Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Saturday, August 8, 2026

Resensi Kabut | Penjelasan dan Akhir

Oleh Kabut



Yang bercokol lama adalah pemerintah kolonial Belanda. Lakon penjajahan berdurasi lama, yang menimbulkan keuntungan sebesa-besarnya bagi Belanda. Yang terjajah merugi. Ia dirampok habis-habisan, menanggungkan banyak penderitaan. Sejak lama, Nusantara atau Indonesia memang menggiurkan. Yang tamak dan menginginkan mencipta kemakmuran mengadakan lakon penjajahan. Maka, di halaman-halaman buku pelajaran sejarah, adanya pemerintah kolonial Belanda mendapat pembahasan yang panjang.


Kolonialisme itu gagasan, senjata, bahasa, dan lain-lain. Sejarah di Indonesia, sejarah yang memuat beragam perubahan akibat kolonialisme. Yang mula-mula dimengerti adalah kerakusan Barat atau Eropa. Di alur sejarah, Barat itu mendapat “segala” meski Indonesia juga terbentuk dan bergerak akibat pengaruh peradaban India, Tiongkok, Arab, dan lain-lain. Indonesia yang menderita ingin mulia. Perlawanan dilakukan atas nama merdeka.

Pada babak yang mengejutkan, masa 1940-an, Indonesia hampir berubah nasib. Namun, yang terjadi adalah tumpukan derita. Pada 1942, yang berkuasa adalah Jepang. Pemerintah kolonial Belanda keok atas keberanian balatentara Jepang. Indonesia bukan bergirang, tetap saja sengsara. 

Kini, kita menuju peringatan kemerdekaan Indonesia. Yang paling teringat, apakah Belanda atau Jepang? Di desa dan kota, jutaan orang mengungkapkan syukur atas kemerdekaan. Yang berkibar adalah bendera. Yang terucap adalah doa. Yang beredar adalah cerita. Yang diharapkan adalah Indonesia yang tidak digoncang “pidato” atau “kejutan-kejutan’ beragam kebijakan pemerintah, yang digerakkan Prabowo-Gibran. Yang diinginkan Indonesia terus mencipta sejarah indah, bukan kejatuhan, bimbang, dan sesalan.

Pada saat peringatan hari kemerdekaan, yang diadakan di pelbagai tempat adalah lomba-lomba. Kita mengandaikan anak-anak memilih perayaan dengan membaca buku-buku. Di perpustakaan sekolah dan umum, ratusan buku bisa menjadi pilihan. Yang beruang bisa mendatangi toko buku untuk memilih sesuai selerai dan berhitung harga. 

Pada misi memenuhi hasrat membaca anak-anak, pemerintah memberi tanggung jawab atas nama perbukuan diharapkan bermutu. Kita mencatat itu “diharapkan”, belum ada keniscayaan bermutu. Maka, usaha pemerintah diwujudkan melalui pengadaan dan penyebaran buku. Pada 2024, diterbitkan buku berjudul Hilangnya Bola Meriam Jepang gubahan Fathul Khair Tabri. Di sampul depan, terlihat logo dan nama: Departemen Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Buku yang tidak main-main. Bukan bukan diperdagangkan tapi disuguhkan pada anak-anak di seantero Indonesia. Novel untuk anak yang mendapat pengantar sehalaman dari pejabat Pusat Perbukuan. Artinya, buku direstui pemerintah, diedarkan agar anak-anak mau membaca dan mendapat makna-makna. Novel yang berjudul Hilangnya Bola Meriam Jepang diinginkan menyadarkan anak-anak dengan sejarah Indonesia. 

Cerita terjadi di Tarakan, tempat bersejarah saat pasukan Jepang datang ke Indonesia. Pengarang mengingatkan sejarah melalui tokoh remaja bernama Ibay dan Yayat. Ibay berkunjung ke rumah paman (Hanim) yang bekerja di Situs Cagar Budaya Peningki Lama. Percakapan Ibay dan paman menguak sejarah berdasarkan sumber lisan dan peninggalan-peninggalan yang masih ada. Sejak mula, novel menjadi pengajaran sejarah bagi pembaca. Novel yang cocok dengan misi pemerintah dalam pembentukan masyarakat melek sejarah.

Ibay melihat beberapa peninggalan masa perang dan paman berbagi pengetahuan. Cerita pun disisipi penjelasan: “Tahun 1942 menjadi tahun yang sangat membekas di ingatan sejarah Indonesia. Pada tahun itulah pertempuran Tarakan pecak antara Kekaisaran Jepang dan Belanda yang telah menduduki Tarakan. Pada masa itu Tarakan menjadi daerah penting bagi Belanda karena memiliki 700 sumur minyak, penyulingan minyak, dan lapangan udara. Sementara itu, Tarakan juga menjadi prioritas utama bagi Jepang karena lokasinya yang strategis. Sehingga, menjadi basis termudah dan terdekat bagi kekuatan Jepang di Pulau Mindanao, Filipina.”

