Showing posts with label Redaksi. Show all posts
Showing posts with label Redaksi. Show all posts

Sunday, July 12, 2026

Esai Nurhadi | Hidup Ini Kurang Asyik Tanpa Mistisisme

Esai Nurhadi 

 


Harusnya saya sudah di rumah sore itu melanjutkan series Renegade Immortal, Tales Of Herding Gods, dan Tomb Of Fallen Gods S3. Tapi seakan tarikan gravitasi sangat kuat di rumah teman saya itu. Atau mungkin itu kodam penunggu yang menarik pantat saya dari bawah karena kebetulan kami sedang menyinggung mereka. Konon katanya kalau mereka sering disebut akan semakin mendekat.


Saya sendiri termasuk orang yang kurang percaya kalau ngomongin hal mistis, tapi juga bukan yang skeptis. Saya nyaman-nyaman saja kalau ngobrolin soal gaib. Dan memang begitulah obrolan sore itu berjalan. Dari yang tadinya cuma basa-basi soal keseharian, perlahan geser ke topik yang lebih mistis.


Teman saya mulai cerita soal pengalaman, katanya dia pernah ditembak jin saat menyaksikan orang kesurupan saat menyetel musik lengser wengi. Bayangkan bagaimana rasanya ditembak jin. Katanya seperti ditekan organ dalamnya dan menjadi sesak. Mungkin pengalaman teman saya itu kalau diceritakan kepada orang lain bakal dikira dia habis makan kecubung. Tapi entah mengapa, di ruang sepetak itu cerita-ceritanya kedengaran masuk akal. Atau minimal masuk ke rasa penasaran saya yang bertanya-tanya tentang dunia gaib itu sendiri.


Kemudian teman saya juga pernah diberi batu oleh tetangganya. Batu bukan sembarang batu—mungkin begitu pikirnya. Setibanya di rumah  dia penasaran sesosok apa penjaga atau kodam batu tersebut. Lantas menantangnya. Dan sesuai harapan. Katanya sesosok kakek tua tiba-tiba duduk di di belakangnya dengan kondisi tubuh yang sangat kurus dan perangainya menyeramkan.


Masih banyak lagi cerita mistis lainnya yang saya dengar dari obrolan sore itu. Tapi setelah dipikir-pikir hidup ini sebenarnya kurang asyik, apalagi era modern ini kalau cuma rasional-rasional saja. Makanya waktu obrolan soal kodam, soal energi yang mendekat kalau dibahas, atau soal firasat yang ternyata beneran kejadian—ada semacam kelegaan. Kelegaan karena dunia ini tidak se-flat itu.


Justru itu alasan kenapa saya—mungkin kebanyakan orang lainnya juga—menyukai atau sekadar penasaran, seperti cerita-cerita pada kultivasi Wang Lin dalam series Renegade Immortal tadi. Tapi minimal lewat cerita itu—atau obrolan sore kami yang mistisisme—saya masih diberi ruang untuk berpikir bahwa hidup ini ternyata misterius; ada kebenaran yang tak dapat dijelaskan oleh bahasa dan angka.


Jadi pada sore itu sementara series-series saya harus tertunda. Bukan karena enggan menonton, tapi mungkin karena saya lagi menyaksikan series dalam versi nyata. Dan entah mengapa hal itu terasa lebih hidup dan menyenangkan. Bagi saya cerita itu sebagai pengingat kecil bahwa hidup ini memang kurang asyik kalau dijalani serba logis. Sesekali, biarkan diri kita merebahkan pada obrolan yang hangat dan ringan. Toh, kalau ternyata itu cuma perasaan akan adanya jin, kodam, dan hantu-hantu lainnya, minimal jadi bahan obrolan seru buat sore-sore berikutnya.


________


Penulis


Nurhadi
 atau biasa dipanggil Albert. Sekarang masih pura-pura belajar di #Komentar. Karyanya pernah dimuat di koran harian Kabar Banten dan Majalah Sastra Kandaga Provinsi Banten. Selebihnya insyallah.

 


Sunday, June 28, 2026

Esai Ma’rifat Bayhaki | Kepengrajinan dalam Novel "Yuki": Ketika Pesan Berusaha Mengalahkan Cerita

Esai Ma'rifat Bayhaki



Kemahiran berbahasa adalah satu dari sekian modal yang mesti dimiliki oleh pengarang. Kendati penting, justru ia kerap diabaikan. Banyak pengarang lebih terobsesi pada persoalan pesan yang ingin disampaikan, alih-alih memperhatikan konstruksi—bentuk cerita yang akan disajikan. Sebuah cerita tidak dikenang semata karena suaranya, melainkan bagaimana cara ia menyuarakannya. Saya tentu tidak ingin menyaksikan sebuah naskah yang penuh dengan pesan moral, tetapi kehilangan daya estetiknya bernasib tragis di tangan pembaca kritis.

Barangkali kepekaan semacam ini mesti dijadikan pijakan ketika membaca novel Yuki karya Sukron yang diterbitkan Penerbit #Komentar, Juni 2026. Pada halaman awal kita disodorkan dengan kegelisahan yang nyata. Narator ingin berbicara tentang manusia modern yang terjebak dalam rutinitas, ketakutan, dan keterbatasan. Dari hal itu ia menawarkan gagasan sederhana, manusia harus “naik kelas”. Tentunya frasa ini lebih dari perpindahan status sosial di permukaan, ia juga menyimpan pergulatan dan pendalaman batin yang berlapis—kokoh.

Namun, sayangnya sang narator dalam cerita Yuki tampak terjebak untuk memastikan gagasan “naik kelas” ini bersarang di benak pembaca. Hasrat tersebut demikian dominan sehingga hampir setiap bab lebih berfungsi sebagai medium penyampaian pesan daripada ruang berbagi cerita untuk tumbuh secara organik. Akibatnya, pembaca lebih sering dihadapkan pada penegasan ide dibandingkan dengam pengalaman estetik yang lahir dari perkembangan cerita.

