Showing posts with label Karya Siswa. Show all posts
Showing posts with label Karya Siswa. Show all posts

Monday, July 6, 2026

Karya Siswa | Cerpen Nayla Alhusna | Antara Cinta dan Menunggu

Cerpen Nayla Alhusna



Nayla Alhusna selalu percaya bahwa hidupnya sudah cukup sibuk tanpa perlu memikirkan urusan cinta. Sebagai ketua OSIS, juara olimpiade sains, langganan juara penelitian, pembawa acara dengan suara yang mampu membuat orang-orang terpesona dan murid yang hampir tidak pernah mendapat nilai jelek.


Waktu Nayla biasanya habis untuk rapat, belajar, dan kegiatan sekolah. Bahkan Keysha, sahabatnya sejak kelas sepuluh, sering mengatakan kalau Nayla kemungkinan besar akan menikah dengan buku pelajaran.


"Kalau suatu hari lo pacaran, gue traktir satu kantin." Keysha mengucapkan kalimat tersebut sembari memainkan alisnya. Matanya terlihat menantang Nayla. "Itu ga bakal kejadian." Nayla menghembuskan nafas dengan pelan. Nayla menutup matanya karena merasa ngantuk. 


Keysha memutarkan bola matanya, "Kenapa?" Pertanyaan singkat yang Nayla rasa tak harus ia jawab. "Hey, ketos, gua bertanya loh, jawab dong!" Keysha mengguncangkan bahu Nayla. Nayla membuka matanya, "Gue males." 


"Atau ga ada yang berani?" Keysha tertawa terbahak-bahak setelah mengatakan kalimat yang terdengar sangat jahil. Nafas Nayla memburu. Sekarang, ia terlihat ingin melahap Keysha dengan ganas, "Pergi sana." Keysha pergi dengan tawa yang sangat menggema. Nayla hanya terdiam melihat punggung Keysha. Saat itu Nayla benar-benar yakin bahwa Keysha salah.


Sampai suatu siang, ketika ia berdiri di depan wastafel dekat aula sekolah sambil mencuci stroberi yang dibawanya dari rumah. Jam istirahat pertama baru saja dimulai. Tempat itu cukup sepi. Nayla mematikan keran lalu berbalik badan.Dan hampir menabrak seseorang. 


Jarak mereka begitu dekat hingga Nayla refleks mundur satu langkah. "Oh, maaf." Suara itu membuat Nayla mendongak. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, otak Nayla seperti mengalami error.


Nama yang terletak pada name tag baju seragamnya adalah Panorama Jingga. Satu kata dalam pikiran Nayla, unik. 


Ia langsung ingat tentang rumor atas nama Panorama Jingga. Yang ia ketahui bahwa Panorama Jingga adalah anak basket, anggota paskibra, vokalis band sekolah. Dan pemilik wajah yang terlalu sempurna untuk ukuran manusia biasa. Nala baru pertama kali melihat wajah Panorama secara langsung. Panorama terlihat sedikit bersalah. "Maaf, gua kira wastafelnya kosong." Nayla terdiam sebentar. 


"Oh... engga kok." Tangan Nayla terlihat memegang stroberi dengan erat. Kentara sekali, bahwa ia terlihat sangat gugup. Bagus, sangat bagus. Ketua OSIS kebanggaan sekolah. Pembawa acara handal yang jago improvisasi. Pengisi siaran podcast peserta didik berprestasi, baru saja menjawab seperti NPC. Panorama tersenyum kecil. Ia menunduk sedikit, "Gapapa kan?"


"Iya." Nayla mengalihkan pandangan ke arah lain. "Oke. Maaf ya." Lalu ia pergi begitu saja. Sementara Nayla masih berdiri mematung. Ia terdiam cukup lama. 


"NAYLAAA!" Suara Keysha membuat Nayla tersadar. "Kenapa lo?" Nayla menunjuk ke arah Panorama yang berjalan menjauh. "Itu." Kening Keysha mengernyit keheranan, "Panorama?"


"Iya." Nayla mengangguk pelan. "Kenapa dengan dia? " Keysha terlihat bingung. Sangat bingung. Nayla diam beberapa detik, "Ganteng." Satu kata. Singkat, tapi mampu membuat Keysha terdiam. Mencerna ucapan Nayla. Si Ketos cantik, berprestasi, tidak ada riwayat dekat dengan lelaki manapun. Hari ini sedang memuji seorang lelaki. 


"HAH??" Keysha langsung tertawa sampai hampir jatuh. Hari itu seharusnya menjadi akhir dari cerita. Sayangnya, justru menjadi awal.


Seminggu kemudian sekolah sedang sibuk mempersiapkan pentas seni tahunan. Sebagai ketua OSIS, Nayla jadi orang yang sangat sibuk dan bertugas mengawasi daftar ulang seluruh peserta. Satu per satu siswa datang ke mejanya. Sampai seseorang berhenti tepat di depan kursinya.


"Permisi." Suara itu... Jantung Nayla langsung salah tingkah. Ia kenal. Itu suara Panorama. Datang dengan map berisi formulir peserta. "Oh..." Nayla hanya mengucapkan sepatah kata dengan wajah tersipu malu. 


Panorama terlihat menahan senyum. "Oh doang?" Nayla langsung ingin menghilang. Menghela nafas perlahan. "Maksudnya... silakan."


Panorama menyerahkan formulir. Saat tangan mereka hampir bersentuhan, Nayla refleks menarik tangannya. Panorama mengangkat alis. "Gue nyetrum?"


"Hah?" Nayla memutar otak. Maksud si ganteng ini, apa ya gitu kan. "Refleks banget." Panorama menyilangkan tangan di dada. "Engga kok." Mata sinis nan indah itu, langsung menjawab dengan nada ketus. 


"Syukur." Panorama terlihat acuh tak acuh, namun terdapat senyum tipis di wajahnya. Lalu lagi-lagi senyum itu muncul. Dan ya, lagi-lagi Nayla lupa cara bernapas.


Malam pentas seni akhirnya tiba. Aula sekolah penuh sesak. Sebagian besar murid perempuan tampaknya datang bukan karena acara sekolah, melainkan karena Panorama Jingga.


Saat band Panorama naik ke panggung, teriakan langsung memenuhi ruangan. "PANORAMAAAA!" Teriakkan seorang gadis berambut pendek mampu membuat telinga sakit. 


"I LOVE YOU!" Nah, lagi-lagi ada perempuan berambut panjang, yang teriak disamping Nayla. Tak ayal, ia menutup telinganya. 


"NIKAH SAMA AKU YA!" Nayla langsung menoleh kearah suara dan mengucap sebuah kalimat dalam hatinya, "Aih, nih cewe mimpi banget." Keysha langsung menoleh ke arah Nayla. "Saingan lo banyak."


"Diam." Nayla menyilangkan kedua tangannya di dada, terlihat sinis kepada sang sahabat. Keysha terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepala. 


Band mereka mulai bermain. Lampu panggung menyorot Panorama yang berdiri di tengah sambil memegang gitar. Suara penonton perlahan mereda. Lagu pertama selesai. Lagu kedua dimulai.


Lagu yang belum pernah didengar Nayla sebelumnya. "Kalau mata bisa bicara, mungkin hati sudah ketahuan..." Suara Panorama memenuhi aula. "Dari ramai dunia, aku cuma mencari satu tujuan..." Awalnya Nayla hanya menikmati lagu. Sampai ia sadar. Panorama sedang melihat ke arahnya. Bukan sekali, bukan juga hanya dua kali. Melainkan hampir sepanjang bagian lagu itu. Jantung Nayla langsung kacau. Ia buru-buru membuang muka.


"Keysha." Nayla memanggil sahabatnya dengan histeris. "Hm?" Keysha tetap fokus menonton penampilan keren dari band kebanggaan sekolah itu. "Gue mau pulang." Nayla mencolek lengan baju Keysha. 


Keysha memutarkan kedua bola matanya, "Heh, inget ya, lo itu ketua OSIS nya, ketua penyelenggara, lagian belum selesai Nay." Keysha terlihat kesal. "Gue malu." Nala menutup wajahnya dengan gusar. "Kenapa?" Keysha menatap Nayla dengan aneh. 


"Dia liatin gue." Nayla menunjuk kearah panggung. Keysha juga langsung menoleh ke panggung. Lalu menoleh lagi ke Nayla. Lalu menoleh lagi ke panggung. "Nay."


"Apa." Nayla menaikkan wajahnya yang semula tertunduk. "Kayaknya bener deh." Keysha mengucapkan kalimat dengan ambigu. "HAH? MAKSUD LO?" Nayla kebingungan, tak mengerti maksud Keysha. Keysha terlihat tak tertarik untuk menjelaskan. 


Sejak malam itu, sesuatu mulai berubah. Bukan hanya pada Nayla. Tapi juga pada Panorama. Karena tanpa sadar, mereka mulai saling mencari.


Awalnya lewat tatapan. Lalu lewat senyuman. Lalu lewat hal-hal kecil yang tidak pernah mereka akui. Sampai akhirnya rasa penasaran mengalahkan gengsi.


Suatu siang Nayla menghampiri Andika, sahabat Panorama. "Dik." Nayla duduk disamping kursi yang sedang diduduki oleh Andika. Tak ada pemiliknya. Tak masalah kan, kalau ia langsung duduk begitu saja. "Hm?" Andika menjawab sambil membaca buku. "Panorama punya pacar ga?"


Berjingkat kaget. Buku yang sedang dibaca, langsung ditutup. Andika tersenyum seperti menemukan gosip nasional. "Nanya buat siapa?" Alisnya di naik turunkan. Sangat menyebalkan di mata Nayla. "Penelitian."


Andika tak mampu menahan tawanya yang meledak, "Lo kira gue orang bodoh?" Andika terkekeh pelan. 


"Nanya doang." Nayla mengalihkan pandangan. Mukanya merah. Seperti tomat. "Gapunya." Andika menaruh bukunya di meja. Tangannya dilipat di atas meja. Jantung Nayla langsung sedikit lega. Namun Andika melanjutkan.


"Tapi katanya masih gagal move on sama mantannya." Bagaikan serangan petir disiang bolong. Perasaan Nayla langsung jatuh.


Di rumah. Setelah kejadian itu. Nayla terdiam. Ia menatap langit-langit kamar. Disela-sela telepon video dengan sang sahabat. Nayla memecah keheningan. "Key."


"Apa?" Keysha membalas panggilan Nayla dengan nada malas. "Gue mau nyerah." Nayla menghembuskan napas. "Kenapa?" Terlihat di sana, Keysha sangat bingung. Alisnya bertaut. 


"Dia masih gagal move on sama mantannya." Keysha menghela napas panjang. "Nay, Panorama yang bilang?"


"Engga." Nayla menggeleng dibalik ponselnya. "Terus?" Keysha menaikan sebelah alisnya. 


"Katanya." Nayla meringis pelan. "KATA SIAPA?" Nada bicara Keysha terlihat geram. "Andika, sahabatnya Panorama." Nayla langsung diam. "Ya Allah." Keysha pun ikut terdiam. 


Ucapan Andika terus menghantui pikirannya. Sejak saat itu, Nayla mulai menjaga jarak. Mulai menghindar. Mulai pura-pura tidak peduli. Sampai suatu malam ia iseng melihat Notes Instagram. Satu persatu. Mulai dari teman kelas, teman organisasi, teman lomba, dan dia. 


Lagu "Dari Mata".


Jantung Nayla langsung berdetak lebih cepat. Tiba-tiba salah tingkah, mendengar liriknya. "Dari mata, buatku jatuh, jatuh terus, jatuh ke hati." Sekelebat ide cemerlang muncul dalam pikirannya. 


Ting! 


Ia memasang Notes instagram, dengan lagu "Mata ke Hati". Tersenyum bak orang kesurupan. Tidak tahu kenapa ia bisa seperti ini. Sebenernya, ia sengaja memilih lagu itu. Karena lagu itu seolah-olah membalas Notes instagram Panorama. Ya, meskipun ia yakin, bahwa tidak mungkin Panorama akan sadar, bahwa Notes instagram itu Nayla khususkan untuk dirinya. 


Setelah menggunakan perawatan kecantikan. Nayla bersiap untuk tidur. Bahkan tubuhnya sudah menempel dengan kasur. Saat menaruh handphone di samping tubuhnya. 


Ting! 


Muncul notifikasi. Awalnya tak ingin ia gubris. Namun, kenapa tiba-tiba ada hasrat untuk membuka notifikasi tersebut. Tubuhnya terjungkal. Ia bangun dari posisi tidurnya. Duduk tegap. Menatap layar dan tak bergeming. Bola matanya membesar. Pikirannya penuh tanya. 


"HAH? DEMI APA, HAH?" Nayla mengusap kepalanya, mencubit hidung mancungnya. "Sumpah, ini yang DM gua, Panorama?" Nayla menggulirkan layar ponselnya. Berkali-kali ia memencet profil akun instagram Panorama. "Ah, tapi bener kok, ini akunnya Panorama. Masa dia salah kirim pesan sih?" Nayla membaca pesan yang dikirim oleh Panorama. 


"Kok, sorotannya sekilas mirip ya. Apa kebetulan doang?" Itulah isi pesan yang mampu membuat Nayla menjerit-jerit tak karuan. Melompat-lompat di lantai. Memeluk boneka yang ada di sekitarnya. Lalu, berkaca dan menampar pipinya sendiri. 


"Oh, no! Ini beneran kah cuy?" Nayla tersenyum penuh dengan mata berbinar. Kembali duduk di kasur. Dan membalas pesan dari Panorama. 


"Eh, iya, kayak saling bales gitu ya? Hehe." Setidaknya, begitulah pesan yang dikirim oleh Nayla. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Masih tetap tak ada balasan. "Ah, kayaknya Panorama udah tidur deh. Aduh, aku malu banget." Tak hentinya ia tersenyum. Setelah berpikir bahwa pesannya mungkin akan dibalas besok hari. Nayla bersiap-siap untuk tidur lagi. Matanya sudah ingin tertutup. 


