Showing posts with label Dakwah. Show all posts
Showing posts with label Dakwah. Show all posts

Friday, February 27, 2026

Dakwah | Keutamaan & Hikmah Puasa Ramadhan

Oleh  Tsaqib Arsalan, S.Pd.



Bulan Ramadhan adalah bulan yang diberkahi dan bulan yang dimana diturunkannya Al-Qur’an. Begitu juga di bulan ini ada salah satu perkara yang diwajibkan oleh syariat kita yang suci ini yaitu berpuasa. 


Sebagaimana Firman Allah ﷻ  di dalam surah Al Baqarah ayat 183 :  


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Al Baqarah : 183)

Dan juga di surat yang sama di ayat yang ke 185 : 

 ...فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ ...


"... Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu ...." (Al Baqarah : 185)


Dan juga ditekankan oleh sabda Nabi Muhammad ﷺ bahwa Puasa Ramadhan termasuk salah satu rukun dari lima rukun Islam. 


Disebutkan didalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma:


عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ


"Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 'Islam dibangun di atas lima (tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, haji, dan puasa Ramadhan'.” (HR Bukhari)


Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga semata, tetapi juga banyak keutamaan dan hikmah yang didapatkan bagi kaum muslimin yang melaksanakannya. Karena tidaklah syari’at mewajibkan sesuatu kecuali di dalamnya ada maslahat, keutamaan (faadhilah), begitu juga hikmah dibalik kewajiban tersebut. 

Berikut diantara beberapa keutaman puasa Ramadhan :

Menghapus kesalahan-kesalahan kita

Didalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:


عن أبي هُريرةَ رَضِيَ اللهُ عنه أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال : الصَّلَواتُ الخَمسُ، والجُمُعةُ إلى الجُمُعةِ، ورمضانُ  إلى رَمَضانَ؛ مُكَفِّراتٌ ما بينهُنَّ إذا اجتَنَبَ الكبائِرَ  .


"Salat 5 waktu, dari Jumat ke Jumat berikutnya, dan dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya merupakan penghapus dosa-dosa yang dilakukan di antara keduanya apabila dosa-dosa besar dijauhi." (HR Muslim)

Sebab diampunkannya dosa

Rasulullah ﷺ bersabda di dalam hadits yang juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu :


عن أبي هُريرةَ رَضِيَ اللهُ عنه أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال: مَن صامَ رمضانَ إيمانًا واحتسابًا، غُفِرَ له ما تقدَّمَ مِن ذَنبِه 


“Barangsiapa yang berpuasa penuh dengan keimanan dan pengharapan akan pahala, maka diampuni dosa dia yang telah lalu. 
(HR Bukhari & Muslim).


Menjadi sebabnya kita masuk surga


Disebutkan dalam satur riwayat yang diriwayatkan oleh Jabir Radiyallahu ‘anhu: 


عن جابرٍ رَضِيَ اللهُ عنه : أنَّ رَجُلًا سأل رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فقال: يا رَسولَ اللهِ، أرأيتَ إذا صَلَّيتُ المكتوباتِ، وصُمْتُ رمضانَ، وأحلَلْتُ الحلالَ، وحَرَّمْتُ الحرامَ، ولم أزِدْ على ذلك شيئًا، أأدخُلُ الجَنَّةَ؟ فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: نَعَم .


“Dari Jabir Radiyallahu ‘anhu : Bahwasannya seorang pria bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan mengatakan: ‘Kabarkan kepadaku Wahai Rasulullah, kalau saya sudah shalat yang wajib, sudah berpuasa pada bulan  Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, dan saya tidak menambah sedikit pun diatas itu, apakah saya akan masuk surga?’ Maka Rasulullah ﷺ menjawab: ‘Iya'.” (HR Muslim)


Mendapatkan pahala tanpa hisab (tak terhitung)


Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh kesabaran. Karena di dalamnya kaum muslimin diperintah untuk berpuasa dengan menahan diri dari apa yang sebetulnya halal dilakukan, seperti makan dan minum. Dan Allah ﷻ menjajikan pahala tanpa hisab bagi orang-orang yang bersabar. Allah ﷻ berfirman: 


...إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ 


“...Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az Zumar : 10)


Di balik keutamaan yang kita sebutkan di atas, puasa juga memiliki banyak hikmah yang didapatkan bagi kaum muslimin yang melakasanakannya, baik dari segi jiwa dan juga kesehatan. Imam Ibnu Katsir rahimahullah di dalam tafsir surah Al-Baqarah ayat 183 mengatakan bahwa di antara hikmah puasa yaitu mensucikan jiwa, membersihkan jiwa, dan juga membersihkannya dari hawa nafsu dan akhlak buruk. Dan dari segi kesehatan banyak juga hikmah yang didapatkan, seperti yang disebutkan di laman alodokter.com yang ditinjau oleh dr. Gracia fensynthia bahwa puasa memiliki hikmah atau manfaat bagi kesehatan di antaranya : 


- menurunkan berat badan,

- menjaga kesehatan jantung,

- mengurangi risiko diabetes,

- mengurangi risiko munculnya kanker,

- menjaga kesehatan mental,

- memperbaiki metabolisme tubuh.


Masyaa Allah, di dalam keutamaan dan hikmah yang banyak ini sungguh sangat merugi bagi kaum muslimin yang meninggalkan salah satu perkara wajib di dalam syari’at ini. Di balik dia mendapatkan dosa besar, dia juga banyak sekali meningggalkan keutamaan, hikmah, dan manfaat lainnya yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang menunaikan kewajiban ini yaitu berpuasa.


Maka dari itu, marilah kita mengikhlaskan ibadah puasa kita karena Allah ﷻ, karena tidaklah kita mendapatkan keutaman-keutaman di atas kecuali dengan rasa ikhlas kita kepada Allah ﷻ. Menujukan semua ibadah kita hanya karena-Nya.


Barakallahu fiikum. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

__________


Penulis

Tsaqib Arsalan, S.Pd., alumnus Ma’had Aly Imam Syafi’i Cilacap.



redaksingewiyak@gmail.com




Friday, February 20, 2026

Dakwah | Puasa Ramadhan: Jalan Menuju Cinta Allah

Oleh Ust. Izzatullah Abduh, M.Pd.



Bismillah walhamdulillah washsholatu wassalamu la rasulillah.


Ibadah puasa adalah jargonnya amalan di bulan Ramadhan. Ia bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan ibadah paling prioritas yang wajib kita beri perhatian besar.


Tidak ada puasa yang Allah wajibkan atas umat ini selain puasa di bulan Ramadhan. Bahkan Allah menjadikannya sebagai salah satu rukun, pondasi utama bangunan Islam.

Perintah Puasa dalam Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ۝ أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Yaitu) beberapa hari yang tertentu (hari-hari Ramadhan).” (QS. Al-Baqarah: 183–184)


Dan Allah tegaskan lagi:


شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan batil). Maka barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, hendaklah ia berpuasa.” (QS. Al-Baqarah: 185)


Bahkan Rasulullah ﷺ menegaskan kedudukannya sebagai rukun Islam:


بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Karena itu, jamaah sekalian, jadikanlah puasa kita sebagai ibadah yang berkualitas. Bukan hanya menghasilkan pahala besar, tetapi juga mendatangkan cinta Allah.


Dalam hadits qudsi Allah berfirman:


وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya.” (HR. Bukhari)


Bayangkan… ketika kita berpuasa kurang lebih 12 jam setiap hari, kita sedang mengerjakan ibadah yang paling Allah cintai—karena ia adalah kewajiban.


Artinya, selama itu pula kita berada dalam suasana ibadah, dalam limpahan rahmat dan dicintai Allah.


Lebih dahsyat lagi, bahwa jika Allah telah mencintai seorang hamba, cinta itu diumumkan di langit.


Rasulullah ﷺ bersabda:


إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِني أحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ

“Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, Allah memanggil Jibril: ‘Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Maka Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril menyeru kepada penduduk langit: ‘Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian diletakkanlah baginya penerimaan di bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Subhanallah… berita cinta Allah itu menjadi “headline” di langit.


