Jumat, 22 Oktober 2021

Cerpen Ferry Fansuri | Sembilan Saudara Masuk kubur

 Cerpen Ferry Fansuri




Pembawaan tenang dan ada hawa yang kasat mata menyelubungi dirinya, terkesan sejuk serta magis disekitarnya. Siapa pun yang berpapasan dengannya atau berdekatan merasa nyaman. Pria itu selalu mendatangkan selubung mistis ketika ia hadir. Pria itu terlihat masih muda, perawakan mungkin 40-an dengan rambut klimis disisir ke belakang. Kumis dan jenggot tipis menghiasi mukanya. Kulitnya yang sawo matang memperlihatkan ketegasan di wajahnya.



Setiap malam itu pria itu selalu datang ke rumah Mbah Man dan sewaktu subuh menghilang. Hari berikutnya seperti itu juga berulang-ulang. Parman atau kami menyapa Mbah Man hidup seorang diri di rumah kecil itu, perkiraan usia mungkin mencapai 80-an atau lebih. Telah lama ia hidup sendiri. Istri dan anak-anaknya telah meninggal lebih dahulu. 


Mbah Man seorang pensiunan tentara dengan pangkat kapten itu hidup menyendiri di rumah itu tanpa seorang yang mendampinginya. Ia hanya menikah sekali seumur hidup. Sepeninggalan istrinya Mbah Man tak bergeming untuk menikah. Istri meninggal di usia 60-an karena kanker payudara, sedangkan kedua anaknya juga meninggal karena penyakit. Hingga tidak ada penyambung hidup yang meneruskan garis keturunan sama sekali.


Ia tetap tinggal di rumah sendirian. Kesehariannya dilalui dengan rutinitas yang membosankan. Bangun dan makan, setelah itu keluar rumah buat sekadar jalan-jalan di kampung ini. Kemudian kembali ke rumah untuk menonton acara televisi atau dunia dalam berita.


Masa Mbah Man bukan usia produktif. Ia hidup dari hasil pensiunan yang tak seberapa yang mungkin cukup buat dirinya seorang. Tak menikah lagi dan menjalani hidup sendirian sampai akhir hidupnya. Tidak selamanya dalam kondisi bugar, tapi ada titik kulminasi membuat Mbah Man ambruk. Penyakit aneh menyerang dirinya. Sekujur tubuhnya mulai kaku. Berawal dari kaki menjalar ke tubuh, Mbah Man merasakan mati rasa tak bisa digerakkan.


Tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali dan hanya pancaindra yang berfungsi. Ia hanya tergeletak di peraduan menunggu mati. Berminggu-minggu hingga hitungan bulan, Mbah Man tak kunjung sembuh bahkan semakin parah. Tubuh layu itu mulai mengeluarkan bau tak sedap, sampai-sampai menyebar ke tetangga. Tidak ada yang mau mendekat. Pembantu suruhan kepala kampung pun tak tahan akan bau itu dan menyingkir tak kembali.


Hidup tak mau, mati segan. Iulah yang menggambarkan kondisi Mbah Man sekarang. Semua penduduk kampung enggan mendekat kuatir bau itu dan tertular penyakit aneh darinya. Ada bisik-bisik tetangga bahwa Mbah Man kena karma masa lalu atau azab menjelang kubur. Desas-desus itu terus berembus hingga akhirnya pria itu datang.


***


Pria itu selalu datang menjelang malam, tak tahu datang dari mana. Kami tak mengenal pria ini dan tak menyadari kehadirannya. Kami pikir pria ini hantu, tapi wujudnya nyata dan kaki menjejak tanah, semua tampak misterius. Pria itu selalu datang bersamaan kabut di belakang yang selalu tiba tepat waktu. Langkah begitu enteng memasuki rumah itu.


Macam tamu yang diundang, pria ini masuk begitu saja tanpa sungkan. Ia sepertinya mengenali seluk beluk rumah itu hingga dengan mudahnya menjelajahi. Ia duduk di samping tepian tempat tidur dan memandangi seonggok daging yang tergeletak tak berdaya. Pria ini tak takut akan wabah itu atau bau yang menyengat itu. Ia begitu lembut mengusap rambut putih yang tersisa.


Mbah Man yang sudah terlelap itu kemudian tersadar siuman dan memandang pria tersebut. Matanya berkaca-kaca. Layaknya melihat sesuatu yang telah hilang yang kini kembali lagi. Suara parau dari ujung tenggorokan dipaksa untuk berbicara tapi tak ayal hanya terdengar geraman-geraman.


Hampir saja Mbah Man berusaha berdiri tapi oleh pria itu ditahan dengan tangan kanan.


Tak perlu, tetap kau di tempatmu.


Suara itu begitu lirih tapi jelas di telinga Mbah Man. Kata-kata yang di keluarkan dari mulut pria itu bagaikan senandung tidur yang menenangkan. Mbah Man kembali terlelap dari mimpi dan berharap itu menjadi kenyataan.


Pria itu begitu telaten merawat Mbah Man. Kami tak tahu siapakah ia. Setahu kami Mbah Man tidak mempunyai sanak keluarga lagi. Pernah Mbah Man bercerita bahwa ia lahir dari sembilan saudara dan ia paling bungsu. Semua saudara telah meninggal dunia dan hanya ia berumur panjang sampai saat ini.


Saudara-saudaranya mati satu per satu bersamaan anak istrinya dan kebetulan atau tidak nasibnya seperti Mbah Man. Mati sendiri tanpa keluarga, entah itu sebuah kutukan bahwa garis keturunan laki-laki dari keluarga akan mati tragis. Sembilan saudaranya itu semua laki-laki dan mati, hingga yang tersisa hanyalah dirinya.