Cerita yang dibaca oleh anak dan remaja bila mendapat penjelasan memudahkan pemahaman. Mereka tidak perlu tergesa membuka buku pelajaran sejarah. Yang menikmati halaman-halaman cerita mengenai sejarah cukup membayangkan masa lalu. Di cerita yang digubah Fathul Khair Tabri juga terdapat penjelasan garis khatulistiwa, yang biasanya dipelajari dalam geografi. Novel yang ceritanya sederhana tapi tampak menjejalkan beragam penjelasan.

Ibay sedikit memiliki pengetahuan sejarah. Namun, pamannya diberi peran besar dalam menjelaskan sejarah sekaligus memunculkan kehormatan sebagai pegawai pemerintah. Jadi, para pembaca ingin menikmati cerita yang seru bersama dua tokoh (Ibay dan Yayat) tapi kehadiran paman seolah merebut porsi cerita demi menegakkan sejarah. Pengarang dalam bercerita dan memberi penjelasan sejarah menggunakan beberapa referensi meski “kurang” meyakinkan.

Penjelasan lagi: “Perang Tarakan berakhir pada 12 Januari 1942 ketika pasukan Belanda banyak yang ditawan dan persenjataan mereka direbut Jepang. Dalam pertempuran ini, Jepang berhasil meraup kemenangan dan menguasai Tarakan.” Pada masa yang berbeda, Tarakan itu tempat bersejarah. Yang berkunjung bisa menilik sejarah. Di novel, keseruan dibuat oleh pengarang dengan hilangnya benda bersejarah. Pencurian itu berhasil dibongkar oleh Ibay dan Yayat. Benda yang bersejarah tidak boleh hilang, tidak boleh diperdagangkan demi keuntungan pihak-pihak yang menodai sejarah Indonesia. Peristiwa itu menggampangkan pengarang memberi pesan-pesan kepada para pembaca mengenai pentingnya museum dan peninggalan benda-benda bersejarah. Sekali lagi, novel sering disisipi penjelasan.

Akhir cerita adalah kebahagiaan dan kehormatan. Pengarang sengaja memanfaatkan cerita untuk kemunculan pesan-pesan gamblang yang sesuai kepentingan pemerintah. Yang terbaca dalam novel atas keberhasilan menggagalkan pencurian benda bersejarah dan bentuk perhatian pemerintah: “Walikota menyampirkan selempang dan ikat kepala khas Kalimantan di kepala kedua anak itu. Sedangkan Paman Hanim menjadi Pamong Budaya Kota Tarakan yang bekerja di bawah Direktorat Kebudayaan Republik Indonesia.” Cerita yang benar-benar khas kehendak pemerintah, yang mengurangi “mutu” dalam takaran kesusastraan anak.


_______



Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 

Saturday, August 1, 2026

Resensi Kabut | Tidak Pernah Belajar di Sekolah

Oleh Kabut


Sekolah-sekolah ramai lagi. Sejak bulan Juli, murid-murid rutin lagi belajar di kelas-kelas. Mereka yang mengesahkan pendidikan terjadi di Indonesia. Kehadiran mereka di sekolah mengesahkan kerja para menteri dan para kepala dinas yang mengurusi pendidikan. Konon, ada yang ikut bergirang. Pihak-pihak yang bernalar makan turut meramaikan tahun ajaran baru. Namun, masalah-masalah terus terjadi, belum ada jawaban dan tanggung jawab yang terang. Murid masuk sekolah. Makanan masuk sekolah. Murid meraih ilmu. Yang berurusan makanan sadar laba. Kita sekadar iseng mengikuti berita-berita mutakhir meski sering “salah paham” dan dikutuk bingung setiap hari.

Cerita tentang sekolah digelar lagi. Murid-murid membawa buku tulis yang baru. Pihak sekolah meragu dalam penggunaan buku-buku pelajaran. Beragam agenda lekas membikin sibuk sekolah, terutama lomba-lomba dan agustusan. Para orang tua juga repot dan diterpa masalah. Sekolah sama dengan uang. Artinya, uang yang digunakan untuk beragam kebutuhan. Yang tidak terlupa adalah jumlah ongkos untuk transportasi dan uang saku. Pokoknya, sekolah adalah himpunan masalah.


Kita terbiasa berpikir sebagai kaum dewasa. Jadi, sekolah bisa mudah mendapat kritik dan keluhan. Yang berpendapat macam-macam mengenai sekolah bisa pamer argumentasi atau asal-asalan saja agar dianggap mengerti pendidikan. Di Indonesia, serbuan pendapat bermunculan setiap hari di media sosial. Sekolah masuk daftar terpenting dalam tema-tema rancu dan ruwet di Indonesia, dari masa ke masa. 


Apakah kita mampu mengembalikan lagi ingatan dan pengandaian memahami sekolah sebagai anak? Ikhtiar itu dilakukan oleh Yus Rusyana melalui novel pendek berjudul Menempuh Jalan Sendiri. Novel diterbitkan Pustaka Jaya, 1975. Cerita rampung ditulis pada 1974. Kita yang membaca menempatkan cerita berlatar masa awal Orde Baru, yang punya janji besar dalam pemajuan pendidikan. Janji yang keramat meski presidennya tidak pernah belajar di universitas atau memiliki gelar mentereng. 


