Selasa, 15 Maret 2022

Proses Kreatif | Kompor Gas Penulis

 Oleh Encep Abdullah



Suatu hari ibu saya kelimpungan karena kompor gas tidak menyala. Ia menyuruh saya untuk memanggil Pak RT yang kebetulan penjual tabung gasnya. Saya ngiplik ke rumah Pak RT yang lumayan jauh dari rumah. Pak RT datang hanya membawa obeng. Sampai di rumah, obengnya diketrok-ketrok pelan ke selang gas. Tidak sampai berkali-kali, mungkin hanya 3 ketrokan. Dan nyala. Ajib! Saya melongo. Lalu, Pak RT bilang, "Jangan menyepelekan hal kecil. Ini juga ilmu." 


Saat saya punya istri, saya mengalami hal serupa. Ilmu Pak RT saya coba. Dan, kompor tidak juga menyala. Saya memanggil tetangga saya, sebut saja Mama Njep. Dia malah banting-banting tabung gas. Dan kompor nyala.  


"Dalamnya beku, perlu dicairkan," ujarnya. 


Saya pindah rumah. Masalah tabung gas hadir tiada henti. Kompor gas saya tak menyala. Saya coba pakai ilmu dari Pak RT, ilmu dari Mama Njep, juga ilmu dari Medi Kumen yang pernah memasang karet di lobang tabung gas (tapi Medi gagal mengeksekusi). Cara-cara itu kali ini saya coba tidak mempan (beberapa kali berhasil). Lalu, saya meminta tolong tetangga, engkong-engkong. Dia bilang "Ada besi yang bisa menusuk?" Saya cari dan ada. Besi itu ditusuk-pencetkan ke lobang tabung gas sampai gasnya berbunyi "cuuuuuuuus". Saya meghindar. Ngeri Coy! Tapi, Engkong beberapa kali menekan. Tak lama kompor pun nyala. 


"Dulu saya pernah kerja sebagai tukang tabung gas. Kalau gas tidak keluar, pancing dengan cara itu," ujar Engkong.


Suatu hari, masalah timbul lagi. Tapi, saya malu kalau terus-terusan minta tolong kepada orang lain. Semua ilmu itu saya coba. Bismillah berkali-kali. Sampai akhirnya, saya pun bisa melakukan sendiri. Saya kasihan kepada pedagang kalau tabung gas berulang kali ditukar karena kompor tak kunjung nyala. Dulu, hal itu sering saya lakukan, bahkan hingga tiga kali ganti di warung yang sama. Padahal bukan karena tabung gasnya, saya yang tidak punya ilmu. Saking tidak enaknya bolak-balik ke warung, saya bersabar sampai dua jam nguprek si tabung gas, dan nyala.


Ada juga beberapa kejadian lucu. Pernah waktu itu saya ngambek sama tabung gas karena ngeyel sekali tidak bisa diajak kompromi, saya sudah gendek. Saya pun kabur sama anak-istri ke rumah orang tua. Besoknya saya pulang, dan anehnya kompor bisa nyala. Ternyata sesekali kompor gas perlu diambekin begitu ya. Semprul!


Ada lagi yang paling parah. Saya pernah beli tabung gas ke warung teman. Dan, gas ini anjay bukan main. Angin dari dalam selalu keluar. Saya mau minta tukar, ternyata warungnya tutup. Lagian juga percuma, kalau tidak salah tabung gas itu tinggal satu-satunya. Dan saya baru ingat kalau tabung gas ini adalah benda yang bulan lalu saya pakai juga. Pantes tidak ada yang mau beli.


Saking kesalnya dengan ocehan istri, saya bawa gas itu ke warung lain. 


"Bu beli tabung gas, tapi tabung saya masih ada isinya, penuh," ujar saya. Pedagang warung melongo. Tak la ia sadar.


"Jangan atuh kalo masih ada isinya, Bang," ujarnya.


Apa pun saya lakukan demi menghindari rudal Rusia dari mulut istri. Wkwkwk.


_____


Panjang lebar ngomongin kompor gas. Nah, apa hubungannya dengan menulis? Saya kira ilmu menulis sama halnya saat saya pertama kali ketemu Pak RT. Ada perjuangan memanggil ke rumahnya. Memerhatikan apa yang dia kerjakan. Kecil. Sebentar. Tapi, sangat berharga. Begitu juga saat pertemuan saya dengan Mama Njep dan Engkong. 


Setelah tahu "ilmu menulis" dari Pak RT, saya mendapatkan masalah yang berbeda. Saya melihat bagaimana Mama Njep beraksi. Saya coba ilmu menulis Mama Njep itu. Nyatanya di lapangan ketemu masalah lain lagi. Ada Engkong, ilmu baru dari Engkong, yaitu bagaimana menusuk-tekankan obeng atau alat sejenisnya ke lobang tabung gas, dan nyala.


Semua yang saya lihat, tentu saya aplikasikan. Dan, bila satu cara tidak bisa, gunakan cara yang lain. Dan, hasilnya alhamdulillah selalu berhasil. 


Lalu, masalah timbul lagi. Tetangga kesulitan menyalakan kompor. Tidak ada orang, hanya saya. Tentu saya yang dimintai tolong. Semua ilmu itu (terpaksa) saya praktikkan kepada orang lain walaupun tetangga saya (emak-emak) bengong melihat tingkah saya berduel dengan tabung gas seperti apa yang Mama Njep lakukan. Dan, kompor pun nyala. 


Sejak kejadian itu, saya merasa sangat tampan tak biasanya. Setelah itu, bila ada masalah pertabung-gasan, saya menjadi garda terdepan  menjadi spesialis tabung gas, Engkong sudah tak kuat dengan rentanya. Di sini, saya bukan ingin sombong, alhamdulillah saya jarang gagal mengeksekusi, dan nyala.


Dulu, saya masih ingat, saya sering kali ketakutan saat beli tabung gas dan memasangnya karena rentan terjadi emosi.  Namun, setelah tahu ilmunya, saya merasa percaya diri karena bisa kayak Avatar, mampu mengendalikan api. 


Dalam hal menulis saya kira juga begitu. Jangan sepelekan ilmu menulis sekecil apa pun walaupun cuma tahu penggunaan tanda titik atau tanda koma. Jangan sepelekan penulis yang berprilaku aneh. Jangan-jangan itu juga ilmu. Kita yang "bengong" karena tidak tahu kalau itu ilmu. Setelah tahu, kau pasti juga akan ikutan aneh. 


Ilmu menulis bisa jadi datang dengan sendirinya. Misalnya Anda kok tiba-tiba berteman dengan penulis.  Tanpa disadari kau sedang ditunjukkan jalan. Tapi, walaupun teman Anda penulis, lalu kau diam saja, kau tak jadi apa-apa. Anda perlu mempraktikkan sekecil apa pun apa yang Anda lihat dari apa yang dikerjakannya. 


Kuncinya adalah praktik. Sebagus apa pun pedang, ia tidak akan jadi barang "hebat" tanpa pendekar yang hebat. Untuk menjadi pendekar yang hebat dan profesional, tentu perlu belajar, bersungguh-sungguh, berguru kepada guru yang tepat, berlatih tiada henti, istikamah.


Setelah semua ilmu itu Anda raih, bersiaplah untuk dimintai tolong oleh kerabatmu, tetanggamu, dan mantan-mantanmu. Untuk ...


Memasang tabung gas. Haha.


Salam kompor gas!


Kiara, 15 Maret 2022




_______

Penulis

Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya.