Showing posts with label Novel. Show all posts
Showing posts with label Novel. Show all posts

Sunday, June 16, 2024

Novel | Salim Halwa (Bab Terakhir) | Syamiel Dediyev

Novel Syamiel Dediyev



Bab Terakhir


4 Mei 2020

"Salim, kita udahan ya," ujar Fani dengan berat, kemudian pergi berlari menjauhiku, meninggalkan sebuah handbag oranye hitam.


Seharusnya hari ini adalah hari terindah, hari di mana seragam putih abu-abu akan menjadi artefak sejarah. Hari di mana gelak canda, tangis, dan bahagia bersatu merayakan pengumuman hasil kelulusan di hari sebelumnya tanggal 3 Mei 2020. Semua bergembira merasakannya. Namun, bagiku ternyata ini menjadi hari yang rasanya bercampur aduk saat seseorang gadis pamit mengakhiri hubungannya tanpa ada kata pradiskusi terlebih dahulu. Sekejap datang, berucap, kemudian pergi berlari. Aku hanya bengong, terdiam, meski kisah ini sudah aku perhitungkan sejak awal kita memutuskan untuk  sepakat dalam satu rasa.


"Hai, Badut!" ujar Halwa keras menggodaku sambil menepuk pundakku dari belakang. "Akhirnya, apa yang aku ucapkan kemarin benar kan? Kamu hanya akan menjadi Badut Salim," tambah Halwa memancing amarahku. Sepertinya Halwa memperhatikanku sedari tadi. 


"Bila harus menjadi badut, Aku akan rela menjadi badut jika itu bisa membuatnya bahagia," jawabku. "Tapi aku badut yang manis karena aku pernah memiliki seorang idola sekolah. Dan engkau tahu Awa, itu adalah sebuah track record yang keren, haha," tambahku.


"Dasar!" balas Halwa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Akhirnya, satu gadis telah memilih hidupnya. Bagaimanapun aku harus menghargai pilihannya. Lagian terlalu berharap lebih hanya akan membuatku terpenjara dalam rasa kagum. Hanya bisa melihatnya tanpa mampu memilikinya. Kita seperti berada di dalam penjara ruang kaca yang besar, hanya bisa melihatnya, namun tak bisa menyentuhnya. Benar kata Ery dulu, "Kamu yakin sama anak satu ini?" Bisik hatiku teringat masa itu. Saatnya bangun mengukir cita-citaku sendiri. 


Saat ini, tinggal satu gadis yang entah aku pun tak tahu kisahnya nanti. Apakah akan tetap bersamaku ataukah akan pergi sama seperti Fani. Meski dalam hatiku berkata "Please! Bisakah engkau singgah dan menetap, karena aku dan kamu sudah saling mengenal begitu lama dan akrab". 


Membangun kembali sebuah hubungan dengan orang baru akan sedikit merepotkan. Aku tak tahu gadis itu seperti apa masa lalunya, dari mana harus memulainya dan bagaimana bila berhadapan dengan kisah cinta masa lalunya. Jangan sampai sudah terbina sedemikian rupa kemudian kembali pada cinta masa lalunya. Tentu, itu akan membuat sakit. Di sisi lain kisahku dengan Fani mungkin sedikit melunturkan rasa di hati gadis itu. Aku agak kikuk menghadapinya.


"Makan, yuk! Aku laper pengen yang seger-seger, tapi gak mau Bakso Aci Akang, aku bosan!" ajak Halwa dengan manja.


"Oke deh, tapi ke mana?" jawabku balik bertanya.


"Gimana kalo Mi Ayam Bakso Tetelan Pertama yang samping Warung Upnormal itu loh," usul Halwa dengan manis.


"Yang mana itu? Bukannya bakso tetelan yang deket Hotel Ratu itu?" jawabku pura-pura tak tahu.


"Bukan, yang arah alun-alun itu!" jawab Halwa kesal. 


"Oh, oke deh, siap sahabatku. Apa pun yang kamu mau hari ini, mari kita bersyukur!" jawabku semangat.


Kita pun melaju menuju tempat yang telah disepakati. Hari ini jok dan helm motorku kembali ke pemiliknya kembali pada settingan awal. Seseorang yang sempat hilang berganti peran, kini pun kembali menjadi peran utamanya. Dunia kembali ceria. Bunga pun mulai mekar. Lebah dan kupu-kupu pun akan datang menghampiri. Demikian dia hari ini, kembali di saat dia pertama kali bertemu denganku, gadis yang ceria dan manis.


***


"Rame juga ya? " tanyaku pada Halwa. 


"Aku belum pernah ke sini, makanya mau nyoba," jawab Halwa penasaran.


"Selamat siang Bang, ganti lagi nih ceweknya?" tanya Yanto pelayan warung bakso. Aku lihat mata Halwa langsung tajam menatapku. 


"Diem ah! Aku pesen yang biasa ya, oke! Jangan yang pedes-pedes" ujarku kepada si Yanto. 


"Siap Bang," balas Yanto.


"Halwa, ngomong-ngomong jadi daftar ke UMY?" tanyaku.


"Insyaallah, Farmasi. Semoga lolos. Oh iya, Salim, Kamu jadi ke anastesi di Poltekkes Jogja?"


"Insyaallah, kampusnya gak jauh kok dari UMY." 


"Kamu nanti ngekos?"


"Sebenernya ada asrama, tapi kayaknya aku tinggal di rumah Pak De. Soalnya aku disuruh nemenin mereka sama Mamah, deket kok cuma 15 menit dari kampus UMY."


"Hmmm bosan, nanti ketemu kamu terus dong?"


"Segitunya sama aku Awa, apakah aku separah itu?" 


"Aku hanya bercanda. Kamu adalah sahabat terbaikku. Aku gak pernah bosan, paling juga kesal."


"Kesal kenapa?" 


"Karena kamu jahat!" jawab Halwa.


"Janji yah, Salim, jangan tinggalin aku lagi saat aku butuh."


"Insya Awa, kita kembali ke nol yah, jangan ada lagi pertikaian, tangisan, dan kesal di antara kita."


"Kayak pertamina aja. Tapi, terima kasih, ya Salim. Jangan lupa nengok aku minimal seminggu sekali!"


"Biar apa?"


"Setidak-tidaknya bisa anterin aku loundri baju, hahaha."


