Sabtu, 28 Agustus 2021

Esai Encep Abdullah | Pentingnya Kecakapan Literasi Baca-Tulis

Esai Encep Abdullah



"Membaca buku yang baik berarti memberi makanan rohani yang baik.” (Buya Hamka)


Beberapa tahun belakangan ini, istilah “literasi” mendadak-meledak di setiap sudut kampung/kota di Indonesia. Gerakan-gerakan literasi menjamur begitu cepat. Orang-orang yang bergelut di instansi pemerintah, sekolah, maupun komunitas-komunitas ikut berkontribusi mensyiarkan gerakan ini. Maka, tidak heran bila pergerakan ini sampai kepada kita, berarti Anda harus ikut andil jua untuk mensyiarkannya.


Sebenarnya, gerakan literasi sudah dipraktikkan oleh para nenek moyang kita, ulama-ulama kita. Mereka meninggalkan banyak jejak aksara di Bumi Pertiwi ini baik yang tertulis di batu-batu, dinding-dinding gua, maupun tertulis hingga jadi kitab yang mungkin masih bisa kita baca hingga detik ini. Bila sekarang kita malah menjauh dari dunia itu, berarti kita menjauhi warisan nenek moyang kita.


Pada suatu kali—tepatnya tahun lalu—saya mengikuti sebuah diskusi literasi di Rumah Dunia. Dalam diskusi itu, oleh pembicara—saya lupa namanya—bahwa kegiatan literasi itu sebenarnya bukan sekadar kegiatan membaca buku atau menulis. Seorang ibu yang mengerti obat apa yang akan diberikan kepada anak bila anak sakit, itu juga literasi. Ketika seorang anak melakukan kesalahan A, B, dan C, orang tua mengerti akan kondisi kejiwaan dan psikologi anaknya, itu pun termasuk ibu yang memiliki jiwa literasi. Seorang ayah yang bercerita kepada anak dalam kandungan sang istri pun itu salah satu bentuk literasi. Bahkan, kata moderator, Ade Husnul, ayahnya selalu bertanya kepadanya setiap kali melakukan perjalanan ke mana pun, “Ade, apa nama masjid yang kita singgahi tadi?” Bagi Ade Husnul itu adalah suatu bentuk penanaman literasi pada anak.

     

Pada kasus lain, gerakan literasi ini saya temukan pada sosok teman saya bernama Eka Ugi Sutikono, dosen Universitas Muhammadiyah Tangerang. Saban pekan, saya selalu bertandang ke rumahnya. Dan, saban pekan itulah saya selalu melihat dinding-dinding rumahnya itu semakin penuh dengan coretan anaknya. Saya bilang bahwa saya melarang anak saya mencorat-coret tembok di rumah. Lalu, Ugi memarahi saya. Katanya, jangan terlalu mengekang anak untuk melakukan hal ini dan itu, termasuk mencorat-coret tembok. Seorang anak tidak tahu apa yang dilakukannya itu salah, tapi sebagai orang dewasa seharusnya mengerti bahwa itu adalah bentuk kreativitas anak. Ugi selalu membiarkan anaknya mencorat-coret tembok. Bahkan, di setiap benda, misalnya balon, buku, dan sebagainya, ia tulis huruf-huruf alfabet, hijaiyah, kosakata Inggris, serta menyuguhkan tayangan-tayangan edukasi di televisi yang ditempel di tembok rumahnya itu. Kini, anaknya, yang sudah beranjak tiga tahun itu sudah mampu melafalkan dan menulis huruf-huruf di atas. Bagi saya, Ugi berhasil menerapkan literasi kepada anaknya. Selain itu, teman saya, Mayang Santika Dewi, menambahkan bahwa di rumahnya, orang tuanya tidak pernah mengecat tembok rumah sebelum anak-anaknya bersekolah SD. Menurut saya, semua ini adalah bekal dan tamparan bagi saya pribadi bahwa kecakapan literasi memang harus dimulai sejak dini.