Jumlah tokoh yang relatif sedikit sesungguhnya bisa diolah sedemikian rupa untuk membangun karakter yang utuh dan dinamis. Alih-alih melakukan itu, tokoh Yuki  lebih sering hadir sebagai corong gagasan pengarang daripada menjadi manusia fiksional yang hidup, memiliki kehendak, konflik, dan perkembangan psikologisnya sendiri. Yuki lebih sering tampil sebagai figur yang telah mengetahui jawaban atas persoalannya ketimbang menjadi manusia yang sedang berproses.

Hal itu juga berlaku pada tokoh lain dalam novel ini. Misalnya tokoh Pak Arif—mentor Yuki yang perannya sentral dalam cerita ini. Lagi-lagi narator berperan terlalu dominan sehingga tokoh Pak Arif menjadi terkesan ajaib. Ia bisa tiba-tiba hadir di momen penting hidup Yuki bahkan mampu mengetahui segala hal dan permasalahan yang dialami Yuki. Hal itu tampak jelas saat Pak Arif mengetahui jika Danu memberikan kunci berkarat kepada Yuki, bahkan dengan hafalnya ia menjabarkan manfaat dari kunci berkarat itu pada Yuki, kendati Pak Arif tidak benar-benar hadir dalam peristiwa itu. Pada persoalan ini sepertinya sang narator harus berhati-hati.

Pergulatan batin yang seharusnya menjadi jantung sebuah novel justru berlangsung singkat. Proses sebab akibat yang diharapkan cair, luwes, dinamis, dramatis, dan memukau menjadi terkesan ajaib. Pemaknaan setiap tokoh luput dari pandangan sang narator. Saya kehilangan jejak dalam usaha menggali sebab Yuki memaknai lorong tempat kerjanya mengerikan, pemaknaan kunci berkarat dari masing-masing tokoh, bahkan tokoh Pak Arif terkesan sangat bijaksana tanpa celah. Barangkali hal ini mesti dijelaskan, tidak digantung begitu saja.

Beralih pada persoalan alur. Novel Yuki bergerak dengan tempo yang terlampau tergesa-gesa. Perpindahan antar-ruang berlangsung begitu cepat sehingga setiap tempat kehilangan kesempatan untuk meninggalkan jejak dalam ingatan pembaca. Adegan demi adegan silih berganti, tetapi tidak memberi cukup waktu bagi suasana untuk mengendap ataupun bagi konflik untuk memperoleh bobot emosional. Alur akhirnya lebih menyerupai rangkaian perpindahan peristiwa daripada perjalanan batin yang tumbuh secara perlahan.

Barangkali, apabila diolah dengan kepengrajinan yang lebih tekun, ruang dalam Yuki tidak hanya berfungsi sebagai latar tempat peristiwa berlangsung. Ruang memiliki kemungkinan estetik yang jauh lebih luas. Ia dapat menjadi penanda zaman, penyimpan ingatan, bahkan menghadirkan gema batin para tokohnya. Dalam karya sastra yang matang, ruang tidak pernah benar-benar diam. Ia ikut mengarahkan suasana, membangun ketegangan, dan sesekali berbicara melalui kesunyian yang diciptakannya.

Kita dapat belajar dari cerpen Robohnya Surau Kami karya AA Navis. Ceritanya tidak semata-mata berkisah tentang sebuah surau, melainkan menjadikan surau sebagai pusat kesadaran cerita. Bangunan itu bukan lagi sekadar lokasi, tetapi sebuah simbol yang memanggul sejarah, keyakinan, kegelisahan, sekaligus ironi manusia. Surau memperoleh “suara” karena pengarang berhasil menanamkan pengalaman batin ke dalam ruang tersebut. Pembaca tidak hanya melihat sebuah bangunan, melainkan merasakan denyut kehidupan yang bersemayam di dalamnya.

Kemungkinan semacam itu sesungguhnya juga terbuka bagi Yuki. Sayangnya, ruang-ruang yang dihadirkan masih cenderung bersifat fungsional. Kantor, rumah, jalan, atau tempat-tempat yang disinggahi tokoh lebih sering menjadi wadah berlangsungnya peristiwa daripada turut membentuk kesadaran tokoh dan menghidupkan atmosfer cerita. Padahal, apabila ruang diberi kedalaman simbolik dan psikologis, ia akan menjadi unsur naratif yang bekerja secara diam-diam, memperkaya makna tanpa perlu dijelaskan secara panjang lebar oleh narator. Di situlah sastra menunjukkan kekuatannya, bukan melalui banyaknya penjelasan, melainkan melalui kemampuan membuat benda-benda yang bisu menjadi fasih berbicara.

Pada bagian lain narator memilih mendeskripsikan tindakan-tindakan Yuki alih-alih membiarkan pembaca menyaksikan tindakan itu berlangsung di hadapan mereka. Kecenderungan ini muncul berulang kali dalam beberapa bab sehingga perlahan mengikis daya hidup cerita. Alih-alih menghadirkan pengalaman, narator justru menyajikan kesimpulan. Pembaca diberi tahu apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dilakukan Yuki, tetapi jarang diberi kesempatan untuk menemukan semua itu melalui peristiwa yang berkembang secara organik.

Bagi saya, pilihan semacam ini merupakan salah satu kelemahan paling mendasar dalam novel ini. Sebab, hakikat fiksi bukanlah menyampaikan gagasan secara langsung, melainkan membiarkan gagasan itu lahir dari benturan antartokoh, dari gestur yang sederhana, dari dialog yang ritmis, bahkan dari kesunyian yang sengaja dibiarkan bekerja. Seperti yang dikatakan Ernest Hemingway mengenai show don't tell. Seorang pengarang tidak dituntut menjelaskan segala sesuatu kepada pembaca, melainkan menghadirkan dunia yang memungkinkan pembaca sampai pada kesimpulannya sendiri.

