Jumat, 27 Agustus 2021

Resensi M. Nanda Fauzan | Nyamnyong: Upaya Percobaan yang Hampir, dan Jebakan untuk Menulis yang Liyan

Resensi M. Nanda Fauzan

Judul: Nyamnyong
Penulis: Encep Abdullah
Penerbit: #Komentar
Tahun: Februari 2021
Ukuran: 12 x 18
Tebal: 140 hlm.
ISBN: 678-623-7630-60-9


Hasil pembacaan atas Nyamnyong, karya Encep Abdullah Paling  tidak  dua  dasawarsa  terakhir,  geliat  penulisan  prosa  kita—terutama  cerita pendek—terasa  sekali  disesaki  oleh  kehendak  untuk mengambil jarak  pada  segala  yang konvensional. Berusaha melompat, atau mungkin melampaui, aturan-aturan dan formula yang kaku dan beku. Bahwa dalam cerita pendek, paling tidak ada unsur-unsur tertentu yang "wajib" terpenuhi. Para kreator kita—untuk tak menyebutnya sastrawan—bertungkus-lumus mengolah produk yang sama sekali berbeda baik dalam tataran bentuk maupun tema. 

Barangkali,  tradisi  demikian  dimulai  sejak  Cala  Ibi,  novel  rumit  yang  menceritakan dirinya  sendiri,  sejenis  metafiksi  yang  sadar  bentuk  (lihat  kritik  sastra  Bramantio  atas  novel Nukila  Amal  ini,  dalam  Sayembara DKJ 2009).  Atau  dalam  pengertian  yang  agak  longgar, cerita-cerita  pendek  gelap  khas  Danarto  dan  olahan  dialog  pingpong  ala  Putu  Wijaya  boleh juga dimasukkan dalam jajaran peneroka. Upaya  percobaan  itu  senantiasa harus diapresiasi.  Sebab;  pertama  sebagai  penolakan terhadap sesuatu yang final (sebagaimana yang saya ungkap di awal), kedua berpotensi medan medan  pertempuran  yang  menagih  segala  keterampilan para pendekarnya—yang  bukan sekadar—untuk tampil beda. Encep ada pada posisi itu. 

Sejak membaca cerita pendek berjudul "Solilokui Strukturalisme Cerita Pendek dan Kematiannya  di  Tangan  Cerpenis",  telah  terbaca  bahwa Encep sedang mencoba-coba bentuk baru, dia menuangkan ceritanya dalam fragmen-fragmen yang mengacu pada struktur konvensional prosa: judul, plot, penokohan, latar, sudut pandang, dan lain sebagainya.

Percobaan Encep hampir memukau. Di sana bisa kita temukan eksperimen yang bukan sekadar mengambil jarak pada yang mapan, tetapi sekaligus berusaha membuat parodi atasnya, atau dalam bahasa yang lebih kasar; menelanjangi sembarimengolok-olok. Di bagian "Judul" narator cerita Encep menyebut beberapa contoh judul prosa dari Putu Wijaya  dan  Benny  Arnas, yang  begitu  kontradiktif;  yang  satu  singkat-padat  sementara  yang lainnya panjang bukan kepalang. Dan praktik itu terus dilakukan di seluruh tubuh cerita. Dalam bagian "tokoh dan penokohan" ia mengungkap kecenderungan pilihan nama-nama tokoh, bahwa “tidak mau memberi nama tokoh seperti Ken, Boy, Jessen, atau berbau-bau barat” tetapi lebih tertarik pada “Durakhim, Sarkim, Somad, Juned, Gora”. 

Saya  menikmati  cerita  itu,  sangat  menikmati.  Ada  kenakalan,  kegenitan,  keberanian, meski  kadang-kadang  menjadi  ajang  atraksi yang  menampilkan  keluasan wawasan  Encep sendiri. Tetapi, tokoh  utama  dalam  cerita  ini  dibikin  polos  tak  berdaya,  dan narator  dengan segala ungkapan-ungkapannya lebih terlihat sebagai sosok yang "banyak bacot". 

Apabila rumus mendasar dari lelucon adalah posisi tak setara, di mana yang satu tampil sebagai pesakitan sementara yang lain jagoan, maka cerita ini berhasil membuat saya terhibur dengan  cara  yang  elegan,  rapi,  cerdas,  dan menjengkelkan.Tetapi  sebatas  pada  cerita  ini. Sementara pada cerita yang lain, saya sepakat dengan hasil pembacaan (Beliau menggunakan istilah  "pemindaian")  Kang Rois  Rinaldi  di  kata pengantar, yang  mengajak  kita  sejenak bertanya-tanya: “untuk apa?” pada kegemaran Encep membuat plesetan. Sebab, untuk disebut lucu pun belum, sementara masuk dalam kategori mengejek (baik dalam konotasi yang buruk atau yang baik) pun tidak. Meski  begitu,  Encep adalah penulis  yang  mapan dalam urusan  teknik.  Dan  untuk membuat  percobaan—terlebih  yang  radikal—para  penulis  memang  harus  melewati tahap craftmenship yang mendasar, membuat cerita yang konvensional. Ibarat pelukis, mereka tak mungkin  langsung  terjun  pada  gaya  ekspresi  yang  macam-macam  dan  njlimet, tetapi  belum mapan pada gaya realis. 

