Oleh Kabut
Di Indonesia banyak cerita rakyat atau cerita anak mengenai pertanian. Cerita itu memikat. Yang mendengar mudah mengingatnya. Yang membaca dapat membuat catatan dan renungan. Pertanian menjadikan anak-anak mengerti Indonesia.
Konon, Indonesia itu memiliki tanah yang subuh. Indonesia bisa makmur. Anak-anak perlahan agak meragukan bila Indonesia makmur. Pernyataan bahwa “bisa” itu malah sering gagal. Apa yang menyebabkan Indonesia belum makmur? Anak-anak tidak mendapat jawaban yang jujur dari penguasa. Mereka kadang menanyakan kepada guru atau orang dewasa. Pertanyaan yang mudah tapi sangat sulit dijawab.
Sejak dulu, Nusantara itu padi. Yang diimajinasikan banyak orang memang kesuburan adalah padi. Padahal, yang ditanam di seantero Nusantara tidak hanya padi. Beragam tanaman dapat bertumbuh subur di Indonesia, menghasilkan daun, buah, bunga, dan lain-lain. Mengapa yang sering muncul adalah padi?
Pada akhir abad XIX, tanah jajahan berubah gara-gara pendirian pabrik-pabrik gula. Lahan-lahan luas dan subur ditanami tebu. Pesta keuntungan terjadi. Gula adalah industri yang sangat manis. Banyak pihak yang berebutan laba. Akibatnya, konflik dan kehancuran terjadi akibat tebu. Di Jawa, lakon pertanian tampak menggembirakan gara-gara tebu. Namun, akhirnya, muncul petaka-petaka.
Pada awal abad XX, manisnya industri gula masih terasa. Gula sangat dibutuhkan di pasar dunia. Jawa turut menjadi pemasok yang besar. Semuanya menjadi lesu pada masa 1930-an. Penyebabnya adalah depresi ekonomi. Yang terjadi adalah kebingungan, kehancuran, dan impian yang tersisa. Di Indonesia, industri gula tidak mati. Pertanian tebu masih berlaku di pelbagai tempat. Keuntungan masih diharapkan meski tidak sefantastis masa lalu.
Kita kembali teringat padi dan tebu saat membaca buku cerita anak berjudul Bunga-Bunga Tebu gubahan Bung Smas, yang diterbitkan Gramedia, 1983. Buku yang dicetak apik dalam pilihan kertas, huruf, dan garapan sampul. Gambar itu mudah membuka nostalgia Orde Baru saat pertanian tebu masih ikut menjadi andalan pembangunan nasional. Yang sukses memang swasembada beras. Namun, masalah tebu dan gula juga mendapat perhatian besar dari pemerintah dan penguasaha. Lakon itu seolah menganjurkan para petani menanam tebu ketimbang padi.
Yang diceritakan Bung Smas bukan sejarah. Pembaca akan mengetahui perbedaan nasib petani di desa. Banyak yang meraup untuk setelah menanam tebu di sawah. Sedikit orang yang tetap menanam padi dengan gagal panen atau hasil yang sangat sedikit. Maka, kemiskinan terjadi. Desa bercerita perbedaan nasib gara-gara tebu dan padi.
Beno, anak yang masih murid SD, lahir dan tumbuh dalam keluarga miskin. Bapaknya adalah petani, yang selalu memilih padi. Bapaknya berbeda pendapat dengan para tetangga yang memilih menanam tebu. Kemiskinan menimpa sambil melihat tetangga-tetangga yang sejahtera dari pertanian tebu. Beno menentukan sikap atas nasibnya.
Di sekolah, Beno sulit menjadi murid pintar. Ia terbiasa gagal dalam mata pelajaran Matematika. Di rumah, ia sering dianggap salah oleh bapaknya, yang biasa memberi pertanyaan tapi sulit terjawab. Pengarang mengisahkan nasib Beno yang dimarahi bapak gara-gara suka bermain. Bapaknya bertanya tentang pentingnya melakukan sesuatu yang bermanfaat ketimbang bermain. Maka, bapaknya bertanya: “Apa lagi kerjamu, Ben?”
Yang terjadi: “Pertanyaan itu mudah sekali. Jawabannya yang sulit. Seperti soal Matematika pagi tadi. Soalnya mudah. Jawabannya sukar didapat karena semalam Beno tidak belajar. Akibatnya, Pak Tom, guru kelas empat itu, menghukumnya. Disuruh berdiri dengan sebelah kaki di depan kelas!” Beno menyadari kesalahan dan kelemahannya. Hiburannya adalah bermain atau membuat mainan.
