Minggu, 29 Agustus 2021

Cerpen Nursiyah Faa | Penantian yang Sia-sia

 Cerpen Nursiyah Faa




Kadang aku merasa iri kepada mereka yang sudah memiliki pasangan hidup. Yang sudah punya ikatan yang dinamakan dengan pernikahan. Pernikahan yang semua orang impikan dalam hidupnya. Keinginan untuk menikah sangat besar dengan pertanyaan ibu yang setiap hari ditujukan padaku.

Nduk, kapan nikah? Setiap hari aku selalu dijejali dengan pertanyaan itu. Aku putuskan untuk menemui Dia. Untuk meminta kejelasan dengan hubungan kami. Hubungan yang dijalani sudah hampir tiga tahun. Tiga tahun yang menurut ibu sudah cukup lama. Dan tidak ada kejelasan. Menurut ibu pacaran adalah hubungan yang tidak jelas. Tidak ada ikatan apa pun. Hanya menambah dosa katanya. 


***

Ditemani dengan hembusan angin, aku dan kamu duduk di atas pasir sambil memandang ombak yang saling berkejaran. Dan terik surya yang lama kelamaan redup ditelan senja.


"Aku minta kejelasan atas hubungan kita!" Aku memulai percakapan.


"Kejelasan apa?" kata kamu dengan pandangan masih ke depan.


"Aku ingin kita nikah!" aku menoleh ke arah kamu.


"Tapi aku belum punya apa-apa. Aku ingin kalau kita menikah aku sudah mapan. Aku ingin membahagiakan kamu." kamu menjelaskan dengan penjelasan seperti biasanya.


Sekali lagi kamu meyakinkan aku dengan kalimat "Ingin membahagiakan aku.” 


Dan sekali lagi aku percaya.


Kamu pergi ke luar kota untuk bekerja. Sedangkan aku di desa selalu ditekan dengan ibu untuk segera menikah. Beberapa lelaki ibu kenalkan padaku. Berharap ada yang aku sukai. Tapi cintaku hanya untuk kamu. Setiap lelaki yang datang ke rumah untuk melamarku, aku tolak dengan mentah-mentah.


***


Satu tahun telah berlalu. Aku selalu menunggu kamu pulang. Datang ke rumahku dan melamarku. Tapi sejak tiga bulan terakhir tidak ada kabar dari kamu. Dan aku selalu meyakinkan ibu bahwa kamu akan pulang dan melamarku.


Orang-orang sekitar mulai bergunjing tentang aku. Karena aku selalu menolak setiap lelaki yang ibu kenalkan padaku.


"Nduk, kapan kekasihmu itu pulang dan melamarmu. Sudah satu tahun lebih kekasihmu itu pergi?"


Pertanyaan itu keluar lagi dari mulut ibu. Kali ini aku hanya diam. Tidak satu kata pun keluar dari mulutku. Aku tidak tahu harus jawab apa. Kali ini aku tidak punya jawaban atau pun alasan yang akan aku sampaikan.


Dreet... HP-ku bergetar. Ada SMS masuk.


AKU SUDAH PULANG. AKU INGIN BERTEMU KAMU SEKARANG. AKU TUNGGU DI TEMPAT BIASA.


Bibirku tersenyum setelah membaca pesan singkat itu. Iya, SMS itu dari kamu. Aku langsung pergi ke pantai yang biasa aku dan kamu kunjungi.


Kamu sudah menunggu aku di bibir pantai ditemani terik matahari yang menusuk kulit. Aku menghampirinya dengan wajah tersenyum. Kamu menoleh ke arahku dengan senyuman kecil dari bibirnya.



Penulis


Nursiyah Faa, pegawai pabrik.