Ting! 


Ia tidak ragu untuk kembali membuka matanya. Dan ya, ternyata Panorama membalas pesannya. Akhirnya, malam itu, pukul sepuluh lewat, mereka melanjutkan obrolan sampai pukul satu dini hari. 


Keesokan harinya. Ia menceritakan  semua kejadian tersebut kepada Keysha. Keysha terlihat tidak percaya, namun setelah melihat chatnya sekilas, ia jadi senyum-senyum sendiri. 


Sejak saat itu perang Notes berlangsung hampir setiap malam. Mereka mulai mengobrol setiap hari. Tentang sekolah, basket, lomba, musik, dan hal-hal receh yang tidak penting. Namun selalu mereka tunggu, sebuah rahasia hati yang tak pernah terungkapkan. 


Sampai suatu malam. Panorama mengirim pesan. "Gue dulu takut sama lo." Nayla tertawa dibalik ponselnya. Lalu mengetikkan sesuatu, "Kenapa?"


"Lo terlalu sempurna." Jawaban Panorama membuat Nayla menautkan alisnya. "Apaan sih." Dengan cepat ia mengirimkan pesan itu kepada Panorama. "Serius." Jawaban singkat yang mampu membuat Nayla keheranan. 


"Terus sekarang?" Lama sekali Panorama mengetik balasan dari Nayla. Sangat lama. Sampai akhirnya muncul balasan. "Sekarang gue suka." Nayla menatap layar selama hampir satu menit. Lalu tersenyum sendiri seperti orang gila. Kemudian, Nayla membalas pesan Panorama dengan sebuah ungkapan juga. 


Dua bulan kemudian. Tepat setelah Nayla purna ketua OSIS, mereka resmi bersama. Dan seluruh sekolah heboh. Story Instagram penuh ucapan duka.


"Turut berduka cita untuk seluruh penggemar Panorama." Perempuan dengan baju motif bunga di profilnya, membuat cerita instagram seperti itu. 


"Aku kalah sama Ketua OSIS." Seorang perempuan dengan baju putih abu-abu, tampak sedang menatap jendela, memposting cerita seperti itu juga. 


"Gapapa, kalahnya sama Nayla." Sebuah komentar singkat dalam postingan perempuan dengan baju putih abu-abu tersebut, membuat Nayla tersenyum. Bukan sombong. Tapi heran saja. 


Bahkan Andika membuat postingan, dengan caption, "Panorama resmi tidak tersedia." Nayla yang melihatnya, tersenyum singkat. Hatinya terasa bahagia. Tak lama, ia membalas pesan dari Panorama. 


Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Suatu malam, Mama Nayla melihat notifikasi. Nama kontak yang tertera adalah kata "Panorama Sayangku" dengan emoji cinta berwarna putih. 


Malam itu juga Nayla dipanggil ke ruang tamu. "Nayla." Mamanya terlihat mengintimidasi Nayla. Nada bicaranya dingin. "Iya Ma." Nayla hanya menunduk saja. 


"Siapa Panorama?" Nayla langsung diam seribu bahasa. Mama menatapnya serius. "Pacar kamu?"


Air mata Nayla mulai menggenang. Tak mampu mengucapkan sepatah katapun. "Mama ga izinin." Mamanya menyilangkan tangan di depan dada. 


"Tapi Ma..." Nayla menatap mamanya penuh harap. "Kamu masih sekolah." Mamanya melihat Nayla dengan tatapan sinis. Pisau pun sepertinya kalah tajam dengan tatapan Mamanya. 


"Nayla tetap belajar." Nayla berusaha membela dirinya. "Mama tau."


"Terus kenapa?" Nayla menghela napas pelan. Menunggu jawaban Mamanya dengan perasaan cemas. Kedua tangannya ia kepal di depan badan. "Mama ga mau fokus kamu pecah." Nayla mulai menangis.


Namun Mama tetap tegas. "Kalau kamu masih lanjut hubungan ini..." Suara Mama terdengar berat. "Mama cabut semua fasilitas dan kegiatan kamu." Nayla membeku.


"Ponsel, les, kegiatan OSIS, lomba-lomba, dan kalau perlu Mama pindahkan sekolah kamu." Nayla terdiam membeku. Tak lagi mampu untuk membantah. Malam itu Nayla menangis sampai tertidur.


Keesokan harinya ia menemui Panorama di tribun basket. Panorama langsung tahu ada sesuatu yang salah. "Sayang."


Nayla tidak sanggup menjawab. "Sayang, kamu kenapa?" Nayla menghela napas. "Mama tau." Panorama langsung diam. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka dekat, tidak ada candaan. Tidak ada senyum. Hanya kesunyian. "Mama ga bolehin kita pacaran." Suara Nayla bergetar. Matanya menahan tangis. 


"Aku ga mau bikin Mama kecewa." Panorama menunduk. Lama. Sangat lama. Lalu mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil. Senyum yang justru membuat Nayla semakin ingin menangis. "Gapapa." Panorama mengangguk sedikit untuk meyakinkan Nayla. 


"Sayang..." Nayla menatap inti bola mata Panorama. "Gapapa." Mata Panorama mulai memerah. "Kalau sekarang bukan waktunya" Ia menarik napas panjang. "Ya kita ga bisa maksa." Dan hari itu, mereka berpisah. Bukan karena tidak saling cinta. Bukan karena ada orang lain. Melainkan karena keadaan. Beberapa bulan berikutnya mereka kembali menjadi asing.


Masih satu sekolah. Masih satu koridor. Masih satu kantin. Namun tidak lagi saling menyapa. Kadang mata mereka bertemu. Lalu sama-sama membuang muka.


Sampai hari kelulusan tiba. Di tengah keramaian dan suara tawa teman-teman mereka, Panorama menghampiri Nayla untuk terakhir kalinya. "Semoga lo keterima di kampus impian lo." Nayla tersenyum kecil.


"Semoga band lo sukses." Panorama mengangguk. Lalu berbalik pergi. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti. Dan berkata pelan tanpa menoleh. "Kalau nanti kita ketemu lagi..." Nayla terdiam. "Semoga waktunya lebih baik."


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nayla kembali menangis. Karena ada orang yang tepat. Hanya saja datang di waktu yang belum tepat. Dan mungkin, di suatu tempat, pada suatu waktu yang belum mereka ketahui. Mereka akan kembali, utuh, tanpa berpisah. 


Nayla menatap punggung Panorama yang hilang tertutup oleh tembok sekolah. Nayla tersenyum, "Tunggu aku hadir kembali dalam hidupmu." Nayla berlari menuju gerbang sekolah.


_______


Penulis


Nayla Alhusna adalah siswi berusia 15 tahun yang lahir di Pandeglang pada 22 Juni 2011. Ia memiliki kegemaran membaca buku, menulis, dan menari. Di sela aktivitasnya, Nayla menikmati lagu You're Still the One dari Shania Twain, menyukai warna merah muda, hitam, dan krem, serta menggemari dimsum, pancake, dan susu.

