Sunday, November 30, 2025

Esai Encep Abdullah | Ngalor-Ngidul tentang Novel "Andra"

Oleh Encep Abdullah




Pada 7 Oktober 2025, Mang Qizink menghubungi saya lewat WA dan berencana mencetak novel terbarunya berjudul Andra (Bulan Sabit dan Rosario). Pada hari itu juga, ia mengirim manuskrip novelnya. Katanya, tidak usah dicetak banyak—rencananya di bawah 100 eksemplar. Mang Qizink bilang, buku ini hanya untuk hadiah bagi peserta bila suatu saat ia menjadi pemateri atau narasumber kegiatan. Jadi, Anda yang hadir dalam pertemuan hari ini [diskusi di Rumah Dunia] mungkin termasuk orang-orang yang akan mendapatkan hadiah itu. Silakan tagih janji si penulis!


Sebelum buku ini dicetak, Mang Qizink sempat bilang belum ada fulus. Namun tidak lama kemudian, pada 13 Oktober 2025, ada pengumuman bahwa cerpennya menjadi Juara 1 Lomba Menulis Cerpen pada Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Provinsi Banten dan tentu dapat duit banyak. Harusnya dicetak banyak, nih. Katanya, untuk biaya UKT anaknya.


Saya daftarkan ISBN untuk novel tersebut. Kurang lebih sebulan kemudian, tepatnya 7 November 2025 ISBN keluar. Saya juga mengirim foto iseng kepada Mang Qizink: buku itu sedang dipegang oleh Pak Gubernur Andra Soni yang saya edit pakai Gemini. Mang Qizink tertawa. Buku cetakan pertama (tanpa edit) berjumlah 50 eksemplar pun selesai dicetak.


Tidak lama setelah buku Andra sampai di kediaman Mang Qizink, ia menelepon bahwa Pak Gubernur Banten memesan sejumlah 200 eksemplar. Mang Qizink pun mengirim sebuah foto: bukunya (yang edisi cetakan awal) benar-benar sedang dipegang Pak Andra, bahkan Pak Andra mempromosikannya di suatu tempat, saat beliau sedang memberi sambutan. Berarti memang benar, Pak Gubernur memang memesan buku tersebut. Saya bilang dalam hati, padahal foto saat saya kirim itu cuma bercanda. Malah jadi kenyataan. Dari sini saya sadar, jangan sepelekan candaan, bisa jadi itu memang doa.


Dugaan saya, mengapa Pak Andra tertarik dengan buku Mang Qizink, selain karena judulnya, mungkin karena ada satu bagian yang menurut saya cukup “ger”. Saya kutip dari awal bab Spanduk dan Sketsa (hlm. 39):



Di sepanjang 2016, mahasiswa mencatat ada belasan kasus korupsi yang ditangani aparat penegah hukum. Pelakunya mulai dari tingkat kepala desa, pengusaha, eksekutif, hingga anggota dewan. Di sisi lain, sejumlah kerabat pejabat akan ikut kontestasi pemilihan kepala daerah. Mereka menambah daftar panjang jaringan dinasti politik di Banten.


“Bersihkan Banten dari para koruptor!” teriak Andra.


Andra tampil gagah berorasi. Suaranya lantang, kata-katanya tajam, dan langkahnya tegak penuh percaya diri. Ia tak hanya bersuara, tapi juga membawa keyakinan bahwa perubahan bukan hanya impian. Hampir lima belas menit, Andra bersuara. Menyampaikan pendapat sekaligus membakar semangat. Tubuhnya yang dibungkus kaus hitam polos telah basah oleh keringat.



Seolah-olah kutipan tersebut adalah kata-kata Andra Soni. Bagi saya, ini satu hal yang menarik terkait peluang dan nasib ke mana buku ini akan berlabuh. Entah penulis sengaja atau hanya kebetulan. Namun, ini bisa Anda tiru. Misalnya, menulis buku berjudul Gibran atau Prabowo. Siapa tahu mereka tertarik memborong buku Anda. Kalau saya, belum kepikiran.


