NGEWIYAK.com, KOTA SERANG – Bedah buku di Rumah Dunia, Ciloang, Kota Serang kembali digelar pada Minggu (30/11). Kali ini diberikan tema “Panggung Sastra Rumah Dunia” yang memdedah novel Andra (Bulan Sabit dan Rosario) karya Qizink La Aziva. Acara ini berlangsung di Cafe Rendez-Vous Rumah Dunia dan dimulai pukul 13.30.
Menurut Presiden Rumah Dunia, Rudi Rustiadi, acara ini merupakan panggung untuk teman-teman, khusunya anggota kelas menulis rumah dunia. Ia turut berbahagia atas terbitnya novel Andra karya Qizink La Aziva ini.
“Semoga semangat ini dikuti oleh teman-teman di angkatan sekarang,” ujar Rudi.
Peserta yang hadir sekitar 20 orang terdiri atas penulis, anggota kelas menulis Rumah Dunia, masyarakat umum, hingga siswa-siswi SMP-SMA IT Pesantren Darussalam Pipitan yang didampingi oleh gurunya.
Narasumber pertama, Encep Abdullah—aktivis literasi dari Pontang—mengatakan bahwal Andra bukan novel yang terlalu njelimet. Walaupun begitu, pembaca harus fokus. Kalau tidak, pembaca tidak akan menikmati setiap detail keindahan deskripsi yang penulis hadirkan dalam novel ini.
“Saya sampai geleng-geleng. Kok bisa Mang Qizink sekuat itu bernapas mendeskripsikan sesuatu, bahkan sampai berhalaman-halaman,” uajr Encep.
Nita Andriani, narasumber kedua—Gusdurian Banten—, bercerita tentang isu toleransi umat beragama. Menurutnya perempuan yang maju untuk isu toleransi di Banten itu sedikit.
“Buku Andra cocok sebagai bahan edukasi,” ujar Nita.
Qizink La Aziva menyampaikan bahwa cerita-cerita dalam novel Andra sebagian besar adalah kisah nyatanya. Semua deskripsi yang ada di situ adalah peristiwa nyata.
“Termasuk persoalan cinta saya dengan non-Muslim,” ujar penulis novel Andra tersebut.
Di sesi diskusi, Firman Venayaksa, dosen Untirta, menambah banyak hal. Menurutnya novel ini lebih dekat dengan pendekatan sosiologi sastra. Firman kemudian menambahkan bahwa Qizink cenderung memanfaatkan media berita sebagai sastra, tepatnya bermain dengan realitas yang dibekukan dalam sastra.
“Satu gambaran, sastra tidak semata-mata sesuatu yang fiksional. Bagi jurnalis, sastra itu tidak lagi sebagai karya seni, tapi pantulan realitas,” pungkasnya.
(Redaksi)