Di bidang akademik dan organisasi, Nayla telah menorehkan berbagai prestasi. Ia berhasil meraih Juara 1 OPSI IPS pada tahun 2024 dan 2025, Juara 2 Vlogger English Festival, serta menjadi Juara 1 seangkatan. Jiwa kepemimpinannya terlihat dari amanah sebagai Sekretaris OSIS SMPN 10 Kota Serang pada masa bakti 2024 dan Ketua OSIS pada masa bakti 2025. Kiprahnya juga mendapat apresiasi sebagai Siswi Inspiratif dalam Podcast Rumah Inspiratif. Dengan semangat untuk terus berkembang, Nayla memegang prinsip hidup, “Dream big, stay humble, and keep shining.”


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Monday, June 1, 2026

Karya Siswa | Langkah Haru di Bulan Juni | Cerpen Resti

Cerpen Resti


Segalanya bermula dari seorang gadis belia yang tumbuh di antara reruntuhan harapan. Dunia menempanya terlalu dini; memaksanya menelan getir sebelum sempat mengecap manis kehidupan. Namanya Chyla, seorang remaja yang terbiasa berjalan di atas pecahan luka demi mempertahankan kehormatan keluarganya yang kerap dijadikan permainan oleh manusia-manusia berhati jelaga.


Mereka adalah para perapal dusta yang gemar menjadikan keluarganya boneka tanpa nyawa. Seenaknya menusukkan hinaan tanpa pernah peduli seberapa dalam robekan yang tertinggal. Tatapan merendahkan telah menjadi santapan hariannya. Lebih menyakitkan lagi ketika racun itu justru menetes dari bibir orang-orang yang memiliki darah serupa dengannya.


Pada suatu pagi yang pucat, Chyla terjaga oleh seberkas cahaya yang menyelinap melalui celah jendela reyot kamarnya. Cahaya itu jatuh tepat di wajahnya, seolah langit sedang mengirimkan jawaban atas doa-doa panjang yang selama ini ia sematkan di setiap sujud malam.


Dalam diam, Chyla bertanya kepada semesta, mungkinkah Tuhan baru saja mengirim seorang malaikat untuk menuntunnya keluar dari lorong kelam ini? Namun, pikirannya tak sempat lama mengembara. Ada satu hal yang terus memburu dadanya: membawa keluarganya pergi sejauh mungkin dari para penyihir kehidupan yang menjadikan kemiskinan sebagai bahan tertawaan. Mimpinya melesat jauh ke angkasa.


Bertengger di sisi gugusan bintang yang tak pernah letih menjaga malam. Akan tetapi, Chyla tidak ingin menjadi bintang. Ia ingin menjadi bulan, tetap bercahaya meski dikelilingi gelap paling pekat. Sebab baginya, bulan tidak pernah meminta langit untuk berhenti malam demi tetap bersinar.


Dan siapa yang mampu meredupkan bulan? Bahkan bintang-bintang pun tak pernah benar-benar mampu mengalahkan cahayanya.


“Itulah aku nanti,” bisiknya lirih pada pantulan cermin tua yang mulai keropos dimakan usia.


Baginya, rumah tetaplah tempat paling teduh di muka bumi selama ibunya masih berada di dalamnya. Tidak penting seberapa rapuh dindingnya atau seberapa hina mata manusia memandangnya. Sebab, di tempat itulah mimpinya tumbuh, mengepakkan sayap di atas lembaran-lembaran kertas lusuh yang selalu ia tulisi dengan harapan.


Malam menjadi waktu paling kejam bagi pikirannya. Di saat dunia terlelap, ribuan pertanyaan datang mengetuk kepalanya tanpa ampun. Tentang masa depan. Tentang ibunya. Tentang dirinya sendiri yang merasa hanya akan menjadi batu tambahan di pundak perempuan paling berjasa dalam hidupnya itu.


Ibunya tidak pernah menganggapnya beban. Namun, Chyla pada masa itu memandang dirinya berbeda. Ia merasa keberadaannya hanyalah penghabis tenaga dan air mata. Sampai akhirnya hujan di bulan Juni membawa langkahnya pergi. Bukan untuk menjadi buruh nasib, melainkan kembali menjadi seorang pelajar, seorang gadis penuh ambisi yang memikul mimpi setinggi langit, meski diam-diam masih takut pada gelap yang mungkin menelannya kapan saja.


Malam keberangkatan itu terasa dingin hingga menusuk tulang. Angin menampar lembut wajahnya yang sedari tadi diam memandangi jalanan dari balik kaca mobil yang terbuka sedikit. Perlahan, kota kelahirannya tertinggal di belakang. Pedih sekali rasanya. Hatinya ingin menetap, tetapi takdir justru menarik langkahnya pergi jauh meninggalkan rumah. Dan manusia mana yang rela berpisah dari orang yang paling dicintainya?


Kenangan di sepanjang jalan berputar di kepalanya seperti lagu lama yang enggan berhenti diputar semesta. Ia yakin, ibunya pun sama hancurnya. Begitulah hidup bekerja, ketika kecil manusia sibuk ingin segera dewasa, tetapi setelah dewasa justru masa kecil menjadi tempat pulang yang paling dirindukan.


Chyla menatap wajah lelah ibunya dalam remang cahaya kendaraan. Di sanalah alasannya berada. Tak ada paksaan. Semua ini adalah pilihannya sendiri. Biarlah orang-orang menertawakan langkahnya. Sebab, jika suatu hari ia berhasil, tak satu pun dari mereka akan ikut menikmati hasil perjuangannya. Kalimat ibunya selalu tinggal di kepalanya:


“Biarkan manusia berbicara sesuka hati. Selama kita tidak merugikan siapa pun, hidup akan tetap berjalan.”


Tepat pukul 20.49, kendaraan itu berhenti di hadapan sebuah gerbang besar berwarna keemasan. Orang-orang menyebutnya gerbang kematian. Megah. Sunyi. Menegangkan. Chyla menelan ludah saat memasuki bangunan bertingkat itu. Di dalamnya, ia hanya melihat wajah-wajah asing yang sibuk tenggelam dalam layar gawai masing-masing. Katanya, mereka adalah calon pembimbing dan guru bagi para penghuni baru tempat itu.


Salah seorang lelaki menghampiri mereka. Usianya mungkin sekitar dua puluh lima tahun. Pembawaannya teduh seperti langit selepas hujan. Sorot matanya hangat dan tutur katanya begitu santun hingga berhasil menenangkan hati ibunya.


“Selamat beristirahat, Bu. Jika belum mengantuk, boleh bergabung menonton di lantai bawah.”


Chyla nyaris tidak mampu mencerna percakapan itu. Pikirannya telah melayang jauh membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa ibu di sisinya. Dan benar saja. Hari-hari pertama terasa seperti neraka kecil yang dipenuhi sesak dan air mata.


Tangisan menjadi pemandangan biasa di tempat itu. Ada yang menangis diam-diam saat malam, ada yang meraung meminta pulang ketika pagi, bahkan ada yang memilih keluar masuk ruang kesehatan karena tak sanggup menanggung rindunya sendiri.