Rangkain  percobaan  itu  juga  tertuang  dalam  cerita-cerita  lainnya. Tetapi,  harus digarisbawahi,  bahwa beberapa  cerita  tak  seekstrem "Strukturalisme  Cerita  Pendek  dan Kematiannya  di  Tangan  Cerpenis". Lihat,  misalnya, "Solilokui  Seekor  Cicak", dan "Siapa  yang Membangun Masjid?". Godaan untuk menulis yang liyan “Sudah,  tiga  kali,”  demikian  jawaban  Encep  ketika  ditanya  apakah  dirinya  pernah mampir atau melancong ke Baduy. Pertanyaan ini saya ajukan sebab, bagi saya, di antara semua cerita yang dikumpulkan dalam Nyamnyong, cerita ini satu-satunya yang mengandung banyak lubang dalam tubuhnya. Apabila tak dibarengi dengan teknik apik menyisipkan nilai-nilai budaya lokal dengan begitu soft (misalnya,  adegan si  pemuda  Kanekes  naik  mobil,  yang  adalah larangan bagi komunitasnya) barangkali "Cerita Cinta Orang Kanekes" hanya akan menjadi naskah FTV yang tipikal. 

Encep sebagai "Outsider", sebetulnya bisa  mengolah dimensi ke-manusia-an tokohnya tanpa tendensi. Bahwa manusia adalah manusia adalah manusia adalah manusia, entah lahir di Kanekes,  Zimbabwe, atau  Timbuktu.   Manusia   selalu   punya   potensi  untuk   melakukan kesalahan dan kebaikan, berbudi baik atau buas (dengan standar moral apa pun).Tak ada yang bisa  sepenuhnya  jahat,  tak  ada  yang  mungkin  sepenuhnya  baik.  Singkat  kata tak  ada  yang sepenuhnya suci, kecuali Nabi Muhammad saw. Yang  terhampar  dalam "Cerita  Cinta  Orang  Kanekes" adalah pelanggengan  terhadap stereotip, over generalisasi. Bahwa orang Kanekes senantiasa polos, sehingga ia mau terjebak pada cinta yang—sebetulnya ia sendiri sadari—begitu platonis. 

Dan bahwa orang tua di kota, yang  tumbuh  dengan  hiruk  pikuk  modernitas, punya  kegemaran  menjatuhkan  penghakiman pada kelompok lain. Dan sejumput kontradiksi lainnya. Dalam  dunia  nyata,  stereotip  semacam  itu  dengan  mudah ditepis  oleh  data  dan  fakta jika  hendak  mengambil  contoh  ekstrem,  kita  akan temukan  paradoks—yang  diam-diam berusaha kita ingkari. Seorang pemuka agama mencabuli muridnya, sementara seorang preman membantu nenek-nenek menyeberang di lampu merah. Seorang bocah dari desa tak acuh pada lingkungan, sementara pemuda dari kota bergiat menanam pepohonan. Dan lain sebagainya. Tetapi perkara semacam itu memang lazim terjadi, terutama tatkala penulis berusaha memajalkan  imajinasi  terhadap  sesuatu  yang  liyan,  berusaha  menulis  adat,  tradisi,  kearifan lokal yang sama sekali jauh dan asing. Segala yang ia tulis kadangkala direcoki oleh framing media,  oleh tatapan yang  bias,  sehingga keinginan  untuk  memuja tokoh yang autentik (Kanekes, dalam konteks Encep) dan mencela tokoh yang tereduksi oleh sengkarut modernitas (orang tua si perempuan dalam konteks Encep) bisa hadir. 

Encep, begitu juga saya dan kalian semua yang membaca dan menghadiri diskusi ini, patut mempelajari apa yang dilakukan oleh Honore de Balzac, umpama, seorang pemuka aliran realis di Eropa, tatkala ia menulis tentang Jawa dalam Voyage de Paris à Java (Kembara dari Paras keJawa, terjemahan penerbit Mooi). Ia belum pernah menginjakkan kaki ke Nusantara, ke timur jauh, apalagi ke Jawa. Tetapi, mampu mengimajinasikan dan menuangkannya dengan cara yang jujur, lugas, dan indah. Empat kata untuk Encep dan Nyamnyong.

Saya  sebenarnya  ingin  membuat  catatan  agak  panjang,  sebab  ini  adalah  buku  yang menarik. Tetapi, karena waktu dan segala kesibukan saya hanya bisa membuat catatan ringkas tak  lebih  dari  seribu  kata.  Maka,  segala  yang  ringkas  itu  akan  coba  saya ringkas  lagi,  dalam empat kata yang kiranya representatif. 

Encep dan Nyamnyong= Elegan, cerdas, menarik, dan hampir.

Serang, 27 Maret 2021


Biodata Penulis
M. Nanda Fauzan, penulis lepas.