمييز العبادات بعضها عن بعض (Membedakan ibadah yang satu dengan lainnya) 


Contohnya ketika kita ingin melaksanakan salat fardhu dengan salat sunah rawatib atau nafilah maka apakah niatnya sama? Tentu saja berbeda, maka ini hikmah dari disyariatkannya niat. Karena niat untuk salat fardhu dengan salat sunnah berbeda, dan niat wajib dengan niat sunah itu tidak bisa dibersamai/digabung.


- تحويل العادات الى العبادات (Mengubah adat menjadi ibadah) 


Contohnya seperti kita makan dan minum dalam kegiatan sehari-hari, itu merupakan suatu adat/kebiasaan. Maka itu bisa menjadi ibadah jika diniatkan untuk menjadi wasilah dalam beribadah atau ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.


Selaras dengan kaidah fiqih الوسيلة لها احكام المقاصد (wasilah dihukumi sesuai dengan tujuannya)  jika kita melakukan suatu adat/kebiasaan dan diniatkan tujuannya untuk beribadah maka itu bisa bernilai ibadah sesuai dengan kaidah yang baru saja disebutkan. 


Maka dari itu para ahlul ilmi mengatakan  


عبادات اهل الغفلة عادات, وعادات اهل اليقظة عبادات 


“Ibadahnya orang-orang yang lalai adalah hanya sebatas adat dan adat atau kebiasaan ahlul yaqdzah (orang-orang yang tidak lalai) adalah ibadah.” 


Karena ahlul yaqdzah meniatkan segala rutinitas/adat/kebiasaan mereka untuk imtisaalan li amrillah (mentaati perintah Allah ‘azza wa jalla).


- الحصول على الاجر مع عدم العمل

(Mendapatkan pahala walaupun belum mengamalkannya)


Dan ini merupakan suatu keutamaan yang agung yang kita dapatkan ketika kita membenahi dan menata niat kita untuk selalu kepada kebaikan dan hanya ditujukan lillahi wahdah. Hal ini bisa bernilai kebaikan walaupun kita belum atau tidak mengerjakannya. 


Demikian, syukron barakallahu fiikum.


_____


Penulis

Tsaqib Arsalan, S.Pd., alumnus Ma’had Aly Imam Syafi’i Cilacap.


Friday, December 6, 2024

Dakwah | Berkata Baik atau Diam

Oleh Ustaz Izzatullah Abduh, M.Pd.



Bismillah. Alhamdulillah washsholatu wassalamu ala rasulillah. Amma ba'du.

Termasuk nikmat yang besar yang Allah berikan kepada manusia adalah lisan dan bibir. Yang dengan keduanya kita bisa berucap dan bertutur kata. Dan yang mana keduanya bisa menjadi media untuk kita beribadah kepada Allah subhanahu wata'ala. 


Allah menyebutkan tentang nikmat lisan dan bibir,


{ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ ، وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ }


"Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata, dan lidah dan sepasang bibir?." (QS Al-Balad : 8-9)


Ibnu Katsir dalam tafsirnya menerangkan; kedua mata yang dengannya ia melihat, lidah yang dengannya ia berbicara dan mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya, dan sepasang bibir yang membantunya bertutur, makan, dan menjadi keindahan wajah dan mulutnya.


Dan As-Sa'di dalam tafsirnya menerangkan; mata, lisan dan bibir merupakan nikmat dari Allah yang semua itu menjadi kebutuhan penting untuk kemanfaatan hidup manusia.


Ketika kita menyadari tentang nikmat ini, maka sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah subhanahu wata'ala, yaitu dengan menggunakannya untuk kebaikan, kebenaran dan keta'atan.


Seorang Muslim diperintahkan supaya menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia, yang mana itu menunjukkan kesempurnaan imannya,


أكملُ المؤمنين إيمانًا أحسنُهم خُلقًا


"Mukmin yang paling sempurna imannya adalah ia yang paling baik akhlaknya." (HR Tirmidzi)


Dan di antara akhlak yang mulia adalah bertutur kata yang baik.


Dalam Al-Qur'an, Allah subhanahu wata'ala menyebutkan beberapakali perintah untuk berkata yang baik, berkata yang lembut, berkata yang benar, dsb. Adanya perintah ini menunjukkan bahwa Allah mencintai hamba-hambaNya yang sopan dan santun dalam bertutur kata dan berucap.


1. Kepada manusia secara umum


{ وَقُولُوا۟ لِلنَّاسِ حُسۡنࣰا }


"Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia." (QS. Al-Baqarah : 83)


As-Sa'di dalam tafsirnya menerangkan; ketika seseorang tidak memiliki kelapangan untuk berbuat baik kepada orang lain dengan hartanya. Maka Allah perintahkan dengan opsi lain yaitu agar bertutur kata yang baik kepada orang lain, bahkan sekalipun kepada non-Muslim.


Dan Ibnu 'Asyur dalam tafsirnya menerangkan; Allah menjadikan tutur kata sebagai media kebaikan untuk semua manusia. Karena hal itu adalah yang paling memungkinkan terjadinya muamalah di antara manusia. Dan bertutur kata yang baik adalah pondasi utama yang terbaik di dalam bermuamalah dengan sesama.


2. Kepada kedua orangtua


{ وَقُل لَّهُمَا قَوۡلࣰا كَرِیمࣰا }


"Dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (QS Al-Isra': 23)


As-Sa'di dalam tafsirnya menerangkan; ucapan yang disukai oleh keduanya, penuh adab dan kelembutan yang menghadirkan kelezatan dalam hati keduanya dan ketenangan dalam jiwa keduanya.