Sastra kehilangan daya estetiknya ketika terlalu bernafsu menjelaskan. Setiap penjelasan yang berlebihan sesungguhnya adalah bentuk ketidakpercayaan pengarang terhadap kekuatan cerita yang sedang dibangunnya. Padahal, cerita yang baik selalu memiliki keberanian untuk menyembunyikan sebagian maknanya, sebab sastra tidak bekerja dengan cara menggurui, melainkan dengan cara menggerakkan pengalaman batin pembacanya. Ia tidak berkhotbah dari atas mimbar, tetapi mengajak pembaca berjalan perlahan memasuki ruang-ruang makna yang sengaja tidak seluruhnya diterangi. Justru dalam ruang yang remang-remang itulah sastra menemukan daya pikatnya.

Kausalitas yang berupaya dibangun narator belum sepenuhnya memperoleh kedalaman dramatik. Penjelajahan Yuki terhadap krisis eksistensialnya berlangsung terlalu tergesa-gesa sehingga perkembangan psikologis tokoh terasa lebih sebagai pernyataan daripada pengalaman. Pembaca diberi tahu bahwa Yuki hidup dalam ketakutan dan merasa tidak bahagia, tetapi cerita tidak menyediakan rangkaian peristiwa yang cukup untuk membenarkan perasaan tersebut.

Sepanjang novel, Yuki justru tampil sebagai pribadi yang relatif utuh. Ia mampu menjalankan pekerjaannya dengan baik, berani mengemukakan pendapat di hadapan kolega, bahkan beberapa kali menjadi sosok yang menawarkan solusi bagi orang lain. Kegagalan yang dialaminya pun tidak pernah benar-benar menjelma menjadi titik balik yang mengguncang kesadarannya. Setiap hambatan segera dilewati tanpa meninggalkan bekas psikologis yang berarti. Akibatnya, jarak antara apa yang dikatakan narator mengenai Yuki dan apa yang benar-benar diperlihatkan cerita menjadi semakin lebar.

Pada akhirnya, persoalan Yuki terasa lebih banyak hidup di dalam bahasa narator daripada di dalam dunia yang sedang dibangun novel ini. Kecemasan itu disebutkan berulang kali, tetapi jarang memperoleh bentuk konkret melalui tindakan, konflik, atau pengalaman traumatik yang mampu mengendap dalam ingatan pembaca. Padahal, luka batin dalam sastra tidak selalu harus hadir sebagai tragedi besar. Rutinitas yang berulang, ruang kerja yang menyesakkan, relasi sosial yang dingin, atau kegagalan-kegagalan kecil yang terus menumpuk pun dapat berubah menjadi teror eksistensial apabila diolah dengan kesabaran estetik.

Di sinilah kelemahan paling mencolok novel Yuki. Rutinitas yang semestinya menjadi sumber kecemasan manusia modern tidak pernah benar-benar menjelma sebagai ancaman yang menghimpit kehidupan Yuki. Ia hanya hadir sebagai gagasan yang diucapkan narator, bukan sebagai pengalaman yang dialami pembaca. Ketika rasa takut lebih banyak dikatakan daripada dihadirkan, konflik kehilangan bobot dramatiknya, dan perjalanan eksistensial Yuki pun berakhir sebagai konsep yang menarik, tetapi belum sepenuhnya meyakinkan secara artistik.

Kendati demikian, Yuki tetap layak diapresiasi sebagai karya perdana yang berhasil diselesaikan oleh Sukron. Bukankah, naskah yang baik adalah naskah yang selesai ditulis? Penyelesaian sebuah karya bukanlah akhir dari proses kreatif, melainkan awal bagi pengarang untuk mengasah kepengrajinan estetiknya. Pada percobaan berikutnya, tentu kelonggaran semacam ini tidak berlaku.

Salah satu hal yang paling menarik dari novel ini ialah keberanian Sukron sebagai pengarang bereksperimen dengan bahasa yang puitis, liris, dan berirama. Kalimat seperti, “Rambut hitamnya bergelombang, menebar bayang-bayang gelap di atas bahu, sementara mata cokelatnya menahan kilau api kecil yang tak pernah padam,” memperlihatkan ikhtiar pengarang menghadirkan keindahan melalui pilihan kata yang imajinatif. Cara bertutur semacam ini menjadi strategi yang efektif untuk membangun suasana sekaligus memperhalus pengalaman emosional pembaca sehingga narasi tidak sekadar menyampaikan peristiwa, melainkan juga menghadirkan rasa

Namun, bahasa puitis selalu menuntut kedisiplinan estetik. Keindahan tidak lahir semata-mata dari limpahan metafora atau rangkaian kata-kata yang indah, melainkan dari ketepatan memilih diksi dan kecermatan menempatkannya dalam konteks. Demikian pula dengan penggunaan tanda baca yang bukan sekadar perangkat gramatikal yang mengatur jeda. Ia merupakan bagian dari estetika yang membentuk ritme, mengatur tempo, memberi tekanan, bahkan mengarahkan emosi pembaca. Perpaduan antara diksi yang cermat akan melahirkan kalimat yang tidak hanya enak dibaca, tetapi juga memiliki daya pukau yang bertahan lebih lama dalam ingatan.

Pada beberapa bagian, Yuki berhasil memperlihatkan potensi tersebut. Meskipun belum sepenuhnya konsisten, tampak bahwa Sukron memiliki kepekaan terhadap musikalitas bahasa dan keberanian untuk tidak sekadar bercerita, melainkan juga menciptakan pengalaman membaca yang estetis. Potensi inilah yang, apabila terus diasah melalui pembacaan yang luas dan latihan menulis yang tekun, dapat menjadi kekuatan utama pengarang pada karya-karya berikutnya. Tabik.

Tanara, 28 Juni 2026

 _______

Penulis

Ma'rifat Bayhaki, redaktur pelaksana NGEWIYAK.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

 

Saturday, December 13, 2025

Resensi Kabut | Mangga dan Kedaulatan

Oleh Kabut




Desember itu sejarah. Yang biasa kita ingat, Desember adalah nama bulan yang terakhir. Ada yang mengartikan Desember adalah duka. Ia mengingat bencana-bencana di Indonesia sering terjadi saat Desember. Namun, yang sedang kita ingat adalah sejarah. Apa yang terjadi di Indonesia masa lalu? Desember ikut dalam lembaran-lembaran sejarah Indonesia.


