Jumat, 30 Desember 2022

Puisi-Puisi Dian Riasari

Puisi Dian Riasari




Bintangku 


Tersungging bintang di sudut bibir

Dan binar di tatap matamu

Mampu usir segala lelah

Halau semua resah

Kalung di tiap tunggang gunung

Adalah rangkul tangan di leherku

Terselip kirana di rambutmu

Wanginya kuhidu untuk bius malam

Kau genggam kartika di jemari

Adalah asa, cinta, dan kasih

Tersimpan di lubuk kalbu

Untuk kita petik bersama

Ketika fajar bertahta

Bangunlah, sayang

Rawi naungi karsa dan karya

Diiringi ayat suci dari senandungmu

Untuk tiara di surga yang kami rindu

Semoga di tiap langkah kecil itu

Dinaungi berkah Allah, untukmu.


Malang, November 2022



Sekilas Wejang


Bertala-tala gending berirama

Lenggangkan langkah anggun

Masuki gerbang berjuntai penjor

Bentang jalan lapang itu

Tempat kau ukir jejak kaki

Bukan harum ratus atau melati

Bukan tarian asap dupa

Penghias ayu syahdu

Namun kedalaman budi pekerti

Tutur makna yang terpatri

Murkaku bukan untuk melumat hasrat

Bukan cela yang menggerus nyali

Tapi pupuk untuk tanah nurani

Mantra-mantra itu kudaras

Agar mala dan dursila tertebah.


Malang, November 2022



Melesatkan Jemparing


Nak,

Jika pujangga melukiskan

Betapa lekatnya kita

Serupa gandewa dan jemparingnya

Maka percayalah

Aku akan merentangmu sekuat taliku

Nak,

Mana mungkin aku tak laur

Jika itu hanya membuatmu patah dan hancur

Dan tak mampu membuatmu siaga sepenuh umur

Jemparingku,

Sang Pemanah Yang Maha Akurat

Menajamkan ujungmu, bukan untuk membuatmu berat

Tapi agar kau menancap kuat dan tepat

Tubuh gandewaku rela dilentuk, diregang sekuat tangan

Antarkan kau penuh kekhusyukan

Agar melesat

Nak,

Kucoba bertindak bijak

Jadi gandewa yang berselimut hening, heneng, wening

Karena cuma itu cara melepasmu tepat ke sasaran

Dan jika kau menghilang

Hanya Sang Pemanah Yang Maha Menentukan

Apakah kau terpisah atau kembali ke rentangan

Apabila kau kulepaskan

Semoga itu tanpa keraguan.


Malang, 5 September 2022



Al-Ummu Madrasatul Ula


Madrasah itu ada sejak gulita

Pintu dan jendela terbuka

Sedari kanak-kanak belum mampu bicara

Hingga mereka kenal dunia

Gedung kian renta

Kadang goyah diterpa gempa

Nyaris runtuh oleh kejam angkara

Tak jarang atap bocor

Hingga banjir tangis di ruang-ruang

Tapi madrasah menolak punah

Kuatkan saka-saka yang hampir pukah

Tambal tiap dinding yang rekah

Demi anak-anak yang dititipkan langit

Setiap waktu madrasah meracik makna

Menu-menu ilmu diolah dan dihidang

Disantap sesuap demi sesuap

Jadikan nutrisi untuk raga dan jiwa

Caci maki dan hinaan kadang nodai hari

Racun-racun menghampiri

Gedung tua nyaris tertebas zaman

Namun selama matahari masih menerobos jendela

Madrasah akan terus menggelar tikar-tikar ibadah.


Malang, 9 November 2022


________

Penulis


Dian Riasari, berasal dari Kota Malang, Jawa Timur. Berkontribusi pada beberapa buku antologi, baik antologi cerpen, cerita inspiratif, cerita anak, dongeng, artikel, maupun puisi. Karya tunggalnya berupa kumpulan puisi, Dian dalam Goresan Pena. Menimba ilmu di Kelas Puisi Online (KPO) bersama WR Academy dan Asqa Imagination School (AIS). Saat ini bergabung di komunitas puisi Community Pena Terbang (COMPETER). Baginya, menulis puisi adalah salah satu cara menjaga kewarasan.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com