Dan Ath-Thabari dalam tafsirnya bahwa Qatadah berkata; maksudnya adalah ucapan yang lembut dan mudah dipahami. Abul Haddaj at Tujibi pernah bertanya kepada Sa'id bin Musayyib tentang qaulan karima. Lalu Sa'id bin Musayyib menjawab, "seperti layaknya ucapan seorang budak yang bersalah di hadapan tuannya yang kejam."


3. Kepada kerabat, anak yatim dan orang miskin


{ وَقُولُوا۟ لَهُمۡ قَوۡلࣰا مَّعۡرُوفࣰا }


"Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik." (QS An-Nisa': 8)


Dalam tafsir Hidayat Qur'an diterangkan; apabila engkau memberi seseorang dengan hartamu, maka hiasilah kebaikan tanganmu itu dengan kebaikan lisanmu, yaitu dengan tutur kata yang baik dan senyum merekah. Buatlah hatinya bahagia (dengan pemberian hartamu) dan engkau tetap menjaga kehormatan dirinya (dengan lisanmu).


Sedangkan Ath-Thabari menerangkan; qaul ma'ruf maksudnya adalah doa kebaikan; mendoakan rezeki dan kecukupan untuk mereka.


4. Kepada orang kafir, orang munafik, pendosa dan atau semisalnya yang kita harapkan hidayah untuknya


{وَعِظۡهُمۡ وَقُل لَّهُمۡ فِیۤ أَنفُسِهِمۡ قَوۡلَۢا بَلِیغࣰا }


"Dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya." (QS An-Nisa': 63)


As-Sa'di dan Ibnu Katsir menerangkan senada; maksudnya adalah memberi nasihat dan berkata kepada mereka secara rahasia, tidak di hadapan publik.


Dalam tafsir Hidayat Qur'an diterangkan; apabila engkau ingin nasihatmu itu berpengaruh masuk kepada jiwa orang lain yang engkau harapkan perubahan baiknya, maka nasihatilah ia secara rahasia (sembunyi-sembunyi),  karena hal itu lebih mengena dan bermanfaat.


Nabi Musa dan Nabi Harun alaihimassalam diperintahkan oleh Allah subhanahu wata'ala untuk berdakwah kepada Fir'aun,


{ فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلࣰا لَّیِّنࣰا لَّعَلَّهُۥ یَتَذَكَّرُ أَوۡ یَخۡشَىٰ }


"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS Thaha: 44)


Ibnu Katsir dalam tafsirnya menerangkan; pada ayat ini terdapat ibroh yang agung. Fir'aun yang berada pada puncaknya kedurhakaan dan pembangkaan, namun Allah perintahkan supaya Nabi Musa bertutur kata lembut kepadanya.


Yazid ar Raqasyi berkata ketika membaca ayat di atas,


"wahai Dzat yang masih memberikan kecintaanNya kepada seorang yang durjana nan durhaka. Lantas bagaimana kecintaanMu kepada seorang yang menaatiMu dan menyeruMu."


Wahb bin Munabih menerangkan; perkataan lembut itu adalah agar Nabi Musa menyampaikan bahwa pemaafan dan ampunan Allah itu lebih dekat kepada Fir'aun daripada kemurkaan dan azabNya.


Sufyan ats Tsauri berkata menerangkan maksud ayat di atas, "yaitu panggil lah Fir'aun dengan gelar kesukaannya Abu Murroh."


Dalam memberi nasihat dan menyampaikan pesan kebaikan kepada manusia, maka hendaknya setiap kita mengedepankan perkataan yang lemah lembut, yang mudah dipahami, menyampaikan apa yang membuat gembira dan menyentuh hatinya, dan dengan cara yang membuatnya merasa dihormati dan dihargai.


Ayat-ayat di atas yang penulis uraikan menunjukkan akan pentingnya bertutur kata atau berucap dengan kalimat yang baik. Dikondisikan sesuai dengan tempat dan siapa lawan bicara.


Allah subhanahu wata'ala berulangkali memerintahkannya di dalam Al-Qur'an. Menunjukkan betapa pentingnya perkara ini. Dan di dalam surat Al-Ahzab, Allah subhanahu wata'ala berfirman,


{ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوۡلࣰا سَدِیدࣰا }


"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar." (QS Al-Ahzab: 70)


Qaulan sadida mencakup semua makna ucapan yang baik, seperti jujur, benar, dst seperti yang sudah dibahas di atas.


Dan As-Sa'di dalam tafsirnya menerangkan makna ayat ini; yaitu ucapan yang halus dan lembut terhadap orang yang diajak bicara, dan terkandung di dalamnya nasihat dan isyarat petunjuk kepada kemaslahatan.


Kemudian ayat berikutnya,


{ یُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَـٰلَكُمۡ وَیَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡ }


"Niscaya Allah memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu." (QS Al-Ahzab: 71)


Ibnu Katsir dalam tafsirnya menerangkan; Allah memberikan janji apabila mereka (kaum mukminin) melakukan perintah Allah di atas, maka Allah akan perbaiki amal perbuatan mereka, yaitu dengan memberikan taufikNya kepada mereka untuk beramal shalih dan Allah akan ampunkan dosa-dosa mereka.


Ini menunjukkan bahwa ucapan seseorang itu sangat memengaruhi taufik Allah subhanahu wata'ala kepadanya. Apabila baik ucapannya, maka Allah akan selalu berikan taufik kepadanya dan Allah perbaiki amal perbuatannya. Sebaliknya, apabila buruk ucapannya, maka Allah akan cabut taufik darinya dan Allah akan biarkan amal perbuatannya menjadi rusak.