Wajib dimengerti bahwa novel bukan sumber pokok bagi yang ingin mengetahui kemajuan atau kemunduran pendidikan di Indonesia. Kita tetap memerlukan beragam data (resmi) atau pengisahan (lisan) yang memungkinkan untuk menilai pendidikan. 


Yang ditemukan dalam novel adalah cerita. Apakah itu terjadi dalam kenyataan? Konon, ada yang selalu beranggapan novel itu imajinasi. Hal terpenting, kita menemukan masalah pendidikan, keluarga, pekerjaan, dan lain-lain dalam novel berjudul Menempuh Jalan Sendiri.


Abih, bocah yang diceritakan gagal masuk sekolah. Ia sudah berusaha mendaftarkan dirinya di sekolah. Namun, bapak dan ibu tidak merestui. Alasan yang pokok: ketiadaan uang. Pada usia tujuh tahun, Abih melihat temannya yang bernama Tatan berhasil sekolah. Dua bocah dengan nasib berbeda. Mereka tetap berteman beralasan belajar. Pada sore dan malam, Tatang bertugas mengulangi pelajaran di sekolah, disampaikan pada Abih. Mereka belajar bareng, berupaya bisa lancar membaca dan menulis.


Yang dikatakan Tatang sambil membuka buku pelajaran: “Nah, Bih, lihatlah ini. Tadi di sekolah aku belajar dari buku ini. Kita lihat, di dalamnya banyak gambar yang bagus-bagus. Lihatlah ini gambar rumah. Di pekarangannya, ada bapa, ibu, dan Ida. Ini lagi gambar yang bagus. Kata pak guru, dalam buku ini banyak cerita.” Dua bocah seperti membuat janji mengelak dari kebodohan. Sekolah adalah jawaban agar bisa membaca dan menulis, dilanjutkan berhitung. Ilmu yang digunakan dalam membentuk masa depan.


Tahun-tahun berganti, Abih tetap tidak belajar di sekolah. Ia memang mampu membaca, menulis, dan berhitung. Hidupnya masih dalam kemiskinan. Maka, ia memilih bekerja. Keputusan agar mendapatkan penghasilan, tidak menjadi beban keluarga. Ia pun bekerja sebagai pedagang kerupuk. Abih bertambah umur, menjadi remaja yang bekerja dan mendapatkan penghasilan. Ia terus berteman dengan Tatang, berbagi cerita di dua jalan yang berbeda. Tatang berhasil melanjutkan sekolah ke kota. Abih berpikiran kota adalah tempat mencari pekerjaan yang pantas.


Gairah dalam bekerja diceritakan pengarang: “Ia selalu memperhatikan apa yang disukai dan dibutuhkan oleh para pembeli. Jika ada waktu terluang di rumah, ia membuat mainan anak-anak seperti baling-baling, kedok, burung-burungan dan sebagainya. Waktu ia sedang meladeni anak-anak sering ia memakai kedok, sehingga anak-anak menyukainya. Ada-ada saja yang dilakukannya untuk menyenangkan hati pembeli. Karena itulah langganannya bertambah banyak.”


Dulu, Abih ingin menjadi murid di sekolah. Kegagalan yang ditebusnya dengan berdagang. Ia masih memiliki hasrat belajar meski terbatas. Di pekerjaan, ia membuktikan hidup yang dipertaruhkan. Umurnya terus bertambah. Abih tidak ingin hanya menjadi pedagang. Masa depan ingin diraih dengan pekerjaan yang berbeda. Pekerjaan itu berada di kota. Yang diinginkkannya adalah pergi dari rumah, mengembara ke kota untuk bekerja. 


Novel yang dibaca anak-anak ini tidak kentara mengajak rajin belajar. Pengarang tidak menampilkan tokoh anak yang beranjak remaja sebagai murid. Ia bukan pembaca buku-buku pelajaran yang diharuskan mengikuti ujian. Nasibnya tidak ditentukan nilai-nilai di sekolah atau kenaikan kelas. Pengarang yang cukup paham dengan Indonesia masa 1970-an, negara yang masih memiliki jutaan orang miskin. Keluarga yang miskin gagal mengantarkan anak meraih ilmu-ilmu di sekolah. Yus Rusyana memilih mengisahkan Abih yang tidak pernah sekolah dalam menjawab pelbagai pertanyaan dalam hidup. Ia berada dalam ujian yang nyata. 


Usaha membentuk masa depan perlahan menemukan jalan. Abih dalam obrolan bareng bapaknya Tatang. Sejak lama, bapaknya Tatang bekerja sebagai penjahit. Rezeki menjahit digunakan untuk ongkos sekolah Tatang. Pada saat masih sering main ke rumah Tatang, Abih sebenarnya terpikat mesin jahit. Ia memberi perhatian besar saat melihat bapaknya Tatang sedang menjahit. 