“Hari ini ternyata tanggal 27 Desember 1949, hari pengakuan kedaulatan kepada Republik Indonesia,” kalimat yang terdapat dalam novel berjudul Senja Itu Langit Merekah gubahan Surtiningsih WT. Buku tipis yang diterbitkan Gaya Favorit Press, 1981. Judulnya tidak mengesankan sejarah tapi yang membaca akan masuk dalam sejarah.  


Yang diceritakan adalah gadis cilik bernama Menik. Mengapa ia hadir dalam lembaran sejarah? Menik mengisahkan diri, keluarga, pasukan Belanda, kaum gerilyawan, anjing, dan lain-lain. Maka, cerita-ceritanya mengajak kita hadir dalam sejarah yang berlatar tahun-tahun setelah proklamasi. Menik bercerita, tidak bertugas menjelaskan sejarah. Namun, tokoh yang dibuat Surtiningsih itu menjadi sosok yang menghubungkan penggalan-penggalan cerita menjelang pengakuan kedaulatan Indonesia. Jadi, pembaca dilonggarkan memikirkan dan berimajinasi sejarah Indonesia (1945-1949).


Aneh, penulisan cerita untuk anak mengusung sejarah. Padahal, murid-murid di SD dan SMP sudah bosan dengan pelajaran sejarah. Dulu, ada beberapa penyebutan mata pelajaran yang membawakan sejarah. Yang pernah belajar PMP bakal sampai sejarah. Murid yang pernah dicekoki PSPB pasti kenyang sejarah. Pokoknya, sejarah keseringan diajarkan tapi menjemukan, ditambah pidato kepala sekolah saat upacara. 


Apakah novel membuat anak terpanggil belajar sejarah tanpa beban berupa ujian? Di Indonesia, kita jarang menemukan novel untuk anak yang mengusung sejarah memberi kesan-kesan mendalam. Yang terjadi adalah novel-novel kebanyakan pesan dan biasa dijadikan “propaganda” dalam kepentingan penguasa “membentuk” sejarah sekaligus melaksanakan pembangunan nasional.


Surtiningsih tampak kurang gereget dalam membawakan sejarah kepada para pembacanya. Novel itu seperti menjadikan sejarah cuma latar. Yang jelas pengisahannya lancar, tidak membikin anak-anak pusing. Cerita yang mudah membuat terharu tapi kadang menimbulkan kebingungan bila ada usaha mencocokkan dengan materi-materi dalam buku-buku pelajaran.


Warga menyelamatkan diri dari serbuan pasukan Belanda. Pasukan yang membawa persenjataan modern, yang tidak menolak Indonesia merdeka. Belanda berpikiran Indonesia masih miliknya meski sudah ada proklamasi: 17 Agustus 1945. Belanda murka dan angkuh, melanjutkan babak kolonialisme yang terlalu lama.


Pengarang menunjuk peristiwa yang menyedihkan saat pertempuran: “Malam pun turun. Pengungsi-pengungsi meninggalkan kuburan itu melanjutkan perjalanan mencari tempat yang aman untuk berlindung dari keangkaramurkaan musuh. Dan aku, betapa pun berat membawa bungkusan baju-baju, lagi-lagi teringat kepada anjingku, dan khawatir akan nasib tentara muda yang tadi terlihat.” Menik menyadari Indonesia diobrak-abrik Belanda. Mengungsi itu menyelamatkan diri. Perlawanan dilakukan oleh para lelaki yang menjadi kaum gerilyawan. Menik berada dalam hari-hari yang menegangkan. Artinya, ia menjadi saksi sejarah. 


Di situasi yang menyedihkan, Menik sempat mendengar perkataan bapaknya setelah pertemuan para pengungsi: “Tadi datang utusan memberitahu bahwa perang ini akan berlangsung lama. Kita harus menyediakan diri, bersiap-siap untuk menderita lama. Belanda sudah menduduki kota kita. Sebaiknya kita kembali ke rumah masing-masing dan mendoakan agar pemuda-pemuda kita dapat mengembalikan tanah air kita kembali kepada bangsa kita. Pemuda-pemuda akan bergerilya.” 


Kalimat yang terbaca mudah tapi pembaca menemukan ada yang berlebihan. Apakah kata-kata itu terucap runtut dan rapi oleh orang yang sedang dirundung sedih dan takut? Pengarang sengaja ingin membebani kalimat itu dengan pesan-pesan agar para pembacanya memuliakan tanah air. Pada suatu riset, novel gubahan Surtiningsih bisa menjadi referensi yang memasalahkan (sejarah) Indonesia dalam klise-klise yang lemah dalam argumentasi.


Menik yang masih kecil cepat memiliki kesadaran atas kemerdekaan. Ia tidak ingin Indonesia dijajah lagi. Menik yang didewasakan suasana perang dan mengikuti keinginan pengarang. Anak-anak yang membaca novel akan bangga dan memuji sikap Menik. Kita membayangkan peristiwa yang dialami Menik berlatar 1949: “Dari sebuah truk, seorang tentara melemparkan sekaleng makanan kira-kira dua meter di depanku. Kulirik mukanya yang tersenyum padaku. Tentu saja aku ingin makanan enak. Tapi tidak dari tentara Belanda yang biasa memamerkan kekayaannya dengan melempar-lemparkan rangsum mereka agar dipungut oleh anak-anak dan dapat menimbulkan pikiran bahwa kalau kita diperintah Belanda maka kita dapat makan enak.” Bocah yang terlalu cerdas dan kritis. Yakin saja sikap itu terjadi dalam sejarah.


Menik yang berani bersikap, yang sebenarnya mengerti risikonya. Namun, pengarang ingin menampilkan Menik ambil peran dalam sejarah: “Rasanya dengan begitu aku mau menunjukkan kepada mereka, bahkan anak kecil pun tak sudi menerima penghinaan. Aku berjalan dengan hati puas.” Menik, bukan bocah yang biasa. Ia tidak diceritakan sebagai penakut, selalu meratap dan menyusahkan selama perang. 


