Showing posts with label Sosok Inspiratif. Show all posts
Showing posts with label Sosok Inspiratif. Show all posts

Tuesday, October 21, 2025

Sosok Inspiratif | Bamby Cahyadi: Cerpenis Flamboyan dan [Mantan] "Penjaga Gawang" Grup FB Sastra Minggu



Kali ini tim redaksi mewawancarai salah satu tokoh penulis (cerpenis) yang konon sosoknya selama ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan dunia informasi pemuatan karya sastra di media massa setiap minggunya sejak belasan tahun lalu yang mungkin sangat terasa manfaatnya bagi para penulis se-Indonesia, bahkan menjadi salah satu ruang silaturahmi terbesar grup sastra yang ada. Kalau Anda aktif menulis di media, pasti tidak asing dengan beliau. Siapa beliau? Ya, beliau Bamby Cahyadi. 


Bamby Cahyadi lahir di Manado, 5 Maret 1970. Ia menulis berbagai tema cerita pendek di koran, majalah, tabloid, dan media daring. Sehari-hari Bamby bekerja di industri Food and Beverages (F&B). Buku-bukunya yang telah terbit: kumpulan cerpen Tangan untuk Utik (Koekoesan, 2009), Kisah Muram di Restoran Cepat Saji (Gramedia Pustaka Utama, 2012), Perempuan Lolipop (Gramedia Pustaka Utama, 2014), Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah (Unsa Press, 2016), Seminar Mengatasi Keluhan Pelanggan (Diva Press, 2022), dan buku terbarunya Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang (Diva Press, 2025). Ia bisa ditemui di Instagram, dengan akun: @bamby_tjahjadi


Dulur NGEWIYAK, yuk kita tanya-tanya beliau!


_________


1. Sejak kapan Mas Bamby menulis dan mengapa bercita-cita menjadi penulis?


Sebenarnya saya menulis sejak SMA, kala itu lebih banyak menulis reportase kegiatan sekolah untuk Majalah Dinding dan Majalah OSIS SMA Negeri 1 Tasikmalaya. Lalu ketika saya kuliah di Universitas Siliwangi Tasikmalaya, saya mengaktifkan Majalah Kampus Fakultas Ekonomi dan Majalah Universitas, dikarenakan saya menjabat sebagai Pemred Majalah Fakultas dan Universitas sekaligus ketua Unit Pers Mahasiswa plus Ketua Senat Universitas (SMPT) juga, maka saya cukup rajin menulis. Namun semua tulisan saya pada masa itu berupa reportase dan artikel ringan. Saya pun cukup rajin mengirimkan tulisan-tulisan saya ke media, seperti: Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Simponi, Femina, dll.

Dulu saya bercita-cita menjadi wartawan (bukan penulis). Usai wisuda, saya lebih sering memasukkan CV saya ke media-media massa di Bandung dan di Jakarta. Hingga akhirnya saya menjadi reporter Majalah Pramuka Kwartir Nasional di Jakarta.


Saat menjadi reporter Majalah Pramuka, saya mendapat penugasan untuk mencari iklan dari sebuah restoran cepat saji yang sedang berkembang pesat di Jakarta khususnya, alih-alih mendapatkan iklan untuk majalah, saya malah tertarik dengan iklan lowongan pekerjaan yang dibuka oleh perusahaan restoran cepat saji itu. Singkat cerita, saya akhirnya menjadi Trainee Manager di perusahaan itu.


Bertahun-tahun bekerja di industri restoran cepat saji yang penuh target dan tekanan, membuat saya depresi, saya mengalami masa-masa krisis kejiwaan yang cukup akut dengan keinginan untuk mati atau bunuh diri, dan menjadi gila saja. Pelbagai pengobatan medis dan alternatif saya lalui untuk menyembuhkan kondisi psikis saya yang terganggu, namun tidak berhasil.


Hingga suatu hari pada masa itu, untuk mengalihkan pikiran-pikiran negatif serta bisikan-bisikan aneh yang bergejolak di benak, saya mulai membaca buku-buku lagi. Terutama buku yang berhubungan dengan psikologi, yang paling saya ingat ialah buku karya Prof. Komaruddin Hidayat berjudul Psikologi Kematian. Lalu mencoba membaca karya fiksi, waktu itu novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy yang Best Seller.


Membaca buku, baik buku nonfiksi dan fiksi, melempar ingatan saya pada masa saya masih menjadi mahasiswa dan menggugah saya untuk menulis kembali. Saya mencoba menulis lagi apa yang menjadi gangguan terhadap pikiran-pikiran saya. Beruntungnya masa itu terdapat media sosial bernama Friendster (FS). Saya posting tulisan-tulisan saya di fitur Miniblog Friendster. Sambutan teman-teman FS yang membaca tulisan saya di FS cukup baik, akhirnya saya rajin menulis semacam catatan harian di FS. Kadang catatan harian tersebut saya balut dengan imajinasi dan menyerupai karya fiksi. Saya pun rajin membaca tulisan-tulisan penulis (Sastrawan Indonesia) yang diposting di FS, dan tentu saja menjadi follower mereka. Hingga saya mengenal seorang perempuan penulis novel berjudul Ripta, yang memotivasi saya mencoba menulis sastra (cerpen).


Menulis cerpen membuat saya ketagihan dan mejadi semacam pengalihan akan pikiran-pikiran serta bisikan-bisikan negatif dalam kepala saya. Kegiatan menulis cukup berhasil mengatasi masalah psikis saya. Itulah mengapa, cerpen saya pada masa awal menulis (mungkin hingga kini), bertema kematian dan absurditas melulu.


__________


2. Pernahkan Mas Bamby mengalami krisis identitas sebagai penulis? Misalnya yang mulanya produktif tiba-tiba mandek dan merasa diri kebingungan harus melakukan apa. Bagaimana menghadapi situasi semacam itu?