Kemudian secara normal, Ramadhan berlangsung 29 atau 30 hari. Jika kita berpuasa penuh, maka kita mendapatkan pahala sebanyak hari yang kita jalani.


Namun ternyata, ada orang-orang yang “menang banyak” — yaitu mereka yang dermawan, yang berbagi buka puasa.


Rasulullah ﷺ bersabda:


مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barangsiapa memberi makan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)


Bayangkan jika seseorang memberi makan 10 orang setiap hari, maka 30 hari ... betapa berlipat-lipat pahala puasanya.


Benarlah dahulu para sahabat berkata:


يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ وَالدَّرَجَاتِ الْعُلَى

“Wahai Rasulullah, orang-orang yang memiliki harta telah pergi dengan membawa pahala dan derajat yang tinggi.” (HR. Muslim)


Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:


ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ

“Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.” (HR. Muslim)


Artinya karunia Allah itu tidak bisa digugat oleh makhluq. Allah berikan sesuai kehendak-Nya kepada siapa yang Dia mau. Dan Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. 


Jika belum mampu berbagi, maka jangan berkecil hati. Niatkanlah. Perbanyaklah niat kebaikan di bulan Ramadhan. Karena sungguh Allah Maha Pemurah. Niat baik itu dicatat dan dinilai sebagai suatu ibadah yang berpahala kebaikan.


Rasulullah ﷺ bersabda:


مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً

“Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun belum melakukannya, maka Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Maka jangan pernah meremehkan niat baik. 


Ahirnya... Ramadhan bukanlah sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah momentum meraih cinta Allah.


Puasa adalah ibadah wajib — dan kewajiban adalah amalan yang paling Allah cintai.


Maka mari kita jalani Ramadhan dengan:

- Puasa yang berkualitas

- Hati yang penuh niat baik

- Semangat berbagi sesuai kemampuan

- Harapan besar untuk dicintai Allah


Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang dicintai-Nya, yang namanya disebut di langit, dan diterima di bumi. Aamiin.


Barakallahu fikum.


________


Penulis


Izzatullah Abduh, M.Pd.,  Kepsek Imam Nawawi Islamic School & Mudir TAFISA Boardingschool Pondok Cabe Tangerang Selatan.



redaksingewiyak@gmail.com 


Friday, January 16, 2026

Dakwah | Seputar Isrā’-Mi‘rāj

Oleh Ust. Drs. Abu Bakar



Isrā’ dan Mi‘rāj merupakan peristiwa luar biasa dalam sejarah kenabian yang tidak dapat dijangkau oleh nalar akal manusia yang sangat terbatas. Peristiwa ini menempuh jarak yang amat jauh dalam waktu yang sangat singkat. Jarak antara Masjidil Haram di Makkah dan Masjidil Aqsha di Palestina kurang lebih 1.000 kilometer. Sementara perjalanan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntahā, melewati tujuh lapis langit, berada pada jarak yang tidak terbayangkan oleh perhitungan manusia.


Ilmu astronomi modern baru mampu mengukur jarak antara bumi dan matahari, yakni sekitar 149.578.000 kilometer. Itupun seluruh benda langit tersebut masih berada di bawah langit pertama. Oleh karena itu, peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj hanya dapat diterima dengan pendekatan iman yang kokoh. Apabila Allah Swt. menghendaki sesuatu, maka tidak berlaku hukum alam bagi-Nya. Semua menjadi mudah dan tunduk kepada kehendak-Nya.


Menurut para sejarawan, peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj terjadi pada tahun ke-11 atau ke-12 sejak Nabi Muhammad ﷺ diangkat menjadi Rasul, bertepatan dengan tanggal 27 Rajab, sekitar tahun 621 Masehi. Setahun setelah peristiwa tersebut, Nabi ﷺ berhijrah ke Madinah.


Isrā’ secara bahasa berarti memperjalankan. Secara istilah tarikh, Isrā’ adalah diperjalankannya Nabi Muhammad ﷺ pada malam hari dari suatu tempat ke tempat yang lain, yaitu dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina.


Peristiwa Isrā’ ini diabadikan oleh Allah Ta‘ālā dalam Al-Qur’an Surah Al-Isrā’ ayat 1:


سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ


Artinya:
"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."