Untuk cetakan 200 eksemplar yang dipesan Pak Gubernur, tentu buku Andra saya baca ulang untuk meminimalkan kesalahan typo atau bagian yang kurang pas. Jadi, kalau Anda membaca buku ini dan di dalamnya banyak typo, berarti Anda memegang cetakan awal. Kalau rapi dan minim kesalahan, berarti Anda membaca cetakan  yang sudah disunting. Saran saya, sebelum menerbitkan buku—baik sedikit atau banyak—usahakan baca sendiri dulu sampai benar-benar selesai. Jangan setengah-setengah. Kalau bisa, berikan kepada editor, baik untuk edit ringan maupun berat. Supaya buku dapat dinikmati pembaca.


Coba bayangkan, bukumu dipesan Pak Gibran, tetapi banyak typo di dalamnya. Yang malu bukan hanya penulis, tetapi juga penerbit, bahkan Pak Gibran-nya. Jadi, jangan buru-buru kalau menulis buku ya, Dek!


Terkait novel Andra, setelah saya baca ulang dengan agak serius, saya cukup menikmati permainan bahasa dan deskripsi penulis. Jujur, saya sudah jarang membaca novel sampai selesai. Terakhir saya baca (ulang) Layla Majnun karya Nizami Ganjavi, itu pun tinggal satu atau dua bab lagi. Juga The Stranger (Orang Asing) karya Albert Camus, dan itu pun tidak selesai. Membaca bila tidak ada kepentingan memang terasa berat. Saya menghabiskan buku Andra karena ada kepentingan: menyunting ulang bukunya dan membedahnya dalam acara di Rumah Dunia. Mau tidak mau harus dibaca, sekaligus "dicoret-coreti". Kurang afdal rasanya diskusi buku tanpa tulisan/ulasan selebaran yang dibagikan kepada peserta diskusi. Budaya seperti ini harus terus dilestarikan.


Jadi, kalau Anda ingin serius membaca buku, harus ada kepentingan, apa pun itu. Jangan hanya iseng belaka karena bisa jadi mubazir. Mungkin kita malas karena kurang paham, padahal bisa jadi itu tantangan. Cobalah becermin pada filsuf Muslim, Ibn Sina. Ia tidak akan membaca halaman berikutnya sebelum memahami halaman sebelumnya. Gila memang. Untungnya, novel Andra tidak serumit itu. Anda bisa membacanya sambil ngupil.


Walaupun tidak rumit, Anda harus fokus. Jika tidak, Anda tidak akan menikmati setiap detail deskripsi yang penulis hadirkan. Saya sampai geleng-geleng: kok bisa Mang Qizink bernapas begitu panjang mendeskripsikan sesuatu dalam novel Andra, bahkan sampai berhalaman-halaman. Mari baca pada bab "Janji Menguak Luka" (hlm. 44):



Andra melewati pintu depan rumah, Tienz mengikuti di belakang. Ruang tamu Andra juga tampak sederhana dengan cat serupa dengan bagian depan. Hanya ada sofa kecil dengan meja kayu yang dihiasi pot bunga mini. Di sisi sofa ada kipas angin berdiri. Di dinding terlihat foto Andra saat masih kecil bersama kedua orang tuanya.


Di sisi kiri terlihat deretan dua pintu kamar tidur, sementara di ujung lorong terlihat cermin besar memantulkan suasana bagian belakang rumah yang difungsikan sebagai dapur dan ruang makan. Lampu neon di langit-langit menyala mem-berikan pencahayaan yang hangat pada ruang berlantai keramik putih tersebut.


Meja dapur di bagian belakang tertata rapi dengan sebuah penutup saji berhias kain motif bunga. Berbagai peralatan masak tergantung di dinding, tepat di atas kompor gas dan rak piring. Warna perabot yang beragam memberi kesan hidup pada ruang ini, sementara pintu terbuka mengarah ke luar rumah, memberikan pandangan ke area belakang rumah yang diterangi sinar matahari.


Andra duduk di sisi kanan meja makan, lalu mempersilakan Tienz duduk di sampingnya. Emak Andra duduk berhadapan dengan Andra dan Tienz. Andra membuka tutup saji. Di atas meja tampak dua sate bandeng utuh, sepiring sayur kulit melinjo merah, opor ayam, dan sambal goreng.



Deskripsi macam itu bertebaran di banyak halaman. Ini mengingatkan saya pada cerpen Kritikus Adinan karya Budi Darma. Setiap detail kalimatnya menuntut fokus agar tidak kehilangan momen imajinasi, seolah film di kepala kita. Bila Anda lengah sedikit saja, kenikmatan itu hilang.