Kerap, mungkin hampir ada di setiap periodesasi kehidupan sebagai penulis, saya mengalami krisis identitas. Apalagi sampai saat ini, saya masih bekerja di dunia Food & Beverages (F&B), yang menuntut rasionalitas. Absurditas, keanehan pikiran, atau bahkan imajinasi tidak akan berlaku di tempat kerja saya. Terkadang saya ingin pensiun saja menjadi penulis, dan menjalani profesi di industri kuliner ini dengan tekun. Namun tiap saya punya rencana itu, tiap saat itu juga ada momentum untuk tetap menulis.


Untuk menghadapi situasi mandek atau ingin pensiun, yang saya lakukan ialah kembali ke buku. Menyempatkan mampir ke perpustakaan atau toko buku. Membeli buku-buku fiksi terbaru, membacanya, dan akhirnya termotivasi lagi menulis. Lantas menerbitkan buku baru, seperti saat ini, buku kumpulan cerpen terbaru saya yang berjudul Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang terbit ketika saya memutuskan nonaktif sebagai admin Grup FB Sastra Minggu.


__________

3. Cerita apa yang paling berkesan ditulis sepanjang karier kepenulisan Mas Bamby? Apa alasannya dan bagaimana proses kreatifnya?


Yang paling berkesan ialah cerpen “Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang”. Cerpen ini pertama kali dimuat di Koran Tempo pada 26 Juli 2009. Cerpen ini lantas termaktub dalam buku kumcer ke-2 saya yang berjudul Kisah Muram di Restoran Cepat Saji (GPU, 2012). Dan, saya memang memiliki impian, suatu saat nanti, apabila ada kesempatan menerbitkan kumcer lagi, cerpen itu akan menjadi judul dari buku kumpulan cerpen. Alhamdulillah menjadi kenyataan.


Proses kreatif cerpen berjudul: “Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang”, saya tulis dalam 3 hari berturut-turut (29, 30 Juni, dan 1 juli 2009). Tiba-tiba saya teringat sewaktu kami (saya, ibu saya, kakak saya dan adik saya) mengantar jenazah almarhum ayah saya yang meninggal di Medan untuk dimakamkan di Tasikmalaya. Lalu idenya, saya olah sedemikian rupa, agar tidak terkesan kisah nyata. Ayah saya meninggal 15 Februari 1985. Nah, uniknya, cerpen itu semula, cerpen trilogi, tanggal 29 Juni 2009, saya buat bagian prolognya. Tanggal 30 Juni 2009 saya buat bagian dialognya. dan tanggal 1 Juli 2009 saya buat bagian epilog. Dan, setiap bagian tersebut, saya sempat posting 3 hari berturut-turut di Note Facebook dengan judul “Trilogi Cerpen Mengantar Ayah”. Sungguh di luar dugaan, cerpen itu banyak yang komen di Facebook, bahkan Hudan Hidayat membuat pengantar cerpennya segala. Lantas cerpen itu saya kirimkan ke Koran Tempo, dan dimuat.


___________

4. Mas Bamby kan admin dan pendiri Grup FB Sastra Minggu, boleh tidak Mas Bamby ceritakan sedikit tentang sejarah grup sastra yang cukup besar tersebut? Mengapa Mas Bamby kepikiran membuatnya dan mengapa juga kepikiran harus mengakhirinya?


Dulu sekali, sebelum ada Facebook. Ada situs atau blog pengarsipan cerpen-cerpen yang dimuat di pelbagai media massa di Indonesia, bernama Sriti.com. Namun setelah menerbitkan kumpulan cerpen pilihan Sriti.com berjudul “Bob Marley dan 11 Cerpen Pilihan Sriti.com” pada 2009, situs ini berhenti dan tutup permanen. Banyak penulis yang kehilangan informasi perihal pemuatan karya cerpen khususnya. Secara pribadi saya berniat meneruskan tradisi memberikan informasi pemuatan karya ini (cerpen dan puisi), lantas saya mulai berlangganan kurang lebih 11 koran cetak dan dengan sukarela saya mulai update di status laman FB pribadi saya informasi pemuatan karya hingga 2013.


Nah, ada titik di mana saya pun akhirnya mengakhiri sesuatu yang sudah saya rintis sendiri, dikarenakan kesibukan dengan profesi saya sebagai praktisi di dunia F&B.


Lantas di tahun yang sama (2013), beberapa teman penulis menginformasikan ke saya bahwa mereka telah membuat Grup FB bernama Sastra Minggu untuk melanjutkan tradisi memberikan informasi pemuatan karya, sehingga saya tidak perlu bersusah payah sendirian untuk menginformasi di laman FB pribadi. Saya setuju, lantas kami para admin secara kolektif menjalankan Grup FB Sastra Minggu ini. Hingga akhirnya, saya pun ditinggal sendirian untuk mengelola Grup FB Sastra Minggu, hingga saya putuskan berhenti.


Kenapa saya memutuskan untuk berhenti? Karena saya pikir, masa kini sudah tidak relevan lagi informasi yang berasal dari Grup FB Sastra Minggu itu. Banyak koran cetak yang tidak terbit lagi, diganti media digital yang memudahkan penulis atau siapa pun untuk mendapatkan informasi langsung. Dulu, jumlah visit ke grup mencapai puluhan ribu, like ribuan dan komen ratusan. Semenjak 2024 hingga 2025, grup itu hanya dikunjungi oleh ratusan anggota dan hanya puluhan yang meninggalkan komen. Yang membuat saya malas untuk melanjutkan, karena para penulis yang karyanya dimuat di media massa juga, tidak lagi sengaja dan sukarela dengan senang hati menginformasikan sendiri ke grup. Mereka lebih suka berselebrasi sendiri di laman FB, IG, dan status WA masing-masing. Padahal, kegairahan Grup FB Sastra Minggu adalah keriangan, kebahagiaan, dan kesenangan kolektif pada saat ada karya siapa pun yang dimuat. Bagi saya pribadi, membiru-birukan nama penulis yang karyanya dimuat juga merupakan kebahagiaan tersendiri sebagai si penyampai kabar. Tapi, itu dulu. Sekarang tidak lagi. Maka, dengan tanpa banyak berpikir saya berhenti. Grup itu akan tetap ada, sampai mungkin salah satu admin menutupnya secara permanen.


