Sunday, May 12, 2024

Novel | Salim Halwa (#8) | Syamiel Dediyev

Novel Syamiel Dediyev 



(#8)


Gadis itu kini menjadi seperti es balok yang dingin, beku, tanpa sapa tanpa kata. Hanya waktu yang akan mencairkan semua amarahnya. Atau malah dia akan bertahan seperti itu. Selalu masuk  ke dalam sebuah frezeer besar ketika suasana mulai mencair dan kembali membeku. Hal itu akan membunuh perasaanku secara perlahan dengan sikap diamnya. Hari-hari berikutnya pasti akan seperti ini. Mundur jauh ke belakang, kembali seperti awal sebelum kita dekat satu sama lain. Seperti katamu Halwa, "Kita anggap saja yang lalu tidak pernah terjadi kembali ke titik nol, hanya sekedar teman sekelas tanpa harus dekat." 


Gila, bagaimana kalimat itu bisa dengan mudah meluncur dari bibirnya. 


"Sejahat itu kah aku?" bisik hatiku.


Setiap usahaku untuk mendekatinya berakhir dengan dingin tanpa kata yang berbalas, "Ayo, please bicaralah Awa semua bisa kita diskusikan," bisikku dalam hati.


"Hei Salim, mungkin dia butuh waktu untuk sendiri. Jika kau ganggu terus, dia akan semakin marah. Tapi jangan jua kamu hilang. Itu akan membuat dia semakin merasa dipinggirkan," ujar Rina kepadaku ketika aku sudah sekian lama melamun tak pernah fokus melihat papan tulis. "Hampir saja kamu dipanggil ke depan!" tambahnya.


***


"Hei, Salim, kita makan Bakso Aci Akang yuk!" pinta Fani yang mendekatiku saat melihatku keluar dari kelas. Aku hanya bisa diam tanpa kata. 


"Oh kamu gak mau ya? Ya udah gapapa kalo begitu, bisa besok lagi," ujarnya sekali lagi. 


"Gak apa-apa kok, hayuk aku juga laper tadi gak sempet makan siang." 


Lagi-lagi kemacetan di perempatan Ciruas bikin aku kesal. 


"Apa aku harus jadi anak presiden dulu dan bawa Voorijder biar bisa jalan ini sedikit lengang, Ya Allah, berilah hidayah bagi pemimpinku untuk sedikit lebih bekerja mengurangi beban stres kami yang rakyat kecil ini," ujarku. 


"Hei, jangan emosi. Sabar," kata Fani menenangkanku.


Setelah dapat space memutar dan memarkirkan motorku, aku melihat sebuah mobil yang plat nomornya aku hafal. 


"Kenapa dia ada di sini?" bisikku lirih. 


Dengan jalan tergesa-gesa Fani kembali. Sambil kuparkirkan motor, aku berkata "Kayaknya kita gak jadi ngebakso deh hari ini. Perutku tiba-tiba gak enak." 


"Bercanda kamu. Gak ah, aku laper," jawabku sambil masuk dan menyapa abang baksonya.


Surprise, di situ terlihat dua anak muda yang saling bercanda. 


"Salim, hayuk pulang yuk!" pinta Fani. Aku tidak mau. "Please Salim ini gak bagus, ayo duduk!" pinta Fani sekali lagi. 


Mataku tak sedikit pun lepas dari sesosok wajah yang selalu berkata bahwa aku seorang pembohong. Halwa terkaget melihatku dan berpura-pura takacuh. Aku pun akhirnya sama takacuh juga.


"Hai, Fani gimana kabarnya?" tanya Ery sok akrab. Fani hanya terlihat diam seperti ketakutan enggan menjawab. Halwa pun kaget kenapa Ery bisa kenal Fani. 


"Oh, ternyata si Salim yah pacar baru kamu Fan?" tanya Ery sekali lagi dengan sedikit mengganggu. Aku lihat wajah Fani nampak tegang.


 "Iya, saya pacar baru Fani," jawabku pada Ery dengan lugas yang disambut wajah sinis Halwa. Jawabanku membuat Fani kaget dan heran.


"Gak salah Fan kamu milih dia? Punya kelebihan apa anak kampung ini? Masih banyak yang lebih dari dia Fani. kamu cantik dan pinter masa sama yang ginian? Kamu kan mau kuliah kedokteran, nyesel loh nanti," ujar Ery dengan semangat memojokkanku. Sepertinya sikap sombongnya tidak pernah bisa hilang. Masih saja semangat merendahkan.


Halwa pun terlihat sudah tak nyaman dengan omongan Ery yang sudah berlebihan dan bergegas mengajak Ery pulang.


***


"Kamu serius?" 


"Maksudnya?"  


"Serius aku pacarmu?" 


"Hahaha. Aku bercanda Fani. Lagian aku hanya ingin membuat si pengacau itu diam. Lagian kita sudah sepakat kan?"


"Salim, tahu gak, aku kira kita hanya akan berteman sesuai dengan kesepakatan yang pernah kita setuju tapi..." ujar Fani sambil kita berjalan menuju parkir motor. 


"Tapi apa?"


"Kayaknya aku benar-benar menyukaimu," ujar Fani membuatku kaget. 


"Berhentilah bercanda Fani. Ini mau UAN jangan membuat semuanya tambah Gaduh," ujarku sambil memakaikan helm ke Fani.  


"Aku serius. Beneran, aku suka kamu Salim. Tolong jangan tanya alasanku kenapa. Aku sendiri gak tahu kenapa," jawab Fani.



(Bersambung)