Ibnu 'Asyur menerangkan; ucapan sejatinya adalah tuturkata yang keluar dari lisan seseorang yang menggambarkan isi dalam jiwanya.


Dan ini termasuk pintu-pintu kebaikan yang agung sekaligus juga pintu-pintu keburukan yang berbahaya.


Nabi shallallahu alaihi wasallam pun mengabarkan dalam sabdanya tentang anjuran dan keutamaan bertuturkata yang baik dan juga mengabarkan tentang dosa dan dampak bahaya dari perkataan yang buruk.


Anjuran dan Keutamaan Bertutur Kata yang Baik


1. Bicara baik atau diam


أتخوَّفُ عليكم هذا، يعني اللسانَ، رحِمَ اللهُ عبْدًا قال خيرًا فغنِمَ، أو سكتَ عن سوءٍ فسلِمَ


"Aku hawatir atas kalian, yaitu lisan. Sungguh Allah menyayangi seorang hamba yang bertutur kata baik, kemudian dia mendapat banyak pahala. Atau ia diam tidak berkata jelek, maka ia selamat." (Dha'if al Jami' Al-Albani)


Hadis di atas memang dha'if, tetapi maknanya adalah benar. Apalagi diperkuat dengan hadis lain yang sahih,


 مَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ والْيَومِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أوْ لِيصْمُتْ


"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari ahir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari-Muslim)


Berkata baik atau diam dikaitkan dengan keimanan kepada Allah dan Hari Akhir adalah agar seorang hamba termotivasi untuk meraih pahala dengan berkata yang baik, dan agar ia waspada terhadap hukuman apabila ia berkata yang buruk.


Dianjurkan seseorang itu agar banyak diam jika tidak bisa berkata yang baik. Karena hukum asalnya manusia itu diperintahkan agar berkata yang baik-baik saja. Sebab terpelesetnya lisan bisa melahirkan banyak kerusakan.


2. Menjaga diri dari neraka dengan kalimat yang baik


اتَّقوا النَّار ولو بشِقِّ تمرةٍ فإنْ لم تجِدوا فبكلمةٍ طيِّبةٍ


"Jagalah diri kalian dari siksa neraka meskipun dengan sedekah setengah kurma. Jika tidak punya, maka dengan kalimat yang baik." (HR. Ibnu Hiban)


Dampak Bahaya Perkataan Buruk


1. Satu kata menjerumuskan ke neraka


وإنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بالكَلِمَةِ مِن سَخَطِ اللَّهِ، لا يُلْقِي لها بالًا، يَهْوِي بها في جَهَنَّمَ


"Sungguh seorang hamba berucap dengan satu kata yang membuat Allah murka, dan ia tidak berpikir akan akibatnya, sehingga dengannya ia masuk ke neraka jahannam." (HR. Bukhari-Muslim)


2. Terpelesetnya lisan menyebabkan masuk ke dalam neraka


 وَهَلْ يُكَبُّ النَّاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ


"Bukankah manusia itu dilemparkan ke dalam neraka dengan wajah tersungkur tidak lain disebabkan hasil panen (apa yang mereka peroleh) dari lisan-lisan mereka?” (HR Tirmidzi)


Dan banyak lagi dalil-dalil tentang lisan. Baik tentang keutamaannya maupun bahayanya. Namun penulis mencukupkan dengan yang di atas. Demikian, semoga bermanfaat.


Barakallahu fikum jami'an.


_______

Penulis


Ustaz Izzatullah Abduh, M.Pd.
, Kepsek INIS.


Friday, November 15, 2024

Dakwah | Beruntungnya Kita Memiliki Rabb Yang Maha Penyayang

 Oleh Ust. Izzatullah Abduh, M.Pd.



Alhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du.


Penyair Arab berkata,


ربي كفاني فخـراً أنك لي رب

وكفاني عـزاً أني لكَ عبد 

أنت كما أُحب

فاجعلني كما تُحب


Wahai Rabbku, cukuplah menjadi kebanggaanku bahwa Engkau adalah Rabbku

Dan cukuplah menjadi kemuliaanku bahwa aku adalah hambaMu

Engkau sebagaimana yang aku cintai

Maka jadikanlah aku seperti apa yang Engkau cintai


Hampir di setiap awal surat Al Qur’an, kita diingatkan dengan asma dan sifatNya yaitu Ar-Rahim, yang berarti Maha Penyayang. Bismillaahirahmaanirrahiim, dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wata’ala mengenalkan diriNya kepada kita semua sebagai Rabb Yang Maha Penyayang.


Kasih sayang Allah subhanahu wata’ala amat teramat luas meliputi segala sesuatu. Allah subhanahu wata’ala mengabarkan dalam firmanNya,


وَرَحۡمَتِىۡ وَسِعَتۡ كُلَّ شَىۡءٍ‌


“Dan Rahmat (kasih sayang)-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’raf : 156)


Umar bin Abdul Aziz rahimahullah menangis tersedu ketika membaca ayat ini, sambil berkata,


يا رب ارحمني وأنا من ذلك الشيء


“Wahai Rabbku rahmatilah, sayangilah aku, karena aku pun bagian dari sesuatu itu.”