___________

5. Pertanyaan terakhir, bagaimana sih tanggapan Mas Bamby terhadap dunia kepenulisan hari ini, dunia sastrawan hari ini, dan dunia media sastra hari ini?


Secara teori dan teknis, dunia sastra hari ini makin berkembang dan selalu ada hal-hal baru. Akan tetapi, dunia sastra hari ini, euforianya hanya bisa dirasakan oleh pelaku debut. Atau para penulis yang tetap memelihara euforia itu dengan segenap hatinya. Tidak ada lagi yang menarik dari komunitas-komunitas sastra hari ini, yang isinya ya dia lagi, mereka lagi. Para sastrawan asyik dengan lingkarannya masing-masing, atau dunianya sendiri. Media sastra juga makin ke sini, makin sepi dan miskin. Banyak yang tutup, tidak terbit, lantas hilang begitu saja. Buku yang terbit tetap banyak, namun minat pembeli makin merosot. Penulis harus berjibaku sendiri untuk menjadi sales dari komoditas yang ia ciptakan. Laku syukur, tidak laku tidak apa-apa, yang penting sudah ada batu prasasti karya berupa buku. Tapi itu tidak salah. Mungkin yang salah pemerintah yang hingga kini kepedulian terhadap sastra dan sastrawan hanya mereka ingat ketika kampanye politik saja. Habis itu sastra dan sastrawan bergelut dengan dirinya sendiri.


_________

Tukang nanya: Encep Abdullah


Tuesday, April 29, 2025

Sosok Inspiratif | Asep Saya Hidayatullah | Penggerak TBM Al-Latif Mandalawangi Pandeglang



Asep Saya Hidayatullah, akrab disapa Kang Asep, lahir di Pandeglang pada 17 April 1994. Ia adalah putra keempat dari tujuh bersaudara, tumbuh di lingkungan petani sederhana yang menanamkan pentingnya pendidikan kepada seluruh anak-anaknya. Sejak kecil, Kang Asep telah diarahkan untuk belajar tanpa henti hingga ke jenjang perguruan tinggi.


Perjalanan pendidikannya dimulai di SDN Curuglemo 2. Setelah lulus, ia melanjutkan ke Pondok Pesantren Al-Munawwarah Cilegon, menyelesaikan pendidikan di MTs, SMA, hingga akhirnya kuliah di STKIP Banten, Serang. Sejak masa sekolah, Kang Asep aktif di berbagai organisasi: Pramuka, OSIS, PMR, Paskibra, hingga menjadi atlet Pencak Silat yang mengharumkan nama pondok pesantren hingga tingkat nasional.


Saat kuliah, jiwa sosialnya terus berkembang. Ia menjadi relawan Korps Sukarela PMI Kota Serang, mendirikan dan memimpin KSR STKIP Banten, ketua pertama Forum Remaja Banten, Founder Gerakan Literasi Masyarakat Pandeglang (GELIMANG) yang dididirikan pada tahun 2022 dan saat sebagai Ketua Forum Kabupaten Pandeglang, dan Pengurus PC GP Ansor Kab. Pandeglang. Setelah lulus, ia mewujudkan cita-citanya sebagai guru di MIN 2 Pandeglang.


Namun, perjuangannya untuk dunia pendidikan tak berhenti di situ. Melihat minimnya fasilitas literasi di kampung halamannya, Kang Asep pun berinisiatif mendirikan sebuah taman bacaan, yang kemudian dinamai TBM Al-Latif Mandalawangi.


Mari berkenalan jauh dengan TBM beliau!



1. Kapan TBM Al-Latif ini didirikan, Kang? Apa latar belakang dan makna filosofis dari nama TBM tersebut?


Taman Bacaan Masyarakat Al-Latif Mandalawangi berdiri pada 27 Oktober 2019. Latar belakang pendirian TBM ini adalah kegelisahan terhadap kondisi literasi di Kampung Cigobang, RT 003 RW 002, Desa Curuglemo, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Kesadaran literasi dan fasilitas pendidikan sangat minim, belum ada wadah untuk pengembangan minat, bakat, dan pembinaan karakter masyarakat. Saya berinisiatif mendirikan TBM ini untuk membantu masyarakat dan pemerintah dalam meningkatkan literasi, pendidikan, serta membentuk generasi yang berkualitas.


Makna Filosofis Nama Al-Latif:

  • Al-Latif berarti Maha Lembut. Harapannya, TBM ini dapat membina dan mendampingi anggota/masyarakat dengan kelembutan, tanpa tekanan, sehingga mereka belajar dengan nyaman sesuai karakter dan cita-citanya.

  • Warna dasar putih: Melambangkan kesucian.

  • Lingkaran hitam: Melambangkan ilmu yang luas dan kekal.

  • Pena: Melambangkan bahwa ilmu harus terus dipelajari.

  • Buku: Melambangkan jendela dunia, sumber ilmu pengetahuan.

  • Orang berwarna merah: Melambangkan semangat dalam berliterasi.

  • Orang berwarna ungu: Melambangkan keceriaan dalam berliterasi.

  • Orang berwarna hijau: Melambangkan kedamaian dan keseimbangan dalam pengembangan kemampuan.