Atau coba Anda baca novel puitis Cala Ibi karya Nukila Amal, novel “mumet” Don Quixote karya Miguel de Cervantes, atau A Portrait of the Artist as a Young Man karya James Joyce. Novel Andra ini juga puitis, tetapi renyah dan tidak berbelit-belit. Saya kebangetan sekali ya, membandingkan Mang Qizink dengan para maestro dunia itu. Tapi siapa tahu suatu hari nanti karya Mang Qizink bisa sekelas mereka. Bisa mendunia.


Untuk menceritakan lebih-lebihnya dalam buku ini, saya sampaikan secara langsung dalam diskusi, tidak dalam tulisan ini. Tapi, intinya buku ini mengajak pembaca untuk merefleksikan tiga hal. Kalau saya kutip dari buku psikologis Konflik-Konflik Batin karya Karen Horney, saat terjadi konflik, kita bisa memilih (1) bergerak mendekati [kepada orang atau objek yang membuatnya merasa dilindungi], (2) bergerak menentang [secara sadar/tidak sadar ingin bertarung sebagai bentuk melindungi diri/balas dendam, (3) bergerak menjauh [tidak ingin menjadi bagian atau terlibat karena beda visi dan lebih memilih membangun dunianya sendiri]. 


Dalam novel Andra semua ada. Tokoh Arfan, bergerak mendekati karena merasa dilindungi oleh uang dan kekuasaan. Tokoh Andra dan Tienz, bergerak menentang dengan cara bertarung atau memperjuangkan diri akan cinta bahkan berupaya mendekonstruksi dogma atau keyakinan. Tokoh orang tua Tienz, bergerak menjauh karena mereka sangat traumatis terhadap masa lalu sehingga mereka lebih memilih untuk tidak terlibat dalam hal-hal yang membuat mereka diserang terus-menerus secara batin. Barangkali semua itu adalah representasi dari kehidupan manusia, terlepas apa pun masalahnya.


Selain itu, yang unik dalam Andra ini, penulis menghadirkan tokoh-tokoh yang abu-abu, munafik, dan paradoks. Misalnya tokoh Andra. Ia adalah sosok yang rajin salat, tidak mau patuh pada dogma, bahkan menolak untuk ikut demo penistaan agama. Di halaman 27, Andra dinarasikan bahwa dalam pandangan Andra, orang yang beragama tapi tak melaksanakan ajaran agamanya secara utuh adalah penista agama sesungguhnya. Bagi Andra, koruptor adalah penista agama. Koruptor adalah orang-orang yang sangat jelas melanggar ajaran agama dan merugikan rakyat. 


Anehnya, Andra jalan berdua terus dengan Tienz, bahkan sempat berpelukan. Anda tahu dalam ajaran agama, itu tidak diperbolehkan. Ini satu paradoks yang dihadirkan penulis. Juga tokoh lain seperti Arfan, yang religius, tapi munafik, segala yang dia sampaikan itu tidak sesuai dengan hati nuraninya. Namun, ini mennunjukkan bahwa manusia ideal itu langka. Manusia yang sangat dan superideal menurut saya adalah ia yang alim, arif, dan taat. Tokoh dalam cerita Andra, tidak. Ada yang alim, arif, tapi tidak taat. Ada yang taat dan arif, tapi munafik. Ada juga yang tidak alim, tidak arif, juga tidak taat. Nauzubillah. Minimal kalau tidak menjadi tiga-tiganya, kita ada di salah satunya atau salah duanya. Dan, terus berproses agar memenuhi ketiganya.


Sebenarnya saya ingin menulis banyak tentang Andra, tapi karena kesibukan saya yang luar biasa di sekolah, waktu saya juga mepet-mepet, bahkan tulisan ini saya paksa bikin pukul 11.30 dan selesai pukul 12.45 sebelum acara diskusi buku dimulai.


Wabillahi taufik walhidayah. Wassalamualaikum wr. wb.



Catatan:

Tulisan ini disampaikan dalam acara Panggung Sastra Rumah Dunia: Bedah Novel Andra karya Qizink La Aziva di Cafe Rendez-vous Rumah Dunia pukul 13.30 s.d. selesai.




_______


Penulis


Encep Abdullah, tukang ngecaprak.