Para Malaikat juga memberikan persaksian mereka tentang luasnya rahmat Allah ketika mereka berdoa,


رَبَّنَا وَسِعۡتَ كُلَّ شَىۡءٍ رَّحۡمَةً وَّعِلۡمًا فَاغۡفِرۡ لِلَّذِيۡنَ تَابُوۡا وَاتَّبَعُوۡا سَبِيۡلَكَ وَقِهِمۡ عَذَابَ الۡجَحِيۡمِ


"Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu luas meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan (agama)-Mu dan peliharalah mereka dari azab neraka yang menyala-nyala.” (QS. Ghafir : 7)


Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


 إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَة


"Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Dari seratus rahmat tersebut, hanya satu yang di turunkan Allah kepada jin, manusia, hewan jinak dan buas. Dengan rahmat tersebut mereka saling mengasihi dan menyayangi, dan dengan rahmat itu pula binatang buas dapat menyayangi anaknya. Adapun Sembilan puluh sembilan rahmat Allah yang lain, maka hal itu ditangguhkan Allah. Karena Allah hanya akan memberikannya kepada para hamba-Nya yang beriman pada hari kiamat kelak." (HR. Muslim)


Dalil-dalil di atas menunjukkan betapa luasnya rahmat (kasih sayang) Allah subhanahu wata’ala. Terlebih lagi secara khusus rahmat (kasih sayang) Allah subhanahu wata’ala kepada orang-orang yang beriman,


وَكَانَ بِالۡمُؤۡمِنِيۡنَ رَحِيۡمًا


“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab : 43)


Dan juga digambarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits yang shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari,


عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنْ السَّبْيِ قَدْ تَحْلُبُ ثَدْيَهَا تَسْقِي إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتُرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ قُلْنَا لَا وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ فَقَالَ لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا


Dari Umar bin Al Khatthab radliallahu anhu (berkata); "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah memperoleh beberapa orang tawanan perang. Ternyata dari tawanan tersebut ada seorang perempuan yang biasa menyusui anak kecil, apabila dia mendapatkan anak kecil dalam tawanan tersebut, maka ia akan mengambilnya dan menyusuinya, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada kami: 'Menurut kalian, apakah perempuan itu tega melemparkan bayinya ke dalam api?' Kami menjawab; 'Sesungguhnya ia tidak akan tega melemparkan anaknya ke dalam api selama ia masih sanggup menghindarkannya dari api tersebut.' Lalu beliau bersabda: 'Sungguh, kasih sayang Allah terhadap hamba-hambaNya melebihi kasih sayang perempuan itu terhadap anaknya.' (HR. Bukhari)


Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan kabar gembira kepada kita semua bahwa kasih sayang Allah itu lebih besar kepada hamba-hambaNya melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Masyaallah.


Dan diantara bentuk rahmat (kasih sayang) Allah kepada hamba-hambaNya adalah Allah tidak mencampakkan hamba-hambaNya yang berdosa, yang bergelimang kemaksiatan. Allah justru membuka pintu taubat dan pengampunan untuk mereka. Bahkan Allah masih menyapa mereka dengan sapaan dan panggilan yang lembut yang menunjukkan luas dan besarnya rahmat Allah. 


قُلۡ يٰعِبَادِىَ الَّذِيۡنَ اَسۡرَفُوۡا عَلٰٓى اَنۡفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَةِ اللّٰهِ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ يَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِيۡعًا‌ ؕ اِنَّهٗ هُوَ الۡغَفُوۡرُ الرَّحِيۡمُ


“Katakanlah, "Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar : 53)


Pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaih wasallam agar menyampaikan kepada umatnya bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang dan sangat luas rahmat dan kasih sayangNya terhadap hamba-hambaNya. Hamba yang telah mendurhakai karena mengabaikan perintahNya, melanggar hukum-hukum yang telah ditetapkanNya, dan bergelimang dalam dosa dan maksiat, masih dipanggil sebagai hambaNya dan dinasihati supaya jangan berputus asa terhadap ampunan dan rahmatNya. 


Ayat ini juga menjadi dorongan agar seorang hamba segera bertaubat dan memohon ampun kepada Allah subhanahu wata’ala. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari jalur sahabat Abdullah bib Abbas radiyallahu anhuma, beliau mengisahkan bahwa ada sekelompok manusia datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam mengadukan tentang perbuatan-perbuatan dosa yang telah mereka lakukan. Mereka berkata, 


"Sesungguhnya apa yang engkau serukan kepada kami adalah baik. Dapatkah engkau terangkan kepada kami bahwa yang kami kerjakan dahulu itu akan diampuniNya."


Maka turunlah ayat,


وَالَّذِيۡنَ لَا يَدۡعُوۡنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقۡتُلُوۡنَ النَّفۡسَ الَّتِىۡ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالۡحَـقِّ وَلَا يَزۡنُوۡنَ‌ ۚ وَمَنۡ يَّفۡعَلۡ ذٰ لِكَ يَلۡقَ اَثَام


“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat,”


يُضٰعَفۡ لَهُ الۡعَذَابُ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ وَيَخۡلُدۡ فِيۡهٖ مُهَانًا


“(yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,”


اِلَّا مَنۡ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًاصَالِحًـا فَاُولٰٓٮِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمۡ حَسَنٰتٍ‌ ؕ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوۡرًا رَّحِيۡمًا


“kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” 


وَمَنۡ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًـا فَاِنَّهٗ يَتُوۡبُ اِلَى اللّٰهِ مَتَابًا


“Dan barangsiapa bertobat dan mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al Furqan : 68-71)


Orang-orang yang bergelimang dosa bahkan diibaratkan dosa dan maksiat itu mandarah daging pada dirinya. Maka apabila ia bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala, niscaya Allah menerima taubatnya. Bukan hanya itu, Allah juga akan gantikan dosa-dosanya yang telah lalu itu dengan pahala-pahala kebaikan. Masyaallah.