2. Apa sih Kang kegiatan unggulan di TBM Al-Latif dan apa dampaknya bagi masyarakat?


Kegiatan Unggulan:

  1. Bimbingan karakter dan budi pekerti.

  2. Diskusi dan sosialisasi minat baca.

  3. Bimbingan belajar keagamaan dan umum.

  4. Pelestarian budaya dan kearifan lokal.

  5. Minggu CERIA (Cerdas, Ceria, Religius): Membaca buku, tahfiz Qur'an, pidato, latihan seni, pencak silat, olahraga, dan hasta karya.

  6. Santunan anak yatim, duafa, dan lansia.

  7. SILATIF (Silaturahmi TBM Al-Latif): Sosialisasi literasi melalui kunjungan ke masyarakat dan lembaga pendidikan.

  8. Gebyar Milad TBM: Peringatan tahunan dengan pentas seni, santunan, diskusi literasi, dan penghargaan untuk anggota berprestasi.

  9. Pengabdian kepada masyarakat melalui pendampingan belajar, sosialisasi, dan kolaborasi dengan sekolah, kampus, dan lembaga lain.

  10. Pembangunan fasilitas masyarakat, seperti sarana air bersih dan tempat wudu.

  11. Peringatan hari besar Islam melalui ngaji bersama dan lomba keagamaan.

  12. Peringatan hari besar nasional seperti upacara kemerdekaan dan lomba nasionalisme.

  13. Saba Petani: Praktik bertani dan sosialisasi literasi di kebun dan sawah.

  14. KOBUKA (Kolaborasi Terbuka): Kolaborasi dengan mahasiswa, peneliti, dan berbagai komunitas.

  15. SEMESTA (Seminar Edukasi Bersama TBM Al-Latif): Edukasi untuk relawan dan masyarakat.


Dampak Sebelum dan Sesudah TBM Berdiri:

  • Sebelum: Minim kegiatan literasi, kurang percaya diri berbicara di depan umum, ketergantungan pada gawai, dan pola belajar yang tidak teratur.

  • Sesudah: Meningkatnya minat baca, keberanian berbicara di depan umum, keterampilan sesuai karakter, banyak prestasi di sekolah, berkurangnya ketergantungan pada gawai, dan tersedianya sumber ilmu.




3. Dalam setiap komunitas, pasti ada problem khusus. Apa kendala TBM ini dan bagaimana cara mengatasinya, Kang?


Kendala:

  • Rendahnya kesadaran literasi masyarakat dan pemerintah.

  • Fasilitas yang belum memadai; kegiatan masih dilaksanakan di teras rumah.


Cara Mengatasi:

  • Membangun silaturahmi dan sosialisasi dengan tokoh agama, masyarakat, dan pemerintah.

  • Merekrut pengurus dan relawan (RELATIF).

  • Melakukan pembinaan literasi secara berkelanjutan.


Intervensi:

  • Awalnya, masyarakat kurang memahami manfaat TBM dan khawatir dengan kegiatan baru.

  • Namun, setelah berjalan, mereka merasakan dampak positifnya, sehingga perlahan penerimaan masyarakat meningkat.




4. Apa harapan jangka pendek dan jangka panjang TBM ini, Kang?


Harapan Jangka Pendek:

  • Meningkatnya literasi masyarakat.

  • Membuat antologi puisi untuk relawan dan anggota TBM.

  • Dukungan regulasi dan anggaran dari pemerintah untuk kegiatan literasi.


Harapan Jangka Panjang:

  • Membangun saung atau gedung untuk TBM Al-Latif.

  • Memfasilitasi beasiswa bagi anggota TBM.

  • Menyediakan laboratorium komputer untuk literasi teknologi.

  • Meningkatkan program santunan sosial berbasis literasi.




5. Terakhir, mungkin Kang Asep bisa kasih tips dan pengalaman bagi para calon pendiri TBM di mana pun berada!


Banyak orang yang ingin mendirikan TBM merasa terhambat karena tidak ada buku, tempat, atau dukungan. Ingatlah, kegiatan literasi tidak harus bergantung pada fasilitas lengkap. Mulailah dari apa yang ada, misalnya sosialisasi lingkungan. Niatkan dengan sungguh-sungguh, lakukan aksi nyata. Buku dan fasilitas lainnya akan mengikuti seiring perjalanan.


Pesan untuk pegiat literasi:

  • Niatkan hati dengan ikhlas.

  • Bergerak dan jangan berhenti walau menghadapi rintangan.

  • Sabar dan ikuti alur kehidupan seperti menyusun puzzle.

  • Bangun ekosistem positif untuk kesuksesan jangka panjang.

  • Jangan ragu untuk bergerak; lawan keraguan itu!



TBM Al-Latif sangat terbuka untuk semua kalangan, dengan konsep pembelajaran inovatif, kreatif, cinta budaya, kolaboratif, cerdas, ceria, dan religius.


Salam silaturahmi!
Yuk, mampir ke Instagram kami: @tbmallatif


_______

(Penanya: Encep Abdullah)


Tuesday, November 5, 2024

Sosok Inspiratif | Munawir Syahidi | Pendiri Cahaya Aksara


Munawir Syahidi, lahir di Pandeglang tahun 1990 dari keluarga sederhana yang orang tuanya selalu berupaya menyekolahkan anaknya dari pendidikan dasar sampai ke perguruan tinggi. Masa remaja di kampung yang waktu itu belum banyak buku tersedia menjadi ingatan yang membekas sehingga ketika lulus kuliah membuat kegiatan yang bernama Saung Huma (waktu itu). Saat ini tinggal di Kecamatan Cigeulis Pandeglang-Banten.


Oke. Mau tahu lebih banyak tentang beliau? Gaaas!


1. Yang saya tahu, dulu sebelum bernama Cahaya Aksara, komunitas atau taman baca masyarakat (TBM) Anda ini kan bernama Saung Huma ya. Bisa diceritakan sejarahnya? Mengapa bisa berganti nama menjadi Cahaya Aksara? Apa makna dari Cahaya Aksara?