Akhirnya, Abih dan bapaknya Tatang semangat pergi ke kota. Segala hal dipelajari dan dipertaruhkan. Di kota, Abih mula-mula menjadi pelayan bapaknya Tatang. Pada hari yang dinantikan, ia berhasil mahir menjahit. 


Yang diceritakan pengarang tentang Abih yang bakal dewasa: “Ia bercita-cita akan membuka perusahaan sendiri. Perusahaan yang akan dibukanya ialah perusahaan menjahit dan bertoko. Malah setelah mengetahui kotan itu penghasil kelapa, ia pun bercita-cita akan membuka pabrik minyak kelapa. Bekerja dengan cita-cita yang jelas sungguh menggembirakan. Ya, ia selalu hidup bersemangat.” Sekali lagi, yang diceritakan pengarang bukan tokoh yang belajar di sekolah. Ia memiliki masa depan tidak sesuram seperti pandangan buruk publik atas anak atau remaja yang tidak bersekolah.


_______



Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 

Saturday, July 25, 2026

Resensi Kabut | Angin dan Air

Oleh Kabut




Anak-anak suka angin. Yang dimaksud bukan “masuk angin” atau “buang angin”. Pengalaman menjadi anak-anak terasa seru dan unik bila berurusan angin. Anak-anak yang bermain kitiran menyadari angin yang membuat sesuatu bisa berputar. Angin itu gerak. Maka, anak-anak yang bermain kitiran sambil berlari atau memasangnya di tempat tinggi menganggap angin adalah berkah.

Ada yang mengakui faedah angin saat bermain lempar debu atau daun. Mereka melihat debu dan daun terbang oleh angin. Mata yang melihat menimbulkan gembira. Peristiwa yang sederhana. Pokoknya, angin menjadi alasan bermain. Anak-anak mengerti hari-hari panen angin atau sulit angin. Yang gerah menghidupkan kipas angin. Di depan kipas angin, anak tetap bisa bermain dengan cara aneh-aneh. Artinya, anak dan angin itu cerita yang panjang, memuat gembira, persaingan, bingung, takjub, ketagihan, dan lain-lain.


Pada masa lalu, anak-anak yang merasakan sumuk mencari angin agar keringat menghilang. Yang punya kipas angin cuma sedikit. Benda yang mahal. Bagi yang cerdik, pembuatan kipas menggunakan bambu, kain, dan kertas cukup menghasilkan angin. Namun, hubungan bareng angin itu terlalu cepat berubah. Kini, di rumah-rumah, banyak beragam merek kipas angin yang memerlukan listrik agar orang-orang tidak jengkel gara-gara musim kemarau.


Ada lagi yang mengakrabkan anak dan angin. Kita mengetahuinya dalam novel yang berjudul Si Kajan Bengal (1975) gubahan Mien Resmana. Buku kecil dan tipis terbitan Pustaka Jaya. Buku yang gambar di sampulnya tidak segera berkaitan angin. Yang tampak adalah gambar anak dan domba. 


Pada mulanya, novel itu mengenai angin. Yang diceritakan pengarang adalah anak-anak yang suka bermain laying-layang. Anak-anak menuju sawah, berharap angin memberikan girang. Pengarang bercerita mengenai Endut yang bermain layang-layang: “Lari-lari anjing ia pergi ke sawah yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Di sanalah, ia akan menerbangkan laying-layangnya. Kebetulan angin bertiup dengan kencang. Endut tengadah ke langit yang bersih biru. Hai, layang-layang siapakah itu? Sebuah layang-layang meliuk-liuk di angkasa. Bagian tengahnya bergambar bintang berwarna merah. Ia tak tahu layang-layang siapa. Ditengoknya ke sana kemari, tak terlihat juga pemiliknya.” Pada setiap siang atau sore, sawah ramai oleh anak-anak yang bermain layang-layang. Mereka tidak takut panas dan pantang lelah.


Pihak pemerintah mungkin tidak melakukan penyensoran naskah buku sebelum terbit. Di situ, pengarang mencantumkan: “bergambar bintang warna merah.” Pada masa Orde Baru, gambar atau logo sering bermasalah. Penguasa tidak suka “kiri”. Maka, segala gambar dan warna yang mengesankan “kiri” mendapat perlakuan yang represif. Bintang merah dalam novel mungkin tidak dianggap berbahaya secara ideologi.


Endut bergembira tapi sejenak. Muncul bocah bernama Kajan yang bikin keributan. Endut terpaksa menyerahkan layang-layang dan benang. Kajan terkenal sebagai anak yang bengal. Endut tidak berani melawan. Semula, angin dan layang-layang yang membuat senang berakhir sedih. Lantas, ia menyadari nasib.


Orang tua meminta Endut melakukan perbuatan yang lebih berfaedah ketimbang bermain layang-layang. Ia diminta di sawah, menjaga padi dari serangan burung dan ayam. Bocah yang tetap ke sawah dengan misi yang berbeda. Ia berupaya agar padi-padi itu selamat dari nafsu binatang yang ingin memakannya. Endut perlahan menikmati hari-hari berada di sawah. Namun, nasibnya tetap tidak beruntung. Kajan mendatanginya dan memberi kesedihan. 