Mi‘rāj secara bahasa berarti naik atau tangga untuk naik. Secara istilah, Mi‘rāj adalah naiknya Nabi Muhammad ﷺ ke langit, menembus tujuh lapis langit hingga sampai ke Sidratul Muntahā di kawasan pusat kerajaan Allah ‘Azza wa Jalla. Setiap lapisan langit dijaga oleh para malaikat, dan jarak antar-lapisan tersebut berada di luar jangkauan perhitungan manusia.


Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah Isrā’–Mi‘rāj terjadi dengan ruh saja atau dengan ruh dan jasad. Sebagian kecil ulama berpendapat bahwa peristiwa tersebut terjadi dengan ruh saja. Namun, jumhur ulama berpendapat bahwa Nabi Muhammad ﷺ diisrā’ dan dimi‘rājkan dengan ruh dan jasad sekaligus, dalam keadaan terjaga, bukan dalam mimpi.


Pendapat jumhur ini didasarkan pada firman Allah dalam Surah Al-Isrā’ ayat 1, khususnya pada dua kata kunci penting, yaitu سُبْحَانَ dan بِعَبْدِهِ. Kata سُبْحَانَ menunjukkan peristiwa yang sangat agung dan luar biasa. Jika peristiwa tersebut hanya berupa mimpi atau perjalanan ruh semata, maka tidaklah layak diawali dengan pengagungan sebesar itu.


Adapun kata بِعَبْدِهِ menunjukkan satu kesatuan antara ruh dan jasad. Dalam banyak ayat Al-Qur’an, kata ‘abd selalu merujuk pada manusia secara utuh, bukan ruh semata. Di antaranya:


أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ

Artinya:

“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika ia mengerjakan shalat?” (QS. Al-‘Alaq: 10)


Dan firman Allah Swt.:


وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا


Artinya:

“Dan sesungguhnya ketika hamba Allah berdiri menyembah-Nya, hampir saja mereka berdesak-desakan mengerumuninya.” (QS. Al-Jinn: 19)


Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa istilah ‘abd mencakup ruh dan jasad secara utuh. Oleh karena itu, pendapat jumhur ulama bahwa Isrā’–Mi‘rāj terjadi dengan ruh dan jasad adalah pendapat yang paling kuat dan didukung oleh dalil Al-Qur’an, hadis, serta kajian tafsir dan sirah.


Peristiwa Mi‘rāj dijelaskan dalam banyak hadis, baik yang sahih, hasan, maupun yang lemah. Hadis yang paling sahih diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik r.a. Rasulullah ﷺ bersabda:


أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ، وَهُوَ دَابَّةٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ...

(Hadis panjang)

Artinya:
"Aku didatangkan seekor Buraq, hewan yang lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal. Setiap langkahnya sejauh pandangan mata. Aku menungganginya hingga sampai ke Baitul Maqdis, lalu aku menambatkannya pada tempat para nabi biasa menambatkan kendaraan mereka. Kemudian aku masuk ke Masjid Baitul Maqdis dan melaksanakan shalat dua rakaat di dalamnya…"


Inti dari peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj adalah diturunkannya perintah shalat lima waktu. Pada awalnya, Allah Swt. mewajibkan shalat sebanyak lima puluh waktu dalam sehari semalam. Atas saran Nabi Musa a.s., Nabi Muhammad ﷺ berulang kali kembali menghadap Allah Swt. untuk meminta keringanan, hingga akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu.


Namun demikian, Allah Swt. memberikan jaminan bahwa shalat lima waktu tersebut tetap bernilai pahala lima puluh waktu. Hal ini karena setiap satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat.


Dengan demikian, peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj merupakan peristiwa akidah yang harus diyakini dengan keimanan yang teguh. Peristiwa ini terjadi dengan ruh dan jasad Nabi Muhammad ﷺ dalam keadaan terjaga, dan menjadi dasar diwajibkannya shalat lima waktu sebagai tiang agama Islam.

Semoga kajian ini bermanfaat dan menambah keteguhan iman kita.


Bārakallāhu fīkum.