"Haha. Kamu tuh selalu bisa melucu. Terima kasih untuk persahabatan selama ini. Di saat bosan dan kesal, kamu tetap sabar menghadapiku." 


"Aku pasti merindukanmu, Salim."


"Kayak kita bakalan jauh aja, kampusmu deket." 


"Meskipun dekat kalo bukan prioritas pasti akan lupa." 


"Kamu adalah sahabatku. Tentu kamu prioritasku, percayalah"


Halwa pun kaget mendengar jawabanku. Meski jawabanku seperti sebuah lobi basa-basi nan garing. Sejujurnya memang Halwa adalah pioritasku dari dulu. Cantik  itu relatif, tapi yang menyenangkan itu unik. Kadang posisinya bisa mengalahkan seseorang yang cantik karena hidup butuh hiburan dari penatnya kehidupan. Wanita yang menyenangkan akan membuat kita lebih bahagia. Karena kecantikan fisik akan memudar dengan usia, namun kecantikan hati akan bersinar dan bisa lebih bersinar lagi di masa depan.


"Terima kasih untuk kisah kita di masa lalu. Semoga segala mimpi dan harapan kita bisa terlaksana di masa depan." Aku pamit. Halwa menjawab dengan anggukan dan mata yang berbinar.


"Ingat, jangan tinggalin aku lagi," uajr Halwa.


"Iya, aku janji," balasku kepada Halwa diiringi senyum manisnya.


Hari ini memang diawali dengan sendu, namun hadirnya sahabat sejati, kesenduan itu pun akhirnya menepi dengan sendirinya. Berganti canda dan ceria saat kita bersama seorang sahabat yang sudah mengerti apa mau kita, apa yang kita rasakan, dan apa yang kita inginkan. Bersama sahabat, sepedih apa pun dunia, masih ada yang setia menemani. Meskipun dalam sebuah persahabatan, ada fragmen-fragmen pertikaian kecil yang menyulut konflik. Bila tak pandai bersepakat maka sebuah persahabatan akan bubar. Bagaimanapun masa lalu adalah kumpulan cerita dan hari ini adalah realita, sedangkan esok adalah kumpulan doa-doa kebaikan dan harapan. Semoga esok kisah kami akan lebih hebat lagi.


Tamat!



Sunday, June 2, 2024

Novel | Salim Halwa (#10) | Syamiel Dediyev

Novel Syamiel Dediyev 



#10


Halwa duduk, merebahkan tubuhnya ke sisi kanan, bersandar pada tiang teras rumah. Sesekali menghela napas dan perlahan terdengar lirih isakan tangis.


"Apa aku ini tak menarik?" tanya Halwa membuatku kaget. Aku kira dia akan marah dengan berkomat-kamit menanggapi pertanyaanku. Namun sebaliknya, isakan itu lirih terdengar.


"Maksudmu?" tanyaku balik, penasaran.


"Kenapa semuanya hanya menganggapku sebagai sebuah kotak penebusan dosa di sebuah Gereja? Semua ingin didengar dan diampuni. Jika hati mereka sudah plong, mereka kemudian pergi. Kembali lagi saat butuh dan pergi lagi tanpa menghargai sekalipun siapa yang ada di sebelahnya," ujar Halwa menahan isak.


"Aku bukan tempat sampah Sam, yang dugaan orang-orang untuk membuang unek-unek kesalnya, ketika sudah plong kemudian pergi. Aku manusia butuh didengar juga. Butuh teman juga untuk mengurai kesal di kepalaku, dan semuanya tak ada saat aku butuh Sam!" tambah Halwa yang semakin mengubah suasana malam ini menjadi sendu.


Perlahan gerimis pun turun menemani tetesan air mata Halwa yang tak sanggup ditahan. Hujan pun terlihat tak tega untuk turun lebih deras seperti biasanya. Lebih memilih gerimis seperti ingin ikut bersama menemani sendunya seorang gadis. Aku pun mengajak Halwa berdiri dan duduk di kursi, takut hujan akan deras menerpa.


Ery, apa yang telah kau lakukan pada Halwa sehingga dia seperti ini larut dalam sendu saat dukungan emosional sangat dibutuhkan untuk menghadapi UN sebentar lagi. Baru kali ini Halwa terlihat murung setelah sekian lama hidup dalam rasa ceria dan bahagia. Raut muka yang terbiasa tersenyum sekarang berubah murung.


"Apa itu cinta pertama? Menyebalkan dan palsu?" ucap Halwa sinis.


"Ery?" tanyaku.


"Sepertinya aku salah membuka pintu dan membiarkan orang lain masuk tanpa lebih dulu kutahu orangnya. Aku kira dia adalah panutan ternyata dia penuh tuntutan. Aku kira dia adalah surga dunia ternyata mengajakku ke pintu sebelahnya. Sedangkan aku menutup pintu pada orang yang sekian lama selalu hadir menemaniku dalam canda," jawab Halwa sambil melihatku dengan harap sendu. Sekali lagi sendu, begitu murung tanpa canda. 


"Selugu itukah aku sehingga mudah disakiti dan dipermainkan. Selugu itukah aku, Sam? Sepahit inikah cinta pertama?" tambah Halwa berusaha melawan isak tangisnya.


"Cinta pertama? Aku pun tak mengerti Awa apa itu cinta pertama? Semahal itukah cinta pertama? Jika cinta pertama itu gagal, apakah sebuah rasa cinta itu pergi dan hilang? Terus bagaimana jika kita bertemu orang lain di masa depan? Apakah rasa cinta itu tidak bisa kembali lahir?" jawabku dengan lirih.


"Apakah cinta pertama yang kita rasakan saat ini benar-benar sebuah cinta pertama? Ataukah cinta palsu?" tambahku.


Halwa pun perlahan berusaha mengubah mood-nya menjadi lebih tegar setelah mendengar beberapa kalimatku. Frekuensi isaknya pun perlahan melambat meski sesekali masih terdengar suara seperti menahan  


"Berhentilah Halwa. Kita masih terlalu muda untuk hal-hal seperti ini. Kita belum siap untuk masuk terlalu dalam pada kisah yang melenakan itu. Berdirilah dan kembali menatap masa depan," nasihatku pada Halwa dengan harap sedihnya akan meredup. 


"Apakah kamu yakin bahwa aku dan Fani akan selamanya bersatu?" tanyaku.


Halwa pun menatapku dengan menggeleng sebagai jawaban ragu. 