Perang bukan sekadar air mata, makian, kematian, luka, dan lain-lain. Pengarang tetap menghadirkan jagatnya anak-anak yang sejenak mengelak dari kenyataan perang. Pada suatu hari, Menik tidak terlalu memikirkan perang. Ia berada dalam pengalaman yang wajar. Para pembaca justru mudah menerima peristiwa Menik: “Di sebelah kanan rumahku tinggal Pak Hardjowinoto, seorang kepala sekolah. Rumah yang anggun itu halamannya biasa tertutup. Tak seorang pun anak tetangga yang berani bermain-main di halaman itu. Di sudut halaman tumbuh pokok mangga manalagi. Kadang-kadang buahnya yang masak di pohon jatuh ke luar halaman dan aku biasa berlari-lari untuk memungutnya.” Perang masih memungkinkan adanya halaman anak makan mangga manalagi.  


Sejak halaman awal sampai akhir, pengarang memang menceritakan cerita tentang perang. Tokohnya adalah anak. Namun, masalah-masalah yang menguasai cerita terlalu besar dan ruwet bagi anak-anak. Pengarang tetap saja dapat memberikan peristiwa yang menarik saat Menik memasalahkan mangga. Yang menarik itu sedikit.


Kalimat terakhir dalam novel terbaca tidak menarik bila kita ingin menghormati hak-hak anak atas cerita. Pengarang menulis berlatar 27 Desember 1949: “Indonesia benar-benar telah merdeka! Merdeka!” Kalimat memang meninggikan derajat memuliakan Indonesia tapi kurang cocok dalam pengisahan untuk anak-anak, yang memerlukan imajinasi Indonesia tanpa sesak slogan dan pekik.


________


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Sunday, November 30, 2025

Esai Encep Abdullah | Ngalor-Ngidul tentang Novel "Andra"

Oleh Encep Abdullah




Pada 7 Oktober 2025, Mang Qizink menghubungi saya lewat WA dan berencana mencetak novel terbarunya berjudul Andra (Bulan Sabit dan Rosario). Pada hari itu juga, ia mengirim manuskrip novelnya. Katanya, tidak usah dicetak banyak—rencananya di bawah 100 eksemplar. Mang Qizink bilang, buku ini hanya untuk hadiah bagi peserta bila suatu saat ia menjadi pemateri atau narasumber kegiatan. Jadi, Anda yang hadir dalam pertemuan hari ini [diskusi di Rumah Dunia] mungkin termasuk orang-orang yang akan mendapatkan hadiah itu. Silakan tagih janji si penulis!


Sebelum buku ini dicetak, Mang Qizink sempat bilang belum ada fulus. Namun tidak lama kemudian, pada 13 Oktober 2025, ada pengumuman bahwa cerpennya menjadi Juara 1 Lomba Menulis Cerpen pada Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Provinsi Banten dan tentu dapat duit banyak. Harusnya dicetak banyak, nih. Katanya, untuk biaya UKT anaknya.


Saya daftarkan ISBN untuk novel tersebut. Kurang lebih sebulan kemudian, tepatnya 7 November 2025 ISBN keluar. Saya juga mengirim foto iseng kepada Mang Qizink: buku itu sedang dipegang oleh Pak Gubernur Andra Soni yang saya edit pakai Gemini. Mang Qizink tertawa. Buku cetakan pertama (tanpa edit) berjumlah 50 eksemplar pun selesai dicetak.


Tidak lama setelah buku Andra sampai di kediaman Mang Qizink, ia menelepon bahwa Pak Gubernur Banten memesan sejumlah 200 eksemplar. Mang Qizink pun mengirim sebuah foto: bukunya (yang edisi cetakan awal) benar-benar sedang dipegang Pak Andra, bahkan Pak Andra mempromosikannya di suatu tempat, saat beliau sedang memberi sambutan. Berarti memang benar, Pak Gubernur memang memesan buku tersebut. Saya bilang dalam hati, padahal foto saat saya kirim itu cuma bercanda. Malah jadi kenyataan. Dari sini saya sadar, jangan sepelekan candaan, bisa jadi itu memang doa.


Dugaan saya, mengapa Pak Andra tertarik dengan buku Mang Qizink, selain karena judulnya, mungkin karena ada satu bagian halaman yang menurut saya cukup “ger”. Saya kutip dari awal bab "Spanduk dan Sketsa" (hlm. 39):



Di sepanjang 2016, mahasiswa mencatat ada belasan kasus korupsi yang ditangani aparat penegak hukum. Pelakunya mulai dari tingkat kepala desa, pengusaha, eksekutif, hingga anggota dewan. Di sisi lain, sejumlah kerabat pejabat akan ikut kontestasi pemilihan kepala daerah. Mereka menambah daftar panjang jaringan dinasti politik di Banten.


“Bersihkan Banten dari para koruptor!” teriak Andra.


Andra tampil gagah berorasi. Suaranya lantang, kata-katanya tajam, dan langkahnya tegak penuh percaya diri. Ia tak hanya bersuara, tapi juga membawa keyakinan bahwa perubahan bukan hanya impian. Hampir lima belas menit, Andra bersuara. Menyampaikan pendapat sekaligus membakar semangat. Tubuhnya yang dibungkus kaus hitam polos telah basah oleh keringat.



Seolah-olah kutipan tersebut adalah kata-kata Andra Soni. Bagi saya, ini satu hal yang menarik terkait peluang dan nasib ke mana buku ini akan berlabuh. Entah penulis sengaja atau hanya kebetulan. Namun, ini bisa Anda tiru. Misalnya, menulis buku berjudul Gibran atau Prabowo. Siapa tahu mereka tertarik memborong buku Anda. Kalau saya, belum kepikiran.


Untuk cetakan 200 eksemplar yang dipesan Pak Gubernur, tentu buku Andra saya baca ulang untuk meminimalkan kesalahan typo atau bagian yang kurang pas. Jadi, kalau Anda membaca buku ini dan di dalamnya banyak typo, berarti Anda memegang cetakan awal. Kalau rapi dan minim kesalahan, berarti Anda membaca cetakan  yang sudah disunting. Saran saya, sebelum menerbitkan buku—baik sedikit atau banyak—usahakan baca sendiri dulu sampai benar-benar selesai. Jangan setengah-setengah. Kalau bisa, berikan kepada editor, baik untuk edit ringan maupun berat. Supaya buku dapat dinikmati pembaca.