Dalam riwayat Imam Ahmad, seorang sahabat bernama Amr bin Abasah bercerita, bahwa telah datang menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam seorang yang sudah tua bangka/renta bertelekan atau bersandar di atas tongkatnya berkata, 


يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي غَدَرَاتٍ وَفَجَرَاتٍ، فَهَلْ يُغْفَرُ لِي؟


“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku banyak berbuat dosa dan maksiat. Apakah mungkin aku diampuni?!”


فَقَالَ: "أَلَسْتَ تَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟ "


Rasulullah bersabda, “Bukankah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Allah?!”


قَالَ: بَلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ.


Orang tua tersebut menjawab, “ya, bahkan aku juga bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.”


فَقَالَ: "قَدْ غُفِرَ لك غدراتك وفجراتك"


Rasulullah pun bersabda, “Sungguh Allah telah mengampuni semua kesalahan dan maksiat yang telah engkau lakukan itu.” (HR. Ahmad)


Maka tidak ada alasan bagi seorang hamba untuk merasa putus asa dari rahmat dan ampunan Allah subhanahu wata’ala. Sebanyak apapun dosa, sesering apapun bermaksiat. Selagi ia bertaubat dan mohon ampun kepada Allah dengan jujur dan sungguh-sungguh, maka pasti Allah menerima taubatnya dan memberikan ampunanNya.


وَ مَنۡ يَّعۡمَلۡ سُوۡٓءًا اَوۡ يَظۡلِمۡ نَفۡسَهٗ ثُمَّ يَسۡتَغۡفِرِ اللّٰهَ يَجِدِ اللّٰهَ غَفُوۡرًا رَّحِيۡمًا

“Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa : 110)


Ayat ini memberikan dorongan kepada mereka yang berbuat dosa untuk menyadari dirinya dan kembali ke jalan yang benar dengan bertaubat dan memohon ampun kepada Allah.  Orang yang bertaubat dan memohon ampun kepada Allah akan mendapati bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan ia akan merasakan hasil pengampunan Allah pada dirinya yaitu rasa benci kepada kemaksiatan dan penyebab-penyebabnya, kemudian ia juga akan merasakan kasih sayang Allah kepadanya dengan tumbuhnya hasrat dalam hatinya hendak berbuat kebajikan.


Dan ketahuilah bahwa Allah subhanahu wata’ala selain memberikan rahmat (kasih sayang)-Nya kepada hambaNya yang bertaubat dari dosa. Allah juga merasa gembira dengan taubat hambaNya tersebut. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,


 للهُ أَشَدُّ فَرَحَاً بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضٍ فَلاةٍ ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا ، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطجَعَ في ظِلِّهَا وَقَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إَذْ هُوَ بها قَائِمَةً عِنْدَهُ 


“Sungguh Allah lebih gembira dengan taubat salah seorng dari kalian tatkala ia bertaubat kepadaNya, dibandingkan dengan kegembiraan seseorang yang berada diatas tunggangannya di suatu tanah yang luas, lalu tunggangannya tersebut  lepas, sedangkan makanan dan minumannya pada tunggangannya tersebut. ia pun putus asa untuk mendapatkan ontanya. Maka ia mendatangi suatu pohon dan berbaring dibawah naungan pohon tersebut dan ia sungguh telah berputus asa. Ditengah keadaan itu, ternyata ontanya telah ada berdiri didekatnya.” (HR. Muslim)


Seorang musafir yang kehilangan tunggangan ontanya beserta perbekalannya di tanah yang lapang nan sepi, tentu ini keadaan yang sangat memilukan. Membuatnya depresi dan putus asa. Dan sungguh betapa gembira dan senang ketika tiba-tiba tunggangan ontanya tersebut kembali lagi kepadanya lengkap dengan perbekalannya. Kegermbiraan yang tak bisa dilukiskan. Namun coba renungkan bahwa kegembiraan Allah subhanahu wata’ala itu lebih besar lagi terhadap hambaNya yang datang bertaubat memohon ampun kepadaNya, setelah sekian lama ia bergelimang dalam kubangan dosa dan maksiat.


Ketika seorang hamba baru melangkah mendekat saja kepada Allah, maka Allah  segera menyambutnya lebih cepat. Dalam hadits qudsi Allah subhanahu wata’ala berfirman,


أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً


“Aku berbuat sesuai persangkaan hambaKu. Aku bersamanya ketika ia mengingatKu. Jika ia mengingatKu saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diriKu. Jika ia mengingatKu di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepadaKu sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari-Muslim)


Hadits ini menunjukkan betapa dekatnya Allah terhadap hamba-hambaNya yang mendekat kepadaNya. Bahwa semakin seorang hamba mendekat kepada Allah, maka akan semakin terasa betapa dekatnya Allah dengan dirinya.


Masyaaallah, betapa beruntungnya kita memiliki Rabb Yang Maha Penyayang. Kasih sayangNya yang begitu teramat luas meliputi segala sesuatu. Sekalipun seorang hamba itu banyak dan sering berbuat dosa, tapi Allah masih memberinya kesempatan. Allah membuka pintu taubat dan ampunan untuknya agar ia mau bertaubat dan kembali ke jalan yang benar. Dan Allah menyatakan cintaNya kepada orang-orang yang bertaubat dari dosa,


اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيۡنَ وَيُحِبُّ الۡمُتَطَهِّرِيۡنَ


“Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah : 222)


Demikian, semoga bermanfaat. Barakallahu fikum Jamian.


_________

Penulis

Ustaz Izzatullah Abduh, M.Pd.

Kepsek INIS


Friday, November 8, 2024

Dakwah | Khawatirlah Jika Meninggalkan Generasi (Anak Keturunan) dalam Keadaan Lemah

Oleh Ust. Izzatullah Abduh, M.Pd.