"Enggak kan? Begitulah Awa, jangan kan kamu, aku sendiri juga nggak tahu besok cerita kita seperti apa? Orang bijak berkata, syukuri yang ada saat ini dan berdoalah untuk masa depan yang belum ada."


"Sok tua," jawab Halwa usil sambil guratan senyum mulai kembali terlihat.


"I, aku kan teman kamu, wajar kan kasih masukan, malah dibilang sok tua," jawabku dengan kesal.


"Iya, tapi masukanmu kayak bapak-bapak yang nasihatin anaknya. Itu terlalu tua!" jawab Halwa.


"Ya harusnya gimana dong?" tanyanku balik dengan kesal pada Halwa.


"Ya nggak gimana-gimana, cari dong yang romantis dikit," jawab Halwa.


"Hadeh, Awa sejak kapan aku romantis? Ada-ada aja deh." 


"Emang kamu orang nya bebal, nggak bisa romantis," jawab balik Halwa bercanda.


Hujan pun reda. Aku buru-buru membuka kap bagasi motorku, mengambil lap kaneboku untuk melap jok motorku. Aku pun sambil bergumam bernyanyi lagu Dewa 19.


Hawa tercipta di dunia 

Untuk menemani sang Adam 

Begitu juga dirimu 

Tercipta tuk menemani aku


"Bisa diem nggak?" teriak Halwa kesal sambil melempar sendalku ke arah motor.


"Hei ini motor habis dicuci, ya Allah Awa!" balas teriakku dengan kesal.


"Lagian, kamu nyanyi jelek banget, ngerusak lagu orang," jawab Halwa.


"Lagian kamu dari tadi sedih terus, bentar lagi ujian nih, bahagia kek," ujarku. 


"Lah, kamu dari tadi sok-sokan ikut sendu. Bikin aku tambah sedih," jawab Halwa tersenyum.


"Masa aku cekikikan ngeliat kamu sedih," jawabku.


"Ya, setidaknya bawa aku kek ke dalam hatimu," ujar Halwa.


"Hatiku sudah full, nggak bisa menerima tamu," jawabku.


"Hawa tercipta di dunia...," aku menggoda Halwa lagi.


"Bisa diem nggak?  Aku lempar lagi nih nanti motormu!" Teriak Halwa kesal.


"Untuk menemani sang Adam...," godaku lagi. 


"Sam! Berhenti!" teriak Halwa lebih keras.


Teriakan Halwa menggangu isi rumah. Perlahan suara pintu pun terbuka. Terlihat ayah Halwa dengan sedikit kesal menatap kami berdua.


"Eh, Halwa dan Salim, udah jam sepuluh malam Nak, jangan ribut, malu sama tetangga. Salim udah ya Bak, udah malam, bisa besok lagi," ujar Pak Haji agak kesal dengan kelakuan kami.


"Syukurin," ujar Halwa.


"Ya udah Awa, aku pamit ya, terima kasih kopinya ya."


"Iya, lain kali kalo main bawa kek martabak. Jangan gratisan melulu," ujar Halwa.


Aku hanya bisa tersenyum sambil menyalakan motor.


Hawa tercipta di dunia 

Untuk menemani sang Adam


Aku pun bernyanyi lagi.


Prak!

Spakbor belakangku berbunyi. Ternyata sebuah lemparan sendal mengenai motorku yang kedua kalinya.


"Bisa diem nggak?!" teriak Halwa dengan senyum paling manis yang mengingatkanku saat kita pertama kali dekat dan akrab. 



(Bersambung)



Sunday, May 19, 2024

Novel | Salim Halwa (#9) | Syamiel Dediyev

Novel Syamiel Dediyev 



#9


"Fani, ayo pulang!" ajakku sambil memberi dan menyalakan intercome headset helmku.


Aku hanya bisa tersenyum menatap Fani saat menyalakan mesin motorku. Fani pun membalas tatapanku agak malu-malu meski hal tersebut terjadi sesaat saja. Serasa seperti ingin sekali menekan tombol pause agar semua ini berhenti sejenak, agar aku bisa sedikit menikmati manis wajahnya. Entah, aku sepertinya tertawan oleh pesonanya, senyum manis, dan lesung pipinya. Membuatku larut dalam resah meski perkataan Halwa selalu menghantuiku. 


"Sadarlah, Salim. Cewek manja itu hanya butuh teman bermain bukan teman berbagi rasa!"


Sebuah pilihan rumit antara Halwa yang telah kembali pada si Monster Takabur itu ataukah Fani yang selalu mencoba mengganggu alam pikiranku dengan kehadirannya di dekatku.


"Please Salim, mau kan?" tanya Fani membuatku berada dalam pilihan yang sulit.


"Jangan buat aku kecewa, Salim. Tahu kan betapa berharganya sebuah cinta pertama bagi seorang gadis?" tambah Fani merepotkanku.


"Tapi, ini seminggu lagi mau UN Fani. Apakah nanti tidak akan merepotkan otak kita?" tanyaku pada Fani.


"Maka dari itu, Salim, aku katakan ini sebelum semuanya berlalu. Ada resah yang harus kutenangkan dalam sebuah kepastian. Jika tidak, resah itu akan mengganggu setengah dari akal sehatku," jawab Fani sedikit membuatku melemah sulit untuk menolak.


"Apakah aku kurang menarik bagimu?" tambah tanya Fani perlahan- lahan sekali lagi mencoba menggedor pintu pertahananku.


"Adakah manusia bodoh yang akan menolakmu Fani?" bisikku dalam hati dengan sedikit menoleh ramah ke hadapannya. 


Aku jadi teringat sebuah lagu lama kesenangan Bapakku yang selalu membuat mamahku kesal. Menganggap lagu itu cerita tentang mantan bapakku. Padahal bapakku bilang lagu itu untuk mamahku. Lagu itu berbunyi:



Pria mana yang tak suka senyummu juwita


Bila ada yang tak suka mungkin sedang gobl*k



"Pria mana yang bisa menolakmu Fani?” tanyaku.


"Jadi jawabannya?" tanya balik Fani.


"Ya gak harus dijawabkan? Kamu tentu sudah tahu isi hatiku," jawabku dengan menganggukkan kepalaku sedikit.


"Terima kasih atas jawabanmu. Aku senang sekali," ujar Fani dengan mata berbinar terlihat dari spion kananku, seperti sengaja ia melihat spionku. Aku jelas agak nekat kali ini. 


