Resensi Kabut
Cerita anak kadang dituntut turut menebar sains. Namun, tuntutan itu berlebihan bila kita menilik persembahan cerita anak di Indonesia, dari masa ke masa. Yang membuat cerita anak jarang berkepentingan mengajak anak-anak (pembaca) memasuki pengalaman, petualangan, atau pendalaman sains. Cerita-cerita disuguhkan untuk memberi ajaran-ajaran moral ketimbang memicu imajinasi mengarah sains.
Apakah berlimpahnya cerita anak di Indonesia menampilkan pengabaian atas ilmu (pengetahuan), yang berkaitan beragam mata pelajaran di sekolah? Kita belum wajib ikut menjawab. Yang dipelajari anak-anak di sekolah sering menjemukan dan “permukaan”. Wajarlah anak-anak yang belajar tidak ingin meraih pengetahuan-pengetahuan melebihi yang tercantum di puluhan buku pelajaran. Mereka cukup berbekal buku pelajaran agar dianggap berilmu.
Anak-anak yang mau menikmati waktu senggang atau melawan kebosanan dengan membaca cerita anak tidak diharuskan menemukan asupan-asupan agar bergaiah dalam memikirkan sains. Cerita, yang sejatinya adalah khayal atau berpijak imajinasi, telanjur dianggap sumber hiburan atau mencari ajaran-ajaran moral.
Di Indonesia, pembakuan cerita anak yang digunakan mengajarkan kebaikan, kesantunan, kerukunan, keadilan, dan lain-lain sudah “membebani” para pembacanya. Artinya, membaca cerita anak seperti mengikuti penyuluhan atau “pembinaan”. Yang rajin membaca cerita anak semestinya menjadi panutan dalam usaha menjadi manusia yang “utama”. Dampak “cerdas” atau “melek pengetahuan” belum dijanjikan dalam perayaan cerita anak di Indonesia, dari masa ke masa. Beberapa orang malah menyatakan bahwa anak-anak yang pingtar bukanlah anak-anak yang gandrung bacaan fiksi. Mereka adalah penegak keampuhan buku-buku pelajaran.
Pada abad XXI, kita mulai mengetahui terjadi pergeseran selesai dalam perkembangan bacaan anak. Penerjemahan cerita-cerita anak dari pelbagai negara ikut berpengaruh dalam mengagungkan sains. Maksudnya, cerita-cerita yang dibaca mengarahkan anak menekuni botani, astronomi, fisika, matematika, dan lain-lain. Cerita anak bukan “pengganti” buku pelajaran tapi referensi dalam selebrasi imajinasi yang tidak melulu moral.
Mengapa yang terkandung dalam pelbagai cerita anak asal negara-negara asing memikat anak-anak di Indonesia? Yang bikin iri adalah cerita-cerita itu sulit tersaingi oleh gubahan para pengarang Indonesia. Akhirnya, bermunculan cerita mengandung sains, yang ditulis oleh pengarang Indonesia dengan pertimbangan dibaca anak-anak Indonesia. Maka, yang diperlukan adalah patokan yang tidak mengikuti gejolak sastra anak dan sains di dunia.
Kita belum mampu membuat amatan yang serius mengenai sastra anak Indonesia abad XXI, yang gelagatnya sudah memuliakan sains. Kita mundur saja ke masa lalu untuk menyibak pemenuhan hasrat pengetahuan dalam sajian cerita anak. Yang terbaca sebenarnya tidak sepenuhnya hanya moral. Namun, kita yang ikut membaca meski bukan anak-anak lagi menganggap terjadi peminggiran imajinasi berpatokan sains.
Pilihannya adalah membaca buku cerita bergambar yang berjudul Lesung Jimat. Cerita ditulis oleh Adikusumah. Gambar-gambar dibuat oleh A Wakidjan. Buku tipis itu diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Anak-anak yang membacanya tidak bakal lelah dan cemberut dalam menyelesaikan cerita dan menikmati gambar. Buku di tangan yang cuma 40 halaman dapat dikhatamkan beberapa menit saja, tidak perlu 3 hari atau seminggu.
Buku diterbitkan pada tahun 1975. Para pembaca tidak usah berharap hasil cetaknya apik. Gambar-gambar pun sederhana dalam tampilan tiga warna. Penggarapan buku sudah serius meski keterbatasan desain dan mesin cetak belum memungkinkan suguhan yang artistik. Pada masa 1970-an, anak-anak yang membacanya mungkin sudah terpukau. Pembagian oleh penata letak membuat anak-anak terbujuk membaca: satu halaman berisi kata-kata dan satu halaman untuk gambar. Penceritaan dibuat bernomor. Susunan mirip puisi tapi bahasanya gampang dimengerti.
Judul cerita adalah Lesung Jimat. Lesung, benda yang diakrabi anak-anak di Indonesia, terutama yang hidup di desa. Lesung itu benda berkaitan dalam pengadaan pangan. Lesung terbuat dari kayu, yang menghasilkan suara merdu dan mengaitkan anak-anak dengan kultur pangan. Konon, lesung dan alu itu benda khas dalam peradaban agraris. Penyebutan “jimat” dalam cerita lekas membimbing anak-anak dalam keyakinan tradisional di Indonesia. Jimat itu istimewa, ajaib, ampuh, atau sakti.
Pembuka yang membenarkan itu khayalan: “Tersebutlah kono dahulu kala, sebelum air laut asin rasanya, dua orang laki-laki bersaudara.” Masalah yang terpenting? Air laut atau manusia? Pembaca akan mengetahuinya bila membaca 20 nomor dalam buku.