Di desanya sedang musim tebu. Beno memanfaatkan gelagah untuk membuat mainan. Hari-harinya adalah membuat mainan sambil mengasuh adiknya yang masih kecil dan suka mengompol. Beno menyadari bapaknya dalam kemiskinan dan ibunya menjadi buruh penumbuk padi agar keluarga bisa makan. Beno yang suka bermain membuat bapaknya jengkel.
Bapaknya dianggap bersalah oleh para tetangga. Mereka mengajaknya menanam tebu tapi bapaknya tetap memilih padi. Para pembaca yang paham sejarah dan pertanian sebenarnya dapat membahas secara kritis kehidupan agraris. Padi tidak selalu menjanjikan keluarga petani bisa makan dan sejahtera. Namun, pertanian tebu tidak selamanya hanya bercerita keuntungan. Ada hal-hal yang merugikan. Yang kita baca adalah cerita anak, yang belum mengharuskan memikirkan masalah-masalah besar.
Beno tidak selalu bernasib buruk. Pada suatu hari, ia diminta temannya membuatkan mainan berupa mobil-mobilan dari gelagah tebu. Yang terjadi di luar pikiran Beno, teman itu menjuual mainan mobil dengan harga lumayan. Akhirnya, berdua melakukan kerja bareng dalam membuat dan memasakan mobil-mobilan dari gelagah. Beno mendapatkan uang. Ia belum terlalu mengerti uang tapi menyadari kemiskinannya tidak terlalu fatal.
Kemahirannya membuat mainan sedikit menjadi jawaban atas masalah-masalah yang menimpanya. Yang disuguhkan pengarang agar pembaca mengagumi Beno: “Dalam hatinya, Beno bersyukur diam-diam. Tuhan tak pernah melupakannya. Lewat kecerdikan sahabatnya, ia memperoleh rezeki dari Tuhan. Meskipun cukup berat juga kerjanya. Selama empat hari harus membuat lima buah mobil gelagah!” Hari-hari bekerja tapi rasanya bermain. Yang membahagiakan adalah dapat rezeki.
Akibatnya, Beno makin emoh belajar. Ia malah sudah pasrah gagal dalam mengerjakan tugas Matematika. Pilihannya adalah dihukum. Matematika adalah pelajaran yang sangat sulit. Di kelas, ia mengantuk. Penentuan sikap sudah jelas. Beno memilih membuat mobil-mobilan dari gelagah. Rezeki yang diperolehnya bisa untuk membahagiakan adik dan membantu kebutuhan keluarga.
Kejutan demi kejutan terjadi. Bapaknya membantu mencarikan gelagah. Beno sempat tidak percaya saat mengetahui gurunya yang biasa memberi hukuman malah memberi bantuan berupa lem. Pokoknya, Beno menyadari gelagah (tebu) menjawab kesulitan-kesulitan hidup. Namun, ia belajar memahami bapaknya yang tetap memilih bertanam padi, tidak mau seperti tetangga menanam tebu.
Cerita anak yang digubah Bung Smas sebenarnya menantang anak-anak yang membacanya untuk “berdiskusi”. Cerita yang sederhana tapi menyimpan banyak masalah pertanian. Ada pula masalah pendidikan. Pokoknya, cerita yang seru bila dijadikan sumber diskusi di kelas. Di Indonesia, kebiasaan berdiskusi setelah anak-anak membaca buku sangat jarang terjadi. Tugas yang sering adalah membuat sinopsis atau resensi.
Di sekolah, Beno bukan anak yang pintar. Ia tersiksa oleh Matematika. Gurunya tidak mengecapnya bodoh. Beno tetap anak istimewa. Yang menentukan adalah kemahirannya dalam membuat mainan. Buku cerita yang memberi penghargaan tidak melulu ilmu dari beragam mata pelajaran.
Gurunya malah memberi anjuran untuk mendukung Beno: “Coba kaubuat kerajinan lainnya selain mobil-mobilan. Misalnya rumah Minangkabau atau masjid, gereja, rumah joglo, dan yang lainnya. Barang-barang seperti itu sangat laku di kota. Bawa saja ke toko kerajinan. Pasti akan laku. Ingat, jangan terlalu murah memberi harga. Perhitungkan harga bahan bakunya, waktu dan tenaga penggarapanmu. Kalau perhitunganmu cermat, usahamu akan maju.” Nasihat itu diberikan kepada Beno yang masih murid SD, yang bermimpi bisa melanjutkan belajar di SMP meski bapaknya sudah menyatakan tidak ada anggaran. Cerita yang apik!
_________
Pemulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redakksingewiyak@gmail.com