"Urusan besok gimana, besok ajalah," ujarku dalam hati. 


"Fani tahu gak, aku punya cerita lucu, mau denger gak?" tawarku.


"Mau dong, aku ingin dengar," jawab Fani penasaran. 


"Jadi gini, bapakku cerita kalau dulu waktu SMP ada yang mengirim surat ke bapakku, kalimatnya begini: kata teman-teman, kamu suka sama aku ya?"


"Terus bapakmu jawab apa Salim?" 


"Bapakku jawab nggak mau."  


"Ih jahat banget. Cewek itu pasti sakit hati ya?" 


"Pastinya!" 


"Fani, kamu tahu siapa yang ditolak bapakku pada waktu itu?" 


"Siapa?" 


"Mamahku." 


"Oh, pasti mamahmu kesal terus kalo ingat peristiwa itu." 


"Yah begitulah, hehe."


"Fani, boleh aku minta sesuatu?"


"Boleh."


"Jika ada orang bertanya tentang hubungan kita, jawab saja aku yang nembak duluan." 


"Lah, emang kamu duluan kan yang nembak?" 


"Loh, kok bisa?"


"Siapa yang bilang ke Ery kalau kamu pacar aku?" 


Ya Allah aku benar-benar terjebak oleh kata-kataku sendiri. 


***


16.30 WIB


Menunggu senja di teras rumah, melihat anak-anak pergi mengaji di surau Pak Ustaz yang letaknya tak jauh dari rumahku. Lantunan ayat Al-Qur’an sahut-menyahut dengan suara sopran dan alto yang saling melengkapi. Sesekali Pak Ustaz teriak, "ulangi". 


Nada WA HP-ku berbunyi:


Salim, malam ini kamu ada waktu gak? Ke rumah ya.


Whatsapp dari Halwa yang mengagetkanku. Saya pun balas.


Jelas ada dong, untuk sahabatku apa sih yang gak ada waktu. 


Lepas salat Isya, aku izin kepada Mamah untuk menemui Halwa.


"Selamat malam Awa!" aku menggoda Halwa yang sedang duduk di teras menatap langit. 


"Jangan sok manis!" jawab Halwa sinis. 


"Hei, masihkah kau marah padaku?" tanyaku. 


"Aku tak pernah marah padamu. Aku hanya kesal. Mau kopi gak?" tawar Halwa.


Aku bingung menjawabnya. 


"Tenang, kali ini aku lagi baik, gak bakalan bikin kopi tanpa gula," jawab Halwa membuyarkan kecurigaanku.


"Gimana hubungan kamu sama Fani?" tanya Halwa.


"Ya, begitulah, hehe," jawabku.


"Seneng ya bisa menaklukkan primadona sekolah," tanya Halwa dengan raut sinis.


"Haha, entahlah, aku juga gak tahu. Rasa itu mengalir begitu saja meski kubendung dengan bendungan terkuat di bumi, tetap saja sulit menahannya," jawabku.


"Hati-hati, Salim. Aku gak mau kamu hanya jadi badut cinta," ujar Halwa menasihatiku.


"Sudahlah Awa, apa yang sudah kuputuskan, apa pun risikonya sudah telanjur terjadi."


"Maaf Salim, bukan maksudku mengganggu hubungan kalian. Tapi aku hanya seorang sahabat yang cuma bisa memberi masukan padamu," ujar Halwa sedikit pesimis melihat hubunganku dengan Fani.


"Iya gak apa-apa Awa, wajar bila kamu khawatir. Terima kasih sudah menjadi sahabat terbaikku," jawabku.


"Oh, iya, bagaimana kisahmu dengan si Takabur itu?" tanyaku yang membuat sinisme Halwa meningkat tinggi dan mulai terlihat mulutnya hendak berkomat kamit kepadaku. Dan ....


(Bersambung)


Sunday, May 12, 2024

Novel | Salim Halwa (#8) | Syamiel Dediyev

Novel Syamiel Dediyev 



(#8)


Gadis itu kini menjadi seperti es balok yang dingin, beku, tanpa sapa tanpa kata. Hanya waktu yang akan mencairkan semua amarahnya. Atau malah dia akan bertahan seperti itu. Selalu masuk  ke dalam sebuah frezeer besar ketika suasana mulai mencair dan kembali membeku. Hal itu akan membunuh perasaanku secara perlahan dengan sikap diamnya. Hari-hari berikutnya pasti akan seperti ini. Mundur jauh ke belakang, kembali seperti awal sebelum kita dekat satu sama lain. Seperti katamu Halwa, "Kita anggap saja yang lalu tidak pernah terjadi kembali ke titik nol, hanya sekedar teman sekelas tanpa harus dekat." 


Gila, bagaimana kalimat itu bisa dengan mudah meluncur dari bibirnya. 


"Sejahat itu kah aku?" bisik hatiku.


Setiap usahaku untuk mendekatinya berakhir dengan dingin tanpa kata yang berbalas, "Ayo, please bicaralah Awa semua bisa kita diskusikan," bisikku dalam hati.


"Hei Salim, mungkin dia butuh waktu untuk sendiri. Jika kau ganggu terus, dia akan semakin marah. Tapi jangan jua kamu hilang. Itu akan membuat dia semakin merasa dipinggirkan," ujar Rina kepadaku ketika aku sudah sekian lama melamun tak pernah fokus melihat papan tulis. "Hampir saja kamu dipanggil ke depan!" tambahnya.


***


"Hei, Salim, kita makan Bakso Aci Akang yuk!" pinta Fani yang mendekatiku saat melihatku keluar dari kelas. Aku hanya bisa diam tanpa kata. 


"Oh kamu gak mau ya? Ya udah gapapa kalo begitu, bisa besok lagi," ujarnya sekali lagi. 


"Gak apa-apa kok, hayuk aku juga laper tadi gak sempet makan siang." 


Lagi-lagi kemacetan di perempatan Ciruas bikin aku kesal. 


"Apa aku harus jadi anak presiden dulu dan bawa Voorijder biar bisa jalan ini sedikit lengang, Ya Allah, berilah hidayah bagi pemimpinku untuk sedikit lebih bekerja mengurangi beban stres kami yang rakyat kecil ini," ujarku. 


"Hei, jangan emosi. Sabar," kata Fani menenangkanku.


