Jumat, 29 Oktober 2021

Cerpen Wahyu Arshaka | Orang-Orang Klandestin

 Cerpen Wahyu Arshaka




Tengah malam usai hujan, aku diambil paksa oleh tiga orang berseragam dengan senapan dikokang. Istriku meratap hingga jatuh pingsan tidak mereka pedulikan. Aku mereka seret dan dijebloskan ke mobil tahanan. Lalu mataku ditutup rapat. Aku meronta dan terus teriak, namun satu kali hantaman popor senapan ke kepala membuatku langsung jatuh tak sadarkan diri.



Kala tersadar, aku sudah ada di ruangan sempit. Tak ada jendela, tak ada ventilasi. Hanya ada celah kecil di bawah pintu besi. Bohlam buram menggantung dengan sinarnya yang redup. Toilet ada di pojok dengan kecoak berjejal. Di sampingnya ada kaleng besar berkarat dan di atasnya ada pipa dengan kran yang sudah berkarat. Aku coba bangkit meskipun kepala terasa berat. Ingin kubasuh wajah ini. Tapi ketika kran kubuka, air yang keluar bercampur lumpur. Terpaksa aku kembali ke sudut, duduk terdiam sambil berusaha mendengar apakah ada suara dari luar. Senyap, semua suara lenyap. 


***


Setelah begitu lama aku terkapar dan nyaris mati karena kelaparan. Barulah kudengar suara derap kaki melangkah. Setelah dekat, terdengar pintu besi dipukul dengan keras.


“Brak,! Brak! Brak!”


“Makan, kalau sudah piring dan gelasnya lempar lagi keluar!” terdengar teriakan.


Dari celah kecil di bawah pintu, dia sorongkan piring kaleng berisi setumpuk nasi dan dua iris tahu goreng juga gelas kaleng berisi air putih. Tanpa pikir panjang aku langsung melahapnya. 


Selang beberapa jam setelah makan, kembali kudengar derap kaki lagi. Kali ini aku dengar banyak sekali. Di muka pintu suara itu berhenti. Lantas terdengar kunci dibuka. Kemudian pintu didorong hingga terdengar bunyi berderit. Tiga orang berseragam dengan kepala ditutup, hanya terlihat matanya yang tampak beringas. Dua orang menodongkan senapan dan satu orang mengikat tangan dan kakiku. Lalu kepalaku ditutup rapat hingga tak dapat melihat.


Aku digiring entah mau dibawa ke mana. Dalam perjalanan kudengar beraneka rupa suara. Ada jerit kesakitan, ada suara tawa, ada yang berbaris, ada yang bernanyi, ada juga yang pidato berapi-api. Setelah berbelok memasuki ruangan yang pengap dan panjang, perlahan suara itu pun lenyap. Lalu langkah terhenti. Lantas dengan kasar aku diminta duduk. Aku hanya bisa bungkam, sambil mendengar suara orang berbisik dan mencium aroma rokok yang baunya asing bagiku.


“Kamu pasti ingin tahu, kenapa kami menangkapmu!” terdengar suara berat dan serak.


Aku diam, menunggu dia melanjutkan kata-katanya.


“Karena kami tahu kamu adalah mata-mata!”


“Untuk apa memata-matai kalian. Semua orang juga tahu kalianlah yang melakukan pembunuhan para kiai!” timpalku dengan suara berat.


“Plak!” satu tamparan keras mendarat di pipi kiriku. ”Agamamu yang menjadi candu yang menghalangi revolusi kami. Itu yang kami singkirkan!” suaranya didekatkan ke telingaku. Lalu semburan asap rokok dimuntahkan ke mukaku.


“Terkutuklah kalian yang menghalalkan segala cara untuk kekuasaan!”


“Buk!” satu pukulan menghantam rahangku, disusul ke dadaku, telingaku hingga sentuhan benda dingin menghantarkan listrik ke tubuhku, aku terkapar nyaris tak sadar.


***


Entah bagaimana kabarnya May, istriku. Pastinya mereka akan menginterogasinya, menggali informasi tentangku. Semoga May berusaha menyembunyikan informasi tentang aku dan juga informasi tentang dia kalau aku dan May sesungguhnya mata-mata. Meskipun May sebenarnya anak seorang simpatisan organisasi Komunis itu.


Pertemuanku dengan May terjadi dalam sebuah organisasi pergerakan bawah tanah. Kebenciannya pada ideologi Komunis membuatnya nekat kabur dari rumahnya. Aku melihat kebencian yang kuat dari matanya, setiap membahas ideologi mencemaskan itu, matanya begitu menyala dan suaranya gemetar menahan gejolak amarah yang tak bisa dia tumpahkan.


Demi perjuangan dan cinta, kuminta May kembali ke rumahnya. Dia paham apa yang kusarankan, bukan sekadar restu pernikahan, tapi mencari informasi tentang pergerakan mereka. Tak ada yang curiga, Ayah May hanya sesekali bercerita tentang kehidupan yang lebih baik apabila kaum Komunis itu berkuasa. Aku hanya diam mendengarkannya, sedangkan May terlihat antusias ingin tahu lebih banyak, membuat ayahnya terlihat begitu senang.


“Baguslah kamu sudah tobat. Mudah-mudahan nanti bisa ajak suamimu demi terwujudnya revolusi untuk kemakmuran negeri ini!” ujarnya sambil melirik ke arahku.


Aku hanya menanggapinya dengan senyum.


***


Entah di hari ke berapa. Kembali aku digiring dengan mata tertutup. Lalu pada sebuah ruangan yang dingin aku diminta duduk dan kain hitam yang menutup kepala, mereka buka. Perlahan samar terlihat. Setelah jelas aku tersentak hebat, melihat yang duduk di hadapanku adalah May istriku, dia mengenakan seragam dengan tatapan dingin menghujam.


“May!” ujarku lirih.


“Sebentar lagi kami menang, berkat kebodohan kamu!” ujar May dengan mata nyalang.


“May, otakmu sudah dicuci!”


“Perlu kamu ketahui, aku tidak di posisi kamu. Aku juga bertugas untuk menyusup dan mencuri informasi untuk organisasiku. Tapi aku pintar dan kamu terlalu bodoh untuk tugas seperti ini, mudah diperdaya oleh perempuan!” tutur May dengan dingin.


Lantas dengan gerakan jari-jarinya, May menyuruh tiga orang yang mengokang senapan membawaku keluar. Tapi sebelum dibawa aku merasakan beragam hantaman dan diakhiri sengatan listrik hingga aku terkapar dan diseret layaknya anjing.


Aku tersadar sudah ada di ruangan yang semakin sempit. Seperangkat makanan disorongkan dari celah kecil di bawah pintu besi. Setumpuk nasi itu ditaburi kecoak goreng. Tapi, aku tetap melahapnya. Misiku belum selesai. Aku harus berhasil melaporkan mereka melakukan penculikan dan pemberontakan.




___

Biodata Penulis

Wahyu Arshaka, seorang guru di sekolah dasar. Cerpen-cerpennya dipublikasikan di media cetak dan online.  Novel terbarunya Bucin Mencari Cinta. Tinggal dan bergiat di Karawang.








Kirim naskahmu ke
redaksingewiyak@gmail.com