Coba bayangkan, buku Anda dipesan Pak Gibran, tetapi banyak typo di dalamnya. Yang malu bukan hanya penulis, tetapi juga penerbit, bahkan Pak Gibran-nya. Jadi, jangan buru-buru kalau menulis buku ya, Dek!


Terkait novel Andra, setelah saya baca ulang dengan agak serius, saya cukup menikmati permainan bahasa dan deskripsi penulis. Jujur, saya sudah jarang membaca novel sampai selesai. Terakhir saya baca (ulang) Layla Majnun karya Nizami Ganjavi, itu pun tinggal satu atau dua bab lagi. Juga The Stranger (Orang Asing) karya Albert Camus, dan itu pun tidak selesai. Membaca bila tidak ada kepentingan memang terasa berat. Saya menghabiskan buku Andra karena ada kepentingan: menyunting ulang bukunya dan membedahnya dalam acara di Rumah Dunia. Mau tidak mau harus dibaca, sekaligus "dicoret-coreti". Kurang afdal rasanya diskusi buku tanpa tulisan/ulasan selebaran yang dibagikan kepada peserta diskusi. Budaya seperti ini harus terus dilestarikan.


Jadi, kalau Anda ingin serius membaca buku, harus ada kepentingan, apa pun itu. Jangan hanya iseng belaka karena bisa jadi mubazir. Mungkin kita malas karena kurang paham, padahal bisa jadi itu tantangan. Cobalah becermin pada filsuf Muslim, Ibn Sina. Ia tidak akan membaca halaman berikutnya sebelum memahami halaman sebelumnya. Gila memang. Untungnya, novel Andra tidak serumit itu. Anda bisa membacanya sambil ngupil.


Walaupun tidak rumit, Anda harus fokus. Jika tidak, Anda tidak akan menikmati setiap detail deskripsi yang penulis hadirkan. Saya sampai geleng-geleng: kok bisa Mang Qizink bernapas begitu panjang mendeskripsikan sesuatu dalam novel Andra, bahkan sampai berhalaman-halaman. Mari baca pada bab "Janji Menguak Luka" (hlm. 44):



Andra melewati pintu depan rumah, Tienz mengikuti di belakang. Ruang tamu Andra juga tampak sederhana dengan cat serupa dengan bagian depan. Hanya ada sofa kecil dengan meja kayu yang dihiasi pot bunga mini. Di sisi sofa ada kipas angin berdiri. Di dinding terlihat foto Andra saat masih kecil bersama kedua orang tuanya.


Di sisi kiri terlihat deretan dua pintu kamar tidur, sementara di ujung lorong terlihat cermin besar memantulkan suasana bagian belakang rumah yang difungsikan sebagai dapur dan ruang makan. Lampu neon di langit-langit menyala memberikan pencahayaan yang hangat pada ruang berlantai keramik putih tersebut.


Meja dapur di bagian belakang tertata rapi dengan sebuah penutup saji berhias kain motif bunga. Berbagai peralatan masak tergantung di dinding, tepat di atas kompor gas dan rak piring. Warna perabot yang beragam memberi kesan hidup pada ruang ini, sementara pintu terbuka mengarah ke luar rumah, memberikan pandangan ke area belakang rumah yang diterangi sinar matahari.


Andra duduk di sisi kanan meja makan, lalu mempersilakan Tienz duduk di sampingnya. Emak Andra duduk berhadapan dengan Andra dan Tienz. Andra membuka tutup saji. Di atas meja tampak dua sate bandeng utuh, sepiring sayur kulit melinjo merah, opor ayam, dan sambal goreng.



Deskripsi macam itu bertebaran di banyak halaman. Ini mengingatkan saya pada cerpen Kritikus Adinan karya Budi Darma. Setiap detail kalimatnya menuntut fokus agar tidak kehilangan momen imajinasi, seolah film di kepala kita. Bila Anda lengah sedikit saja, kenikmatan itu hilang.


Atau coba Anda baca novel puitis Cala Ibi karya Nukila Amal, novel “mumet” Don Quixote karya Miguel de Cervantes, atau A Portrait of the Artist as a Young Man karya James Joyce. Novel Andra juga puitis, tetapi renyah dan tidak berbelit-belit. Saya kebangetan sekali ya, membandingkan Mang Qizink dengan para maestro dunia itu. Tapi siapa tahu suatu hari nanti karya Mang Qizink bisa sekelas mereka. Bisa mendunia.


Untuk menceritakan lebih-lebihnya dalam buku ini, saya sampaikan secara langsung dalam diskusi, tidak dalam tulisan ini. Tapi, intinya buku ini mengajak pembaca untuk merefleksikan tiga hal. Kalau saya kutip dari buku psikologis Konflik-Konflik Batin karya Karen Horney, saat terjadi konflik, kita bisa memilih (1) bergerak mendekati [kepada orang atau objek yang membuatnya merasa dilindungi], (2) bergerak menentang [secara sadar/tidak sadar ingin bertarung sebagai bentuk melindungi diri/balas dendam, (3) bergerak menjauh [tidak ingin menjadi bagian atau terlibat karena beda visi dan lebih memilih membangun dunianya sendiri]. 


Dalam novel Andra semua ada. Tokoh Arfan, bergerak mendekati karena merasa dilindungi oleh uang dan kekuasaan. Tokoh Andra dan Tienz, bergerak menentang dengan cara bertarung atau memperjuangkan diri akan cinta bahkan berupaya mendekonstruksi dogma atau keyakinan. Tokoh orang tua Tienz, bergerak menjauh karena mereka sangat traumatis terhadap masa lalu sehingga mereka lebih memilih untuk tidak terlibat dalam hal-hal yang membuat mereka diserang terus-menerus secara batin. Barangkali semua itu adalah representasi dari kehidupan manusia, terlepas apa pun masalahnya.