Namun, Chyla tidak pernah benar-benar berpikir untuk menyerah. Menurutnya, hanya orang paling bodoh yang menyia-nyiakan kesempatan berharga seperti ini. Meski begitu, ia tetaplah gadis seusianya, rapuh dan belum pandai mengendalikan badai di dalam kepala. Ia kerap merasa dirinya hanyalah seekor berudu kecil di tengah katak-katak yang telah pandai melompat jauh.


Saat apel pagi berlangsung, matanya sering diam-diam menatap bulan yang perlahan tenggelam bersama datangnya fajar. Bukan karena ia mengagumi bulan, melainkan karena ia sedang berjuang menahan air mata agar tidak jatuh ke bumi. Ia takut kesedihannya membuat rerumputan ikut layu.


Orang-orang mengenalnya sebagai gadis ceria. Padahal, keceriaan itu bukan sesuatu yang sengaja ia ciptakan. Itu hanyalah topeng agar tak seorang pun tahu betapa kacau isi kepalanya. Ia mencoba keluar dari cangkang, membuka diri pada banyak manusia. Namun, justru di situlah petaka kecil datang menghampirinya.


Seseorang yang ia anggap tempat pulang ternyata hanya singgah untuk mengetahui titik lemahnya. Pengakuan yang seharusnya tak pernah terucap justru menjadi jarak di antara mereka. Dan sejak hari itu, perempuan yang dulu ia kagumi perlahan berubah menjadi sosok asing yang menakutkan.


Barangkali beginilah cara Tuhan membuka mata manusia. Ia tidak pernah datang sambil berkata bahwa seseorang itu buruk. Ia hanya memperlihatkan wajah aslinya sedikit demi sedikit sampai akhirnya kenyataan sendiri yang berbicara.


Waktu berjalan. Asrama tetap sama, dindingnya, lorongnya, aroma pagi, dan dinginnya malam. Yang berubah hanyalah cara pandang Chyla terhadap hidup.


Kini ia mulai berdamai dengan takdir. Pada tempat yang dulu terasa seperti penjara, perlahan ia menemukan dirinya sendiri. Harapan yang sempat mati kini tumbuh kembali seperti bunga liar setelah hujan panjang.


Dan akhirnya Chyla mengerti, barangkali musuh paling menakutkan selama ini bukanlah manusia lain. Melainkan pikiran-pikiran gelap yang terus memburunya di tengah sunyi.


______

Penulis

Resti, siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 34 Lebak, Banten.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Karya Siswa | Perpisahan | Cerpen Kayla Herbiyani

Cerpen Kayla Herbiyani



“Vin, kamu serius mau meninggalkan kota ini?” tanya Naraya.


Naraya adalah sahabat dekat Vino. Mereka bersahabat sejak kecil. Nama lengkap Naraya adalah Naraya Alaska Baskara, sedangkan Vino bernama Narendra Vino Alex Saputra.


“Iya, Nay. Aku harus ikut ayah dan ibuku,” kata Vino.


“Berapa lama, Vin? Kamu akan ke sini lagi, kan? Aku akan jadi sahabatmu selamanya, kan, Vin?” rentetan pertanyaan keluar dari mulut Naraya.


“Enggak tahu, Nay. Ayah sama ibu enggak ngasih tahu aku. Iya, Nay, kamu akan jadi sahabatku selamanya,” ucap Vino sambil menatap Naraya yang sedang menangis.


Lalu Vino berdiri dan berkata, “Aku harus pergi sekarang, Nay. Jaga kesehatan kamu, ya. Tunggu aku pulang ke sini lagi.”


Naraya hanya menundukkan kepalanya.


***

Pukul 00.00 menunjukkan pergantian tahun telah dimulai. Ketika orang lain sedang merayakan malam tahun baru dengan cara membakar makanan dan berkumpul bersama keluarga, berbeda dengan Naraya. Ia sedang menangis di kamarnya karena merindukan sahabatnya, Vino.


“Vin, kamu kapan ke sini lagi? Aku kangen sama kamu, Vin,” kata Naraya.


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Suara itu mengagetkan Naraya yang sedang melamun.


“Tuk... tuk... tuk...”


Naraya pun beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju pintu kamarnya. Lalu ia membuka pintu dan terkejut saat melihat seorang lelaki tinggi dan tampan. Bukan ayahnya, bukan adiknya, melainkan sosok yang sangat ia kenali, yaitu Narendra Vino Alex Saputra, sahabat dekatnya.


“Vino!” teriak Naraya sambil berlari ke arahnya. “Aku kangen banget sama kamu, Vin!”


“Iya, Nay. Aku juga kangen banget sama kamu,” ucap Vino sambil memeluk Naraya.


Setelah itu, mereka berdua menangis melepaskan rindu yang sudah sekian lama mereka pendam. Keluarga Naraya menyaksikan betapa berharganya Vino di mata Naraya hingga mereka menganggap Vino sebagai anak mereka sendiri.


“Nay, ikut aku dulu sebentar,” kata Vino.


“Mau ke mana, Vin?” tanya Naraya yang kebingungan dengan sikap Vino.


“Bentar.”


Vino berhenti sejenak, lalu menutup mata Naraya dengan sehelai kain yang sudah ia siapkan. Entah apa yang ingin ia lakukan.


“Kenapa, Vin? Kok mata aku ditutup sih?” Naraya semakin bingung.


“Enggak apa-apa, Nay. Nah, sudah. Yuk lanjut jalan, bentar lagi sampai,” ucap Vino.


“Aku mau dibawa ke mana sebenarnya, Vin? Jangan buat aku penasaran.”


“Nanti juga kamu tahu, Nay,” jawab Vino.


Akhirnya, Vino dan Naraya sampai di tempat tujuan. Di sana sudah ada ayah, ibu, kakak, dan adik Naraya. Vino pun membuka kain yang menutupi mata Naraya.


“Tadaa... Happy Birthday, Naraya Alaska Baskara! Semoga kamu sehat selalu, bahagia selalu, dan semoga kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Doa terbaik untukmu, Nay,” ucap Vino bersama keluarga Naraya.


Naraya pun terharu dengan kejutan yang telah dibuat oleh keluarganya dan sahabatnya.


“Makasih, Ayah, Ibu, Kakak, Adik, dan juga Vino,” ucap Naraya sambil mengusap air matanya.


“Iya, Nay. Sama-sama,” jawab Vino.


Keesokan harinya, Vino mendapat kabar bahwa ayahnya jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit Asan Medical Center. Vino pun pergi bersama keluarga Naraya ke rumah sakit tempat ayahnya dirawat.


Namun sayangnya, Vino tidak sempat melihat ayahnya untuk terakhir kali. Ia sangat terpukul dengan kenyataan itu.


Setelah pemakaman selesai dan para warga satu per satu meninggalkan lokasi, yang tersisa hanya Vino dan keluarga Naraya.


Naraya berusaha menenangkan Vino dan mengajaknya pulang karena cuaca sudah mulai gelap. Sesampainya di rumah Vino, mereka melihat bahwa Vino kini tinggal sendirian. Akhirnya, Naraya dan keluarganya berencana menginap di rumah Vino sampai ia benar-benar mengikhlaskan kepergian ayahnya.