     

Dari bekal dan nasihat itu,  saya dan istri bertobat. Saya langsung membelikan krayon untuk anak saya. Saya belikan buku-buku. Saya belikan aksara-aksara yang tertempel di tembok. Tapi, ingat itu saja tidak cukup. Peran orang tua harus ikut andil, misalnya orang tua jadi pendongeng bagi anak-anaknya. Karena, tentu saja alat-alat dan bahan-bahan itu tidaklah berfaedah bila orang tua tidak turut serta menjadi bagian untuk menjadi subjek literasi itu.

     

Buah pengalaman di atas adalah bahwa pengaruh literasi terhadap perkembangan anak itu sangat penting. Karena itu, benar sekali aturan yang digagas oleh Pak Anies Baswedan agar anak (siswa) di sekolah membaca lima belas menit dulu sebelum KBM berjalan. Hal ini semacam pancingan kepada anak didik agar mereka menjadi terbiasa membaca buku. Ibarat ibadah salat yang dilakukan lima waktu dalam sehari. Bila kita tinggal satu waktu, kita merasa kehilangan, apalagi meninggalkan keseluruhan. Sebagai tenaga pendidik, saya pun memberlakukan aturan semacam itu. Tapi, saya harus lebih ektrem dan lebih gila dari itu. Bagi saya membaca lima belas menit setiap hari itu kurang puas buat anak-anak. Anak-anak yang saya didik di sekolah justru sudah doyan baca. Maka, saya tidak memberlakukan aturan itu. Yang saya berlakukan adalah satu minggu minimal satu buku selesai. Bila satu minggu tidak selesai, minggu depan harus baca dua kali lipat. Saya sampaikan bahwa yang paling banyak bacaannya saya kasih hadiah. Apa yang terjadi? Saya terperanga ketika saya hitung jumlah buku yang mereka baca ketika satu semester berlalu. Siswa kelas VII ada yang membaca sampai 47 buku, kelas VIII ada yang sudah sampai 103 buku. Sebagiannya lagi rata-rata 15--25 buku.

     

Saya pun akhirnya “melarang” mereka jangan membaca terlalu berlebihan. Ternyata, mereka bilang bahwa sudah kecanduan. Setelah itu, barulah saya berikan arahan bahwa jangan terpaku pada kuantitas bacaan, tetapi lebih pada kualitas hasil bacaan itu. Apa yang sudah dibaca itu tentu harus menjadi bekal diri, seperti yang dikatakan oleh Buya Hamka pada kutipan di awal tulisan ini: Memberi makanan rohani! Aturan semacam in pun saya berlakukan pula di komunitas saya di #Komentar (Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa).

     

Saya selalu marah kepada orang-orang yang rajin menghitung angka-angka atau menyodorkan statistik bahwa minat baca orang Indonesia itu rendah. Saya selalu bertanya ulang “Itu Indonesia bagian mana?” Saya tidak mau penyakit “bodoh”  semacam ini semakin mewabah. Justru, sekarang jauh lebih enak dan mudah. Bantuan-bantuan buku oleh pemerintah sangat banyak. Atau bagi yang punya perpustakaan pribadi, manfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Gelar buku-buku itu di titik-titik keramaian, seperti Motor Literasi (Moli) dan sebagainya itu. Dengan begitu, justru kita sedang berupaya mengahacurkan statistik “keparat” itu.

     

Saudara-saudara, marilah kita merenung sejenak apa yang sudah kita lakukan untuk diri kita, keluarga kita, sahabat kita, lingkungan kita. Sudah kita berikan buku apa kepada mereka? Sudah berikan bacaan apa untuk anak-anak kita? Sudahkah pergerakan literasi ini Anda lakukan di rumah?

     

Bila sudah, saya ucapkan terima kasih kepada Anda karena Anda sudah memberikan sumbangsih regenarasi emas untuk bangsa ini. Dengan membudayakan literasi, semoga akan lahir sosok-sosok seperti Buya Hamka, Soekarno, Ki Hajar Dewantara, B.J. Habibie, Moh. Hatta, dan tokoh pergerakan lainnya yang mampu melahirkan pemikiran dan karya-karya terbaik untuk bangsa ini. Salam Literasi!



Penulis

Encep Abdullah, pendiri Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa (#Komentar).