Selain itu, yang unik dalam novel Andra, penulis menghadirkan tokoh-tokoh yang abu-abu, munafik, dan paradoks. Misalnya tokoh Andra. Ia adalah sosok yang rajin salat, tidak mau patuh pada dogma, bahkan menolak untuk ikut demo penistaan agama. Di halaman 27, Andra dinarasikan bahwa dalam pandangannya, orang yang beragama tapi tak melaksanakan ajaran agamanya secara utuh adalah penista agama sesungguhnya. Bagi Andra, koruptor adalah penista agama. Koruptor adalah orang-orang yang sangat jelas melanggar ajaran agama dan merugikan rakyat. 


Anehnya, di luar sana Andra jalan berdua terus dengan Tienz, bahkan sempat berpelukan. Anda tahu dalam ajaran agama, itu tidak diperbolehkan. Ini satu paradoks yang dihadirkan penulis. Juga tokoh lain seperti Arfan, yang religius, tapi munafik, segala yang dia sampaikan itu tidak sesuai dengan hati nuraninya. Namun, ini mennunjukkan bahwa manusia ideal itu langka. Manusia yang sangat dan superideal menurut saya adalah ia yang alim, arif, dan taat. Tokoh dalam cerita Andra, tidak. Ada yang alim, arif, tapi tidak taat. Ada yang taat dan arif, tapi munafik. Mungkin di sekitar kita Ada juga yang tidak alim, tidak arif, juga tidak taat. Nauzubillah. Minimal kalau tidak menjadi tiga-tiganya, kita ada di salah satunya atau salah duanya. Dan, kita terus berproses agar memenuhi ketiganya.


Sebenarnya saya ingin menulis banyak tentang Andra, tapi karena kesibukan saya yang luar biasa di sekolah, waktu saya juga mepet-mepet, bahkan tulisan ini saya paksa bikin pukul 11.30 dan selesai pukul 12.45 sebelum acara diskusi buku dimulai.


Wabillahi taufik walhidayah. Wassalamualaikum wr. wb.



Catatan:

Tulisan ini disampaikan dalam acara Panggung Sastra Rumah Dunia: Bedah Novel Andra karya Qizink La Aziva di Cafe Rendez-vous Rumah Dunia pukul 13.30 s.d. selesai.




_______


Penulis


Encep Abdullah, tukang ngecaprak.



Sunday, September 15, 2024

Esai Sul Ikhsan | Saya Adalah Seorang Pemilih!

Esai Sul Ikhsan



Setiap menjelang pemilihan umum, saya kerap gelisah. Salah satu alasan utama saya adalah karena saya menganggap momen yang disebut banyak orang sebagai pesta demokrasi ini berdampak pada banyak hal, minimal bagi saya dan orang-orang terdekat.


Sejak pertama kali saya sah sebagai manusia yang diizinkan untuk ikut mencoblos di TPS, sejak itu pula kekecewaan demi kekecewaan menelisik masuk ke diri saya. Kekecewaan itu bukan berasal dari kekalahan pilihan saya, atau tak kebagian amplop serangan fajar, melainkan ada banyak hal yang saya anggap tak beres dalam sistem ini dan dampak yang ditimbulkannya. 


Saya yakin Anda akan bisa menyebutkan puluhan contoh kasusnya. Tetapi satu pertanyaan yang selalu membuat saya gelisah, mengapa kita tak pernah bisa hanya menjadi seorang pemilih alih-alih pendukung? Fanatik pula. Bagi saya, ketidakmampuan kita memosisikan diri hanya sebagai seorang pemilih inilah faktor utama saya meyakini bahwa sistem demokrasi–dalam hal ini turunannya adalah pemilu–belum cocok di negara kita. 


Bayangkan saja, pemilu membuat suara seorang lulusan SD yang, maaf, memiliki pengetahuan di bawah seorang profesor dianggap sama. Secara konsep, sistem ini bagus karena memungkinkan setiap orang memiliki hak yang sama dalam menentukan siapa pemimpinnya. Namun praktiknya, sistem ini menimbulkan banyak celah. Apa artinya memiliki hak yang sama dalam hal menentukan pemimpin, namun gagal dalam mendapat hak yang sama dalam menerima kebijakannya? Di titik ini saya tak setuju demokrasi. Apa saya ini seorang komunis? Sosialis? Atau seorang Khilafah? Entahlah! Saya tak cukup yakin.


Yang jelas, makin ke sini saya makin pesimis lantaran sistem demikian tak menjadi pintu masuk bagi pemimpin-pemimpin yang kelak memperjuangkan kepentingan rakyat. Malah sebaliknya, sistem pemilu memungkinkan setiap calon pemimpin menggunakan cara curang dengan kadar kesanggupannya masing-masing yang bertujuan hanya untuk menang. Rakyat? Ya urus sendiri masing-masing, apalagi yang terverifikasi tak memilih sang pemenang.


Coba bayangkan lagi, hasil yang dituju ialah menang. Semua masyarakat memiliki hak suara yang sama, tak peduli apa latar belakangnya. Setiap calon tentu akan berjibaku menggunakan berbagai cara untuk merengkuh suara itu. Mereka akan mencari formula yang memungkinkan dirinya dipilih mayoritas. Jika mayoritas suara hanya cukup dengan dua lembar ratusan ribu untuk memenangkan seorang calon, untuk apa menggunakan cara lain? Jika mayoritas suara menginginkan hanya cukup menjadi populer, ganteng, cantik, dan, berpakaian islami untuk menang, untuk apa menggunakan cara dialog pengetahuan yang melelahkan? Wong intinya menang. 


Dalam hal ini saya kemudian menyadari bahwa mayoritas suara inilah yang mesti di rukiah, bukan sistemnya. Saya tak berani menyebut masyarakat kita bodoh karena mereka tak berusaha untuk pintar dan mengerti. Tetapi saya meyakini bahwa masyarakat dibuat begitu, dibuat bodoh dan tak mengerti sehingga konsep yang bagus dari sistem demokrasi dimanfaatkan oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Merekalah yang menciptakan lingkaran setan ini: kondisi masyarakat bodoh dan tak mengerti -->  calon pemimpin memanipulasi hak suara --> pemimpin yang tak membawa kepentingan rakyat terpilih --> sang pemimpin membuat kebijakan yang tak berpihak pada rakyat --> pemimpin mempertahankan kondisi masyarakat yang bodoh --> calon pemimpin memanipulasi hak suara --> pemimpin yang tak membawa kepentingan rakyat terpilih. Begitu seterusnya. Maafkan saya. Diakui atau tidak, itulah kenyataannya. 