Mbah Man pernah bercerita bahwa keluarga dulu sangatlah tertekan dan miskin. Tinggal di rumah kecil dengan diisi sembilan orang beserta bapak-ibunya. Biarpun terlihat sumpek, tapi rumah kecil begitu harmonis. Biarpun diterpa kemiskinan, tapi pernah sedikit pun bermuram durja. Kegembiraan selalu mengisi keseharian. Mereka saling menguatkan.


Tapi itu tak berlangsung lama, sang kepala rumah tangga menghilang di tengah malam. Saat itu beberapa orang tak kenal menyatroni rumah itu. Mereka mencari bapaknya, tapi tak ada. Mbah Man dan keluarganya diteror terus dan tidak tenang hingga akhirnya memutuskan pindah. Setelah kejadian itu keluarga mereka tercerai berai. Ibunya menanggung derita dan duka kehilangan suami tercinta. Pergi tak pernah pulang. 


Mbah Man tak pernah lupa kejadian itu. Waktu itu ia baru berusia sembilan tahun. Orang-orang itu menyerbu ke dalam rumah dan memorak-porandakan seisi ruangan. Teriakan dan jeritan ibunya tak henti-henti bergema. Mereka mencari bapak, dan tak diketemukan sama sekali.


Orang bilang bahwa bapak diculik atau dibunuh dan mayatnya dibuang ke hutan. Ada yang ngomong kalau bapak moksa. Desas-desus itu jadi bumbu jalan hidup keluarganya dan pada akhirnya ibunya meninggal menahan rindu. Ini yang menyesakkan hati Mbah Man, melihat keluarganya cerai-berai akibat peristiwa itu. Hal yang ingat olehnya hanyalah tahun itu tahun 1998 menjelang Mei, itu saja tak ada yang lain.


***


Sejak itu Mbah Man mencari penghidupan masing-masing dan jarang bertemu saudara-saudaranya. Tapi biarpun demikian ikatan keluarga itu begitu kuat, ia tetap hadir setiap saudara merenggang nyawa dan setia mendampingi mereka sampai liang lahat. Ia beruntung berumur panjang dan lebih merasakan kehidupan daripada yang lainnya, tapi sekarang ia tersungkur dan menghitung hari demi hari di akhir ajalnya.


Semua kenangan dan peristiwa terbayang di pelupuk mata Mbah Man. Berseliweran seperti karet rekaman yang pitanya kusut. Menjelang ajalnya Mbah Man sering mengigau tak keruan dan menyebut nama aneh yang kerap tak bisa dipahami sama sekali. Hal tersebut selalu terjadi tiap malam. Racuan-racuan bak sayatan dalam hati dan memekakkan telinga. Kami hampir tak tahan bahkan ada rencana untuk mengakhiri penderitaan Mbah Man, tapi sirna kala pria itu datang.


Saat pria itu datang, Mbah Man lebih tenang dan tak ada jeritan malam yang menyiksa. Pria itu bagaikan obat penenang. Ia merawat Mbah Man dengan baik. Tampak karib sekali. Jari-jemarinya cekatan untuk membasuh sekujur tubuh Mbah Man. Tak ada rasa jijik sama sekali pun. Pria itu terbiasa akan semua ini, penuh kasih sayang. Jika datang saat menjelang malam, maka bagi saat ayam jago belum berkokok ia telah pergi. Kami sendiri tak tahu ke mana ia pergi.


Aktivitas ganjil itu dilakukan genap 45 hari lamanya hingga akhirnya nyawa Mbah Man ditarik Malaikat Maut setelah pertarungan tak kunjung reda. Pria itu tetap setia mendampingi di sisinya sampai Mbah Man dikuburkan.


Pria itu mendekati gundukan tanah yang masih basah dan menaburkan kembang kantil. Ia masih berdiri terpaku dan melihat nisan masih tertancap. Raut muka ada kegelisahan menyeruak, tapi ada ketegaran yang menguatkan. Pria itu hanya menghela napas sejenak dan melangkah pergi.


Sejurus lurus pria itu menuju ke kerumunan kami. Di antara kami memang belum pergi dan melihat dia dari kejauhan. Kami masih penasaran akan pria tersebut, siapakah ia? Pria itu mendekati kami dan membelah kerumunan, tubuh kami terasa tak bisa digerakkan sama sekali. Tatapan matanya membuat kami tertancap kaku.


Tolong jaga makam itu. Rawat dengan baik.


Pria meminta satu dari kami untuk menjaga makam itu. Kami sekejap terdiam dan tak satu pun menjawab atau menimpali.


"Karena ia adalah anak terakhir yang aku punyai dan tugasku telah selesai sekarang."


Kata-kata itu membuat kami terbelalak dan tak mengerti apa yang pria itu ucapkan. Anak? Apa tidak salah? Otak kami masih tumpul akibat kejutan itu. Sembari kami masih garuk-garuk kepala dan planga-plongo kanan-kiri kayak monyet kehilangan pisangnya. Tiba-tiba pria itu mengeluarkan asap yang tebal. Air mata kami brebes milih seketika dan sekejap pria melesat ke langit menembus awan. Hilang moksa.


Surabaya, Maret 2020 




____

Penulis 


Ferry Fansuri adalah penulis kelahiran Surabaya. Salah satu juara favorit lomba cerpen "Urbanhype" Dewan Kesenian Surabaya (DKS) 2019. Sekarang menulis freelance dan sebagai web developer di gembelgaul.com dan jadwalbalap.com.