Sejak kepergian ayahnya, Vino menjadi suka menyendiri dan tidak pernah tertawa lagi seperti dulu. Naraya yang menyadari perubahan sikap sahabatnya langsung mencari cara untuk membuat Vino kembali ceria dengan menceritakan hal-hal lucu.


“Aku tahu kamu sedih ditinggal Om Niko, tapi kamu jangan berlarut-larut dalam kesedihan itu, Vin. Ini bukan Vino yang aku kenal dulu,” kata Naraya yang berusaha menguatkan hati Vino.


Om Niko adalah ayah Vino.


Akhirnya, Vino menyadari bahwa ia tidak boleh terus terjebak dalam kesedihan tanpa akhir. Ia kembali ceria seperti dulu dan mulai membuka diri lagi.


Pagi harinya, Vino kembali masuk kampus, begitu juga dengan Naraya. Kampus mereka berbeda. Naraya berkuliah di Fakultas Kedokteran, sedangkan Vino berkuliah di Akademi TNI.


Keduanya lulus dengan nilai terbaik dan berhasil meraih cita-cita mereka.


“Vin, besok boleh ketemu sebentar? Ada yang mau aku omongin sama kamu,” kata Naraya melalui telepon.


“Boleh kok, Nay. Nanti kamu kirim lokasi saja tempatnya,” jawab Vino.


Keesokan harinya, Vino berangkat ke tempat yang telah dikirimkan Naraya. Sesampainya di sana, ia melihat Naraya sedang duduk di tepi danau.


“Maaf, Nay. Aku telat,” kata Vino.


“Iya, enggak apa-apa, Vin,” jawab Naraya.


Vino lalu duduk di sebelah Naraya. Ia kebingungan karena Naraya sejak tadi hanya diam.


Naraya kemudian mulai bercerita tentang masalah yang selama ini ia hadapi. Vino terkejut dengan apa yang dialami sahabatnya. Ternyata di balik keceriaannya, Naraya menyimpan begitu banyak beban yang bahkan sulit dibayangkan oleh Vino.


Vino tidak marah, tetapi ia sedikit kecewa karena Naraya belum sepenuhnya terbuka kepadanya. Namun, Vino mengerti bahwa setiap orang berhak menyimpan sebagian hal tentang dirinya sendiri. Ia memahami bahwa Naraya juga membutuhkan privasi.


Setelah Naraya menceritakan semua keluh kesahnya, tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat dan hari mulai gelap.


“Nay, sebaiknya kita pulang dulu. Hari sudah mulai gelap. Takutnya mamah kamu mencari,” kata Vino.


“Baiklah, Vin. Aku juga sudah lelah,” jawab Naraya.


Sesampainya di rumah, mereka disambut oleh ibu Naraya yang sudah menunggu di teras. Naraya masuk lebih dahulu, sedangkan Vino diajak berbicara oleh ibunya.


Vino mendapat beberapa pertanyaan yang cukup mengejutkan.


Setelah kejadian itu, Vino tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Naraya. Namun, ia tetap mendapatkan kabar tentang Naraya melalui kakaknya. Vino harus bertugas di luar provinsi sehingga ia dan Naraya harus berpisah lagi.


Naraya yang tidak mengetahui bahwa Vino bertugas di luar provinsi kembali merasakan kesedihan yang pernah ia alami dulu.


Suatu hari, saat Naraya sedang bertugas di salah satu rumah sakit di luar provinsi, ia tidak menyangka bahwa tempat kerjanya adalah tempat Vino bekerja sekarang.


Mereka dipertemukan kembali dan bertugas di tempat yang sama.


Setelah kembali dari tempat kerjanya, Vino memutuskan untuk melamar Naraya ke rumahnya. Sesampainya di sana, Vino memberanikan diri meminta Naraya menjadi istrinya.


Akhirnya, Vino mendapatkan restu dari kedua orang tua Naraya.


Tanggal pernikahan pun ditetapkan, dan hari yang telah lama ditunggu-tunggu oleh Vino dan Naraya akhirnya tiba.


Mereka pun hidup penuh kebahagiaan dan keharmonisan.


______

Penulis

Kayla Herbiyani, siswa kelas X-3 Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 34 Lebak, Banten.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Monday, May 25, 2026

Karya Siswa | Humaira Fakhiratur Rofifah | Ke Mana Ayah Pergi?

Cerpen Humaira Fakhiratur Rofifah



Aku melangkah ke sekolah seperti biasa, menyusuri jalan dengan lelah yang diam-diam kupendam. Langkah kakiku akhirnya sampai di gerbang sekolah. Pagi menyapa dengan riuh suara yang hangat. Aku duduk di bangku, menyusun harap di antara buku-buku, menyimak pelajaran yang perlahan tersimpan di memori. Menurutku, sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang kecil tempat kenangan tumbuh diam-diam.

Waktu terus berputar tanpa suara, hingga tak terasa dentang pulang pun tiba menggema di udara. Langkahku menyusuri jalan bersama teman-teman, disisipi cerita ringan yang mengalir tanpa jeda. Sesampainya di rumah, sebuah kabar tak terduga datang dari ayahku, bahwa aku dan keluarga kecilku akan jalan-jalan ke Pantai Anyer.


Besok pun akhirnya tiba.


“Ayah, kita jadi ke pantai hari ini?” tanyaku sambil berlari kecil menghampiri ayah yang sedang menyiapkan tas.


Ayah tersenyum. “Tentu jadi. Hari ini ayah mau mengajak kalian liburan kecil.”


Ibu keluar dari dapur sambil membawa bekal. “Jangan lupa bawa tikar. Nanti kita akan makan bersama di sana.”


Di perjalanan, suasana mobil penuh tawa.


“Ayah, pantainya masih jauh?” tanyaku sembari melihat ke luar jendela.


“Sebentar lagi,” jawab ayah. “Sabar, tak akan lama kalian lihat laut yang biru dan indah.”


Sesampainya di Anyer, ombak terdengar bergulung pelan.


“Masyaallah, indah sekali …” kata ibu kagum.


Aku dan kedua adikku langsung berlari mendekati air.


“Ayah, lihat! Ombaknya besar!”


Ayah tertawa kecil. “Hati-hati, jangan terlalu jauh.”


Lalu ayah pun mengajak kami membangun istana pasir bersama, sementara ibu menata makanan di atas tikar.


“Ayo makan dulu,” panggil ibu.


Akhirnya kami menikmati makanan sambil bercerita dan tertawa riang. Aku memandang mereka dan merasa hangat di hati. Hari itu bukan hanya tentang liburan ke pantai, tetapi tentang kebersamaan keluarga yang terasa begitu indah.


Senja telah tiba, kami kembali pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ayah langsung berpamitan untuk kembali ke tempat kerja.


“Tidak semuanya bertahan lama.”


Kata-kata itu ternyata benar adanya. Suasana rumah yang dulu hangat kini mulai berubah. Ayahku mulai bangkrut, ekonomi keluarga tumbang. Rumah ini tidak lagi menenangkan, melainkan ruang yang saling melukai.