Rukiah demi rukiah telah diupayakan oleh banyak elemen yang berniat baik, seperti memberikan pendidikan politik, membuat jargon, jingle, dan tarian-tarian yang akrab dengan akar rumput. Tetapi, nahas, sistem pemilu makin hari makin mengenaskan dan tak ada artinya–setidaknya menurut saya. 


Berpolitik dalam alam demokrasi ya begini. Ketertarikan mayoritas menjadi penentu seseorang meraih kekuasaan. Machiavelli pernah bilang begitu, dan teori inilah yang sedang dipakai atau setidaknya ditiru. Katanya, untuk mempertahankan kekuasaan, seorang penguasa diperbolehkan menerapkan dan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya. Jika ketertarikan mayoritas adalah uang, ya calon penguasa akan menggunakan uang sebagai tangga menuju kekuasaan itu. Ketika katakanlah dengan cara curang kekuasaan bisa dicapai dan sebagian besar masyarakat memilih mereka yang menggunakan cara itu, kemenangan tetap sah. Sebanyak kemenangan itulah masyarakat menginginkannya.


Memang sangat kompleks untuk mengurai masalah ini. Tapi, bukan berarti tak ada jalan. Setelah saya mengalami patah hati politik dalam pemilu raya mahasiswa di kampus, saya menarik diri dari perhelatan “sok memberikan hak suara yang sama” yang bernama pemilu itu. Setiap diajak gabung untuk ikut terlibat sebagai apa pun, saya selalu menghindarinya. Saya berpikir bahwa semua sistem pemilu, di mana pun letak dan jenjangnya, sama. Sekalipun di tengah orang-orang yang bisa membaca dan menghitung hukum kekekalan energi. Apakah mereka bodoh? Rasanya tidak mungkin. Oh iya, hanya pemilu tingkat SMP saja yang masih bersih.


Saya akhirnya sampai pada keputusan bahwa dalam kontes politik tingkat mana pun saya hanya akan jadi seorang pemilih. Saya akan berusaha sekuat tenaga memilih calon yang tersedia dengan kemampuan yang saya miliki tanpa intervensi dari siapa pun. Menelusuri rekam jejaknya, menganalisis sosoknya, menimbang apa yang perlu ditimbang, dan menentukan pilihan dengan sadar. Apakah ada kemungkinan salah pilih? Tentu saja ada.  Kalaulah tak ada calon yang menurut saya layak setelah upaya saya menyelami itu, ya saya golput. Ngapain saya harus membuang waktu libur satu hari saya untuk memilih setan-setan itu? 


Itulah upaya saya. Saya tak mau memilih berdasar popularitas, ia berada di partai mana, ia anak siapa, atau ia zodiaknya apa. Saya akan memutuskan untuk memilih ketika saya merasa apa yang saya butuhkan cukup. Bukankah ini sesuai dengan 11 prinsip penyelenggaraan pemilu dan jargonnya yang luber jurdil itu?


Menjadi pemilih artinya mempertahankan integritas individu di atas “hak yang sama” yang dicita-citakan sistem ini. Tanpa menerima iming-iming apa-apa, bergantung pada sang calon, menjadi fanatik yang membela, menjilat, mengampanyekan habis-habisan si calon akan memberikan keleluasaan mereka untuk memanipulasi hak suara kita yang pada gilirannya menyeret orang lain untuk ikut bersama kita. Bahkan, setelah si calon terpilih kita merasa segan untuk mengkritik dan mengontrol kebijakan mereka karena kita telah masuk dalam pusaran: saya pendukung mereka.  


Apakah menjadi pendukung, timses, masuk partai, ikut andil dalam pesta, itu salah? Tentu saja tidak. Bukan itu titik simpulnya. Ketidakmampuan kita menarik diri dan menjaga jarak dari “sang penguasa” yang kita dukung itulah yang jadi masalah. Kita tak selesai hanya sebagai pendukung. Kita terus melanjutkan sebagai pembela, penjilat, dan bahkan, mohon maaf, penyembah. Dalam hal ini menurut saya, kebodohan bukan sebab utamanya, hanya saja ia salah satunya. Kepentingan pribadi dan kelompok, kehausan akan kekuasaan menjadi faktor lain yang ikut menjadi penyebab. Apakah wajar? Silakan. Berarti bersiaplah dengan segala kerusakannya.


Akhirnya, kekecewaan adalah harga mahal yang harus saya bayar dari sikap politik sebagai seorang pemilih.  Tetapi saya bangga. Saya yakin banyak orang di luar sana yang punya pandangan sama seperti saya dengan beragam konsepnya yang lebih mapan. Maka, saya menginginkan setiap orang punya sikap yang sama seperti saya yang akan menjadi integritas sebagai seorang pemilih. Bukan pendukung, penjilat atau apa pun istilahnya. Kita tak seharusnya mati-matian membela seseorang yang bahkan pada gilirannya akan menelantarkan kita. Bertabayun, memilih, mengawasi, dan mengkritik. Begitulah seharusnya pemilu di alam demokrasi dirayakan. Mungkin ada banyak cara lain, tetapi bagi saya ini adalah pukulan sekaligus pertahanan  terakhir yang bisa saya lakukan. Seperti apa kata idola saya, Tan Malaka, pada pukulan terakhir yang menentukan, kita hanya bisa mendapatkan kemenangan jika kita juga berinisiatif bertahan agar pukulan terakhir yang menentukan itu bisa mewujudkan kemenangan.  


Apa yang saya ingin menangkan? Semua orang yang ikut merayakan pesta demokrasi ini menjadi seorang pemilih!


Tabik.


_______

Penulis


Sul Ikhsan, Pemimpin Redaksi NGEWIYAK.