Dulu sejak didirikan tahun 2014 di Cimanggu, tempat kelahiran saya, setiap sore saya mengajak anak-anak untuk membaca dan berkegiatan. Kegiatan yang saya gagas itu bernama Saung Huma, belum ada TBM-nya. Saya tahu ada TBM tahun 2017. Ditelepon oleh Pak Haji Lulu yang waktu itu menjadi Ketua FTBM Pandeglang. Baru kemudian Saung Huma ditambah nama menjadi TBM Saung Huma. Berkegiatan menggunakan nama TBM Saung Huma sampai tahun 2019. Setelahya Saung Huma berubah menjadi Cahaya Aksara.


Berganti nama menjadi Cahaya Aksara lebih pada mencari identitas gerakan, yang ketika orang mengenal nama Cahaya Aksara maka pikirannya langsung berorientasi pada buku, atau membaca buku. Maka, berubahlah nama Saung Huma menjadi Cahaya Aksara. Bagi saya sendiri, Cahaya Aksara adalah inti dari yang saya pikirkan. Semua bermula dari membaca. Aksara adalah perantara. Maka, Cahaya Aksara adalah sesuatu yang baik yang berasal dari aksara.



2. Apa saja sih fokus kegiatan di TBM Cahaya Aksara? Apa program kerja unggulannya?


Dalam visinya, Cahaya Aksara memiliki visi, SDM Unggul berbasis pendidikan vokasi dan literasi. Maka melalui TBM Cahaya Aksara, semoga meningkatkan literasi di masyarakat, juga semoga dapat meningkatkan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat. Sementara ini program unggulan kami masih dalam bidang literasi, program mingguan, bulanan dan tahunan, untuk anak-anak dan remaja, dan peningkatan ekonomi masyarakat dengan beberapa kegiatan yang juga masih berbasis buku.



3. Bagaimana cara kerja para pengurusnya? Ya, namanya komunitas pasti ada saja kendala di luar kontrol, kendala yang tak terduga. Bagaimana strategi menghadapi anggota yang hidup segan, mati tak mau itu?


Pengurus ini adalah mereka yang telah mengikuti kegiatan Maraca (Mencari Relawan Cahaya Aksara), sejenis rekrutmen untuk anggota dan pengurus di Cahaya Aksara. Untuk yang tidak aktif, kami tidak pernah fokus pada yang tidak mau aktif, kami memaksimalkan yang mau berupaya. Karena namanya dunia kerelawanan, semakin banyak orang belajar maka semakin tahu. Dengan cara relawan mengikuti kegiatan di TBM Cahaya Aksara maka akan banyak hal yang mereka dapatkan, yang mungkin saja berguna bagi diri mereka sendiri di kemudian hari.



4. Yang saya tahu banyak sekali taman baca yang sekadar formalitas atau musiman saja. Sekali berkegiatan, setelah itu selesai dan mati. Bagaimana dengan Cahaya Aksara dan bagaimana agar tetap bertahan dan konsisten berkegiatan?


Yang musiman itu bagus, setidaknya pernah melaksanakan, daripada yang tidak sama sekali. Ngurus kegiatan yang sifatnya sosial seperti TBM perlu satu atau dua orang yang keras kepala, yang kadang meski sendiri terus diupayakan. Kalau fokusnya pada mereka yang tidak aktif dan kita terpengaruh maka pasti akan tutup. Bukan berarti tidak ada masalah, tapi kami selalu berprinsip jika misalnya relawan tidak ada yang aktif, kegiatan tidak ada yang mengurus, maka kami berkata ini bukan akhir dan tidak boleh diakhiri, hanya perlu evaluasi dan dilaksanakan nanti, perbaiki. Jadi ya di Cahaya Aksara juga sama mengalami hal yang menjenuhkan, membosankan, dll., tetapi terus dilakukan seberapa pun membosankannya.



5. Apa sih harapan dan tujuan besar Anda ke depan untuk Cahaya Aksara dan orang-orang sekitar Anda? Apa mimpi besar yang ada di kepala Anda saat ini?


Harapan besarnya adalah ketika visi Cahaya Aksara itu dapat terwujud, adanya SDM Unggul yang indikatornya ada tiga, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Ketiga indikator itu berjalan membaik maka tujuan dan mimpi Cahaya Aksara itu terwujud.



6. Oh iya, kemarin TBM Cahaya Aksara dapat bantuan dari Badan Bahasa ya? Kegiatan apa yang kawan-kawan lakukan? Bisa diceritakan sedikit proses kronologi bantuan ini dan bagaimana acara selama berlangsung?


Oh iya, kami ikut seleksi, mengumpulkan berbagai persyaratan, portofolio kegiatan setidaknya dua tahun kegiatan kami kirimkan sebagai syarat, belum hal lain yang berkaitan dengan administrasi juga kami lengkapi. Untung kegiatan-kegiatan kami selalu terdokumentasi sehingga kami bisa melengkapi portofolio kegiatan yang pernah kami laksanakan selama dua tahun itu.


Alhamdulillah kami lolos seleksi dan kami laksanakan program tersebut dengan menggagas kegiatan dengan nama KAPL (Kemah Aksi Penggerak Literasi) berisi workhsop dan kegiatan literasi, mendatangkan para pemateri yang luar biasa. Beberapa peserta dalam kegiatan ini menjadi relawan TBM Cahaya Aksara. KAPL berjalan lancar dan membahagiakan. Alhamdulillah.