“Ayah capek, Bu! Usaha ayah bangkrut!” bentak ayah.


“Lalu kenapa semua dilampiaskan ke kami?” suara ibu mulai bergetar.


Aku keluar perlahan dari kamar.


“Bu … Yah … jangan bertengkar lagi …” kataku pelan.


Ayah mengusap wajahnya kasar. “Kamu belum mengerti keadaan kita sekarang.”


Ibu menunduk. Matanya merah karena menangis.


“Dulu kita makan bersama sambil tertawa,” ucap ibu. “Sekarang tiap hari hanya ada amarah.”


Ayah terdiam beberapa saat. Namun akhirnya, ia mengambil jaketnya.


“Ayah mau keluar dulu.”


“Pergi lagi?” tanya ibu kecewa.


Ayah tidak menjawab. Pintu rumah ditutup keras hingga membuatku tersentak. Aku memandang ibu yang tertunduk lemas di kursi.


“Bu … apa semuanya akan kembali seperti dulu?”


Ibu tersenyum tipis sambil mengusap kepalaku.


“Ibu juga berharap begitu, Nak. Tapi kadang hidup berubah tanpa izin.”


Sebulan sudah ayah pergi meninggalkan kami entah ke mana. Kini, ibulah yang menjadi tulang punggung keluarga. Setiap hari ibu pergi mengajar dan menitipkan kedua adikku kepadaku. Di sela-sela kesibukannya, ibu berusaha menelepon nomor ayahku, berharap notifikasi panggilan berubah menjadi dering dan dijawab. Tak hanya itu, ibu bertanya kepada teman kerja, teman nongkrong, bahkan keluarga pun ikut mencari keberadaan ayahku. Namun, belum juga ada hasil yang menenangkan hatiku, ibu, dan kedua adikku.


“Bu, Ibu tahu ayah sekarang di mana?” tanyaku lirih.


Ibu menghentikan aktivitas di depan laptopnya lalu menggeleng pelan. “Belum ada kabar, Nak.”


“Sudah lama sekali ayah menghilang …”


Ibu tersenyum kecil meski matanya sembab. “Iya … ibu juga terus menunggu.”


“Aku kangen ayah, Bu.”


Ibu memelukku erat. “Ibu juga. Tapi ibu selalu berdoa semoga nanti pintu rumah ini diketuk oleh orang yang kita tunggu selama ini.”


Aku menggenggam erat tangan ibu.


Keesokan harinya, aku kembali ke sekolah. Pagi itu udara masih dingin, tetapi peluh sudah terasa di tengkukku. Namun, ketika di sekolah, aku mendapatkan tambahan beban berupa selembar kertas tunggakan sekolah.


“Nanda, ini surat tunggakan SPP. Berikan ke orang tuamu,” kata Bu Guru.


Aku menerima surat itu dengan tangan gemetar. Dadaku sesak.


Sepulang sekolah, aku hanya diam memandangi kertas itu di teras rumah.


“Kenapa melamun, Nak?” tanya ibu.


Aku ragu menyerahkan suratnya.


“Bu … sekolah menagih SPP lagi.”


Ibu membaca surat itu perlahan lalu menunduk.


“Maaf … ibu belum bisa bayar.”


Aku menggigit bibir menahan tangis. Sejak ayah pergi, ibu bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhanku dan kedua adikku.


Ibu pun memelukku sambil menahan air mata.


“Ibu akan usahakan, Nak.”


Aku hanya mengangguk.


Malam pun tiba. Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Suara jangkrik terdengar jelas dari halaman belakang. Aku melamun. Aku teringat besok sekolah kembali menagih uang SPP. Aku merasa tidak tega terus melihat ibu memikul semuanya sendiri.


Tiba-tiba aku teringat pada Bibi Ona yang membuat emping di kampung sebelah. Emping buatan bibi terkenal enak, tetapi biasanya hanya dititipkan di warung kecil.


Lamunanku terhenti karena kehadiran ibu.


“Ibu belum tidur?” tanyaku pelan saat melihat ibu keluar membawa segelas teh hangat.


“Belum, Nak. Kenapa masih di luar?”


“Bu, kalau aku bantu jualan emping punya Bibi gimana?”


Ibu langsung menatapku.


“Kamu mau jualan emping sepulang sekolah?”


Aku mengangguk. “Aku ingin bantu ibu. Sejak ayah pergi, ibu kerja keras sendirian.”


Ibu menunduk, matanya mulai berkaca-kaca.


“Kamu enggak perlu memikirkan semua ini, Nak. Kamu fokus belajar saja …”


Ibu menggenggam erat tanganku.


“Maaf … kamu jadi dewasa lebih cepat.”


Aku tersenyum kecil.


“Enggak apa-apa, Bu. Asalkan kita tetap sama-sama.”


“Ibu mengizinkan kamu berjualan, Nak. Tetapi, kamu harus ingat tugas utamamu belajar,” kata ibu dengan tegas.


Setelah mendapatkan izin dari ibu, keesokan harinya sepulang sekolah aku segera pergi ke rumah Bibi Ona dengan penuh harapan.


Aku duduk perlahan. Mataku melihat tumpukan emping yang sedang dijemur di tampah besar. Aku memulai maksud kedatanganku.


“Aku mau bantu jualan emping Bibi keliling kampung setelah pulang sekolah.”


Bibi Ona tampak terkejut.


“Lho, memangnya buat apa? Kamu fokus sekolah saja.”


Aku menarik napas panjang.


“Aku kasihan sama ibu, Bi. Sejak ayah pergi, ibu kerja sendirian. Kadang aku lihat ibu diam-diam nangis kalau malam.”


Suasana mendadak hening. Hingga akhirnya Bibi Ona mengizinkanku untuk berjualan emping miliknya.


“Baiklah. Kalau memang itu keinginanmu, Bibi izinkan. Tapi kamu harus tetap sekolah.”


Aku berpamitan kepada Bibi dan membawa emping yang sudah dikemas.


Di pundakku, sebuah tas kain besar berisi plastik-plastik bening bergoyang seirama langkah kakiku.


“Emping! Emping melinjo asli, Bu! Masih renyah!” teriakku dengan suara nyaring, memecah kesunyian gang.


Setiap hari rutinitasku menjajakan emping dari satu gang ke gang lain di kampung ternyata sudah berlangsung selama satu bulan. Akan tetapi, hari ini berbeda dari biasanya. Saat aku sedang berteduh di bawah pohon melinjo untuk menghitung lembaran ribuan yang lecek, ponselku berdering. Nama ibu muncul di layar. Suaranya terdengar tergesa dan gemetar.


“Assalamualaikum, Nak … cepat pulang,” suara ibu terdengar gemetar di telepon.


“Ada apa, Bu?”


“Ibu … baru dapat kabar tentang ayah.”


Aku terdiam sejenak.


“Ayah kenapa?”


Di seberang telepon, ibu menangis pelan.


Aku menggenggam tas erat-erat.