Yang diceritakan adalah dua bersaudara, tidak mengikutkan bapak dan ibunya. Yang tua bernama Kikir. Yang muda dinamakan Budiman. Dua nama itu pilihan pengarang, yang menggampangkan pembaca dalam mengetahui sifat-sifat tokoh. Anak-anak paham bahwa kikir itu sifat yang jelek, tidak boleh ditiru. Pemberian nama Kikir mungkin memastikan sisi hitam tokoh. Sebalinya, anak-anak mengartikan Budiman adalah sifat-sifat yang baik, yang biasanya dianjukan untuk ditiru. Pada masa lalu, sebutan “budiman” digunakan dalam lirik lagi, yang mengarahkan terwujudnya “murid yang budiman”. Pada kesempatan berbeda, cerita anak menganjurkan menjadi manusia yang budiman.
Apakah sepenuhnya tokoh itu dapat menjadi panutan? Yang diceritakan oleh Adikusumah: Yang muda, Budiman Namanya. Ia orang miskin, tapi rajin, senang bekerja. Di samping itu hatinya mulia, ia senang sekali menolong orang. Yang memerlukan tenaga, dibantunya bekerja, yang kelaparan, diberinya makan. Karena itu ia dicintai oleh semua orang.” Pemberian definisi yang tidak bisa dibantah. Anak-anak sepakat saja. Budiman adalah tokoh yang menunjukkan kebaikan-kebaikan.
Pada saat membaca cerita, perhatian anak-anak condong mengarah kepada tokoh Kikir atau Budiman? Mereka boleh membuat perbandingan sambil mencari “contoh” dalam kehidupan keseharian. Bagi pembaca yang hanya ingin menikmati cerita, belum ada kebutuhan mengaitkan dengan lakon hidup yang lazim menyajikan sisi hitam dan sisi putih.
Di halaman bernomor 4 dan 5, anak-anak gampang membuat simpulan: “Pada suatu hari, karena kehabisan bekal, Budiman datang ke rumah kakaknya, hendak meminjam beras sedikit untuk makannya. Tapi, si kakak yang kaya marah, katanya kesal: ‘Kau hanya pandai menyusahkan orang!’ sambil pergi meninggalkan adiknya. Budian tunduk. Air matanya meleleh ke pipi karena sedih dan pedih oleh perkataan kakanya yang menusuk hati.” Dua nasib yang sangat berbeda. Anak-anak kasihan kepada Budiman. Namun, kecengengan si tokoh membuat anak-anak bertanya-tanya tentang kesabaran atau ketabahan. Mengapa ia menangis?
Yang mengejutkan: “Istri si Kikir iba hatinya melihat Budiman yang sedih dan putus asa. Karena merasa kasihan diberinya Budiman: beras sebatok dan sepotong ikan. Budiman terharu menerima pemberian itu. Sesudah mengucapkan terima kasih ia pun bermohon diri lalu pergi dari situ.” Istri yang memiliki sifat-sifat berbeda dari Kikir. Pembaca yang tidak menyukai Kikir agak memuji istrinya. Bagaimana kehidupan suami-istri dalam mengelola kekayaan dan pergaulan dengan sesama?
Bantuan atau pemberian itu akhirnya tidak dinikmati sendirian oleh Budiman. Ingat, ia adalah tokoh yang suka berbuat baik. Beras dan ikan asin diolahnya untuk dimakan bersama lelaki tua (merana) yang ditemuinya di jalan. Lelaki yang tua dan kelaparan itu diajak ke rumah. Malam menjadi saksi mereka makan dan membuktikan kebaikan. Pembaca bisa menebak. Budiman mendapat balasan dari lelaki tua. Balasannya adalah lesung dan alu.
Anehnya, benda yang diberikan tidak terbuat dari kayu tapi perak. Jadi, lelaki itu pastinya menyamar saat tampil dalam ringkih dan kelaparan. Ia adalah sosok yang istimewa, yang sengaja datang untuk menguji dan membantu Budiman. Pesan yang diberikan saat menyerahkan lesung dan alu: “Mintalah apa yang kauingini kepadanya, dan ia akan berbukti. Taruhlah sedikit tanag ke lesung ini bila kau mengingini ia berhenti.” Terjadilah, apa-apa yang diminta Budiman terwujud, dimulai dengan permintaan beras. Akhirnya, Budiman menjadi tokoh yang makmur-sejahtera tapi tetap baik dan suka menolong sesama. Budiman tidak berubah menjadi sombong dan kikir.
Yang selanjutnya terjadi adalah ulah Kikir untuk menguasai lesung dan alu milik adiknya. Berhasil melalui pencurian. Ia membawanya ke pelabuhan, berlanjut naik ke kapal. Yang diinginkannya adalah emas, intan, dan berlian. Pada saat di kapal, ia mendengar juru masak ribut-ribut disebabkan saat mau memasak kehabisan garam.
Maka, yang diinginkan dari alu dan lesung adalah garam. Akibatnya, garam terus dihasilkan dalam jumlah yang banyak, yang mengakibatkan kapal itu karam. Kikir tidak mengetahui cara menghentikannya. Akhir dari cerita: “… sehingga laut jadi asin semua, sekarang dan di masa yang akan datang.” Buku cerita itu ditutup, anak-anak membuka buku pelajaran sambil menyimak penjelasan guru. Mereka mendapat bahasan mengenai ait laut yang asin dan air sungai yang tawar. Anak-anak juga belajar tentang garam dan kegunaan dalam kehidupan sehari-hari. Buku cerita bergambar yang disusun oleh Adikusumah dan A Wakidjan menjadikan anak-anak tersenyum menandakan “bingung” dan “ragu”. Mereka dalam ketegangan cerita dan sains.
__________
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
.jpg)