Jumat, 27 Agustus 2021

Cerpen Ma'rifat Bayhaki | Dia yang Mati Itu Bernama Misja

Cerpen Ma'rifat Bayhaki



Barangkali kematian tidak sesederhana berhentinya detak jantung atau dipendamnya suatu jasad dalam pekuburan. Barangkali kematian bisa merujuk putusnya benang harapan oleh mata luka yang menganga dan meruncing setiap sisinya. Barangkali hidup dalam kematian lebih menyeramkan ketimbang mati dalam kematian. Maka dari itu cepatlah kau iris-tekan belati yang kau genggam sedari tadi.  Agar cucuran darahmu lekas membawamu pada mati-kematian yang indah, bukan kematian hampa penuh putus asa yang selama ini kau jalani. 

Lagi pula idealisme yang kau pertahankan itu hanya membuat orang lain sengsara saja. Mau berapa orang lagi yang akan kau jadikan tumbal? Lihatlah orang-orang di kampungmu dan orang-orang yang bertemu denganmu di penjara. Mereka semua babak belur dan hampir mati. Apa kau tega membuat mereka menderita? Coba tahan sedikit egomu. Belum lagi para gadis kampung yang menaruh harapan padamu. Mereka menolak semua lamaran lelaki hanya untuk menunggumu, Misja. Mereka menunggu dan terus menunggumu memilih salah satu di antara mereka sampai tak terasa gadis-gadis cantik itu sekarang telah menjadi perawan tua dan itu karena kau, Misja.  

Mendapatkan beasiswa doktor janganlah kau jadikan alasan. Sebab itu adalah rezeki dari Tuhan. Bayangkan bila kau tidak menimba ilmu di Universitas Peking China yang perempuannya montok-montok itu. Sudah pasti kau tidak akan tahu begitu luasnya kehidupan di dunia ini. Kau juga tidak akan memiliki metode analisis tinggi untuk menguliti penyebab dan akibat dari gejolak politik di negeri ini. Paling tidak kau hanya tahu kelakar di pos-pos ronda atau bau-bau badan tukang kuli panggul.

Kau pasti masih mengingat kejadian lima belas tahu lalu, saat kau baru pulang dari China. Kala itu keadaan Indonesia sangat gempar-genting lantaran tragedi pembunuhan tujuh jendral yang mencekam, senyap, dan misterius. Kematian tujuh jendral membawa duka bagi seluruh negeri. Lalu duka itu memunculkan tudingan-tudingan kebencian pada orang yang bersinggungan dengan komunisme. Tudingan  yang terus beranak pinak menumpukan jiwa di penjara dan tempat pengasingan yang menyeramkan.

Kau sebagai alumni Univesitas Peking yang mentereng itu, juga tidak luput dari penyisiran otoritas pemerintah. Kau pun ikut dituduh sebagai simapatisan Komunis lalu menjadi tahanan politik negara. Karena alasan tahanan politik itulah penolakan demi penolakan kau dapatkan setiap saat kau melamar kerja di setiap perusahaan yang kau singgahi.

****

Saat orang-orang penting, sibuk mengusut kasus pembunuh tujuh jenderal dan giat menyelidiki dalang dari tragedi ini. Kau malah membuka kelas belajar di kediamanmu. Ternyata antusias masyarakat sangat tinggi. Anak-anak berduyun-duyun datang ke rumahmu untuk belajar. Mereka sangat bersemangat mendapatkan ilmu pengetahuan darimu.

Kau tidak pernah mempedulikan penghasilanmu atau pekerjaanmu yang tidak jelas itu. Sebab kau memiliki kepercayaan bahwa rezeki sudah diatur oleh Tuhan. Barangkali keyakinanmu itu harus dilestarikan di negeri ini. Sebab banyak anak-anak didikmu yang membawakanmu makanan, mulai dari singkong goreng, kue cucur, kue lapis legit, sampai setundun pisang. Masyarakat kampung sangat mendukung sekali kegiatan belajarmu itu. Bahkan para gadis-gadis cantik banyak yang mendekatimu, berharap kau mempersunting salah satu di antara mereka. 