Sumber Bacaan

  1. Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 3, hlm. 1.611 dan seterusnya.

  2. Tafsir Fathul Qadīr, Asy-Syaukani, Jilid 3, hlm. 285 dan seterusnya.

  3. Tafsir Kementerian Agama RI.

  4. Nūrul Yaqīn, Muhammad Hudari Bik, hlm. 69 dan seterusnya.

  5. Kapita Selekta Pengetahuan Agama Islam, Departemen Agama RI, dan sumber lainnya.



______

Penulis


Ust. Drs. Abu Bakar, Ketua MUI Kec. Pontang.



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com 

Friday, October 31, 2025

Dakwah | Bahaya Sihir, Perdukunan, dan Ramalan dalam Menjaga Keimanan

Ust. Drs. Abu Bakar



Dalam kehidupan seorang muslim, iman adalah fondasi paling berharga. Ia bukan sekadar pengakuan di lisan, tetapi cahaya yang hidup di hati dan diwujudkan dalam amal perbuatan. Karena itu, menjaga keimanan merupakan tugas seumur hidup yang menuntut kewaspadaan dan keteguhan.


Dalam ilmu tauhid dikenal istilah Nawaaqidlul Iimaan (نواقض الإيمان), yaitu hal-hal yang dapat membatalkan iman seseorang setelah ia memasukinya. Para ulama mendefinisikan istilah ini dengan kalimat:


مَا يُذْهِبُهُ بَعْدَ الدُّخُوْلِ فِيْهِ

Mā yudzhibuhu ba‘dad-dukhuuli fīhi

“Sesuatu yang dapat menghilangkan keimanan setelah seseorang memasukinya.”


Artinya, iman bisa hilang apabila seseorang terjerumus dalam perkara-perkara yang membatalkannya. Karena itu, seorang mukmin harus berhati-hati agar keyakinan dan keteguhan imannya tidak ternodai oleh hal-hal yang merusak, baik melalui pikiran, keyakinan, maupun perbuatan. Wal‘iyādzu billāh — semoga Allah melindungi kita dari kebinasaan iman.


Dalam pembahasan mengenai pembatal keimanan, para ulama menjelaskan beberapa hal besar yang termasuk di dalamnya, seperti mengingkari rububiyah Allah, sombong enggan beribadah, berbuat syirik, menentang ketetapan Allah, mendustakan Rasul, serta meyakini bahwa petunjuk Rasulullah ﷺ tidak sempurna. Termasuk pula: tidak mengkafirkan orang musyrik yang nyata kekafirannya, memperolok agama, membantu musuh Islam, berpaling dari ajaran Allah, serta membenci sesuatu yang dibawa Rasul meskipun masih mengamalkannya.


Namun, di antara semua itu, ada satu hal yang tak kalah berbahaya: sihir (السحر). Sihir merupakan dosa besar yang dapat menghapus keimanan, sebagaimana dijelaskan dalam Muqorror Tauhid karya Syaikh Shalih bin Fauzan. Sihir bukan sekadar tipu daya, tetapi bentuk kerja sama dengan setan dan penentangan terhadap kekuasaan Allah. Ia tidak hanya merusak akidah pelakunya, tetapi juga dapat menghancurkan kehidupan orang lain dan tatanan masyarakat.


Dalam praktiknya, sihir sering muncul dalam berbagai bentuk: ash-shorfu (mengubah keadaan seseorang), al-‘athfu (menimbulkan simpati atau cinta secara tidak wajar), dan ar-ridha (menimbulkan rasa senang secara batil). Semua bentuk tersebut merupakan tipu daya yang menyalahi fitrah dan mengandung unsur kekufuran.


Allah Ta‘ala berfirman:


وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَـٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ...


“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Padahal Sulaiman tidak kafir, hanya setan-setan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia…”

(QS. Al-Baqarah: 102)


Ayat ini turun untuk membantah tuduhan kaum Yahudi yang menuduh Nabi Sulaiman sebagai tukang sihir. Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa dua malaikat, Harut dan Marut, sebenarnya diutus untuk menguji manusia. Setiap kali seseorang datang untuk belajar sihir, keduanya memperingatkan: “Innamā naḥnu fitnah, falā takfur”: Sesungguhnya kami hanyalah cobaan bagimu, maka janganlah kamu kafir.”