Setelah dapat space memutar dan memarkirkan motorku, aku melihat sebuah mobil yang plat nomornya aku hafal. 


"Kenapa dia ada di sini?" bisikku lirih. 


Dengan jalan tergesa-gesa Fani kembali. Sambil kuparkirkan motor, aku berkata "Kayaknya kita gak jadi ngebakso deh hari ini. Perutku tiba-tiba gak enak." 


"Bercanda kamu. Gak ah, aku laper," jawabku sambil masuk dan menyapa abang baksonya.


Surprise, di situ terlihat dua anak muda yang saling bercanda. 


"Salim, hayuk pulang yuk!" pinta Fani. Aku tidak mau. "Please Salim ini gak bagus, ayo duduk!" pinta Fani sekali lagi. 


Mataku tak sedikit pun lepas dari sesosok wajah yang selalu berkata bahwa aku seorang pembohong. Halwa terkaget melihatku dan berpura-pura takacuh. Aku pun akhirnya sama takacuh juga.


"Hai, Fani gimana kabarnya?" tanya Ery sok akrab. Fani hanya terlihat diam seperti ketakutan enggan menjawab. Halwa pun kaget kenapa Ery bisa kenal Fani. 


"Oh, ternyata si Salim yah pacar baru kamu Fan?" tanya Ery sekali lagi dengan sedikit mengganggu. Aku lihat wajah Fani nampak tegang.


 "Iya, saya pacar baru Fani," jawabku pada Ery dengan lugas yang disambut wajah sinis Halwa. Jawabanku membuat Fani kaget dan heran.


"Gak salah Fan kamu milih dia? Punya kelebihan apa anak kampung ini? Masih banyak yang lebih dari dia Fani. kamu cantik dan pinter masa sama yang ginian? Kamu kan mau kuliah kedokteran, nyesel loh nanti," ujar Ery dengan semangat memojokkanku. Sepertinya sikap sombongnya tidak pernah bisa hilang. Masih saja semangat merendahkan.


Halwa pun terlihat sudah tak nyaman dengan omongan Ery yang sudah berlebihan dan bergegas mengajak Ery pulang.


***


"Kamu serius?" 


"Maksudnya?"  


"Serius aku pacarmu?" 


"Hahaha. Aku bercanda Fani. Lagian aku hanya ingin membuat si pengacau itu diam. Lagian kita sudah sepakat kan?"


"Salim, tahu gak, aku kira kita hanya akan berteman sesuai dengan kesepakatan yang pernah kita setuju tapi..." ujar Fani sambil kita berjalan menuju parkir motor. 


"Tapi apa?"


"Kayaknya aku benar-benar menyukaimu," ujar Fani membuatku kaget. 


"Berhentilah bercanda Fani. Ini mau UAN jangan membuat semuanya tambah Gaduh," ujarku sambil memakaikan helm ke Fani.  


"Aku serius. Beneran, aku suka kamu Salim. Tolong jangan tanya alasanku kenapa. Aku sendiri gak tahu kenapa," jawab Fani.



(Bersambung)


Sunday, May 5, 2024

Novel | Salim Halwa (#7) | Syamiel Dediyev

Novel Syamiel Dediyev 



#7

Sesampainya di rumah, aku hanya bisa menyandarkan tubuh lelahku pada sebuah kursi reyot memandang ke atas langit yang perlahan binar bintang menghapus mendung. 


"Kenapa semua jadi begini ya Allah," ujarku dalam hati mengingat peristiwa yang baru saja terjadi. "Ada apa denganmu Halwa? Sulit sekali aku mengerti tentang isi kepalamu, bukankah kamu sudah kembali ke mantanmu?" 


Pikiran ini menggangguku. Ujian Nasional (UN) semakin dekat. Kepala dan rasa harus saling berdamai atau kalau tidak dia akan merusak semuanya. Menyesal akan kata-kataku tadi yang tak bisa sedikit pun kuhentikan. Bagaimana bisa dengan secara sadar aku bisa berkata "Kalau memang aku suka Fani kenapa?" Aku terjebak dalam rasa saat aku dan Fani berjanji hanya menjadi teman saja. Kenapa juga aku menyetujui proposal yang Fani ajukan? Sebuah tanya dalam pikiran. 


"Hei, sadarlah, Fani itu sempurna. Jangan mudah terbawa arus perasaan. Nanti kamu hanya akan menjadi badut. Gak bakalan kan Fani suka sama kamu. Jangan bodoh!" bisik suara dari sisi kiriku.


"Eh semuanya bisa aja terjadi kan? Jangan nyerah tempel terus," bisikan dari sisi kananku.


Kenapa semua ini membuatku pusing. Aku pun masuk kamar dan mandi. Kemudian menuju tempat tidur. Bolak-balik kanan-kiri sulit sekali aku memulai tidur.


"Bener kan kataku, kamu pembohong!" aku pun terbangun, teringat kata-kata -alwa. Pembohong? Akhirnya tuduhan itu benar-benar memiliki dasar yang tak bisa aku mengelak sedikit pun. 


"Awa, tolonglah, kenapa kamu iniiii!" Teriak hatiku mematik gelisah. 


Aku pun perlahan memandangi lampu tidur Big Hero pemberian Halwa sebagai hadiah ulang tahunku. Ingatanku pun kembali ke masa kita pertama akrab dengan segala canda tawa. Berteduh bersama saat hujan datang. Makan bakso berdua saat stres mulai tinggi akibat pelajaran dan tugas-tugas sekolah yang semakin penat, serta pergi ke toko buku hanya untuk mengisi waktu. Semua dilakukan bersama dan kini kau kembali ke titik di mana engkau pertama kali mengenal sebuah rasa yang aku kira menepi bagiku adalah sebuah pilihan daripada aku mengganggu bahagiamu.


Dia adalah seseorang yang pasti memiliki memori yang indah bersamamu. Namun aku heran kenapa kau seperti marah kepadaku saat aku dekat dengan Fani? Inilah sebuah pertanyaan dariku untuk Halwa.


"Aku rindu masa-masa itu Awa," bisikku dalam hati. 


SENIN PAGI, O6.30.


"Selamat pagi Bu Haji, Halwa ada?" tanyaku kepada Umi Halwa. 


"Udah berangkat dari tadi jam enam. Tumben gak sama kamu? Kalian kenapa ya?" tanya balik Umi kepadaku. 