Pada suatu hari, Endut tetap punya cara bergembira. Anak-anak yang membaca nasibnya Endut percaya bahwa kegembiraan tidak lenyap di dunia. Pengarang memang sedang memberi nasib yang sial dan sedih bagi Endut. Pengarang ingin mengajak para pembacanya mengerti ketabahan, sebelum memikirkan keberanian. Endut dijadikan tokoh yang memungkinkan ketabahan menemukan jalan untuk bahagia.


Maka, Endut yang tidak lagi bermain bersama angin mendapat penggantinya. Ia dan teman-teman memilih air. Mereka mencari ikan. Bermain air itu menyenangkan tapi menangkap ikan bukan masalah yang mudah. Yang diceritakan Mien Resmana: “Dalam lubuk terlihat beberapa ekor ikan kecil. Tapi karena masih berair sukar juga untuk menangkapnya…. Tidak banyak yang mereka peroleh. Lagi pula makin ke hilir air sungai makin besar sebab air dari sawah di kiri dan kanan sungai itu turun ke sungai. Sukar juga menangkap ikan dalam air yang agak besar.” Susahnya yang ditanggung bersama tetap memberi kesempatan bahagia. Bersama itu baik. Berusaha itu menemukan hasil.


Anak-anak sekarang yang membaca novel dari masa 1970-an boleh iri. Dulu, anak-anak bermain di sawah dan sungai. Berbeda dengan masa sekarang, yang mengondisikan anak-anak bermain di ruangan atau tempat-tempat yang membuat mereka bergirang dengan gawai. Angin dan air tidak lagi sumber kebahagiaan atau usaha mencipta kebersamaan. Yang terus bermain bareng angin dan air sebenarnya sedang mengerti alam.


Di novel yang tipis, anak-anak juga mengetahui nasib Endut gara-gara mau menjadi gembala domba. Ia mendapat tugas dari ayahnya agar domba-domba itu terpelihara. Endut menyanggupi. Tugas yang dilakukan secara rela dan bersemangat. Dulu, anak-anak di desa yang menggembala domba, kambing, atau kerbau memiliki beragam cara senang saat mereka bertemu dan berkumpul di sawah atau padang. Binatang makan rumput, anak-anak membuat usul-usul untuk mencipta senang. Tugas menggembala yang tidak mudah dan menimbulkan lelah tapi Endut mengetahui faedah-faedah baik. 


Pada abad XXI, novel tipis yang digarap Mien Resmana menjadi rekaman zaman. Anak-anak yang keseringan memegang gawai mungkin tidak gampang bertaut dengan kehidupan masa silam. Jadi, novel lawas bila masih mendapat pembaca sedikit menguak lakon anak-anak di desa saat pelbagai peristiwa mampu menimbulkan beragam rasa. Mereka pun membentuk kepribadian sekaligus sadar bermain peran dalam pergaulan sosial. Kini, novel itu bikin kangen bagi pembaca yang menua. Novel yang mengandung nostalgia.


_______




Penulis


Kabut, penulis lepas.




Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 



Saturday, July 18, 2026

Resensi Kabut | Indonesia Itu Beras

Resensi Kabut




Penguasa mengadakan panen raya. Yang dipanen adalah padi, nanti menjadi beras, berakhir disantap sebagai nasi. Maka, yang dipikirkan duluan adalah sebutan dan wujud. Tempat untuk pertunjukkan akbar adalah sawah. Di situ, terlihat hamparan tanaman padi. Mata yang melihat mengartikan Indonesia (bakal) makmur bila sering diselenggarakan panen raya. Sawah-sawah yang subur. Beras yang dihasilkan melimpah. Kita kepikiran yang membahagiakan.

Namun, suasana yang tidak alamiah dalam tontonan itu disempurnakan oleh ucapan penguasa mengenai beras. Ada yang bingung menyimak pernyataan penguasa mengenai beras, harga mahal, menanam padi, dan lain-lain. Yang mudah teringat tentu Indonesia yang berjanji selalu swasembada beras. Konon, penguasa yang berhasil adalah Soeharto pada masa 1980-an. Kita tentu tidak lupa politik-beras yang pernah terjadi pada masa revolusi. Indonesia menyumbang beras pada India. Kebijakan yang berpengaruh dalam politik-global. 

Indonesia sering bermasalah beras. Ingatan tentang tragedi kelaparan itu bikin sedih. Beras yang harganya mahal membuat ibu-ibu lesu. Kebijakan impor beras kadang menimbulkan curiga. Beras sebagai sumber korupsi biasa terjadi. Politik-merayu demi kemenangan dalam rebutan kekuasaan biasa menggunakan bingkisan beras. Pokoknya, seribu cerita beras di Indonesia berulang, belun tentu menimbulkan kebaikan.