(Redaksi/Encep)


Tuesday, September 10, 2024

Sosok Inspiratif | Ade Ubaidil | Menjadi Penulis: Semacam Panggilan Jiwa

 


Dalam dunia literasi di Banten, khususnya di Cilegon, siapa yang tidak tahu Ade Ubaidil? Oh, tentu banyak. Haha. Bercanda. Pemuda satu ini gandrung sekali mempelajari banyak hal. Saat ini belio sedang menjalani kuliah S-2 perfilman. Sebuah dunia yang saat ini membuatnya penasaran. 


Ade Ubaidil, dilahirkan di Cibeber, 2 April 1993. Menyelesaikan pendidikan S-1 Jurusan Sistem Komputer Universitas Serang Raya (Unsera). Ia relawan di Komunitas Rumah Dunia dan Pemimpin Redaksi di media daring kurungbuka.com.


Pernah terpilih menjadi salah satu penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2017 dan Peserta terpilih Majelis Sastra Asia Tenggara 2018 kategori cerpen. Ia pernah juga menjadi salah satu Peserta terpilih Akademi Menulis Novel DKJ 2014. Pernah bergiat di Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD) angkatan ke-23, dan alumnus #KampusFiksi angkatan ke-7.


Menulis novel, cerpen, puisi, esai, resensi, naskah skenario. Beberapa karyanya sudah dimuat di berbagai media, baik cetak maupun online seperti: Jawa Pos, Koran Tempo, Kompas.id, Media Indonesia, Femina, Majalah Ummi, Utusan Borneo Malaysia, Radar Banten, Harian Republika, Majalah JAWARA, Majalah MISSI, Haluan Padang, Banten Raya, Inilah Koran (Bandung), Majalah Kandaga, Pikiran Rakyat, dll. Selain itu, beberapa karyanya telah dibukukan dan dimuat di berbagai antologi bersama baik indie maupun mayor.


Menulis banyak buku:


1. Kumpulan Cerpen Air Mata Sang Garuda (AG Litera, 2013).


2. Novel Remaja Kafe Serabi (De TEENS, 2015).


3. Kumpulan Cerpen Mbah Sjukur (Indie Book Corner, 2016).


4. Sehimpun Tulisan Kompilasi Rindu (Gong Publishing, 2016).


5. Novel Remaja Jodoh untuk Kak Gembul (Arsha Teen, 2017).


6. Kumpulan Cerpen Surat yang Berbicara tentang Masa Lalu (Basabasi, 2017).


7. Kumpulan Cerpen Apa yang Kita Bicarakan di Usia 26? (Epigraf, 2019).


8. Cerita Anak Kisah Ubay dan Para Sahabatnya  (Tiga Serangkai/Inti Medina, 2021).


9. Novel Adaptasi Yuni (Gramedia Pustaka Utama, 2022). 


10. Kumpulan Cerpen Sahut Kabut (Indonesia Tera, 2022).


11. Cerita Anak Dwibahasa Yoh, Mangan Sate Bebek! (Kemendikbudristek, 2023).


Sejak 2014, ia mengelola perpustakaan Rumah Baca Garuda yang ia dirikan di dekat rumahnya.


Mau tahu lebih jauh tentang Ade Ubaidil? Yuk, kita kepoin belio!


____________



1. Bang Ade, mengapa Anda memilih jalan hidup menjadi penulis?

Saya senang belajar hal baru. Saya mencoba banyak hal dan saat menekuni dunia kepenulisan, saya merasa ini semacam "panggilan jiwa" saya. Saya merasa cocok melakukannya. Namun, meski begitu, saya tidak memplot jalan saya seperti ini. Saya berusaha mencoba bekerja kantoran, kirim lamaran sana-sini, apalagi ijazah S-1 saya Sistem Komputer. Tetapi memang begitulah jalan rezeki. Saya tahu, Allah mau saya berusaha, tapi perkara hasil kita percayakan saja kepada Sang Sutradara. 



2. Siapa orang yang berada di balik kesuksesan Bang Ade sehingga bisa menjadi penulis sampai sejauh ini?

Orang tua saya sempat meragukan jalan kepenulisan yang saya tempuh ini. Emak khususnya. Orang tua tentu ingin masa depan anak-anaknya terjamin dan cerah. Saya paham kegundahannya. Saya sering kali berdiskusi kenapa saya ingin mengambil jalan berliku ini. Saya meminta waktu kepada Emak untuk membuktikan kepadanya kalau menulis mampu menghidupi--padahal mah Allah yang menghidupi kita. 


Saat ini mungkin belum bisa dikatakan sukses, tapi paling tidak saya sudah settle sebagai penulis dan bangga menyebutkan sebagai profesi utama saya. Kalau Bapak, sejak awal beliau percaya saya bisa mempertanggungjawabkan apa yang saya pilih. Pesannya selalu sama: Jangan tinggalkan salat. Jadi, pada akhirnya keluargalah yang selalu mendukung saya. Termasuk juga guru-guru menulis saya di Komunitas Rumah Dunia. 



3. Pengalaman unik apa sih yang tidak pernah terlupakan dan belum pernah diceritakan selama berprofesi menjadi penulis?


Pertanyaan ini paling sulit saya jawab. Mungkin pernah atau bahkan banyak, tapi saya lupa, euy. Nanti kalau saya ingat saya bisikin, ya. Yang jelas, entah ini menjawab itu atau tidak, saat saya mau ambil perumahan subsidi, profesi penulis atau seniman itu tidak bisa di-ACC. Karena konon tidak ada jaminannya--entah kebijakan sekarang, ya. Jadi, agak miris saja, sih, profesi kami seperti dipandang sebelah mata sementara negara tetap mematok pajak yang cukup besar dari buku-buku atau karya-karya yang seniman hasilkan.



4. Oh, iya kabarnya Bang Ade ikut Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) kategori Novel ya? Kok, bisa? Bukannya dulu pernah ikut Mastera Cerpen, ya? 