Bismillah. Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala rasulillah. Amma Ba’du.


Menjadi orang tua di era zaman modern ini tidaklah mudah. Banyak tantangan dan rintangan di dalam memberikan hak pendidikan untuk anak-anak. Kemajuan teknologi yang begitu pesat, tak dipungkiri selain menguntungkan juga menjadi ancaman yang serius terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak-anak kita. 


Menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS) pengguna gadget anak usia dini di Indonesia mencapai sebanyak 33,44%. Dan menurut survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia bahwa lebih dari 71,3% anak-anak sekolah di Indonesia sudah memiliki gadget dan memainkannya dalam porsi yang lama setiap harinya. Dan sebanyak 79% para orang tua tidak menerapkan peraturan penggunaan gadget kepada anak-anak mereka. Padahal penggunaan gadget yang terus menerus dapat membuat mereka kecanduan dan berdampak negatif pada perkembangan fisik, mental, dan sosial mereka. Serta cenderung mengalami masalah dalam konsentrasi, perkembangan bahasa, dan keterampilan motorik. Maka ini harus menjadi perhatian serius bagi para orang tua untuk bisa mendampingi dan mengedukasi anak-anak dalam penggunaan gadget. Mengarahkan mereka supaya menggunakan gadget untuk hal-hal yang bermanfaat dan menjadwal penggunaannya untuk mereka. Karena bagaimana pun penggunaan gadget itu dapat merangsang pelepasan dopamin di otak atau dikenal “hormon kebahagiaan”. Penggunanya candu terhadap hiburan instan dan menarik di dalamnya seperti game, tontonan video, media sosial dan sebagainya.


Ini baru satu permasalahan yang kita temui di era modern ini. Kemudian terdapat juga survei-survei yang lainnya mengenai apa yang sedang terjadi atau dialami oleh anak-anak generasi zaman ini. Seperti mentalnnya yang kurang, minimnya kesejahteraan mental, banyaknya pengangguran, gaya hidup yang hedon, dan seterusnya.


Maka mari para orang tua, kita becermin kepada firman Allah subhanahu wata’ala, usaha apa yang kiranya sudah kita upayakan untuk generasi atau anak-anak kita yang cepat atau lambat kita pun akan meninggalkan mereka,


وَلۡيَخۡشَ الَّذِيۡنَ لَوۡ تَرَكُوۡا مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوۡا عَلَيۡهِمۡ ۖفَلۡيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلۡيَقُوۡلُوا قَوۡلًا سَدِيۡدًا‏


“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa : 9)


Konteks ayat ini adalah tentang teguran bagi orang-orang yang mengelola harta anak yatim, dan atau orang yang hadir menyaksikan wasiat orang lain yang akan meninggal. Agar mereka bertakwa kepada Allah dan berbicara yang benar alias jujur. Sebagaimana mereka ingin jika kelak anak keturunan mereka diperlakukan baik oleh orang lain, maka hendaknya mereka juga memperlakukan baik anak-anak yang saat ini ada dalam pengasuhannya.


Dalam tafsir Muyassar disebutkan 3 hal yang perlu diperhatikan di dalam menunaikan hak anak keturunan atau generasi yang nantinya akan ditinggalkan. Yaitu memelihara harta mereka termasuk menyediakan tabungan untuk masa depan mereka, menyediakan pendidikan yang terbaik, dan memprotek mereka dari bahaya termasuk memberikan shield atau filter supaya mereka tidak mudah terbawa arus pergaulan buruk.


Kemudian ayat ini juga menjadi peringatan bagi para orang tua agar tidak menelantarkan anak-anak mereka dan juga anak-anak yang ada dalam pengasuhan mereka. Adalah para orang tua diperintahkan untuk mempersiapkan kesejahteraan anak-anak. Setidaknya ada 3 kesejahteraan yang perlu dipersiapkan, yaitu kesejahteraan ilmu, ekonomi/finansial, dan emosional. Sehingga ketika orang tua meninggal, maka anak-anak sudah terpenuhi hak-hak mereka.


1. Kesejahteraan ilmu, ini sangat penting bahkan hak yang paling utama. Tentunya sebagai seorang Muslim yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu agama. Karena secara tegas di dalam Al-Qur'an Allah subhanahu wata’ala berfirman,


يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا قُوۡۤا اَنۡفُسَكُمۡ وَاَهۡلِيۡكُمۡ نَارًا


“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim : 6)


Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat ini bahwa maksudnya adalah ajarkanlah agama dan adab kepada keluarga; anak, istri, dst.


Dan Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma pernah berkata,


أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته 


“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya.”


Kemudian Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah juga berkata, 


“Siapa saja yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang berguna baginya, lalu dia membiarkan begitu saja, berarti dia telah berbuat kesalahan yang fatal. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang mengabaikan mereka, serta tidak mengajarkan berbagai kewajiban dan ajaran agama. Orang tua yang menelantarkan anak-anaknya ketika mereka kecil, itu akan membuat mereka tidak berfaedah bagi diri sendiri dan bagi orang tua ketika mereka telah dewasa.”


Ilmu agama inilah yang nantinya akan membentuk keshalihan dalam diri anak. Inilah sebaik-baik apa yang diwariskan oleh orang tua kepada anaknya. 


Terdapat kisah yang sangat menggugah tentang Umar bin Abdul Aziz rahimahullah ketika beliau wafat, beliau tidak meninggalkan harta warisan untuk anak-anaknya. Kisah ini diceritakan oleh Muqatil bin Sulaiman kepada Al Manshur yang waktu itu menjabat sebagai Khalifah.