Beberapa bulan kelas belajarmu di buka, murid-muridmu yang kumal itu mampu menghasilkan beragam karya. Entah itu puisi, cerita pendek, lagu, bahkan olahan pangan yang bernilai ekonomis.

Aku masih ingat saat kau baru datang ke negara ini. kala itu kau terheran-heran menyaksikan kekacauan dunia pendidikan di tanah kelahiranmu. Kau pun dengan tegas berkata kepadaku, bahwa kau bertekad untuk membebaskan bangsa ini dari belenggu kebodohan. Barangkali alasan itu yang membuatmu sangat menyayangi murid-muridmu. Kau mengajarkan mereka dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Aku sebetulnya terharu melihat kegigihanmu itu, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa selain mengamatimu dari kejauhan.

Keharmonisan penyadaran pendidikan di kampungmu tak bertahan lama. Cita-citamu yang sebentar lagi tercapai itu harus pupus oleh pasukan berseragam loreng-loreng. Waktu itu pasukan loreng datang ke kediamanmu dan langsung mengobrak-ngabrik buku-bukumu yang tertata. Murid-muridmu semuanya dimarahi dan dicaci maki sampai isak tangis mereka pecah. Dadamu sesak menyaksikan tetesan air mata kecil yang membasahi pipi bulat yang sedikit berdaki.

Kau sendiri bercucuran darah akibat kepalamu ditetak dengan magasin. Kau diikat lalu diseret ke sebuah mobil truk, persis seperti pencuri ayam tetangga. Masyarakat kampung yang mendengar keributan berduyun-duyun berdatangan ke rumahmu. Kau melihat para ibu berlari menemui anak-anak meraka yang menangis histeris. Sebelum kau di lempar ke dalam mobil truk itu, seorang berbaret berbicara dengan lantang pada kerumunan orang yang berkumpul.

Bapak dan ibu, perlu diketahui jika Misja adalah tahanan politik negara. Ia tergabung dalam gerakan Komunis yang membunuh tujuh jenderal di lubang buaya. Bapak dan ibu dihimbau untuk menjauhi Misja, kalau tidak ingin anak-anak ibu dan bapak dijadikan simpatisan Komunis selanjutnya dan menjadi musuh negara.  

Kau pun dijebloskan ke penjara karena fitnah yang keji itu. Namun, kau masih tampak tenang, tenteram, seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal kau dikurung dalam jeruji besi yang mengerikan.

Di penjara kau terus membaca dari beberapa buku bekas yang aku bawa saat aku membesukmu. Barangkali kau memang surya kehidupan yang selalu terang di mana pun ditempatkan.

“Misja mengapa kau tampak bahagia sekali hidup di penjara yang bau busuk seperti ini?” Sunindarso—penjaga lapas itu bertanya kepadamu.

“Benar, aku bahagia. Barangkali tubuhku kaku di ruang sempit ini. Namun, lihatlah buku-buku yang menumpuk di sisiku ini. Kau pasti tahu pendiri negeri ini pernah berkata, ‘Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas’. Barangkali kutipan itu cukup untuk menjawab semua pertanyaan yang mengantri di ujung lidahmu,” kau mencoba meyakinkan, bila kau benar-benar utuh bahagia.

“Pertama kali aku datang kemari menjadi penjaga lapas, aku mulai merasa hidupku hampa, hambar tanpa rasa. Semua kekejianku terhadap tahanan seakan melenyapkan semua sisi kebahagaiaan dalam hidupku. Misja, bisakah kau mengembalikan sisi kebahagiaanku yang lenyap oleh pekerjaan ini,” Sunindarso yang matanya sayu memelas kepadamu.

Para tahanan yang mendengar percakapanmu dengan Sunindarso serempak berteriak ingin berguru padamu. Dengan waktu yang sangat singkat, kau menjadi guru penghuni rumah tahanan yang bau busuk ini. Penjara yang semula diselimuti rundungan kesedihan berubah manjadi tempat yang penuh keceriaan dan kebahagiaan. Kau mengukir garis bibirmu setiap kali menyaksikan para tahanan itu asik membaca buku, saling berdiskusi, dan menjadi ramah. Tak sedikit dari tahanan itu menulis memoar mereka masing-masing.