Imam Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir menegaskan bahwa peringatan tersebut merupakan larangan keras agar manusia menjauhi sihir, sebab mempelajarinya termasuk perbuatan kufur. Dengan demikian, mempelajari atau mempraktikkan sihir, sekalipun dengan alasan “menguji” atau “membela diri”, tetap termasuk kekufuran karena berpaling dari tawakal kepada Allah dan menempuh jalan setan.


Dalam kelanjutan pembahasan para ulama, termasuk Muqorror Tauhid dan Syarah Kitabut Tauhid, dijelaskan pula bahwa bentuk kekufuran serupa juga terdapat dalam kahanah (perdukunan) dan ‘arafah (ramalan). Para dukun dan peramal sering kali menampilkan diri sebagai “orang pintar” atau “penyembuh spiritual”. Mereka meminta hewan sembelihan sebagai persembahan bukan karena Allah, melainkan untuk jin atau setan tertentu. Mereka juga menulis ṭalāsim syirkiyyah, azimat, rajah, atau jimat yang diyakini dapat memberi perlindungan, padahal itu semua adalah bentuk kesyirikan.


Sebagian lainnya mengaku mampu mengetahui perkara gaib — menunjukkan barang hilang, membaca pikiran, atau menebak nasib seseorang. Padahal mereka hanya mendapat sebagian kabar dari setan yang mencuri dengar berita langit, lalu mencampurnya dengan kebohongan. Bahkan ada yang menipu dengan menunjukkan atraksi ekstrem seperti kebal senjata atau tidak terbakar api, padahal itu hanyalah tipu daya setan yang disebut oleh para ulama sebagai umūrun takhayyuliyyatun — hal-hal khayalan yang menipu pandangan manusia, sebagaimana tukang sihir Fir‘aun memperdaya mata orang-orang dahulu.


Larangan terhadap sihir, perdukunan, dan ramalan ditegaskan dalam banyak dalil. Rasulullah ﷺ bersabda:


اِجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ

“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan.” 

Para sahabat bertanya, “Apakah itu wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “(Yaitu) mempersekutukan Allah dan melakukan sihir…”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis ini menunjukkan bahwa sihir sejajar dengan syirik, sebab keduanya sama-sama menghancurkan fondasi iman.


Allah juga berfirman dalam Surah Asy-Syu‘arā’ (221–223):


هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَن تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ ۝ تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ ۝ يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ


“Apakah akan Aku beritakan kepadamu kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta lagi banyak dosa. Mereka menyampaikan sebagian yang mereka dengar, padahal kebanyakan mereka adalah pendusta.”


Ayat ini menjelaskan bahwa setan hanya menurunkan bisikan kepada pendusta, yaitu para dukun dan tukang ramal yang mengaku mengetahui hal gaib.


Rasulullah ﷺ juga bersabda:


مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ


“Barang siapa mendatangi dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.”

(HR. Ahmad dan Al-Hakim, disahihkan menurut syarat Bukhari dan Muslim)


Hadis ini menjadi peringatan keras bahwa percaya kepada dukun berarti mengingkari Al-Qur’an dan Sunnah, sebab hanya Allah yang mengetahui perkara gaib. Keyakinan bahwa manusia bisa mengetahui hal gaib tanpa wahyu merupakan bentuk pengingkaran terhadap rububiyah Allah. Oleh karena itu, setiap muslim wajib menutup sekecil apa pun pintu menuju syirik — termasuk mendatangi, mempercayai, atau sekadar menguji tukang sihir dan peramal. Semua itu adalah jebakan setan yang dapat mengikis iman.


Sihir, perdukunan, dan ramalan adalah penyakit akidah yang harus diberantas. Ia tidak hanya menyesatkan pelakunya, tetapi juga merusak keyakinan masyarakat. Maka, memperdalam ilmu tauhid dan memperbarui iman menjadi benteng paling kokoh bagi seorang mukmin.


يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”


Semoga Allah menjaga iman kita dari segala hal yang membatalkannya, mengokohkan hati dalam ketaatan, dan menjauhkan kita dari godaan syirik, sihir, serta segala bentuk kekufuran.


Referensi:

1. Al-Qur’an dan Terjemahnya, Tim Depag RI, hal. 28.

2. Tafsir Ibnu Katsir, Jilid I, hal. 208 dst.

3. Tafsir Fathul Qadir, Jilid I, hal. 242.

4. Asbābun Nuzūl, KH. Qomaruddin Shaleh dkk., hal. 34–35, dan lain-lain.

5. Muqorror Tauhid, Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan, Jilid II, hal. 19.

6. Muqorror Tauhid, Jilid III, hal. 52.

7. Tauhidul ‘Ibadah, hal. 176 dst.

8. Syarah Kitabut Tauhid (Fathul Majid), hal. 293 dst.

9. Al-Jadid: Syarah Kitabut Tauhid, hal. 166 dst.


________

Penulis


Ust. Drs. Abu Bakar, Ketua MUI Kec. Pontang.



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com 

Friday, October 10, 2025

Dakwah | Tathoyyur: Ketika Kesialan Disandarkan pada Makhluk

Oleh Ust. Drs. Abu Bakar




Dalam kehidupan manusia, selalu ada momen di mana hati diliputi keraguan. Kadang, ketika hendak melakukan sesuatu, kita melihat tanda-tanda kecil yang dianggap membawa pertanda buruk: seekor burung melintas ke arah kiri, seseorang melontarkan kata tidak menyenangkan, atau sekadar angka yang tampak “tidak baik”. Dalam hati muncul rasa waswas: apakah ini pertanda sial? Di sinilah lahir keyakinan yang disebut tathoyyur (التَّطَيُّر) — suatu bentuk kepercayaan terhadap kesialan yang bersumber dari sesuatu selain Allah.

Akar Kata dan Makna Tathoyyur

Secara bahasa, tathoyyur berasal dari akar kata طَارَ - يَطِيرُ - طَيْرًا, yang berarti terbang. Kata ini lalu dibentuk dalam wazan تَفَعَّلَ, menjadi تَطَيَّرَ – يَتَطَيَّرُ – تَطَيُّرًا, yang berarti menganggap sial atau merasa celaka.

Makna ini lahir dari kebiasaan bangsa Arab kuno, yang gemar menafsirkan arah terbang burung sebagai tanda nasib. Bila burung itu terbang ke kanan, mereka menganggapnya keberuntungan. Jika ke kiri, mereka mengurungkan niat karena dianggap sial. Maka, “tathoyyur” berarti menyandarkan nasib kepada tanda-tanda selain Allah.

Para ulama tauhid, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Tahdzīb, menyebut tathoyyur sebagai anggapan sial terhadap sesuatu yang dilihat, didengar, atau dialami, yang disandarkan kepada makhluk, bukan kepada Sang Pencipta. Dalam pandangan ini, manusia telah menanggalkan keimanannya pada takdir. Ia mengganti ketundukan kepada Allah dengan keyakinan semu terhadap simbol-simbol dunia.

Tathoyyur dalam Kehidupan Manusia

Praktik tathoyyur ternyata tidak berhenti di zaman jahiliyah. Dalam bentuk yang berbeda, ia masih hidup di antara manusia modern.
Kita mengenal orang yang menolak bepergian di hari tertentu karena dianggap sial. Ada yang takut pada angka 13, hingga hotel-hotel besar di berbagai negara menghapus nomor itu dari daftar kamar mereka. Ada pula yang merasa perjalanan akan gagal hanya karena bertemu burung gagak, atau mendengar ucapan yang terdengar “tidak baik”.

Padahal, setiap bentuk keyakinan seperti itu bertentangan dengan tauhid. Rasulullah ﷺ menegaskan dalam sabdanya:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
At-thiyarah (tathoyyur), yakni anggapan sial yang disandarkan kepada makhluk, adalah syirik.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Syirik di sini tergolong syirik ashghar (syirik kecil) — namun tetap merupakan dosa besar, karena merusak kemurnian tauhid. Orang yang meyakini adanya “sial” pada makhluk sesungguhnya telah memberi peran ketuhanan pada sesuatu selain Allah.

