Selasa, 26 Oktober 2021

Sosok Inspiratif | Kusmayasari | Gerakan Distribusi Pangan Siap Saji


Kusmayasari, lahir di Sumedang, 5 Mei 1978. Seperti perempuan pada umumnya, Kusmayasari merupakan sosok yang senang dan terampil dalam hal memasak. Yang menjadi ketertarikan Redaksi, melalui keterampilan yang telah di milikinya tersebut, ia juga terlibat aktif menjadi relawan sosial dengan berbagi makanan siap saji kepada banyak orang. Akhirnya, bukan hanya orang-orang terdekatnya saja, orang lain juga dapat pula merasakan sajian masakannya.



Kamis, 21 Oktober 2021, Redaksi berkesempatan menemui beliau di kediamannya di Jalan Cipta Karya, Kelurahan Lontar Baru, RT 03/RW 04, Kecamatan Serang, Kota Serang. Supaya lebih kenal dan akrab, Redaksi kemudian melakukan bincang-bincang ringan dengan beliau.



1. Sejak kapan Ibu memulai gerakan sosial membagikan masakan siap saji?


Persisnya saya lupa. Tetapi, sebelum gerakan Dapur Darurat Kota Serang tahun 2020, saya dan keluarga sudah memulai gerakan distribusi pangan siap saji di lingkungan sekitar rumah. Walaupun sifatnya terbatas, alhamdulillah kami melakukannya secara konsisten hingga saat ini. Di samping itu, saya juga mendirikan tempat usaha Rumah Kopi di kediaman saya. Insyaallah, ke depannya, saya pengin memberlakukan sistem bayar suka-suka atau seikhlasnya.




2. Setahu saya, gerakan sosial yang dilakukan Ibu kan berkaitan dengan distribusi pangan siap saji. Nah, selain itu, ada tidak Bu?


Sebetulnya, gerakan sosial kan bisa dilakukan dengan berbagai macam. Kalau saya, selain daripada rutin setiap hari Jumat berbagi makanan siap saji di lingkungan sekitar rumah saya, dan di momen-momen tertentu juga bergerak. Contohnya, ketika terjadinya musibah banjir bandang di lebak, saya dengan beberapa teman beserta komunitas kerelawanan saling bersinergi memberikan bantuan. Entah dalam bentuk logistik, obat-obatan, maupun pendampingan. Begitu pun ketika di awal mula Pandemi Covid-19 mewabah, saya beserta komunitas kerelawanan bergerak mendirikan Dapur Darurat Kota Serang itu. Adapun selain distribusi pangan siap saji, saya juga pernah membantu TKI yang terkendala masalah gaji yang belum dicairkan atau pun kasus-kasus penyiksaan.




3. Apa yang menjadi motivasi Ibu sehingga mau memulai dan konsisten dalam gerakan berbagi makanan siap saji tersebut?


Motivasi saya sebetulnya berangkat dari semangat kemanusiaan. Tidak memandang apa pun latar belakang status sosialnya, kalau ada yang bisa saya bantu, ya saya lakukan. Ditambah saya juga senang memasak. Selama ini, entah benar atau tidaknya, mereka yang pernah mencicipi masakan saya, selalu memberikan penilaian positif. Hehe.




4. Terus siapa sasaran gerakan sosial distribusi masakan siap saji Ibu?


Terkait sasarannya sih sifatnya umum, baik itu santri pondok pesantren, pekerja bangunan masjid, atau pun para janda. Catatannya, mereka memang masuk dalam kategori kalangan yang menurut kami layak untuk menerima. Akan tetapi, untuk kategori orang yang betul-betul membutuhkan, seperti halnya gelandangan, tetap menjadi keutamaan.




5. Apakah gerakan sosial distribusi pangan siap saji yang diinisiasi Ibu pernah mendapat bantuan dari pihak luar, pemerintah setempat misalnya?


Alhamdulillah selain didukung oleh pihak keluarga, terutama suami, saya juga menjalin sinergi dengan komunitas kerelawanan, dan atau mereka yang secara sukarela mau ikut serta membantu dan melibatkan diri.




6. Kendala apa saja yang Ibu temui selama melakukan gerakan sosial distribusi makanan siap saji tersebut?


Sepengalaman saya tidak ada. Meskipun gerakan yang dilakukan saya dan dibantu pihak keluarga terbilang belum seberapa, tapi kami melakukannya dengan senang hati dan bahagia.




7. Adakah pesan yang hendak disampaikan Ibu kepada masyarakat, pemerintah atau pun kepada generasi muda?


Membantu sesama itu penting. Namun, menurut saya, membantu juga harus mendidik. Maksudnya, tidak baik bilamana kebaikan yang selama ini kita lakukan membawa dampak negatif. Misalnya, dapat membuat orang lain selalu terbiasa meletakkan tangannya di bawah.




___

Tukang nanya, Ray Ammanda.