Para penjaga lapas yang semula sangar, garang, dan suka menetak kepala para tahanan berubah mejadi malaikat yang selalu menyediakan media belajar bersama, baik buku, pena, dan kertas. Bibirmu kembali terukir garis bahagia saat melihat kesadaran pengetahuan, persatuan, pendidikan, bacaan, pemahaman yang dialektik, dan semangat revolusioner yang kuat.

Barangkali waktu adalah permainan hati, memiliki rasa dan makna yang berpengaruh pada persepsi cepat dan lambatnya waktu. Lima tahun sudah kau dipenjara. Tiba waktunya kau meninggalkan tempat yang bau busuk ini. Tempat yang kau sihir menjadi laboratorium ilmu pengetahuan. Barangkali kebebasanmu menjadi kabar luka-duka bagi para tahanan dan penjaga lapas yang belum utuh merengkuh sisi kebahagiaan mereka yang hilang. Mereka tidak ingin kau pergi dari lapas ini, tetapi kau tetap harus pergi. Sebab ada hal yang harus kau kerjakan di luar sana.

Kau pun meninggalkan penjara yang bau busuk ini menuju kampung tercinta. Di perjalanan kau menampakan garis-garis kebahagaan di wajahmu. Sesampainya di kampung, kau merasa aneh lantaran orang-orang seperti menjauhimu. Kedatanganmu seperti hantu yang tidak bisa dilihat. Kau tetap berjalan dengan penuh tanda tanya. Saat kau tiba di rumahmu, kau melihat buku-buku tertata rapi sekali. Kau semakin bertanya-tanya apa yang tengah terjadi di kampungmu ini.

Esoknya kau kembali membuka kelas belajarmu. Kau terus menunggu anak-anak berduyun-duyun berdatangan ke rumahmu. Namun, berminggu-minggu buku-bukumu tetap tak berjejak jari-jari kecil yang memiliki impian tinggi. Tak ada seorang pun yang datang. 

Pagi itu, kala kau tengah membaca buku di kursi yang memanjang, kau didatangi oleh Lastriami yang kau kenali sebagai istri dari salah seorang pasukan berloreng.

“Misja, hentikan obsesi gilamu itu, jangan kau buat warga kampung lebih sengsara lagi. Kami sudah tidak sudi anak-anak kami belajar kepadamu,” Lastriami berkata dengan tekanan nada yang tinggi.

“Memangnya apa kesalahan saya, Bu? Perbuatan apa yang kiranya membuat warga kampung di sini menjadi sengsara?” kau berusaha mencari tahu alasannya.

“Lihatlah dirimu, Misja. Hidupmu itu tidak jelas, dibenci oleh negara. Kami tidak mau anak-anak kami menjadi pembangkang negara sepertimu. Lagi pula untuk apa belajar lama-lama jika hanya menjadi pengangguran sepertimu. Kau harus tahu Misja, semenjak anak-anak kami belajar kepadamu, mereka jadi tidak becus bekerja di ladang, tidak kuat memanggul karung di pasar, dan hilang keberanian menjadi kuli bangunan. Jika begitu, dari mana anak-anak kami dapat uang?”

Mendengar perkataan ibu itu tampaknya kau sangat terpukul. Barangkali karena alasan yang diungkapkan oleh Lastriami seperti mendorong generasi muda penerus bangsa bermental budak.

Kau mulai merasa sudah tak berguna di kampung kelahirnmu sendiri. Kau pun kembali ke rumah tahanan. Di sana kau berniat untuk menghabiskan hidupmu menjadi guru. Saat kau tiba di rumah tahanan, kau kembali terheran-heran menyaksikan semua orang bungkam-membisu seribu bahasa. Kau melihat tempat ini kembali dipenuhi dengan rundungan sedih-kenestapaan.

Kau bertanya-tanya apa yang telah terjadi di sini? Kau mencari tahu—bertanya kepada semua manusia di sini. Namun, tak ada satu orang pun yang menjawab pertanyaanmu. Saat itu batinmu mulai terguncang. Dengan wajah yang muram kau beranjak pergi meninggalkan tempat yang kembali mengeluarkan bau busuk. Saat tanganmu hendak membuka daun pintu, kau di panggil oleh Sunindarso lalu memberimu secarik kertas tanpa berkata-kata.