Di novel berjudul Bulir Emas di Negeri Seberang yang digubah Dou Mbojo, anak-anak yang membacanya diajak berpikir Indonesia dan beras. Buku yang dihiasi gambar Ipe Ma’ruf itu terbitan Rora Karya, 1977. Latar cerita di suatu desa, yang berada di NTB. Buku yang sengaja diedarkan di ribuan perpustakaan, berharap dibaca ribuan anak. Namun, kita menduga buku itu bukan bacaan yang memikat bagi anak-anak masa lalu.

Tokoh-tokoh yang dimunculkan di halaman-halaman awal adalah anak-anak. Mereka masih belajar di SD. Pengarang mengisahkan mereka bukan saat berada di sekolah. Yang terjadi adalah kemarau ganas. Warga desa menderita tapi susah menemukan jawaban dalam menyelamatkan hidup. Tahun-tahun yang buruk dan berat akibat kemarau. Pada saat turun hujan, mereka pun sedih dengan adanya banjir. Artinya, mereka berada di desa yang “mustahil” makmur dan bahagia. Mengapa mereka masih bertahan di desa saat harapan terus menipis?

Yang dilakukan anak-anak setiap hari adalah berjalan dan mencari makanan. Mereka tidak mau mati akibat kelaparan. Pengarang bercerita: “Ketiga anak itu tengah mencari umbi gadung. Sebagai makanan, pengganti nasi yang sudah lama tak dirasakan. Sejak musim kemarau tiga bulan mulai berlangsung. Sekarang bulan keempat. Bahan makanan telah habis dari persediaan.” Lapar adalah petaka. Yang mencari makanan sering tidak menemukan.

Anak-anak ikut bertanggung jawab agar tersedia makanan di rumah. Konsekuensinya, hari-hari mereka habis dalam perjalanan dan pencarian yang melelahkan. Musim kemarau berarti musim tidak belajar di sekolah. Kejadian yang dimaklumi: “Tetapi, ketiga anak itu telah lama meninggalkan bangku sekolah. Bukan hanya mereka. Seluruh murid sudah tidak ada yang bersekolah lagi. Sejak musim paceklik menyerang. Ini sudah menjadi kebiasaan setiap tahun.” Makanan lebih penting ketimbang pelajaran-pelajaran di kelas. Perut yang kelaparan tidak bisa belajar.

Pada saat menderita dalam mencari makanan, anak-anak sempat berbagi omongan dan pengetahuan. Yang sudah kelas 6 berusaha memberi penjelasan mengenai kutukan yang menimpa desa. Tokoh yang ingin sadar: “Kau tahu bahwa di daerah kita ini dulunya adalah daerah yang subur.” Ia mendapat penjelasan dari orang-orang yang sudah tua. Namun, kenyataan cepat berubah: “Orang-orang telah menebangi hutan dan pohon-pohon semaunya. Tanpa memperhitungkan akibatnya… Mereka membuat perladangan liar, menebangi pohon untuk keperluan rumah, kayu api, dan sebagainya.” Yang terjadi adalah perusakan. Desa yang menderita itu tidak sedang dikutuk Tuhan. Penyebab petaka adalah salah manusia yang tidak memuliakan alam, yang mencintai hidup dengan kesederhanaan.

Desa itu terselamatkan. Yang berusaha menanggulangi lapar adalah pemerintah. Maka, berdatangan pihak-pihak yang mewakili beberapa lembaga. Mereka datang membawa bantuan beras. Kita mulai paham bahwa buku cerita anak yang diterbitkan menggunakan anggaran pemerintah wajib mengabarkan kebaikan-kebaikan Orde Baru. Warga desa menerima beras, merayakan hidup setelah hari-hari yang menyiksa. Pemerintah dianggap berjasa.

Pada pembagian berasa, pihak pemerintah berkepentingan memberi pengumuman dan rayuan. Warga dikumpulkan agar mengetahui kebijakan pemerintah. Beras itu menjadi “tanda bujukan”. Pemerintah menginginkan warga melakukan transmigrasi. Jadi, novel yang dibaca anak-anak masa 1970-an berisi propaganda pemerintah. Novel ikut menyukseskan program rezim Orde Baru.

Sebagian besar warga mengikuti anjuran, meninggalkan desa atau tanah kelahiran. Yang dipikirkan adalah hidup, bukan derita-derita bila tetap berada di desa. Pergi ke tempat lain bukan perkara yang mudah. Mereka ingin mengubah nasib. Pemerintah mengaku bertanggung jawab. Warga pun ditantang mampu membenahi hidup di tanah yang baru. 

Yang disampaikan pihak pemerintah: “Mari kita sama-sama membangun daerah ini. Karena merupakan sebagian dari tanah air kita. Kami yakin atas kedatangan saudara-saudara akan membawa kebaikan. Untuk saudara-saudara, untuk daerah, bangsa, dan tanah air Indonesia.” Kita membayangkan pilihan diksi para pejabat bertujuan membuat warga patuh, percaya, dan bertanggung jawab. Kita belum perlu membandingkan penggunaan bahasa oleh pemerintah masa Orde Baru dengan masa sekarang.