Dalil-dalil yang Menolak Anggapan Kesialan

Al-Qur’an telah menjelaskan dengan tegas bahwa segala kebaikan dan keburukan datang hanya dari Allah. Dalam Surah Al-A‘rāf ayat 131 disebutkan:

أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِندَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

Ayat ini menjelaskan bahwa tak ada yang disebut “sial” kecuali apa yang telah Allah tetapkan. Bahkan, dalam Surah Yāsīn ayat 19, Allah menegur kaum yang menolak dakwah para rasul karena menganggapnya membawa kesialan:

قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ...
“Kemalangan kalian itu karena kalian sendiri.”

Kesialan tidak datang dari luar diri, tetapi dari kedurhakaan dan sikap berpaling dari kebenaran.

Antara Kesialan dan Pertanda Baik

Menariknya, Rasulullah ﷺ melarang tathoyyur, tetapi beliau justru menganjurkan al-fa’l (الفأل), yaitu mencari pertanda baik. Dalam sebuah hadis beliau bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الْحَسَنُ
Para sahabat bertanya: “Apakah al-fa’l itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab:
الْكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ
“Kata-kata baik yang didengar oleh salah seorang di antara kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perbedaan antara tathoyyur dan al-fa’l sangat halus, namun mendasar. Tathoyyur lahir dari pesimisme yang menghapus harapan kepada Allah, sementara al-fa’l tumbuh dari optimisme yang memperkuat keyakinan pada kasih sayang-Nya. Maka seorang mukmin tidak seharusnya takut pada simbol-simbol sial, tetapi justru mencari semangat dari kalimat dan peristiwa yang mengingatkannya kepada kebaikan.

Doa Penolak Kesialan dan Pelebur Syirik

Islam tidak hanya melarang tathoyyur, tetapi juga mengajarkan doa untuk menjaga hati agar tidak terjerumus padanya. Ketika melihat atau mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan, Rasulullah ﷺ mengajarkan doa berikut:

اَللّٰهُمَّ لَا يَأْتِي بِالْحَسَنَاتِ إِلَّا أَنْتَ، وَلَا يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إِلَّا أَنْتَ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِكَ

“Ya Allah, tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, tidak ada yang dapat menolak keburukan kecuali Engkau, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu.” (HR. Abu Dawud)

Dan untuk melebur dosa syirik tathoyyur, Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang ringkas namun penuh makna:

اَللّٰهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ، وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ، وَلَا إِلٰهَ غَيْرُكَ

“Ya Allah, tidak ada kebaikan selain kebaikan dari-Mu, tidak ada kesialan selain (sesuai dengan takdir)-Mu, dan tidak ada Tuhan selain Engkau.” (HR. Ahmad)

Tathoyyur bukan sekadar kesalahan kecil dalam keyakinan, tetapi bentuk halus dari kemusyrikan yang menodai tauhid. Ia muncul ketika manusia lupa bahwa seluruh takdir—baik maupun buruk—bersumber dari Allah.
Kita diajarkan bukan untuk menolak tanda-tanda di sekitar kita, melainkan menempatkannya sebagai pengingat, bukan penentu.

Maka, ketika langkah kita diiringi oleh ketakutan terhadap angka, hari, atau burung yang melintas, ingatlah bahwa semua itu hanyalah makhluk. Kesialan dan keberuntungan hanyalah milik Allah. Dan hati yang bertawakal kepada-Nya tidak akan pernah gentar pada apa pun selain Dia.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Semoga Allah menjaga tauhid kita dari noda-noda kecil kesyirikan, dan menuntun hati untuk selalu husnuzan kepada takdir-Nya.


Sumber Bacaan:

1. Kitab Tahdzīb – ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Azīz al-Jabārīn, hlm. 158–160.

2. Syarah Kitab Tauhid: Fatḥul Majīd, hlm. 311–323.

3. ‘Aqīdah al-Mu’min – Abu Bakar al-Jazairī, dan lain-lain.


________

Penulis


Ust. Drs. Abu Bakar, Ketua MUI Kec. Pontang.



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com