Di perjalanan, kau membuka kertas itu dan membacanya. Misja, maafkan aku. Bukan aku tidak ingin menyambut kedatanganmu. Aku sangat bahagia dikunjungi olehmu. Tapi aku tidak bisa melawan peraturan negara. Waktu itu, penghuni lapas sedang tertawa bahagia. Semua membaca buku. Tiba-tiba datang para pasukan loreng.  Pasukan loreng itu marah. Semua penghuni lapas dipukuli, termasuk aku. Mereka melarang kami membaca dan haram berhubungan denganmu, bila kami membangkang kami akan di tembak mati.

Kau meremas-remas surat itu dan membuangnya ke jalan. Kau pun berlari sekuat kaki dan hatimu. Aku melihat wajahmu begitu cemas, matamu memerah dengan air mata yang terus menetes ke tanah. Kau berlari melewati hutan yang lebat, sungai yang berarus deras, dan ladang-ladang yang basah. Saat tiba di kampung, kau bersembunyi di balik pohon-pohon yang rimbun dan rerumputan liar yang lebat. Kau menyaksikan orang-orang kampung membersihkan rumahmu, merapikan buku-bukumu.

Aku melihat kau begitu berat menarik nafas. Kau akhirnya tahu ternyata orang-orang kampung sangat mencintaimu. Kau hendak menghampiri orang-orang kampung itu, tetapi tiba-tiba datang para pasukan loreng. Pasukan loreng itu menetak, memantek, menggebuk orang-orang kampung yang membersihkan rumahmu. Orang-orang kampung itu melawan. Namun, pasukan loreng itu terus menggila sampai bercak darah menodai lantai dan pakaian mereka.

Para pasukan loreng yang berengsek itu berteriak. jika ada yang masih membersihkan tempat pembangkang ini, aku tidak segan-segan menembak mati kalian! 

Kau yang bersembunyi di rerumputan liar akhirnya berlari kembali ke dalam hutan. Menerjang segala apa yang ada di sana dengan wajah yang penuh dengan air mata. Kau menyeberangi sungai yang di tengahnya terdapat sebuah batu besar, lalu kau duduk di atasnya. Kau memandangi arus sungai dengan mata yang kosong. Kau berteriak. Dasar pemerintah bedebah! Apa salahku hingga hidupku terus di teror seperti ini. Apakah tidak cukup menghibur lima tahun aku di penjara? Apakah aku tidak layak hidup di negeriku sendiri? Asal kau tahu, aku ini tidak pernah ada hubungan dengan orang-orang Komunis yang sama bedebahnya itu. Aku hanya kebetulan kuliah di China—negara Komunis besar di dunia. Dasar semuanya bajingan …!

Kau akhirnya menekan-iriskan belati itu pada urat nadi lengan kirimu.

Darah pun muncrat dan membasahi sekujur lenganmu yang mengisap segala tenaga di tubuhmu. Beberapa saat kemudian kau mulai lunglai kemudian roboh di sungai yang deras. Tubuhmu tenggelam beserta mimpi-mimpimu yang tak berguna itu.

Aku hanya diam mematung memandangi jasadmu yang mulai mengapung membentur bebatuan dan semakin menjauh dari pandangan. Misja, maafkan aku Misja. Aku harus membunuh kehidupanmu secara hina. Aku terpaksa melakukan ini agar aku bisa menghidupi anak dan keluargaku dari informasi-informasi seputar simpatisan Komunis yang aku jual pada negara. Dengan begitu aku bisa mendapatkan uang untuk keluargaku. Saat aku mengetahui kepulanganmu ke negara ini, aku berpura-pura membantumu yang padahal itu hanya tipu daya belaka agar aku bisa leluasa menusukmu dari belakang. Misja, sahabat kecilku yang telah aku bunuh. 

Banten, Oktober 2019



Biodata Penulis

Ma’rifat Bayhaki, lahir di pesisir pantai utara Banten, 5 Juni 1998. Sedang menempuh Pendidikan S-1 di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Jusuran Pendidikan Sejarah. Karya-karyanya tersebar di media cetak maupun online. Gemar membaca buku-buku sejarah, sastra, dan filsafat. 

This Is The Oldest Page