“Tunggu aku pulang, Bu. Jangan menangis sendirian.”


“Iya … hati-hati di jalan.”


Suara burung yang bersahutan dan deru lalu lalang orang lewat biasanya hanya dianggap angin lalu, tetapi siang itu semuanya terdengar seperti dentum peringatan. Ibu baru saja menelepon dengan suara yang hampir tidak dikenali, gemetar.


Matahari tepat berada di atas kepala, memancarkan panas yang membakar. Namun, keringat yang mengucur di pelipis bukan karena suhu yang menyengat, melainkan karena aku takut berita buruk menimpa ayahku.


Sampai di rumah …


“Aku pulang, Bu …” kataku pelan sambil menerobos pintu rumah.


Namun suasana rumah ramai. Beberapa keluarga dari pihak ayah duduk di ruang tamu sambil berbisik-bisik. Aku melangkah pelan melewati mereka. Tatapan mereka terasa asing dan membuat dadaku sesak. Di sudut ruangan, ibu hanya diam menunduk sambil menggenggam ujung bajunya erat-erat.


“Ada apa, Bu?”


Ibu hanya diam menunduk.


Bibi mendekat perlahan.


“Nak … kamu harus sabar, ya.”


“Memang ada apa?” tanyaku cemas.


Bibi menarik napas panjang.


“Ayahmu … menikah lagi.”


Aku langsung terdiam.


“Apa …?”


“Iya …” jawab bibi lirih.


Aku menatap ibu yang matanya sembab karena menangis.


“Jadi … semua ini benar, Bu?”


Ibu mengangguk pelan tanpa berkata-kata.


“Ayah keterlaluan!” bentakku dengan mata berkaca-kaca. “Tega sama ibu, aku, dan adik-adikku!”


Ibu langsung memelukku.


“Sudah, Nak … ini adalah jawaban dari doa-doa kita, meskipun pahit.”


Akhirnya aku mengerti. Ayah tidak sedang membangun keluarga baru. Ia hanya sedang mengganti kami dengan versi yang menurutnya lebih baik.


Aku mengeluarkan ponsel, menghapus kontak bernama “Ayah”. Setelah menarik napas panjang, perlahan aku menekan tombol hapus. 


_____

Penulis

Humaira Fakhiratur Rofifah, lahir di Pandeglang, 16 Maret 2012. Hobi menggambar & menulis. Siswa SMPIT Syifa Fikriya.


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com



Monday, May 11, 2026

Karya Siswa | Raja yang Sombong | Cerpen Ahmad Farzan Ahza

Cerpen Ahmad Farzan Ahza




Pada suatu hari, di sebuah kerajaan di Padang Mesir yang memiliki piramida besar berbentuk segitiga, hiduplah seorang raja yang sombong bernama Shadum. Raja Shadum memiliki tiga anggota keluarga yang kuat, yaitu Hudi, Shadam, dan Shadum. Mereka juga memiliki pasukan yang sangat banyak, sekitar seribu orang, serta makanan yang melimpah.


Di dekat kerajaan itu, hiduplah seorang anak yang baik dan saleh bernama Bilal. Suatu hari, Bilal berjalan-jalan di Padang Mesir. Ia melihat sebuah piramida besar. Bilal sangat penasaran dan ingin masuk ke dalam piramida itu. Namun, ia tidak diizinkan masuk. Akhirnya, Bilal pun pulang ke rumah.


Di rumah, Bilal bertemu dengan ibunya yang bernama Hudan dan ayahnya yang bernama Guni.


Bilal berkata,

“Bunda, Bilal lapar.”


Ibu berkata dengan lembut,

“Baik, Bilal. Ayo makan nasi dan daging.”


Ayah Bilal berkata,

“Ayo kita makan bersama.”


Bilal pun senang dan berkata,

“Yeay, makan bersama!”


Setelah makan, Bilal bertanya,

“Bunda, setelah makan kita ngapain?”


Ibu menjawab,

“Setelah makan, Bilal tidur ya.”


Bilal berkata,

“Baik, Bu. Bilal mau tidur.”


Ibunya tersenyum dan berkata,

“Ibu temani ya. Selamat tidur, Bilal.”


Bilal pun tertidur dengan nyenyak.


“Zzzzz…”


Namun, pada malam hari, sekitar jam tiga. Raja Shadum memerintahkan pasukannya.


“Pasukan! Bakar desa itu!” kata raja.


“Baik, Raja!” jawab pasukan.


Tak lama kemudian, rumah-rumah di desa mulai terbakar. Asap dan api terlihat di mana-mana.

Ibu Bilal mencium bau asap.


“Bilal, bangun! Ada kebakaran!” kata ibu.


Bilal pun dibangunkan. Ayahnya juga bangun.


“Apa yang terjadi?” tanya ayah.


“Ada bau asap! Kita harus pergi!” kata ibu.


Mereka segera keluar dari rumah dan berlari menyelamatkan diri. Warga desa juga membangunkan kepala desa.


“Ayo, Kepala Desa! Kita harus pergi! Rumah-rumah sudah terbakar!”


Semua orang berlari mencari tempat yang aman. Akhirnya, keluarga Bilal bertemu dengan kepala desa dan beberapa warga yang selamat.


Kepala desa berkata,

“Kita harus membuat rencana. Bagaimana kalau kita pergi ke desa lain?”


Warga desa menjawab,

“Baik, Kepala Desa. Tapi kita harus hati-hati.”


Mereka berjalan pelan-pelan agar tidak terlihat oleh pasukan raja. Di tengah perjalanan, mereka menemukan sebuah gua yang agak terang. Mereka pun beristirahat dan tidur di dalam gua itu.


Keesokan paginya, mereka melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian, mereka melihat sebuah desa yang jaraknya sekitar sepuluh meter lagi.


Mereka bertemu dengan warga desa tersebut. Kepala desa lama memperkenalkan diri.


“Halo, saya kepala desa. Nama saya Hid.”


Kepala Desa dari desa itu menjawab,

“Salam kenal. Nama saya Mai.”


Mereka pun berbicara bersama. Kepala desa Hid berkata,

“Kami ingin menghentikan raja yang sombong itu.”


Bilal berkata,

“Aku tahu tempat piramida raja itu.”


Semua orang setuju untuk membuat rencana.


Pada malam hari, mereka pergi bersama-sama sambil membawa obor. Mereka menuju piramida tempat Raja Shadum tinggal.


Kemudian mereka menyalakan api dan membakar piramida itu. Piramida pun terbakar, dan Raja Shadum akhirnya terluka. Setelah itu, raja tidak lagi menyakiti orang-orang.


Akhirnya, semua desa hidup dengan damai. Warga desa kembali hidup dengan tenang dan bahagia.


______


Punulis


Ahmad Farzan Ahza, lahir di Serang, 21 September 2014. Saat ini ia duduk di kelas 5 SD Elfatih Kota Serang. Hobi main catur. Alamat rumah di Mayabon Village Blok F No. 4 Kelurahan Banjarsari Kecamatan Cipocok Jaya Kota Serang. 


Kirim naskah ke

redaksningewiyak@gmail.com