"Oh, gak ada apa- apa kok Bu Haji. Terima kasih. Salim pamit dulu ya."


Kenapa anak ini? Apakah marah besar, tiada kabar WA ataupun telepon seperti biasanya. Hari ini adalah hari di mana Halwa berangkat sendiri tanpaku dengan angkot. Pikiranku kembali gelisah ingin cepat-cepat sampai di sekolah dan bertemu dengannya.


Sampai di sekolah aku langsung masuk sekolah agak terlambar. Di mana Halwa? Bukankah dia sebangku denganku?


"Kamu cari Halwa ya? Dia pagi-pagi ngajak aku tuker tempat," ujar Rina berbisik. Rina yang sekarang yang menggantikan posisi Halwa sebagai teman semejaku. Tak kulihat Halwa mau menatapku, lebih dingin dari hari-hari sebelumnya.


Jam istirahat pun berbunyi. Teman-temanku pun bergegas keluar kelas mencari jajanan pengganjal perut. Tinggal aku dan Halwa di dalam kelas sesaat aku ingin mendekat tiba-tiba Fani datang masuk ke kelasku dan memberiku bekal.


"Ini ada roti untukmu,". Fani pun duduk di depanku sambil membuka roti lapisnya dan kita pun makan bersama.


Gubrakkk!


Suara kursi yang beradu dengan meja bikin kami kaget. Mata kami berdua pun mengarah pada sudut yang sama. Terlihat Halwa dengan wajah merahnya berkata 


"Berisik! Kalau mau pacaran sana di luar, ganggu orang aja!" 


Akhirnya dengan kesal Halwa pun meninggalkan kami berdua di kelas. Fani berkata 


"Salim... buruaaan... kejar Halwa!"


"Awa... tunggu...!" teriakku pada Halwa.


"Apalagi? Udah pacaran sana puas-puasin!" jawab Halwa dengan kesal.


"Apa-apan sih kamu inj, malu dilihat orang,". jawabku.


"Biarin semua orang tahu, buat apa lagi disembunyiin!" jawab Halwa.


"Tolong, bisa gak tinggalin aku sendirian dulu, please... aku bukan siapa-siapa kamu kan?" pinta Halwa.


"Kamu teman aku Awa. Kamu sudah salah paham," balasku.


"Iya kamu teman aku. Gak lebih kan?!" jawab Halwa. "Tolong biarin aku sendiri. Aku gak mau lagi repotin kamu. Semoga hubungan kamu sama Fani baik-baik selalu!" pamit Halwa kepadaku. Halwa pun lari ke musala sekolah.


"Maafkan aku Awa. Kamu salah paham," bisik hatiku.


(Bersambung...)


Sunday, April 21, 2024

Novel | Salim Halwa (#6) | Syamiel Dediyev

Novel Syamiel Dediyev 




#6

Pukul 20.00 WIB


Gerimis datang saat kupamit pulang ke Fani. Wajahnya terlihat bahagia. Heran juga, lama-lama sebuah rasa perlahan akan naik tingkat. Dari hanya meminta ditemani, berubah menjadi kawan diskusi setiap hari yang terbumbui oleh rasa yang ada di hati. Namun, harap itu hanya sebuah imajinasi karena realitalah yang membawaku kembali ke titik awal. Hanya bersepakat untuk saling mengisi. Tidak lebih, tidak boleh kurang. Berharap pada sebuah fatamorgana asa. Fani adalah sesuatu yang tinggi dan sulit untuk dimiliki perlu kerja keras dan mendaki.


Kutancap motorku dengan perasaan senang berkalut resah. Resah karena sebentar lagi bertemu wanita yang mungkin sekarang berubah menjadi macan yang galak menunggu mangsa. Di sisi lain Halwa adalah sahabat yang membuka jalanku mengerti tentang arti persahabatan.


"Met malam Awa," sapaku sambil perlahan mendekati dan menyalami kedua orang tua Halwa yang sedang di teras rumah menikmati udara malam.


"Malam amat, jam berapa ini?!" sewot Halwa. Aku sudah menduganya. Wajah manis itu akan berubah menjadi macan.


"Katanya tadi mau menunggu aku jam berapa pun? Ini martabaknya."


"Tapi gak semalam ini dong," jawab Halwa.


"Halwa, buatin kopi buat Salim," surug Umi Halwa akrab.


"Iya Bu sebentar," balas Halwa sambil berdiri perlahan masuk ke rumahnya.


"Nak Salim, kata ayahmu, kamu mau kuliah di Jogja ya?" tanya Umi Halwa.


"Iya, Bu. Insyaallah," jawabku.


"Oh, Halwa juga mau kami kuliahin di Jogja. Pumpung ada kamu, jadi minta sekalian dijagain ya. Umi juga udah bilang ke bapakmu," tambah Umi.


"Tapi awas ya Salim, kalo ada apa-apa kamu tanggung jawab," ujar Abi Halwa dengan serius.


"Ini kopinya, jangan sampai nggak dihabisin," ujar halwa.


"Tumben, baik banget kamu," jawabku dengan perlahan menyeruput kopi buatan halwa.


Agak kaget sepertinya, bada yang aneh dengan kopi ini. Kulihat Halwa sedikit menahan tawa, tapi tetap kuhargai kopi buatannya ketimbang aku mengatakan yang jujur, nanti Umi halwa marah lagi. Pikiranku pun berisi dugaan, "Jangan-jangan dia lupa kasih gula kopi ini. Atau memang sengaja lupa usil juga anak ini, ampun."


"Gimana Dek Salim, kopi buatan Halwa? Soalnya baru pertama kali dia buat."


"Masyaallah enak Bu," sambil kesal kulihat halwa yang menahan tawa.


"Oh, iya, Nak Salim dari mana pulang malam?" tanya Umi Halwa.


"Pacaran... pacaran…," jawab Halwa memotong.


"Enggak Bu. Cuma maen aja, pengen liat Kota Serang malam hari," jawabku.


"Pembohong," potong Halwa dengan kesal.


"Halwa, nggak boleh gitu, Nak," ujar Umi Halwa. ”Tapi, bukannya kalian selama ini...," tanya Umi Halwa lagi.


"Umi, udah mending kita masuk yuk. Bairin aja mereka dulu," ajak Abi Halwa kepada Umi untuk masuk ke dalam rumah.