Nah, ini mesti saya luruskan. Saya alumni Majelis Sastra Asia Tenggara Kategori Cerpen tahun 2018. Sekira dua tahun lalu, saya dipilih mewakili angkatan saya untuk acara "Temu Alumni". Ketika itu dibentuklah kepengurusan alumni untuk penulis Mastera (saya belum bisa sebutkan namanya) yang diambil dari perwakilan dari setiap angkatan. Di tahun ini, rapat kerja pengurus diagendakan berbarengan dengan peserta Mastera Novel, tapi saya tidak ikut pelatihannya. Kami punya agenda sendiri. Di hari terakhir, kami diminta menyampaikan hasil rapat kepada peserta dan panitia yang hadir saat itu. Jadi begitu ceritanya, semoga Kang Encep paham, ya. Hehe.



5. Sebenarnya Bang Ade ini fokus menulis di bidang apa, sih? Novel ditulis, cerpen ditulis, puisi ditulis, esai ditulis, skenario film ditulis. Bisa dijelaskan?


Di awal karier, sekitar tahun 2012 akhir, saya menulis puisi. Ikut lomba-lombanya dan lolos untuk dibukukan atau dimuat media. Lalu saya mencoba menulis cerpen dan sampai hari ini buku cerpen saya paling banyak terbit. Saya coba lagi menulis novel, esai, skenario, ulasan film, termasuk buku biografi tokoh-tokoh. Apa pun yang berkaitan dengan menulis, saya coba. Pada akhirnya, ilmu menulis yang saya pelajari bisa dielaborasi ke berbagai medium. Saya cukup mempelajari format dan teknisnya saja, tapi secara isi tetap bercerita tentang banyak hal. Saat ini memang ingin lebih serius terjun ke dunia perfilman dan periklanan, makanya saya kuliah S-2 Screenwriting dan Copywriting. Belajar tak kenal henti.



6. Amalan apa sih yang Bang Ade lakukan agar tetap mood menulis dan survive menjadi penulis? 


Sering saya katakan, saat ini saya di posisi mau putar balik terlalu jauh jalan yang mesti ditempuhnya. Jadi di-survive-survive-in aja pada akhirnya. Toh, pintu-pintu rezeki itu satu per satu bermunculan. Dan saya tidak menutup diri untuk selalu di jalur ini, kalau Allah kasih kesempatan bekerja di bidang lain, tentu akan saya lakukan. Sebetulnya di tahun 2019, saya sempat terpikir untuk berhenti menulis (dan saya pernah menulis ini di blog sendiri). Namun, suatu hari teman saya berkata bahwa sayang sekali dengan ilmu yang sudah Allah titipkan ke saya jika kamu berhenti menulis. Dari sanalah saya termenung dan bisa jadi memang jalan ini yang Allah ridai karena saya merasa dimudahkan banget jalannya. Apalagi di awal-awal merintis, cukup banyak hal-hal mengejutkan yang terjadi di karier menulis saya.



7. Bang Ade, berapa honor terkecil dan terbesar yang pernah Anda terima selama menjadi penulis buku, pemenang lomba menulis, atau narasumber kepenulisan? Apakah jalan menjadi penulis sejauh ini sangat mencukupi kebutuhan Bang Ade?


Sejujurnya saya mulai merasa bisa bertahan di dunia kepenulisan ketika memasuki tahun ke-8. Undangan menjadi narasumber, workshop menulis, menang lomba, menjuri lomba, dapat projeck film dan buku perlahan-lahan berdatangan. Pepatah money follows knowladge itu benar adanya. Alhamdulillah saya sedang merasakan ada di tahap itu. Honor terkecil ya dapat ucapan terima kasih aja, honor terbesar alhamdulillah sudah pernah di tiga digit. Kalau kata Allah cukup, saya manut aja. Karena pernah saya sok-sok “ngatur” hidup saya, yang ada keteteran sendiri. Prinsip saya saat ini adalah fokus pada pekerjaan atau hal yang bisa dilakukan sekarang dengan memberikan performa terbaikmu--terlepas honor kecil maupun besar.



8. Apalagi yang mau Bang Ade kejar di karier kepenulisan?


Saat ini, dan mungkin di setiap momen akan berbeda jawabannya, saya sedang ingin fokus di dunia perfilman khususnya penulisan skenario film. Medium seni yang kompleks ini benar-benar bikin gairah menulis saya terus meningkat. Saat saya belajar langsung dari ahlinya, ternyata menulis skenario tuh bukan “cuma kayak gitu” yang sering temen-temen saya bilang. Katanya “buat apa kuliah film, kamu kan udah bisa nulis skenario sendiri?” Stigma itu terpatahkan. Mereka bisa bicara begitu karena mungkin tidak merasakannya langsung. Saat dapat materi tentang film, mata saya tuh “menyala”, ini tuh seperti apa yang saya bayangkan selama ini. Belajar sesuatu yang kita senangi, meskipun melelahkan, tapi sangat sebanding. Capek, tapi bikin kita bahagia. 



9. Bang Ade, adakah pengalaman spiritual yang membuat jiwa Bang Ade bergetar, bahkan mencapai hakikat--atau malah sampai makrifat kepada Tuhan-- saat melakoni peran sebagai penulis?


Kalau dibatasi sebagai penulis, saya rasa tidak ada. Tapi, sebagai manusia utuh, saya cukup sering mendapatkan pengalaman spiritual atau entah apa sebutan tepatnya. Suatu hari, ketika menemani dua kawan saya menemui seorang peramal, si peramal itu mudah sekali membaca garis tangan mereka. Saya sendiri awalnya tidak mau, tapi teman saya bilang sodorkan saja tanganmu. Saat saya lakukan itu, si peramal tampak seperti orang yang bertemu peramal lain. Entah apa maksudnya, seingat saya dia bisa tahu saya dari Banten dan memilih menjabat tangan saya dan mengurungkan niatnya membaca garis tangan saya. Dia bilang dulu dia bergurunya pun di Banten. Ini pengalaman ganjil saja dan tampaknya tidak menjawab pertanyaan itu. Hehe.