Warga mudah terpengaruh. Yang ikut transmigrasi berpendapat: “Tanah air Indonesia terbentang dari Sabang hingga Merauke. Masih luas yang belum tergarap. Menanti tangan-tangan emas yang menjamahnya, guna kepentingan pembangunan.” Novel untuk bacaan anak memastikan bahwa transmigrasi adalah progam unggulan Soeharto. 

Hari-hari berganti di tanah baru. Mereka mengolah tanah. Mereka mengikuti petunjuk-petunjuk pemerintah. Transmigrasi itu mengubah nasib. Akhirnya, mereka membuktikan: “Buah padi semakin lama semakin tua. Bulirnya yang berwarna kuning emas, kini sedikit demi sedikit berubah menjadi coklat tua. Daun-daunnya sudah banyak yang mengering. Maka ketika sampai pada umur tujuh puluh hari, batang-batangnya banyak yang miring merebah.” Mereka menikmati kerja keras. Panen padi menimbulkan kebahagiaan. Beras bakal tersedia. Mereka makan nasi tanpa takut kelaparan dan siksa kemarau. Novel pun berhasil meyakinkan anak-anak bahwa makanan pokok rakyat Indonesia adalah beras.


_______



Penulis



Kabut, penulis lepas.





Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 



Saturday, July 11, 2026

Resensi Kabut | Matematika dan Puisi

Oleh Kabut




Murid-murid di seantero sekolah sebentar lagi masuk sekolah. Mereka belajar lagi di kelas-kelas dalam hitungan ratusan hari. Masa liburan telah berakhir, yang membuat mereka terhibur dan terbebas dari seribu perintah pendidikan. Apakah mereka memilih libur atau mengalami hari-hari disibukkan beragam mata pelajaran atas nama ilmu? Mereka berada dalam situasi yang tidak keruan berkaitan kebijakan pemerintah, kemauan keluarga, hasrat pribadi, dan lain-lain. Namun, lakon belajar di sekolah terus dilanggengkan di Indonesia. Kita tidak pernah mengetahui terjadi pelarangan belajar atau “mengharamkan” sekolah.


Pada 2026, kita berpikiran tentang mutu pendidikan di Indonesia. Konon, mutu (sangat) menurun akibat pelbagai kebijakan. Ada yang menuduh guru-guru belum mampu membuktikan tanggung jawab. Ada yang sinis bahwa murid-murid memang tidak lagi berminat belajar. Pihak berbeda prihatin atas kegagalan keluarga-keluarga dalam merayakan pendidikan yang menyenangkan. Artinya, urusan belajar atau sekolah tetap mengandung ribuan masalah, yang kita hanya mampu sedikit memberi jawaban belum tentu benar.


Apakah situasi mutakhir berbeda dengan masa lalu? Kita dapat mengetahui dari biografi-biografi yang mengungkan masa belajar di sekolah. Sejak masa kolonial sampai Orde Baru, kita memiliki bab-bab yang pasang dan surut mengenai segala capaian dalam pendidikan di Indonesia. Ada pula yang rontok dan mampet, berakibat pendidikan di Indonesia mustahil berkembang atau maju.


Yang bersabar ingin mengetahui lakon pendidikan kadang memilih membaca novel. Kita tidak wajib melulu membaca Laskar Pelangi atau Negeri 5 Menara. Ada ratusan novel di Indonesia yang bercerita pendidikan. Bagi yang membaca sastra anak pasti menemukan ratusan judul novel yang membawa kita kembali ke masa lalu, yang menguak masalah pendidikan. Di situ, kita membaca biografi anak, mutu sekolah, pribadi guru, peran keluarga, dan lain-lain.


Kini, kita ingin mengenang yang silam melalui novel berjudul Astrid: Rumah Pohon gubahan Djokolelono. Buku berukuran kecil diterbitkan Gramedia, 1987. Artinya, novel mengisahkan anak dan sekolah berlatar masa Orde Baru. Judul yang dibuat tidak mengesankan pendidikan tapi pembaca yang membuka halaman awal sampai akhir mengetahui bahwa pengarang sedang mencipta “percakapan” tentang pendidikan. Yang diceritakan mengaitkan rumah dan sekolah.


Dua tokoh penting yang diceritakan adalah Astrid dan Anto. Mereka masih menjadi murid kelas 6 di SD. Anak-anak yang sudah menghadapi banyak masalah, tidak hanya dipusingkan oleh pelajaran-pelajaran di kelas. Yang pasti, pengarang mementingkan pendidikan. Sorotan yang serius untuk mata pelajaran matematika. Kita pun memiliki pengalaman bahwa matematika itu pelajarang yang sulit. Beberapa murid malah memutuskan membenci dan melawan dengan segala cara. Pokoknya, matematika adalah penderitaan meski beberapa murid sangat menggandrungi gara-gara menyadari kenikmatan dan faedahnya dalam hidup, terutama pada masa depan.