"Pembohong pasti akan berbohong dan berbohong lagi," ujar Halwa.


"Kamu kenapa? Dari kemarin bilang pembohong-pembohong terus. Coba katakan, maumu apa?" tanyaku kesal.


"Ya pembohong. Katanya cuma jalan biasa, ternyata...," balas Halwa dengan menantang.


"Halwa, jika begini terus, aku akan malas bertemu denganmu," ujarku.


"Ya, wajarlah. Udah ada yang baru, buat apa ya lama, iya kan?" jawab Halwa yang semakin meningkatkan tensi darahku.


"Jadi ini kamu sengaja membuat kopi tanpa gula sama sekali?” tanyaku.


"Ya, karena kamu jahat!" jawab Halwa.


Ya, Tuhan, kenapa dengan kamu ini, Halwa. Dari kemarin selalu ngajak ribut terus. Whats wrong with you?" aku makin kesal ketika di setiap percakapan yang kudengar hanya kata "pembohong” dan ”pembohong”. Aku paling benci jika dituduh pembohong begini. Aku cukup geram.


"Halwa, maumu apa? Aku dan Fani hanya sebatas teman. Toh, kamu juga kemarin jalan dengan Ery aku biasa aja," ujarku.


"Cemburu ya?" tanya Halwa.


"Ya nggaklah. Buat apa aku cemburu. Emang aku ini siapa," jawabku.


"Aku nggak yakin kalau kamu nggak punya hubungan dengan Fani. Sebatas teman? Nggak mungkin," ujar Halwa seperti mendesakku.


"Awa, kamu boleh percaya aku atau tidak, terserah!" jawabku kesal.


"Tapi, kamu suka sama dia kan?" tanya Halwa.


"Kalau aku suka sama Fani kenapa?" jawabku tanpa sadar aku sudah mengeluarkan kalimat yang fatal. Waduh berabe ini urusan, bisikku dalam hati.


"Akhirnya, benar kan firasatku, kamu pembohong!" jawab Halwa kesal dan langsung masuk ke dalam rumah sembari membanting pintu.


"Awa denger aku dong, kamu jangan salah paham," ujarku.


Tak sedikit pun kata jawab terdengar dari mulutnya. Macan itu akhirnya benar-benar marah. Tiba-tiba, dia keluar dengan kesal hanya karena ingin mengambil martabak yang masih berada di teras rumah sambil berkata "Ribut sama kamu bikin lapar". Sekali lagi dia masuk ke rumah tak mau menoleh.


Malam ini sepertinya malam kelabu. Entah kenapa mulut ini tidal bisa dijaga sedikit. Akhirnya, sebuah kalimat terlontar tanpa aku berpikir panjang. Pasti hari-hari berikutnya menjadi hari yang kelam penuh konflik.


"Halwa ada apa denganmu?" bisik hatiku dengan pilu.


Aku pamit dan berucap di depan pintu, entah ada atau tidak ada manusia di belakangnya.


"Apakah ini akhir dari persabatan kita?"

 

(Bersambung)


Sunday, March 31, 2024

Novel | Salim Halwa (#5) | Syamiel Dediyev

 Novel Syamiel Dediyev




#5

"Beli satu biji? Pulpen satu biji? Jauh-jauh kemari? Ayolah Fani ini gak funny tahu gak?" ujarku pada Fani dengan sedikit heran.


"Kenapa sih, yang penting kan beli, berapa pun jumlahnya," jawab Fani.


"Tapi, ini bener-bener gak lucu Fani," ujarku.


Akhirnya kuambil satu bundle lostleef yang kutambahkan dalam kantung belanjaan Fani.


"Apa ini?" tanya Fani.


"Buat aku. Lostleefku abis," jawabku.


”Haha,” Fani tertawa.


"Malah ketawa. Hadeh.... Kalau bukan karena wajah kamu yang gak berdosa ini, akan aku...," ujarku dengan gemas.


"Mau diapain? Cubit?" jawab Fani dengan manja.


Benar-benar wajah lucu Fani sangat sulit dihindari. Aku hanya menatapnya sesekali saja. Tak berani aku melihatnya terlalu lama. Wajah yang bersih dan sedikit lesung pipit membuatnya tambah menarik. Detak jantungku seperti diajak berpacu lebih kencang rasanya. Kadang aku hanya bisa tersenyum sendiri memikirkannya. Entah kenapa akhir-akhir ini ia terlihat manja denganku. Beberapa pejuang cinta para fans Fani di sekolah ini merasa pasrah angkat tangan setelah tahu akan kedekatanku dengannya. Tapi bagiku, Fani adalah sebuah kesepakatan yang entah akan berakhir sampai kapan.


"Ya Allah belum juga aku apa-apain. Gimana, udah beres kan belanjanya?" tambahku.


"Yups," jawab Fani.


"Kita pulang aja kan gak ke mana-ke mana lagi?" tanyaku.


"Emang mau ke mana? Aku ikut aja, terserah kamu. Tapi gak usah kali ya... udah agak sore. Kita pulang aja, yuk!" ajak Fani.


"Baiklah," jawabku.


***


Aku dan Fani berhenti di depan halaman rumah.


"Ngomong-ngomong rumahmu yang mana, Fani?"


"Itu yang jelek, Sam."


"Jelek apaan. Gila, rumah gede gini kamu bilang jelek."


"Gak kok. Kecil rumahku, Sam."


"Fan, aku anter sampe depan gerbang aja ya."


"Gak mau. Kan tadi pamit, aku bilang bareng kamu."


"Udah sih, toh orang tuamu belum kenal aku, Fan."


"Makanya itu, kenalan dong, Sam."


"Malu ah."


"Ih, kamu gak boleh gitu, Sam. Buruan, jangan jadi pengecut!"


"Ya udah. Bismillah."


Aku dan Fani masuk ke dalam rumah.


"Eh, kamu udah pulang, Nak," ujar Mamah Fani.


"Udah, Mah. Ini barusan. Tadi mampir ke toko buku dulu, beli pulpen," jawab Fani. "Oh, iya Mah. Ini kenalin Salim yang biasa aku omongin sama Mamah," ujar Fani lagi kepada Mamahnya.


"Perkenalkan, saya Salim Bu. Temannya Fani," sapaku.


"Oh, kamu Salim yang selalu diomongin Fani. Hayuk sini, duduk dulu!" pinta Mamah Fani.