Muqatil bercerita, 


“Umar bin Abdul Aziz memiliki 11 anak. Ketika wafat, beliau meninggalkan uang 18 dinar. Untuk membayar kain kafan 5 dinar dan untuk tanah liang kuburnya 4 dinar. Sisanya 9 dinar diwariskan kepada ahli warisnya.  Di sisi lain, ada Hisyam bin Abdul Malik yang memiliki 11 anak. Ketika beliau wafat, warisan yang diperoleh oleh masing-masing anaknya adalah 1 juta dinar. Demi Allah, pada suatu hari aku melihat salah seorang anak Umar bin Abdul Aziz bersedekah seratus ekor kuda untuk keperluan jihad fi sabilillah. Dan pada hari yang sama, aku melihat salah seorang anak Hisyam bin Abdul Malik sedang meminta-minta di pasar.”


Muqatil melanjutkan,


“Sebelumnya orang-orang bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz menjelang wafatnya, ‘Apa yang engkau tinggalkan untuk anak-anakmu?’ Beliau menjawab, ‘Aku tinggalkan untuk mereka keshalihan dan takwa kepada Allah. Jika mereka menjadi orang-orang yang shaleh maka Allah yang akan mengurus mereka’.


Beliau membaca ayat,


وَهُوَ يَتَوَلَّى الصّٰلِحِيۡنَ‏


“Dia (Allah) melindungi orang-orang shalih.” (QS. Al-A’raf : 196)


Jika tidak menjadi orang-orang yang shaleh maka aku tidak mau menolong mereka untuk bermaksiat kepada Allah dengan harta.”


Orang tua yang menginginkan kebaikan untuk anaknya, maka harus menanamkan nilai-nilai pendidikan agama. Orang tua berperan sebagai wasilah agar anak paham terhadap agamanya dan mengerti tentang perkara-perkara yang menjadi kewajibannya. Yang mana inilah tanda kebaikan sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam,


مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ


“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama.” (Muttafaqun ‘alaihi)


Tidak hanya itu, Allah pun akan mengangkat derajatnya,


يَرۡفَعِ اللّٰهُ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡكُمۡ ۙ وَالَّذِيۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ دَرَجٰتٍ


“Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah : 11)


Dengan ilmu agama, maka niscaya anak-anak kita akan menjadi anak-anak yang selalu diliputi kebaikan dan bermartabat serta tinggi derajatnya di antara manusia lainnya.


Dan kembali ke Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, bahwa beliau termasuk seorang Khalifah kaum muslimin yang pernah memenuhi bumi dengan keadilan. Beliau dikenal sebagai orang yang shalih, ahli ilmu dan berakhlak mulia. Hal ini tidak lepas dari peran ayahnya yang bernama Abdul Aziz bin Marwan rahimahullah. Ayahnya sangat perhatian terhadap pendidikan agama untuk anaknya, sehingga anaknya dititipkan kepada seorang ulama bernama Shalih bin Kaisan rahimahullah. Abdul Aziz berpesan supaya Umar kecil diajarkan tentang adab dan salat berjamaah 5 waktu. Dan suatu hari Umar ketinggalan salat berjamaah lantaran lamanya ia menyisir rambutnya. Hal ini dikabarkan oleh Shalih bin Kaisan kepada Abdul Aziz. Lalu apa responnya? Abdul Aziz mengirim tukang cukur untuk mencukur habis rambut Umar. Demikian dilakukan supaya Umar tidak terlambat lagi dalam mengerjakan salat berjamaah 5 waktu. Dan Umar tidak marah, justru merasa bangga kepada ayahnya. Meski jauh, tapi ayahnya selalu memberikan perhatian kepadanya.


Inilah pentingnya peran orang tua untuk anak-anak. Memberikan perhatian terhadap pendidikan mereka dan peduli terhadap capaian hasil belajar mereka. 


Pepatah Arab pernah mengungkapkan,


كيف استقم الظل و عوده أعوج


“Bagaimana bisa bayangan itu lurus sementara kayunya bengkok?” 


Semoga bisa dipahami makna tersirat dari kalimat pepatah di atas.


2. Kesejahteraan ekonomi, ini juga tidak kalah penting. Tidak cukup orang tua hanya membekali anak-anaknya dengan ilmu agama dan keshalihan. Tanpa dibekali life skill yaitu keterampilan hidup yang dengannya ia bisa menghasilkan maisyah penghasilan untuk membiayai kebutuhan hidupnya sendiri maupun yang lainnya. Menjadi penting bagi orang tua untuk melihat potensi, bakat serta minat sang anak. Apalagi jika di situ ada peluang ekonomi yang bisa dihasilkan. Fasilitasi, support dan dampingi hingga sang anak bisa mandiri menjalankannya.


Kemudian boleh bagi para orang tua menyiapkan tabungan masa depan agar nanti bisa meninggalkan harta warisan yang banyak untuk anak-anaknya. Bahkan hal ini sangat dianjurkan supaya anak-anak tidak hidup dalam keadaan terlantar dan mengemis kepada orang lain setelah sepeninggalnya.


Dalam hadits yang shahih dikisahkan, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjenguk Sa’d bin Abi Waqash radiyallahu ‘anhu yang sedang sakit, lalu Sa’d berkata, 


يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي ذُو مَالٍ وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابْنَةً، أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي؟ قَالَ: "لَا". قَالَ: فالشَّطْر؟ قَالَ: "لَا". قَالَ: فَالثُّلُثُ؟ قَالَ: "الثُّلُثُ، وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ". ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "إنك أن تَذر وَرَثَتَك أغنياء خَيْر من أَنْ تَذَرَهم عَالةً يتكَفَّفُون النَّاسَ" .