Astrid dan teman-teman kesulitan dalam memahami matematika. Di kelas, ada murid bernama Anto yang dianggap pintar matematika. Padahal, mereka tidak mengetahui bahwa Anto mengalami derita dalam matematika. Maka, cerita yang paling seru adalah murid-murid menanggungkan harapan dan penyesalan disebabkan matematika. Maka, pelajaran di kelas tidak mencukupi. Anak-anak memerlukan mengikuti les agar mengerti matematika. Pengisahan itu mengesankan bahwa matematika memang pelajaran sangat utama dalam pendidikan di Indonesia sekaligus dunia.  


“Les matematika yang diadakan di sekolah Astrid memang berlangsung dari jam empat sore sampai setengah tujuh,” tulis Djokolelono. Kita membayangkan anak-anak menyadari waktu untuk bermain atau bersungguh-sungguh belajar matematika. Astrid mengalami kebingungan dalam memutuskan ikut les atau melakukan yang lain. Ia sadar bahwa pengetahuan matematikanya rendah. Ikut les dapat membuatnya tidak terlalu bodoh. Namun, ikut les matematika tetap memberi siksa dan bertumbuhnya masalah-masalah.


Di mata guru dan teman-teman, Anto diakui pintar matematika. Mereka tidak mengetahui bahwa pengetahuan matematika Anto itu diremehkan oleh bapaknya. Anto dianggap masih bodoh, belum mampu menguasai hal-hal terpenting dalam matematika. Jadi, keributan dan salah paham terjadi gara-gara matematika. Bapak sangat menuntut Anto agar pintar matematika. Tuntutan berdasarkan keinginan bapak agar kelak Anto menjadi ahli dalam elektorinika. Yang sangat menuntut adalah bapak, bukan guru atau kurikulum. Anto merasakan penderitaan berbarengan teman-teman mengakuinya yang terpintar matematika di kelas.


Pada mulanya, Astrid kesulitan berakraban dengan Anto. Masalah matematika perlahan mampu membuat mereka berteman yang akrab. Astrid ingin paham matematika. Anto diminta menjadi “pengajar”. Anto yang disangka “sombong” perlahan terungkap sedang mengalami penderitaan. Matematika membuat dua murid saling mengerti kehidupan, yang merujuk sekolah dan rumah. Astrid menjadi anak yang memiliki penasaran dan berusaha membuktikan tanggung jawab. Anto ingin memiliki kepribadian tapi selalu kesulitan dalam aturan keluarga dan pergaulan di sekolah.


Di sela berpusing matematika dan menghadapi masalah keseharian, Astrid dan Anto sama-sama menyukai sastra, terutama puisi. Astrid mampu menggubah puisi. Kita mengutip seperti yang terdapat dalam novel: rumah pohon/ rumah di atas pohon/ di atas pohon ada rumah/ pohon di atas rumah/ kami memohonkan rumah/ kami merumahkan pohon/ pohon kami rumahkan/ rumah kami pohonkan. Puisi ditulis berkaitan dengan pengalaman mengetahui kebiasaan Anton berada di rumah pohon. Astrid menjadi saksi sekaligus turut dalam pengalaman di rumah pohon.


Anto mengaku kesulitan dalam matematika. Ia takut kepada keinginan dan perintah bapak. Anto sebenarnya menyukai sastra, ingin menjadi penulis, bukan ahli elektronika. Maka, ia membuktikan selera dan kepekaan sastra dengan menulis puisi. Mutunya berbeda dari tulisan Astrid. Pembaca menduga bahwa puisi dapat menjadi pembebasan atau hiburan ketimbang selalu menderita.


Puisi yang ditulis Anto: Saat air matamu menitik meniti pipi/ pipi yang sepi dari sinar ceria/ kulihat di beningnya yang bagai berlian/ sejuta cerita duka sejuta cerita duka/ kulihat di beningnya yang bagai berlian/ bekunya sejuta tawa bekunya sejuta tawa/ kulihat di beningnya yang bagai berlian/ berlalu pelan perjalanan usia di awal senja/ kulihat di beningnya/ kau menangis bukan buat dirimu/ kisah yang terpampang bukan kisahmu/ iba di hatimu bukan ibamu/ kulihat di beningnya/ bayang-bayang wajahku/ sendiri. Puisi yang apik, bersumber dari pengalaman dalam keluarga.


Matematika menjadikan Astrid dan Anto akrab. Puisi sempat memicu salah paham tapi memberi harapan bagi mereka dalam menikmati hari-hari yang tidak selalu cerah. Maka, Anto memutuskan tekun menulis puisi dan menuruti hasrat menjadi pengarang. Sikap yang berlawanan dengan tuntutan bapak. Astrid tampil menjadi saksi dan berani membuktikan tanggung jawab atas masalah yang menimpa keluarga Anto. Pembaca diajak mengagumi kepribadian Astrid. Perhatian terhadap Anto memunculkan dilema-dilema pendidikan yang menautkan rumah dan sekolah. Jadi, kita yang membaca novel gubahan Djokolelono sedikit mengerti mengenai anak-anak yang tidak harus dipaksa pintar matematika dan memiliki hak merayakan hidup melalui puisi.


_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com