"Bu, boleh izin gak, Salim pulang duluan. Udah agak sore, takut kemalaman," pamitku.


"Ih, kok buru-buru?" tanya Mamah Fani.


"Iya, soalnya nanti setengah tujuh Salim mau jemput aku," Balas Fani menjawab pertanyaan mamahnya.


"Mau ke mana lagi? Tumben kamu malam minggu keluar. Biasanya ngurung diri di kamar," balas Mamah Fani.


"Kata mamah, Fani harus bergaul."


"Fani... maksudnya apa ini? Lanjut malam lagi?" tanyaku kepada Fani kaget.


"Pokoknya jangan lupa jam setengah tujuh harus udah di rumahku ya," ujar Fani.


"Hm... apa lagi ini Fani?" gerutuku.


"Kamu di rumah juga sendirian aja kan? Ngelamun doang gak ngapa-ngapain," ujar Fani.


"Iya aih, tapi kan...," aku tak melanjutkan pernyataan.


"Pokoknya jangan lupa jemput aku nanti malam!" tegas Fani.


***


Pukul 19.00.


Sampailah kami di sebuah resto di daerah Ciceri. Kami pun mencari tempat yang sedikit memanjakan mata dalam sekuel romantisme malam Minggu. Dalam hati aku tertawa, baru kali ini aku bermalam Minggu. Dengan siapa lagi kalau bukan dengan gadis pengganggu hati ini.


"Lagi di mana?" tiba-tiba Halwa meneleponku.


"E... lagi di luar," jawabku.


"Bohong. Coba video call!" pinta Halwa.


"Nih!" jawabku.


"Kamera belakang!" pinta Halwa.


"Lihat nih!" jawabku.


"Hai, Halwa…," sapa Fani menjawab video call.


"Tuh, bener kan, dasar pembohong!" ujar Halwa.


"Maksudmu?" tanyaku pada Halwa.


Halwa mematikan ponsel. Aku bingung harus bagaimana.


"Marah ya dia?" tanya Fani.


"Biasa. Biarin ajalah," jawabku.


"Kamu suka gak sama Halwa? Apa kehadiranku mengganggu kalian?" tanya Fani.


"Sudahlah tak perlu dibahas," jawabku.


"Jangan-jangan aku hanya pelarian dari rasa kesalmu kepada Halwa? Makanya setiap aku ajak kamu, setuju aja," ujar Fani.


"Kesal kenapa?" tanyaku.


"Halwa pergi sama cowok lain," tegas Fani.


"Hahaha...," jawabku dengan tawa sinis.


"Mau sampai kapan aku harus menemanimu?" tanyaku.


"Sampai wisuda," jawab Fani.


"Wisuda? Gila, itu sama saja kamu memenjara kebebasanku," jawabku agak ketus.


"Begitu ya? Merasa terpenjara? Gak suka jalan sama aku ya?" tanya Fani.


"Eeeh bukan, bukan maksudku seperti itu. Aku bercanda," jawabku.


"Serius juga gak apa-apa" tegas Fani dengan sedikit kecewa.


"Apakah kita mau seperti ini terus?" tanyaku.


"Maksudnya?" tanya Fani.


"Kenapa kita hadirkan percikan api saat kita ingin tersenyum dan tertawa bahagia malam ini?" kataku.


"Iya juga ya. Kita bertemu bukan mencari gaduhkan. Tapi, bertemu menjalin rasa," jawab Fani.


"Mencari bahagia," jawabku.


"Bisa jadi. Kamu itu seperti siapa?" tanya Fani.


"Maksudnya?" aku balik tanya.


"Hadirmu membuat jamku berhenti berdetak dan membuat waktu terkesan melambat," jawab Fani.


"Haha. Bahasamu Fani...."


"Kenapa?" tanya Fani.


"Gak apa-apa. Lucu saja," jawabku.


Teet… teeet… teet….


Bawain aku martabak telor assen.


Sebuah pesan WhatsAapp membuatku kaget.


“Siapa yang WA?" tanya Fani.


"Awa minta dibawain martabak telor assen," jawabku sambil kulihatkan WA Halwa. "Sebentar ya, aku bales dulu WA-nya," kataku izin kepada Fani.


Apa gak kemalaman kamu nunggu, balasku kepada Halwa.


Aku akan tunggu jam berapa pun kamu datang, jawab Halwa


Gila, serius amat, tanyaku.


Aku sedang gak mau bermain main. Apalagi pembohong seperti kamu, jawab Halwa


***


Pukul 20.00.


"Pulang, yuk, biar gak terlalu malam," ajakku pada Fani.


"Hayuk" jawab Fani. "Nanti sekalian aja mampir dulu ke assen," kata Fani lagi.


"Kamu gak apa-apa nungguin?" tanyaku.


"Menunggu asal bersamamu tak masalah buatku," jawab Fani romantis.


"Bahasamu itu," ujarku pada Fani yang terlihat hanya tersenyum tertawa tipis.


Akhirnya sampai juga di Martabak Assen Ciruas. Kami pun menunggu pesanan.


"Eh, tapi aku mohon maaf atas kejadian tadi," kataku memulai pembicaraan lagi.


"Gak apa-apa, kok. Wajar, yang penting kita sama-sama cari bahagia kan?" jawab Fani.


"Betul," jawabku.


"Hayuk balik! Kasian Halwa nunggu martabaknya," ujar Fani mengingatkanku.


"Baik, Bos!" jawabku.


***


"Sampai juga akhirnya di istanamu," ujarku.


"Terima kasih ya, udah mau nganter," ujar Fani.


"Gak pamit sama mamahmu?" tanyaku.


"Udah, tinggal lambaikan aja tanganmu ke CCTV itu pasti, mamahku melihat kok," ujar Fani. "Oh, iya Salim, kamu bisa nyetir mobil kan," tanya Fani.


"Bisa, odong-odong," jawabku bercanda.


"Ya, udah, besok aku tunggu jam delapan di rumah," ujar Fani.


"Mau kemana lagi?" tanyaku kaget.


"Ada aja. Pokoknya rahasia," ujar Fani membuatku penasaran.


"Selalu saja rahasia. Apa masih perlu rahasia di antara kita?" tanyaku.


"Karena rahasia akan membuatmu penasaran dan bisa bikin kamu gak bisa tidur," jawab Fani dengan wajah lucunya.

 

(Bersambung)