“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta, dan tidak ada yang mewarisiku kecuali puteriku seorang. Apakah aku boleh (berwasiat untuk) bersedekah dengan 2/3 hartaku?!”


Rasulullah bersabda, “tidak.”


“Kalau 1/2?!” tanya lagi Sa’d.


Rasulullah tetap menjawab, “tidak.”


Sa’d berkata lagi, “kalau 1/3?!”


Rasulullah bersabda, “1/3?! 1/3 itu banyak” kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wassalam melanjutkan, “sungguh engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, itu lebih baik daripada engkau meninggalkannya dalam keadaan miskin mengemis meminta-minta kepada manusia.” (HR Bukhari-Muslim)


Tentu poin ini harus dikuatkan dengan poin yang pertama yaitu ilmu agama. Sebab Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,


نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ


“Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang shalih.” (HR. Ahmad dengan derajat shahih menurut Syu’aib al Arnauth)


Dan Allah subhanahu wata’ala berfirman,


وَاَمَّا الۡجِدَارُ فَكَانَ لِغُلٰمَيۡنِ يَتِيۡمَيۡنِ فِى الۡمَدِيۡنَةِ وَكَانَ تَحۡتَهٗ كَنۡزٌ لَّهُمَا وَكَانَ اَبُوۡهُمَا صَالِحًـا ۚ فَاَرَادَ رَبُّكَ اَنۡ يَّبۡلُغَاۤ اَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنۡزَهُمَا ۖ رَحۡمَةً مِّنۡ رَّبِّكَ‌‌


“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang shalih. Maka Rabbmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Rabbmu.” (QS. Al-Kahfi : 82)


Pada ayat ini, Allah menerangkan tentang seorang ayah yang shalih yang menyimpan hartanya untuk kedua anaknya. Maka Allah menghendaki harta itu tetap terjaga di tempat penyimpanannya agar kedua anaknya sampai dewasa, kemudian mengambil simpanannya itu untuk bekal kehidupan mereka.


Selain itu, ayat ini juga memberikan pelajaran bahwa keshalihan orang tua, seperti yang dicontohkan dalam ayat ini, pasti akan dibalas oleh Allah. Salah satu bentuk balasan Allah adalah memberi anugerah kepada anak keturunannya.


3. Kesejahteraan emosional, yaitu kemampuan untuk mengendalikan emosi dan merespons situasi yang ada dengan positif sesuai dengan tuntunan agama. Bersyukur ketika mendapatkan hal-hal yang menyenangkan dan bersabar ketika mendapatkan hal-hal yang menyusahkan serta memaafkan kesalahan-kesalahan yang masih bisa ditoleransi.


Hal ini menjadi penting karena berkaitan dengan psikologi anak. Semakin anak mampu mengatur emosinya, maka semakin besar kemampuan untuk menikmati hidup, mengatasi stres dan lain sebagainya. Sehingga ia bisa menjadi pribadi yang fokus, mampu memprioritaskan apa yang penting untuk dikerjakan, dan mendorongnya melakukan aksi positif yang bermanfaat untuk hidupnya dan orang lain.


Kesejahteraan emosional perlu dibangun sejak dini supaya anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan mudah bergaul dengan siapa pun serta mampu mengatasi beragam problem yang mungkin akan ia temui dalam hidupnya.


Dan agama Islam sangat memperhatikan hal ini. Banyak ayat dan hadis yang mendorong umat Islam untuk mempunyai kesejahteraan emosional, bahkan memuji siapa saja dari kaum muslimin yang memilikinya.


وَلَا تَهِنُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَاَنۡتُمُ الۡاَعۡلَوۡنَ اِنۡ كُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِيۡنَ‏


“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman.” (QS. Ali Imran : 139)


Pada ayat ini Allah memotivasi agar kaum muslimin tidak larut dalam sifat lemah dan sedih yang berkepanjangan.


وَجَزٰٓؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثۡلُهَا‌ۚ فَمَنۡ عَفَا وَاَصۡلَحَ فَاَجۡرُهٗ عَلَى اللّٰهِ‌ؕ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيۡنَ‏


“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zhalim.” (QS. Asy-Syura : 40)


Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa seseorang boleh membela diri ketika ia dizhalimi atau dianiaya. Dan membalas setimpal dengan apa yang ia derita. Namun demikian, ayat ini juga menganjurkan untuk tidak membalas kejahatan orang lain, tetapi memaafkan dan memperlakukan dengan baik orang yang berbuat jahat kepada kita karena Allah akan memberikan pahala kepada orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain.


وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا


“Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba yang pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya.” (HR. Muslim)


Dan banyak lagi ayat maupun hadits lainnya yang tidak bisa dipaparkan satu pe rsatu. Tapi intinya adalah pentingnya para orang tua membangun kesejahteraan emosional kepada anak-anak, baik dengan pendekatan agama, maupun yang lainnya selagi dalam koridor yang dibolehkan syariat. Sehingga anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana, mampu menghadapi segala situasi dengan tenang dan lurus.


Demikian, pada akhirnya kita semua akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah berupa anak-anak yang telah Allah titipkan kepada kita.


كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ والْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِه وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ


“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang laki-laki (suami) adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, dan seorang istri pemimpin terhadap keluarga di rumah suaminya dan juga anak-anaknya. Dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya atas mereka.” (HR. Bukhari)

Semoga bermanfaat. Barakallahu fikum jami’an.


_________


Penulis


Izzatullah Abduh, M.Pd., Kepsek Imam Nawawi Islamic School Pondok Cabe Tangsel.