10. Pertanyaan terakhir, mohon jawab jujur. Bang Ade punya pacar nggak, sih?


Nggak punya.



______


(Penyaji Pertanyaan: Encep)

Tuesday, January 23, 2024

Sosok Inspiratif | Iyus Yusandi, Guru Penggerak Literasi di Jabar

 


Drs. Iyus Yusandi, M.Pd. merupakan salah sosok guru penggerak literasi di Jawa Barat. Pergerakannya sangat masif sehingga banyak guru yang terinspirasi. Komunitas yang digawanginya itu bernama KPPJB (Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat). Pengin tahu lebih banyak? Yuk, kita simak!


_________



1. Sejak kapan Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat (KPPJB) terbentuk? Apa yang melatarbelakangi komunitas ini hadir di dunia ini?


Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat lahir pada tanggal 19 Maret 2020, Akta Notaris nomor 20 tanggal 19 Maret 2020 dengan notaris Mangasi Sotarduga Tambunan, SH. Disahkan SK Kemenkumham : Nomor AHU-0005449.AH.01.04.Tahun 2020. Terdaftar resmi sebagai penerbit di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. 


Para pegiat literasi di Jawa Barat sudah sejak lama bergerak sendiri-sendiri di tiap kota masing-masing. Mengajak anggota masyarakat untuk belajar menulis, membuat buku, dan mengembangkan kreativitas dari membaca buku. Perjuangan ini dilakukan di berbagai kota, misalnya di Bekasi, pada tahun 2017 terbentuk Komunitas Guru Penulis Bekasi Raya, lalu di Purwakarta terbentuk Komunitas Penulis, di Subang komunitas para pegiat literasi bergerak dari bawah. Begitu juga di kota-kota lain baik secara individu maupun kelompok. 


Dari curhat masing-masing pegiat kita saling berkomunikasi dan berbagi. Lalu terbersitlah ide yang merupakan pemikiran bersama agar kita menyatukan kekuatan di Jawa Barat. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan daya dobrak bagi perjuangan para pegiat literasi di tingkat provinsi. Hal ini menambah semangat masing-masing guru penulis (pegiat) untuk mulai mengondisikan kotanya masing-masing. Bersiap untuk keajaiban dari kata “Persatuan”. Bersatu menambah mutu. Di komunitas ini kita saling menyemangati anggota untuk menulis. Ingat pepatah bahwa bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Satu lidi tidak bisa menyapu halaman. Namun seribu lidi bisa menjadi sapu yang akan membersihkan ribuan halaman. Akhirnya disepakati membentuk Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat (KPPJB).



2. Sebagai penggerak literasi guru-guru di Jabar, sulit tidak sih Pak Iyus dkk. dalam membina rekan-rekan guru di sana untuk menulis? Kelihatannya gampang sekali mengumpulkan karya mereka padahal dunia guru saya kira sangat sibuk. Kok, bisa mereka tertarik menulis puisi akrostik?

       

Dinamika kehidupan terutama ke-literasi-an dalam hal tulis-menulis tiada beda dengan ombak samudra yang selalu datang dan pergi. Sekali ombak datang diikuti dengan kepergian ombak.

 


3. Komunitas KPPJB ini kan punya penerbit khusus, kenapa naskah karya guru-guru juga dilepaskan ke penerbit lain. Kenapa tidak fokus di satu Penerbit KPPJB? Btw penerbit mana saja yang punya kontribusi besar dalam perkembangan komunitas ini? 

       

KPPJB bermitra dengan sejumlah penerbit di bawah asuhan IKAPI. KPPJB menjalin kerja sama dengan kurang lebih sekitar delapan penerbit. Pencetakan buku antologi bersama pun demikian.



4. Untuk menerbitkan sebuah buku, apalagi antologi, pasti sangat pusing, terutama dalam memanajemen keuangan. Nah, bagaimana cara Pak Iyus dkk. mengatur keuangan dalam penerbitan buku karya para pendidik ini? Tentu ini sesuatu yang sensitif. Kalau kurang berkenan, boleh tidak dijawab.

       

Ajang menulis bareng dalam sebuah antologi bersama diajukan secara suka rela. KPPJB melalui koordinator acara atau pengasuh kelas menulis hanya mengajak dan mengabadikan momen seiring perkembangan situasi kekinian dalam lingkungan secara nasional, regional, bahkan internasional. Menulis bareng pun terakomodir dengan biaya bervariasi, sevariatif jumlah penulis dalam antologi bersama tersebut. Pembiayaan dipengaruhi jumlah kontributor penulisnya.



5. Pertanyaan terakhir, nih. Apa sih pesan dan harapan Pak Iyus kepada rekan-rekan guru di luar sana agar mereka juga bisa mengikuti jejak Pak Iyus dan dkk. dalam menggerakkan semangat berliterasi, khususnya para guru. Guru kan yang notabene dicap sebagai pemikir, masa iya tidak punya buah pikiran, begitu, ya. Minimal bisa menulis satu buku seumur hidup. Bagaimana Pak?

        

Pesan saya, "Tetap kawinkan pikiran, perasaan dengan pancaindra hingga lahir anak yang bernama karya. Tetaplah abadikan gagasasn dan rasa dalam aksara."


Harapan saya, Menulislah dulu, menulis lagi, menulis terus hingga dalam satu tahun minimal seorang guru memiliki tabungan tulisan dalam buku yang cetak bukunya menggunakan logo Parasamya agar bisa masuk even Parasamya Susastra "Penghargaan Penulis Buku Tunggal" dan atau Parasamya Suratma alias "Penghargaan Pegiat Literasi" serta Parasamya Praja Nugraha alias "Penghargaan Pelajar Penulis".


______

Redaksi